Membela Kerisauan atas Ancaman Kebebasan bagi Agama

Awal Juni 2009 lalu, selama empat hari saya mewakili Indonesia menghadiri Global Forum on Freedom of Expression di Oslo, Norwegia. Saya bersyukur dapat bertemu dengan puluhan jurnalis, aktivis dan pengamat kebebasan berekspresi dari berbagai penjuru dunia. Namun yang lebih penting, dalam forum itu saya menangkap semangat bersama untuk memperjuangkan lebih jauh kemerdekaan media di manapun, sembari tetap percaya bahwa kemerdekaan itu bukanlah tujuan namun sarana untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Ada banyak isu yang sebenarnya dibicarakan dalam Forum tersebut. Namun salah satu yang dibicarakan berulang-ulang adalah pertanyaan ini: kalaulah diterima asumsi bahwa kebebasan berekekspresi tidaklah mutlak, lantas untuk alasan apa dan dengan cara apa itu boleh dibatasi?

Isu ini memang bukan sesuatu yang terlalu baru. Namun ini menjadi nampak kembali  relevan karena ini adalah masa di mana, akibat demokratisasi dan internet, kebebasan arus informasi tumbuh di mana-mana, bergerak cepat, namun juga menimbulkan banyak persolan baru. Saat ini, misalnya,  di berbagai negara Eropa berlangsung upaya untuk melakukan pengkajian kembali penerapan prinsip kebebasan berekspresi, terutama dalam kaitannya dengan isu-isu keagamaan.

Selama ini, isu tersebut sebenarnya dianggap sudah selesai. Bagi masyarakat Eropa perdebatan tentang sejauh mana warga diizinkan untuk mengekspresikan pandangannya telah dituntaskan sejalan dengan diterimanya sistem demokrasi. Kebebasan berpendapat dianggap sebagai esensial dalam masyarakat demokratis dan merupakan hak-hak asasi manusia yang harus dilindungi. Pengakuan internasionalnya adalah dengan ditandatanganinya Deklarasi Hak Asasi Manusia pada 1948.

Ini tentu saja tak berarti bahwa setiap orang bebas menyatakan atau mengekspresikan apapun tanpa kendali. Ada sejumlah hal yang dinyatakan tetap terlarang. Misalnya saja fitnah, kecabulan, atau pernyataan yang mendorong dan membangkitkan kebencian serta aksi kekerasan terhadap golongan masyarakat tertentu adalah hal-hal yang tetap diancam hukuman. Namun wilayahnya sangat terbatas.

Akan halnya agama, masyarakat Barat sudah menganggapnya sebagai bagian yang bebas untuk dibicarakan, diperdebatkan atau bahkan diolok-olok. Itu yang menjelaskan mengapa karya seni yang menampilkan Yesus dalam beragam format tersedia luas.  Termasuk juga tentunya kebebasan untuk mengekpresikan ajakan untuk tidak mempercayai Tuhan. Dalam sebuah masyarakat sekuler, tak ada yang terlalu suci untuk dibicarakan.

Masalahnya, Eropa kini berubah. Setelah berabad mereka hidup dalam masyarakat homogen,  kini Eropa harus hidup dalam konteks multikultural. Dalam setengah abad terakhir, negara-negara Eropa Barat didatangi oleh para imigran dari bebagai belahan penjuru dunia yang kemudian lazim hidup dari generasi ke generasi dalam perkampungan terpisah.

Salah satu kelompok yang memperoleh perhatian paling khusus  adalah kaum muslim. Mereka datang dari Timur Tengah, Afrika atau bahkan dari sesama wilayah Eropa. Jumlahnya besar dan mereka tidak menerapkan norma keluarga kecil.  Tapi yang paling penting adalah kalangan ini berpegang teguh terhadap akar budaya non-Eropa mereka.  Kaum muslim nampak berpenampilan, berpakaian,  berbahasa, dan bahkan melakukan peribadatan keagamaan dan cara hidup berbeda dari warga kulit putih Eropa lainnya

Keterpisahan ini, pada gilirannya, menjadikan umat Islam sebagai sasaran utama kebencian kalangan konservatif yang memperoleh banyak pengikur di lapisan ekonomi dan pendidikan bawah. Gerakan-gerakan anti-Islam dan anti-masjid merebak.  Pemuka politik yang melecehkan islam dengan segera memperoleh dukungan suara yang dibutuhkan bagi  perebutan kursi parlemen dan pemerintahan.

Pada konteks perubahan inilah, prinsip-prinsip kebebasan berekspresi menjadi sesuatu  yang perlu dibicarakan kembali. 

Perbenturan budaya ini sebenarnya sudah dimulai sekitar 20 tahun yang lalu, yakni ketika Salman Rushdie mengeluarkan novelnya The Satanic Verses  yang membangkitkan kemarahan umat Islam dunia. Rushdie bahkan difatwa hukuman mati oleh pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Khomeini.  Tatkala itu, serentak pemerintah Barat mengutuk pengekangan atas kebebasan berekspresi di dunia Islam.

Kini, apa yang dilakukan Rushdie diulang dalam beragam cara. Isu ini menjadi lebih genting mengingat penyebaran karya-karya yang mungkin menyinggung perasaan keberagamaan itu kini dimungkinkan berlangsung cepat melalui sarana internet.

Hanya saja kali ini, bahkan para pembela prinsip kebebasan berekspresi  melihat ada sesuatu yang harus dipertimbangkan dalam kasus-kasus terakhir di Eropa. Masalahnya, ada anggapan bahwa motivasi Rushdie dengan  para pembuat karya seni yang melecehkan Islam dalam beberapa tahun terakhir ini mungkin berbeda.

Kartun yang Menghina Agama

Salah satu kasus terkenal adalah penyebaran kartun-kartun yang menghina secara kasar Nabi Muhammad di Denmark lima tahun lalu. Kendati awalnya bermula dari sekadar upaya mencari ilustrasi gambar Nabi Muhammad bagi sebuah penerbitan buku tentang Islam, kasus itu bekembang menjadi upaya sengaja secara kolektif untuk menyakiti hati umat Islam.  Kartun-kartun itu tak lagi menjadi sekadar karya yang menyindir atau menggugat melainkan benar-benar menjadi bagian untuk melecehkan Islam.

Begitu juga dengan pembuatan film Fitna oleh Geerts Wilders di Belanda tahun lalu. Secara kasat mata, khalayak bisa menilai sendiri bahwa film itu memang dibuat sebagai ‘fitnah’ terhadap Islam, terutama dengan membangun kesimpulan bahwa ayat-ayat Al-Quran  adalah sumber kekerasan dan perusakan di muka bumi.

Ini semua mulai dianggap sebagai ancaman mendasar bagi terbangunnya masyarakat mltikulturalis di Eropa. Segenap pelecehan Islam melalui karya seni ini berlangsung saat umat Islam sedang berada di posisi disudutkan dan berusaha dienyahkan di Eropa. Dengan mudah, orang akan mengingat bahwa kebencian Eropa terhadap Yahudi di abad-abad lalu kini bisa beralih kepada umat Islam. Dengan kata lain, kebebasan berekspresi nampaknya  dimanfaatkan mereka yang menyebarkan kebencian

Karena itu kini Komisi Eropa untuk Hak-hak Asasi Manusia sedang membincangkan kembali kesepakatan tentang aturan-aturan mengenai penghinaan agama (blasphemy). Di berbagai negara Eropa (termasuk Jerman, Denmark dan Belanda) sebenarnya ancaman terhadap penghinaan agama tersedia dalam sistem hukum mereka. Namun pasal-pasal itu hampir-hampir tak pernah digunakan lagi. Parlemen Eropa sendiri pernah mengeluarkan imbauan agar masing-masing negara anggota menomorsatukan perlindungan atas kebebasan berekspresi.

Namun ini tentu saja bukan perkara mudah. Banyak pembicara dan peserta dalam Forum Global ini mengakui bahwa mereka juga prihatin mengenai arogansi Eropa dalam memperlakukan bangsa lain yang antara lain diwujudkan dalam bentuk pelecehan agama dan budaya melalui media. Namun pada saat yang sama, mereka juga mengingatkan bahaya pengekangan kebebasan berekspresi yang terlalu jauh.

Kartunis senior Inggris, Martin Rowson, menyatakan ia tak pernah keberatan mengejek para agama dan pemeluknya dalam karya-karnyanya.  Masalahnya, menurut kartunis yang mengaku atheis ini, karya-karya itu seharusnya mewakili suara kalangan yang tertindas saat berhadapa dengan mereka yang berkuasa. “Dalam hal ini saya tidak setuju dengan kartun-kartun Muhammad karena pada dasarnya itu merupakan bentuk penindasan terhaap mereka yang tidak berdaya,” ujarnya.

Banyak peserta lain menyuarakan pandangan serupa: kebebasan berekspresi tidak pernah boleh diwujudkan dalam bentuk    kebebasan utuk menyalurkan bentuk-bentuk ekspresi yang akan membahayakan keselamatan masyarakat. Dalam hal ini, bentuk-bentuk pelecahan agama – terutama Islam – saat ini menjadi bermasalah, karena itu berlangsung dalam kondisi timpang, di mana umat Islam yang menjadi bahan olok-olok tak memiliki sarana komunikasi sebanding untuk melakukan jawaban balik.

Sensitivitas Budaya

Ada sejumlah suara yang mewakili dunia Islam dalam Forum ini. Tariq Ramadhan (Universitas Jenewa), misalnya,  menyatakan bahwa yang diperlukan bukanlah tatanan hukum untuk melindungi agama yang mungkin sekali akan menghambat kebebasan berekspresi. Menurutnya, tak semua soal masyarakat dapat diselesaikan secara hukum. “Yang lebih diperlukan adalah terbangunnya sensitivitas kultural untuk menghargai budaya lain,” ujarnya.

Menurut tokoh yang kerap bicara soal dialog peradaban ini, bangsa-bangsa di dunia harus bersepakat dan menyadari bahwa menghina keyakinan orang lain adalah salah.  Dalam hal ini, ia mengeritik apa yang dilakukan di Iran, yakni perlombaan kartun yang menghina ‘holocaust’ sebagai reaksi atas kasus kartun Muhammad di Eropa. “Secara hukum itu mungkin dbenarkan, tapi itu adalah langkah bodoh, karena dengan begitu Anda menerapkan standar ganda,  membenarkan penghinaan keyakinan atau sesuatu yang diangap suci oleh orang lain.”

Ramadhan juga menegaskan bahwa di dunia Islam sendiri, ada perubahan psikologi kolektif antara era Salman Rushdie dengan apa yang terjadi di masa ini. “Ada evolusi di kalangan masyarakat Islam sendiri,” ujarnya. Karena itu ia yang kini harus dijadikan pusat perhatian adalah upaya bersama membangun kesantunan kolektif baik di dunia Islam maupun di Barat.

Pandangan Ramadhan ini  ditanggapi dengan tajam oleh  feminis Islam, Irshad Manji (Universitas New York). Menurutnya, jangan sampai penekanan terhadap sensitivitas kebudayaan menyebabkan Barat menjadi terlalu peka  sehingga tak berani ‘mengintervensi’ dunia Islam tatkala mereka melihat ada praktek-praktek yang dalam standard universal tak dapat diterima. Ia mengingatkan bahwa isu kebebasan berekspresi memang masih menjadi masalah serius di negara-negara Islam sehingga ada banyak pelanggaran hak-asasi manusia berlangsung tanpa kritik , misalnya adat yang jelas-jelas menindas perempuan.

Menurut Manji, Barat jangan terlalu percaya pada wacana relativisme kultural, yakni apapun yang berlaku dalam budaya tertentu (misalnya Islam)  akan dipandang sebagai benar menurut logika kebudayaan itu. “Kalau itu yang terjadi maka tak ada lagi standard budaya,” ujarnya. “Dan itu yang memungkinkan penindasan atas nama agama berlangsung terus menerus.”

Karena itu, Manji berharap bahwa media Barat tetap menyampaikan apa yang terjadi dunia Islam, karena itu akan banyak membantu dunia Islam. “Dalam banyak kasus di Timur Tengah, apa yang diberitakan CNN  misalnya akan langsung berpengaruh terhadap cara penguasa Arab  memerintah.”

Saya sendiri dalam forum itu bicara soal kemajuan kebebasan berekspresi di Indonesia sejak awal reformasi. Dalam pandangan saya, umat Islam di Indonesia secara bertahap terbukti  mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan berekaspresi tanpa meninggalkan akar-akar keislaman dan budaya mereka.

Sejumlah peserta menyatakan keterkejutan dan bahkan kekaguman tatkala saya jelaskan, para wakil partai Islam  mendukung UU pornografi yang mendukung legalisasi pornografi ‘soft core’. “Kenapa? Karena mereka merasa harus menghormati hak sebagian pria dewasa untuk mengkonsumsi majalah semacam itu, kendatipun mereka percaya itu adalah produk haram.”

Dalam kaitan itu saya menjelaskan bahwa pengalaman Indonesia menunjukkan keterbukaan yang mendukung arus informasi mengalir lebih bebas akan menyiapkan masyarakat menjadi lebih mudah menerima perbedaan dan tak mudah terprovokasi. “Karena itulah dalam kasus film Fitna misalnya, masyarakat Indonesia tak langsung marah tak terkendali karena menjelang peluncurannya, media sudah memberitakan bahwa itu hanya merupakan karya politisi murahan yang sedang berusaha mencari popularitas.”

Berada di Oslo selama empat hari itu membuat saya semakin percaya bahwa ada banyak alasan untuk optimistis karena ada banyak orang yang menaruh kepedulian yang sama dan bersedia untuk bekerja sama mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik. Kebebasan berekspresi penting, namun dia tak hanya dapat melahirkan manfaat, melainkan juga  mudharat. Karena itu yang diperlukan adalah pengawalan. Dan itu hanya akan efektif kalau  dilakukan bersama-sama.

(Dimuat dalam Majalah Madina No. 18, Juli 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: