MUI, Ahmadiyah dan Islam yang Damai?

 Tulisan ini dimuat di Majalah Madina Edisi 1,Januari 2008

Sebagaimana banyak umat Islam lainnya, saya menghormati ulama. Saya percaya  ulama penting karena mereka adalah kaum cerdik-cendekia yang akan menunjukkan jalan bagi masyarakat awam seperti saya dan puluhan juta warga Indonesia lainnya. Ulama adalah kaum yang diharapkan dapat menjadi pelita yang menerangi umat Islam sehingga  ajaran-ajaran Islam benar-benar dapat menjelma sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Karena itu, saya, sebagaimana banyak umat Islam berpendidikan lainnya, tidak mengerti mengapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini menjelma menjadi sosok yang tidak pengasih dan penyayang tatkala tiba pada kasus Ahmadiyah.

Sepanjang tahun 2007 lalu, para penganut Ahmadiyah menjadi sasaran kekerasan di mana-mana: masjid mereka dibakar, dihancurkan, jiwa mereka diancam, pemukiman mereka diserang, diobrak-abrik, mereka dilarang melaksanakan shalat Iedul Adha, mereka diusir dari kediaman. Mereka yang menyerang mengggunakan fatwa MUI sebagai rujukan. Sedangkan MUI sendiri, kendati menyatakan tidak menganjurkan perusakan, malah menyalahkan kaum Ahmadiyah sebagai sumber masalah.

Sebagian pihak menuduh MUI sebagai lembaga yang paling berperan dalam gelombang aksi kekerasan. Mungkin tuduhan ini tidak berlebihan. Pada 2005 lalu, MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan bukan saja Ahmadiyah sebagai ajaran sesat tapi juga meminta pemerintah menutup organisasi tersebut. Kemudian, pada Oktober 2007, MUI mengeluarkan fatwa lebih umum tentang aliran sesat, yang juga membawa nama Ahmadiyah dalam penjelasan. Peningkatan kekerasan terhadap Ahmadiyah berlangsung sejala dengan keluarnya kedua fatwa itu.

Para petinggi MUI menyatakan bahwa gelombang kekerasan itu terjadi karena pemerintah tidak kunjung tegas menyikapi permintaan MUI. Di mata MUI, ada dua pilihan bagi pengikut Ahmadiyah: bertobat dan kembali ke Islam sesungguhnya, atau keluar dari Islam dan mendirikan agama sendiri.

Masalahnya, bagi umat Islam yang terbiasa dalam era penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia saat ini, sikap MUI itu nampak sebagai sesuatu yang datang dari abad kegelapan berabad-abad lalu. Di manakah kesalahan Ahmadiyah sehingga mereka pantas ditindas seperti itu? 

Para pengikut Ahmadiyah memang diketahui memandang tinggi Mirza Gulam Ahmad sebagai tokoh khusus yang berstatus sebagai Nabi atau setidaknya orang bijak yang memperoleh wahyu Allah untuk melanjutkan ajaran Nabi Muhammad. Mayoritas umat Islam lainnya tidak percaya itu. Tapi, lantas kenapa?

Di luar soal Mirza Gulam Ahmad, para pengikut Ahmadiyah percaya bahwa Allah itu satu, bahwa AlQuran adalah kitab suci umat Islam, bahwa ada malaikat, bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir, bahwa ada hari akhir dan ada takdir. Mereka bersyahadat, bershalat dengan kiblat Ka’bah, mereka berzakat dan membantu kaum miskin, mereka berpuasa, mereka naik haji. 

Ahmadiyah memang dilarang di sejumlah negara, tetapi itu berlangsung di negara-negara yang memang penuh konflik berdarah seperti Pakistan, atau yang sangat konservatif seperti Arab Saudi (yang juga melarang pendirian gereja) Tapi di negara-negara lain, organisasi ini tumbuh pesat. Jemaatnya tersebar di lebih dari 185 negara di dunia, dengan jumlah keanggotaan  diperkirakan  mencapai 150 juta orang. Bisa dibilang, para pengikut Ahmadiyah  justru berperan besar dalam penyebaran Islam ke negara-negara Barat. Sejumlah tokoh Islam dunia juga diketahui adalah penganut Ahmadiyah, seperti Abdus Salam yang adalah satu-satunya ilmuwan Islam yang pernah merebut hadiah Nobel (1979). AlQuran pertama dalam bahasa Inggris pun ditulis oleh tokoh Ahmadiyah.

Di Indonesia sendiri, Ahmadiyah sudah berdiri sejak 1925 dan telah berbadan hukum melalui ketetapan Menteri kehakiman sejak 1953. Sampai saat ini, SK tersebut tidak pernah dicabut. Ahmadiyah juga dikenal taat hukum. Dalam setiap kegiatannya, Ahmadiyah Indonesia mengaku selalu meminta izin kepolisian. Dalam sejarahnya di Indoensia, mereka tidak pernah terlibat dalam aksi kekerasan, penyerangan, dan pengrusakan terhadap penganut keyakinan lain. Kabarnya di beberapa daerah mereka cenderung hidup eksklusif (terutama dalam beribadat), tapi tetap hidup damai dan bersahabat dengan masyarakat luas.

Petinggi MUI  menganjurkan agar pengikut Ahmadiyah keluar saja dari Islam. Apakah ini berarti MUI menganjurkan jutaan umat Ahmadiyah menjadi murtad? Saat ini mungkin saja ada sejumlah keyakinan dalam ajaran Ahmadiyah salah, tapi siapakah di dunia ini yang mengklaim bahwa 100% tafsirannya tentang Islam adalah benar. Kalaulah kepercayan mereka salah, apakah di dalamnya tidak terdapat kebenaran? Ada 150 juta orang di dunia ini yang percaya pada Ahmadiyah — apakah mereka semua salah? Apakah para ulama Indonesia benar-benar akan menanggung risiko memurtadkan jutaan orang.  Mengapa tidak diserahkan saja soal benar-salah ini pada Hakim Tertinggi di hari akhir nanti?

Bagaimana kalau umat Ahmadiyah menolak untuk pindah agama. Mereka akan ditangkapi semua? Para pemukanya akan ditangkapi, dipenjara? Rumah-rumah ibadat mereka akan ditutup? Buku-buku ajarannya akan dibakar?

Kalaupun umat Ahmadiyah bersedia untuk mendirikan agama sendiri, dan menyatakan diri mereka bukan Islam (setidaknya di Indonesia), implikasinya juga serius: secara administrasi kenegaraan, mereka akan dinyatakan beragama apa? Apakah MUI ingin menganjurkan agar nanti ada sebuah agama baru bernama ‘Ahmadiyah’, sehingga semua catatan administrasi kependudukan Indonesia harus menambahkan kata Ahmadiyah.

Bagaimana pula pemerintah Indonesia harus berhadapan dengan tatapan dunia internasional. Imej Indonesia sama sekali tidak cerah, dan sekarang akan ditambah lagi dengan catatan tentang ‘penindasan terhadap perbedaan keyakinan keagamaan’ – yang bukan saja bertentangan dengan Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia, tapi juga Undang-undang Dasar Indonesia sendiri?

Karena itu, saya, sebagaimana banyak umat Islam lain yang masih percaya pada ulama, akan sangat bersyukur bila MUI berhenti meminta pemerintah memberangus Ahmadiyah. Bila tidak, saya kuatir akan semakin banyak orang menjauhi Islam. Bagaimana mungkin Islam akan dipercaya sebagai agama kedamaian bila para ulamanya merestui penindasan?

Alangkah indahnya bila MUI tampil sebagai pihak yang membawa kedamaian. Mencari titik temu, ketimbang memperbesar perbedaan. Kalau pemerintah nampak gamang, itu bisa sangat dimengerti. Bila pemerintah harus memilih antara mengizinkan dan melarang, apapun yang diputuskan berisiko menimbulkan pembelahan antara yang pro dan kontra.

Apalagi saat ini juga sudah tersiar kabar bahwa tuntutan pembubaran Ahmadiyah itu hanya datang dari sekelompok kecil komunitas yang agresif yang bergerak ke mana-mana. Ada tuduhan bahwa demonstrasi yang dilakukan selama ini sebenarnya dilakukan oleh orang yang itu-itu juga. Bahkan ada kabar bahwa salah seorang ‘ulama’ berjubah putih yang memimpin perusakan berbagai tempat peribadatan Ahmadiyah adalah seorang pembohong: mengaku-aku bernama Abdurrahman Assegaf – agar nampak ‘Arab’ – padahal sebenarnya Melayu tulen!

Ada baiknya MUI kembali ke fatwa soal Ahmadiyah yang dikeluarkannya pada 1980. Dalam fatwa yang lama itu, Ahmadiyah juga dinyatakan sebagai berada di luar Islam. Tapi saat itu, MUI nampak bijak dengan sekadar meminta agar masyarakat tidak terpengaruh dengan ajaran itu dan meminta Ahmadiyah kembali ke ajaran yang benar. Saat itu, MUI nampak bersosok demokratis: mengingatkan umat bukan menindas umat. Sayangnya, pada 2005, bunyi fatwa MUI menjadi keras. Dalam fatwa yang baru itu, MUI menetapkan bahwa  ’pemerintah wajib membekukan Ahmadiyah dan menutup semua tempat kegiatannya’.

Saya, sebagaimana banyak umat Islam lainnya, masih percaya bahwa ulama penting. Mudah-mudahan MUI benar-benar dapat menjadi pelita hidup masyarakat menuju Islam yang damai dan membawa rahmat bagi sekalian alam.

 

 

 

 

Iklan
Ditulis dalam Religion. 2 Comments »

2 Tanggapan to “MUI, Ahmadiyah dan Islam yang Damai?”

  1. harry Says:

    Alangkah indahnya bila MUI tampil sebagai pihak yang membawa kedamaian. Mencari titik temu, ketimbang memperbesar perbedaan
    .
    Kan sudah pak, MUI & NU sudah menghimbau agar Ahmadiyyah berhenti membajak nama Islam.
    .
    Silahkan beragama sesuai dengan keyakinannya, tapi tolong, jangan membajak agama orang lain.
    .
    btw; terimakasih untuk posting Anda soal RUU Pornografi. Saya juga prihatin melihat fear-mongering yang begitu deras seputar topik tersebut, sampai kita sulit untuk berpikir secara rasional. Bawaannya jadi emosinal saja. Sampai ada yang mengancam akan memecahkan NKRI segala.
    .
    Mudah-mudahan tulisan Anda tersebut bisa membantu membuat kita semua melihat soal tersebut dengan lebih jernih.
    .
    Terimakasih.

  2. yuuka18 Says:

    Sebelumnya saya minta maaf, aliran Ahmadiyah berbeda dg islam karena menganggap ada nabi lain sesudah Nabi Muhamad SAW padahal di dalam Al Qur’an y merupakan kitab utama orang Islam sudah jelas disebutkan bahwa Nabi Muhamad adalah Rasul y terakhir. Kalau sudah begitu bukankah lebih baik jika mereka tidak memakai nama Islam. Karena kalau mengaku Islam berarti mereka murtad.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: