Pornografi: Pemilik Media adalah Germo, Model adalah Pelacur

(Dimuat di Majalah Pantau, akhir 1999, mungkin edisi Oktober/November)

Pornografi adalah sesuatu yang membuat saya malu menjadi pria. 

Menyaksikan pria menikmati pornografi, saya menjadi teringat pada pengalaman memalukan saya sekitar delapan tahun lalu. Ketika itu menjelang pulang dari studi satu setengah tahun, saya diajak sejumlah teman menyusuri daerah selatan Amerika. Di Miami, mereka menggiring saya ikut sebuah klab berisikan tarian striptis. Kesalahan saya, mengiyakan ajakan itu.

 

Suasananya sangat pengap dan hingar bingar akibat suara musik yang diputar kelewat keras. Di atas panggung hadir sekaligus sejumlah penari wanita hampir sepenuhnya telanjang dengan jarak sangat dekat dengan para penonton yang sepenuhnya pria. Saya sama sekali tak bisa menikmatinya, mungkin karena merasa bersalah dan merasa tak sepantasnya berada di sana. Namun saya tetap bisa memperhatikan wajah para penari itu, dan saya yakin mereka sama sekali tak bahagia dengan segenap siutan, sorakan, tepuk tangan dan jawilan para penonton. Mungkin saya subjektif, tapi saya percaya, kalaulah ada senyum dan ketawa, itu bukan ketawa dan senyum tanda kebanggaan.

 

Tak lama berada di dalam, saya  memutuskan untuk keluar dan memilih melamun di tempat parkir. Saat itulah, seorang penari keluar, selesai menunaikan tugas. Kini ia sudah berpakaian lengkap, namun wajahnya sendu dan kusam. Dia mungkin sempat melihat saya duduk diam tanpa ekspresi sepanjang pertunjukan. Karena melihat saya duduk sendirian seperti itu, dengan agak sinis dia berkata: ‘’Kenapa, bung? Kamu tidak bisa menerimanya? Kalau kamu kasihan, pulang saja, kamu tidak usah berada di sini! Itu hidup kami!’’

 

Pornografi adalah semacam itu. Para artis adalah para penari, pembeli (mayoritas pria) adalah penonton, pengelola media adalah pemilik klab atau mucikari. Yang dijual adalah seks. Dan hubungan yang terjadi adalah eksploitatif, dengan sang artis atau model berada pada posisi yang paling tertindas. Penghasilan mereka umumnya tak seberapa, sementara keuntungan terbesar direguk pemilik majalah, tabloid, produser film, dan semacamnya. Sang artis atau model pun harus merelakan apa yang sebenarnya sepenuhnya mereka miliki – tubuh, kehormatan, harga diri – untuk dieksploitasi dan didegradasikan.

 

Dalam hal ini,  bisa dimengerti bahwa akar kata pornografi adalah ‘porne’ yang berarti pelacur, dan ‘graphos’ yang berarti menulis. Arti semula kata itu – tulisan mengenai pelacur – kemudian berkembang menjadi segenap materi media yang secara spesifik dirancang untuk membangkitkan hasrat seksual. Dalam proses metamorfosis tersebut, terkandung gagasan bahwa ada kesamaan antara pelacuran dan media tersebut: jualan utama yang ditawarkan adalah seks.

 

Bila itu yang dijadikan rujukan, kita barangkali memang tak perlu terlampau sempit mengartikan pornografi sebagai hanya ‘materi yang menggambarkan  hubungan seks secara eksplisit dan melampaui batas-batas kewajaran’, sebagaimana yang kini lazim digunakan dalam pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat saat menghadapi perkara media cabul. Definisi semacam itu lahir dari perkembangan masyarakat yang mengalami revolusi seks dalam beberapa dekade terakhir, sehingga hanya eksploitasi seks dalam bentuk ekstrem yang akhirnya ditempatkan sebagai pornografi.

 

Model Amerika bukanlah model tunggal. Indonesia, misalnya, bisa lebih setia pada makna asli pornografi, yakni  materi yang dengan sengaja dirancang untuk membangkitkan hasrat seksual. Dan dalam hal ini kita bisa memasukkan beragam bentuk eksploitasi materi seksual di berbagai media sebagai pornografi, yang terentang dari penampilan gambar wanita berpakaian sangat minim, seksi mengesankan telanjang, dan bahkan telanjang baik di sampul depan ataupun bagian dalam media cetak; sampai artikel yang secara eksplisit menggambarkan proses hubungan seks, dalam beragam kemasan (kisah nyata, pengalaman pembaca, dan sebagainya); sampai video klip musik dengan para artis bergaya sensual dan/atau berpakaian minim; sampai poster-poster film yang mengeksploitasi adegan seks; sampai VCD ‘semi biru’ dan ‘biru’.

 

Tentu saja, kita bisa bicara tentang keragaman kadar pornografis masing-masing produk media itu. Namun mereka sama-sama bagian dari keluarga besar pornografi. Bahkan, bisa dihipotesakan, faktor penyebab utama mengapa banyak pengelola media cetak di negara ini tidak menyajikan gambar telanjang dalam publikasi mereka, adalah adanya aturan hukum dan tekanan masyarakat yang mengancam. Dengan kata lain, tentu saja kadar pornografis media di Indonesia tidak sebanding dengan rekanannya di AS atau bahkan negara-negara Skandinavia (yang peraturan perundangannya mengenai pornografi sangat longgar), karena kadar tekanan yang harus dihadapi media Indonesia jauh lebih besar. Namun, tetap, itu adalah pornografi. Gambar-gambar itu, foto-foto itu, cerita-cerita itu, poster-poster itu, klip-klip itu, dirancang untuk membangkitkan hasrat seksual.

 

Para penikmat segenap eksploitasi seks melalui beragam media tersebut berposisi persis seperti para pria yang memenuhi klab striptis di Miami tadi. Ketika pria membeli majalah yang isi dan halaman mukanya dipenuhi dengan gambar-gambar wanita seksi berpakaian sangat minim, atau cerita-cerita tentang petualangan seks, mereka pada dasarnya tidak sedang berusaha menikmati karya seni. Mereka menikmatinya karena gairah seksual mereka terbangkit.

 

Ketika pria menyaksikan Ayu Azhari atau  Jennifer Lopez berlenggak-lenggok di layar televisi, mereka sebenarnya sedang menyuapi imajinasi seksual mereka. Ketika mereka menyaksikan Sharon Stone menyilangkan kaki di hadapan para polisi dalam adegan fenomenal Basic Instict, mereka bukan sedang mengagumi akting sang aktris. Mereka terangsang, mereka menyenanginya, dan karena itu mereka akan mati-matian memperjuangkan ketersediaan pasokan pornografi di pasar bebas.

 

Tentu saja selalu ada argumen bahwa keterlibatan dalam pornografi adalah pilihan independen para artis yang harus diakui sebagai hak asasi mereka sepenuhnya, sebagaimana menjadi penikmat pornografi adalah hak asasi yang juga harus dihormati. Namun, argumen semacam itu mengabaikan sebuah kenyataan lain yang lebih mendasar: pornografi adalah industri yang eksploitatif, karena hakekat bisnis itu sendiri memang eksploitatif terhadap perempuan.

 

Pornografi adalah sesuatu yang diciptakan untuk pria dalam dunia yang didominasi pria. Di dalamnya, wanita tidak punya arti apa-apa. Mereka adalah objek seks yang tujuan utamanya adalah merangsang hasrat seksual pria. Secara teoretis, yang menjadi objek seks tentu bisa juga pria. Namun pengalaman di berbagai belahan dunia menunjukkan industri pornografi yang menggunakan pria sebagai model tak pernah tumbuh secara signifikan. Yang tumbuh, dan meledak, adalah pornografi dengan model wanita.

 

Perempuan tampil di sana sebagai seonggok daging, bukan sebagai mahluk berpikir yang memiliki kepribadian, martabat, kecakapan, dan kendali atas dirinya. Sebagaimana industri pelacuran, yang menjadi korban eksploitasi pertama-tama adalah perempuan di dalamnya. Di dunia kerja, seringkali dikatakan bahwa wanita hanya bisa hadir ke permukaan bila ia bisa bekerja dua kali lipat dari kualitas kerja pria. Selama prestasi kerjanya sama saja, wanita hanya akan menjadi pekerja kelas dunia. Dalam industri media yang sarat dengan nafas pornografi, wanita hanya bisa hadir ke permukaan bila ia berani tampil ‘berani’.

 

Mereka yang bekerja di media Indonesia, tak akan asing dengan cerita-cerita tentang banyak wanita harus rela diperlakukan apa saja demi kemulusan kariernya. Majalah Matra edisi Juli 1999, meski dengan agak malu-malu, menggambarkan kasus-kasus di mana sejumlah aktris yang dikenal saat ini, dalam awal perjalanan kariernya kerap harus bersedia melepaskan seganap busana  di hadapan fotografer. Sudah menjadi rahasia umum pula di kalangan wartawan hiburan betapa banyak petinggi industri hiburan di Indonesia yang sering memanfaatkan otoritasnya untuk memperoleh pelayanan seksual dari artis-artis yang karier

 

Salah satu buku provokatif, Model: The Ugly Business of Beautiful Women, karya Michael Gross (1995), misalnya, menunjukkan betapa busuk sebenarnya industri model internasional. Yang harus dilihat, kata Gross, bukanlah wanita-wanita cantik sekaligus kaya seperti Cindy Crawford, Claudia Schiffer, Christy Turlington, dan sebagainya. Mereka hidup di atas awan,  bisa menentukan jalan hidupnya, dan mengatakan ‘tidak’ apa yang mereka tidak suka. Tapi, kata  Gross lagi, sebagian besar model berdesak-desakkan di lantai dasar piramid, dan mereka harus melakukan apapun untuk bisa memperbaiki taraf karier – termasuk menjual seks.

 

Hal serupa bisa diterapkan pada pornografi. Yang dilihat janganlah artis-artis besar yang muncul di setiap halaman depan media cetak, yang menjadi model berbagai iklan, dan diperebutkan produser sinetron. Eksploitasi sesungguhnya berlangsung di bawah, saat calon-calon artis  masih dalam tahap merangkak. Dan karena pornografi pada dasarnya menjual seks, sangat logis bila yang dieksploitasi dari para calon artis itu adalah seks.

 

Namun bahkan persoalan pornografi tak berhenti pada nasib artis dan calon artis. Yang menjadi soal jauh lebih besar adalah bagaimana realitas yang ditampilkan melalui media itu dijelmakan ke dalam dunia sesungguhnya. Pornografi, dalam hal ini, membangun atau mengukuhkan imej tentang wanita sebagai objek seks, yang pada gilirannya berimplikasi pada cara masyarakat pria memperlakukan wanita dalam kehidupan sehari-hari.

 

Gagasan inti pornografi adalah ‘wanita pada dasarnya pelacur’, dan kegunaan wanita di dunia ini adalah untuk memuaskan hasrat seksual pria. Dengan nilai serendah itu, wanita jadinya harus rela diperlakukan sebagai barang yang tak perlu dihormati dan dikasihani. Karena itu, perkosaan merupakan elemen lazim dalam karya-karya pornografis.

 

Perkosaan, yang sebenarnya merupakan pengalaman yang menghina martabat kemanusiaan, digambarkan dalam pornografi sebagai kegiatan seksual yang membawa kenikmatan luar biasa, kadang bahkan oleh korban sendiri. Pornografi menjadikan perkosaan sebegai sesuatu yang sebenarnya diinginkan wanita. Logikanya, ‘bila wanita memang bersedia tampil sebagai objek seks, mengapa pula mereka harus meraung-raung ketika pria melakukan hubungan seks (meski dengan paksa) dengan mereka?’ Melalui pornografi, kepekaan akan penderitaan wanita dihilangkan.

 

Dan ketika itu terus menerus dipompakan ke benak kaum pria, eksploitasi itu semakin tampak menjadi biasa dan terjadi eskalasi tuntutan terhadapnya. Pornografi anak (kid pornography) adalah salah satu contoh. Sebagaimana ditulis Tim Tate dalam Pornography: Women Violence and Civil Liberties (1992), pornografi anak – yakni yang menggunakan anak di bawah umur sebagai model – berkembang pesat pada awalnya di Denmark.

 

Kenapa Denmark? Karena negara Skandinavia itu pada 1969 menghilangkan segenap bentuk aturan yang mengekang pornografi. Segera sesudah liberalisasi itu diterapkan, industri pornografi meledak, dan segera diikuti pertumbuhan pornografi anak. Itu menunjukkan betapa ketika masyarakat terbiasa dengan pornografi, yang terjadi bukan kejenuhan, melainkan kebutuhan untuk memperoleh pornografi yang menawarkan nilai lebih – lebih eksplisit, lebih muda, lebih kejam, lebih realistis. Sesuatu yang sebelumnya nampak tak lazim, mengalami proses mainstreaming, pembiasaan. Itu pula yang berlaku dengan berbagai pornografi yang melibatkan elemen kekerasan, dengan bentuknya yang paling ekstrem: snuff (di mana adegan kekerasan seksual yang tampil di layar adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, termasuk pembunuhan).

 

Ponografi di media, dengan demikian, adalah sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, sebagaimana pelacuran, industri ini akan tetap bertahan karena, antara lain, memiliki nilai ekonomis sangat tinggi, banyak yang berkepentingan dengannya, banyak pria yang menikmatinya, dan banyak pihak pemegang otoritas pengetahuan menjustifikasinya.

 

Salah satu argumen yang kerap diajukan, misalnya,  adalah pornografi adalah bagian dari kebebasan pers. Dalam konteks ini, pornografi dianggap perlu diberi hak untuk hidup sebagaimana isi media lainnya, akibat diterimanya prinsip membebaskan pers dari seganap hambatan. Bila pornografi dibiarkan dikontrol atau dilarang, demikian dikilahkan, tinggal menunggu waktu sebelum media komunikasi lainnya juga dikendalikan.

 

Argumen seperti itu tentu saja mengabaikan konteks mengapa kebebasan pers dianggap sebagai pilar penting dalam demokrasi. Kebebasan pers sedemikian ngotot diperjuangkan para pembelanya atas dasar prinsip penolakan terhadap absolutisme kekuasaan. Bila pers dimandulkan dari fungsinya menyajikan informasi sebebas mungkin, penguasa bisa berlaku sewenang-wenang tanpa diketahui rakyat yang sebenarnya memegang kedaulatan tertinggi dalam negara. Dalam hal ini, pers harus dibiarkan bebas dari segenap kontrol karena fungsinya melindungi hak publik untuk tahu mengenai hal-hal yang mempengaruhi kehidupan mereka. Sedemikian besar arti penting kebebasan tersebut, sampai-sampai sejarah mencatat begitu banyak pejuang kemerdekaan pers yang harus kehilangan pekerjaan, mendekam di penjara, mengalami rangkaian teror fisik dan mental, atau bahkan merelakan nyawanya.

 

Ironis bahwa segenap perjuangan kemerdekaan pers itu kemudian dimanfaatkan untuk membela kebebasan untuk menyajikan gambar wanita (setengah) telanjang di muka umum. Cara membela pornografi semacam itu, dalam pandangan saya, adalah pengkhianatan dan penghinaan terhadap prinsip kebebasan pers. Pornografi adalah industri yang mendegradasikan wanita, yang menghina nilai-nilai kemanusiaan, dan bahkan membenarkan dan melahirkan berbagai bentuk kekerasan, secara fisik dan mental, terhadap kaum perempuan dan anak-anak. Itu sama sekali tak bisa dibela atas nama Kebebasan Pers.  

 

Ditulis dalam Pornography. 7 Comments »

7 Tanggapan to “Pornografi: Pemilik Media adalah Germo, Model adalah Pelacur”

  1. norie Says:

    brilian. pas sekali.😉

  2. saya suka porno Says:

    saya menyukai hal2 berbau pornografi karena hal itu bisa membuat saya lebih bahagaia menjalani hidup ini…so what ???

  3. adearmando Says:

    Ya nggak apa-apa mas. Toh Anda bukan yang bikin. Cuma menikmati kemudian berkhayal kan? Mudah-mudahan saja Anda tidak menerapkan contoh-contoh yang buruk pada pasangan Anda..

  4. harry Says:

    Pornografi hanya membawa kebahagiaan semu, yaitu instant gratification. Ini sudah dibahas secara cukup ekstensif di berbagai studi & jurnal.
    .
    Sedangkan instant gratification pada gilirannya cenderung merusak pada jangka panjang.
    .
    Pak Ade – terimakasih untuk artikelnya ini, sangat menambah wawasan.
    Jadi ingat saya pernah menonton sebuah acara dokumenter di C4 (channel 4) di Inggris. Disitu dibahas nasib dari para bekas pekerja seks. Menyedihkan sekali…. pepatah “habis manis sepah dibuang” betul-betul menjadi kenyataan😦
    .
    Mudah-mudahan Indonesia bisa bebas dari eksploitasi wanita seperti ini, amin.

  5. tita Says:

    Terima kasih mas Ade…atas artikelnya membuka wawasan saya. Semoga wanita Indonesia di jauhkan dari nasib di nistakan oleh Industri pornografi ini…semoga…

  6. momon Says:

    Good…ironisnya kenapa yang baerbaris paling depan Menentang UU anti pornografi dan pornoaksi kok malah perempuan yang seharusnya mendukung undang2 tersebut ya……apakah perempuan di negara kita lebih senang di lecehkan…..lebih senang di tinas dan dai tindis kali ya

  7. Saidin Ernas Says:

    Bahasan ini memberi saya perspektif yang berbeda dalam memandang kegiatan pornigrafi; sebelumnya sekedar atas nama norma agama dan budaya. Tetapi tulisan Pa Ade, justru menggugat pornografi atas nama keadilan, eksploitasi dan diskriminasi atas kaum perempuan yang terhormat. ini yang sering tidak disadari orang-orang yang menolak UU Pornografi dahulu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: