Setelah Gugatan ICW, Masihkah Ada Kebanggaan sebagai Warga UI?

Ade Armando (13 Januari 2012)

Sebagai dosen di Universitas Indonesia, malu rasanya menghadapi mahasiswa, orang tua mahassiwa, handai taulan, pemerintah, masyarakat sipil, …..

UI yang dulu namanya sangat harum, kini jadi bahan ejekan dan hinaan di mana-mana.

Bagaimana mungkin kami, para pengajar, bisa berbicara mengenai keharusan ‘good governance’, atau pemerintahan bersih atau pengelolaan negara dengan cara transaparan dan bertanggungjawab, kalau pemimpin kami sendiri memberi contoh yang melanggar semua prinsip ideal tersebut?

Pekan lalu, lagi-lagi, Rektor UI, Prof. Dr. Gumilar Somantri menjadi objek pemberitaan di banyak media. Lagi-lagi bukan tentang hal yang baik. Lagi-lagi tentang hal memalukan.

Kali ini lembaga yang ‘mempermalukan UI’ adalah Indonesian Corruption Watch. ICW pada pada Rabu (4/1) mengajukan gugatan tentang rektor UI kepada Komisi Informasi Pusat. ICW menganggap UI tidak memberikan informasi yang akurat dan lengkap mengenai laporan keuangan mereka sebagaimana yang diminta ICW.

Sekadar catatan, dengan merujuk pada UU Keterbukaan Informasi Publik, UI sebagai sebuah lembaga yang menggunakan uang negara (APBN) memang wajib membuka informasi mengenai pengelolaan keuangannya kepada pihak yang meminta.

ICW yang memang sangat peduli dengan kebocoran uang negara rupanya kuatir dengan pengelolaan uang di UI. Ada tiga informasi yang mereka minta dari UI. Yang pertama, informasi tentang seluruh projek kerja sama UI dengan pihak luar, serta pengelolaan uang dan bunga banknya. Kedua soal anggaran perjalanan dinas Rektor ke luar negeri beserta rombongan. Ketiga, soal tender projek pembangunan Gedung perpustakaan UI.

ICW mengajukan permintaan itu karena alasan kuat. Soal projek kerja sama menjadi penting karena ada dugaan selama ini, uang kerjasama UI dengan pihak luar itu banyak yang mendekam di kas pusat UI untuk waktu yang lama – bisa sampai satu tahun — tanpa pertanggungjawaan yang jelas. Akibat penghambatan pencairan dana semacam ini banyak pihak yang dirugikan, misalnya peneliti yang seharusnya berhak atas dana pihak luar itu. Pertanyaaanya: diapakan saja miliaran rupiah itu sebelum dicairkan pada pihak yang berhak? Kenapa pula ada dana yang terpotong ketika tiba di tangan yang berhak?

Soal perjalanan dinas itu mencuat karena sang Rektor terkenal banyak bepergian ke luar negeri, kadang dengan jumlah rombongan yang besar.

Soal Perpustakaan Pusat itu penting mengingat proses pembangunannya yang penuh kerahasiaan. Pihak Majelis Wali Amanat tidak pernah dikonsultasikan soal pembangunannya. Kegunaaannya pun dipertanyakan sehingga agak mengherankan bahwa ada dana di atas Rp 120 miliar dikucurkan oleh DPR untuk keperluan itu. Karena itu menjadi penting mempertanyakan apakah semua proses dijalani dengan benar, termasuk soal tender.

Tiga pertanyaan itulah yang diajukan ICW. Sedihnya, seperti dapat diduga, UI tidak menjawabnya dengan pantas.

UI sekadar memberikan jawaban umum terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Misalnya dalam hal kerjasama dengan pihak luar, UI hanya memberikan daftar projek kerjasama yang berlangsung. Begitu juga data mengenai pembangunan perpustakaan, yang disampaikan hanyalah informasi umum. ICW misalnya tidak memperoleh salinan tender yang menunjukkan bahwa proses tender pembangunan sudah berjalan dengan cara semestinya.

Dalam hal perjalanan dinas, UI bahkan diketahui memberi jawaban yang tidak lengkap dan salah. Yang diminta ICW adalah dana perjalanan yang digunakan, yang diberikan UI hanyalah daftar perjalanan. Lebih buruk lagi, daftar itu pun tidak akurat. Tanpa sebuah penelitian mendalam saja sudah diketahui ada setidaknya tujuh (7) perjalanan yang tidak dicantumkan dalam jawaban UI ke ICW.

Karena ketidaklengkapan dan kesalahan itu, pada 8 November 2011, ICW mengajukan keberatan kepada rektorat UI. Namun jawabannya justru semakin tidak memuaskan. Pihak rektorat meminta ICW mencari saja informasi yang diperlukan di website UI. Ketika ICW menengok situs itu, tentu saja data yang diperlukan tidak termuat di situ.

Karena sikap tidak kooperatif itulah, ICW pekan lalu menemui Komisi Informasi Publik yang menurut UU KIP diamanatkan untuk menyelesaikan sengketa informasi publik.

Wakil Ketua KIP Usman Abdhali Watik mengatakan, akan memanggil Rektor Ui dan ICW untuk menyelesaikan persoalan itu. Proses penyelesaian sengketa bisa berlangsung dari 14 hari sampai maksimal 40 hari kerja.

Ada dua tahapan yang akan dilakukan oleh KIP, yakni mediasi dan ajudikasi. Kalau dalam proses mediasi kedua belah pihak tidak mencapai titik temu, akan dilakukan proses ajudikasi yang diputus oleh majelis komisioner. Bila KIP menganggap informasi yang diminta termasuk dalam informasi public, UI akan diwajibkan memberikan jawaban lengkap dan jujur sesuai yang diminta ICW. Kalau rektor tetap menolak, itu akan berarti pembangkangan dengan ancaman hukum pidana.

Apa yang terjadi kembali menunujukkan betapa Rektor UI memberi contoh yang memalukan pada seluruh masyarakat. Apa yang diminta ICW sama aekali tidak berlebihan. ICW selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga yang memiliki reputasi harum dalam memerangi korupsi, sehingga langkah mereka meminta informasi pada UI sama sekali tidak pantas ditanggapi dengan arogan dan sembarangan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang dibiayai rakyat dan dipandang sangat terhormat, UI seharusnya menjadi teladan kepada rakyat luas tentang arti penting transparansi dan akuntabilitas. Sangatlah memperihatinkan bahwa UI menutup-nutupi informasi sederhana yang kalau disajikan secara terbuka seharusnya justru memperkuat kredibilitas UI.

Rektor bahkan tak mau bersikap jujur tentang hal sederhana seperti perjalanan ke luar negeri. Dalam jawabannya, UI memberi data bahwa selama 4 tahun kemepimpinannya, Rektor melakukan 39 perjalanan ke luar negeri. Itu saja sudah banyak, karena artinya dalam satu tahun Gumilar melakukan 9-10 perjalanan ke luar negeri. Tapi mengapa pula Rektor kemudian merasa perlu berbohong. Apa bedanya kalau Rektor menyatakan bahwa ia melakukan perjalanan 50 kali? Tidak akan banyak berbeda kesan yang ditangkap public.

Di soal lain pun begitu. Apa salahnya bersikap jujur dengan menyajikan salinan dokumen tender dalam pembangunan perpustakaan, pengadaan barang dan perlengkapan dalam perpustakaan? Apa salahnya menyajikan informasi tentang aliran dana kerjasama dengan pihak luas: berapa besarnya, ditempatkan di rekening mana, berapa lama, kapan dicairkan pada yang berhak, bunga depositonya berapa, digunakan buat apa?

Itu semua bukan hal yang sulit untuk disediakan.

Kini, bila UI ternyata nampak berbelit-belit memberikan jawaban, itu justru mengkonfrmasi dugaan kuat bahwa ada yang tidak beres dengan pengelolaan UI. Bila memang bersih, mengapa risih menjawab dengan benar?

Karena itu, malu rasanya menjadi warga UI saat ini. Para pimpinan UI mengelola lembaga terhormat ini dengan cara yang di kepustakaan masuk dalam kategori ‘menghancurkan’. Dan kami, masyarakat akademik, membiarkannya.

Mahasiswa UI selama ini kerap dengan bangga menyebut diri mereka, ‘Gue Anak UI’. Mereka bangga meneriakkan ‘We re the Yellow Jacket’ – yang mengingatkan kita pada perjuangan para mahasiswa UI menegakkan kebenaran, menumbangkan rezim korup, dan memerjuangkan demokrasi.

Saya tak yakin kebanggan itu masih ada sekarang. UI hanya nampak megah di luar. Di dalam, segala praktek, gagasan, nilai, prinsip yang dipercaya sebagai prasyarat bagi kemajuan dan kesejehtaraan bangsa dikhianati oleh para pimpinan dan pendukungnya.

Saya tidak tahu bagaimana kami, masyarakat akademik, harus mempertanggungjawabkannya pada rakyat Indonesia.

(gambar diambil dari blog perempuanbulanmei)

Ditulis dalam UI. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Setelah Gugatan ICW, Masihkah Ada Kebanggaan sebagai Warga UI?”

  1. Mayang Sari Says:

    Akan lebih memalukan lagi, jika kita memberikan waktu baginya untuk tetap nyaman di singgasananya. Hanya ada satu kata, LAWAN!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: