Astro, Liga Inggris dan Hak Publik

Harian ini memberitakan bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh akan meminta klarifikasi Astro Tv terkait dengan hak eksklusif siaran liga sepakbola Inggris (Koran Tempo, 20/08/2007). Menurut Menteri, ada yang salah dengan penguasaan hak khusus tersebut. ‘’Siaran yang mempunyai nilai publik tinggi tidak (bisa) dimonopoli atau jadi hak eksklusif televisi tertentu,’’ ujarnya.

Sang Menteri tentu sekadar sedang bereaksi terhadap keluhan masyarakat yang tiba-tiba saja harus kehilangan salah satu mata acara televisi kegemaran mereka. Sampai musim lalu, siaran tersebut bisa disaksikan secara luas oleh rakyat Indoensia baik melalui stasiun televisi teresterial, TV7, maupun melalui saluran ESPN dan Star Sports yang dapat diakses melalui Indovision, Kabelvision dan Telkomvision.

Monopoli di tangan Astro mengubah total itu semua. Kini hanya mereka yang sanggup membayar Rp. 200 ribu per bulan dengan berlangganan Astro yang dapat menyaksikan sebuah liga sepakbola yang sering disebut sebagai paling kompetitif dan atraktif di dunia tersebut. Mayoritas penggemar lainnya akan hanya bisa mendengarkan cuplikan beritanya, karena satu alasan sederhana: tarif berlangganan itu terlalu tinggi untuk kondisi ekonomi mereka yang memang sangat terbatas.

Namun tentu saja, yang mengeluh bukan hanya kaum miskin. Isu ini juga diangkat oleh para pengelola lembaga penyiaran berlangganan pesaing Astro yang kehilangan salah satu program unggulan mereka. Yang dikuatirkan, monopoli di tangan Astro akan merebut pangsa pasar yang jumlahnya sudah sangat terbatas.

Jadi, manuver Astro memang bermasalah. Namun sejumlah catatan harus diberikan terhadap rencana Menteri. Pertama-tama, harus diingatkan bahwa pemerintah saat ini sudah tidak berwenang untuk mengintervensi isi siaran televisi. Lembaga yang diamanatkan UU Penyiaran 2002 untuk melindungi ‘iklim persaingan yang sehat antar lembaga penyairan’ serta ‘menjaga keadilan tatanan informasi’ adalah Komisi Penyiaran Indonesia. Karena itu, demi ketertiban demokratisasi penyiaran, pemerintah seharusnya melibatkan atau bahkan menyerahkan kewajiban penataan tersebut kepada KPI.

Kedua, dan yang lebih penting lagi, apa yang terjadi ini sebaiknya tidak ditangani secara reaktif dan kasuistik. Apa yang terjadi kali ini sebenarnya sekadar kembali menunjukkan bahwa mekanisme pasar kerap tidak membawa manfaat terbaik bagi konsumen luas. Akibat kemenangan Astro dalam berkompetisi dengan pesaingnya, kini masyarakat justru harus membayar mahal. Dengan kata lain, persaingan justru tidak menghasilkan produk yang lebih baik dan lebih murah.

Selama ini, industri pertelevisian komersial Indonesia memang terkenal tidak mau diatur oleh siapapun. Pola ini tidak bisa didiamkan karena pada dasarnya penyiaran televisi menggunakan frekuensi siaran yang jumlah terbatas dan merupakan milik publik. Bila setiap pemain dibiarkan beroperasi dengan mengedepankan kepentingan sempit masing-masing, rakyat akan terus menerus menjadi korban.

Dalam kasus Astro, jelas penyebab utamanya adalah kesulitan perusahaan itu untuk menembus pasar Indonesia. Pasar televisi berlangganan di Indonesia memang sangat terbatas, yang berbeda dengan kondisi di negara asal Astro, Malaysia. Di negara tetangga kita itu, hampir 60% keluarga berlangganan Astro. Ketika mereka ingin mengulang kesuksesan di sini, dengan lebih dari seratus juta penonton sebagai pasar potensial, Astro terhalang oleh begitu banyak kendala.

Pertama-tama, kondisi ekonomi rata-rata masyarakat Indonesia jelas lebih rendah dari Malaysia. Kedua, penonton Indonesia sudah dimanjakan oleh lebih dari sepuluh siaran televisi komersial yang atraktif (berbeda dengan Mayalsia yang hanya dilayani tiga stasiun televisi, yang dua di antaranya pun adalah stasiun televisi pemerintah). Ketiga, kalangan menengah di Indonesia sudah terbiasa membeli dengan harga murah DVD dan VCD bajakan film-film Hollywood yang lazimnya justru menjadi daya tarik utama kehadiran saluran-saluran asing melalui televisi berlangganan. Keempat, sebelum Astro, sudah ada sejumlah jasa televisi berlangganan yang lain, dengan Indovision sebagai yang terbesar. Kelima, teknologi satelit yang digunakan Astro ternyata rentan terhadap kondisi cuaca buruk – sesuatu yang dimanfaatkan dalam kampanye pemasaran Indovision untuk ’menghabisi’ Astro.

Dalam persaingan yang sedemikian ketat, Astro harus mencari daya tarik eksklusif untuk menarik pelanggan pindah dari televisi berlangganan yang sudah ada atau mencari pelanggan baru. Pada awalnya, keunggulan Astro adalah biaya berlangganan per bulan yang lebih murah. Namun dengan cepat, televisi berlangganan lain menurunkan harga.

Kemudian, tahun lalu, Astro berusaha agar saluran televisi sport ESPN dan jaringan televisi Star memutuskan kontrak dengan lembaga penyiaran berlangganan lain, sehingga tayangan-tayangan mereka di Indonesia hanya dapat disaksikan melalui Astro. Upaya ini gagal karena Indovision dengan segera meminta Menteri Kominfo Sofyan Djalil mencegah monopoli hak siar tersebut. Bahkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha pun turun tangan.

Kini, langkah lain dilakukan. Astro mengikuti lelang untuk memperoleh hak siar eksklusif liga Inggris yang dipegang oleh ESS, perusahaan yang didirikan oleh ESPN dan Star Sports. Di musim-musim lalu, ESS membedakan hak siar untuk televisi berlangganan dan televisi non-bayar. Karena itulah, siaran liga Inggris bisa disaksikan di televisi berlangganan melalui ESPN dan Star Sports, sementara di televisi non-bayar, itu bisa disaksikan melalui TV7 yang membeli hak siar dari ESS.

Astro membeli sekaligus kedua hak tersebut, dengan nilai luar biasa. Menurut tulisan di Kompas (19/08), angka itu mencapai 50 juta dolar AS; sementara Koran Tempo (20/8) menurunkan nara sumber yang menyebut angka lebih rendah: 14 juta dolar AS. Bagaimanapun, keduanya adalah angka fantastis yang memang tidak mungkin dijangkau oleh televisi nasional kita.

Astro berani mengeluarkan uang sebesar itu karena dengan begitu, masyarakat tidak punya pilihan lain kecuali berlangganan Astro kalau ingin menyaksikan liga Inggris. Astro memang tidak main-main. Bila selama ini, masyarakat hanya bisa menyaksikan pilihan pertandingan setiap pekan; melalui Astro, konsumen bisa menyaksikan seluruh 370 pertandingan yang digelar sepanjang tahun. Artinya bila Anda penggemar Arsenal, Anda akan bisa menyaksikan seluruh 38 pertandingan yang mereka mainkan.

Sasaran Astro mereka jelas bukan menghabisi televisi non-bayar, melainkan rival utama mereka, Indovision. Hanya saja kalau orang masih bisa menyaksikan liga Inggris melalui TV7, insentif bagi masyarakat untuk beralih (atau mulai berlangganan) ke Astro menjadi melemah. Karena itu, Astro mengunci mati liga Inggris dalam paket tawaran mereka. Diharapkan akan terjadi gelombang perpindahan konsumen dari Indovision ke Astro. Lebih dari itu, diharapkan pula akan lahir pelanggan-pelanggan baru dari kalangan kelas menengah yang akhirnya memilih membayar Rp 200 ribu, demi Liga Inggris.

Saya tidak tahu persis apakah strategi mereka berhasil. Yang saya dengar Astro memang menikmati penambahan jumlah pelanggan secara signifikan. Tapi saya juga mendengar ada begitu banyak maki-makian ditujukan kepada Astro dan bahkan Malaysia, melalui berbagai situs dan mailing-list internet. Saya, misalnya, baru saja menerima surat ajakan boikot Astro dari seseorang yang mengatasnamakan berasal dari kelompok Solidaritas Masyarakat Miskin!

Dalam pandangan saya, dalam kondisi begini, sebuah intervensi negara terhadap pasar menjadi suatu keharusan. Saya bisa membayangkan hal serupa bisa terjadi dalam kasus-kasus lain, misalnya Piala Dunia Sepakbola. Bila dalam rangka kompetisi, Astro atau Indovision kembali mengulang praktek memonopoli hak siar, masyarakat yang tidak sanggup membayar biaya berlangganan akan terpnggirkan.

Karena itu, sebuah penataan harus ditetapkan. Kata kunci dalam penataan tersebut adalah ’pemerataan dan keadilan’ terkait dengan hak publik untuk menikmati informasi; serta ’iklim persaingan yang sehat’ antara lembaga penyiaran. Dalam semangat itu, penguasaan hak ekslusif seperti yang dilakukan Astro sangat pantas untuk dilarang.

(Dimuat di Koran Tempo, 23 Agustus 2007)

11 Tanggapan to “Astro, Liga Inggris dan Hak Publik”

  1. DESI UTAMI Says:

    Yth, Bang Ade..

    Apa Kabar Bang?
    desi lgi cari info tentang televisi berbayar di Indonesia ni.. eh, ketemu Weblog nya Bang Ade.. ada yang bermanfaat banget buat desi dari isi artikelnya..
    makasih ya Bang..

    eh iya bang, kemarin di kantor ada rapat dengan LPB (Astro TV), katanya mereka akan membicarakan masalah ini ke CEO ASTRO Malaysia.. mudah-mudahan dapat jalan keluar yang terbaik buat para penggemar Bola, khususnya liga Inggris ini ya Bang.

    atau bang Ade malah udah langganan Astro TV Ya he he he…

    Bang kalo ada info tentang TV berlangganan spt Sejarah perkembangan LPB di Indonesia, Pesaingannya, boleh minta ga Bang buat thesis niy..

    Bang Ade, makasih yach..
    Salam Kangen !!

    DESI UTAMI

  2. atmo4th Says:

    Negara kita memang sudah terbiasa nonton gratisan, jadi begitu masuk sistem pay-tv, kita lum biasa..

  3. fadli Says:

    kok liga inggris gak dapat di saluran tv digital?!

  4. Kusnoyono Says:

    Wah ini sih blog berat sebelah, hanya berusaha menutupi kepentingan Indovision bertameng ‘kepentingan publik’. Saya mau tanya itu RCTI, Global etc nggak boleh disiarin Astro gimana tuh? karena satu grup sama Indovision? padahal peraturan mengatakan FTA channel dibolehkan disiarkan oleh Pay TV Operator. Terus itu siaran Bulu Tangkis cuma ada di Indovision, nggak ada di TV lain gimana tuh?

    Koq menteri diam diam aja, nggak ada duit nya ya? saya rasa masyarakat di Indonesia nggak sebodoh yg anda pikir Bung. Salam buat Pak Hari Tan

  5. lovestrengthbeauty Says:

    Bang, check out secarabolaitu.wordpress.com buat tahu latar belakang kapitalisme global dari semua kisruh EPL ini…

  6. ALFA OMEGA Says:

    MELAYANI PEMASANGAN ASTRO, stok barang walau terbatas namun kini ready done, melayani pemasangan even today request / installation, aktifasinya pualing lamaaaaaaa 1 hari sejak terpasang. Hubungi segera (keburu barang dan tanggal promosi 12 sept habis) ke no esia berikut : 99650608. RIVEL.

  7. bayoe Says:

    Sebaiknya pemerintah ngurusin dan beresin masalah mahalnya minyak goreng, langkanya minyak tanah dan semua yang menyangkut hajat orang banyak. Beresin urusan itu dulu baru …

  8. deedee Says:

    mari kawan-kawan sebangsa dan setanah air indonesia seluruh masayarakat baik kaya maupun miskin jangan ada yang mau berlanggana astro, bagi yang sudah berlangganan wahai si kaya mohon dihentikan, itu semua biar astro tidak mempunyai langganan di negeri kita tercinta in, selanjutnya astro biar bangkrut dan hengkang dari negeri kita indonesia. mari boikot astro berramai ramai .
    seditit kita rinci kalau 1 keluarga berlangganan astro Rp.200.000 per bulan, misalnya astro bisa mendapat 5 juta pelnggan untuk seluru indonesia, berarti astro mendapat Rp. 5.000.000.000.000,- ( 5 triliun bro) enak banget hak siar yang bayar pelanggan, kalo begitu mari saudara-saudara setanah air, kita seluruh masyarakat indonesia jangan ada yang mau berlangganan astro (perusahaan asing dari bangsa anjing), biar astro bangkrut biar hengkang dari bumi kita tercinta ini.
    diminta dukungan dari pemerintah untuk persoalan ini (memboikot astro) agar rakyat indonesia terutama yang gemar olahraga sepakbola khususnya EPL dapat terlaksana. AMIN

  9. ady helmy nando (palembang) Says:

    asslm bang ade,
    apa kbr, ?
    bang, sulit banget menghubungi abang, saya yakin abang pasti semakin ok aja.
    ngomongiin kebijakan di indonesia ga bakal habis- habisnya bang, indonesia itu ibarat jaman masedonia, firaun, nazy, yang selalu bermain main bahkan dipermainan oleh anjing anjing yng bertopeng dan berdasi. pemerintah kita itu selalu takut dan tunduk mau dengan dollar apalagi DOLI(surabaya). hehehe
    sampai kapan pun kita selalu akan menjadi kudanya orang – orang asing, dicambuk, dimarahi, bahkan diludahi,
    dari presiden nya laki – laki, perempuan, dan laki – laki lagi ga ada yang mampu dan berani apalagi mau tegas terhadap bangsa ini. atau… mungkin negara kita ini bang akan perkasa kalo dipimpin oleh seorang “WARIA”.
    udah dulu ya bang curat ady , saya ga terlalu keras kok dengan pemerintah, tapi bang PEMERINTAH la yang terlau keras ama rakyatnya, sampe semuanya rakyat MISKIN & LAPAR.
    hehehhehe.
    bang. ani skr udah hamil 8 bln bang……(info)hehheee
    wassalam…………..
    ady

  10. Nikki Says:

    Salam kenal, mohon informasi dong buat temen2…Saya Mahasiswa Unisba yang lg ngerjain tesis “Strategi Komunikasi pengelola MU Fans club dalam mengatasi persoalaan pasca penayangan Liga Inggris di Tv berlangganan Astro”. Buat temen2 yg tau ttg MU Fans Club di Bdg sms ke Hp saya dong, 08122045761…
    Makasih bgt buat semuanya…Ditunggu ya sms atau infonya
    Bs kirim emai jg di : nikki_sonik@yahoo.com

  11. Istanamurah Says:

    ditunggu update selanjutnya gan!! seru mah kalo ngomongin bola!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: