Mendikbud Selamatkan Gumilar. Penyelamatan UI Jauh Dari Selesaii

 

Ade Armando (23/12/2011)

 Gumilar Somantri akhirnya kembali menjadi Rektor UI. Untuk itu dia harus menjilat ludahnya sendiri. Tapi, itulah Gumilar.

Keputusan ini diambil dalam pertemuan antara Gumilar dan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) yang dimediasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pertemuan berlangsung di kantor Mendikbud, Kamis 22 Desember, selama kurang lebih 5 jam dan baru berakhir tengah malam.

 MWA pada 21 Desember baru saja mempublikasikan SK Pencabutan SK Penugasan  Gumilar sebagai Rektor UI.  Dengan kata lain, MWA menyatakan Gumilar tak lagi menjabat Rektor UI karena SK Penugasannya sudah dibatalkan.

MWA mengeluarkan surat itu setelah Gumilar pada 15 Desember 2011 menyatakan bahwa ia tidak lagi memiliki ikatan hukum dengan MWA yang mengangkatnya pada Agustus 2007. Gumilar mengklaim bahwa ia sudah memiliki status baru yaitu sebagai pejabat publik dalam kapasitas sebagai kepala Satuan Kerja (Satker) UI di bawah Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan.  Gumilar menyatakan bahwa ia masih menjabat sebagai Rektor UI, tapi tidak di bawah MWA melainkan langsung di bawah Menteri.

MWA kemudian menyatakan menerima penjelasan Rektor tersebut, Hanya saja, menurut MWA pula,  sebagai konsekuensi logis dari kondisi itu MWA terpaksa mencabut SK Penugasan  Gumilar pada Agustus 2007.

Celakanya bagi Gumilar, ia ternyata juga tak punya SK apapun yang menunjukkan bahwa ia sudah diangkat sebagai pejabat publik sebagaimana yang ia klaim. Karena itu, pada 21-22 Desember , sebenarnya  Gumilar tak memiliki SK apapun yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Rektor UI. SK MWA sudah dicabut, sementara  SK dari Menteri tidak pernah ada. Karena itulah, kelompok Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI   (Pelita UI) menjuluki Gumilar sebagai ‘Rektor Pinokio’ (pembohong).

Gumilar merengek. Menteri Pendidikan dan kebudayaan pun tersentuh hatinya, Maklumlah selama ini, Muhammad Nuh memang terkesan berposisi sebagai ‘bapak pelindung’ Gumilar. Ketika Indonesian Corruption Watch dan KPK sudah mulai menyidik potensi korupsi di UI, adalah Menteri Dikbud yang buru-buru menyatakan bahwa tak ada korupsi di UI. Ketika BPK mulai melakukan audit khusus soal UI, Menteri meminta agar masalah UI jangan dibawa ke dunia luar UI. Menteri bahkan mengingatkan adanya para ‘penumpang gelap’ di UI yang nampaknya ditujukan pada Save UI.

Kali inipun begitu. Sejak keluarnya pernyataan MWA, Menteri pasang badan dengan menyatakan bahwa di matanya, Gumilar tetap adalah seorang Rektor UI.  Pertemuan di Mendikbud kemarin malam pun adalah atas inisiatif Menteri.

Berkat pertemuan itu, posisi Gumilar diselamatkan. Beberapa kesepakatan yang dicapai antara MWA dan kubu Rektor  adalah, antara lain:

  1.  UI tidak menjadi Satuan Kerja di bawah Mendikbud.
  2. MWA membatalkan SK Pencabutan SK Pengangkatan Gumilar. Dengan kata lain, Gumilar selamat kembali menjadi Rektor UI.
  3. Gumilar mengakui kembali kewajibannya untuk mengikuti kesepakatan kerja dengan MWA. Artinya Gumilar masih akan menjabat sampai Agustus 2012, dan terbuka  kesempatannya untuk terpilih kembali untuk periode kepemimpinan universitas 5 tahun berikutnya; namun ia tetap harus bersedia diawasi dan bertanggungjawab pada MWA.
  4. MWA diakui keberadaannya tapi akan ada pemilihan anggota baru MWA untuk mengganti  MWA periode keanggotaan saat ini yang akan berakhir pertengahan Januari 2012.
  5. MWA baru akan dipilih oleh Senat Akademik Universitas (SAU) yang anggotanya dipilih oleh Senat Akademik Fakultas. SAF ini akan mengganti Senat Universitas (SU), lembaga baru yang belakangan ini menjadi salah satu kekuatan utama pendukung Gumilar.
  6. Akan dibentuk sebuah Tim Transisi terdiri dari 7 orang yang anggotanya dipilih Rektor, MWA, Dewan Guru Besar, SAU, Dewan Audit, mahasiswa dan karyawan. Tim transisi ini menyiapkan proses peralihan UI menuju PTN sebagaimana ditetapkan PP No 66/2010

 

Itulah kesepakatan yang dicapai. Di satu sisi, ini adalah semacam solusi menang-menang. Gumilar tidak kehilangan tahta, namun dengan kekuasaan yang dikurangi.

Namun ini tentu saja tak akan banyak berarti kalau persoalan mendasar UI yang digugat tidak ditindaklanjuti.

Ketika kisruh MWA versus Rektor mencuat, banyak pihak teralihkan perhatian dari masalah-masalah besar yang mendasar. Banyak pihak lupa, kekisruhan ini terjadi gara-gara Rektor tidak mau merespons tuntutan MWA yang meminta Rektor bertanggungjawab dan memperbaiki kekacauan UI selama ia memimpin. Rektor dan kawanan pembantunya terus menerus berusaha melarikan diri dari kewajiban mereka sebagai pemimpin yang telah melakukan berbagai kesalahan dalam mengelola UI.

Karena itu, bila soal status Rektor dan MWA ini sementara terselesaikan,  Rektor dan kawanan pembantunya tetap harus bertanggungjawab untuk merombak tata kelola Ui yang tidak transparan, tidak akuntabel, tidak berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, dan berindikasi korupsi.

Bila hendak diidentifikasi, ada serangkaian JANGAN LAGI yang seharusnya dilakukan Gumilar sejak saat ini:

  1. JANGAN LAGI mengelola UI dengan cara tidak transparan, tidak bertanggungjawab dan sewenang-wenang. Rektor harus berkonsultasi dengan   MWA, SAU, DGB, dan bahkan para Dekan.  
  2. JANGAN LAGI ada pembangunan yang dilakukan serampangan, tak terencana, boros dan tidak dipertanggungjawabkan seperti pembangunan boulevard, pembangunan jalur sepeda, pembangunan perpustakaan,pemboyongan pohon baobab  dan sebagainya.
  3. JANGAN LAGI menghindar dari tanggungjawab atas kerugian negara yang dilakukan oleh keburukan langkah Rektor, seperti mempertanggungjawabkan kerugian Negara yang diakibatkan tertundanya pembangunan Rumah sakit dan Fakultas-fakultas Kesehatan akibat pembangunan boulevard Rektor.
  4.  JANGAN LAGI ada pekerja kebersihan yang digaji Rp. 500 ribu per bulan atau jauh di bawah UMR, sebagaimana berlangsung di UI saat ini.
  5. JANGAN LAGI ada karyawan dan pegawai yang terkatung-katung statusnya selama bertahun-tahun.
  6. JANGAN LAGI ada dosen, karyawan, pegawai yang gajinya dipotong atau terunda pembayarannya selama berbulan-bulan.
  7. JANGAN LAGI ada dana penelitian dari lembaga pemberi dana di luar UI yang seharusnya diperoleh peneliti, yang dikangkangi orang-orang Rektor UI, dihambat pencairannya selama berbulan-bulan atau lebih dari satu tahun, atau bahkan tidak sampai ke peneliti dalam jumlah utuh.
  8.  JANGAN LAGI ada dana bea siswa untuk mahasiswa UI dari pihak luar UI, yang dikangkangi orang-orang Rektor UI, dihambat pencairannya selama berbulan-bulan, atau bahkan tidak sampai ke mahasiswa dalam jumlah utuh.
  9. JANGAN LAGI ada birokrasi universitas  yang berbelit dan mempersulit distribusi dana ke bawah yang menjadikan berbagai departemen, program, lembaga dan unit pendidikan lain tak memperoleh dana yang memang menjadi hak-nya.
  10. JANGAN LAGI ada dana sponsor atau mitra pihak luar yang dikangkangi orang-orang Rektor UI,  dihambat pencairannya selama berbulan-bulan, atau bahkan tidak sampai ke pihak yang berhak  dalam jumlah utuh.
  11. JANGAN LAGI menghamburkan uang rakyat, misalnya dengan membangun perpustakaan mewah delapan lantai dengan biaya Rp 120 miliar, sementara perpustakaan pusat yang lama diabaikan begitu saja dan perpustakaan-perpustakaan di fakultas menjadi terbengkalai
  12. JANGAN LAGI ada program-program pendidikan yang diabaikan begitu saja keberadaannya selama bertahun-tahun tanpa kepastian tentang keberadaan, pengelolaan dan perkembangannya.
  13. JANGAN LAGI ada hewan peliharaan Rektor yang makanannya dibiayai oleh uang rakyat atau dana masyarakat
  14. JANGAN LAGI ada jalan-jalan ke luar negeri Rektor dan kawanan pendukungnya yang memboroskan uang rakyat
  15. JANGAN LAGI ada upaya pembelahan masyarakat akademik dengan isu-isu agama dan ideologis lain (misalnya dengan menyebarkan fitnah bahwa penentang Gumilar adalah kelompok Kristen-Sekuler-Liberal)
  16. JANGAN LAGI ada perekrutan dosen secara tidak transparan dan tidak akuntabel, milsanya dnegan mengintervensi Departemen untuk menerima pengajar yang diiinginan rektor tanpa standard akademik yang jelas.
  17. JANGAN LAGI ada pola penerimaan mahasiswa baru yang tidak transparan dan tidak akuntabel, misalnya orang-orang Rektor menentukan sendiri mahasiswa-mahasiswa yang direkrut melalui jalur undangan tanpa melibatkan jajaran Dekan dan  Ketua Departemen
  18. JANGAN LAGI menyuap media massa, misalnya dengan membayar puluhan juta rupiah untuk memperoleh pelaporan yang positif mengenai diri rektor, menawarkan peluang beasiswa S2 bagi wartawan, menyelenggarakan jamuan mewah bagi wartawan dengan uang rakyat dan mahasiswa sekadar untuk membangun imej positif mengenai diri Rektor.
  19. JANGAN LAGI mengkomersialisasikan ruang publik yang dibiayai dengan dana rakyat, seperti menyewakan dengan biaya mahal ruang-ruang di Perpustakaan Pusat, sehingga peruntukannya tidak lagi berorientasi pada kepentingan pendidikan
  20. JANGAN LAGI ada intimidasi dan penindasan fisik dan psikologis terhadap mahasiswa yang berani menyuarakan pendapat kritis
  21. JANGAN LAGI melakukan praktek politik kotor, seperti melakukan penyadapan terhadap sms masyarakat akademik
  22. JANGAN LAGI menyebarkan fitnah dan kebohongan mengenai masyarakat akademik yang mengeritik kebijakan Rektor
  23. JANGAN LAGI menyelenggarakan program-program penerimaan mahasiswa yang memanjakan mahasiswa kaya dan mematikan peluang rakyat kecil miskin untuk mengecap pendidikan di UI
  24. JANGAN LAGI melakukan langkah-langkah perombakan organisasi secara sepihak tanpa rujukan legal yang jelas, seperti membubarkan Senat Akademik Fakultas  secara sepihak atau menyatakan MWA sudah tidak berwenang di UI
  25. JANGAN LAGI semena-mena menghidup[kan dan mematikan program pendidikan, seperti tiba-tiba saja mematikan program D3 dan Ekstensi serta kemudian memerintahkan agar program Vokasi langsung didirikan, tanpa ada konsultasi, perencanaan dan persiapan yang matang.
  26. JANGAN LAGI berorientasi pada memperkaya diri. Gaji Rektor dan para pimpinan unversitas itu sudah besar (Rp 45 juta per bulan untuk Rekrot; dan Rp 30 jutaan untuk para waklinya). Karena itu berhenti mengangkangi uang rakyat dan mahasiswa. Gunakanlah dana itu untuk kepentingan bersama: untuk rakyat, karyawan dan dosen serta mahasiswa.

Jadi, urusan UI jauh dari selesai. Gumilar masih menjadi Rektor UI. Dan karena itu dia harus bertanggungjawab atas A-Z masalah UI itu.

 

Ditulis dalam UI. 8 Comments »

8 Tanggapan to “Mendikbud Selamatkan Gumilar. Penyelamatan UI Jauh Dari Selesaii”

  1. anakfisip Says:

    bang ade..kok MWA terkesan jadi lembek yah?apakah karena ingin memberi kesempatan bagi Prof.Gumilar memperbaiki tata kelola?tapi apa jaminannya?mengingat masa aktif MWA sekarang tidak sampai 1 bulan..apakah para anggota MWA yang terpilih nanti adalah bukan orang2 pendukung Prof.Gumilar?

    • adearmando Says:

      Saya baru saja dapat penjelasan bahwa para anggota MWA tidak perlu diganti pada pertengahan Januari nanti… Itu rupanya disepakati juga… Jadi nanti MWAnya tetap yang ini sampai masa transisi berakhir

  2. rizkykertanegara Says:

    Hati-hati juga gerakan bawah tanah untuk melanggengkan kekuasaan gumilar

    • adearmando Says:

      Setuju.. Kita harus sadar bahwa mereka yang selama ini diuntungkan Gumilar cukup banyak… dan para kacung ini pasti ketakutan kalau majikan mereka tersudut

  3. nurani Says:

    Apalah arti 26 kata JANGAN LAGI dari pada kehilangan kepentingan diri dan Jabatan Terhormat. Dimanakah letak hati nurani dan keteladanan bagi seorang pemimpin dalam dunia pendidikan? secara manusiawi terselamatkan oleh mendikbud namun tidak bisa menghidar dari Hukum Allah SWT karena jabatan sebagai pemimpin adalah AMANAH karunia dari Allah SWT yang seharusnya disyukuri.

  4. Susan Says:

    27. JANGAN LAGI cuma omong doang bang ade,.. yang sukses adalah,. : Kerja, Kerja, Kerja,,,,

    • adearmando Says:

      Masalaanya, kami sih kerja terus, tapi saya khawatir Anda dan kawan-kawan jadi maling terus …

      • Susan Says:

        Iya kerja nyari kekurangan n ngejelek2in serta ngebuka aib orang lain,. tanpa bisa ngasih solusi,.. Jujur deh ndo,. sebenrnya ente dendam apa ma Rektor UI?? ente ga dikasih jabatan yah di UI?? di Indonesia banyak yang dah pinter ndo,. dah bisa nilai mana bener mana salah,.. ga kaya ente n konco-konco ente,. cuma bisa ngejeplak aja kalo ngomong…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: