Detik Diperdaya untuk Menyebarkan Kabar Bohong Pembekuan MWA UI

Detik Diperdaya, Menyangka MA Sudah Membekukan MWA UI

Ade Armando (20/12/2011)

Dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, kubu Rektor UI rupanya akan terus melakukan langkah apapun, termasuk mengecoh publik.

Korban terakhirnya adalah media  online berpengaruh, detik.com.

Tanpa mungkin disadari, detik diperdaya untuk menyiarkan berita  bohong yang menyudutkan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia.

Tertipunya  detik  terlihat dalam pemberitaan berjudul, “MA: Pasca Putusan MK, Majelis Wali Amanat Beku.” Berita itu ditulis Andi Saputra pada hari Selasa (20/12/2011), pukul 14:51.

Berita ini dengan segera menyebar. Para pihak yang mendukung Prof. Dr. Gumilar Somantri dengan segera menggunakan berita itu untuk mendiskreditkan MWA.  Bagi mereka, berita ini merupakan berkah yang menunjukkan bahwa Gumilar berada di jalan yang benar.

Beberapa saat sebelum berita ini disiarkan, Majelis Wali Amanat (MWA) UI memang baru saja menyatakan bahwa Prof. Dr. Gumilar Somantri  sudah tak lagi menjabat sebagai Rektor UI, terhitung sejak 21 Desember 2011.

MWA menyatakan bahwa Gumilar tak lagi menjabat posisi Rektor karena Gumilar sendiri melalui surat tanggal 15 Desember 2011 telah mengabaikan komitmen kerja pada MWA. Dengan menyatakan telah ‘mengakhiri hubungan perdata dengan MWA UI’,  Gumilar dinilai telah mengakhiri  secara sepihak hak dan kewajibannya sebagai Rector UI.

Tak lama setelah surat MWA dikeluarkan itulah, secara mengejutkan detik  menyajikan berita yang menunjukkan bahwa menurut Mahmamah Agung , MWA UI sebenarnya telah dibekukan dan tidak mempunyai kewenangan dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Yang menjadi rujukan berita tersebut adalah pernyataan Ketua Muda MA Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, Paulus Effendie Lotulung dalam pendapat hukum MA bernomor 70/Td.TUN/2001. Surat  bertanggal 27 Oktober 2011 itu dikeluarkan Ketua Muda MA untuk menjawab surat Rektor tanggal 20 Oktober .

Menurut Paulus, sejak adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang mencabut UU tentang Badan Hukum Pendidikan, MWA sudah tidak mempunyai landasan hukum untuk melakukan tindakan hukum dan perbuatan hukum yang baru.  Di akhir berita, detik menulis: |”Alhasil, ekstensi MWA sudah tidak mempunyai landasan hukum…,” tegas MA.

Siapapun yang hanya membaca berita detik tersebut tentu akan menyangka bahwa memang sudah ada keputusan MA yang membekukan MWA UI.
Nyatanya ada bagian-bagian yang dihilangkan terkait dengan berita tersebut. Sejumlah isu penting yang tidak ditulis oleh wartawan detik adalah sebagai berikut:

  1. Di surat itu secara jelas terbaca sejak awal bahwa isinya merupakan pendapat hukum yang tidak “bersifat putusan atau penetapan dalam suatu sengketa”. Dengan kata lain, surat ini hanya berisi pendapat Ketua Muda MA..
  2. Di bagian akhir surat, kembali ditekankan bahwa isi surat tersebut adalah “pendapat kami untuk diketahui seperlunya.”
  3. Lebih jauh lagi pada 6 Desember 2011, keluar pula surat dari Ketua Mahkamah Agung RI  H. Harifin A, Tumpa, SH yang menyatakanpendapat hukum yang diberikan Ketua Muda MA tidak mempunyai kekuatan memaksa dan mengikat. Bahkan Ketua MA menyatakan bahwa bila sampai ada Surat Keputusan yang dikeluarkan Rektor dengan merujuk pada pendapat Ketua Muda MA itu, SK tersebut dapat diajukan ke PTUN.

Dengan demikian, adalah jelas bahwa tidak pernah ada ketetapan atau perintah MA agar MWA dibekukan.

Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud sendiri pada 8 Desember 2011 menjawab surat MWA, yang menunjukkan bahwa Dirjen DIKTI mengakui eksistensi MWA.  Surat itu berisi persetujuan Drjen atas permintaan MWA untuk menunda proses penyelesaian draft Statuta UI yang sebelumnya diajukan Rektor UI tanpa konsultasi dan persetujuan MWA.

Detik tampaknya terkecoh. Wartawan Detik  mengira bahwa isi surat yang dirujuknya adalah ketetapan MA, bukan sekadar pendapat yang tidak mengikat . Detik juga tampaknya tidak tahu bahwa ada surat yang dikeluarkan Ketua MA pada 6 Desember 2011.

Waktu dipublikasikannya berita itu sendiri memang bisa mengundang kecurigaan.  Surat Ketua Muda MA itu sudah dikeluarkan sejak 27 Oktober 2011. Tapi mengapa detik baru menyiarkannya pada 20 Desember, hanya beberapa saat setelah MWA UI mengeluarkan surat pemberhentian Rektor? Lalu, bila detik memperoleh surat tersebut dari MA, mengapa detik tidak  mengetahui bahwa ada surat tertanggal 12 Desember?

 Yang jelas, yang memang secara konsisten menyatakan MWA sudah tidak berwenang lagi di UI adalah Prof. Dr. Gumilar Somantri sendiri. Misalnya saja pada Kompas.com edisi 24 November 2011 termuat  pernyataan Gumilar bahwa MWA tidak memiliki kewenangan apapun, termasuk untuk memilih, mengangkat dan memberhentikan rektor. Menurut Gumilar pula, pucuk pimpinan tertinggi UI adalah rektor.

Bahwa Gumilar berulangkali menegaskan ini nampaknya terkait dengan upaya MWA yang selama beberapa bulan terakhir inimeminta pertanggungjawaban Gumilar atas berbagai kesalahan tata kelola UI yang merugikan negara sampai miliaran atau puluhan miliar rupiah. Kendatipun banyak kelompk yang sebenarnya menuntut pertanggungjawaban Gumilar (termasuk BEM-UI,  Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi , Save UI) secara public, MWA memang memiliki kewenangan tertinggi untuk memaksa Rektor.

Gumilar sampai sekarang tak mau memenuhi permintaan itu. Namun kondisinya memang tak bertambah baik baginya. Apalagi sekarang hadir BPK dan BPKP yang melakukan audit kekuangan UI dan  sudah menyatakan bahwa ada temuan-temuan yang menunjukkan kemungkinan kerugian negara dalam jumlah ratusan miliar rupiah.  KPK pun sudah terlibat. Begitu juga Indonesian Corrpution Watch. Jadi, Gumilar memang sedang terdesak.

Jadi bisa sangat bisa dipahami bila memang ada upaya menyengaja untuk mengecohkan wartawan Detik. Wartawan tersebut hanya memperoleh satu surat yang penafsiran isinya pun sudah diarahkan.

Dalam kaitan ini pula, perlu juga mencatat pernyataan Mahfud MD, ketua Mahkamah Konstitusi yang keputusannya disebut-sebut sebagai dasar pembekuan MWA sebagaimana dinyatakan oleh Ketua Muda MA. Dalam SMS yang dikirimkannya untuk menjawab pertanyaan Save UI tentang MWA, Mahfud menulis: “Menurut vonis MK, MWA atau instrument apapun boleh terus ada asalkan itu bukan penyeragaman yang dipaksakan.”

Dengan demikian adalah jelas bahwa bahkan MK pun tidak pernah berniat untuk membekukan MWA dalam organisasi universitas.

Berita pembekuan MWA ini sekarang terbukti bohong. Tapi janganlah disangka bila setelah  satu upayanya untuk mengecohkan public gagal, kubu Gumilar akan bersikap lebih baik. Mereka akan terus bergerak untuk melindungi tahtanya.  Dengan cara apapun.

Dengan cara apapun.

Ditulis dalam UI. 6 Comments »

6 Tanggapan to “Detik Diperdaya untuk Menyebarkan Kabar Bohong Pembekuan MWA UI”

  1. Dosen Tetap Says:

    Dengan cara apapun ya?

    Hmm, apakah sama dengan cara #saveUI yang tidak kalah sensasionalis menyatakan Gumilar resmi mundur, padahal kalau kita cermati suratnya kepada MWA tidak pernah ada pernyataan eksplisit yang menyatakan hal tersebut? Banyak pihak yang mengatakan sudah “jelas” bahwa dia mengundurkan diri. Apa iya? People will read (between the lines) what they want to read.

    Saya sama sekali bukan pendukung Rektor UI, tapi saya sangat menyayangkan gerakan terakhir dari kelompok #saveUI.

  2. kampus tetangga Says:

    pak dosen tetap,, apapun surat pak Gumilar, MWA sudah meng-impeach- pak rektor per hari ini.. bgitu yg saya baca between the lines pagi ini..

  3. Orang Biasa Says:

    sebegitu burukkah, sebegitu bencinya kepada rektor UI??sungguh orang-orang yang suka mencibir dan menggunjingkan orang lain adalah orang yang merugi. Seluruh kebaikan orang seperti itu meskipun sebesar gunung, akan hilang semua bak debu yang ditiup. Berburuk sangka……berburuk sangka…..orang yang berburuk sangka makan, namun tiada gizi yang diserap, orang yag berburuk sangka ibadah, taaat, namun tiada pahala yang didapatnya….waduh capek deeeh…..

    • adearmando Says:

      Kok berburuk sangka sih?
      Data=data keburukan Gumilar tersedia dalam jumlah banyak.
      Justru kalau seorang beragama membiarkan kezaliman terjadi dan dia justru mendukungnya, tentulah dia tidak selamat dunia-akhirat…

  4. eben sahlan Says:

    mungkin bukan pendukung rektor….. tapi setidaknya ada kepentingan terkait….??? he he he . . . .

  5. Ade Armando: Indo Pos, Kebohongan Rektor dan Skandal Penyadapan « Superkoran Says:

    […] Detik Diperdaya untuk Menyebarkan Kabar Bohong Pembekuan MWA UI […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: