UI Tak Punya Rektor: Gumilar Hengkang!

Ade Armando, 20 Desember 2011

Saat ini, Universitas Indonesia tidak memiliki rektor. Implikasinya: semua surat dan dokumen yang ditandatangani Prof. Dr. Gumilar Somantri sebagai pimpinan UI sejak 15 Desember 2011 dapat dinyatakan tidak sah.

Gumilar yang sejak 2007 menjabat sebagai Rector UI, memutuskan komitmen kerjanya dengan Majelis Wali Amanat pada 15 Desember 2011. Padahal, satu-satunya SK pengangkatan yang dimiliki Rektor adalah yang dikeluarkan MWA. Kini dengan pemutusan komitmen kerja itu, Gumilar mundur dari jabatannya.

Gumilar tentu sebenarnya tidak dengan sengaja mengundurkan diri. Surat 15 Desember itu jelas dikeluarkan Gumilar dalam rangka menyelamatkan diri dari kewajibannya bertanggungjawab atas salah tata kelola UI di bawah pimpinannya yang diduga merugikan puluhan miliar rupiah.

Dalam tiga bulan terakhir, MWA UI sudah berulangkali meminta Rektor memberikan pertanggungjawaban. Apalagi saat ini BPK, BPKP, KPK dan ICW sedang terus menyelidiki kerugian negara yang ditimbulkan oleh langkah-langkah Gumilar. Kelompok-kelompok mahasiswa, dosen, karyawan, peneliti, alumni juga sudah mendesak Rektor untuk bertanggungjawab dan memperbaiki kondisi UI yang parah.

Dengan mengeluarkan surat 15 Desember itu yang antara lain berisikan penegasan Rektor bahwa ia adalah pejabat publik yang merupakan `kepala satuan kerja di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan’, Rektor memutuskan komitmen kerjanya pada MWA. Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa ia adalah bawahan pejabat publik yang hanya bertanggungjawab pada Menteri dan tidak bertanggungjawab pada MWA ataupun civitas academica UI.

Yang tidak disadari Gumilar, ia tidak bisa mengangkat dirinya sendiri sebagai pejabat public. Untuk bisa menjadi pejabat dalam pemerintah, harus ada SK Pengangkatan yang dikeluarkan Mendikbud. Dan, celakanya lagi buat Gumilar, Mendikbud tidak akan bisa mengeluarkan SK tersebut sebelum ada Peraturan Presiden mengenai status baru UI.

Jadi Gumilar sudah mundur sebagai rektor UI karena ia sudah memutuskan komitmen dengan lembaga yang mengangkatnya dulu. Tapi, dia bukanlah pejabat publik sebagaimana yang ia harapkan karena ia belum diangkat oleh Menteri.

Jadi sekarang gara-gara Gumilar mau menyelamatkan diri, posisi Rektor UI kosong. Jadi tidak boleh ada surat-surat yang ditandatangani Gumilar sebagai ย Rektor sejak 15 Desember 2011, termasuk soal pengesahan ijazah sampai perjanjian kerjasama, pencairan dana dan transaksi keuangan. Semua surat yang ditandatangani Gumilar sebagai Rektor terbuka untuk digugat!

Dalam hal ini, langkah yang sangat mungkin diambil MWA adalah segera menunjukan pejabat sementara sampai ada pemilihan Rektor baru.

Iklan
Ditulis dalam UI. 34 Comments »

34 Tanggapan to “UI Tak Punya Rektor: Gumilar Hengkang!”

  1. nengratih Says:

    wah.. bener tuh,, harus segera ditunjuk pejabat sementara… sebentar lagi kan mau kelulusan.. semoga cepat terselesaikan

  2. R. Hutami Says:

    Wah rektor Kok bisa teledor begitu?

  3. queendy25 Says:

    wow.. ironis sekali ya bang ade. mudah2an cepat terselesaikan dan semoga dukungan dari civitas akademik juga bisa membantu.

  4. real save ui Says:

    Sotoy lo !!
    Protes aja, kapan majunya lo

  5. Rumus Matematika Says:

    siapa yang bakalan ditunjuk ya? jadi penasaran

  6. ahmadbarlianta Says:

    ckckckck

  7. Diah Says:

    Dear Pak Ade, kalo punya masalah dengan pribadi dengan Rektor silakan diselesaikan dengan baik tanpa menghancurkan UI dengan berita yang tidak benar. Berita yang sebenarnya dan sudah saya cek, Dirjen Dikti akan bertemu lagi dengan Rektor UI dan Ketua MWA pada hari Kamis depan, jadi berita bahwa UI tidak punya Rektor belum ada buktinya. Saya tidak memihak ke Save UI maupun Rektor, tapi sebagai civitas UI, proses belajar dan mengajar serta Riset tidak boleh terganggu dengan adanya perbedaan pendapat dan disertai berita yang belum ada buktinya.
    Terima Kasih Pak Ade, semoga UI tetap menjadi Universitas yang terbaik dengan nama yang masih harum.

    • adearmando Says:

      Diah, Anda tentu mengomentari saya bukan karena alasan pribadi, bukan?
      Begitu pula, kalau saya berkomentar terhadap Gumilar, itu tak ada hubungannya dengan masalah personal.
      Kalau soal pertemuan Dirjen dan Rektor dan Ketua MWA sih sudah berulangkali berlangsung.
      Itu tak ada hubungannya dengan surat Rektor tanggal 15 Desemberi.

  8. Andi Zulfikar Says:

    Sebagai alumni UI, kasus ini sungguh mencoreng dan memalukan. Jangan…jangan pernah lagi kasus seperti ini terulang di masa datang. Semoga kekosongan rektor UI segera bisa terisi.

  9. trisetyarso Says:

    Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan …

  10. midjinmidj Says:

    Haha, si Gumilar ini orang Sukarindik Tasikmalaya, bukannya membawa nama harum Tasik malah bikin UI kacau balau, ini Gumilar tergolong orang Sunda gaya jawara “sahaok kadua gaplok”, “ular hijau”, pantas disematkan pada gaya otoriternya, gw sebagai orang Tasik malu sama civitas UI, untuk Gumilar sampeyan lebih baik legowo mundur jangan mempermalukan Tasik, Tasik itu orangnya ramah tamah sopan santun dan lemah lembut, gak keras hati kayak eloe, banyak jabatan terhormat selain Rektor UI buat Gumilar.

  11. deden Says:

    UI hanya sebagian dari pihak yang dirugikan gara2 UU BHP dicabut. Dan mediknas tidak tegas dalam proses aturan peralihan y jelas so ketika UI dah kenceng u terus maju.

  12. hendri manata Says:

    Dunia perguruan tinggi adalah dunia kebebasan, bukan dunia bebas, dalam kebebasan sangat dibutuhkan kedewasaan….semoga civitas akademik UI bisa berfikir dewasa….

  13. siti sulaeha Says:

    Sebaiknya segera ditunjuk rektor baru, agar kelancaran proses belajar mengajar dan riset tidak terganggu. Masalah rektor ini memang sudah lama dan santer di masyarakat dan baru kali ini terjadi … sungguh memalukan. Sebagai alumnus , saya berharap agar hal ini tidak terjadi lagi dan UI tetap tegak sebagai Mercu Suar bangsa.

  14. Coky Says:

    Halo Bang, apa kabar? Saya mengikuti terus berita-berita tentang UI (khususnya Mas Gum) dari berbagai media. Saya mengerti kondisi ini karena pernah 10 tahun di UI. Salah satu alasan mengapa saya “menyerah” dengan UI karena kegelisahan yang terus menerus tanpa ujung, tanpa kepastian dan hanya bisa terus berharap mengenai status kepegawaian. Alhamdulillah, di sini saya sudah menjadi PNS, takdir memang misterius ya Bang…
    Saya doakan Bang Ade tetap dapat menjaga niat bersih untuk membuat UI lebih baik.
    Salam untuk sahabat-sahabat di Kom UI.
    Coky

    • adearmando Says:

      Sedih mendengar cerita Anda, Sekarang di mana?

      • Coky Says:

        Saya sekarang di Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Saya rasa, semua pegawai UI yang belum jelas statusnya juga merasakan hal yang sama. Yang berbeda mungkin adalah bagaimana menyikapi kondisi tersebut. Ada yang memilih tetap bertahan dan terus berharap jika suatu hari nanti statusnya akan lebih jelas. Atau memilih pergi untuk memulai harapan baru di luar UI, seperti yang saya lakukan. Saya sangat bersyukur pada Allah karena saya masih belum terlambat untuk memulainya.

  15. Viewer Says:

    selamat blog ente mulai tenar gan ๐Ÿ˜„

  16. ilham Says:

    untung kampus saya UNY baik2 saja!!

  17. sitito Says:

    atas nama hukum,dan sebagai seorang warga negara yang baik yang taat pada hukum,khan harusnya mengerti harus bagaimana..apalagi seorang akademisi,loch..ui lageeh..emang kedudukan itu segala-galanya yah???..kasihan dosen-dosen yang telah mengajarkan anda,wahai bapak penghancur warung makan Gd.IX(depan perpus pusat UI)..tempat kami dulu bisa makan murah kenyang dan menjadi sarjana bahkan doktor..

  18. Bon.bon Says:

    Ujungnya belum ketahuan ya? Kapan selesainya sih,…..biar ketahuan yang sungguh2 UI Saver dan atau UI Damager……

  19. programa tujuh Says:

    wah, kalo rektornya kgag ada, sypa yg mimpin universitasnya.

    salam,
    programatujuh.wordpress.com
    (Media Penghubung Warga SISMA)

    ditunggu kunjungannya ๐Ÿ˜€

  20. dendi Says:

    apa bener save ui mncul karena fakultas2 gerah dengan sentralisasi dana ala pak rektor?

    • adearmando Says:

      Betul, tapi sebenarnya bukan sentralisasinya… Yang penting transparansid an akuntabilitasnya.. Rektor itu menguasai dana lebih dari 1 triliun rupiah, tapi penggunaannya tidak transparan.. Apalagi banyak departemen dan program yang menjerit karena dana yang sudah dianggarkan dan disetuji di awal tahun tidak turun dengan lancar dan banyak terpotong…

  21. prokontra Says:

    ini kan kontranya, ada artikel yang pro nya, ga bagus dong kalo nilai satu hal cuma dari 1 sisi

  22. langitantyo.tri Says:

    Malem, mas.
    Saya juga udah dapet penjelasan dari Bang Effendi,
    – Bahwa istilah “Pejabat Publik” tidak ada di perundang-undangan manapun di Indonesia (berbeda dengan isitlah “Pejabat Negara” yang diatur di UU)
    konsekuensi2nya:
    – Dengan ini, gaji rektor haruslah sama gaji PNS (itung2annya dari 40an jt jd 3-4jt)
    – Tidak ada jaminan pendidikan akan murah
    – UI akan dikontrol penuh oleh pemerintah lewat Kemendikbud (menteri bisa mencopot rektor, perizinan kegiatan ‘mungkin’ sulit, dll)
    – Semua dana yg masuk harus disetor ke Negara, karena UI berada di bawah Kemendikbud

    semoga menambah wawasan temen2 ๐Ÿ™‚

  23. langitantyo.tri Says:

    hal ini merujuk pada PP66 dan PP152 (yang sdh lama jd kisruh juga).. BHMN yang perdata, dan UI sebagai Badan Pemerintah.

    dan surat tgl 15Desember, dimaknai sebagai pemutusan hubungan/komitmen kerja antara rektor dan MWA. bukan menyatakan bahwa “Rektor diberhentikan oleh MWA”

    itu pengetahuan saya, bila salah mohon diluruskan Bang.

  24. librarian Says:

    Mungkin ada baiknya juga SaveUI tidak hanya mendengar ocehannya orang2 yang kontra dengan Rektor, tapi juga dari kelompok karyawan dan dosen yang merasakan banyaknya perbaikan ke arah yang lebih baik di masa kepemimpinan Pak Gumilar. Status SDM UI yang gak jelas itu kan ulahnya rektor2 sebelumnya yang tidak pernah berani menyentuh penataan SDM karena akan mengusik kenyamanan segelintir orang di beberapa fakultas yang terlanjur sangat nyaman. Baru kali ini UI punya rektor yang berani menata SDM supaya statusnya jelas, dan penghasilannya tidak jomplang antara 1 fakultas dengan fakultas lainnya. Sayang sekali ide ini sangat mengganggu kenyamanan beberapa orang yang tidak rela ‘comfort zone’ nya terusik. Sebagai salah seorang karyawan di UI saat ini, saya yakin betul, ide2 dan program2 Pak Gumilar sekarang yang banyak ditentang segelintir orang, justru akan dinikmati oleh seluruh warga UI (termasuk pengkritiknya) di kemudian hari.

    • adearmando Says:

      Librarian, Anda ditipu oleh Gumilar.
      Kalau Anda belajar soal praktek korupsi, cara yang dilakukan Gumilar ini adalah cara yang lazim dipakai untuk mempertahankan rezim yang korup.
      Jadi, orang kecil seperti anda dinaikkan penghasilannya, sehinga Anda merasa nyaman dan berterimakasih pada Gumilar dkk.
      Tapi di atas sana, mereka dengan semena-mena menghabiskan uang rakyat tanpa kendali.
      Kesadaran Anda dimanipulasi.
      Coba deh anda pelajari berbagai kasus yang diangkat Save UI: kasus boulevard, RS yang terbengkalai, pendanaan Perpustakaan yang berindikasi korupsi, gedung Art and Cultural Center yang mandeg, makanan anjing rektor, perjlanan keluar negeri, disunatnya dana penelitian dari pihak luar, disunatnya beasiswa, bunga bank yang tidak transparan, gaji OB yang cuma rp 500 ribu/bulan, dll.
      Saya turut bahagia kesejahteraan Anda meningkat. Tapi yang kami persoalkan bukan itu. Yang kami peroslkan adalah salah keola UI yang merugikan negara secara massif.

      • librarian Says:

        Maaf Pak, saya gak merasa ditipu. Tidak dimanipulasi. Saya PNS golongan IV B dan sudah 21 tahun berkarya di UI. Dari segi finansial, apapun status UI selama ini (BHMN kek, BHP kek) tidak banyak berdampak pada penghasilan saya sebagai PNS. Paling transport dan kesejahteraan yang tidak terlalu besar. Jadi, kalau saya terkesan pro Pak Gumilar, bukan karena saya sudah sejahtera dibawah kepemimpinan beliau. Saya hanya respek dengan program pembenahan kampus yang beliau lakukan, dan keberaniannya ‘melawan’ hegemoni para senior di UI yang *Anda mestinya tahu dong..* tidak mudah ditaklukkan.

        Kasus2 yang diangkat oleh SaveUI itu, menurut hemat saya silahkan saja diperiksa sesuai hukum yang berlaku, tapi beri kesempatan kepada Rektor untuk tetap menjalankan program2nya dengan baik. Kan tidak harus dengan cara menggulingkan? Toh tinggal beberapa bulan lagi.

        Tentang OB, setahu saya OB di lingkungan UI kan out source, bukan karyawan UI. Jadi, bukan UI yang menggaji. Kalau Anda bilang, kenapa UI mau pakai perusahaan yang membayar karyawannya dibawah standar UMR, lho, bukannya kalau dalam tender itu lazimnya penawaran yang paling rendahlah yang dimenangkan. Kalau yang dimenangkan perusahaan yang tawarannya paling tinggi, nanti akan diperiksa lagi, kenapa yang diambil yang paling mahal padahal ada perusahaan yang menawarkan lebih rendah.

        Di satu sisi saya pribadi setuju dengan gerakan SaveUI soal hal-hal yang dirasa mencurigai, dan tuntutan tata kelola yang baik. Karena itu silahkan terus dikawal dan dikontrol. Tapi coba deh Pak, andai Anda di posisi Rektor, dengan segala keragaman dan ‘kecongkakan’ beberapa fakultas yang merasa kaya di UI, dan sulit sekali ‘dikoordinir’, kira2 bisa gak Anda menyelesaiakan penataan SDM, keuangan, dalam waktu singkat sambil terus membangun fasilitas?

        Saya hanya karyawan biasa di UI, tidak punya jabatan apapun. Yang saya lihat selama ini bahwa UI memang sangat faculty oriented. Orang2 fakultas tidak pernah merasa bagian dari UI, apalagi kalau sudah berkaitan dengan UANG. Mereka selalu merasa bahwa merekalah yang punya mahasiswa, merekalah yang punya uang, sehingga UI (dalam hal ini Rektorat – PAU) seharusnya tidak punya apa-apa. Dalam berbagai pertemuan baik kalangan karyawan maupun level stakeholder tingkat fakultas yang pernah saya hadiri, seringkali terdengar kata-kata ini: “UI itu kan gak punya kontribusi apa2 bagi fakultas…bla..bla..”

        Lha, apa ini gak keliru? Emang fakultas itu bisa ya punya mahasiswa dan cari uang dengan cara kerjasama2 dengan pihak luar tanpa pakai nama UI? Tanpa logo makara? Nah, ini yang tidak pernah berani disentuh para rektor sebelumnya. Persoalan2 status staf di berbagai fakultas yang berpuluh tahun tidak jelas, emang itu salahnya siapa? Sekarang, ada rektor yang berani menyentuh persoalan2 ini, ingin menata status staf dan keuangan, supaya status staf menjadi jelas dan gaji karyawan tidak jomplang. Sayangnya, staf yang mau ditata inipun tidak sabar, malah demo. Ini memang karakter masyarakat kita ya, andai tidak ada penataan SDM dilakukan Pak Gumilar, staf yang statusnya selama ini ngambang, adem2 aja tuh. Yang penting gajinya lancar setiap bulan. Gitu kan… Begitu statusnya mau diperjelas, malah ribut…. bingung deh.

        Kembali ke soal2 yang diangkat SaveUI. Menurut saya pribadi, silahkan saja diadukan ke pihak berwajib dan biarkan proses hukum yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Tapi mari tetap sama-sama menjaga kondisi akademis agar tetap kondusif untuk berkarya. Anda2 ini kan katanya kaum intelektual, akademisi. Menurut saya sih gak perlulah sampai kayak yang di gedung DPR sono…:)

        Btw, gedung perpus yang dipersoalkan itu, sesungguhnya bukan cuma kebanggan UI lho Pak. Kepustakawanan Indonesia bangga sekali dengan gedung ini, karena di negeri yang carut marut ini, jarang sekali ada lembaga atau pimpinan yang mau memberikan perhatian khusus untuk membangun sebuah perpustakaan yang bagus. Di banyak lembaga, ruang2 untuk perpustakaan itu biasanya ditempatkan di lokasi2 paling ‘menyedihkan’, kalau gak bekas gudang, dekat toliet. Untuk yang ini, maaf Pak, sebagai pustakawan saya dan teman-teman sangat bangga menjadi pustakawan UI…:)

        O ya, saya yakin teman2 di SaveUI juga sebagian cukup menikmati fasilitas yang ada di gedung ini koq… beberapa kali saya melihat sendiri para pengkritik gedung ini nongkrong santai sambil ngupi2 di warung ‘kapitalis’ itu…:)

  25. adearmando Says:

    Buat saya, begitu Anda mentoleransi gaji OB yang hanya Rp 500 ribu per bulan, ya selesai sudah… Anda memang tidak peduli dengan nasib orang kecil…. Itu memang outsource, tapi ya tolollah kalau prinsipnya yang menang adalah yang mengajukan penawaran terendah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: