Robohnya Baobab: Kebohongan dan Kejatuhan Rektor UI?

Ade armando, 16/12/2011

Pohon roboh bukanlah hal istimewa. Tapi kalau yang tumbang adalah pohon raksasa Baobab tepat di depan gedung Rektorat UI, Depok (12/12/2011), tentu luar biasa.

Baobab itu roboh karena kerasnya hujan angin yang melanda Depok. Tapi sebagian orang buru-buru mengaitkannya dengan sebuah kemungkinan lain: apakah ini berarti pertanda akan robohnya rezim Gumilar?

Sebenarnya ini agak menggelikan harus berlangsung di sebuah kampus yang dihuni masyarakat akademik. Tapi ya tolonglah dimaklumi, mengingat sang rektor UI, seorang Profesor Doktor Sosiologi dari Jerman bernama Gumilar Somantri, selama ini memang dikenal sebagai ilmuwan yang sangat percaya pada kekuatan paranormal. Apalagi menarik untuk dicatat, sehari sesudah tragedi kejatuhan pohon itu, Gumilar terlihat bertemu dengan empat pria berpakaian hitam-hitam di dekat kantor Rektor. Bagi saya yang juga suka berpakaian gelap, tentu saja itu bisa jadi tak berarti apa-apa. Tapi, lagi-lagi mengingat siapa rektor, bisa dimengerti juga bila banyak pihak menyimpulkan ini adalah bagian dari upaya Gumilar mempertahankan kekuasaannya.

Robohnya Baobab (atau nama latinnya Adansoia Digitata) ini memang terjadi tepat di saat UI sedang berada di titik menentukan. Setelah empat tahun berkuasa, kini kepemimpinan Gumilar menghadapi persoalan besar. Cara dia mengelola UI yang tidak transparan dan tidak akunatabel kini digugat karena dianggap menghancurkan UI dan merugikan negara. Dia bahkan diduga melakukan tindak korupsi. Yang terlibat menuntut adalah para dosen, guru besar, Majelis Wali Amanat, para pengelola program, mahasiswa, dan alumni. Menteri sudah mengingatkan kemungkinan ia akan mengambil alih persoalan UI dengan, antara lain, memberhentikan rektor. BPK dan KPK sedang melakukan pemeriksaan. Indonesian Corruption Warch sudah meminta penjelasan yang sampai saat ini belum dijawab dengan data yang benar dari UI. Sebuah kantor pengacara sedang menyiapkan tuntutan atas tindakan Rektor melawan hukum. Sebuah organisasi yang menamakan diri Perempuan Lintas Fakultas (Pelita) dengan didukung 1800 penandatangan mengajukan mosi tidak percaya kepada Rektor.

Karena itu, robohnya pohon baobab – dengan ’perspektif mistis’ — nampak sebagai sebuah simbol kejatuhan Gumilar dalam kehidupan sesungguhnya.

Tapi, dilihat dari sudut pandang lain, jangan-jangan kejatuhan sang pohon memang petunjuk Tuhan sebagai tambahan daftar bukti untuk mengingatkan kita semua kembali pada betapa buruknya pengelolaan UI oleh Gumilar.

Kedatangan 10 pohon Baobab pada November tahun lalu itu sendiri menjadi bahan pembicaraan seru. Masalahnya, tanpa hujan dan angin, tiba-tiba saja sang rektor membawa 10 pohon Baobab dari Subang ke Jakarta. Sang rektor sama sekali tak berkonsultasi dengan Majelis Wali Amanat, lembaga yang kepadanya rektor seharusnya bertanggungjawab. Pemindahan itu juga tak termuat dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan yang seharusnya menjadi pedoman kegiatan universitas.

Kalau ini cuma pohon kecil mungkin tak ada persoalan. Masalahnya pohon Baobab ini adalah pohon raksasa. Ukurannya besar. Diameternya saja empat meter lebih. Untuk memeluknya utuh, butuh 16 orang. Tingginya menjulang sampai 20 meter lebih. Beratnya 50-120 ton. Usia pohon yang dipindahkan itu diperkirakan lebih dari 100 tahun dan dulunya semula berasal dari Afrika.

Data menunjukkan pemindahan setiap pohon itu memakan biaya Rp 100 juta, sehinga total biaya pemindahan itu mencapai Rp 1 miliar. Biaya mahal itu harus dikeluarkan mengingat proses pencabutan pohon dan pengangkutannya ke UI sama sekali tak mudah.

Rektor sendiri mengatakan bahwa UI memperoleh pohon-pohon itu gratis dari sejumlah perusahaan dan penyumbang di Subang. Tapi itu bukan berarti UI tak keluar dana. UI harus mengeluarkan uang sekitar Rp 100 juta per pohon untuk biaya pengiriman. Maklumlah, pemindahan pohon raksasa itu dilakukan dengan menggunakan alat-alat berat, dan setelah tercerabut dari tanah pohon-pohon itu harus dibawa oleh truk-truk kontainer berkapasitas 80 ton yang harus dikawal oleh polisi pengaman. Pohon-pohon itu diboyong di malam hari. Bahkan ada gerbang tempat pembayaran tol yang harus dibongkar sementara untuk memberi jalan bagi kendaraan-kendaraan besar itu.

Jadi total diperlukan dana kurang lebih Rp 1 miliar. Pertanyaannya, tentu saja, adalah: untuk apa?

Gumilar saat itu berusaha meyakinkan publik dengan berbagai jawaban yang nampak ilmiah. Pertama, dengan langkah itu, UI ingin melakukan konservasi pohon tua yang langka. Kedua, pohon itu akan dijadikan sebagai objek penelitian mengingat pohon Baobab merupakan lahan penelitian yang kaya: kandungan vitamin C, kandungan mineral, kadar kalsium dan zat-zat lainnya sangat tinggi. “Pohon baobab adalah sumber ilmu abadi,” kata Rektor.

Namun, tentu saja penjelasan itu pantas dipertanyakan. Di mana logikanya, UI sekarang harus melakukan konservasi di halamannya sendiri bila selama ini tanaman tersebut sehat hidup di Subang? Bila untuk penelitian, apakah perlu memboyong 10 pohon raksasa itu ke Depok? Lagipula, apakah UI memang memiliki keunggulan dalam penelitian tumbuhan?

Kalau begitu, alasan logis apa yang bisa menjelaskan pemboyongan pohon-pohon raksasa itu? Tak terhindarkan sebagian pihak mengaitkannya kembali dengan kecenderungan Rektor untuk menyukai hal-hal yang bersifat mistis. Di Subang, tanaman Baobab ini memang dianggap keramat. Jadi, menurut logika ini, sangat mungkin Rektor menanam 10 pohon tersebut di UI untuk tujuan mistis pula. Apalagi kalau dilihat, kesepuluh pohon itu memang ditanam di lokasi yang dalam garis imajiner nampak membentengi kantor Rektor.

Kini, tumbangnya sang pohon mengingatkan publik kembali pada jawaban sang rektor. Pertama, terbukti bahwa dari sepuluh pohon yang semula hidup sehat di Subang, satu di antaranya sudah tumbang. Tahun lalu sejunmlah pihak membesar-besarkan baobab ini sebagai pohon raksasa yang kokoh dan mampu bertahan lama. Dikatakan ketika itu, bahkan kalaupun tumbang, selama dia masih menyentuh tanah, Baobab masih akan tetap hidup. Kini, segenap pernyataan itu nampak sebagai sekadar bualan. Pohon Baobab yang tumbang itu sudah mulai diuruk dan dipotong-potong. Jadi, di mana letak konservasinya?

Kedua, tak ada juga tanda-tanda penelitian baobab dilakukan. Kesepuluh pohon itu nampak berdiri saja, termangu tanpa membawa manfaat. Satu tahun setelah pohon-pohon itu datang, penelitian belum juga dimulai.

Celakanya lagi, ada satu tambahan cerita yang semakin mempermalukan UI. Baru saja terungkap bahwa pada akhir April lalu pernah ada surat yang datang dari sebuah lembaga Komisi Nasional Penyelamat Aset Negara, Dewan Komite Daerah Subang. Merujuk pada isi suratnya, lembaga ini rupanya pernah menyerahkan dua pohon baobab kepada UI, namun dengan imbalan janji bahwa UI akan membantu SMK jurusan pertanian di Ciasem yang diperuntukkan bagi siswa tidak mampu dan putus sekolah. Sampai surat itu dibuat, janji UI itu belum dipenuhi.

Namun yang penting dari cerita ini bukanlah cuma soal ingkar janji UI. Yang sama atau lebih pentingnya adalah bahwa, berdasarkan isi surat itu, UI diwakili oleh Kasubdit Pertanian UI bernama Yudi Ilham. Persoalannya, tak ada jabatan Kasubdit Pertanian di UI.

Apa penjelasannya? Tidak ada yang tahu. Rektor dan jajaran pimpinan lainnya tak mau mengomentari kasus ini, sampai hari ini. Kecil kemungkinannya bahwa ada orang lain yang juga sengaja, dengan berpura-pura menjadi orang UI, mengambil pohon raksasa itu. Tapi, siapakah Yudi? Tidak jelas.

Jadi, segenap cerita pohon baobab ini seperti kembali menunjukkan tentang betapa buruknya UI dikelola. Rektor UI berkuasa dengan seenak hatinya. Robohnya Baobab mudah-mudahan merupakan pertanda bahwa kesewenang-wenangan itu akan dan harus segera berakhir.

Iklan
Ditulis dalam UI. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Robohnya Baobab: Kebohongan dan Kejatuhan Rektor UI?”

  1. Rony Wijaya Says:

    kok bisa barengan ya? pohon baobab jatuh dan kemudian rektor mengundurkan diri?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: