Buku dengan Hadiah BMW

 (Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 30 Maret 2008)

Buku kecil itu memang provokatif. Judulnya, “Mustahil Kristen Bisa Menjawab”. Di bagian atas sampul depan, tertera pengumuman: “Berhadiah Mobil BMW”.

Buku ini terdiri dari sebelas bab  dengan sebelas pertanyan mengenai Kristen. Si penulis nampaknya sangat yakin bahwa tidak ada satupun orang yang bisa menjawab rangkaian pertanyaan itu. Ia kemudian mengimingi uang Rp. 10 juta bagi satu pertanyaan yang dapat dijawab. Bahkan untuk pertanyaan tentang Kebangkitan Yesus, penulis menyediakan hadiah BMW.

 

Bercanda? Kelihatannya tidak. Di halaman terakhir buku, tertera nomor telepon dan handphone yang bisa dihubungi kalau memang ada yang tertarik untuk menanggapi tawarannya.

 

Saya membelinya di sebuah toko buku besar di Jakarta. Ia berdampingan dengan banyak buku agama dengan beragam tema. Di antara kerumunan itulah terlihat sejumlah buku yang bicara tentang hal-hal sensitif dalam keagamaan. Buku kecil ini, seperti bisa ditebak, berisikan materi yang berusaha membongkar kekeliruan doktrin-doktrin Kristen.

 

Ringkasan sederhananya ada di sampul belakang, berbunyi: ”Banyak sekali dogma Kristen tidak berdasar pada kitab sucinya. Kristen menciptakan ayat-ayat palsu untuk menopang dogma tersebut, dunia tidak bisa dibohongi lagi. Di antara dogma dusta itu: Kebangkitan Yesus, Perayaan Natal, halalnya babi, dll.”

 

Bahwa buku semacam itu tersedia secara terbuka dengan harga yang murah mungkin bisa dipandang sebagai perkembangan positif dilihat dari perspektif kekebasan berpikir dan berbicara. Dalam perspektif ini, ada kepercayaan bahwa sebuah ruang yang memungkinkan orang bertukar pikiran dan saling mendebat secara merdeka adalah selalu lebih baik daripada ruang tertutup yang mengharamkan perbedaan.

 

Jadi, orang Kristen mungkin sekali tersinggung dengan gugatan-gugatan si penulis, tapi mereka tak perlu dan tak boleh marah dan melakukan langkah-langkah pemberangusan buku  – apalagi dengan kekerasan — karena yang diperlukan adalah jawaban balik. Bila diskusi di ruang publik bisa berlangsung secara terbuka, yang akan tercerahkan adalah masyarakat luas.   Dalam konteks itu, dipercaya bahwa kalau kritik-kritik tersebut tak berdasar, kebohongannya akan dengan sendirinya terungkap dalam sebuah diskusi yang bebas. Masyarakat akan secara rasional menilai argumen mana yang lebih benar. Jadi alih-alih merugikan, buku-buku semacam itu justru bisa memperkuat keyakinan umat Kristen dan mungkin sekali membuka mata banyak orang tentang ketidakbenaran kritik-kritik tersebut.  

 

Sejauh ini nampaknya pendekatan ini yang diambil oleh umat Kristen di Indonesia. Lihatlah sekarang bagaimana toko-toko buku di Indonesia diserbu oleh beragam judul buku yang mempersoalkan kembali kebenaran ajaran dasar Kristen. Yang paling populer tentu saja Da Vinci Code. Meski berbentuk novel, buku ini mengajak pembaca membantah doktrin Kristen yang dipercaya selama ini tentang Yesus sebagai anak Tuhan, kematian Yesus, dan bahkan keselibatan Yesus.

 

Seusai Da Vinci, ada  pula buku tentang makam Yesus yang kurang lebih sejalan dengan novel Dan Brown itu. Ada pula publikasi Injil Judas, Injil Thomas, Injil Maria Magdalena – yang semuanya tidak diakui oleh arus utama Kristen. Ada juga buku tentang korupsi Gereja Vatikan, petualangan seks para pendeta, rahasia bisnis gereja, kristenisasi berkedok kemanusiaan, bahaya kristenisasi, dan seterusnya.

 

Berkaitan dengan itu semua, kita tidak melihat adanya kemarahan umat Kristen yang mengemuka. Sebagian orang mungkin akan menganggap bahwa tentu saja umat   Kristen tidak akan ”berani” memprotes karena beban psikologis kaum minoritas. Tapi saya duga,  diamnya umat Kristen punya landasan lebih mendasar.

 

Peradaban Kristen sudah belajar dari sejarah masa lalunya yang kelam sebelum masa pencerahan. Ketika itu, kita semua tahu, betapa petinggi agama berhak menentukan kebenaran secara absolut. Efeknya, Barat terpuruk dan agama menjadi sesuatu yang justru melahirkan penderitaan. Baru setelah katup kemerdekaan berpikir dicabut, kemajuan dicapai dan agama menemukan esensinya kembali.

 

Jadi, Kristen memang telah mengakui bahwa menghambat kebebasan berpikir adalah salah. Tak kurang dari Paus sendiri pada 1994 telah menyatakan permintaan maaf Gereja Katolik karena pernah melarang Galileo Galilei menyebarkan karyanya soal matahari sebagai pusat semesta pada 1642 – karya yang pada masanya dianggap sebagai bertentangan dengan Injil.

 

Dan lebih penting lagi, tak ada bukti bahwa segenap kemerdekaan itu menghancurkan Kristen. Jumlah pemeluk Kristen jauh melampaui pemeluk agama-agama lain di dunia. Memang Barat semakin sekuler, tapi ajaran Kristen tetap bertahan kokoh.

 

Kalau begitu, buku berhadiah BMW yang disebut di awal tulisan ini sebaiknya disyukuri. Tapi, nanti dulu . .  ada sesuatu yang hilang di sini. Bukankah di negara ini yang mayoritas adalah umat Islam? Karena itu, kalau kebebasan berpikir itu hanya berlaku di kalangan Kristen, manfaatnya masih akan terbatas. Dengan kata lain, tidakkah kalau kita mengizinkan buku-buku yang bertentangan dengan keyakinan Kristen, membiarkan buku-buku yang menggugat keyakinan Islam justru lebih penting lagi?

 

Indonesia bisa jadi memang lebih maju daripada negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura. Buku-buku kritis yang ditulis para penulis seperti Fazlur Rahman, Hamid Nasr Abu Zayd, Fatima Mernissi, Amina Wadud dan sebagainya dengan mudah diperoleh. Belum lagi penulis-penulis Islam liberal domestik. Buku-buku ini secara tajam menggugat penafsiran-penafsiran baku para ulama, kerap dengan cara yang provokatif. Ini tidak dinikmati sesama muslim di negara-negara tetangga.

 

Tetapi dengan adanya gelombang fatwa sesat yang dikenakan terhadap pemikiran-pemikiran yang bergerak keluar dari arus utama beberapa tahun terakhir ini, bukan tidak mungkin tak lama lagi kita akan mendengar keluarnya fatwa pengharaman atas sejumlah buku tentang Islam di negara ini. Kemerdekaan menulis dan menterjemahkan yang dinikmati  di Indonesia saat ini bisa jadi adalah buah dari kebijakan Orde Baru yang memang cenderung memerangi fundamentalisme agama. Ini belum tentu bertahan dengan sendirinya.

 

Selain itu, buku-buku kritis yang ada itu umumnya adalah semacam kritik ke dalam yang dilakukan oleh ilmuwan muslim sendiri. Bila kita merujuk pada buku kecil provokatif tadi, yang pantas dijadikan perbandingan adalah buku-buku yang ditulis oleh kaum non-muslim yang menggugat Islam. Persediaannya banyak. Sejak tragedi WTC 2001, banyak sekali buku karya penulis Barat yang bicara soal Islam. Sebagian dengan nada simpatik – seperti yang ditulis Karen Armstrong dan John Esposito – tapi banyak juga yang sangat negatif. Buku-buku semacam itu mungkin tidak menyenangkan kaum Muslim, tapi harus diakui keberadaannya.

 

Dengan tulisan ini, saya bukan sedang mempromosikan ide menterjemahkan buku-buku anti Islam. Itu sama sekali bukan pokok pikirannya. Yang penting adalah kesediaan kita untuk secara teguh mendukung gagasan kebebasan berpikir, bersoal jawab dan berkarya.

 

Terbit dan beredarnya buku provokatif soal Kristen tadi mungkin sekali terjadi karena diskriminasi antar kaum mayoritas dan minoritas. Tapi kondisi itu fungsional bagi kita untuk menjustifikasi penerimaan prinsip kebebasan berkarya.   

 

 Dengan begitu kita bisa bilang bahwa bila ada yang menterjemahkan buku-buku seperti Why I am Not a Moslem (karya Ibn Warraq) mudah-mudahan umat Islam tidak buru-buru marah. Kalau kita membiarkan itu dilakukan pada keyakinan Kristen, mustinya kita membiarkan itu dilakukan pada Islam. Dan, seperti yang saya katakan tadi, kalau itu dibiarkan terjadi, mudah-mudahan yang mereguk manfaat adalah masyarakat secara keseluruhan.

 

 

Ditulis dalam Mass Media. 3 Comments »

3 Tanggapan to “Buku dengan Hadiah BMW”

  1. harry Says:

    Halo pak, saya pribadi cenderung pro kepada freedom of speech. Itu adalah hal yang sangat penting untuk kesuksesan masyarakat dalam perkembangannya.
    .
    Di lain sisi, ada hal-hal yang juga tidak diperlukan / perlu diatur. Seperti, hate speech, SARA, dll.
    .
    Mengenai para Islamophobic, seperti Waraqah dkk, saya sih tidak masalah jika mereka mau berdiskusi dengan jujur. Masalahnya; mereka sangat aktif melakukan pengecohan massal / modus-modus tidak terpuji lainnya, demi mencapai tujuan mereka.
    .
    Salah satu contohnya bisa dibaca disini.
    .
    Kalau cuma mau main pelintir fakta / half-truths / facts without context / cherry-picking facts / plain lie – saya tidak tertarik pak. Yang model beginian ke laut saja. Membosankan dan/atau malah bisa menyesatkan banyak orang.
    .
    Thanks.

  2. filar abdullah Says:

    keterbukaan dan kebesaran jiwa semoga menuntun kita kejalan yang lurus!
    buang jauh kebencian itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: