Bila Mau Lagi jadi Rektor, Gumilar Harus Non-Aktif pada Februari 2012

Ade Armando (27/12/2011)

Setelah keributan yang membawa nama UI ke headline media massa, saat ini UI nampak sudah hidup tenang kembali.

Ini kesan yang tak sepenuhnya benar. Yang diberitakan sebagai tercapainya kompromi antara MWA dan Rektor UI melalui mediasi Menteri PDK pekan lalu sebenarnya hanyalah mengembalikan penataan UI ke jalur yang benar.

Arti kompromi tersebut sebenarnya cuma satu: Rektor tak lagi bisa melepaskan diri dari tanggungjawabnya kepada MWA. Melalui kesepakatan dalam pertemuan itu, Rektor harus menganulir suratnya bahwa ia memandang MWA sebagai organ yang tak dikenal dalam stuktur organisasi UI. Sebagai konsekuensinya, MWA juga harus menganulir surat keputusannya bahwa mereka mencabut Surat Pengangkatan Gumilar sebagai Rektor.

Dengan kata lain, semua harus kembali ke stuktur organisasi UI semula yang sudah diacak-acak Gumilar selama setengah tahun terakhir. Sekadar catatan, Gumilar sudah membubarkan Senat Akademik Fakultas. Ia juga membubarkan Senat Akademik Universitas. Ia juga menyatakan UI adalah satuan Kerja di dalam Departemen PDK, dengan ia sebagai pejabat public yang mengepalai Satker tersebut. Ini semua tidak diterima oleh Menteri PDK sendiri.

Dan langkah kembali ke jalur semula menjadi teramat penting mengingat tahun 2012 nanti adalah tahun menentukan bagi perkembangan UI. Ini adalah tahun pemilihan MWA baru dan pemilihan Rektor baru. Pada saat yang sama ada tim Transisi yang mewakili segenap organ dan pemangku kepentingan UI yang diamanatkan untuk menyusun statuta (semacam AD/ART) UI.

Pemilihan Rektor baru harus selambat-lambatnya tercapai pada Agustus 2012. Yang memilih dan mengangkatnya adalah MWA. Namun yang mengajukan nama adalah Senat Akademik Universitas (SAU).

Kendati sang Rektor baru akan menjabat pada Agustus, pemilihannya akan dimulai sejak Februari 2012. Tenggang waktu yang panjang ini diperlukan mengingat prosesnya berlangsung bertahap. Awal pengajuan nama dan penseleksian calon Rektor akan berlangsung dari setiap fakultas. Dari fakultas, akan berlangsung penseleksian di level SAU. Setelah dari SAU, keputusan akhir akan berada di tangan MWA.

SAU adalah lembaga yang diisi oleh para wakil seluruh fakultas (masing-masing fakultas diwakili 5 orang: 2 Guru Besar dan 2 Non-Guru Besar, Dekan) serta Rektor dan Wakil Rektor, Kepala Program Pasca dan Kepala Perpustakaan.

Dalam seluruh proses ini, posisi SAU akan sangat menentukan. Pertama-tama, terkait dengan masa keanggotaan MWA. Yang memilih anggota MWA adalah SAU. Masa jabatan anggota MWA periode ini resminya sudah akan berakhir 15 Januari 2012 nanti. Menteri PDK sebenarnya sudah menyatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, masa keanggotaan MWA bisa diperpanjang sampai masa transisi berakhir. Namun seandainya jadwal semula diikuti, pada pertengahan Januari seharusnya ada pemilihan anggota MWA baru.

Masalahnya saat ini tidak ada SAU di UI. Ini terjadi gara-gara langkah Gumilar membubarkan SAF dan SAU pada pertengahan 2011.

Jadi, bila mau merujuk pada struktur organisasi UI sesuai PP Nop. 152/ 2000, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama-tama, di setiap fakultas dibentuk kembali SAF. Kemudian SAF memilih perwakilan SAF untuk duduk di SAU.

Baru setelah SAU terbentuk, SAU dapat memilih anggota MWA yang baru. Baru setelah SAU terbentuk, SAU bisa mengajukan nama-nama sebagai calon Rektor yang nantinya akan ditentukan oleh MWA.

Di luar itu, ada satu hal penting sebagai catatan tambahan. Begitu proses pemilihan dimulai, mereka yang mengajukan nama sebagai calo Rektor harus mundur dari jabatan struktural di UI.

Dengan demikian, bila Gumilar masih berhasrat untuk menjadi rektor untuk masa periode kepemimpinan 2012-2017, ia pada Februari 2012 sudah harus meletakkan jabatan dari posisi Rektor UI.

Begitu juga dengan para Dekan atau Kepala Program yang berminat menjadi rektor UI. Pada Februari mereka harus melepaskan jabatannya di UI.

Dengan gambaran semacam itu, bisa dibayangkan bahwa pertarungan sesungguhnya masih akan berlangsung sepanjang 2012 nanti.

Bagaimanapun, ada satu pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman Gumilar memimpin Universitas Indonesia selama 4 tahun terakhir. Pelajaran itu adalah: jangan pernah biarkan ada pemimpin yang berkuasa tanpa kontrol. Gumilar memimpin UI dengan cara sewenang-wenang dan buruk karena dia tahu tidak ada lembaga yang mengendalikannya. MWA selama ini terlalu lemah. MWA membiarkan Gumilar tumbuh menjadi penguasa yang mengeksploitasi UI dengan cara teramat buruk.

Di luar soal itu, kesepakatan antara MWA dan Gumilar pekan lalu juga tidak akan menghentikan sebuah proses lain, yakni penyelidikan atas kemungkinan korupsi dan kerugian negara yang diakibatkan salah kelola UI di bawah Gumilar. BPK, KPK dan ICW sudah turun tangan. Ini semua sudah menjadi wilayah kewenangan lembaga-lembaga tersebut. Tak ada yang bisa mengintervensinya.

Jadi, UI jalan terus. Gumilar jalan terus. MWA jalan terus. Proses belajar mengajar jalan terus. Audit, pemeriksaan, penyelidikan jalan terus.

Ditulis dalam UI. 15 Comments »

15 Tanggapan to “Bila Mau Lagi jadi Rektor, Gumilar Harus Non-Aktif pada Februari 2012”

  1. Guntarto Says:

    Saya terusik dengan statemen bahwa “MWA selama ini terlalu lemah dan membiarkan Gumilar tumbuh menjadi penguasa yang mengeksploitasi UI dengan cara teramat buruk”. Mungkin, MWA ingin membawakan diri dengan tata krama yang baik, yang santun, dan yang juga memandang rektor sebagai orang yang santun, tahu diri, dan beradab sebagaimana layaknya seorang ilmuwan.

    Namun sayangnya, sang rektor tidak berada dalam koridor yang semestinya sehingga membuat MWA menjadi agak kagok menghadapi kondisi di luar kelaziman itu.

    • adearmando Says:

      Setuju Mas. Orang-orang baik memang sering dikadali oleh orang-orang jahat karena orang-orang baik sering terlalu santun

      • Susan Says:

        Orang-orang baik memang sering dikadali oleh orang-orang jahat karena orang-orang baik sering terlalu santun ?????
        yang jahat siapa bang???

  2. Adit. Says:

    Halo Mas Ade,

    Saya hanya ingin mengutarakan pendapat.

    SAU tidak dibubarkan Gumilar.
    Dalam sebuah pernyataan publik yang saya hadiri, Prof. Nasikin, mantan ketua SAU menyatakan SAU demisioner resmi, yaitu habis masa jabatannya, tidak dibubarkan oleh Rektor.

    Bagaimana juga kalo dibalik pertanyaannya:
    Ada apa ya dengan MWA kok ngebet banget pingin diakui keberadaanya?

    MWA dan SAU itu seharusnya memang tidak ada ketika UU BHP dicabut.

    Pendapat Mas Ade menunjukan pendapat orang-orang yang pro interpretasi PP 152.

    Apa sih yang dilakukan MWA bagi UI?
    Apa kinerja MWA selama ini?
    Apa kontribusinya terhadap pengembangan UI?
    Lalu, kenapa MWA harus tetap diakui?

    Prosesnya benar dimata hukum dengan adanya pembentukan Senat Universitas, lembaga yang diakui keberadaanya oleh PP 66.

    Salam,

    • adearmando Says:

      Bung Adit.
      Setelah membaca surat Anda, jelaslah Anda tidak mengikuti perkembangan dengan merujuk pada dokumen resmi.
      Gumilar membubarkan SAF dan membubarkan SAU, karena menurut dia dua organ ini tidak diakui oleh PP 66.
      Jadi, kedua lembaga itu menurut Gumilr sudah dibubarkan, atau dinyatakan tak berwenang lagi di UI.
      Hal serupa dia tujukan pada MWA: bahwa MWA tidak lagi berwenang di UI.
      Itu yang menyebabkan MWA bilang, kalau begitu kami cabut Surat Pengangkatan Anda.
      Sederhana kan?

      Bagi saya sendiri di Save UI, apa yang dilakukan Gumilar pada MWA sekadar menunjukkan kesewenang-wenangan dia. Kan jelas-jelas dikatakan dalam PP No. 66, bahwa selama masa transisi, segenap organ yang diakui dalam PP. 152 tetap berlaku. Kok Gumilar seenaknya saja menyatakan bahwa PP No. 66 dijalankan.
      Kamui sih nggak ada urusannya dengan MWA. kalau secara hukum, MWA harus bubar, ya bubar saja.
      Tapi kenapa Gumilar merasa dia berhak untuk membubarkan MWA?

      Logika Anda di aline aterakhir juga kacau. Kok karena SU dibentuk, prosesnya jadi benar secara hukum
      Baca deh, PP 66nya. SU belum diakui selama masa transisi belum berakhir.

      Oh ya ngomong-ngomong, apa sih alasan Anda membela Gumilar?
      Apa pandangan Anda tentang pembangunan boulevard yang tak jelas dananya dari mana dan merusak rencana pembangunan Rumah Sakit sehingga negara harus membayar denda ke Jepang lebih dari 1 miliar rupiah, perobohan balai sidang akibat boulevard, pembelian makanan anjing Gumilar dengan dana mahasiswa, pembangunan perpustakaan pusat yang boros dan tak jelas gunanya serta memubazirkan perpustakaan2 yang sudah ada, gaji OB yang cuma Rp 500 ribu, uang penelitian miliaran rupiah yang dihambat dan dipotong, uang beasiswa ratusan juta rupiah yang dihambat dan dipotong, pemboyongan 10 pohon baobab yang makan biaya Rp 1 miliar dan nggak jelas gunanya, perkawinan adik ipar Gumilar yang sebagian biayanya ditutup UI, perjalanan Gumilar ke luar negeri, uang hampir setengah triliun yang mendekam di rekening rektorat yang bunganya tidak masuk di akal dan tak jelas penggunaannya,…

      Bung Adit.
      Rektor Anda itu busuk.
      Saya tidak mengerti mengapa Anda mendukungnya…

  3. Adit. Says:

    Terima Kasih Atas Balasannya Mas Ade.

    Kalau Begitu kenapa tidak dibuktikan korupsi-korupsi gumilar tersebut.

    Daripada terus berargumen Rektor Itu Busuk.. buktikanlah kebusukannya. Gitu aja kok repot. Jaman ini, kita punya KPK dan BPK.

    Lalu pertanyaan saya belom di jawab:
    “Apa kerja MWA sebenarnya buat UI?”

    Saya tidak membela rektor. Saya membela tata kelola. Saya membela UI.

    • adearmando Says:

      Anda memang tidak pernah baca koran ya? Kan memang sudah ke KPK, BPK, ICW…. Sekarang pertanyaan saya, apa pandangan Anda tentang segala kebusukan Gumilar yang tidak melulu korupsi? Misalnya soal membayar OB dengan gaji Rp 500 ribu per bulan?

      • Susan Says:

        ya kalo bang ade kasian ma OB yg gajinya 500 rb, kasih saya kerjaan dong bang,, dengan gaji di atas 1-2 juta,. saya lulusan SMP,. ga punya keahlian selain nyapu dan disuruh beli,.. ( tp di UI ssetiap saya diminta tolong beli ada ko bang tips buat aku,, ) setiap awal Ramadhan dikasih bingkisan,, mau lebaran dikasih bingkisan lagi + daging bang,..
        saya dah baca koran bang,, dari yang bekas mpe terbitan kemarin,. nyari temuan BPK, KPK, ICW soal dugaan korupsi Rektor UI, tapi ga nemu2 bang,.. abang ada korannya ga yah yang memuat berita itu,..
        jangan2 abang ngomong doang nih bisanya???

  4. adearmando Says:

    Gimana sih logika Anda? Kalau ada orang di UI digaji Rp 500 ribu per bulan, itu namanya tidak manusiawi dan melanggar hukum. Pertanyaan saya, kenapa Rektor bikin peraturan yang menjadikan OB dibayar rp 500 ribu? Jangan minta kerjaan ke saya dong? Ui itu kaya raya. Uang yang masuk setiap tahun sekitar Rp 1,2-1,3 triliun. Masak OBnya dibayar Rp 500 ribu?

    Kalau soal dugaan korupsi rektor, ya Anda browse saja deh di internet.

    Saya sarankan Anda jangan mau dikacungin rektor untuk mengomentari saya dengan cara begini.

    • Susan Says:

      Sorry saya bukan kacung Rektor.. saya hanya pegawai UI, yang terusik dengan kebusukan logika anda… Terlihat jelas anda cuma OMDO,.. kata anda ” Pertanyaan saya, kenapa Rektor bikin peraturan yang menjadikan OB dibayar rp 500 ribu?” coba dibuktikan mana ada peraturan itu??
      Anda memang tidak pernah baca koran ya? Kan memang sudah ke KPK, BPK, ICW…. ( jawaban anda ke adit ).. kenapa saya disuruh browse ke inet??? katanya ada di koran, gmn sih logika anda?? Anda kan Doktor,, masa dengan cara begini mau menyelamatkan UI,,

      • Adit. Says:

        Dijawab dong Bang Ade pertanyaannya mba susan

        pertanyaan ku ttg MWA juga gak dijawab2…..

        Tata Kelola dibenahi. Yang busuk bukan hanya rektor…. Benahi UI tuh total jangan setengah2…

      • adearmando Says:

        ketahuan kan, Susan, Anda memang kacung Rektor… Gini deh, Anda tega ya, OB itu digaji Rp 500 ribu.. Itu terjadi karena dalam sistem tender di UI, tidak ada itu yang namanya pertimbangan tentang kewajiban memenuhi UMR.. Pokoknya yang menang yang mengajukan penawaran termurah…
        Soal internet, ya memang saya kacung Anda mencarikan hardcopy koran? Sorry, mbak, gunakan saja internet…

  5. adit Says:

    Gimana nih mas ade… rektor diperiksa kpk bersih

  6. anp34 Says:

    “Di fakultas-fakultas yang dipimpin para Dekan pro-Gumilar, sang Rektor juga biasa menempatkan aktivis dakwah sebagai Ketua Mahalum (Mahasiswa dan Alumni).”

    Mas, di fakultas saya (FHUI) yang dekannya Pro Rektor, mahalumnya bukan orang tarbiyah tuh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: