Mengundang MU Apa Gunanya?

Mendatangkan Manchester United ke Indonesia adalah sebuah kesia-siaan. Lebih buruk lagi, itu adalah bagian dari proses pemiskinan yang akan menyebabkan negara seperti Indonesia akan terus tertinggal, terbelakang.

Saya sebenarnya hanya hendak mengikuti teori-teori pembangunan yang dilontarkan para ilmuwan kritis dalam ilmu-ilmu sosial. Sederhananya kritiknya berbunyi begini:  negara-negara berkembang seperti  Indonesia akan terus menerus terbelakang antara lain karena gaya hidupnya yang boros. Kita ini seperti tak tahu mana yang lebih harus diprioritaskan. Uang yang sebenarnya dibutuhkan untuk kegiatan produktif justru dihamburkan untuk hal-hal yang tak penting. Dan uang itu akan mengalir ke negara-negara kaya yang sebenarnya sudah kokoh duduk di puncak struktur ekonomi global.

Kita harus ingat bahwa masyarakat negara-negara yang sekarang maju itu dulu hidup secara sangat berhemat.  Uang yang diperoleh melalui jerih payah setiap hari, akan ditabung, diputar, diinvestasikan ke sektor-sektor produktif.  Hasil keuntungan dari perputaran uang itu akan diputar kembali, dan seterusnya.  Sebelum kemakmuran tercapai, keinginan untuk bersenang-senang harus ditunda dulu.

Ini yang tidak terjadi dengan kita di negara-negara berkembang. Indonesia sebenarnya masih berada dalam kategori negara ‘miskin’, atau  paling tidak lebih sedikit dari itu. Tak ada yang salah dengan berada dalam kategori itu. Namun seharusnya, dengan kesadaran bahwa kita miskin, kita tak boleh hdup berfoya-foya. Bukan hanya karena itu akan menciptakan kecemburuan sosial namun karena itu akan menciptakan kesenjangan sosial.

Mengundang MU itu contoh terbaik.  MU akan tampil di Senayan  hanya dalam waktu satu setengah jam. Pertandingan pasti dilakukan tidak dengan serius. Mereka pada dasarnya sedang berada dalam suasana beristirahat sambil mencari uang.  Dan hanya dalam waktu sesingkat itu, mereka akan kembali ke negara asal mereka dengan menyedot uang kita  – saya duga – di atas sepuluh miliar rupiah. Pertanyaannya :  apa yang masyarakat Indonesia dapatkan?

Dari sisi ekonomi, kita jelas rugi. Dari sisi olahraga, pertandingan itu tak akan merangsang peningkatan kualitas persepakbolaan nasional. Dari mutu pertandingan, suguhan yang disajikan hanya berada di tahap ‘latihan’. Kalaulah ada yang untung, selain MU, tentu panitia penyelenggara.

Namun ini memang bukan cuma soal MU. Dalam beberapa tahun terakhir, kelas menengah kota-kota besar kita memang terus dirangsang untuk hidup boros. Berbagai pertunjukan yang menghadirkan pemusik internasional memaksa khalayak membayar tiket jutaan rupiah untuk aksi panggung yang tidak sampai dua jam. Begitu juga dengan segenap perlengkapan gaya hidup masyarakat kosmopolit yang dengan mudah dibeli di mall-mall yang semakin menjamur di kota-kota besar. Harganya melangit, dan toh pembelinya banyak.

Gaya hidup ini akan menghabiskan devisa negara. Namun lebih dari itu, ini akan mendorong kalangan profesional di kota-kota besar untuk  menuntut tingkat penghasilan yang tinggi agar mereka bisa membiayai gaya hidup yang boros ini. Mereka menuntut gaji besar karena saat ini karena , bagi mereka, sekadar hidup nyaman tidak lagi cukup.  Hidup, bagi mereka, harus mewah.

Pada gilirannya, ini akan mendorong   ketidakmerataan pendapatan. Tingkat gaji di kalangan atas meningkat signifikan  dari tahun ke tahun, sementara Upah Minum Regional hanya bisa maju beringsut-ingsut.

Umat Islam mungkin sebaiknya selaluingat pada ajaran dasar yang dibawa  Nabi Muhammad. Di dalam AlQuran berulang terbaca peringatan terhadap mereka yang membiarkan orang miskin hidup tetap dalam kemiskinan. Sebagian kita dengan simplistis membaca itu sebagai kewajiban berzakat dan bersedekah.  Padahal, penanggulangan kemiskinan sama sekali tak bisa diatasi dengan kesediaan kaum berpunya menyisihkan sebagian dari rezeki yang diperolehnya.

Penanggulangan kemiskinan harus diatas dengan  pemerataan ekonomi.  Dan pemerataan tak akan terjadi kalau mereka yang mampu merasa berhak untuk hidup boros dan menuntut pembagian pendapatan yang akan memfasilitasi gaya hidup mereka yang boros itu.  Mendatangkan MU adalah sebuah keborosan yang akan menyebabkan kaum miskin terus terjerat dalam kemiskinannya. Mudah-mudahan itu tak diulang di kemudin hari.

(Tulisan ini dimuat di Madina edisi Juli 2009)

Ditulis dalam Religion, Soccer. 4 Comments »

4 Tanggapan to “Mengundang MU Apa Gunanya?”

  1. wahyu am Says:

    keren banget nih pendapatnya. kritis😆

    lanjutkan!! hehe.

  2. numpang_komen Says:

    Dear Bang Ade,
    Menurut saya mungkin agak terlalu jauh menarik isu kemiskinan negeri ini dengan kedatangan MU atau para musisi internasional ke Indonesia.
    Pertama,dari segi segmen market,peruntukan kegiatan tersebut pun jelas untuk siapa.
    Kedatangan musisi luar dengan harga tiket sampai 5 juta rupiah sudah jelas bukan menyasar masyarakat bawah,
    Yang saya yakin mereka tidak akan menabung puluhan bulan hanya untuk menonton satu stengah jam pertunjukan.
    Tiket ludes pada tiap pertunjukan di jhcc atau manapun itu selalu di reserved oleh orang2 kaya negeri ini yang memenuhi jhcc oleh mobil2 mewah.karena memang target mereka adalah kalangan atas.
    Untuk kasus MU syukurnya ada tiket seratus ribu rupiah sampai 3,5 juta rupiah.yang mungkin bisa masuk ke semua level.
    mengapa saya bersyukur?
    Karena saya pikir ini bukan pemborosan,ini wajar,ini hiburan,dan ini hobby,as simple as that.
    Justru masyarakat terhibur dengan kedatangan mereka.toh mereka tidak datang setiap bulannya.
    Setiap tahun pun tidak.dan tidak ada paksaan untuk menonton mereka.
    Kedua,dari segi MU,saya ambil rata2 dari pendapatan dari tiket,merchandise,dsb
    Pendapatan mereka mungkin hanya 30 miliar dengan rata2 tiket 300rb dan merchandise.
    Buat MU 30 miliar adalah jumlah yg sangat sedikit.itu hanya angka untuk membayar gaji Ronaldo selama 2-3 bulan di luar bonus.
    Pikiran bisnis tentu ada,karena kita hidup di roda ekonomi,tapi untuk kasus MU saya pikir sangat simple,dan tanggung jawab klub untuk
    mendekati fans2nya di seluruh dunia (indonesia salah satu negara dengan fans MU yg cukup banyak)
    ini hanya hiburan,sekali dalam lima tahun mungkin,tidak ada paksaan,dan menurut hemat saya
    juga tidak menyalahi norma-norma tertentu.
    Ada hal positif yang justru saya lihat,selain hiburan yang ‘sehat’ tentunya.
    It’s just hobby I think,dengan seratus ribu saya merasa bagian dari sepakbola internasional.
    Dan wajar mungkin harga tersebut untuk melihat klub terbaik di dunia bermain bola dengan tim merah putih kebanggan saya di tanah air kita…

    Salam,
    Erlangga Yudhanegara

  3. adearmando Says:

    Bung Erlangga yang baik.
    Sebenarnya tidak ada yang salah mengundang MU kalau negara kita kaya.
    Karena negara kita miskin, kita tak pantas boros.
    Kedatangan MU menghabiskan devisa yang sebenarnya bisa dimanfaatkan di dalam negeri.
    Kalau saja kelas menengah Indonesia memilih membelanjakan uangnya ke dalam sektor ekonomi lokal, uangnya akan memiliki efek mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
    Kedatangan MU tidak punya efek apa-apa bagi ekonomi Indonesia.
    Lebih buruk lagi, kedatangan MU mendorong kelas menengah kita menuntut gaji besar untuk membiayai gaya hidup yang boros itu. Akibatnya alokasi anggaran kita timpang.

  4. Liendaincorce Says:

    mengapa tidak:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: