Sholeha Mencari Rahasia Illahi

(Dimuat di Majalah Madina Edisi 1, Januari 2008) 

Teorinya begini: Ada upaya sistematis untuk menggerus keimanan kaum muslim di Indonesia dengan menghadirkan banjir tontonan tidak bermoral melalui siaran televisi. . Argumen semacam ini  kerap diajukan dalam diskusi-diskusi yang membicarakan realita tayangan pertelevisian dalam sebuah masyarakat muslim di Indonesia.

 

Menurut teori ini, keburukan isi pertelevisian Indonesia bukanlah sesuatu yang alamiah. Isi siaran televisi kita, demikian dikaakan, menjadi sampah karena dengan sengaja dibuat oleh mereka yang menguasai industri dalam rangka membuat bangsa Indonesia semakin menjauh dari keimanan Islam.

 

Untungnya, teori semacam ini tidak memiliki landasan kuat. Industri pertelevisian di Indonesia tidaklah dikuasai pengusaha non-muslim. Dua grup terbesar memang dimiliki penganut Kristen taat. Yang pertama, grup MNC – yang menginduki RCTI, TPI dan Global – dipunyai Hary Tanusudibyo. Yang kedua, kelompok SCTV saat ini dikuasai Sariatmaja bersaudara – Edi dan Fofo.

 

Namun di sisi lain  ada Trans Corp. yang dimiliki salah seorang pengusaha terkaya beragama Islam di Indonesia, Chairul Tanjung. Kemunculannya justru sangat didukung oleh kelompok pengusaha pribumi Islam. Begitu juga kelompok ANTV dan LaTV yang sekarang dikuasai kelompok Bakrie yang muslim. Terakhir, ada Metro yang sendirian dan dimiliki oleh pengusaha-politisi asal Aceh, Surya Paloh.

 

Apalagi kalau dilihat isi siarannya. Acara-acara yang disajikan Trans TV satu-dua tahun lalu – misalnya Fenomena dan Komedi Nakal – atau LaTV (yang dulu dimiliki tokoh  Himpunan Mahasiswa Islam, Abdul Latif) dengan acara seperti Layar Tancap, justru dinilai lebih pornografis dibandingkan stasiun-stasiun televisi yang lain.

 

Karena itu, faktor agama nampaknya tidak penting. Stasiun televisi nasional yang ada didirikan dengan biaya puluhan milyar rupiah dan setiap hari harus terus membeli program-program seharga ratusan juta rupiah. Dalam kondisi seperti itu, yang menjadi pusat perhatian para pemilik dan pengelolanya adalah bagaimana bisa memperoleh untung, atau setidaknya selamat dalam kompetisi industri pertelevisian terketat di dunia.

 

 

Siapa Bisa Memasok Program Bermoral?

 

Kata kunci dalam industri televisi adalah: berapa banyak dan siapa yang menonton? Maraknya program infotainment di Indonesia terjadi karena biaya pembuatannya rendah, penontonnya banyak dan itu terdiri terutama dari kalangan ibu-ibu yang merupakan pengambil keputusan dalam belanja keluarga, sehingga pengiklannya pun banyak. Ketika para ulama mengeluarkan fatwa haram terhadap infotainment,  stasiun-stasiun televisi tak terpengaruh karena memang keuntungan yang mereka peroleh dari acara itu sungguh lumayan. Pemilik rumah produksi terbesar dalam wilayah infotainment televisi juga adalah seorang muslim.

         

Seperti dikatakan Gilang Iskandar, pimpinan komunikasi korporat MNC, industri penyiaran tidak pernah peduli dengan isu promosi agama. ’’Industri pertelevisian justru akan sangat berhati-hati menjaga perasaan penonton sehingga tidak akan mungkin melakukan langkah yang dapat menimbulkan persepsi bahwa televisi ingin melecehkan keyakinan dan keimanan penonton.’’

 

Karena itu yang penting baginya adalah ketersediaan program yang bagus. ’’Kami juga ingin menyajikan acara-acara yang mengandung pendidikan moral. Dan bila ada pihak yang dapat memproduksi tayangan semacam itu, dan sekaligus dapat diterima penonton, tentu akan kami putar.’’

 

Masalahnya, memang tidak mudah mencari mereka yang bisa menyajikan tontonan dengan formula lengkap seperti itu. LaTV misalnya pernah membuat program Pemilihan Da’i Cilik (Pildacil). Untuk waktu yang lama, acara itu sempat menarik cukup banyak penonton. Tapi begitu penonton bosan, rating menurun, kontrak acara itupun tidak diperpanjang beberapa bulan lalu.

 

Sutradara dan penulis skenario terkemuka, Imam Tantowi, juga punya cerita serupa. Di bawah bendera rumah produksi Sinemart,  dia terlibat bersama sutradara kondang Chaerul Umam, memproduksi sinetron Maha Kasih. Sinetron itu tahun lalu sempat menjadi bahan pembicaraan di mana-mana dan dianggap sebagai sinteron Islam terbaik yang pernah ada. Tatkala itu, mereka ingin mengubah penggambaran agama di televisi yang sedang didominasi oleh sinetron-sinetron mistis dan kuburan.

 

Nyatanya setelah sekitar 30 episode, jumlah penontonnya perlahan-lahan menurun dan tiba-tiba saja Sinemart memutuskan untuk mengganti Tantowi dan Umam. Meski dengan konsep yang berubah, Maha Kasih sempat berlanjut sampai dua musim, tapi kemudian betul-betul berhenti tahun ini.

 

Ilahi-ilahi

 

Industri penyiaran memang industri yang sangat sukar ditebak. Pertarungan antar stasiunnya pun berlangsung seperti keriuhan jalan di Jakarta. TPI, misalnya, pernah menjadi stasiun  dengan peroleh share penonton terbesar hanya satu kali dalam sejarah mereka: yakni ketika menyiarkan sebuah sinetron yang berharga murah — Rahasia Illahi (2004/2005).

Tak ada yang menyangka bahwa acara yang konon didasarkan kisah-kisah nyata yang dimuat di majalah Hidayah itu bisa menarik perhatian penonton begitu besar. Ia tidak menggunakan bintang terkenal, sangat sarat dengan dakwah verbal, pembuatnya pun perusahaan kecil. Tapi begitu ia meledak, dengan segera rangkaian epigon pun bermunculan dengan resep sama.

Semua stasiun televisi nasional – kecuali Metro – menawarkan sinetron sejenis: : Takdir Illahi, Kuasa Illahi, Di balik Kuasa Ilahi, Titipan Ilahi, Astaghfirullah, Istighfar, Ya Rabbi, Insya Allah, Tuhan Ada di Mana-mana, Azab Dunia, Insyaf,  Allah Maha Besar, Suratan Takdir, Taubat, Kafir. Formulanya pun kurang lebih sama: cerita sederhana, linear, hitam-putih, bila berbuat jahat akan dihukum pedih, dan mengandung ajaran moral yang harus disampaikan secara verbal, kerap oleh ustadz terkenal.

Kisah-kisah pun dibuat sedramatis mungkin. Mulai dari kisah tragis kematian seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya, suami yang mengkhianati keluarga, mertua yang dengki hingga kisah kegetiran hidup seseorang yang membangkang Tuhan.

Bisa jadi penonton menyukainya seperti mereka menikmati film-film horor yang menakutkan. Salah satu bagian terpenting adalah di segmen terakhir yang menampilkan ujung perjalanan mereka yang membangkang perintah Tuhan – dari jenazah yang bernanah, jenazah yang ditolak bumi, tubuh yang mengeluarkan kelabang dan jangkrik, atau mati gosong karena tersambar petir.

 

Rangkaian program ’me-too’ ini pada gilirannya semakin menjadikan Islam sebagai sekadar tempelan. Agar bisa merebut perhatian penonton, sinetron-sinteron pengekor itu justru menyajikan muatan yang berselera-rendah: semakin kejam, semakin menakutkan dan bahkan, seks. Adegan perkosan dan adegan ranjang – yang ditampilkan untuk memperlihatkan kebobrokan hidup karakter – menjadi kelaziman.

 

Hampir pasti banyak penulis naskahnya pun tak cukup paham soal Islam. Sutradara dan penulis cerita kawakan Ali Sahab bercerita: ’’Ada sinetron Islami yang menggabambarkan seorang tokoh durhaka yang membongkar kuburan orangtua yang baru dimakamkan untuk memperoleh perhiasan si orangtua. Tidakkah si pembuat cerita ini tahu bahwa haram hukumnya dalam Islam melengkapi jenazah dengan perhiasan?’’

 

Para Pencari Tuhan

 

Kegemaran penonton akan sinetron siksa kubur bertahan selama hampir dua tahun. Setelah itu, mereka berpaling. Tapi satu pelajaran penting diperoleh: khalayak Indonesia pada dasarnya sebenarnya suka dengan hal-hal yang dekat dengan agama. Cuma masalahnya, bagaimana mengemasnya? Dalam konteks ini,  rangkaian sinetron yang diluncurkan PT Demi Gisela Citra Sinema – milik aktor senior Deddy Mizwar – menjadi tonggak penting.

 

Deddy sejak lama mengeluhkan kualitas tayangan-tayangan yang ada di televisi. Hanya saja, keunggulan seniman kawakan ini adalah bahwa ia sekaligus memiliki kecakapan, sumberdaya, serta kredibilitas dan akses untuk mengajukan program alternatif.  Secara berkelanjutan selama beberapa tahun terakhir, ia bersama timnya memproduksi rangkaian sientron drama-komedi yang ’Islami’ dan selalu sukses: Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Tuhan (PPT).

 

Semua produk itu ditayangkan lewat SCTV. Tak kurang dari Presiden SBY memuji Kiamat Sudah Dekat yang dinyatakan sebagai tontonan wajib di rumah Presiden. Yang terbaru tentu saja adalah PPT yang dikabarkan menempati share penonton tertinggi di maa sahur ramadhan 2007, mengalahkan berbagai program komedi di stasiun-stasiun televisi lain yang menghadirkan banyak pelawak papan atas. 

 

PPT banyak dipuji karena dianggap sebagai sinetron dakwah yang tidak berkhotbah secara verbal. Tidak hitam-putih, cerdas, dan menyentuh langsung kehidupan sehari-hari. Tokoh utamanya, yang diperankan Deddy Mizwar, adalah seorang penyembelih hewan yang sekaligus menjadi penjaga masjid. Tokoh ini tidak pintar-pintar amat, dan kerap ragu sendiri ketika harus memberikan nasehat. Ada pula tokoh ustadz yang nampak lebih sibuk dengan obsesinya mencari popularitas. Ada karakter haji kaya yang suka memberi sumbangan sekaligus mencerca orang miskin. Ada cinta. Ada hansip sok tahu ada pengangguran beranak banyak. Ada tiga narapidana yang bertobat. Dan ada soundtrack Ungu

 

PPT jadinya tidak memeperlakukan Islam sebagai sesuatu yang berada ’’jauh di luar sana’’. Tokoh pemuka agama tidak dihadirkan sebagai manusia suci yang bisa memberikan jawaban atas segala persoalan masyarakat. Secara tetap santun, sinetron ini menabrak banyak tabu yang sebelumnya tidak berani dilanggar. Dalam satu episode, si hansip – bernama Udin – bertanya-tanya: ’’Apa Allah tidak takut berdosa ya membiarkan umatnya miskin begini?’’

 

Persoalannya, memang tidak banyak pekerja industri televisi yang bisa dan bersedia membuat program seperti PPT. Deddy sendiri memang memilih jalur yang tidak populer. Ia tdiak mau bekerja ’kejar tayang’, seperti sinetron-sinteron yang hadir secara stripping—tayang setiap hari.. Program dibuat dengan naskah serius. Pemilihan pemain dilakukan dengan sungguh-sungguh. Deddy memilih berproduksi sedikit, tapi berkualitas.

 

Go International?

 

PPT membuktikan betapa sinetron islami bisa sangat menguntungkan. Produk-produk me-too- nya memang belum terlihat. Tapi paling tidak simbol-simbol Islam semakin banyak tampil. Salah satu sinetron lain yang sempat menempati rating tertinggi adalah Si Entong di TPI. Acara ini sarat dengan rangkaian penanda ’Islam’. Tokoh utamanya, si Entong adalah seorang anak yang soleh dan senantiasa minta pertolongan Allah. Ada tokoh ustadz. Adegan mengaji sangat sering tampil. Ucapan salam dan pujian bagi Tuhan mengalir lancar.

 

Hanya saja, keIslaman Si Entong berhenti di situ. Isi ceritanya sangat sarat dengan muatan supranatural yang tak berkaitan dengan agama. Karena kesolehannya, si Entong selalu mendapat bantuan gaib: perkakas ajaib yang mengingatkan penonton pada Dora Emon yang populer itu. Kalaupun ada pesan moral, itu cuma bahwa kebaikan akan diganjar Tuhan dengan kebaikan, serta sebaliknya. Dialognya pun bisa sangat kasar. Komedi Indonesia biasa.

 

Serangkaian sinetron di jam-jam utama beberapa stasiun televisi nasional juga menggunakan pendekatan serupa. Kisahnya tak jauh berbeda dengan beberapa sinetron bergenre ’tak putus dirudung malang’ dramatis seperti Bawang Merah Bawang Putih. Tapi yang kini terutama berbeda adalah simbol-simbol Islamnya. Misalnya saja, sinetron Sholeha (RCTI) yang populer. Pemerannya, Marshanda, digambarkan sebagai gadis cantik dan tomboi taat yang mengenakan kerudung, taat beribadat dan sekaligus guru mengaji.  Di luar itu ada pula sinetron Aisyah yang juga berkerudung; serta Sjamsul dan Badriah.

 

Di SCTV, salah satu sinetron yang menempati tingkat popularitas tertinggi adalah Azizah.  Simbol-simbol Islam dan isi ceritanya sama sekali tidak terkait dengan Islam. Tapi, paling tidak, tokoh utamanya diberi nama yang ’Islami’.

 

Segenap perkembangan ini bisa dibaca sebagai respons stasiun televisi terhedap nilai-nilai dan selera masyarakat. Namun, yang juga penting, perkembangan ini mencerminkan bukan hanya strategi pemasaran untuk pasar dalam negeri tapi juga luar negeri. Saat ini sejumlah rumah produksi dan stasiun televisi Indonesia sudah melirik dan masuk ke  sejumlah pasar di negara tetangga:  Malaysia, Brunei dan Singapura. Segmen khalayak yang paling berpotensi menyukai sinetron-sineron Indonesia adalah puak Melayu-Muslim. Sinetron seperti Hikmah – dibintangi Tamara Blezinski — sudah terbukti sukses besar.   Jadi kenapa tidak Aisyah dan Azizah?

 

Satu Tanggapan to “Sholeha Mencari Rahasia Illahi”

  1. harry Says:

    Kreatif itu memang susah🙂 jadinya banyak yang mengambil jalan pintas saja, memproduksi asal laku.
    .
    Kita perlu lebih banyak muslim kreatif seperti pak Deddy Mizwar ini.
    .
    Terimakasih untuk artikelnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: