Amina Wadud

(Dimuat di Harian republika, 26 Maret 2005. Tulisan ini ternyata menjadi tulisan saya terakhir dalam kolom Resonansi harian tersebut. Semula saya diminta menulis satu pekan sekali. Tapi setelah tulisan ini dimuat, redaksi ternyata menerima banyak surat protes. Ketika redaksi meminta saya untuk tidak lagi menulis soal agama, saya memutuskan untuk tidak lagi mengisi kolom resonansi tersebut karena menurut saya substansi dari tulisan tentang Amina Wadud ini adalah keyakinan yang harus diperjuangkan).

Jumat pekan lalu, sebuah peristiwa penting dalam dunia Islam berlangsung di New York, Amerika Serikat. Dr Amina Wadud, seorang profesor wanita studi Islam di Virginia Commonwealth University, menjadi imam shalat Jumat yang diikuti sekitar 100 orang jamaah laki-laki dan perempuan.

Peristiwa ini penting mengingat selama ini, umumnya umat Islam di dunia menganggap bahwa wanita tidak boleh menjadi imam shalat kaum pria. Apalagi ini terjadi dalam sebuah shalat Jumat. Apalagi, selain menjadi imam, Dr Wadud juga memberi khotbah. Tak heran bila rencana tersebut sempat ditolak di banyak masjid di sana. Kecaman terhadapnya mengalir deras. Namun Dr Wadud, yang memang sejak lama aktif memperjuangkan hak-hak perempuan, tak mengubah niat. Ironis, shalat Jumat itu akhirnya harus diselenggarakan di sebuah gereja katedral.

Saya sama sekali bukan ahli agama, sebagaimana mungkin sebagian besar dari Anda. Tapi, peristiwa ini menjadi sangat menarik karena itu merupakan bagian penting dari dinamika perkembangan umat Islam di dunia. Kita sadar bahwa akan banyak orang Islam yang menganggap apa yang dilakukan Dr Wadud sebagai sesuatu yang tercela, mengada-ada, atau bahkan menyesatkan. Adalah hak siapa pun untuk berpandangan semacam itu. Tapi, marilah kita berharap bahwa sikap itu tak membuahkan kemarahan yang membabi buta yang lazim diikuti dengan penolakan untuk bahkan sekadar mendiskusikan gagasan yang diajukan Dr Wadud.

Di dunia, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan ”k” kecil. Dengan kata lain, apa yang kita yakini sebagai kebenaran mungkin saja salah. Kita mencari kebenaran sepanjang hidup. Apa yang kita percaya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang merupakan hasil dari proses belajar dari orang tua, dari sekolah, dari buku, dari lingkungan, dari guru, dari pengalaman hidup, sampai sekarang. Saya tidak bisa mengatakan, apa yang saya anggap benar, pasti benar. Selalu harus terbuka kemungkinan untuk mengoreksi, meninjau ulang.

Saya, sebagaimana mungkin mayoritas pria Muslim di Indonesia, masih tidak nyaman bila diimami shalat oleh wanita. Namun, adalah penting bagi kita untuk mendengarkan argumen yang dikemukakan Dr Wadud, tanpa buru-buru secara apriori menuduhnya sebagai manusia sesat yang menyesatkan. Saya, misalnya, terkesan dengan riwayat yang dituturkan salah seorang pendukung gagasan Dr Wadud bahwa Nabi Muhammad pernah meminta seorang wanita, Ummi Waraqah, untuk memimpin shalat dengan peserta pria. Ia juga berargumen bahwa Alquran tidak pernah melarang praktik wanita memimpin shalat kaum pria. Tentu saja, argumen itu terbuka untuk diperdebatkan. Namun, yang terpenting justru itu: terbuka untuk diperdebatkan.

Kesediaan untuk berbicara secara dingin mengenai hal-hal di mana kita berbeda pendapat adalah syarat kemajuan umat Islam. Hasrat untuk menutup peluang perbedaan dengan pernyataan final –seperti ”pokoknya”– adalah kondisi yang dibutuhkan menuju kehancuran. Sejarah menunjukkan, misalnya, selama berabad orang percaya bahwa bumi itu datar, bahwa bumi diam, bahwa bumi adalah pusat alam semesta –dan setiap pernyataan yang menentangnya dituduh sebagai menyesatkan. Untung saja ada orang-orang yang cukup berani untuk berbeda pendapat serta membiarkan orang yang berbeda pendapat mengutarakan pandangannya. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang kita masih hidup dalam kegelapan.

Begitu juga dengan Wadud. Kalau dia salah, manfaat yang akan kita petik dari membicarakannya secara terbuka adalah bahwa kita akan mendengar argumen-argumen kokoh yang akan membuat kita semakin yakin dengan apa yang kita percaya selama ini. Misalnya saja, dari mana pula datang cerita tentang Ummi Waraqah itu? Atau, apakah kita dapat menafsirkan riwayat itu dengan cara lain?

 

Itu, kalau Wadud salah. Kalau Wadud ternyata benar, manfaatnya jelas: kita menemukan kebenaran baru. Karena itu, terlepas dari benar atau salah, pandangan Wadud yang kontroversial sangat penting untuk dijadikan agenda isu terbuka umat Islam. Dan percayalah, Allah akan selalu menerangi jalan mereka yang berusaha mencari kebenaran dengan ikhlas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads
Ditulis dalam Religion. Tag: . 9 Comments »

9 Tanggapan to “Amina Wadud”

  1. mQueue Says:

    Kasus ini sebetulnya sudah agak usang dibenak kita. Namun yang hendak disampaikan dalam hal ini bukan dari apek berita yang gampang kadaluwarsa. Melainkan sebuah studi kasus hingga tetap menarik disimak dan menemukan relevansinya dalam konteks kekinian. Yang jelas hikmah dibalik peristiwa tersebut, kita merasa umat Islam sejak memasuki masa taqlid, hingga kini, yang diidentifikasikan sebagai masa kebangkitan Islam (al-Shahwah al-Islamiyah) masih belum mampu merumuskan skala prioritas (fiqh awlawiyat) sebagai peta pergerakan. Dalam banyak kasus, kita lebih suka bikin sensasi daripada membuat gerakan yang punya dampak sosial positif. Akibatnya, kadang hal-hal penting bagi kepentingan masa depan, seperti isu pendidikan, kemiskinan, atau lingkungan hidup merasa bukan bagian dari ajaran Islam.

    Syahdan, Jum’at (18/3/2005), adalah hari ‘bersejarah’ bagi umat Islam. Bagaimana tidak? Setelah kurang lebih 14 abad yang lalu, semenjak Islam lahir, baru kali ini ada seorang wanita tampil menjadi khatib, sekaligus imam shalat jum’at. Dia adalah Dr Amina Wadud, profesor Studi Islam di Virginia Commonwealth University.

    Kontan saja, momen langka dan kontroversial ini memancing polemik keras dan
    beragam tanggapan. Satu sama lain saling bertentangan secara diametral, antara yang menolak dan yang meneguhkan. Beberapa media cetak di Timur Tengah menjadikannya sebagai headline berita selama berhari-hari. Bahkan, beberapa diantaranya menyediakan rubrik khusus. Di Dunia Arab, Mesir khususnya, kasus ini menjadi perdebatan hangat dari mulai masyarakat awam hingga ulama kelas dunia. Sebut saja, Prof. Dr. Sayyed Thanthawi (Grand Syeikh al-Azhar), Syeikh Yusuf Qardhawi, hingga para ulama-pemikir lainnya, ikut-ikutan memperbincangkan.

    Dalam tulisan ini, sekurang-kurangnya ada dua demensi yang akan kita telaah sebagai studi kasus: Pertama, dimensi hukum (Fiqh): sahkah shalat jum’atnya Dr. Amina Wadud berikut jamaah-nya?. Kedua, dan ini yang terpenting dilihat dari dimensi sosial: sejauh mana daya efektivitas momen ini dalam pemberdayaan sumber daya wanita?

    Dimensi Hukum

    Terlepas dari adanya perbedaan sikap para ulama mengenai status boleh tidaknya seorang wanita menjadi imam shalat bagi makmum laki-laki (yang akan dibahas), kita berpikir, pada akhirnya shalat jum’at Dr. Amina Wadud, cs, dalam perspektif fiqh, tetap dihukumi tidak sah (wallahu ‘alam). Kenapa? Karena perbuatannya tetap tidak menemukan celah justifikasi hukum, legal-formal. Dalam hal ibadah, kaidah yang berlaku adalah: al-ashlu fi al-ibadah al-hurmah illa ma dalla al-dalil ‘ala ibahatihi (bahwa hukum asal dalam lingkup ibadah adalah ikut pada apa yang telah digariskan). Atau dalam bahasa lain: al-ittiba’ fi al-din, wal ibtid’a fi al-dunya (dalam urusan ibadah, kita hanya ikut pada apa yang diperintah Allah, sedang untuk masalah duniawi, menyangkut hubungan sosial/mu’amalah, kita berlomba-lomba untuk terus berkarya, berkreasi). Kaidah ini amat bijak dan sangat sarat dengan nuansa perikemanusiaan. Allah tidak menghendaki hambanya menambah beban berat dalam hal ibadah, apalagi sampai menyusahkan diri sendiri, cukup melaksanakan apa-apa yang telah digariskan.

    Membaca praktek ritual jum’at yang dilaksanakan Amina Dawud, minimal ada tiga problem hukum (fiqh) yang perlu dipersoalkan. Pertama, apakah boleh seorang wanita menjadi imam bagi makmum laki-laki? Kedua, bolehkah seorang wanita menjadi khatib jum’at? Ketiga, adakah dalil, atau pendapat fuqaha yang memperbolehkan shalat jum’at ala Dr. Amina Wadud, dimana wanita bercampur satu baris (shaf) dengan laki-laki, apalagi beberapa diantaranya tak berkerudung.

    Di bawah ini, kita akan coba mengurai secara ringkas jawaban ketiga pertanyaan tersebut: Untuk soal pertama: Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Mayoritas
    ulama, termasuk mazhab empat (Malikiyah, Hanafiyah, Syafi’iyyah, Hanbaliyah) mengatakan tidak boleh seorang wanita menjadi imam untuk makmum laki-laki. Bahkan dalam mazhab mazhab Maliki ada pendapat yang mengatakan, seorang wanita mutlak tidak boleh menjadi imam shalat, baik makmumnya laki-laki, maupun wanita.

    Sementara minoritas kalangan ulama yang diwakili Imam al-Thabari, Abu Tsaur, dan al-Muzani menyatakan bahwa seorang wanita boleh dan sah menjadi imam shalat secara mutlak, baik makmumnya laki-laki, maupun wanita. Mereka bersandar pada hadits Ummi Waraqah -riwayat Abi Dawud dan al-Daraqutni- di mana Nabi mengizinkan Ummi Waraqah menjadi imam shalat bagi keluarganya. Padahal, dalam keluarganya ada yang berjenis kelamin laki-laki.

    Namun dalil dari kalangan minoritas ini ‘dimentahkan’ oleh mayoritas ulama, bahwa kasus Ummi Waraqah terjadi dalam konteks shalat sunnah, bukan shalat fardhu, atau khusus untuk mengimami keluarganya yang berjenis kelamin wanita saja. Kemungkinan lain, benar bahwa Ummi Waraqah diizinkan menjadi imam untuk laki-laki, akan tetapi kasus ini lebih sebagai khususiyah dari Nabi yang berlaku hanya untuk Ummi Waraqah. Jadi tidak bisa diqiyaskan, bahwa wanita lain pun boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki. Secara ringkas, boleh tidaknya wanita menjadi imam bagi makmum laki-laki adalah khilaf. Pada titik nadir ini, apa yang dilakukan Amina Wadud, yakni pada tataran konteks wacana wanita jadi imam, sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Justru yang baru di sini adalah ranah aplikasinya hukum setelah sekian abad lamanya belum pernah terjadi dalam sejarah panjang Islam. (Ibn Rusyd dengan sangat baik mendokumentasikan perdebatan ini di Bidâyah al-Mujtahid wa Nihayâh al-Maqashid, cet. Dar al-Manar, jilid 1, hal. 125) – (lihat juga pendapat Imam Syafi’i dalam al-Umm, cet. Dar al-Fikr, Beirut,1990, jilid 1, hal 191). Soal kedua, tentang bolehkah seorang wanita menjadi khatib jum’at? Sejauh bacaan saya, tidak satu ulama pun yang memperbolehkan. Hal ini sempat diperkuat juga oleh Mufti Mesir: Syeikh ‘Ali Jum’ah (Sawt al-Azhar, 25/3/2005). Dan karena problem inilah saya kemudian berkesimpulan shalat Jum’atnya Dr. Amina Wadud, cs, ‘bermasalah’.

    Soal yang terakhir, dari berbagai penelusuran beberapa sumber, tampaknya praktek shalat yang dilakukan oleh Amina Wadud, di mana shaf shalat antara laki-laki dan wanita dicampur, selain menyisakan kesan provokatif, juga nampak problematis dalam kacamata hukum; haruskah wacana kesetaraam gender diseret ke ruang ibadah? Apa manfa’atnya?

    Dimensi Sosial

    Selain menuai reaksi keras, apa kira-kira ‘sesuatu’ yang didapatkan oleh Dr. Aminah Wadud jika melihat kemaslahatan atau skala prioritas di level sosial? Melihat reaksi keras orang-orang yang menentang Dr. Aminah Wadud, saya melihat, bahwa reaksi orang-orang yang kontra, tidak murni karena merasa Dr. Amina telah mendobrak otorianisme dan hegemoni Fiqh yang telah mapan semenjak 14 abad lalu. Ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan, sisi implementasi di lapangan. Pada sisi ini, saya menilai Dr. Amina telah bertindak tidak bijak. Coba pembaca perhatikan. Dari tayangan beberapa media, tampak ada beberapa hal kontroversial yang tidak pernah dilakukan dalam ritual shalat jum’at selama 14 abad lalu, siang itu, secara sekaligus dipraktekan dengan vulgar dan provokatif. Misalnya:

    1. Imam dan Khatibnya seorang wanita
    2. Yang adzannya juga seorang wanita, tanpa berjilbab lagi
    3. Shof (barisan) shalat antara laki-laki dan wanita campur
    4. Dilakukan di sebuah Gereja

    Akhirnya, bagi yang kontra, mari kasus di atas kita jadikan media intropeksi diri, jangan-jangan kegiatan mereka hanyalah reaksi dan protes sosial atas adanya semacam diskriminasi terhadap ruang gerak wanita dipanggung publik. Yang pasti Islam sangat menghargai kaum wanita dan mendukung untuk maju terus dalam berbagai aspek.

  2. umm Aisyah Says:

    Saya dulu selalu menanti2-kan artikel Bung Ade berisi komentar kritis terhadap berbagai siaran TV. Tadinya saya berpikir menghilangnya anda dari Resonansi Republika karena kritikan anda terhadap media yang terlalu pedas.
    Ternyata, saya kurang lengkap mencermati semua tulisan2 anda… dan terus-terang tulisan anda mengenai Aminah Wadud ini membuka mata saya mengenai siapa anda yg sebenarnya… sekedar pendukung perubahan tanpa kaidah yg jelas….

  3. ulil amri Says:

    Aminah Wadud adalah Prof Gila, sesuatu diukur dengan logika, wahai dud, agama bukan logika. agama Islam tidak butuh orang-orangan seperti dud, dud! kalau dah muak dengan Islam maka buat saja agama sendiri, jangan bawa-bawa Islam.

    • kandaga asri Says:

      Perubahan merupakan kehendak Allah. Perubahan akan mendapat tantangan dari yang menginginkan stagnasi. Awalnya perubahan akan di tolak. Tapi kita bisa melihat dari sejarah bahwa orang2 yang besar ialah orang yang terus berdiri kukuh di atas pendiriannya walaupun seluruh dunia menentang. Kebenaran selalu berkembang, sejarah pun telah membuktikan ini. Yang dulu dianggap sesat karena ketidaktahuan saat ini dianggap benar. Sangat mudah mencaci maki dan menghasut orang lain. Tapi sangat luarbiasa orang yang berani mengutarakan kebenaran yang baru walaupun orang-orang disekitarnya menentang… Haq Maujud, Haq Maujud, Haq Maujud…

  4. adearmando Says:

    Pandangan Ulil Amri di atas merupakan contoh keterbelakangan umat Islam. Ali-alih membahas gagasan Amina Wadud dengan dingin, ia malah lantas memaki-maki dan menuduh orang lain ‘muak dengan Islam’. Umat islam perlu belajar berdiskudi dengan pikiran terbuka, hati dingin dan dengan menggunakan metodologi yang memadai.

    • kandaga asri Says:

      Mas adearmando, saya salut dengan anda. Semoga kesadaran dan pemahaman anda yang mencerahkan hati dan pikiran terus tersebar di seluruh umat Islam di Indonesia.. Amin…

  5. budi botak Says:

    Kalian feminis dan SePiLis hanya menggunakan logika untuk berfikir…
    mengartikan Al’quran seenak akal kalian..

    Ingat.. dari total sekian banyak nabi yang Alloh turunkan
    tidak ada satu pun yang mencontohkan / mengajarkan wanita menjadi imam……… lalu atas dasar apa dia merasa punya hak mengkoreksi sejarah dan ajaran Muhammad SAW.

    setau saya Amina Wadud dan kawan2nya pro Lesbian & Homo

    islam sejati tidak pernah mengajarkan hal demikian..

  6. Muhammad Panji Says:

    Dalam beragama selalu jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan utama. Orang liberal biasanya mengandalkan dan mendewakan otak dalam belajar tentang Islam bukan belajar berIslam karena dua hal tersebut berbeda.

    Orang liberal belajar tentang Islam, mencari celah disana sini seolah Islam adalah agama yang usang, harus diperbaharui dan membuat sesuatu yang baru.

    Semoga ALLAH memberikan hidayah kepada kita semua dan membukakan pintu hati liberalis yang merusak Islam dengan kedok membangun Islam

  7. rabil haserra Says:

    Menanggapi tulisan Anda, “Saya, sebagaimana mungkin mayoritas pria Muslim di Indonesia, masih tidak nyaman bila diimami shalat oleh wanita”. Saya juga, sebagai perempuan sangat tidak nyaman bila diimami oleh laki-laki yang tajwidnya banyak salah (saya menggunakan logika yang Anda gunakan), seandainya ada imam perempuan yang memiliki tajwid yang benar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: