Kunjungan Paus yang Membahagiakan Umat

Paus Benedictus XVI membuka babak baru hubungan Gereja Katolik dengan Umat Islam. Israel merasa terkhianati.

Pertengahan Mei lalu, Paus Benedictus XVI berkunjung ke Timur Tengah. Bisa dibilang, lawatannya kali ini berbuah dua arah. Bagi umat Islam, Paus nampak sebagai sosok simpatik. Bagi Israel, mungkin sebaliknya.

Ia memulai lawatannya dari Jordania. Namun yang lebih penting adalah tempat-tempat persingggahan berikutnya: Yerusalem dan Nazareth di Israel, sebelum kemudian ke Bethlehem dan kamp pengungsian di Tepi Barat, yang kini menjadi wilayah permukiman warga Palestina.

Wilayah yang didatanginya merupakan tempat bersejarah bagi tiga agama besar di dunia. Yesus lahir dan hidup di sana. Kaum Yahudi mengklaim daerah itu sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan. Bagi umat Islam, ada Masjidil Aqsa yang pernah menjadi kiblat shalat umat dan tempat Nabi Muhammad berangkat menjalani Miraj. Namun, dilihat dari konteks politik saat ini, jelas kunjungan pemimpin tertinggi umat Katolik dunia ini lebih dari sekadar lawatan keagamaan.

Jurubicara Vatikan sendiri, Federico Lombardi. Menyatakan bahwa Paus datang dengan sebuah misi mulia: menciptakan perdamaian antara Palestina dan Israel, serta membangun hubungan harmonis antara kaum Yahudi dan Muslim. “Sebuah langkah untuk membangun harapan dan keyakinan akan perdamaian dan rekonsiliasi,” ujarnya.

Namun, tatkala Paus meninggalkan Tel Aviv pada 15 Mei untuk kembali ke Roma, yang tersisa di kubu Israel nampaknya adalah kemasygulan. Kalaulah ada harapan akan perdamaian, Paus jelas menaruh beban itu di pundak Israel.

Selama sepekan, Paus Benedictus nampak tak ingin menyembunyikan sikap yang sangat tegas: untuk perdamaian, Israel harus menerima berdirinya negara Palestina. Dan itu bukan pernyataan yang nyaman didengar pemerintah Isael saat ini. Apalagi kalau itu datang dari Paus Benedictus.

Israel

Paus datang dalam suasana yang sebenarnya tidak ideal. Israel baru saja menjalani pemilu yang dimenangkan kubu konservatif. Perdana Menteri Israel baru, Benjamin Netanyahu, terkenal punya sikap keras kepala, bahkan terhadap Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman, segera setelah pemerintah terbentuk, menyatakan Israel tak akan menjalankan skema perdamaian Timur Tengah yang diprakarsai AS yang, antara lain, mengamanatkan solusi pendirian dua negara berdaulat – Israel dan Palestina – yang hidup berdampingan secara damai. Lieberman tegas menolak pendirian Palestina merdeka.

 Terbentuknya pemerintahan garis keras ini juga didahului oleh serangan membabi buta israel atas jalur Gaza Januari lalu yang diperkirakan menewaskan lebih dari seribu orang, termasuk warga sipil, perempuan dan anak-anak. Walau bukan sebagai pernyataan resmi, para pejabat Vatikan mengeluarkan kecaman keras atas aksi Israel itu – sesuatu yang turut menciptakan suasana tidak nyaman di kubu Israel. Seorang petinggi Vatikan, Kardinal Renato Martino secara terbuka menggambarkan jalur Gaza sebagai menyerupai sebuah “kamp konsentrasi besar”.

Bahkan ada rangkaian kondisi lain yang menyebabkan lawatan Paus yang baru saja merayakan ulangtahun ke 82nya itu nampak sebagai langkah berani.

Januari lalu, Paus melakukan langkah kontrovesial dengan mencabut kembali pembatalan status kependetaan seorang pendeta Katolik dari Inggris, Richard Williamson. Williamson adalah satu pemuka agama yang mengalami ekskomunikasi di masa John Paul II – Paus sebelumnya — karena protes mereka atas reformasi liberal dalam tubuh gereja Katolik. Paus Benedictus memulihkan status kelima pendeta tersebut.

Masalah mencuat karena Williamson sebelumnya sempat secara terbuka mengeluarkan pernyataan yang mengingkari besaran korban holocaust dan keberadaan kamar gas di era Nazi. Menurut Robinson, semasa Hitler berkuasa, tidak lebih dari 300 ribu orang Yahudi terbunuh – jauh di bawah angka yang selama ini diklaim sebagai kebenaran.

Isu Holocaust adalah sesuatu yang sangat sensitif bagi Israel. Negara Israel didirikan sekitar 60 tahun yang lalu sebagai jawaban atas penderitaan kaum Yahudi Eropa yang menjadi korban genosida oleh Nazi. Versi yang dipercaya Barat adalah holocaust itu memakan korban sampai enam juta orang Yahudi. Dengan demikian, pengingkaran atas holocaust bukan hanya melecehkan atau menyakitkan hati para korban dan keluarga korban, namun juga menggerogoti dasar alasan pendirian Israel.

Reaksi keras datang bukan saja dari Israel tapi juga dari berbagai negara Eropa. Di awal Februari, Robinson sudah menyatakan penyesalan atas akibat yang dtimbulkan atas pernyataannya. Namun, perlu dicatat, ia tak pernah mengoreksi pernyataannya. Ia hanya menyatakan bahwa ia menarik pernyataan itu dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.

Dengan konteks itu, bisa dipahami kalau Israel memandang Paus Benedictus dengan curiga. Apalagi ia sebenarnya berasal dari Jerman dan memang pernah menjadi anggota pasukan Hitler Muda dan terdaftar dalam pasukan Jerman semasa Perang Dunia II. Ia sendiri menyatakan bahwa itu adalah fakta kelam dalam hidupnya dan bahwa ia sebenarnya segera keluar dari pasukan Jerman tanpa pernah terlibat dalam medan peperangan. Namun penjelasan itu tetap tak mudah meredam begitu saja ketidaksukaan yang sudah kepalang terbentuk.

Bagaimanapun, ini semua seperti sekadar memperburuk hubungan Katolik dan Israel yang benih-benihnya bisa terlacak sampai jauh ke belakang. Bagi sebagian pihak pendukung Israel, gereja Katolik dipandang sebagai pihak yang turut bertanggungjawab atas kebrutalan Nazi. Ada anggapan bahwa kalau saja Vatikan bersuara pada tahun-tahun Nazi berkuasa dan melakukan ekspansi militer di Eropa, pembantaian Yahudi itu dapat dicegah atau setidaknya tak akan berlangsung dalam skala sebesar yang terjadi.

Sampai sekarang masih banyak pihak yang menghujat Paus Pius XII – yang berada di tahtanya pada 1939 sampai 1958 – karena dianggap cuma berdiam diri dan tak melakukan langkah apa-apa untuk mencegah holocaust.

 Lebih dari itu, sebagian kalangan Yahudi sendiri menganggap kebencian Eropa terhadap Yahudi itu memang sesuatu yang berakar pada tradisi Kristen. Masalahnya selama berabad memang lazim ada banyak pemuka Kristen yang menyerukan kebencian kepada kaum Yahudi yang dituduh sebagai umat yang mengkhianati dan bahkan membunuh Yesus.

Dalam kepercayaan sebagian umat Kristen, sebagaimana dituangkan dalam film kontroversial Passion of Christ (2004), adalah para pendeta agama Yahudi yang dengan sengaja memfitnah Yesus sehingga ia akhirnya disalib oleh penguasa Roma. Salah satu penamaan yang kerap dilekatkan pada kaum Yahudi adalah “para pembunuh Yesus”.

Sikap penuh benci itu dalam setengah abad terakhir sebenarnya sudah semakin melenyap. Sejak tahun 1960an gereja mengembangkan kampanye penolakan anti-Yahudi dan intensif membangun hubungan dengan agama-agama lain, termasuk Islam. Paus John Paul II, pendahulu Benedict, terkenal sebagai tokoh yang secera gigih berusaha memerangi sikap anti-semitisme dan pada tahun 2000 menjadi Paus pertama yang berkunjung ke Israel.

 Hanya saja, ketegangan itu tidak pernah sepenuhnya mencair. Di museum Israel yang khusus didedikasikan untuk mengenang holocaust , Yad Vashem, sampai saat ini termuat sebuah plakat yang megecam Paus Pius XII karena berdiam diri saat pembantaian Yahudi.

Vatikan jelas keberatan dengan kenang-kenangan sejarah itu. Namun pemerintah Israel bergeming.

Mendukung Solusi Dua Negara

Dengan latar belakang itu kedatangan Paus kali ini sebenarnya diamati dengan rasa was-was: apakah kunjungannya akan mempengaruhi hubungan kedua kubu menjadi membaik atau sebaliknya?

Kelihatannya, yang terjadi adalah yang kedua. Lawatan keagamaannya tentu tidak bermasalah. Ia berkunjung ke sejumlah tempat bersejarah. Ia berkunjung ke Masjid Aqsa yang memiliki makna historis penting bagi umat islam. Ia ke Gunung Nebo, yang dipercaya umat Yahudi sebagai tempat Nabi Musa melihat Tanah yang Dijanjikan serta Dinding Barat yang memiliki makna sentral dalam sejarah agama Yahudi. Ia mengunjungi tempat kelahiran Yesus serta lokasi Yesus melakukan perjamuan terakhirnya dan mengalami pensaliban.

Yang jadi soal adalah pernyataan politiknya. Dalam dua kesempatan berbeda, Paus Benedictus XVI secara eksplisit menyatakan hal yang tak ingin didengar pemerintah Israel: dukungannya atas solusi dua negara yang hidup berdampingan – Israel dan Palestina – secara damai di Timur Tengah.

Paus bahkan sengeja menyempatkan diri bertemu dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas di kamp pengusian Palestina dan Tepi Barat. Di itu ia menyaksikan langsung penderiatan para pengungsi yang sebagian sudah berada di kamp itu sejak 1948. Dalam pertemuan itulah, Paus menyatakan simpatinya pada Palestina. “Kami mendukung hak bangsa Anda atas sebuah Palestina berdaulat di tanah leluhur Anda,.” Ujarnya. Paus juga menekankan kebutuhan untuk meruntuhkan “tembok-tembok yang mengelilingi hati kita” dan berupaya mengakhiri konflik.

Ia menambahkan: “Dengan setulusnya saya berdoa agar perseteruan ini akan segera berakhir sehingga Anda, bangsa Palestina, pada akhirnya akan menikmati perdamaian, kemerdekaan dan stabilitas yang telah didambakan sekian lama.”

 “Sangat bisa dimengerti bila Anda kerap merasa frustrasi,” katanya, “Aspirasi sah Anda atas sebuah wilayah permanen bagi sebuah negara Palestina tetap tak terwujud. Sebaliknya, Anda terperangkap di dalam spiral kekerasan.”

Dukungannya itu juga ia sampaikan secara eksplisit kepada para petinggi Israel di bandara Ben Gurion, Israel, beberapa saat sebelum ia terbang kembali ke Roma. “Biarkanlah solusi dua-negara menjelma menjadi kenyatan,” ujarnya. “Tak ada lagi pertumpahan darah. Tak ada lagi peperangan. Tak ada lagi terorisme.”

Menurut Paus pula, sebuah negara Israel berhak berdiri dan menikmati perdamaian dan keamanan di dalam batas wilayah yang secara internasional disetujui. “Namun marilah kita juga mengakui,” tambah Paus, “bahwa orang-orang Palestina juga berhak atas sebuah tanahair independen yang berdaulat dan berhak untuk hidup secara bermartabat dan merdeka.” Seperti sudah diduga, reaksi keras bermunculan di Israel.

Banyak komentator politik mengecamnya. Bahkan kedatangan Paus ke museum untuk mengenang korban holocaust di persoalkan. Sejumlah penulis mencatat bahwa kendati dalam kunjungan itu Paus menyatakan kesedihan yang mendalam atas nasib jutaan orang Yahudi dalam holocaust, ia menyampaikannya “tanpa ekspresi”. Sebagian lain mengeritik bahwa tak sekalipun Paus menyebut kata yang menyalahkan Jeman atau Nazi.

Pemerintah Israel juga seperti tak mau kehilangan muka. Satu hari sesudah kunjungan Paus ke kamp pengungsi Palestina, PM Netanyahu memint agar Paus mengecam secara terbuka pemerintah Iran yang menurut tuduhannya “ingin menghancurkan negara Israel”.  Sampai akhir lawatannya, Paus tidak mengeluarkan pernyataan apapun mengenai Iran.

Di mata Umat

Bila Israel masygul, umat Islam dunia melihat perjalanan ini sebagai perkembangan positif. Soal Palestina memang bukan hanya menjadi keprihatinan kaum muslim. Bagaimanapun, dalam kancah simbolik, tragedi Palestina lazim dipandang nasib sebuah bangsa yang merepresentasikan kondisi umat Islam dunia. Karena itu sikap Paus terhadap Palestina nampak sebagai perkembangan penting dalam sikap Paus Islam terhadap dunia Islam. Maklumlah, imej Paus di mata umat Islam memang tidak teralu menggembirakan.

Tiga tahun yang lalu – setahun setelah ia naik ke tahta suci — Paus sempat membuat marah umat Islam dengan pidatonya di Regensburg, Jerman. Ketika itu, walau tak secara langsung, ia terkesan menggambarkan Islam sebagai agama yang mendorong kekerasan dan membawa hal-hal yang tidak manusiawi.

Sebelumnya, pada Agustus 2005, dalam salah satu wawancara dengan koran Prancis, ia menyatakan bahwa Turki seharusnya tidak diterima oleh Uni Eropa. Baginya, akar kultural Turki tidak sama dengan Eropa. “Akar Eropa adalah Kristen.” Ujar Paus ketika itu.

Posisi Benecditus ini agak berbeda dengan Paus sebelumnya, John Paul II. Pendahulunya itu – yang menduduki tahta selama 26 tahun – jelas-jelas berusaha menjulurkan tangan untuk menggapai umat non-Kristen. Ia misalnya menyatakan penolakan atas invasi AS ke Irak. Ia kritis terhadap materialisme Barat. Ia juga secara tegas menyatakan simpati atas Palestina, kendati tetap membina hubungan baik dengan Israel. Karena itu sebenarnya ada kecurigaan juga di dalam dunia Islam terhadap Paus yang satu ini.

Namun kunjungannya ke Palestina kali ini mungkin akan mengubah perspesi negatif mengenainya. Ia bukan saja bersimpati pada Palestina. Ia juga menyampaikan harapan terbuka agar umat Kristen dan umat Islam dapat menjalin silaturahmi lebih baik. Dalam pertemuan dengan Mufti Agung Yerusalem, Muhammad Hussein, Paus menegaskan adanya prinsip-prinsip dasar yang mengikat Islam, Kristen dan Yahudi.

“Cinta yang tak terbagi pada Tuhan dan kedermawanan pada tetangga merupakan hal-hal yang kita percaya. Karena itu kita harus tanpa lelah berusaha menjaga hati manusia dari kebencian, kemarahan atau dendam,” ujar Paus.

 Sebuah pernyataan yang indah dalam kunjungan yang indah. Mudah-mudahan itu semua berarti.

(Dimuat dalam Majalah Madina, Juni 2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: