Dan Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu ………..

Dalam sebuah acara komedi televisi, berlangsung dialog antara dua pemain pria yang seolah-olah sedang membaca suratkabar.

Pemain 1: Wah ini ada berita. Seorang pemuda memperkosa sepuluh gadis …

Pemain 2: Hebat bener …

Pemain 1: Tiga korban di antaranya trauma . . . tujuh lainnya, ketagihan (ha-ha-ha) Di sebuah stasiun televisi lain berlangsung acara Gelar Tinju Profesional. Di awal acara selalu tampil semacam kelompok cheerleaders yang sangat muda-muda (seringkali berasal dari SLA) dengan pakaian serba ketat dan terbuka, dengan gerakan yang jelas-jelas menonjolkan daya tarik seksual. Para gadis yang penuh senyum ini tidak mendukung petinju manapun. Fungsi mereka sekadar sajian pembuka sebelum para penonton – tua muda, dan hampir 100% laki-laki – menikmati pameran kekerasan sebagai sajian utama. Ini mengingatkan kita pada penampilan para gadis seksi yang melenggak-lenggok di setiap pergantian rode tinju yang perannya tidak lebih dari sekadar membawa nomor ronde.

            Ada pula iklan kosmetik pemutih. Digambarkan seorang gadis cantik berwarna kulit gelap merasa tak percaya diri karena tidak dilirik pria yang ia kagumi, sebelum akhirnya ia menemukan kosmetika yang mampu menjadikan kulitnya menjadi ‘putih berseri’ dalam waktu enam minggu. Sejak saat itu, kehidupannya berubah. Setidaknya si pria pujaannya mengajaknya makan siang.

            Dalam sebuah talk-show hadir dua artis wanita yang bercerita tentang pengalaman kariernya. Salah seorangnya yang memang dikenal kerap hadir di layar televisi dengan menonjolkan daya tarik seksualnya berkomentar:  ‘’Semua wanita saya rasa ingin tampil seksi.’’ Temannya menimpali: ‘’Kalau tidak seksi, nanti ditinggal suami.’’

 

Rangkaian ilustrasi di atas tentu saja bisa diperpanjang. Namun intinya tetaplah sama, bahwa setelah begitu banyak orang bicara tentang pemberdayaan perempuan, pada dasarnya posisi perempuan Indonesia sebagaimana direfleksikan di media massa tak banyak berubah: perempuan adalah mahluk pelengkap dalam sebuah dunia laki-laki.  Dan gagasan itu terus bertahan karena  ada kesediaan kolektif untuk menerima dan mempertahankannya.

 

Lihatlah kasus-kasus di atas. Dalam kasus pertama, perkosaan – sebuah bentuk kekejaman yang sangat menyakitkan korban – digambarkan sebagai bukan saja sesuatu yang tidak terlalu serius, melainkan juga sebagai ‘menyenangkan’.  Dalam kasus kedua,  perempuan cuma tampil sebagai ‘pelengkap penderita’ dalam sebuah dunia laki-laki: sebagai pemuas fantasi. Dalam kasus ketiga, perempuan dihargai bukan karena kualitas intelektualitas, kecerdasan, kecakapan dan keahlian atau kualitas kepribadian, melainkan karena sebuah kualitas yang sangat ragawi: kulit putih. Dalam kasus keempat, perempuan ditampilkan sebagai lagi-lagi pelayan seks kaum pria. Nilai lebih perempuan adalah dalam soal menemani pria di ranjang; bila Anda tak bisa memenuhinya, selesai sudah riwayatnya.

 

Semua contoh di atas diambil dari televisi. Namun terdapat konsistensi pencitraan di berbagai media lainnya: di suratkabar, di majalah, di billboard, di film, di musik, dan sebagainya. Tentu saja mengatakan konsisten tidak berarti tidak ada kekecualian. Namun bila kita berbicara kecenderungan umum, sulit untuk mengingkari bahwa gejala ‘pendangkalan posisi perempuan’ tetap bertahan dengan perkasanya.

Namun demikian, salah satu pertanyaan yang kerap diajukan adalah: lalu kenapa? Dalam hal ini, yang dipersoalkan adalah seberapa signifikankah sebenarnya pencitraan melalui media tersebut bagi kehidupan masyarakat secara riil sehari-hari? Sebagian pihak, misalnya, berargumen bahwa apa yang tampil melalui media sebenarnya hanya merefleksikan kehidupan sesungguhnya. Dengan kata lain, bila perempuan tampil di media terutama sebagai ‘objek seks’ maka itu sesungguhnya sekadar merefleksikan persepsi kolektif masyarakat tentang perempuan.

Pihak lain berkeras bahwa kalaupun perempuan kerap tampil dalam stereotip tertentu, itu sebenarnya tidak terlalu bermasalah karena masyarakat pada dasarnya cukup dewasa, dan cukup kritis untuk tidak membiarkan diri mereka didikte oleh media massa. Dalam alur argumen ini, ada pandangan bahwa masyarakat, pada dasarnya, tahu bahwa isi media adalah sekadar ‘hiburan’, bukan sesuatu yang ‘serius’, dan karena itu tidak akan mempengaruhi kehidupan mereka. Dengan kata lain, kalau mereka memang sudah percaya bahwa perempuan itu pada dasarnya adalah mahluk bermartabat yang harus dihargai karena kualitas non-fisiknya, maka betapapun media massa menginjeksikan gambaran tentang perempuan sebagai mahluk yang nilai utamanya adalah kecantikan, gambaran itu tak akan banyak berpengaruh terhadap kecenderungan psikologis dalam diri khalayak.

 

Di sisi lain, keengganan sebagian pihak lain untuk mempersoalkan pencitraan perempuan di media massa itu terkait pula dengan sebuah ketidakpedulian yang lebih mendasar, yakni keraguan akan arti penting isu ketidaksetaraan gender yang menjadi pokok permasalahan. Dalam hal ini, masih kerap terdengar dengan lantang anggapan bahwa sebenarnya isu marjinalisasi perempuan adalah sekadar isu yang diimpor tanpa basis kenyataan yang jelas di negara ini.

 

          Tulisan ini pada dasarnya hendak menjelaskan bahwa penggambaran imej perempuan yang mengikuti sebuah pola tertentu yang konsisten tersebut memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan persepsi tentang perempuan yang, pada gilirannya, mempengaruhi bagaimana cara perempuan diperlakukan dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, misalnya, lelucon-lelucon yang nampak tidak serius atau tampilan perempuan yang secara berulang diposisikan sebagai ‘mahluk cantik dan seksi’ tersebut mempunyai kontribusi penting bagi gejala kekerasan seksual terhadap perempuan, pemerkosaan maupun penindasan perempuan dalam tempat-tempat pelacuran.

KETIDAKSETARAAN GENDER

Perbedaan perlakuan terhadap pria dan perempuan bukanlah sesuatu yang hanya hadir di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Riset sosial mengidentifikasi sejumlah aspek spesifik dari perilaku sosial di mana perilaku pria dan wanita secara konsisten berbeda. Meskipun sudah ada perubahan dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, berbagai studi di negara maju menunjukkan bahwa secara umum, pria tetap menunjukkan kuasa sosial (social power) lebih besar dari wanita. Studi misalnya menunjukkan bahwa pria lebih banyak menempati posisi pimpinan politik dan perusahaan serta mengharapkan dan menerima penghasilan lebih besar untuk pekerjaan yang sama. Wanita bahkan kerap dianggap mengalami apa yang disebut ‘fear of success’, yakni semacam kekhawatiran akan keberhasilan mencapai sesuatu yang tinggi yang lahir akibat ketidakpercayaan diri, karena di sepanjang hidupnya mengalami sosialisasi bahwa perempuan seharusnya tidak menjadi supraordinat kaum pria.

Ketidaksetaraan ini berlangsung bukan hanya di ruang publik, namun juga dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Dalam komunikasi, pria lazim menginterupsi perempuan, sementara perempuan dianggap tidak pantas melakukan hal serupa. Dalam komunikasi nonverbal, wanita cenderung menghindari tatapan mata pria. Demikian pula dalam hal perilaku seksual: Wanita cenderung lebih konservatif dalam perilaku mengenai seks, pria cenderung permisif. Pria dianggap pantas untuk lebih agresif, sementara wanita diharapkan lebih pasif. Pria menyentuh, wanita disentuh.

 

 Ketidaksetaraan tersebut berlangsung dalam derajat yang lebih serius di banyak belahan Dunia Ketiga. Saat ini semakin disadari bahwa banyak perempuan di berbagai negara berkembang mengalami perlakuan tak adil yang, pada gilirannya, menyebabkan perempuan potensial untuk terus menerus ditindas dan dicerabut hak-hak asasi manusianya. Perempuan dipinggirkan dan mengalami berbagai pelecehan baik di wilayah domestik maupun publik. Wujud pelecehan tersebut berkisar dari pengingkaran terhadap haknya untuk bersuara dan mengambil keputusan dalam rumah tangga, pengingkaran terhadap haknya untuk memperoleh imbalan sejajar dengan rekan pria di tempat kerja, sampai pelecahan fisik di tempat publik atau perkosaan tanpa penanganan hukum semestinya.

Pertanyaannya, apa sebenarnya sumber dari perbedaan gender tersebut? Dalam hal ini ada beberapa kelompok penjelasan: perbedaan tersebut terjadi secara alamiah dan bersifat kodrati (nature), terjadi karena dikondisikan lingkungan dan budaya; atau merupakan kombinasi dari keduanya. Di satu sisi diakui ada perbedaan hormon seksual yang tentu mempengaruhi perbedaan pertumbuhan dan perubahan fisik. Namun hanya menggunakan penjelasan biologis sebagai penyebab perbedaan tentu berlebihan. Sebagai contoh, bagaimana kita menjelaskan bahwa pria memperoleh upah lebih besar daripada perempuan untuk melakukan pekerjaan yang sama? Atau bagaimana kita menjelaskan bahwa pria ditoleransi memanfaatkan pekerja seks komersial, sementara para pekerja itu sendiri kerap dikejar-kejar dan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh aparat keamanan?

 

Karena itu yang nampaknya perlu diberi perhatian lebih adalah penjelasan non-biologis. Cara manusia mensikapi lingkungan bukan sesuatu yang terjadi begitu saja dengan acak. Manusia bertindak dengan pola tertentu. Ketika seseorang mengatakan bahwa seharusnya seorang perempuan tidak perlu berpolitik, ia tidak mengatakannya tanpa rujukan. Sebagian pihak mengatakan bahwa sikap itu terbangun karena agama. Namun masalahnya dua manusia yang memiliki agama yang sama bisa saja memiliki cara pandang yang sama sekali berbeda tentang masalah tersebut.

 

Berdasarkan teori-teori ‘social learning’, dipercaya bahwa ada sejumlah hal yang mempengaruhi perilaku dan persepsi tersebut. Manusia adalah mahluk yang dianggap memiliki motivasi yang kuat untuk belajar tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana seharusnya berperilaku dalam rangka mencapai keberhasilan dalam dunia sosial. Di tahap pertama, ia melakukan pembelajaran melalui pengamatan. Di tahap ini, terbangun berbagai model tentang apa yang benar dan salah, apa yang pantas dan tidak pantas di benak individu. Di tahap berikutnya, apa yang ia lihat itu diperteguh melalui apa yang berlangsung di masyarakat di mana ia berada. Ia mulai melihat bahwa ada perilaku yang dipuji, dibenarkan, didukung oleh masyarakat dan ada perilaku yang dicemooh, dikecam, dipinggirkan oleh masyarakat. Pada tahap berikutnya lagi, ia mengalami sendiri apa yang  selama ini dilihatnya berlangsung di lingkungan luar dirinya. Ia mulai mengalami bahwa ketika ia memilih tindakan tertentu, ia memang memperoleh apa yang ia inginkan. Dan ketika itu secara terus menerus, secara konsisten, berlangsung di depan mata dan dialami secara langsung oleh individu tersebut, wajar ia percaya dan yakin bahwa pilihan tindakan itu adalah yang paling benar.

 

Variabel sosialisasi yang dialami sejak kecil dengan demikian adalah sesuatu yang sangat berperan. Anak memperoleh pelajaran mengenai perilaku sosial melalui pengamatan yang kemudian diperteguh dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat peran-peran yang dipersepsikan sebagai diharapkan atau dianggap wajar dalam masyarakat yang pada gilrannya sangat mempengaruhi perlakuan terhadap pria-wanita. Dalam hal ini berlangsung apa yang disebut sebagai ‘sosialisasi gender’, yakni proses belajar-mengajar mengenai perilaku yang dipersepsikan sebagai pantas dan diharapkan secara sosial untuk kedua gender.

Melalui sosialisasi ini berkembang dan tertanam stereotip dan pengkategorian gender yang diterima sebagai hal yang seolah-olah alamiah. Di dalamnya terkandung berbagai generalisasi tentang apa yang dianggap sebagai maskulin dan feminin (misalnya warna wanita adalah ‘pink’, insiyur adalah pekerjaan pria).

PADA AWALNYA ADALAH PERSEPSI . . .

Seperti terlihat, peran gender dilahirkan dari sistem pembelajaran yang kompleks. Dengan demikian, masyarakat pada dasarnya hidup dalam skemata gender, yaitu gagasan dan cara pandang dalam pengetahuan sosial yang dimiliki bersama tentang kualitas dan perilaku yang ‘’serasi’’ dengan satu gender atau yang lainnya. Hanya saja, skemata gender tersebut terbangun bukan selalu di atas pijakan realita, melainkan di atas persepsi yang sering sebenarnya bersumber dari mitos dan sekadar pengulangan secara tidak kritis  atas sesuatu yang dianggap lazim berlaku dalam masyarakat.

 

          Sikap (attitude) diartikan sebagai ‘’sebuah kecenderungan yang relatif tetap untuk mengevaluasi orang, kejadian, atau situasi dalam cara tertentu’’ (Zanden, 1984). Sikap sekaligus mencakup komponen: kognitif, afektif, dan behavioral. Dengan kata lain sikap mencakup cara kita melihat, cara kita menilai, dan cara kita bertindak. Masyarakat pada dasarnya cenderung akan mengorganisasikan sikap mereka dalam cara yang harmonis sehingga tak terjadi konflik di dalam diri mereka.

Sebagaimana dikatakan Samovar (1981): ‘’Dunia persepsi yang kita miliki pada dasarnya berstruktur dan bertahan lama. Kita tidak memandang dunia sebagai sesuatu yang secara konstan berubah . . . Rangkaian persepsi yang kita miliki bersifat stabil dan tak terisolasi satu sama lain, namun saling terkait dengan berjalannya waktu. Bila dunia persepsi kita terpecah, setiap masukan akan menjadi baru; kita akan secara terus menerus dikejutkan oleh sesuatu yan baru, dan tak ada satupun hal menjadi sesuatu yang kita kenali.’’

 

          Dengan persepsi, kita membangun hubungan dengan dunia sekitar kita. Secara mungkin tak kita sadari kita membangun imej dalam diri tentang objek fisik dan sosial serta berbagai peristiwa yang kita hadapi dalam lingkungan kita. Masing-masing manusia membangun persepsi yang terstruktur, stabil dan bermakna tentang dunia di luar diri kita.

 

          Menurut Samovar pula: ‘’Makna dibangun dari apa yang kita pelajari dan alami di masa lalu . . . kita beroperasi sebagai pihak yang secara aktif memproses peristiwa-peristiwa yang menjadi stimulus; kita mengkategorisasikan peristiwa dan mengkaitkannya dengan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Dan kita belajar untuk memberi makna bagi persepsi kita sehingga masuk akal dalam kaitannya dengan pengalaman masa lalu kita; dengan tindakan-tindakan kita di masa ini; dan dengan antisipasi kita akan masa depan’’.

          Dengan demikian persepsi adalah sesuatu yang sangat vital dalam menentukan perilaku manusia terhadap stimulus di lingkungannya. Kendatipun pada dasarnya tidak mungkin ada dua manusia yang memiliki persepsi seratus persen sama tentang segala hal, masyarakat hidup dengan persepsi kolektif tentang banyak hal.  Bila anggota masyarakat bersama-sama mengalami pengalaman sama secara berulang, mereka akan mempelajari pola-pola perilaku yang sama pula. Melalui proses pembelajaran budaya ini, masyarakat akan menshare persepsi bersama.

 

Memang manusia bukanlah mahluk pasif. Bahkan sejak kecil, manusia adalah pihak yang aktif mencari informasi. Pada saat berkembang, manusia mungkin sekali mengubah stereotip-stereotip yang dimilikinya. Agen-agen sosialisasi tersebut terentang dari keluarga, sekolah, teman-teman sejawat, pihak-pihak yang memiliki otoritas, serta juga media massa.

 

PREJUDICE DAN STEREOTIP

          Sebagian pihak tentu saja bisa juga mempertanyakan mengapa skemata gender tersebut harus dipersoalkan. Bukankah, perbedaan adalah sesuatu yang sangat alamiah dalam kehidupan manusia sehari-hari? Karena itu, bukankah memperlakukan pria dan wanita adalah sebuah kealamiahan belaka, yang tidak dengan sendirinya mencerminkan ketidakadilan atau pengeksploitasian?

 

          Yang dikhawatirkan adalah terbangunnya apa yang disebut sebagai prejudice, yakni sikap mengenai orang berdasarkan keanggotaan orang tersebut dalam kelompok sosial tertentu. Dalam psikologi sosial, prejudice didefinisikan sebagai “kepercayaan yang terbentuk tanpa cukup bukti namun tak mudah berubah oleh sekadar fakta atau keadaan yang bertentangan; perasaan, pendapat atau sikap yang cenderung bermusuhan atau melecehkan dan irasional tentang kelompok atau orang tertentu’’ (Dworetzky, 1988, hal. 578).  Sebuah prasangka, berbeda dengan misalnya salah sangka yang sederhana, cenderung tertanam kuat sehingga akan mendorong orang yang mempercayainya untuk menolak segenap bukti yang mungkin mengubahnya.

 

Atas dasar prejudice, masyarakat membangun stereotip tentang kelompok, yakni ‘’kepercayaan yang terlalu menyamaratakan, terlalu menyederhanakan dan terlalu berlebihan yang di asosiasikan dengan kategori atau kelompok orang’’ (Samovar, et.al., 1981, hal. 121).

 

Prejudice ini menyuburkan misalnya apa yang disebut sebagai ‘Illusory Correlation’, yakni persepsi yang salah mengenai asosiasi antara variabel-variabel yang secara aktual tidak berhubungan. Misalnya ada kepercayaan bahwa manusia pada dasarnya memperoleh apa yang pantas diterimanya (get what they deserve). Dengan demikian, seandainya dalam sebuah masyarakat banyak terjadi kasus-kasus kejahatan terhadap perempuan – yang berkisar dari kekerasan, pelecehan, perkosaan, penyiksaan, diksriminasi upah – salah satu variabel yang turut menentukan suburnya praktek-praktek  kekerasan tersebut tentunya adalah adanya persepsi kolektif bahwa kejahatan tersebut disebabkan karena kesalahan kaum perempuan sendiri; atau karena adanya persepsi kolektif bahwa perempuan memang menempati ‘kelas’ lebih rendah sehingga ‘wajar’ bila diperlakukan dengan cara seperti itu.

 

Stereotype dan prejudice bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari dari orang lain, pengalaman personal, atau ditanamkan melalui berbagai agen sosialisasi, termasuk  media masa.

 

Prejudice pada gilirannya sangat mudah menciptakan diskriminasi, yakni ‘’perlakuan berbeda terhadap manusia yang didasari alasan  ras, kelompok etnik, kelas, ketimbang oleh karakteristik yang relevan.’’  Dengan kata lain, terdapat generalisasi tentang perempuan yang berbeda dengan kelompok pria. Dan penggeneralisasian berdasarkan prasangka ini akan menyuburkan diskriminasi.

 

          Menghilangkan beragam bentuk diskriminasi terhadap perempuan tentu tidaklah mudah. Prejudice ini misalnya bisa berakar pada kepercayaan ideologis. Sementara sejumlah bentuk diskriminasi berakar begitu dalam, sehingga telah terlembaga dalam kehidupan masyarakat. Namun diskriminasi terhadap perempuan bukanlah sesuatu yang harus bersifat permanen. Untuk membangun kesetraan gender, dapat dilakukan beragam cara untuk mengurangi prejudice dan diskriminasi ini. Strategi-strategi yang bisa dilakukan antara laih adalah meng’counter’ stereotip gender dengan mempromosikan fakta-fakta yang bertentangan dengan stereotip, mempromosikan perilaku yang bertentangan dengan prejudice, dan sekaligus melakukan rekategorisasi terhadap kategori-kategori sosial yang telah tertanam begitu lama.

 

          Dampak dari skemata gender tersebut dalam kehidupan sehari-hari bisa sangat serius. Salah satu contoh adalah pelacuran. Umumnya pekerja seks komersial adalah kaum perempuan. Namun demikian, pelacuran pada dasarnya adalah sebuah bidang pekerjaan yang sangat eksploitatif. Kaum pelacur setiap hari harus menjalani aktivitas hubungan seks dengan sejumlah pria secara berganti-ganti. Bahwa sang perempuan harus merelakan dirinya disetubuhi oleh berbagai pria yang tidak dicintainya adalah sebuah kondisi yang menyedihkan. Namun lebih buruk lagi, hubungan yang terjadi pun umumnya tidak seimbang. Si pelacur sebagai penyedia jasa lazim harus mengikuti tuntutan apapun dari si ‘pembeli’. Dalam hal ini, bisa saja si pria meminta si pelacur terlibat dalam beragam corak aktivitas seksual yang sebenarnya merendahkan derajat si perempuan atau bahkan menyakitkan secara fisik. Si pria juga dengan mudah  menolak bila pelacur memintanya untuk menggunakan kondom misalnya. Akibatnya, kondisi si pelacur sangat rentan, seperti sangat mudah terjangkit penyakit menular secara seksual (termasuk AIDS). Dengan corak pekerjaan yang berisiko tinggi itupun, si pelacur tidak memperoleh imbalan finansial memadai. Dalam struktur industri seks komersial, pelacur menempati posisi terbawah dan tidak beroperasi secara independen. Pelacur umumnya adalah buruh yang dikuasai mucikari.  Penghasilan pelacur  sangat tidak sebanding dengan apa yang diperoleh para mucikari. Akibatnya, kualitas hidup pelacur cenderung buruk, dengan masa profesi yang terbatas. Yang paling memprihatinkan adalah bila sang pelacur kemudian diketahui menderita penyakit menular secara seksual, seperti AIDS. Sang pelacur akan dengan segera disingkirkan dan menjalani sisa hidupnya bak sampah. Dengan demikian, pelacur adalah sebuah pekerjaan yang luar biasa mengeksploitasi pelakunya.

 

          Pertanyaannya: mengapa banyak perempuan memilih profesi sebagai pelacur?  Jawaban pertamanya: umumnya pelacur sebenarnya tidak memilih dengan sukarela, melainkan terpaksa masuk dalam bidang profesi itu.  Umumnya pelacur adalah mereka yang merasa tidak punya keahlian lain yang dibutuhkan untuk berkompetisi dalam pasar kerja, sehingga terpaksa bekerja hanya dengan menawarkan jasa seksual. Dalam hal ini, skemata gender berperan. Banyak pelacur datang dari kalangan ekonomi lemah yang tidak memiliki pendidikan memadai, antara lain karena keluarga mereka tidak menginvestasikan cukup dana untuk membiayai pendidikan mereka. Masalahnya, kerap kali mereka tidak disekolahkan cukup tinggi karena adanya anggapan bahwa ‘perempuan memang  tidak perlu sekolah tinggi’. Sosialiasi gender semacam ini, tanpa disadari orangtua, menyudutkan posisi perempuan saat mereka harus berkompetisi. Dengan demikian, ketika si perempuan itu akhirnya memilih menjadi pelacur, itu terjadi antara lain karena ia memandang profesi itu  memang tidak menuntut keahlian dan latar belakang pendidikan tinggi.

 

          Pada saat yang sama, pelacuran itu sendiri hadir sebagai bidang profesi karena adanya anggapan bahwa jasa tersebut dibutuhkan kaum pria. Jadi ada pandangan bahwa pria memang secara kodrati memiliki kebutuhan dan dorongan seks yang tinggi sehingga mebutuhkan pelayanan seks dari kaum perempuan. Kaum perempuan ini bisa melayani kebutuhan seks kaum pria itu di dalam perkawinan, namun juga ‘masuk di akal’  bila kaum pria memenuhi kebutuhan tersebut di luar ikatan pernikahan, yakni dengan menggunakan pelacur. Karena sejak awal si pelacur memang diposisikan sebagai mereka yang harus melayani nafsu pria,  mereka memang cenderung juga dilecehkan. 

 

PERAN MEDIA MASSA

 

Seperti telah diutarakan, cara pandang manusia tentang dunia sangat ditentukan oleh agen-agen sosialisasi dalam hidupnya. Salah satu agen yang semakin berperan vital dalam masyarakat modern adalah media massa.

 

Media massa dikatakan sebagai agen budaya yang sangat berpengaruh karena  masyarakat modern mengkonsumsi media dalam jumlah dan intensitas yang tak dapat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Media massa memang bukan merupakan sarana satu-satunya untuk berkomunikasi, namun demikian posisinya telah menjadi semakin sentral dalam sebuah masyarakat yang para anggotanya sudah semakin kurang berinteraksi secara langsung satu sama lain. Media massa hadir praktis sepanjang hari dalam kehidupan masyarakat.

 

Dalam hal ini, berbagai studi komunikasi sudah menunjukkan betapa media massa bisa mempengaruhi khalayaknya di berbagai tataran. Di tahap awal, media  massa dapat mempengaruhi apa yang diketahui dan tidak diketahui masyarakat.  Di tahap berikutnya, media dapat mempengaruhi masyarakat untuk mengimitasi dan belajar dari apa yang ditampilkannya. Media mengajarkan masyarakat bagaimana memandang dunia, mengajarkan bagaimana bersikap, mengajarkan nilai dan norma. Pada akhirnya, media mengarahkan khalayak cara berperilaku.

 

Dengan demeikian media massa adalah agen budaya yang sangat berpengaruh terhadap pengetahuan, cara pandang sampai perilaku masyarakat. Masalahnya, ada sejumlah kondisi yang menyebabkan media massa saat ini justru cenderung meneguhkan persepsi kolektif tentang perempuan dalam cara yang merendahkan.

 

Kondisi utamanya adalah bahwa media massa saat ini telah berkembang menjadi industri yang, sebagaimana lembaga bisnis lainnya, menempatkan penciptaan-keuntungan sebagai prioritas pertama. Ini berbeda dengan media di masa lalu, di mana karakter bisnis media berada di bawah idealisme politik atau social-budaya. Dalam sosok kontemporer ini, perempuan jadinya cenderung ditempatkan sebagai elemen untuk menarik perhatian khalayak. Perwujudan eksploitasi tampil dalam bebagai wujud berbeda di beragam media, yang berkisar dari: penampilan penari latar dengan pakaian serba minim dan gerakan sensual dalam klip video-musik di televisi dan VCD, penampilan model atau artis terkenal di sampul depan majalah dan tabloid dengan pose yang menonjolkan daya tarik seksual, poster-poster bioskop yang sangat terbuka menampilkan gambar para pemeran wanita dalam pose yang menonjolkan daya tarik seks*ual, sampai pemberitaan atau penuturan ‘kisah sejati’ tentang kasus perkosaan yang ditampilkan justru dengan cara yang jelas-jelas diarahkan untuk membangkitkan gairah seksual pembacanya.

 

Begitu pula, sebagai lembaga bisnis, media massa akan cenderung menyajikan muatan yang tidak bertentangan dengan ‘arus utama’ budaya masyarakat. Celakanya, karena yang masih dominan adalah budaya patriarkis yang memang percaya pada superioritas pria atas perempuan, maka media massa tidak akan berani mengambil risiko menentang secara terbuka nilai-nilai tersebut. Kalau saja para pengelola media massa beroperasi atas dasar motivasi mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik, mereka akan menyajikan muatan yang akan mengubah secara perlahan cara pandang tentang perempuan, Namun, karena motivasi pencarian keuntungan lebih dominan, mereka menjadi bekerja dengan lebih pragmatis: ketimbang menyajikan karakter perempuan yang tidak mengikuti sosok ideal perempuan (seksi, cantik, mulus) dan berisiko ditolak ‘pasar’, media akan cenderung menampilkan karakter yang konsisten dengan cara pandang umum tentang bagaimana seharusnya perempuan tersaji di depan publik.

 

Ini yang menjelaskan mengapa misalnya media massa yang dipimpin oleh para tokoh yang selama ini dikenal sebagai kaum yang tercerahkan tetap menyajikan iklan-iklan mobil yang di dalamnya terpampang sosok gadis cantik berpakaian minim misalnya; atau menampilkan pembawa acara yang nilai utamanya lebih pada keunggulan fisik ketimbang kecerdasan; atau menyajikan para penari latar dengan senyum lebar yang mati-matian memperagakan tubuhnya. Para pengelola media tersebut akan berargumentasi bahwa memang itulah yang dikehendaki ‘pasar’. Namun masalahnya, tentu saja, ketika perempuan terus menerus diposisikan pertama-tama sebagai objek seks, peminggiran dan pelecehan perempuan menjadi terus bertahan,  memperoleh penguatan serta pembenaran.

 

TEORI-TEORI EFEK MEDIA

 

Ada beberapa argumen yang kerap dilontarkan untuk membela diri terhadap kecaman dan kekhawatiran mengenai efek media. Rangkaian pembelaan yang sering dilontarkan misalnya adalah: media massa memiliki dampak terbatas pada khalayak karena khalayak pada dasarnya mempersepsikan media sebagai sesuatu yang sekadar ‘menghibur’, sekadar main-main, tidak nyata. Atau argumen bahwa media massa sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai faktor utama atau faktor tunggal yang mempengaruhi persepsi masyarakat, karena media pada dasarnya sekadar mencerminkan budaya dominan masyarakat dan sebenarnya ada banyak agen sosial  lain yang mempengaruhi masyarakat: keluarga, sekolah, lembaga-lembaga agama.

 

          Kendatipun ada kebenaran dalam argumen tersebut, tetap saja itu tak bisa digunakan untuk meremehkan efek media dalam isu perempuan ini. Pertama-tama, kalau stereotip tentang perempuan itu hanya muncul sekali-sekali di media, efeknya tentu saja terbatas. Begitu juga kalau masyarakat terdiri dari orang-orang berpendidikan tinggi yang kerap terlibat dalam diskusi tentang ketidaksetaraan gender, efek penggambaran perempuan dalam stereotip yang merendahkan itu tentu tidak besar. Namun masalahnya masyarakat terdiri dari beragam manusia, dengan beragam latar belakang pendidikan, beragam usia, yang secara terus menerus menerima penggambaran perempuan dalam cara yang konsisten.

 

          Media massa memang bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh, namun media massa telah berkembang menjadi agen sosialisasi yang semakin menentukan karena intensitas masyarakat mengkonsumsinya. Efek media juga akan semakin kuat mengingat sosok perempuan yang ditampilkannya adalah dalam cara yang  memperkokoh stereotip yang sudah terbangun  di tengah masyarakat.

 

          Dengan demikian, media massa memang bukan yang melahirkan ketidaksetaraan gender. Namun media massa jelas memperkokoh, melestarikan, dan bahkan memperburuk segenap ketidakadilan terhadap perempuan dalam masyarakat.

 

Ketika media massa menyajikan imej tentang perempuan secara konsisten,  orang menjadi menyangka bahwa pilihan yang paling logis adalah mengikuti apa yang nampak sebagai kecenderungan umum itu sebagaimana disajikan di media. Sebagai contoh, seorang wanita yang cerdas, memiliki kecakapan, yang sangat percaya diri, bisa saja akhirnya merasa harus tampil dengan rok ketat dan minim di kantor karena menganggap bahwa penampilan seperti itu adalah pilihan yang paling ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Ia tak sadar bahwa dengan tampil seperti itu ia sebenarnya sedang mendukung stereotip bahwa seks adalah kekuatan utama seorang perempuan. Bahkan perlahan-lahan, ditemukan rangkaian justifikasi untuk meneguhkan stereotip tersebut.

 

          Ketika perempuan terus menerus ditampilkan sebagai objek seks di media, maka khalayak pria akan menerima pembenaran dalam memandang bahwa perempuan pada dasarnya adalah kaum yang fungsi utamanya adalah  memuaskan nafsu seksual pria.  Dengan demikian, perempuan diturunkan derajatnya sekadar sebagai objek seks. Akibatnya, tertanam anggapan bahwa ‘kekuatan’ utama perempuan adalah tubuhnya, bukan faktor-faktor lain seperti: keunggulan intelektual, kepribadian, keluasan wawasan, kecakapan bekerja, dan sebagainya. Sebuah penelitian misalnya menunjukkan bahwa kelompok pria yang disuguhi film yang sarat dengan adegan seks, kemudian bertemu dan berbicara dengan seorang wanita yang berpenampilan seksi, ternyata perhatiannya lebih tertuju pada tubuh si wanita ketimbang apa yang dikatakan si wanita.

 

          Lebih jauh lagi, karena perempuan dianggap sebagai sekadar mahluk yang keunggulan utamanya adalah daya tarik seksual, kaum pria tidak merasa bersalah untuk memperlakukannya sekadar sebagai ‘permainan seks’. Cara pandang ini, pada gilirannya, mendorong pria memperlakukan perempuan sebagai kaum yang derajatnya lebih rendah. Ini yang menyebabkan banyaknya praktek pelecehan seksual yang dilakukan secara tidak bersalah oleh kaum pria.

 

          Dengan demikian, peran media massa dalam hal ini sama sekali tidak bisa dipandang remeh. Media massa bukan saja mengajarkan, tetapi juga meneguhkan skema yang sudah terbangun, memberi pembenaran atau bahkan mendukung kondisi yang memfasilitasi praktek-praktek penindasan perempuan.  Tentang efek berjangka panjang ini, kita bisa menggunakan isu efek media dalam hal perkosaan atau kekerasan terhadap perempuan.  Dalam hal ini, harus ditekankan bahwa dampak media mungkin tidak sesederhana seperti yang dibayangkan sebagian pihak. Terlalu berlebihan untuk menganggap bahwa karena menonton film atau membaca majalah atau membaca buku yang mengandung muatan seks, seseorang melakukan perkosaan.

 

          Namun media memang bisa menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam hal mendukung meningkatnya kasus-kasus perkosaan. Pertama-tama,  seks di media merangsang hasrat seksual orang. Dalam hal ini, bila seorang pria terus menerus mengkonsumsi muatan seks melalui media, ia akan merasakan kebutuhan mendesak untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Sebagian orang memang bisa menahan diri atau mengalihkan perhatian pada kegiatan lain. Namun ada sebagian kalangan yang merasa harus menyalurkan hasrat seksualnya. Dalam hal ini pun, sebenarnya ada sejumlah pilihan penyaluran: menyalurkan dengan cara masturbasi atau dengan melakukan hubungan seks. Masalahnya ada sebagian kalangan yang merasa tidak puas hanya dengan masturbasi namun juga tidak memiliki pasangan untuk melakukan aktivitas seksual. Kalangan inilah yang berpotensi melakukan perkosaan, dan lazimnya kejahatan itu dilakukannya terhadap mereka yang tidak berdaya untuk melawan, misalnya anak-anak, wanita yang mengalami ketidakseimbangan jiwa atau mereka yang profesinya membuat mereka tidak berdaya, seperti pembantu rumah tangga.

 

          Di pihak lain, media menyuburkan perkosaan karena media lazim menempatkan perempuan sekadar sebagai objek seks dan lazim menyajikan tindak kekerasan seksual sebagai sesuatu yang, biasa-biasa saja, ‘menyenangkan’, tanpa menggambarkan penderitaan perempuan  yang menjadi korban perkosaan.

 

          Pria tidak akan melakukan perkosaan bila pria menghormati perempuan sebagai manusia yang bermartabat, bila pria percaya bahwa perkosaan adalah sebuah kejahatan yang tidak manusiawi, bila pria percaya bahwa pemaksaan hubungan seks adalah sesuatu yang membuat korban menderita, atau dengan kata lain, bila pria menganggap perkosaan sebagai tindakan yang tidak boleh dilakukan.

 

          Masalahnya, media justru menciptakan imej di kepala penontonnya bahwa perempuan memang pada dasarnya hadir untuk melayani hasrat seksual pria. Dalam hal perkosaan, media bisa saja justru menggambarkan proses perkosaan secara terperinci sehingga mendorong konsumen pria untuk membayangkan hal tersebut dalam benak mereka atau bahkan terdorong untuk melakukan hal serupa. Tak jarang pula media menampilkan perkosaan sebagai hal yang bisa sama-sama dinikmati baik oleh si pemerkosa maupun oleh yang diperkosa, atau bahwa perkosaan adalah ‘kejahatan ringan’ atau bahwa si korban sebenarnya tidak menderita. Ilustrasi di awal tulisan ini dapat memberi gambaran tentang bagaimana sebuah pertunjukan komedi di media bisa turut mendorong masyarakat menjadi tidak sensitif dengan perkosaan.

          Dengan demikian, eksploitasi seks di media barangkali memang tidak memliki dampak langsung pada perkosaaan, namun jelas menciptakan kondisi yang mendorong atau menyuburkan perkosaan.

 

          Eksploitasi perempuan dalam media tidak berarti eksploitasi terhadap mereka yang terlibat sebagai sebagai model misalnya. Para perempuan yang terlibat sebagai model kemungkinan besar melakukannya demi memperoleh pemasukan uang atau ketenaran. Hanya sedikit para pemeran yang terlibat karena paksaan atau ancaman fisik. Jadi kalaupun mereka tampil dalam adegan diperkosa, mereka tentu tidak sungguh-sungguh diperkosa.

 

          Para wanita yang tampil itupun tidak selalu hadir dalam tampilan yang nampak tertekan, terintimidasi atau tertindas. Banyak artis perempuan di media yang menonjolkan daya tarik seksual mereka secara sangat terbuka dan dengan kesan bahwa mereka sepenuhnya memegang kendali atas tubuh mereka. Artis seperti Madonna misalnya memandang bahwa ia sebenarnya yang menguasai  pria yang menonton pertunjukan panggung atau menyaksikan klip video atau yang sekadar mendengarkan rekamannya. Para pembelanya berkilah, bahwa pria penonton  hanya bisa bersikap pasif dan didikte oleh kekuatan atraksi Madonna. Begitu juga dengan artis dangdut kontroversial di Indonesia, Inul. Para pendukungnya menganggap bahwa Inul sama sekali tidak dieksploitasi, karena ketika bergoyang pantat di panggung, Inul sepenuhnya memegang kendali atas gerakan-gerakannya, sementara penonton hanya dibiarkan tercengang dan menahan nafsu menyaksikan adegan yang disajikan Inul.

 

          Yang dilupakan oleh para pembela tersebut adalah bahwa dalam pembentukan persepsi kolektif, yang terpenting bukanlah penggalan-penggalan informasi secara terpisah-pisah. Dalam hal ini, tampilan seksi Madonna dan Inul akan dimaknai khalayak dalam skemata gender yang sudah terbangun sebelumnya. Dengan kata lain, yang dibaca oleh khalayak pria bukanlah ‘kemandirian’ para artis tersebut, melainkan kesediaan artis tersebut untuk menonjolkan daya tarik seksual mereka yang mengkonfirmasi persepsi mereka bahwa nilai lebih perempuan pada dasarnya adalah ‘keseksian, keindahan, kecantikan’ dan kualitas-kualitas fisik lainnya.  Akibatnya perempuan seharusnya bersedia diperlakukan bukan sebagai mahluk yang berpikir dan bermartabat, melainkan sebagai mahluk yang harus senantiasa menonjolkan kemolekan tubuh dalam rangka memuaskan nafsu pria.

 

          Dengan demikian, Madonna dan para artis lain dengan karakteristik serupa hanya seolah-olah independen, tanpa mengubah secara serius stereotip tentang perempuan dalam masyarakat.  Alih-alih mengubah cara pandang masyarakat tentang perempuan, mereka justru memperkokoh eksploitasi terhadap kaumnya.  Penyanyi seperti Madonna misalnya menjadi kaya raya terutama karena keberaniannya untuk tampil secara kontroversial, termasuk keberaniannya untuk menampilkan adegan seks dalam pertunjukan panggung maupun klip videonya. Namun tanpa ia mungkin sadari, ia memperkokoh cara pandang bahwa perempuan pada dasarnya adalah ‘objek seks’. Lebih jauh lagi, industri media akan terus mendukung tampilan-tampilan bercorak Madonna karena memperoleh keuntungan finansial dan imej sekaligus. Secara bisnis, tampilan seksi Madonna sangat menjual. Secara imej, industri nampak sebagai peduli pada gagasan kesetaraan gender yang, pada gilirannya, dapat meredam serangan-serangan kaum pembela hak perempuan.

 

          Dengan demikian, media massa sangat mungkin mengukuhkan  penindasan terhadap perempuan ini dalam beragam cara yang mungkin tidak ‘diniatkan’.  Bahkan materi seks yang tidak mengandung eksploitasi perempuan pun, dalam jangka panjang, bisa merugikan perempuan. Ambillah contoh adegan-adegan seks yang nampak penuh gairah dan dilakukan dengan ‘suka sama suka’ dalam film-film yang saat ini dapat dengan mudah ditonton remaja. Masalahnya, film-film ini berpotensi mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks di luar pernikahan sejak dini. Tanpa disadari, ini berdampak pada rangkaian persoalan lebih jauh, yang menjadikan perempuan dan anak sebagai ‘korban utama’. Sebagai contoh, kehamilan remaja menyebabkan remaja (terutama kelas menengah bawah) putus sekolah. Dalam kasus-kasus seperti ini, pihak pria yang menghamili kerap meninggalkan begitu saja korbannya. Si ibu muda ini mengalami ‘stigma sosial’, dan terpaksa bekerja dalam lapangan pekerjaan terbatas, sehingga terpuruk dalam ketertinggalan ekonomi. Sebagian dari ibu muda ini bahkan, dengan segenap keterbatasan pendidikannya, terpaksa memilih bekerja sebagai pekerja seks komersial.  Dalam kasus lain, si remaja perempuan yang ditinggalkan pria yang menghamilinya memilih untuk menggugurkan saja kandungannya. Namun mengingat aborsi adalah praktek melanggar hukum di negara ini, dan biaya   aborsi illegal di jasa layanan kesehatan modern adalah sangat mahal, ia terpaksa menggugurkan kandungan dengan cara yang membahayakan jiwanya. Dalam kasus lain, si ibu memilihkan melahirkan bayi, untuk kemudian membunuh sang bayi begitu bayi itu lahir.

 

          Jadi media massa kerap menyajikan produk yang sangat tidak bersahabat dengan perempuan. Bukan saja proses pembuatannya sering mengorbankan perempuan, media juga membangun persepsi yang salah mengenai perempuan dan mendorong pria melakukan aktivitas seksual yang merugikan perempuan dan membuat perempuan menderita.

 

          Yang lebih bermasalah tentu saja adalah pornografi, yakni media yang muatan utamanya adalah seks. Berbagai studi ilmiah bisa dikutip untuk menunjukkan efek negatif tersebut.  Studi Zilmman dan Bryant (1982, h.15) misalnya, menemukan bahwa mereka yang terekspos berulang kali pada film-film seks akan cenderung menganggap praktek-praktek seksual seperti anal intercourse (hubungan seks melalui belakang) atau sadomasochism (hubungan seks yang melibatkan penyiksaan), sebagai hal yang lumrah berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Persepsi ini menyebabkan mereka menganggap kebanyakan orang memang lazim melakukan hal-hal tersebut dan dengan demikian adalah tidak salah untuk meminta pasangan seksualnya melakukan hal serupa. Padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa umumnya perempuan tidak bisa menikmati hubungan seks dengan cara itu.

 

          Dalam studinya terhadap pornografi non-kekerasan, Dolf Zillman dan Jennings Bryant (1982) menyimpulkan bahwa tatkala objek penelitian terekspos berulangkali pada pornografi, mereka: [1] menunjukkan peningkatan ketidaksensitifan terhadap perempuan; (2) cenderung menganggap perkosaan sebagai kejahatan ringan; (3) cenderung memiliki persepsi menyimpang mengenai seksualitas; (4) menunjukkan peningkatan kebutuhan akan tipe-tipe pornografi yang lebih keras, dan menyimpang; (5) cenderung meremehkan arti penting monogami dan kehilangan kepercayaan terhadap perkawinan sebagai lembaga yang layak; (6) cenderung melihat hubungan di luar monogami sebagai perilaku normal dan alamiah.

 

Dengan demikian dampak pornografi adalah juga pada menciptakan kondisi yang menyuburkan atau mentoleransi bentuk-bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Studi Malamuth dan Donnerstein sebagaimana dikutip Cline(483) menunjukkan bahwa sejumlah bentuk pornografi agresif dapat mempengaruhi sikap agresif terhadap perempuan dan menjadikan individu tidak sensitif terhadap perkosaan. Dalam studi tersebut, Malamuth menguji apa dampak yang ditimbulkan aktivitas menonton serangkaian film pronografi yang mengandung muatan kekerasan seksual (seperti perkosaan) terhadap sekumpulan responden pria. Dalam film-film tersebut, digambarkan bahwa kaum wanita yang menjadi korban akhirnya terlihat menikmati perkosaan tersebut. 

 

          Malamuth menemukan bahwa dua pertiga dari responden pria yang yang menonton film tersebut, menunjukkan peningkatan kesediaan untuk memaksa perempuan melakukan hubungan seks apabila mereka memperoleh jaminan tak akan mendapat ancaman hukuman. Dengan demikian, Malamuth menyimpulkan bahwa pengenaan terhadap film-film pornografi akan menghilangkan sensitivitas terhadap perkosaan serta meneguhkan mitos perkosaan bahwa wanita yang menjadi korban sebenarnya mengatakan ‘ya’ tatkala dia mengatakan ‘tidak’.

 

Dalam penelitian sejenis oleh Seymour Feshback, 51 persen mahasiswa ‘normal’ di University of California di Los Angeles menyatakan mereka mungkin melakukan perkosaan sadomasokis (yang dipertunjukkan dalam materi pornografi) seandainya mereka dijamin tak akan dihukum.

 

          Penelitian Bryant dan Rockwell (Harris & Scott, 314) menemukan bahwa remaja yang sering mengkonsumsi video seks cenderung longgar dalam hal penilaian mengenai apa yang tidak pantas dalam hubungan seksual dan seberapa jauh korban kekerasan seksual sebenarnya turut terlibat dalam kekerasan tersebut.

 

KATA AKHIR

 

Sebagaimana diutarakan di awal, tulisan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa penggambaran imej perempuan di media yang mengikuti sebuah pola tertentu yang konsisten memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan persepsi tentang perempuan yang, pada gilirannya, mempengaruhi bagaimana cara perempuan diperlakukan dalam kehidupan nyata.

 

Dengan segenap kekuatannya, media massa telah berperan sebagai agen sosialisasi yang mengajarkan, memelihara, meyakinkan, dan memberikan pembenaran terhadap skemata gender yang pada dasarnya melanggengkan kondisi-kondisi yang menjadikan kaum perempuan Indonesia hidup dalam situasi yang  memprihatinkan.

 

Di satu sisi, penyebab dari ketidaksensitifan media terhadap isu gender tersebut adalah masih minimnya pemahaman mengenai efek ketidaksetaraan gender terhadap kehidupan kaum perempuan. Dalam hal ini, isu kesetaraan gender kerap dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan atau sekadar diimpor dari Barat. Dengan demikian, bertahannya stereotip negatif tentang perempuan di media berlangsung tanpa melibatkan perasaan bersalah di kalangan praktisi media karena mereka menganggap  penggambaran tersebut memang bukan sesuatu yang pantas dirisaukan secara serius.

 

Di sisi lain, pelanggengan imej perempuan sebagai ‘mahluk seksi dan cantik’ itu juga berlangsung karena nilai ekonominya. Ini terjadi karena dominasi sosok bisnis dalam kehidupan media semakin mengemuka, sehingga yang menjadi perhatian utama adalah menemukan cara untuk meningkatkan keuntungan secara nyata. Dalam hal ini, bisa saja para praktisi media sebenarnya telah memiliki kesadaran akan arti penting kesetaraan gender, namun karena logika pasar yang lebih dominan, kesadaran tersebut dikalahkan oleh pertimbangan ‘mana yang lebih menguntungkan secara bisnis?’.

 

Dengan demikian,  seandainya tidak ada upaya untuk terus menerus untuk mengkampanyekan arti penting kesetaraan gender dalam media massa, sangat sulit untuk mengharapkan akan berlangsung perbaikan imej perempuan melalui agen sosialisasi yang semakin menempati peran signifikan dalam kehidupan masyarakat tersebut.  Dan bila itu terus terjadi, media massa akan terus punya kontribusi terhadap segenap bentuk penindasan terhadap perempuan yang berlangsung hari demi hari.

 

 

Daftar Kepustakaan

          DeVito, Joseph. Interpersonal Communication Book.

          Dworetzky, John P. Psychology, 3rd ed. St. Paul: West Publisihing Company, 1988.

          Griffin, E.M. A First Look at Communication Theory, 3rd ed. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc., 1997.

          Samovar, Larry A. et.al. Understanding Intercultural Communication. Belmont: Wadsworth Publisihing Company, 1981.

          Severin, Warner J dan James W Tankard.. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media, 4th ed. New York: Longman, 1997.

Zanden, James W. Vander. Social Psychology. New York: Random House, 1984.

Iklan
Ditulis dalam Mass Media. 3 Comments »

3 Tanggapan to “Dan Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu ………..”

  1. pelosokdesa Says:

    buat bacaan cukup reflektif mas, terimakasih

  2. a3u5z1i Says:

    sebuah persepsi masyarakat di masa ini…
    padahal, wanita dan pria adalah sepasang makhluk yang saling melengkapi satu sama lain, saling menyayangi satu sama lain, dan saling mencintai satu sama lainnya…

  3. a3u5z1i Says:

    Oh iya, kalau bisa font-nya jangan terlalu besar yask..
    agak susah membacanya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: