Koran Tempo, RAPP dan Ancaman atas Demokrasi

 

 

Artikel ini membahas soal dimenangkannya gugatan atas Koran Tempo oleh PT RAPP milik pengusaha Soekanto Tanoto. Semula tulisan ini diminta oleh redaksi koran Seputar Indonesia. Tapi kemudian Dewan Redaksi koran itu menganggap tulisan saya terlalu memberi porsi pada Tempo yang merupakan pesaing Seputar Indonesia, sehingga mereka menolak memuatnya.

Dimenangkannya PT RAPP (PT Riau Andalan Pulp and Paper) oleh Pengadilan negeri Jakarta Selatan dalam kasus tuntutan terhadap Koran Tempo menunjukkan bahwa persoalan demokrasi di Indonesia masih menghadapi ancaman serius.

Beberapa hari yang lalu (3/7/2008),  hakim memerintahkan Tempo untuk membayar denda sekitar Rp 220 juta, serta meminta maaf pada RAPP melalui enam suratkabar Jakarta, serta melalui dua stasiun televisi selama tujuh hari berturut-turut. Pengadilan memutuskan bahwa Tempo memang bersalah karena telah merugikan nama baik perusahaan.

Sekadar sebagai kilas balik, kasus ini bermula dari tiga berita di Tempo pada Juli 2007 yang terkait dengan pembalakan liar di Riau pada Juli 2007. Mengutip keterangan dari kepolisian Riau dan LSM, Tempo menurunkan laporan bahwa PT RAPP di bawah Grup Raja Garuda Mas milik Sukanto Tanoto terlibat dalam pembalakan liar itu.

Pihak RAPP menganggap isi pemberitaan Tempo tersebut melanggar hukum karena  seolah-olah mengabarkan bahwa Soekanto memang secara faktual terlibat dalam aksi kriminal tersebut. Judul berita Tempo saja berbunyi: ”Polisi Bidik Soekanto Tanoto”.

Tim kuasa hukum RAPP menyatakan, Tempo telah mencampuradukkan fakta dengan opini dan membuat pemberitaan tanpa data akurat. Karena itu, mereka menilai Tempo telah melanggar asas praduga tak bersalah dan berita-berita tersebut telah mencemarkan nama baik RAPP.

Kubu RAPP mengajukan kasus ini ke pengadilan setelah  sebelumnya meminta Tempo memuat hak jawab dan meralat berita tersebut. Tempo memang sudah mengoreksi sebagian isi berita tersebut, namun langkah ini dianggap tidak memadai oleh RAPP karena ralat yang dibuatnya terlalu kecil dan singkat.

RAPP juga sempat mengirimkan sebuah tulisan yang ditulis oleh tim perusahaan itu sendiri dan menuntut agar Tempo memuat tulisan itu secara utuh tanpa pengeditan sedikit pun di halaman pertama.  Permintaan tersebut – yang dianggap RAPP sebagai “hak jawab” mereka – ditolak oleh Tempo. Setelah itu, RAPP maju ke pengadilan.

 

Kata akhir belum diputuskan karena Tempo masih mengajukan banding ke pengadilan lebih tinggi. Bagaimanapun, sikap pengadilan sejauh ini jelas mencerminkan adanya persoalan mendasar dalam memandang pers dalam konteks demokrasi.

 

Adalah benar bahwa media massa harus taat hukum dan menjalankan kegiatan jurnalistiknya dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip-prinsip dasar tentang keakuratan, objektivitas dan praduga tak bersalah. Media massa tentu saja tidak boleh memanfaatkan perlindungan atas kekebasan pers yang disediakan UU Pers untuk menghancurkan reputasi atau memfitnah dan menghina orang.

Namun pengadilan di setiap negara demokratis harus mempertimbangkan bahwa segenap prinsip tersebut bukanlah rangkaian hal yang bisa ditafsirkan secara tunggal.  Kalau media menyatakan bahwa tim Spanyol mengalahkan tim Jerman 2-0 di final Piala Eropa 2008, apakah itu berarti media telah melanggar UU pers karena telah menyiarkan berita dengan tidak akurat? Kalau media menggunakan istilah ’koruptor terbesar’ tatkala menulis soal Soeharto, apakah itu berarti media menjadi ”tidak adil” karena, bukankah belum pernah ada pengadilan di Indonesia yang memutuskan bahwa Soeharto memang pernah melakukan korupsi?

Karena itulah, pengadilan harus mempertimbangkan konteks. Karena itulah, pengadilan harus mengaitkan pemberitaan yang dipersoalkan dengan pertanyaan tentang ”niat” dan ”tujuan”. Penilaian terhadap dua pertanyaan besar itu hanya bisa diperoleh dengan mempelajari apakah media yang dimaksud sudah melakukan segenap hal yang diperlukan untuk menyajikan pelaporan yang adil dalam konteks melindungi kepentingan masyarakat luas.

Dalam hal ini, yang harus ditanyakan apakah ada cukup bukti yang bisa menunjukkan bahwa media memang memiliki ”niat dan tujuan jahat” dalam pemberitaan yang mereka sajikan. Media massa memang tidak mungkin sempurna. Media massa dapat melakukan kesalahan, dan kesalahan itu memang bisa berakibat buruk pada mereka yang diberitakan.

 

Pertanyaannya, apakah ”kesalahan” tersebut dilakukan dengan niat buruk mencemarkan nama baik atau sesuatu yang sangat mungkin terjadi akibat kelemahan dalam proses pembuatan berita. Pertanyaannya juga, kalau memang media tersebut menyajikan sesuatu yang mungkin berdampak negatif dan itu bukan dilakukannya untuk menjatuhkan reputasi, kira-kira apa ya tujuan akhir dari reportase itu – mungkinkah itu terkait dengan upaya mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaa, korupsi atau praketke-praktek lain yang merugikan masyarakat luas? Lebih jauh lagi, harus dipertanyakan, kalau memang terjadi ”kesalahan” apa yang dilakukan media ketika mereka menyadari bahwa kekeliruan telah terjadi.

 

Kasus Tempo menunjukkan bahwa suratkabar ini tidak pantas untuk menerima hukuman tersebut karena sejumlah hal. Pertama, Tempo berusaha mengoreksi dan meralat berita tersebut segera setelah mereka menerima protes RAPP. Mereka juga menawarkan wawancara khusus dengan Soekanto.

 

Kedua, berita itu sendiri tidak ditulis dengan serampangan, misalnya hanya dengan menggunakan narasumber anonim yang berceloteh panjang tentang Soekanto. Tempo menggunakan sejumlah narasumber yang otoritatif. Dalam pengadilan, Tempo menghadirkan dua saksi kunci dari kepolisian Riau yang mengakui bahwa pembalakan liar itu memang bukan sekadar isapan jempol. Lebih jauh ada saksi dan data yang menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan yang bertanggungjawab dalam pembalakan liar itu diketahui memiliki hubungan kemitraan dengan PT RAPP.

 

Dengan kata lain, kalaupun Tempo melakukan kesalahan dalam pemberitaannya, mereka sebenarnya sudah melakukan langkah-langkah yang wajib dilakukan para jurnalis dalam pengumpulan data. Bahwa ada kesalahan dalam proses yang rumit tersebut, itu sebaiknya dipandang sebagai ketidaksempurnaan yang alamiah, dan bukan kesengajaan untuk memfitnah atau mencemarkan nama baik.

 

Ketiga, hal yang dipersoalkan oleh tim kuasa hukum RAPP sendiri terkesan sangat mengada-ada.  Mereka misalnya mempersoalkan apakah pantas Tempo menggunakan kata ”bidik” dalam judul berbunyi: ”Polisi Bidik Sukanto Tanoto”. Menurut mereka, bukankah polisi sedang melakukan penyidikan yang belum tuntas, sementara kata ”bidik” hanya bisa digunakan kalau Sukanto sudah benar-benar dinyatakan bersalah

 

RAPP menuduh Tempo mencampuradukkan fakta dan opini, hanya karena Tempo menggunakan istilah “rakus”. Tim kuasa hukum berargumen, kata “rakus” adalah kata yang  merupakan opini redaksi dan bukan fakta. Rakus, menurut mereka,  adalah sifat yang berlebihan dalam memakan sesuatu, memakan lebih dari kemampuan – padahal tidak ada fakta yang mendukung bahwa Sukanto dan RAPP memang “rakus”.

 

Keempat, dan ini yang utama, pemberitaan tersebut harus dibaca sebagai upaya media menjalankan perannya sebagai pengawas lingkungan, pelaku kontrol sosial, sebagai pihak yang memang harus mengabarkan kepada publik masalah-masalah yang merugikan kepentingan masyarakat luas. Terutama dengan melihat reputasi Tempo selama ini, tidak berlebihan untuk menilai bahwa pemberitaan Soekanto itu dilakukan dengan niat baik, yakni demi kepentingan publik.

 

Karena itu, kalau Tempo dinyatakan bersalah, itu adalah sebuah kabar buruk yang akan menghambat media massa di negara ini menjalankan peran utamanya yang dibutuhkan dalam demokrasi dan perang melawa korupsi yang telah berurat berakar di Indonesia. Selama puluhan tahun, pers Indonesia diberangus. Kita sekarang harus membayar mahal kesalahan itu. Jadi, kalau sekarang pengadilan Jakarta Selatan menghukum Tempo seberat itu atas kesalahan teknis yang mungkin dilakukannya, para hakim di sana bisa jadi sedang mengembalikan proses penindasan rakyat Indonesia oleh mereka yang berkuasa.  

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: