Posted on Mei 2, 2008 by adearmando
Dalam sebuah acara komedi televisi, berlangsung dialog antara dua pemain pria yang seolah-olah sedang membaca suratkabar.
Pemain 1: Wah ini ada berita. Seorang pemuda memperkosa sepuluh gadis …
Pemain 2: Hebat bener …
Pemain 1: Tiga korban di antaranya trauma . . . tujuh lainnya, ketagihan (ha-ha-ha)
DIarsipkan di bawah: Mass Media | 3 Komentar »
Posted on Mei 1, 2008 by adearmando
Tulisan ini dimuat di Majalah Madina Edisi 1,Januari 2008
Sebagaimana banyak umat Islam lainnya, saya menghormati ulama. Saya percaya ulama penting karena mereka adalah kaum cerdik-cendekia yang akan menunjukkan jalan bagi masyarakat awam seperti saya dan puluhan juta warga Indonesia lainnya. Ulama adalah kaum yang diharapkan dapat menjadi pelita yang menerangi umat Islam sehingga ajaran-ajaran Islam [...]
DIarsipkan di bawah: Religion | 2 Komentar »
Posted on Mei 1, 2008 by adearmando
Rangkaian humor di bawah ini saya terjemahkan atau saya tulis ulang dari berbagai sumber. Umumnya terkait dengan agama. Bagi yang berpandangan bahwa agama adalah sesuatu yang terlalu suci untuk dijadikan bahan lelucon, sebaiknya tidak membacanya. Yang di bawah ini dimuat di Majalah Madina No. 1, Januari 2008
Logika?
Tarunaromix adalah seorang guru SMP yang terkenal otoriter di [...]
DIarsipkan di bawah: Humor | 5 Komentar »
Posted on Mei 1, 2008 by adearmando
(Tulisan ini dimuat di Majalah Madina No. 1, Januari 2008)
Persoalan cekal mencekal rupanya bukan monopoli Orde Baru. Akhir November lalu, seorang ahli Islam yang datang dari Belanda terpaksa batal hadir dalam dua acara internasional di Indonesia. Ia diminta tidak bicara, meskipun ia datang menempuh lebih dari sepuluh jam perjalanan atas undangan resmi Departemen Agama.
DIarsipkan di bawah: Religion | Leave a Comment »
Posted on Mei 1, 2008 by adearmando
(Dimuat di Majalah Madina Edisi 1, Januari 2008)
Teorinya begini: Ada upaya sistematis untuk menggerus keimanan kaum muslim di Indonesia dengan menghadirkan banjir tontonan tidak bermoral melalui siaran televisi. . Argumen semacam ini kerap diajukan dalam diskusi-diskusi yang membicarakan realita tayangan pertelevisian dalam sebuah masyarakat muslim di Indonesia.
DIarsipkan di bawah: Mass Media, Religion | 1 Komentar »