Gumilar, Dana UI, dan Perkawinan Adik Iparnya

Ade Armando (29/12/2011)

Saya sebetulnya tidak suka membeberkan kabar buruk mengenai Rektor UI Prof. Dr. Gumilar Somantri kalau saya tidak memiliki bukti kuat mengenainya di tangan.

Tapi rasanya, informasi yang akan saya tulis ini sedemikian penting, sehingga saya terpaksa mengungkapkannya. Dan saya bertanggungjawab atas konsekuensi hukum yang mungkin ditimbulkannya.

Berbulan lalu, saya pertama kali mendengar kabar ini dalam sebuah rapat terbatas tentang manajemen UI. Ketika itu, salah seorang peserta rapat dengan terbuka mengatakan: “Pesta kawinan adik ipar Pak Gumilar itu dibiayai UI..”

Ketika itu para peserta rapat hanya terkejut dan tertawa. Tapi topik itu memang hilang begitu saja karena ada banyak masalah besar lain yang lebih mendesak. Lagipula kabar itu kalah mengesankan dibandingkan data yang diperoleh mengenai bagaimana makanan anjing Rektor itu dibiayai oleh dana mahasiswa UI. Yang soal makanan anjing itu ada bukti nota pembayarannya. Yang soal kawinan adik ipar itu hanya sebatas cerita. Terlebih lagi, saya tidak mengenal baik orang yang mengungkapkannya.

Karena itu, cerita mengenainya hilang begitu saja.

Tapi beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan orang dalam UI yang bercerita hal serupa, dengan lebih detail. Orang ini saya kenal baik. Saya percaya. Dan dia mengungkapkannya, saya rasa, karena dia sudah semakin muak saja dengan apa yang terjadi dalam tubuh UI.

Dia bilang, dia sendiri hampir-hampir tak percaya ketika itu terjadi di UI. Menurutnya, memang tidak seluruh biaya perkawinan adik ipar Gumilar dibiayai UI. Dia juga menambahkan, ia agak tidak pasti apakah pengantin itu adalah adik sang istri atau adik Gumilar sendiri. Tapi ia mengkonfirmasi bahwa memang ada dana UI yang digunakan untuk membiayai pesta pernikahan keluarga Gumilar.

Memang tak seluruh kebutuhan pernikahan yang dibiayai. Hanya sebagian kebutuhan, seperti seragam among tamu dan perlengkapan upacara. Nilainya ‘hanya’ puluhan juta rupiah. Istri Gumilar sendiri, nampaknya tak enak hati ketika mengetahui jumlah uang yang cukup besar sehingga dia menyatakan UI dibebani setengah dari biaya yang semula dikenakan.

Suami adik ipar Gumilar itu bahkan sekarang menempati posisi penting tertentu di UI.

Menurut sumber ini, orang-orang Rektorat tahu cerita itu. Hanya saja, orang enggan membicarakannya. Atau takut. Tapi menurutnya, kalau ini mau dibawa ke ranah hukum, dia percaya akan ada banyak ‘whistle blower’ yang bersedia mengungkapkan data atau, setidaknya, bersaksi

Buat saya, ini penting mengingat ini kembali menunjukkan betapa rendahnya integritas Gumilar. Harap dicatat, gaji sang rektor sudah sangat besar. Setiap bulan, ia dibayar UI minimal Rp 45 juta. Mengapa setelah memperoleh uang sebesar itu, ia masih meminta UI membiayai makanan anjing dan biaya pesta perkawinan adik iparnya, menjadi pertanyaan yang sulit bagi saya menjawabnya.

Dan buat saya, ini penting mengingat uang yang digunakan adalah uang rakyat. Saya dan seluruh masyarakat akademik di UI bertanggungjawab atas amanat yang diberikan kepada UI. Menutup-nutupinya adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat.

Benarkah cerita itu? Saya yakin. Kalau menggunakan bahasa jurnalistik, saya menggunakan ‘sumber yang sangat dipercaya’. Tapi tentu saja saya bisa salah. Karena itu, sebenarnya ada satu cara terbaik untuk membantahnya bila kabar ini salah. Caranya adalah membicarakannya secara terbuka di ruang public. Gumilar selama berbulan-bulan berusaha menghindar dari kewajiban mempertanggungjawabkan mismanajemen yang ia lakukan. Kini saatnya ia tampil secara jantan menjawab semua gugatan terhadapnya.

Ditulis dalam UI. 15 Comments »

15 Tanggapan to “Gumilar, Dana UI, dan Perkawinan Adik Iparnya”

  1. Prokimal Says:

    Ini jelas kasus korupsi. Menggunakan uang lembaga, bahkan uang negara, yg bukan haknya utk kepentingan pribadi. Lagi pula jumlah uang itu tidak sedikit. Memang harus diangkat ke permukaan.
    Posting ini sudah membuktikan bahwa jurnalistik indenpenden (blogger) bisa untuk menegakkan hukum & keadilan.

  2. Adit. Says:

    ya silahkan lapor… kalo ada dugaan kok bisa rektor sampe sekarang gak ditangkep-tangkep.. katanya bukti sudah di tangan…

    • adearmando Says:

      Kewajiban saya menyampaikan informasi ini pada publik…. Anda kok nampak terganggu sih…. Apa anda terkena cipratan uang Gumilar?

      • Susan Says:

        Kalo anda berfikir sperti itu, berarti anda menjelek2kan Gumilar karena anda ga dapat CIPRATAN Uang Gumilar dong??????
        hahhahahahahahahaha
        NAJISSSS

      • adearmando Says:

        Alhamdulillah, saya nggak dapat cipratan duit dia. Wong uang dia haram… Susan, Anda itu apanya Gumilar sih?

  3. joyo Says:

    Ditunggu update tulisan terbarunya Bang Ade.
    Selama ini publik menyangka bahwa UI sudah dikelola secara profesional.
    Apakah Bang Ade setuju jika UI nantinya berstatus satker Badan Layanan Umum, yang semua ketentuan mengenai tarif (biaya kuliah) harus ditetapkan oleh Menteri Keuangan?

    • adearmando Says:

      Joyo, keberatan saya dengan gagasan Satker adalah dengan demikian UI berada di bawah menteri. Ini bahaya untuk independensi UI yang harus kritis pada pemerintah. Saya lebih setuju kalaupun dibiayai negara, UI tak perlu menjadi organ di bawah Menteri. UI layak dibiayai negara dan karena itu harus menempatkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Saya percaya BHMN tidak dengan sendirinya memarjinalkan rakyat. Karena itu saya berharap ada pembicaraan mendalam tentang sosok PTN dalam UU Pendidikan Tinggi yang sedang digodok di DPR.

      • joyo Says:

        Maaf Bang Ade, mungkin Anda bisa membaca kembali PP 23 Tahun 2005 mengenai Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Disana nampak bahwa dengan menjadi Satker BLU, PTN dituntut untuk menempatkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya, karena BLU bukan bertujuan mengutamakan mencari keuntungan.
        Selama ini disinyalir pengelolaan keuangan PTN BHMN “tidak beres”, hanya menguntungkan segelintir pihak saja. Bahkan hasil audit oleh Akuntan Publik pun diragukan kebenarannya (seperti kasus di UI).
        Dengan menjadi BLU, semua penerimaan PTN akan digunakan secara maksimal untuk operasional pendidikan dan sebagian untuk remunerasi pengelola PTN. Biaya kuliah mahasiswa pun akan bisa terkontrol karena harus melalui persetujuan Menteri Keuangan (bukan Mendikbud).
        Selama ini, publik merasa bahwa biaya kuliah PTN semakin meroket sejak beralih menjadi BHMN karena tidak ada pihak yang bisa mengontrolnya, hanya ditetapkan oleh internal PTN BHMN itu sendiri.
        Jadi, saya berharap setelah Bang Ade merenungi kembali makna Satker BLU, Bang Ade bisa merekomendasikan UI untuk menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
        Mengenai kekhawatiran menurunnya tingkat independensi dan kekritisan jika menjadi satker pemerintah, menurut pendapat saya, di era keterbukaan dan demokratis seperti sekarang ini hal tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan.

  4. adearmando Says:

    Bung Joyo yang budiman.
    Maaf, saya terpaksa tidak setuju dengan Anda.
    Saya percaya bahwa UI memang harus menempatkan rakyat di atas segalanya.
    Tapi kalau UI berada di bawah Mendikbud sebagaimana diamanatkan PP No. 66, tidak mungkin UI mengabdi kepada rakyat. UI akan menjadi organ pemerintah.
    Didanai oleh APBN tak mesti menjadi bagian dari pemerintah, bukan?
    TVRI, misalnya, adalah lembaga publik yang bertanggungjawab kepada DPR.
    Pengalaman Indonesia selama ini membuat kita sebaiknya tidak percaya dengan pemerintah.

  5. joyo Says:

    Di Indonesia semua tidak ada yang bisa dipercaya.

    Dosen pun banyak yang lebih senang ngobyek jadi konsultan dan cari penghasilan sampingan kesana kemari daripada tekun mendidik mahasiswa di kampus.

  6. Adit. Says:

    untuk keempatkalinya rektor diperiksa KPK di 2011.. Bersih… yang kena malah FK dan FE…

    • indra Says:

      dari semua komentar dari mas adit mngenai pmbelaan gumilar rasanya seperti anak kecil saja.. klau mau mmbela jelasin alasan dan buktinya.. jangan cuma bisa mantengin artikel d blog mas ade trus komennya cuma nyampahin doank.. katanya cuma lulusan SMP ia? Ooh pantes:)

  7. dalijo Says:

    sebenernya ini pertarungan antara apa dengan apa sich?
    islam radikal/moderat vs JIL? atau ???

    • adearmando Says:

      Waduh, ini mah nggak ada hubungannya dengan agama.. Ini soal penjahat versus orang baik.. Yang jahat gumilar, yang baik kami


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: