Bersedekahlah dan Keuntungan Menantimu ….

Kampanye bersedekah yang dilancarkan Ustad Yusuf Mansyur sukses. Banyak umat mendermakan bagian hartanya dalam jumlah besar. Tapi apakah benar, bersedekah layak dilakukan untuk mencapai keuntungan?

Senin 4 Mei 2009, waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi, ketika seorang ibu turun dari  ojek motor di depan Sekolah Darul Quran Internasional (SDQI), di bilangan Cipondoh, Tangerang, provinsi Banten.

Berbeda dengan para anak murid, sang ibu bergegas ke lantai ke dua gedung sekolah dan yayasan yang didirikan ustad muda dan terkenal Yusuf Mansyur.  Di sana ia bergabung dengan belasan ibu-ibu lain yang sudah menunggu. Tujuan mereka satu: berkumpul dan berkonsultasi dengan sang Ustad.

Baru pada sekitar 08.30, Yusuf nampak keluar dari rumah. Didampingi beberapa rekannya, ia berjelan menuju ke gedung. Ia masih harus bertemu dengan beberapa tamunya, sebelum  kemudian masuk ke ruang pertemuan.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.00. Yusuf Mansur duduk di ruangan tersebut. Ia  melihat jam tangannya, sebelum berucap, ”Sampai jam sepuluh ya, karena saya harus ke TVRI,” ujarnya. ”Nah sekarang siapa yang mau memulai? Dari ujung sini saja lah,” sambil menunjuk orang di samping kanannya. ”Apa masalahnya?” tanyanya.

Seorang ibu di samping Yusuf Mansur awalnya terlihat ragu untuk mulai bicara. Dia datang tidak sendirian dari Semarang. Di sampingnya, ada ibunya menemani. Ia sendiri  memangku seorang anak berusia sekitar lima tahun. Dalam ceritanya, ibu tersebut menyampaikan bahwa saat ini dia sedang terjerat utang sebesar 70 juta rupiah. Selain itu dia saat ini sedang menjanda. Dia ingin utangnya segera terlunasi dan kembali mempunyai suami.

Ustad Yusuf bertanya apa yang ibu tersebut miliki untuk membayar utang tersebut. Selain itu ustad Yusuf juga bertanya apakah ibu tersebut tidak meninggalkan salat wajib, melakukan salat malam dan salat duha, dan berapa rakaat ibu tersebut melakukan salat duha.

Setelah dijawab, Ustad Yusuf berkata, ”Salat duhanya ditambah ya, 12 rakaat. Nah kalau memang motornya mau di jual dan mau disedekahkan, beri makan anak-anak yatim yang ada di dekat rumah ibu. Undang mereka ke rumah selama beberapa hari, dan ibu rajin berdoa. Insya Allah nanti utang ibu akan terlunasi. Kalau mengenai jodoh, lagak-lagak-nya sih sudah dekat, pokoknya jangan tinggal salat duhanya,” urai Ustad Yusuf. Setelah itu Ustad Yusuf mengajak semua hadiri berdoa, untuk mendoakan ibu yang tadi telah menyampaikan masalahnya.

Kapada beberapa orang lain yang berkosultasi, Ustad Yusuf  memberi saran serupa. Menanyakan apakah orang tersebut rajin salat, baik itu salat wajib, salat malam dan salat duha, dan seberapa konsisten orang tersebut memberikan sedekah. Setelah itu mengajak berdoa bersama.

Tepat jam sepuluh Ustad Yusuf berpamitan meninggalkan mereka. Madina yang hadir di acara itu tidak melihat ada peserta yang membayar. Ini adalah sebuah konsultasi gratis.

Sedekah sebagai Solusi

Nama Yusuf Mansur memang mencuat beberapa tahun terakhir ini. Dengan program Wisata Hati-nya ia berhasil mengetuk hati ribuan umat Islam untuk mendermakan  sebagian dari kekayaan mereka untuk kepentingan sosial. Dari uang yang terkumpul dari sedekah para dermawan itu, Yusuf mengembangkan antara lain, yang paling terkemuka, Program Pembibitan Penghapal Al Quran  (PPPA) Daarul Qur’an.

Hanya dalam waktu tiga tahun Daarul Qur’an telah memiliki sekitar 3.00n santri binaan, dan mengembangkan berbagai lembaga pendidikan baik di tingkat SD, SMP, SMA dan STIK. Di beberapa kota juga telah didirikan peantren gratis bagi anak-anak dari keluara tidak mampu. Yusuf memiliki cita-cita tinggi, menjadikan Indonesia bebas buta Al-Qur’an dengan cara mengoptimalisasi penggalangan dana sedekah.

Namun di mata banyak, nama Yusuf Mansyur  dikenal terutama karena konsepnya tentang ‘sedekah sebagai solusi’. Dalam berbagai pengajian dan ceramahnya, Yusuf secara bersemangat menunjukkan pada umat bahwa bersedekah bukanlah sekadar sesuatu yang membawa pahala, namun juga dapat melicinkan jalan mencapai tujuan yang kita inginkan. Kira-kira imbauan sederhananya begini: “Bersedekahlah, dan Allah akan memberi apa yang kau minta”.

Yusuf sangat percaya bahwa ‘bersedekah’ adalah sebuah sarana yang disediakan Allah bagi umat-Nya yang sedang meminta sesuatu. Menurutnya,  manusia yang tidak mau menggunakan sarana itu adalah manusia yang sombong. Justru, manusia sebaiknya secara jelas menyatakan pada Allah permintaan  spesifik yang hendak dicapai saat bersedekah.

Apa yang didakwahkan ini disambut baik. Banyaknya pihak yang bersedia mensedekahkan uang mereka pada PPPA menunjukkan besarnya kepercayaan mereka. Sebuah buku yang dikeluarkan PPPA, berjudul Senjata Kaum Beriman (2009) memuat berbagai kisah pribadi yang menggambarkan bagaimana sedekah yang dikeluarkan dibayar kontan oleh Allah.

Contohnya cerita Agus Kuncoro, pemain utama dalam sinetron Para Pencari Tuhan. Beberapa tahun lalu ia pernah mengalami masa-masa sulit. Ia putus hubungan dengan calon istrinya, putus hubungan kerja, dan rumah kontrakannya terbakar. Agus mengaku, saat itu ia merasa kehilangan pegangan.

Sampai suatu saat, ia bertemu dengan seorang ustad yang memberi saran sederhana. Menurut sang ustadz, kalau Agus ingin memperoleh pertolongan Allah, ia harus melakukan aqad dengan Allah. “Lu kalau bersedekah kudu pake aqad. Kalau lu ngasih ke orang, sebutir, Lu maunya apa sama Allah. Jangan ngasih-ngasih aja tanpa pamrih pada Allah. Kalau lu bersedekah tanpa pengharapan pada Allah, sama aja Lu pelit berdoa sama Allah,” kata si utsda dengan gaya bicara Betawi.

Nasehat itu pun diikuti Agus. Ia tingkatkan sedekahnya, diiringi dengan doa pengharapan kepada-Nya. Nyatanya strategi itu sukses.  “Alhamdulillah, setelah itu pintu-pintu rejeki buat saya seperti terbuka, sehingga saya banyak order dan punya rumah sendiri,” cerita Agus.

Persoalan lain Agus adalah soal anak. Setelah tiga tahun menikah, tak ada tanda-tanda    kehamilan pada istrinya. Ia berkonsultasi pada Ustad Yusuf. Saran sang ustad sederhana: sedekahkan saja setengah dari honor film Kun Fayakun. Saran ini diikuti Agus. Ia sumbangkan sebagian penghasilannya pada PPPA. Lagi-lagi sukses. Tak lama kemudian, istri Agus hamil.

Ada banyak cerita lain.  Ada kisah tentang seorang wanita yang bisa naik haji dan memperoleh jodoh setelah bersedekah dalam jumlah banyak. Atau tentang seorang pengacara yang menghabiskan uang di atas Rp 150 juta milik kliennya, namun akhirnya bebas dari amukan kliennya setelah ia memutuskan untuk menyedekahkan isi rumah dan kantornya. Dalam kasus lain,  seorang wanita yang selamat tanpa cacat dari tabrakan fatal yang dialaminya percaya bahwa itu hanyalah satu rangkaian ‘kejaiban’ dari bersedekah. Begitu juga ada  seorang wanita yang selamat dari peristiwa  bom Bali percaya itu terjadi karena ia rajin bersedekah.

Sebagian cerita nampak sederhana.  Ada pengakuan  tentang seorang pria yang mobilnya bermasalah ketika menempuh perjalanan Jakarta-Bandung. Karena itu, ia menerapkan jurus ‘memberi sedekah penolak bala’. Caranya, ia  bersedekah Rp 5.000 pada pengemis di beberapa titik perjalanan. Hasilnya? Ia mencapai Bandung dengan selamat.

Al-Qu’an dan Al Hadits

Kalaupun sebagian pihak mungkin merasa bahwa cara pandang itu tidak masuk di akal, yang percaya pada berkah sedekah semacam itu bukan saja Yusuf Mansur. Argumen serupa misalnya terbaca dalam buku karya Muhammad Muhyidin, Keajaiban Shodaqoh (yang pada September 2008 saja sudah mencapai cetakan ke 19). Di situ juga dikatakan bahwa ada empat keutaaman sedekah yang diterima orang yang mengeluarkannya: mendatangkan rezeki, menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan memanjangkan umur.

Ia merujuk pada sejumlah pernyataan Nabi Muhammad  dan para sahabat. Nabi misalnya pernah menyatakan: “Obatilah penyakitmu dengan sedekah”, atau “Sedekah bisa memanjangkan umur”. Ali bin Abi Thalib juga pernah berujuar: “Pancinglah rezeki dengan sedekah”.

Sebuah buku yang disebut sebagai ‘best seller’ lainnya, Berobat dengan Sedekah, karya Muhammad Al Bani, mengungkapkna rangkaian contoh keajaiban bersedekah dalam mengobati berbagai penyakit. Sebuah bab khusus dalam buku itu mengungkapkan bagaimana bersedekah ternyata mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang semula diderita mereka yang menyedekahkan hartanya: dari bisul, sakit gigi geraham, demam, kemandulan sampai kanker.

Menurut al Bani, korelasi antar keduanya memang nampak nampak tidak logis. Namun, karena itu, untuk memahaminya diperlukan apa yang disebutnya sebagai ‘logika langit’. Di mata Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin. Dia tinggal berfirman ‘jadilah’ maka semua hal akan bisa terjadi. Jadi kalau Allah memang menyembuhkan kanker seorang umatNya yang berusaha mendekatkan diri dengan cara bersedekah, itu tentu hak sepenuhnya Allah.

Yusuf Mansur percaya bahwa sedekah adalah solusi  kehidupan. “Berikan sedekah terbaik, agar Allah segera menghandle persoalan hidup Anda,” tulisnya. “Kalau bersedekah jangan malu-malu untuk memohon secara jelas permintaan kita kepada Allah agar Ia kabulkan.”

Tentu saja, ia tidak mengatakan bahwa yang diperlukan hanya bersedekah. Menurutnya, si pemberi sedekah harus menjalankan berbagai peribadatan lain. Contoh utamanya adalah meningkatkan shalat dari yang semula hanya yang wajib menjadi juga mencakup berbagai shalat lain: dhuha dan tahajjud misalnya.

Terhadap mereka yang bersikap sinis terhadap teorinya itu, Yusuf punya jawaban. Dalam bukunya Keluar dari Kemelut Hidup, ia mempertanyakan mereka yang justru meragukan bahwa manusia layak bersedekah dengan mengharapkan balasan dari Allah. “Kalau  seseorang bersedekah pada Allah, lalu berharap sesuatu dari Allah tidak boleh, kemana lagi ia berharap?”

Mereka yang percaya pada agasan ‘sedekah membawa keuntungan’ ini tidak hanya bicara kosong. Yang lazim dirujuk adalah surat dalam Al-Qur’an, Al Baqarah (261) yang bebunyi: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkah hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji.”

Dengan rujukan itu, diperolehlah sebuah kalkulasi matematis: bila kita mensedekahkan uang Rp. 1000 maka Allah akan membalas dengan Rp. 1000 X 7 X 100 = Rp. 700.000.

Ada pula hadits yang memperkuat. Nabi Muhammad mengatakan: ‘Sedekah membuat orang semakin banyak hartanya. Maka bersedekahlah, niscaya Allah akan melimpahkan rahmatNya” (HR Ibnu Abu Dunya). Catatan sejarah mengenai kehidupan Nabi dan para sahabat juga memberi banyak rujukan yang menggambarkan bahwa mereka rela berbagi dengan kaum yang membutuhkan pada saat mereka sebenarnya hidup dalam keterbatasan.

Keadilan Sosial

Namun, apa yang dikampanyekan Yusuf Mansyur dan para koleganya ini nampak berbeda dengan konsepsi sedekah yang selama ini dikembangkan di kalangan cendekiawan dan ulama.  Jalaluddin Rahmat, misalnya, mengingatkan bahwa bersedekah tidak pernah dikaitkan dengan kentungan melainkan pada soal membantu orang yang membutuhkan.

Sebagaimana dijelaskan mendiang Nurcholish Madjid,  bersedekah, mengeluarkan sebagian harta atau kekayaan yang dimiliki seseorang merupakan proses penyucian kekayaan. Di dalam Islam, segenap rezeki yang diperoleh sebenarnya adalah titipan Allah. Kekayaan, dalam hal ini, adalah cobaan yang diberikan Allah dan tidak untuk disia-siakan. Karena itulah, manusia diingatkan bahwa dalam harta yang dimilikinya, ada bagian kaum mskin.

Karena persepsi itu, menurut Nurcholish, umat Islam tak dapat memandang sedekah sebagai sekadar perwujudan belas kasihan.Bahkan kadang dalam bentuk pembersihan lemari dari pakaian lama, pakaian bekas, pakaian usang yang tak akan dipakai lagi – sesuatu yang disindir Nurholish sebagai perilaku ‘membuang sampah’.

Karena itulah, bagi banyak pihak, bersedekah tak bisa dilepaskan dengan cita-cita keadilan sosial yang diamanatkan Islam.  Sebagaimana dituis dalam Esiklopedi Islam (dengan pemimpin redaksi Azyumardi Azra), kendati sedekah pada dasarnya adalah pemberian secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi waktu dan jumlahnya, adakalanya sedekah itu menjadi wajib. Peningkatan tingkat keharusan ini terjadi ketika ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang kelaparan yang dapat mengancam jiwanya sementara si orang pertama memiliki makanan lebih dari yang ia perlukan.

Dalam kondisi kesenjangan kaya-miskin yang amat lebar sebagaimana terjadi di Indonesia saat ini, kampanye ‘bersedekah’ sebenarnya layak digalakkan. Hanya saja tujuan akhirnya bukanlah untuk mencapai keuntungan pribadi melainkan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bersama.

Negara-negara sosialis di Eropa Barat misalnya menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang memaksa orang-orang kaya berbagi rezeki dengan kalangan rayat tak berpunya. Logikanya, bila kesenjangan kaya-miskin melebar maka ujng-ujungnya yang akan terjadi adalah kekacauan, konflik dan perebutan paksa. Dalam hal ini negara seharusnya dikelola dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap warga terpenuhi hak-hak asasinya: hak atas hidup layak, makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, pendidikan dan seterusnya. Kemiskinan adalah kondisi yang harus diperangi.

Karena itu negara memaksa rakyatnya yang kaya membayar pajak lebih besar yang kemudian digunakan untuk memberdayakan kalangan miskin. Ini yang menyebabkan di banyak negara Eopa yang menerapkan sistem ekonomi yang lebih sosialistik, pemerataan kesejahteraan berlangsung baik dan tingkat kemiskinan  ditekan rendah. Mekanismenya memang bukan sedekah sukarela. Negara memaksa orang kaya untuk bersedekah melalui pajak pada kaum dhuafa.

Ini yang rupanya masih menjadi soal di dunia Islam. Salah satu masalahnya, ketika umat Islam merujuk pada sumber-sumber hukum yang ditulis belasan abad yang lalu memang tak ada formulasi-formulasi hukum yang tegas tentang kewajiban mensejahterakan rang miskin. Banyak muslim yang merasa puas dengan membayar zakat setiap tahun. Akibatnya bahkan di negara-negara Islam kaya seperti Arab Saudi, jurang kaya-miskin menganga lebar. Ayat-ayat yang mengecam kaum kaya yang melupakan nasib kaum miskin kerap dilupakan begitu saja.

Altruistik

Di sisi lain, penelitian-penelitian ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas bersedekah sebenarnya bukan hanya bermanfaat pada kesejahteraan masyarakat luas, melainkan juga pada individu yang bersedekah. Memang kesimpulan akhirnya mirip dengan gagaan Yusuf mansyur, tapi dengan penjelasan berbeda.

Aktivitas memberi (giving) merupakan salah satu objek favorit para peneliti yang mempelajari tingkah laku manusia. Baik kaum psikolog, antrolopolog maupun ahli ekonomi dan pemasaran sudah melakukan banyak studi. Salah satu temuan yang lazim dikemukakan adalah ‘memberi’ adalah sebuah bagian penting – namun kompleks – dalam interaksi manusia. Aktivitas ini berperan membangun kenyamanan diri, persepsi diri, sekaligus membina hubungan dengan keluarga, dengan teman dan masyarakat luas. Para psikolog bahkan menyatakan bahwa adalah mereka yang memberi, bukan yang menerima yang meraih keuntungan psikologis terbesar dari sebuah pemberian.

Sebuah studi yang terkenal dari Allan Lukks yang melibatkan 3.000 responden membawa kesimpulan bahwa menolong orang lain akan menyumbang bagi terpeliharanya kesehatan, mengurangi risiko terkena penyakit dan kegoncangan psikis.

Pada dasarnya, manusia memiliki kecnderungan altruistik, yakni memebri pada orang lain. Perasaan bahagia yang ditimbulkan dari aktivitas memberi ini, pada gilirannya, akan meningkatkan kekebalan tubuh dan kemampuan penyembuhan diri. Ketentraman dan kenyamanan yang dperoleh dari terciptanya persahabatan, kasih dan perasaan menolong oang lain akan menghidupkan gen-gen yang menyumbang bagi kekebalan tubuh dan keceriaan.

Stephen Post misalnya menunjukkan bahwa kedermawanan berhubungan langsung  dengan kehidupan yang lebih sehat dan umur lebih panjang. Manusia memiliki kebutuhan untuk memberi. Pada gilirannya, semakin kita memberi, kita semakin merasa bahagia dan ini merupakan modal penting bagi kesehatan fisik dan psikis.

Pada titik ini tidaklah penting apakah orang yang dibantu itu memberikan imbalan atau tidak. Yang terpenting adalah kebahagiaan saat membantu. Itu pula yang menyebabkan kita marah ketika kita melihat bahwa orang tidak berterimakasih atau bersyukur saat dibantu. Dalam hal ini, persoalannya bukanlah bahwa si pemberi haus akan terimakasih, namun lebih pada perasaan bahwa si pemberi bantuan kecewa bahwa bantuannya terasa  tidak bermanfaat.

Kecenderungan altrustik ini sebenarnya menunjukkan bahwa manusia bukanlah sekadar mahluk ekonomi: memperhitungkan segala tingkah-lakunya dalam konteks untung-rugi. Persoalannya memang bagaimana mengingatkan mansuia pada kecenderungan-kecenderungan dasar ini sehingga bersedia membantu orang lain yang membutuhkan tanpa harus dipaksa, tanpa harus diiming-imingi.

Soal iming-iming ini yang kini rupanya ditawarkan Yusuf Mansyur dan kawan-kawan. Nampaknya, mereka percaya bahwa tanpa imbalan cash, manusia tak akan mau berbagi. Di situs wisata hati online, tertulis pernyataan: “Siapapun manusia, pasti ingin hidup ini punya lebih. Tidak sekedar pas-pasan. Maka, dengan hitung-hitungan sedekah, bolehlah jajal teori ini: Bersedekahlah dengan target.”

Persoalannya, apakah dengan demikian konsep ‘sedekah’ tidak akan tercerabut dari konteks keadilan sosial yang sebenarnya mewadahinya? Sedekah jelas penting. Tapi untuk siapa itu perlu kita lakukan?

(Tulisan ini dimuat di Majalah Madina, edisi Juni 2009)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: