Pelajaran dari Da Vinci’s Code

Ketika film Da Vinci’s Code diputar di bioskop-bioskop Indonesi Ketika film Da Vinci’s Code diputar di bioskop-bioskop Indonesia, sesuatu yang unik terjadi. Dalam beberapa adegan, tidak ada teks berbahasa Indonesia yang mengiringi dialog yang diucapkan dalam bahasa Inggris di layar lebar. Itu berlangsung cukup lama, dalam adegan-adegan yang sebenarnya sangat menentukan pemahaman penonton tentang misteri yang sedang berusaha dikuak tokoh utama film tersebut. Buat mereka yang tidak membaca buku aslinya dan tidak mengerti bahasa Inggris tentu bingung dengan apa yang sedang berlangsung.

Yang terjadi sebenarnya adalah sebuah sensor gaya baru dari Lembaga Sensor Film. Film Da Vinci’s Code adalah sebuah film yang mengandung muatan kontroversial. Karena popularitas bukunya, filmnya pun dengan segera menarik perhatian publik. Di Indonesia, pembaca buku Dan Brown tersebut juga tidak sedikit. Sehingga ketika filmnya hendak diedarkan di Indonesia, sebuah pertanyaan besar mengemuka: bolehkah dia ditayangkan di sini?

Masalahnya, Da Vinci’s Code adalah bukan sekadar cerita fiksi tentang misteri pembunuhan, melainkan juga mengandung muatan yang menggugat keyakinan Kristen. Salah satu hal terpenting adalah muatan yang menggugat keyakinan mengenai Yesus sebagai Anak Tuhan. Novel itu juga menggambarkan Yesus sebagai pria yang telah menikah dan memiliki keturunan dengan Maria Magdalena. Tak kalah penting, Brown memaparkan Gereja Katolik sebagai institusi korup yang membelokkan sejarah sehingga umat Kristen selama berbad-abad telah terkecoh dari sejarah asli kehidupan Yesus tersebut.

LSF ternyata memutuskan untuk mengizinkan peredaran film tersebut, mungkin juga karena alasan, toh bukunya pun sudah beredar luas. Namun, dalam rangka tetap menghormati keyakinan umat Kristen, LSF dengan sengaja tidak menterjemahkan bagian-bagian dialog terpenting yang kontroversial tersebut. Gambarnya ada, dialog bahasa Inggrisnya terdengar jelas, teks bahasa Indonesianya yang lenyap.

Apa yang terjadi dengan Da Vinci’s Code adalah sebuah pelajaran menarik buat kita semua. Pertanyaan sentralnya adalah, bagaimanakah kita sebaiknya menghadapi perdebatan mengenai sesuatu yang menggugat keyakinan keagamaan? LSF mengambil keputusan yang, menurut saya, bijak: menunjukkan bahwa negara (diwakili) LSF tidak akan mengintervensi perdebatan itu, menunjukkan sikap yang netral, memberi kesan bahwa mereka sadar bahwa memang ada yang kontroversial di situ (dengan tidak menyertakan teks), dan membiarkan mereka yang cukup dewasa dan cukup paham untuk mempelajarinya sendiri.

Apa yang dilakukan LSF ini memiliki makna penting mengingat kita sekarang ini hidup dalam masa di mana gagasan tentang kebebasan arus informasi menjadi kata kunci. Arus informasi berjalan begitu deras, dengan negara-negara yang mempercayai prinsip kemerdekaan berekspresi menjadi pihak pengendali utama arah arus tersebut. Dalam kondisi semacam itu, tak terhindarkan bahwa masyarakat di berbagai belahan dunia harus terbiasa dengan gagasan-gagasan yang sangat mungkin bertentangan dengan apa yang mereka yakini.

Dalam kasus Da Vinci’s Code ini, yang tak kalah penting adalah sikap umat Kristen. Memang ada informasi bahwa sejumlah organisasi Kristen sempat meminta agar pemerintah melarang peredaran film Da Vinci’s Code di Indonesia, tapi ketika toh film itu tetap diedarkan, tidak ada protes berdatangan.

Itu pula yang terjadi ketika pasca Da Vinci’s, toko-toko buku di Indonesia diserbu oleh beragam judul buku yang mempersoalkan kembali kebenaran ajaran dasar Kristen Ada publikasi Injil Judas, Injil Thomas, Injil Maria Magdalena – yang semuanya tidak diakui oleh arus utama Kristen. Ada buku mengenai ditemukannya makam Jesus yang, pada derajat tertentu, sejalan dengan pesan provokatif Dan Brown: bahwa Yesus adalah manusia biasa, beristri, berketurunan.

Terhadap segenap karya kontoversial itu, umat Kristen Indonesia terlihat – kendati pasti tersinggung – menerima dengan dewasa. Sebagian pihak barangkali akan dengan sinis menyatakan bahwa sikap kaum Kristen itu terpaksa dilakukan karena mereka adalah kaum minoritas. Tapi pandangan ini tak bisa diterima mengingat di berbagai belahan dunia lain pun, di mana umat Kristen menempati posisi mayoritas, buku dan film itu pun dibiarkan beredar.

Karena itu barangkali penjelasannya lebih terletak pada keterbukaan untuk menerima keragaman pikiran yang dipelajari umat Kristen dalam proses yang memakan waktu berabad. Sikap menolak kehadiran perbedaan menjadi sesuatu yang usang karena peradaban Kristen sudah mengalami sendiri harga mahal yang harus dibayar tatkala ada kalangan tertentu dalam masyarakat – lazimnya para pemuka agama — diberi kewenangan absolut untuk menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh disiarkan dalam hal penafsiran keagamaan.

Peradaban Kristen belajar bahwa dalam masa abad kegelapan sebelum Renaisans, para petinggi agama telah menyalahgunakan kewenangan absolut tersebut bahkan untuk kepentingan sempit mereka sendiri. Sampai abad 17, misalnya, geraja masih memiliki otoritas untuk memaksa ilmuwan termashur Galileo Galilei untuk tidak menyebarluaskan teorinya bahwa adalah bumi yang mengelilingi matahari. Masalahnya, pada saat itu, Gereja sangat percaya bahwa yang benar adalah sebaliknya: Tuhan menciptakan bumi sebagai pusat alam semesta, dan matahari mengelilingi bumi. Galileo harus mencabut teorinya itu secara terbuka di Pengadilan Agama di Roma, dan dipaksa untuk hidup dalam pengasingan. Baru setelah ia meninggal, teori Galileo dikembangkan lagi oleh penerusnya.

Jadi, umat manusia belajar bahwa kalau saja kebebasan untuk menyebarkan penafsiran keagamaan ini tidak dilindungi, sangat mungkin umat manusia justru tidak memperoleh kebanaran yang seharusnya diketahuinya. Ambillah contoh soal ’temuan baru’ bahwa Yesus sebenarnya beristri dan memiliki anak-anak. Umat Kristen bisa saja memilh untuk melarang penyebaran ’temuan’ tersebut dengan tuduhan bahwa itu menghina Kristen dan menghina Tuhan. Tapi mereka tidak melakukanya karena sejumlah argumen.

Pertama, kalau ajaran bahwa Yesus melajang itulah yang benar, dengan sendirinya – tanpa perlu dipaksa dengan ancaman — akan terkuak bukti-bukti ilmiah yang menunjukan bahwa teori Yesus beristri sebenarnya salah. Sebuah teori akan terus menerus diperiksa kembali, sehingga akan ada sebuah proses yang dengan sendirinya membuktikan kesalahan-kesalahan sebuah teori yang lemah. Dipercaya pula bahwa Tuhan akan ’turut campur’ menunjukkan kesalahan sebuah teori mengenaiNya.

Kedua, kalaupun teori Yesus beristri itu salah, dia tetap bermanfaat untuk didengar dan diuji ustru untuk memperkuat keyakinan umat Kristen tentang kebenaran keyakinan mereka selama ini. Dengan kata lain, sebuah keyakinan yang tidak pernah menghadapi tantangan akan jauh lebih rentan dibandingkan sebuah keyakinan yang terus menerus diuji oleh cara berpikir lain.

Ketiga, selalu ada kemungkinan bahwa teori baru itu benar atau setidaknya mengandung sebagian kebenaran. Kita sadar bahwa manusia tidak boleh secara arogan menyangka menemukan kebenaran abosulut, karena Yang Maha Tahu hanyalah Allah semata. Dalam kaitan itu, apa yang kita yakini bisa saja terus menerus mengalami koreksi tanpa kita kemudian kehilangan kepercayaan terhadap apa yang selama ini kita yakini.

Apa yang dihadapi umat Kristen itu tentu juga dihadapi umat Islam. Buku atau film atau karya tulis yang menggugat atau bahkan melecehkan keyakinan umat Islam akan terus ada dan mungkin akan tersedia dalam jumlah yang semakin melimpah. Tapi barangkali yang paling tidak diperlukan adalah reaksi yang diwujudkan dalam bentuk kekerasan atau menutup pintu rapat-rapat untuk membicarakan gugatan tersebut.

Sejarah menunjukkan harga mahal yang harus dibayar ketika manusia menutup rapat kebebasan berpikir. Umat Kristen sudah memahaminya. Umat Islam agaknya perlu berada di jalur yang sama.

4 Tanggapan to “Pelajaran dari Da Vinci’s Code”

  1. threebooksandamovie Says:

    Excellent writing.

  2. muhammad subhan Says:

    (meski bacanya terlambat)…jempol empat buat sampeyan.mas..demikianlah seharusnya seorang muslim sejati bersikap..ada seribu orang diindonesia ini yang pemahaman keagamaannya seperti sampeyan..habib riziq ndak berani keluar rumah karena malu.

  3. yanto Says:

    wow.. saya terharu, inilah sebagian kecil unek-unek saya yang tertuang dan terwakili tulisan itu, saya secara pribadi sangat risau dengan berbagai macam model pembelaan yang cenderung frontal dilakukan saudara-saudara kita umat muslim terhadap segala hal yang dianggap tidak tepat sama persis yang yang terutang dalam quran, tulisan ini cukup menyejukkan hati saya, hati kecil saya sering bertanya apakah Allah itu benar-benar tidak berdaya mengawasi firmannya sehingga diperlukan bantuan pembelaan dari ciptaanNya?????

  4. momon Says:

    Salam damai untuk Bung Ade…
    Mungkin anda justru sudah lupa pada tulisan anda yang sangat bagus itu. Saya malah baru tahu ada film Da Vinci Code ketika saya berlangganan TV kabel dan melihat film itu 3 kali (yang terakhir dengan ancaman pada istri “jangan ganggu sampai film ini habis!”) hehe..
    Saya tidak bisa membayangkan seandainya “temuan” yang relatif “aneh” itu terjadi (dan difilmkan) di kalangan Islam. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan di dalam tubuh manusia terdapat otak dengan kemampuan berpikir yang notabene adalah juga anugerah Allah. Jadi kalau ada hasil pemikiran baru dari manusia/orang yang relatif berbeda dengan pemikiran terdahulu, hendaknya jangan ditanggapi dengan cara terlalu frontal bahkan brutal. Semoga saudara-saudara kita banyak belajar dan menyadari bahwa setiap isi kepala manusia punya potensi yang berbeda.
    Alhamdulillah, saya dapat teman se-pemikiran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: