Film tentang Gereja yang Tidak Membuat Berang

Film Angels and Demons ternyata tak membawa kemarahan umat Katolik. Tanda-tanda baik konsiliasi Hollywood dan agama?

Kalaulah ada yang ditunggu para pecinta film tahun ini, salah satunya pastilah Angels and Demons. Film yang diangkat dari karya Dan Brown ini merarik perhatian antara lain karena potensi kontroversi yang mungkin ditimbulkannya. Film berdasarkan karya Brown sebelumnya, The Da Vinci Code, mereguk pemasukan besar dari penjualan tiket di berbagai negara dunia, namun sekaligus menimbulkan kemarahan di kalangan umat Katolik di dunia. Orang menunggu, apakah Angels akan mengalami nasib sama.

Jawabannya mungkin tidak untuk kedua-duanya. Dilihat dari apsek komersial, Angels nampaknya tak akan sesukses pendahulunya. Memang, sejak diluncurkan secara serentak hampir di 100 negara – termasuk di Indonesia – pada 15 Mei lalu Angels langsung disaksikan jutaan orang. Film yang disutradarai Ron Howard ini dengan cepat menempati posisi teratas dalam perolehan tiket di Amerika dalam pekan pertama peredarannya. Namun pemasukan sebesar US$ 46 juta sebenarnya berada di bawah target yang diperkirakan, sekitar US$ 55 juta. Angka itu bahkan hanya di bawah 70% dari pemasukan Da Vinci Code di pekan pertama yang mencapai US$ 77,1 juta.

Di sisi lain, kemarahan terhadap Angels juga tidak menggema besar. Pemutaran perdana film ini dilakukan di Roma, hanya beberapa kilometer dari Vatikan. Sejumlah pendeta Katolik turut menghadirinya. Namun, seusai itu tak terdengar reaksi berlebihan.   Koran Vatikan L’Osservatore Romano bahkan mengulas dengan nada positif tanpa ada kecaman berarti.

Sikap dingin ini berbeda sekali dengan kehebohan yang terdengar sebelum peluncurannya. Film ini memang sempat mendapat promosi gratis ketika pihak Vatikan tahun lalu secara terbuka menolak  wilayah dan gereja mereka dijadikan lokasi pengambilan gambar.  Sejak Februari, pimpinan Liga Katolik di AS, William Donohue, juga memprakarsai aksi boikot Angels yang dituduhnya sebagai ”pelecehan gereja Katolik”.

Tentu Howard sangat gembira dengan perkembangan itu. Dalam wawancara dengannya, ia menyatakan bahwa para pengecamnya  ini terlalu jauh menafsirkan sebuah film. ” Terlepas dari segenap kontroversinya, terlepas dari apa yang dikatakan orang, ingatlah bahwa ini hanyalah sebuah film.”

Da Vinci
Tapi apakah benar, ini hanyalah sebuah film?

Nampaknya justru Howard yang terlalu menyederhanakan masalah. Untuk itu, barangkali ada baiknya mengingat mengapa ada begitu banyak kontroversi mengenai Da Vinci yang tercatat sebagai salah satu film dengan pemasukan terbesar dalam sejarah film  – dengan total pemasukan tiket seluruh dunia yang mencapai lebih dari 750 juta dolar.

Da Vinci bukanlah sekadar sebuah film penuh ketegangan yang melecehkan gereja. Lebih dari itu film ini mengarahkan penonton untuk menolak berbagai doktrin dasar keyakinan umat Kristen. Salah satu yang terpenting, film – dan buku – Da Vinci menganggap bahwa Yesus sebenarnya bukan anak Tuhan, bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki keturunan, bahwa gereja secara bengis berusaha menutupi kebenaran sejarah dan membunuhi  mereka yang berusaha melindungi para pewaris Yesus ini.  Di dalamnya ada juga cerita tentang konspirasi gereja untuk mengingkari kepemimpinan perempuan dalam agama. Bahkan ada pula cerita tentang bagaimana gereja memanipulasi kitab suci.

Karena itu, Da  Vinci Code dianggap sebagai bentuk  terburuk pelecehan gereja oleh Hollywood. Dikatakan ’terburuk’ karena sejak lama sebenarnya para pemuka Kristen sudah melihat bahwa industri film Amerika tak pernah bersahabat dengan agama. Hollywood memang melahirkan berbagai film berisi hikayat yang diajarkan Injil. Di Amerika juga ada tradisi film Natal yang populer namun selalu mengingatkan penonton pada nilai-nilai dasar Kristen. Tapi, Amerika juga diisi oleh banyak film yang dengan sengaja membulan-bulani pemuka agama dan ajaran agama. Atau bahkan ada film-film seperti Last Temptation of Christ yang berandai-andai tentang Yesus dengan cara yang tak terbayangkan oleh pemeluk Kristen taat (misalnya: apa jadinya kalau Yesus berkeluarga?).

Da Vinci bergerak lebih jauh dari sekadar bermain-main dengan agama. Buku dan film itu, bisa dibilang, sengaja mempertanyakan doktrin Kristen.

Sebagian pihak berargumen Da Vinci sebenarnya bukan sebuah film tentang agama. Yang menjadi inti cerita adalah kegigihan karakter utama bernama Robert Langdon untuk membongkar dan menghentikan pembunuhan berantai yang menempatkan  ia sebagai tertuduh utama. Dengan kata lain, sebenarnya Da Vinci bisa dilihat semacam film thriller-mistery biasa. Dalam hal ini, agama tidak berada di pusat cerita. Agama sekadar menjadi setting sejarah yang menjelaskan mengapa rangkaian pembunuhan itu terjadi.

Namun pemanfaatan tafsiran keagamaan yang kontroversial dalam sebuah film fiksi justru bermasalah karena ‘kebenaran’ fakta dalam film harus diterima begitu saja tanpa  memberi ruang buat perdebatan.  Secara sangat impresif Dan Brown – sang penulis – menyajikan tafsiran yang meragukan kebenaran doktrin Kristen dengan cara yang seolah-olah tak terbantahkan. Ketika penonton menikmati film, mereka dapat begitu melebur ke dalam tayangan yang tersaji dalam layar dan tak merasa perlu mempertanyakan secara kritis kebenaran yang dibawanya.

Menganggap bahwa penonton akan memperlakukan film sebagai sekadar khayalan yang tak terkait dengan dunia nyata adalah berlebihan. Sebuah film sangat mungkin jeblok di pasar karena isinya dianggap tak masuk di akal. Dengan demikian, kendati khalayak tahu bahwa mereka sedang menyaksikan fiksi, mereka menuntut bahwa yang tersaji di layar tetap harus merujuk pada dunia empirik.

Kecaman gereja terhadap Da Vinci terkait dengan kodrat film yang bisa mengarahkan penonton untuk menerima kebenaran di layar lebar sebagai kebenaran historis. Dalam tradisi kajian Kristen, apa yang disampaikan Dan Brown sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Beragam interpretasi liberal terhadap ajaran-ajaran Kristen mapan sudah banyak dilakukan. Masalahnya, Da Vinci bukanlah sebuah karya ilmiah yang memberi ruang bagi pembahasan beragam penafsiran secara memadai. Da Vinci bisa jadi tidak anti Kristen, tapi jelas anti tafsiran Kristen arus utama saat ini.

Angels

Kini, bila gereja ternyata tidak semarah di masa sebelumnya, itu nampaknya bukan karena mereka sekarang lebih bisa menerima film sebagai sekadar tontonan dan hiburan.

Masalahnya, dalam karya ini, Brown tidak memang  tidak terlalu ‘kurang ajar’ terhadap Kristen. Dan Howard bahkan lebih jauh menetralkan elemen-elemen dalam versi novel yang masih dianggap terlalu sensitif.

Kali ini Brown dan Howard justru menggambarkan Vatikan sebagai komunitas yang terbuka bagi perkembangan sains. Berbeda dengan film sebelumnya yang menekankan peran gereja dalam menghambat proses pencerahan umat manusia, Vatikan kontemporer dalam Angels hadir dalam sosok yang pro kemajuan. Kali ini justru para pemuka Vatikan yang menjadi korban kekejaman. Paus sendiri dibunuh. Yang menjadi biang kejahatan memang orang gereja sendiri, tapi ia ditampilkan sebagai ‘oknum’ yang masih terberlenggu dengan ketakutan gereja masa lalu akan ilmu pengetahuan yang mungkin menjauhkan umat dari Tuhan. Gereja menjadi korban kegilaan seorang pria sakit jiwa.

Memang tak berarti tak ada yang buruk mengenai gereja ditampilkan dalam Angels. Hanya saja, yang tersaji adalah catatan sejarah tentang periode gelap Kristen. Ada bagian yang menunjukkan bahwa perbenturan sains dan gereja selama ini terjadi karena di masa lalu para pemuka Kristen menindas para ilmuwan dengan cara yang buruk. Tapi itu tak lagi terjadi. Itu cuma sesuatu yang pernah, tapi tak lagi, terjadi.

Howard bahkan turut berperan menjadikan film ini menjadi lebih bisa diterima dengan menghilangkan salah satu bagian penting dalam novel. Brown menggambarkan Paus sebenarnya pernah memiliki anak kandung melalui proses inseminasi buatan pada ‘istrinya’, seorang biarawati yang dicintai Paus. Dalam film, bagian ini dilenyapkan begitu saja.

Maka ujung-ujungnya debat agama dalam Angels bisa dibilang berkadar minimal. Banyak kritikus yang memuji bahwa film ini sekarang benar-benar menjadi tontonan menarik karena tampilan aksi yang bergulir cepat dan menegangkan. Bila dalam Da Vinci ada adegan-adegan diskusi serius soal agama, kali ini penjelasan-penjelasan semacam itu disisipkan saat karakter-karakternya bergerak.

Tak Berbahaya

Dengan demikian, bisa dibilang nada dasar Angels adalah bersimpati pada agama. Dalam salah satu bagian, tokoh Langdon yang digambarkan sebagai agnostik berujar, “Sains dan agama harus hidup berdampingan”. Salah seorang petinggi Vatikan dalam film itu juga digambarkan dengan rendah hati menyarankan pada Langdon: “Bila Anda menulis tentang kami, dan Anda akan menulis tentang kami, tuliskanlah dengan lembut.”

Tak heran bila banyak pihak gembira. Stasiun televisi CBS News memuat wawancara dengan seorang pemandu tur di Vatikan yang justru menganggap film semacam Angels bisa berdampak positif. Berdasarkan pengalaman dengan Da Vinci dulu, film itu justru mendorong lebih banyak turis berbondong-bondong mendatangi lokasi-lokasi yang ditampilkan. “Saya rasa karya fiksi itu justru mendorong orang untuk datang ke gereja,” ujarnya.

Koran Vatikan L’Osservatore Romano menyebut film itu sebagai ”hiburan yang tak berbahaya”. Lebih jauh lagi, koran itu menulis: “Temanya selalu sama, tapi kali ini gereja berada di pihak yang benar.”

Kesuksesan akhir pasar Angels masih harus ditunggu. Bagaimanapun film ini kembali mengukuhkan bagaimana Hollywood akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi agama. Tak lagi hanya hikayat-hikayat lama. Tak lagi cuma sinterklas. Tapi juga sejarah kelam. Tapi juga perkembangan yang mencerahkan.

(Tulisan ini dimuat di Majalah Madina edisi Juni 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: