Peristiwa Memalukan di UI: Salah Gaji Dosen Rame-rame

Ade Armando (9 April 2012)

Salah satu persoalan terbesar Universitas Indonesia saat ini adalah sangat buruknya pengelolaan keuangan dan SDM. Sejak naik ke tampuk pimpinan, Dr. Gumilar menerapkan sistem keuangan yang tersentralisasi. Selama empat tahun ini, terbukti bahwa sistem yang ia terapkan merugikan keseluruhan proses pendidikan di UI. Contoh terakhir dari keburukan ini adalah apa yang terjadi — mudah-mudahan hanya — di Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik.

Akhir Maret lalu seperti biasa para dosen FISIP menerima gaji dari UI yang langsung dikirim ke rekening masing-masing. Ternyata, ada banyak kejutan terjadi. Banyak dosen yang menerima uang dalam jumlah yang jauh melampaui haknya. Sebaliknya sebagian lain menerima jauh lebih rendah.

Harap dicatat, para dosen ini memang tak memperoleh gaji dalam jumlah sama setiap bulannya. Jumlah gaji yang diterima sangat bergantung pada jumlah jam mengajar mereka pada bulan tersebut. Jadi masing-masing dosen sebenarnya hanya bisa mengira-ngira berapa jumlah uang yang akan diterimanya.

Hanya saja di akhir Maret kemarin, perbedaannya terlalu mencolok.
Ada dosen yang memperkirakan hanya akan memperoleh bayaran sekitar Rp 2-3 juta, ternyata dikirimi gaji Rp 11 juta. Bahkan ada yang semula menghitung hanya akan memperoleh pemasukan Rp 2 juta, ternyata memperoleh kiriman uang dari UI di atas Rp 20 juta.

Tapi kejutan itu hanya bertahan sekitar 2 hari. Karena pada hari berikutnya, tiba-tiba saja seluruh kelebihan uang itu raib dari rekening bank. Kemudian ada pemasukan sebesar gaji yang memang seharusnya diterima. Dan ini diikuti dengan surat pemberitahuan dari UI ke setiap dosen yang menyatakan bahwa ada kesalahan penghitungan.
Ini tentu saja menggegerkan para dosen dan karyawan FISIP UI.

Sejumlah hal mengemuka.

Pertama-tama, ini menunjukkan betapa buruknya manajemen keuangan UI yang tersentralisasi. Bagaimana mungkin para pekerja di bagian keuangan dapat melakukan kesalahan sefatal itu? Penyebabnya memang hampir pasti human error di pihak keuangan UI; sangat mungkin yang terjadi adalah salah input. Gaji dosen A di kirim ke dosen B, sementara gaji dosen B dikirim ke dosen C, dan seterusnya. Ini tentu saja kesemberonoan tingkat paling buruk yang tak boleh dilakukan oleh mereka yang bertanggungjawab atas keuangan di UI.

Kedua, yang juga sama buruknya adalah keputusan UI dan BNI untuk begitu saja memotong rekenig masing-masing dosen setelah mereka menyadari kesalahan mereka. Pemotongan itu dilakukan tanpa pemberitahuan pada dosen sebelumnya. Apalagi meminta persetujuan. Dengan kata lain, UI dan BNI secara sepihak mengacak-acak isi rekening dosen. Kalau ini bisa dilakukan, bagaimana para dosen bisa merasa aman dengan kondisi rekening masing-masing?.

Ketiga, koreksi itu juga terjadi setelah ada seorang dosen FISIP yang mengadu. Dengan kata lain, sangat mungkin kecerobohan ini tak akan terungkap kalau saja tidak ada seorang dosen Departemen ilmu Komunikasi yang protes karena menemukan di rekeningnya ada tambahan uang di atas Rp 20 juta. Pada awalnya, pihak Fakultas menjawab bahwa tak ada kesalahan karena memang jumlah itulah yang dikirim Universitas. Baru ketika si dosen berkeras meminta agar pihak Fakultas menghubungi bagian keuangan Universitas, sehingga pegawai keuangan UI terpaksa memeriksa kembali pengiriman uangnya, kecerobohan ini terungkap. Kalau saja tak ada dosen yang mengadu itu, ceritanya mungkin bisa menajdi berkepanjangan.

Lebih buruk lagi, dari pihak universitas tak pernah ada penjelasan resmi mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Semua diam. Rektor bungkam. Wakil rektor bagian keuangan bungkam. Humas bungkam. Dekan FISIP juga diam.

Saya tidak tahu apakah hal serupa juga terjadi fakultas-fakultas lain. Namun cerita memalukan ini tentu saja secara serius menunjukkan betapa amburadulnya pengelolaan keuangan di UI.

Sejak Gumilar naik menjadi rektor, ia menerapkan sistem sentralisasi keuangan. Bila dulu, setiap fakultas diberi kepercayaan mengelola keuangan sendiri sesuai dengan anggaran yang sudah ditetapkan, kini segala urusan keuangan dihandle pihak Universitas.

Banyak pihak sudah mengingatkan bahwa untuk menjalankan itu – mengatur uang lebih dari Rp 1 triliun setiap tahun dan melibatkan lebih dari 10 fakultas dan lembaga – dibutuhkan pimpinan dan manajer keuangan yang cakap dan para SDM yang memiliki kualifikasi baik. Rektor mengabaikan saja peringatan itu. Mungkin karena sekadar keras kepala, atau mungkin karena sistem sentralistis ini menguntungkan pihak-pihak tertentu di lingkaran pimpinan UI.

Akibatnya sistem buruk ini terus dijalankan selama empat tahun terakhir, dan pengelolaan keuangan UI berada pada tingkat memalukan. Yang rugi bukan saja, dosen, karyawan, tapi juga mahasiswa dan masyarakat luas. (Catatan: walau ada juga pihak yang merasa nyaman. Gumilar juga membuat sekama penggajian yang menyebabkan sebagian kecil dosen bisa memperoleh penghasilan belasan sampai puluhan juta rupiah setiap bulan).

Cerita-cerita tentang keterlambatan gaji atau gaji yang terpotong bukan hal baru. Lebih parah lagi, ada banyak dosen tidak tetap yang bahkan tidak memperoleh bayaran selama berbulan-bulan. Banyak dosen juga mempertanyakan adanya perbedaan antara apa yang tertera di struk gaji yang dikeluarkan fakultas dengan nominal uang yang masuk ke rekening. Sangat disayangkan juga bahwa para pengelola keuangan di masing-masing fakulas seperti tak berdaya melakukan apa-apa. Dalih mereka, semua urusan keuangan ditetapkan di universitas. Orang-orang di fakultas praktis tidak tahu apa-apa.

Gumilar memang sudah selayaknya mengakui keburukan manajemen universitas yang dipimpinnya. Dengan kualitas pengelolaan yang ada, bisa dipahami juga kalau Badan Pemeriksa Keuangan menemukan adanya puluhan miliar rupiah potensi kerugian negara akibat kesalahan manajemen universitas saat ini.

Saya skeptik apakah kejadian memalukan di FISIP ini akan mendorong upaya perbaikan. Saya rasa untuk kesalahan seburuk ini, seharusnya ada pihak yang bertanggungjawab. Tapi mengingat kiprah Rektor selama ini, saya tak yakin akan ada langkah serius dilakukan.

Teman-teman saya yang menajdi korban di FISIP, bergurau begini: “UI saat ini memang bukan World Class University, melainkan Worst Class University…”

Saya tak mungkin tak setuju….

About these ads

2 Tanggapan to “Peristiwa Memalukan di UI: Salah Gaji Dosen Rame-rame”

  1. apriadi Says:

    salam kenal pak ade armando…saya mahasiswa pasca universitas haluoleo konsentrasi komunikasi pembangunan…

  2. Joni Says:

    Waduh, jika benar ini setingkat PT yg diketuai cendekiawan…..ehem, kok bisa ya. Kalao kesalahan di tingkat kecamatan wajar tapi di PT lho. PT lain ada ga yo…??


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: