HURU-HARA LIGA INGGRIS, ASTRO, AORA TV DST

 

Ditulis pada 17 Agustus 2008

Perkembangan mutakhir hak siar liga premier sepakbola Inggris (English Premiere League, EPL)  dan kiprah Astro Malaysia di Indonesia memasuki babak yang semakin buruk. Sekarang ini, bukan saja masyarakat luas yang dilecehkan, tapi keseluruhan sistem penyiaran Indonesia pun dijadikan bulan-bulanan.

Celakanya, Komisi Penyiaran Indonesia dan  Depkominfo termangu bodoh di pojok sana. 

Saat ini, mereka yang sudah membayar 200 ribu rupiah per bulan untuk berlangganan Astro pun sudah tidak bisa lagi menikmati siaran EPL. Penyebabnya sederhana: Astro berseteru dengan Direct Vision yang selama ini menjadi operator TV yang membawa isi siaran yang dibawa Astro ke Indonesia. Astro menyatakan menarik diri dari kerjasamanya dengan Direct Vision, dan dengan tenangnya mereka melenggang keluar.

Namun, itu tak berarti EPL akan hilang sama sekali dari layar televisi Indonesia. Astro sudah akan pindah dari Direct Vision ke sebuah operator tv berlangganan baru, AORA TV yang sejak awal Agusus ini sudah beroperasi. Hanya saja, untuk sementara migrasi ini masih berada pada tahap awal, sehingga segenap tayangan Astro secara lengkap diperkirakan bisa disajikan di AORA baru pada awal 2009 nanti.

Ini tentu menimbulkan banyak masalah. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia sudah bersuara keras tentang hak pelanggan Direct Vision. Direct Vision sendiri pasti sedang kelimpungan kehilangan pelanggan besar-besaran sekaligus mencari pengisi isi siaran alternatif selepas perginya Astro. Migrasi pelanggan dari Direct ke AORA juga pasti melibatkan  birokrasi dan dana yang besar.

Bagi banyak orang, segenap kekacauan ini sudah bisa diantisipasi terjadi karena memang tak ada aturan yang jelas ditetapkan oleh KPI dan Depkominfo mengenai industri televisi berlangganan di Indonesia. Industri televisi berlangganan kita dibiarkan berantakan. Dan contoh terbaik dari kekacauan ini adalah soal Astro TV.

KEKACAUAN DEMI KEKACAUAN

Astro, tentu semua tahu, datang dari Malaysia. Di negaranya sendiri, mereka adalah pemain tunggal. Dengan posisinya yang monopolistis itu, Astro bisa mempenetrasi 60 persen rumah tangga di Malaysia.

Dalam rangka memperbesar diri, Astro kemudian merambah ke Indonesia yang tingkat penterasi televisi berbayarnya masih sangat rendah. Untung bagi Astro, kebijakan di Indonesia sangat longgar. Tak ada pembatasan jumlah pemain televisi berbayar di negara ini.

Satu-satunya pembatasan di Indonesia yang menghambat ekspansi Astro ke Indonesia adalah ketetapan UU Penyiaran mengenai modal asing. UU Penyiaran kita tak mengizinkan pemain asing masuk begitu saja. UU menyatakan bahwa saham asing di lembaga penyiaran berlangganan di Indonesia adalah maksimal 20 persen. Karena itulah Astro masuk ke Indonesia pada 2005, melalui Direct Vision yang adalah anak perusahaan grup Lippo.

Masalah berikutnya adalah soal satelit siaran. Astro sejak awal membawa siarannya dari Malaysia melalui satelit Malaysia,  Measat-2,  yang sebenarnya tak memiliki apa yang disebut sebagai “hak labuh” (landing right) di Indonesia.  Saat itu hanya satelit milik Indonesia yang memiliki hak labuh di Indonesia.

Tapi, hambatan itu tak menghentikan langkah Astro. Perusahaan ini memang memiliki kedekatan dengan para petinggi Malaysia. Hubungan antar pemerintah pun dilakukan. Hasilnya, pemerintah Indonesia mengizinkan siaran Astro dipancarkan ke Indonesia melalui MEASAT-2. Untuk menyenangkan hati para pemain di Indonesia, dalam kesepakatan itu dikatakan bahwa kedua negara menerapkan asas resiprokal (timbal-balik). Implikasinya, satelit Indonesia pun seharusnya memiliki hak labuh d Malaysia.

Sekadar catatan, prinsip resiprokal ini jadi tak berarti karena pada saat yang sama, pemerintah Malaysia tak mencabut ketetapan tentang monopoli Astro dalam industri pay-tv di Malaysia. Akibatnya, walaupun  satelit Indonesia dapat memancarkan siaran ke Malaysia, itu tak dapat digunakan untuk kepentingan bisnis televisi berbayar di luar Astro. Padahal semula diharapkan dengan disepakatinya prinsip tersebut,  operator pay-tv Indonesia seperti Indovision bisa juga berbisnis memasuki pasar Malaysia. Tapi itu semua gagal diwujudkan karena, seperti biasa, pemerintah Indonesia begitu mudah dikadali.

Setelah Astro resmi beroperasi di Indonesia, masalah demi masalah muncul. Astro tahu tak mudah menembus pasar Indonesia. Karena itu, “tujuan menghalalkan cara”. Mereka tahu kuncinya adalah memaksa penonton Indonesia untuk berpindah dari operator pay- tv yang ada serta memaksa mereka yang sebelumnya tidak berlangganan pay-tv untuk mulai berlangganan pay-tv. Kuncinya adalah: monopoli siaran!

Karena itulah sejak 2007 , mereka memegang monopoli hak siar EPL, sehingga pertandingan-pertandingan liga sepakbola terpopuler itu tak bisa lagi disaksikan melalui  operator televisi berbayar lain dan juga tak bisa disaksikan oleh penonton televisi free-to-air. Strategi itu itu ternyata lumayan sukses. Dikabarkan, Dircet Vision hanya dalam satu tahun bisa memperoleh 60-80 ribu pelanggan. Masih jauh dari harapan Astro yang mentargetkan bisa memperoleh satu juta pelanggan, tapi bisa disebut sebagai kesuksesan terbesar dibandingkan pay-tv yang lain.

Tapi rupanya, Astro belum cukup puas dengan itu. Kabarnya, Astro  sebenarnya berharap bisa membeli 20 persen saham Direct Vision. Tapi kenyataannya sampai tahun ini, rencana itu tak kesampaian. Apapun persoalannya, Astro tahun ini pecah kongsi dengan Direct Vision.

Namun, itu tentu bukan keputusan yang dibuat mendadak. Begitu Astro putus hubungan dengan Direct Vision, hadir operator televisi berbayar baru: PT Karya Megah Adijaya (KMA)-perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki keluarga Rini Mariani Soemarno. KMA ini yang menjadi mitra baru Astro.

Brand yang digunakan KMA adalah Aora. Nama itu bisa disebut sebagai akronim Astro Nusantara. Aora TV juga akan menggunakan satelit Malaysia, MEASAT-3 yang menggunakan frekuensi KU-Band. Apakah MEASAT-3 sudah memiliki hak labuh di Indonesia? Tak jelas benar. Tapi siapa peduli?

Meloncatnya Astro dari Direct ke KMA tentu hal serius dipandang dari kebutuhan membangun industri yang sehat. Tapi nampaknya, tak akan ada kebijakan apapun  dikeluarkan oleh KPI dan Depkominfo. Akibatnya, perpindahan Astro berjalan mulus.

Menarik juga untuk mencatat bahwa pihak KMA adalah lembaga penyiaran berlangganan pertama di Indonesia yang memperoleh izin penyiaran tetap dari Depkominfo pada 31 Juli lalu. Mereka memeprolehnya sementara operator pay-tv lain – seperti Telkom Vision atau Indovision – masih menunggu proses penyelesaian izin dari KPI.

Barangkali ini ada kaitannya pula dengan siapa yang berada di belakang KMA.   Rini Soemarno dulu  dikenal sebagai Rini Suwandi, mantan menteri perdagangan era Megawati. Inevastasi awal KMA, menurut tabloid Kontan, baru Rp 40 miliar.Tapi mereka juga mengaku bahwa akan ada kucuran dana sampai Rp 450 miliar. Uang siapa? Bisa jadi, keluarga Soemarno. Tapi tolong catat satu hal: Presiden Direktur KMA adalah Ongki Sumarno, yang dulunya adalah Presiden Dikrektur salah satu anak perusahaan  Humpuss, grup bisnis milik Tommy Soeharto. Nah!

Keluarga Soemarno menguasai 95 persen saham KMA, sementara lima persennya lagi dimiliki bersama oleh sejumlah orang penting Golkar, termasuk – kabarnya —  Solihin Kalla, salah seorang putra Jusuf Kalla. Nah. Lagi!

SKANDAL EPL DI INDONESIA

Cerita hak siar EPL di Indonesia tahun ini juga tak kalah memalukannya.

Pihak yang menguasai hak siar EPL di Asia adalah ESS, yang merupakan kerjasama dua raksasa kanal olahraga berbayar di dunia: ESPN dan Star Sports. Sebelum masuknya Astro ke Indonesia, televisi free-to-air di Indonesia berhubungan dengan ESS untuk memperoleh hak siar EPL di Indonesia.  Sementara pelanggan pay-tv di Indonesia  menyaksikan EPL di dua channel: ESPN dan Star Sports.

Ini semua berubah tahun lalu, ketika Astro All Asia Network (induk Astro)  menyabet hak siar EPL di tiga negara: Malaysia, Indonesia dan Brunei.

Manuver Astro memang mengejutkan. Mereka membayar ESS 60 juta dolar untuk tiga musim EPL (dari 2007-2008 sampai 2009-2010) untuk memperoleh hak siar tiga negara sekaligus. Tapi mereka jelas bukan sekadar menghambur-hamburkan uang. Kalau diperinci menjadi per negara, Astro sebenarnya ”hanya” membayar 20 juta dolar AS untuk hak siar EPL di masing-masing negara selama tiga musim, atau  kurang dari 7 juta dolar AS per negara pada satu musim.

Manuver Astro mengacaukan pasar dalam negeri Indonesia. Sebelum Astro, pertarungan terjadi antar pemain di Indonesia untuk memperoleh hak siar di Indonesia saja. Misalnya saja, pada 2005-2006, TV7 membayar 4,4 juta dolar AS untuk satu musim EPL. Para stasiun televisi lokal ini tentu saja tak tertarik untuk bertarung memperebutkan hak siar tiga negara seperti yang dilakukan Astro.

Karena itulah, tahun lalu, Astro berjaya dengan hak siar eksklusifnya atas EPL di Indonesia. Dengan hak itu, Astro berhak meminta ESPN dan Star Sport untuk tidak menyiarkan satupun pertandingan liga Inggris melalui pay-tv di luar Astro.

Tapi  tahun lalu para operator televisi berbayar lain memprotes karena hak siar itu tidak pernah ditawarkan pada para pemain di Indonesia. Praktek itu dianggap tidak adil. Tahun ini, rupanya kecaman itu berusaha diredam dengan paktek akal-akalan yang sama sekali memalukan.

Sebelum EPL dimulai tahun ini, pihak ESS dan Astro tiba-tiba saja menawarkan hak siar EPL untuk musim 2008-9 dengan nilai fantastis: 25 juta dolar AS! Ini angka gila sebenarnya. Lebih gila lagi, mereka hanya menyediakan waktu empat hari bagi para operator televisi berbayar di Indonesia untuk menjawab tawaran. Jadi tawaran diajukan pada 8 Agustus, dan pihak yang tertarik diminta mengajukan kesediaan pada 11 Agustus, yang kemudian diralat menjadi 12 Agustus pagi. Bahkan dengan tambahan catatan, bila memang bersedia membeli, pihak yang tertarik sudah harus membayar uang muka pada 14 Agustus 2008.

Tanggal 8 Agustus adalah hari Jumat, sementara 12 Agustus adalah Selasa. Jadi bisa dibayangkan, para pengambil keputusan di empat televisi berbayar Indonesia harus mengambil keputusan sangat cepat hanya dalam waku empat hari, yang dua hari di antaranya adalah weekend!

Tapi yang tak dibayangkan Astro adalah, manuver itu ternyata justru membuat para operator televisi berbayar Indonesia bersatu. Empat operator pay-tv Indoensia (Indovision, First media, Telkom Vision, dan IM2) memutusan untuk  membentuk semacam ’konsorsium’ untuk menjawab tawaran ESS-Astro itu. Mereka bersama-sama menjawab bahwa mereka tertarik untuk  membeli hak siar tersebut dengan harga yang ditawarkan, dengan rencana bahwa mereka kemudian akan berbagi siaran selama sau tahun. Semangatnya adalah, pokoknya bukan Astro!

Melihat akal-akalan mereka berantakan, ESS kemudian mengumumkan  bahwa tawaran itu dibatalkan mengingat ”sudah ada tawaran pihak lain yang lebih menarik”. Tak ada penjelasan apa-apa mengenai siapa pihak lain itu. Tapi, tentu saja, siapapun tahu yang akan memperoleh hak siar EPL itu adalah Aora TV. Di Wikipedia saja, sudah ada entri Aora TV, yang di dalamnya termuat penjelasan bahwa ”Aora TV berhasil memperoleh hak siar Liga Utama Inggris di Indonesia untuk musim 2008-2009 yang semula dimiliki oleh Astro Nusantara”.

Apa yang terjadi itu menjelaskan betapa berantakannya sistem penyiaran kita. Semua berlangsung dengan  diketahui Depkominfo dan juga KPI. Tak ada satupun yang berbuat apa-apa. Tak ada regulasi. Tak ada intervensi. Kompetisi dipersilakan berlangsung sebabas-bebasnya. Tak ada kepedulian pada kepentingan publik. Tak ada kepedulian pada kepentingan industri nasional yang sehat.

Sekadar catatan, Singapura menolak kehadiran pemain asing dalam televisi berbayar mereka. Sekadar catatan pula, di Inggris sendiri, tak boleh ada monopoli siaran EPL. Di sana yang menyiarkan EPL adalah televisi berbayar Sky-Tv dan televisi publik free-to-air, BBC.

Menurut saya, sudah saatnya negara (dalam hal ini Depkominfo dan KPI) mengintervensi persoalan EPL. Kalau tidak, kita akan menjadi bulan-bulanan bisnis televisi dan olahraga internasional yang dengan seenak-enaknya menghisap kekayaan kita, seraya mengahancurkan industri pertelevisian di dalam negeri.

Kalau perlu negara turut campur dan mewakili stasiun-stasiun televisi dan operator televisi berbayar untuk berhadapan dengan industri asing. Kalau tidak, kita benar-benar akan jadi bulan-bulanan.  Harga hak siar Liga Inggris pada 2003, cuma 1,2 juta dolar AS untuk 62 pertandingan. Dua tahun berikutnya sudah melonjak menjadi 4,4 juta dolar AS. Kalau sekarang ESS berani mematok harga 25 juta dolar AS, itu menunjukkan betapa mudahnya kita dianggap dapat diadu-domba oleh konglomerat industri media internasional

Iklan
Ditulis dalam Mass Media. 33 Comments »

33 Tanggapan to “HURU-HARA LIGA INGGRIS, ASTRO, AORA TV DST”

  1. bedog delonge Says:

    Saya adalah salah satu customer ASTRO, dan rencananya saya akan berhenti menjadi customer astro. Hentikan monopoly negara asing, apalagi malaysia!!! FUUUCKKKKKK for Malaysia .Kalau memang begitu tidak perlu lagi siaran EPL di Indonesia, siaran ISL saja sudah cukup dan tidk perlu bayar lagi

  2. Octovary Says:

    Siang mas, salam kenal, nama saya Okki Sutanto..
    Saya member di milis jurnalisme, dan seringkali saya mengikuti tulisan mas. Jujur, meski tidak pernah kenal mas secara langsung, saya kagum dengan mas (khususnya setelah posting “Pengakuan ttg Ade Armando”).

    Tulisan mas tentang masalah siaran EPL ini sangat menarik dan informatif.. Baru saja semalam saya mengobrol dengan teman masalah siaran EPL, teman saya ini kesal karena tahun lalu ia pasang ASTRO semata untuk menonton EPL, eh malah sekarang ia tidak bisa menyaksikan EPL lagi. Ia malah beberapa waktu lalu ditelepon oleh pihak AORA TV untuk segera berlangganan Aora TV, namun teman saya ini ragu karena untuk saat ini channel tvnya masih sangat sedikit (sekitar 14 belas), memang harganya murah hanya 70rb, namun sepertinya harga akan naik saat nanti channel TV-nya sudah banyak..

    Kalau boleh, saya minta ijin mas untuk mempost tulisan mas ini di forum KASKUS, karena di sana banyak komunitas anak muda penggila EPL.. Saya yakin tulisan mas ini akan sangat berguna dan memberi informasi kepada mereka, bukan hanya sekedar sebagai informasi sepakbola, tapi lebih kepada betapa buruknya sistem penyiaran di indonesia, serta betapa liciknya pihak ASTRO..
    Boleh mas? 🙂

    Thanks in advance..

  3. jurig Says:

    betul mas semakin gila malingsia ini…mau coba2 ngajak perang…mereka tau pemerintah kita loyo..regulasi kita ga jelas…aturan amburadul…
    saya sebagai penggemar EPL plus pelanggan astro sangat kecewa dengan masalah ini….ASTRO DAN AORA ADALAH KUMPULAN MANUSIA SERAKAH! dan NAZIS !!!!! mulai detik ini kita boikiot dengan cara ga usah bayar biaya satu bulan kedepan,trus kalo mereka tanya saya akan bilang dengan senang hati SILAHKAN AMBIL PARABOLA DAN DECODERNYA di TONG SAMPAH!!!

  4. Patrick Hutapea Says:

    Bung Ade Armando,

    EPL, menurut saya, adalah kompetisi sepakbola terbaik di jagad ini. Kebanyakan penggemar sepakbola pasti tertarik utk menyaksikannya!

    Namun, apakah pemilik modal dlm dunia pertelevisian lokal tdk punya tanggung jawab moral utk mengangkat kompetisi sepakbola Indonesia ke tingkat yg lebih baik lagi?

    Oklah, terlepas dari carut-marut persepakbolaan Indonesia, sudah saatnya ada pihak-pihak yg berjuang demi supremasi kompetisi lokal di negeri sendiri. Dalam hal ini, media penyiaran lokal bertanggung jawab utk peliputan yg layak & tidak setengah hati.

    Mata saya cape bila menonton pertandingan & ulasan liga sepakbola Indonesia yg menggunakan kamera seadanya! Jgn harap ada ‘instant replay’ dgn ‘multi-angle’ ala EPL. Pasti penonton seperti saya banyak kehilangan momen penting.

    Lihat saja kiprah kompetisi sepakbola Jepang, J League. Jgn lupa jg dgn liga sepakbola Korea, K League! Kompetisi sepakbola lokal dapat menjadi raja di negeri sendiri, J League & K League adalah buktinya.

    Menyoal Astro Nusantara & Direct Vision,

    Saya pernah bekerja selama 2 bulan di Astro Awani, kanal berita Astro Nusantara (PT. Direct Vision). Astro Nusantara (PT. Direct Vision) punya keunggulan di bidang kanal-kanal khusus (‘channel line up’) yg dikelola sendiri, seperti Astro Awani (khusus berita), Astro Ceria (khusus program anak-anak), Astro Xpresi (khusus musik & gaya hidup), dsb.

    Namun, pengelolaan kanal-kanal tersebut disubkontrakkan, dialihdayakan, di-‘outsource’, atau apapun istilahnya ke PT. Adhi Karya Visi (AKV).

    AKV berperan sebagai penyedia isi siaran (‘content provider’) bagi Astro Nusantara (PT. Direct Vision). Terbersit sejumlah pertanyaan di benak saya, apakah UU Penyiaran mengatur tentang hal ini? Bagaimanakah kredibilitas pemberitaan bila pengelolaan media dijalankan dgn sistem di atas? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yg muncul.

    Salam,

    Patrick Hutapea

  5. adearmando Says:

    Bung Octovary, silakan saja diforward. Mereka itu memang nggak punya etika sedikit pun.
    Mudah-mudahan sistem penyiaran kita ke depan bisa lebih baik.

    Bung jurig (?), parabola dan decoder jangan dibuang ke tong sampah. Saya takut nanti Anda dituntut. Sial kan, sudah tidak nonton liga inggris, sudah keluar uang, diajukan ke polisi pula!

  6. Iwan Says:

    Kisruh siaran EPL bermula ketika Astro tiba-tiba mendapat hak siar eksklusif di angkasa Indonesia. Sebelum musim pertandingan 2007/2008 EPL bebas dinikmati pelanggan TV berbayar, apapun mereknya (First Media d/h Kabelvision, Indovision, IM2, Telkom Vision, dll) lewat channel ESPN atau Star Sport.
    Kejanggalan terjadi karena Astro menyebar siarannya lewat satelit asing, yang sebelum ini tidak diperbolehkan berdasarkan aturan hukum.
    Soal pembelian hak siar eksklusif menurut saya masih bisa diperdebatkan karena ini adalah deal bisnis biasa. Menjadi janggal karena Astro menabrak aturan soal hak labuh di Indonesia. Ingat, Astro mulai siaran sebelum hak labuh mereka peroleh. Atas kejadian itu saja kita boleh mengangkat alis dan berasumsi sudah pasti “ada apa-apanya”. Sekarang Astro yang bergandeng tangan dgn Aora TV, dan mengabaikan hak-hak pelanggan Direct Vision, jelas sebuah akal-akalan baru. Agaknya mereka memang ingin menguasai TV berbayar di Indonesia yang punya penduduk berjibun dengan mengakali hak labuh di Indonesia dan gimmick siaran EPL.
    Menurut saya kasus ini bukan hanya wilayah KPI tapi sudah harus diusut oleh KPPU maupun KPK dengan kemungkinan terjadi praktik penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi oleh Astro dan Depkominfo.

  7. Iwan Says:

    sambungan….

    Yang harus kita tuntut adalah melarang hak labuh dari satelit asing karena sudah merusak tatanan pasar yang kompetitif di Indonesia, selain bahwa kita juga tidak mendapat perlakuan yang setara dari pemerintah Malaysia.
    Kalau kita menuntut dengan keras pelarangan hak labuh satelit asing, otomatis soal hak eksklusif Astro jadi tidak relevan lagi, dan kita bebas menyaksikan tayangan EPL dari ESPN atau Star Sport seperi dulu lagi.

  8. Iwan Says:

    belum selesai….

    Tuntutan mencabut hak labuh siaran dari satelit asing amat sangat relevan karena faktanya hanya satu pemain yang diuntungkan, sementara tidak ada manfaatnya bagi persaingan tv berbayar secara umum di Tanah Air. Harga siaran tetap mahal, kualitas sama saja, pemasukan buat pemerintah juga belum jelas (apakah mereka membayar hak labuh yang cukup kepada Negara? Tidak jelas). Lebih dari itu publik secara umum sudah pasti dirugikan karena terjadi persaingan usaha yang tidak sehat, bahkan kemungkinan terjadi tindak pidana (dengan cara kolusi dan korupsi).

  9. JalanSutera.com™ Says:

    Pak Ade,

    Apakah peraturan-peraturan yang dibuat KPI itu tertinggal dibanding perkembangan teknologi? Kita lihat betapa mudahnya orang membuat televisi berlangganan. Comot konten dari sana-sini, kemudian dibundel dan akhirnya dijual. Apakah di luar negeri terjadi juga yang seperti ini? APakah ini adalah konsekwensi dari open-sky-policy?

  10. adearmando Says:

    Bung JalanSutera,
    faktanya adalah KPI sekarang ini tidak mengerti perkembangan teknologi dan industri.
    Ketika kisruh Astro mulai muncul tahun lalu, KPI memposisikan diri sebagai penengah, bukan sebagai regulator. Padahal UU menyatakan bahwa KPI — bersama pemerintah — harus mengatur dunia penyiaran. Nyatanya, menjadi penengah pun tak mampu.
    Ini bukan soal konsekuensi open-sky policy. Ini soal ketidakmampuan dan ketidakpedulian.
    Di luar negeri, kebebasan berkompetisi diiringi aturan ketat.

  11. hohoho Says:

    Apanya sih yang monopoly? Tuh Liga Italia sekarang hanya ditayangkan di Trans7 tapi KOK GAK ADA YANG PROTES MONOPOLY??????????????????

    Itu Astro/Aora TV beli hak siar liga inggris pakai duit, bung. Bayarnya muahaaaaaaaaaaaaaaaaaaal banget, trus udah bayar mahal gitu masa dibagi ke TV lain??? Ya kok enak banget?

    Sekali lagi, apanya yang monopoly? Astro/Auro gak melarang kalau ada TV lain di Indonesia yg berani beli liga inggris. Cuma mereka saja yang sanggup beli…

  12. Tyas Says:

    Rupertt Murdoch..beli beli pemain asing yang mahal mahal. hasilnya..liga inggris jadi liga yang paling menarik.. jadi mahal.. dan jadi dikomersial kan. kalo ada pay tv yang harus beli rights nya dgn harga mahal (banget), saya kira masih wajar kalo istilahnya mereka minta yg nonton ikut bayar. oya, setau saya, si aora itu bukan grup lippo. dan aora akronim dari Aris Ongki Rinidan Anda. ( keluarga Soemarno dan anda ). Tv lokal ( FTA) ga ada yg nyiarin kan? soalnya mereka mau beli rightsnya pake duit, tapi yg nonton ga pada bayar. jadi?ga ekonomis, sama kayak olimpiade. untung ada TVRI.

  13. adearmando Says:

    Sikap bung hohoho dan bung Tyas menunjukkan betapa mudahnya bangsa ini dibohongi.
    Kelicikan Astro Malaysia sudah sangat jelas: mereka membeli hak siar dari ESS (yang punya hubungan baik dengan mereka) untuk tiga negara, dan kemudian pura-pura menjualnya dengan harga tak masuk di akal di Indonesia. Setelah itu, dengan menyatakan tak ada yang tertarik, Astro di Indonesia menyatakan mereka memiliki hak tayang eksklusif di Indonesia.
    Membandingkan dengan Trans7 jelas tidak relevan.
    Menurut saya, sikap KPI dan Depkominfo harus jelas: siapapun yang merugikan Indonesia harus diusir dari negri ini!

  14. Tyas Says:

    Lha? trus gimana dong bung adearmando?
    Maunya gimana? mau bohong mau nggak, yang jelas emang ga ada yang gratisan sekarang. Liga liga yang lain juga udah di bikin eksklusif toh?
    Kalo emmang saya dibohongi, brati banyak dong media2 yang memberitakan kabar bohong. jadi mereka yang memberitakan juga kita tuntut.
    Ini murni bisnis.. liga inggris (ato lainnya) bukan hal premier buat manusia. kalo emang mampu.. nikmati tayangannya. kalau belum mampu, ya udahlah. ga usa pusing. ga bisa juga kita nuntut negara untuk ‘menggratiskan’ sesuatu.

  15. Ridwan Ricardo Says:

    Dear All
    Saya saat ini sedang bekerja di PT Direct Vision (ASTRO-NUS). Saat ini PTDV tidak lagi menyiarkan BPL dikarenakan internal problem antara Grup Lippo dan Astro Malay. Menurut saya yang dilakukan Astro Malay bukan Monopoli tapi Murni Bisnis. AORA mendapatkan BPL dengan asumsi “rugi” sebab indovision saja dengan 440.000 pelanggan mengestimasi “rugi” apalagi AORA. Namun dibalik itu semua, itulah mahalnya sebuah “Brand”. Aora tidak memiliki Brand seperti Astro jd harus ada strength point yang kuat yaitu BPL. Mari kita berpikir dewasa, dengan adanya ASTRO dan AORA saat ini industri Pay TV menjadi bergeliat dan banyak menyerap tenaga kerja Anak Bangsa. Semoga tulisan sederhana saya ini dapat memberikan penjelasan kepada saudara sekalian. terima kasih.

  16. adearmando Says:

    Bung Ridwan, berbisnis di Indonesia tentu saja boleh-boleh saja. Masalahnya, Astro itu datang dengan cara yang merugikan kepentingan konsumen dan membahayakan kompetisi yang sehat dalam industri pay-tv sendiri. Di negaranya sendiri, Astro Malaysia berposisi monopolistis. Di Indonesia, karena mereka tidak mampu mempenetrasi pasar dengan cara yang fair, Astro mengangkangi EPL yang sebelumnya bisa diakses dengan mudah oleh pay tv maupun tv free to air. Dan justru dengan berpikir dewasa, kita sebaiknya meminta Astro meninggalkan Indonesia, kecuali mereka mau main dengan cara yang bersih.

  17. adearmando Says:

    Buat bung tyas, persoalannya jelas: Astro Malaysia datang ke Indonesia dan memaksa rakyat Indonesia membayar tayangan yang sebelumnya bisa ditonton dengan gratis di sini?

    Saya juga heran kenapa cara Astro mengangkangi EPL itu disamakan dengan hak TV7 atas Liga Titalia dan hak RCTI atas Liga Spanyol. Perbedaannya jelas: yang satu memaksa rakyat Indoensia membayar 200 ribu, yang dua lainnya bisa ditonton secara gratis. Dan dulu sebelum ada Astro, walaupun EPL disiarkan oleh pay-tv Indonesia, tetap televisi free-to-air kita bisa menyajikan pertandingan-pertandingan terbaik EPL. Penyebabnya jelas kok: Astro Malaysia yang di Malaysia itu berposisi monopolistis, di sini justru menghalalkan secara cara. Herannya kok bangsa ini oke-oke saja ya dikadali semacam itu?

  18. Armada Says:

    Bung Ade, apakah anda orang MNC Indovision? Menurut saya dengan kehadiran Astro Nusantara, Aora TV, Bakrie TV dll akan membuat persaingan usaha pay TV di Indonesia menjadi lebih kompetitif, bandingkan pada waktu jaman MONOPOLI BY INDOVISION harga langganan waktu itu MAHALNYA MINTA AMPUN!!!! Jauuuuh melebihi UMR pada jaman itu. Sekarang harga langganan lebih kompetitif anda teriak2 bahwa ini suatu kekacauan? Menurut saya dengan makin banyaknya pemain baru pay TV akan semakin baik, semoga makin berlomba2 menyajikan konten yg lebih Indonesia. Dengan hadirnya Astro Nusantara content2 berbahasa Indonesia makin banyak, dubbing Indonesia dan text Indonesia jauh lebih banyak di Astro Nusantara daripada di pay TV lain. Semoga semua pada berpikir positif tentang hadirnya banyak pay TV baru.

  19. adearmando Says:

    Bung Armada.
    Janganlah kalau saya mengeritik Astro, Anda menympulkan saya orang Indovision.
    Banyak manusia tidak serendah yang Anda duga. Atau Anda sendiri orang bayaran Astro?
    Kembali ke pernyataan Anda: tentu saja kehadiran Astro bisa berdampak baik. Kompetisi memang meningkatkan kualitas dan mempermurah harga.
    Tapi ini kan tidak? Sebelum ada Astro, EPL bisa ditonton di berbagai pay-tv yang ada, dan bisa ditonton pula secara GRATIS di televisi free to air. Setelah ada Astro, orang harus membayar 200 ribu dan hanya dengan berlangganan ASTRO untuk menonton EPL. Menggunakan logika manapun, our life is much much better when thera was no ASTRO!
    Di masa itu, hanya orang kaya bisa berlangganan pay-tv. Tapi puluhan juta rakyat memperoleh hak yang sama untuk menyaksikan tontonan rakyat melalui free to air tv. Astro datang dan menghancurkan itu semua!
    Oh ya, tanya juga pada diri Anda sendiri, kenapa di Malaysia Astro itu monopolistik ya?

    ade

  20. Rangga Says:

    Benar Bung Ade,
    Saya juga pelanggan Astro karena BPL, tapi setelah membaca ulasan Anda dan sudah kadung kecewa dengan Astro, saya merasa tercerahkan.
    Ketika saya ditawari oleh Dealer Aora (yang dulunya Dealer Astro) untuk pasang Aora, saya sudah merasa dipermainkan dan terjajah oleh tontonan yang sebetulnya dr skala prioritas bukan hal yg urgent utk diadakan.
    Aniwei, thanks Bung Ade, keep writing!

  21. ENNO Says:

    SAYA SETUJU BUNG ADE….MINTA IJIN FORWARD…ARTIKELNYA YA????

    BUAT ARMANDA ATEK..ANTEK MALAYSIA….

    USIR ASTRO DARI INDONESIA…..

    BEGINILAH ORANG2 PENJILAT…TOBAT KAMU AR….INGET KELAHIRANMU….

  22. yrlaka Says:

    bung kenapa harus ribut memusingkan monopoly/ kalo gak mampu ya gak usah nonton toh gak nonton epl gak mati dan gak mempengaruhi hidup/ lagian diskusi mengarah ke nasionalisasi tapi anehnya kok pada bagga pada liga asing bukannya pada liga nasional

    dimana mana yang namanya pay tv pasti monopoly dan 3 september lalu kppu sudah mengeluarkan releas bahwa astro tv melalui direct vision tidak memalkukan monopoli siaran epl , kalo yang anda maksud hak informasi publik informasi apa yang bisa di dapat dari liga ingris kecuali siapa menang dan kalah , kalo hanya untuk informasi ini yang bung ade armando maksud, bisa ngintip di koran ada karena untuk mendapatkaninformasi di koran pun anda harus membayar keculi kalo minjam ,

    secara bisnis pay tv memang di foemulasikan untuk menayangkan content content exclusive karena untuk itulah ornag membayar, meski sama sama menayangkan nasional geografi tapi konten setiap pay station pasti berbeda.

    menurut survey , indonesia adalah negara yang paling tidak produktif ke 5 di dunia, setelah membaca posting posting di sini saya memaklumi survey ini, ya gimana mau produktif kalo kita sibuk nonton bola dari pada melakukan hal hal poduktive lainnya

  23. adearmando Says:

    Komentar bung yrlaka kembali menjelaskan kenapa bangsa ini begitu mudah dibohongi.
    Yang sedang dibicarakan di sini adalah prinsip-prinsip dasar policy penyiaran yang berpihak pada kepentingan amsyarakat luas dan yang menjamin persaingan usaha yang sehat.
    Perdebatan serius itu oleh bung yrlaka ini diturunkan menjadi obroln warung kopi bahwa “nggak nonton liga inggris pun nggak mati” atau “kenapa nggak baca aja hasil liga inggris di koran”…
    Negara ini menjadi begitu mudah dipecundangi — bahkan oleh Malaysia — karena cara berpikir yang simplistis semacam ini

  24. David Says:

    Mas Ade Armando,

    Anda seorang akademisi bukan?

    Kenapa bicara tidak seperti akademisi?

    Tolong anda jawab pertanyaan saya, dengan benar?

    1. Siapa pelaku pasar yang mendobrak industri pay tv indonesia sehingga lebih murah dan terjangkau?
    2. Sekarang era informasi, apakah bola, sinetron, dan tontonan tidak bermutu lainnya dari TV2 swasta Indonesia (walau sebagian juga bermutu) lebih baik dari National Geographic, Animal Planet, CNN, dan channel lain yang menawarkan informasi dan pendidikan bagi bangsa kita yang menurut anda pecundang?
    3. Apakah Pay TV lain, seandainya jawaban no 1 di atas tidak masuk ke Indonesia bersedia memberikan harga murah bagi rakyatnya sendiri? (baca Pay TV lain itu punya orang Indonesia!)
    4. Anda pandai berhitung? Coba hitung konsumsi rokok orang Indonesia. Katakanlah perokok Indonesia merokok 1 bungkus @ Rp. 8.000 X 30 Hari = Rp. 240.000,- Cukup bukan untuk langganan pay TV dan menyediakan informasi dan pendidikan buat diri dan keluarga? Kecuali lebih senang bangsa ini tetap disebut bangsa pecundang (oleh anda salah satunya) dan membiarkan anak2nya menonton sinetron tak bermutu dengan isi kekerasan, seks, kemewahan, dan fantasi2 murah?
    5. Ketika ada manfaat dari adanya operator TV baru baik lokal maupun asing, haruskah kita larang? Coba sebutkan potensi kerugian negara dari munculnya operator TV baru (astro, bakrie TV, aora TV, dll), terutama Astro? Berapa?
    6. Anda mau hitung-hitungan riil tentang salah satu manfaatnya? Latarbelakang saya pajak, jadi begini hitungan saya. Ambil contoh Astro di Indonesia, saya lihat Pajak Pertambahan Nilai saja dulu

    Ada 140 ribu pelanggan. Rata-rata 30 Saluran, per saluran biayanya 0,5 USD rata2 per pelanggan per bulan

    140 ribu * 30 * 0.5 USD = USD 2.1 Juta, PPN royalti luar negeri adalah 10% X USD 2.1 juta = USD 210 ribu per bulan X 12 = USD 2.5 Juta atau Rp. 22.5 Milliar (1 USD = Rp. 9.000)

    PPN atas penjualannya, katakanlah biaya langganan 200 ribu per bulan termasuk PPN, PPN nya adalah Rp. 18.181 X 140 ribu pelanggan = Rp. 2.5 Miliar per bulan atau Rp. 30 Miliar setahun.

    Belum lagi PPh 21 dari karyawan Astro mungkin 20 Miliar per tahun, sehingga total dengan mempertimbangkan sifat PPN (asumsi PPN yg dipakai yang dari penjualan), Rp. 30 Miliar + Rp. 20 Miliar = Rp 50 Miliar setahun.

    Oh iya, tagihan USD 20 Juta untuk liga inggris itu asli loh, dan hanya untuk Indonesia. TV lain ada yang berani bayar segitu? Kalaupun berani, ngomongnya aja berani, bayarnya gak berani. Bukan begitu?

    7. Anda mau yang kualitatif, silakan. Data apa yang anda punya yang menunjukkan kemudharatan dari keberadaan operator pay TV (khususnya Astro dan Aora)? Saya tahu kalau anak2 saya, orang tua saya menjadi lebih cerdas dari tontonan murah dari Astro kok! Bukan dari menonton sinetron dan channel Fashion itu loh!

    8. Saya setuju perlu regulasi yang adil (bukan kuat bukan ketat tapi ADIL), menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Singapura bisa anti investasi asing untuk TV, kenapa, karena mereka sudah mampu untuk menyediakan layanan TV bermutu dan terjangkau (INGAT BERMUTU, BUKANNYA SINETRON ATAU MALAH TV FASHION YANG UMBAR AURAT) Ngomong2 anda tidak protes Indovision tayangkan Fashion TV? Ngomong2 apa anda tahu Astro tidak boleh dan tidak akan tayangkan TV Fashion, dan juga memiliki sensor yang ketat? Coba anda lihat ketika ada tayangan operasi plastik bagian dada perempuan, di Astro itu di blur sehingga tidak tampak bagian yg dapat mengundang birahi, di Pay TV lain? I don’t think so! Urusan liga inggris itu urusan sepele, DPR tidak perlu ikutan, masalah izin AORA dipindah tangankan, masih banyak pengangguran, rakyat kelaparan, orang miskin tak bisa berobat.

    9. Boleh saya angkat isu lama? Masalah batasan kepemilikan asing 20% di penyiaran, konon MNC ikut mempengaruhi pemerintah? Masalah Astro black out siaran, konon orang-orang MNC menjagai kantor Menkominfo sampai salah satu orang penting di Negeri Ini sebagai penonton liga Inggris telepon Menkominfo. Kekecewaan MNC karena Astro tidak jadi gabung dengan MNC sehingga ada aksi balas dendam? Kekecewaan Lippo di PTDV karena AXIS (dulu NTS bisa dapat ijin operasi nasional) yang bikin kisruh Lippo dan astro. Apa anda tahu isu-isu ini? Atau anda pura-pura tidak tahu?

    10. Kemana idelisme anda? Saya dulu sempat salut sewaktu mendengarkan omongan anda di wilayah FISIP UI, tapi sekarang? Idealisme itu semangat untuk memperbaiki, bukan menghalang-halangi, apalagi menutupi rejeki orang lain (ingat PTDV dan AORA itu punya karyawan loh, orang Indonesia!).

    11. Anda tahu kisah tutupnya pabrik SONY di Indonesia? Tanya kenapa? Karena terlalu banyak peraturan yang menghalangi kegiatan usaha di Indonesia.

    12. Anda orang yang cerdas, mantan aktivis kampus, konon idealisme tinggi, kenapa tidak anda buat skala prioritas? Mana yang lebih penting sih? Bola atau informasi bermutu buat rakyat? Bola atau pendapatan negara? Bola atau pornografi? Astro (yang membuat murah Pay TV, menayangkan tayangan bermutu buat KELUARGA) atau MNC yang lama sekali menghalangi hak rakyat terhadap informasi (Mahal Kan Dulu!), menayangkan sinetron tak bermutu, menyalurkan channel Fashion yang kerap dengan Syahwat!????

    13. Ini ada peluang usaha bagi para penggila bola, anda bisa buka warung2 makan di tempat yg luas, pakai TV yg lebar, terus tayangkan liga Inggris. Kan warungnya ramai! Ada penghasilan di situ. Di tiap kelurahan kalau perlu. Tuh berfikir positif bisa mendatangkan rejeki kan?

    Angka 13 ini cukup untuk mengingatkan Mas Ade Armando untuk kembali ke jalur yang benar, selalu ada pilihan yang lebih baik dari masalah. Selalu ada jawaban dari masalah, selalu ada sumber dari masalah, dan sumbernya adalah orang-orang yang cenderung berpikir negatif dari suatu masalah yang belum tentu masalah. Kisruh MNC dengan Astro, Lippo dengan Astro, dan Penggila Bola dengan Astro. Anda termasuk yang condong dengan pihak mana? Astro? MNC? Lippo? Atau Penggila Bola? Yang benar itu tidak ada, yang ada yang paling mendekati kebenaran. Bukan begitu? Pak Pakar Komunikasi!!!

    Mohon maaf dan tetap semangat puasa!!!

    Dave

  25. adearmando Says:

    Bung Dave, saya tidak mengerti banyak argumen Anda. Kayaknya banyak lari ke mana-mana.
    Tapi, sebagai jawaban lebih lengkap terhadap kritik-kritik terhadap saya soal astro Malaysia, saya segera turunkan tulisan lain yang menjelaskan kejahatan Astro.

  26. Iwan Says:

    Bang Ade,
    Saya dukung anda 100%. Dari berbagai komentar yang antagonis (lebih mendukung Astro) mereka tidak punya argumen yang pro konsumen. Mereka jelas-jelas hanya mendukung atau berdiri di belakang “seupil” orang yang bekerja atas nama astro malaysia. Hampir semua perusahaan malaysia yang berinvestasi di Indonesia mencoba mengakali peraturan hukum yg berlaku di indonesia. Di sini memang bodohnya orang indonesia yang memang punya mental “gitu aja kok repot” dan begitu mudah “disuapi”.

  27. Iwan Says:

    Bung David, hitung-hitungan anda agak kurang cerdas. Saya pelanggan kabelvision (sekarang firstmedia), yang masih berafiliasi dengan lippo juga. Saya hanya bayar kurang lebih Rp 170rb per bulan untuk 30 channel lebih. Di dalamnya sudah termasuk ESPN dan Star Sports yang menyiarkan liga inggris (full).
    Lalu ada astro yang langganannya Rp 200rb. Saya khawatir anda agak sulit dalam hal hitung-hitungan jadi saya bantu menghitungnya kalau astro lebih mahal Rp30rb. memang ada tambahan channel lain, tapi itu tak penting buat sebagian orang. atau kalau mau fair selisih Rp 30rb bisa dibilang impas.
    Terakhir ada Aora TV yang langganannya Rp 1,7juta per tahun. Sekali lagi saya bantu hitung Bung David, aora per bulannya jadi Rp 142rb. jangan nyengir dulu, harus ingat harga segitu itu hanya untuk 12 channel dan bayar sekaligus. jadi aora tv ingin dapat untung dari bunga dan siaran yang isinya hanya sepertiga dari paytv lain?

  28. Ridwan Ricardo Says:

    Dear All
    Wah forum yang ada semakin seru jugabanyak orang pay tv rupanya. Bung Armando, sekali lagi saya ingin menanyakan kepada saudara apakah mampu televisi terestrial kita membayar US$ 25 Juta. saya rasa klo ada televisi swasta yang mampu pasti mereka akan bersaing. Yang dilakukan Astro maupun Aora (saat ini) sekali bukan monopoli tapi hukum dagang bung. Bung Arman, cara penulisan bung arman sangat terlihat kontra Malaysia. Bung, bisnis jangan dilihat darimana dia berasal tapi apakah investasi tersebut berguna bagi bangsa ini. Mengenai Astro dalam hal ini PT Direct Vision dia hanya sebagai carrier saja dalam liga Inggris, seluruh kebijakan tetap berasal dari ASTRO Malay.
    Wah Bung Arman kok bahasnya Astro terus , sekarang nih jamannya AORA liga Inggris di AORA nah bung arman…baca koran lagi ya 🙂
    Nanti bung Arman bilang AORA monopoli 🙂 heheheheh……tapi TV One bisa menayangkan ??!!! Pengertian Monopoli itu apa bung arman ? Buka kamus bahasa Indo ya 🙂 gbu all, salam damai

  29. adearmando Says:

    Ridwan yang kemungkinan besar orang Astro.
    Anda tiba-tiba ikut diskusi tanpa membaca keseluruhan tulisan sebelumnya.
    Akibatnya, Anda mengulang kesalahan para pendahulu Anda.
    Bahkan Anda menambahkan contoh-contoh kebusukan Astro.
    Soal TV-One itu, misalnya. Itu kan cuma akal-akalan, dengan menganugarehkan pertandingan paling tidak menarik pada free-to-air tv, maka dengan wajah dungu Astro akan berargumen: “Tuh kan kami tidak memonopoli…”
    Anda bahkan menambahkan bahwa Direct Vision itu hanya carrier, karena SELURUH KEBIJAKAN TETAP BERASAL DARI ASTRO MALAYSIA.
    Jadi kelihatan bukan akal-akalan mereka: menggunakan perusahaan Indonesia, tapi kebijakan ada di tangan Malaysia?
    Bung Ridwan, banyak kok orang dan perusahaan Malaysia yang baik. Tapi, definitely, Astro bukan salah satu dari mereka yang baik.

  30. Adada Says:

    He.. Rame juga neh forum.. Ya betul akibat dari sebuah KESERAKAHAN eh maksd gua Ekskluciif ala Astro jdi gonjang ganjeng deh… Dulu sblum Astro masuk, BPL ada di smua pay Tv di Indo lwat ESPN STARnya karena meskipun harga tinggi tpi mereka bagi2 sama rata Indovsn,Fist mdia,Tlkomvsion dll… Jdi smua kebagian trmasuk tV Trestial..
    Pinter bget tu Astro ngadalin kita.. Ha3.. Katanya Hak siar Mahal.. Orng Indo kgak mampu beli.. Ya iyalah orng Indonesiakan kgak SeSerakah Astro jdi Harga sgitu ya di Sare rame2 dan di bagi rata kyk jman dulu..

  31. isnu Says:

    Bagiku yang terpenting tayangan berkualitas……

    astro channel bagus… sayang sekarang lagi mati suri….

    Kenapa pertentangan pay Tv semakin ramai….
    Kenapa jadi anti malaysia……
    Walahualam bi sawab…

    Yang jelas……
    Kita semua sudah materialistis…. Semua diukur dengan uang… So menghalakan segala cara…….
    Hulunya dimana…………. Kebanyaken partai kaleee.. yaa..

    Sorrryyy… Bandung Surabaya… Ga Nyambung Yaaa……..
    Whuakakakakakakakakakaka….

    Peace man…. Daripada setressss…..!!!!

  32. Doize Says:

    Penjajahan di bidang media… Hilangkan kolonialisme… Hajar… Pemerintag bantuin atuh, jgn cuman bengong aja rakyatnya ditindas… Uang bukan segalanya, harga diri bangsa lebih di utamakan… Glory,glory man united

  33. axeem Says:

    satu begini…satu begitu…. sama saja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: