UI Berikan Bea Siswa Rp 50 juta pada 10 Wartawan — Tanya Kenapa?

Ade Armando (15 Januari 2012)

Universitas Indonesia nampaknya sangat peduli dengan peningkatan kualitas jurnalistik di Indonesia.

Tahun lalu, UI memang secara memalukan ketahuan menyuap media. Untuk bisa menampilkan Rektor UI Prof. Dr. Gumilar Somantri di halaman muka dan delapan halaman dalam majalah Eksekutif edisi September 2010, UI mengeluarkan uang Rp. 44 juta.

Praktek penyuapan media tersebut memperoleh kecaman dari mereka yang peduli dengan integritas jurnalistik. Para pengajar mata kuliah jurnalistik di Departemen Komunikasi seperti ditampar dan diludahi mukanya oleh pimpinan UI. Bila memberi amplop pada jurnalis saja adalah perilaku terlarang, apalagi membayar Rp 44 juta untuk memperoleh sebuah Cover Story yang sepenuhnya memuji-muji sang Rektor.

Dalam beberapa bulan terakhir, UI rupanya berusaha menebus dosa memalukan itu. Rektor UI berulangkali mengundang para wartawan untuk makan siang bersama di restoran-restoran mahal, menyelenggarakan kegiatan bersepeda bersama yang diakhiri dengan pemberian door prize, serta melakukan perjalanan ke berbagai media.

Tapi tak ada yang lebih menunjukkan ‘komitmen’ UI pada kualitas jurnalistik Indonesia daripada yang terakhir ini: memberi 10 beasiswa pada 10 jurnalis dari berbagai media di Indonesa untuk menempuh pendidikan S2 di UI secara gratis.

Pengumuman tentang 10 nama ini sudah dipublikasikan pada 13 Januari lalu. Para penerima beasiswa tersebut adalah:

1. Hasyim Widhianto (The Jakarta Post), di program Magister Perencanaan Kebijakan Publik
2. Retno Endah DS (Tempo), di Program Perencanaan Kebijakan Publik
3. Christian Dior (Media Indonesia), di Program Kajian Terorisme dan Keamanan Internasional
4. Aprika Rani (Bisnis Indonesia), di Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial.
5. Munawarroh (Tempo), di Magister Perencanaan Kebijakan Publik
6. Igna Ardiani (Jawa Pos), di Magister Kajian Wilayah Amerika.
7. Yogie Respati (Sharing), di magister Kajian Wilayah Timteng
8. Dika Dania (Media Indonesia), di magister Kajian Wilayah amerika
9. Suryanta Bakti (Viva news), di magister Ilmu Administrasi
10. Agung Putu Iskandar (Jawa Pos), di magister Kajian Wilayah Amerika

Proses pemberian bea siswa ini dapat dikatakan berlangsung cepat. Pengumuman awalnya dilakukan pada 10 Oktober 2011. Ketika itu Gumilar sedang menghadapi gugatan yang sangat keras mengenai salah kelola universitas dan dugaan korupsi yang dilakukannya. Di tengah suasana tegang itulah, Gumilar tiba-tiba saja mengumumkan akan memberikan 5 bea siswa S2 kepada para jurnalis. Banyak pengelola program S2 di UI terkejut dengan keputusan itu, karena mereka tidak pernah diajak bicara mengenainya.

Praktek pemberian bea siswa kepada jurnalis sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Program S2 Komunikasi Universitas Paramadina sudah melakukannya sejak beberapa tahun lalu. Tapi banyak pihak di UI merasa keputusan itu mengejutkan karena kesannya semua diputuskan secara sangat tiba-tiba, tanpa ada perencanaan. Apalagi kemudian diketahui bahwa UI akan menyelenggarakan Test Potensi Akademik (TPA) bagi para jurnalis itu pada 4 Desember. Padahal tahun ajaran baru bagi kebanyakan program pasca sarjana adalah pertengahan tahun 2012, dan proses penerimaan mahasiswa baru akan dilakukan sekitar bulan Februari-Maret.

Namun pimpinan UI jalan terus dengan rencananya. Bahkan UI kemudian dapat menarik sponsor tambahan, yaitu Panasonic Gobel dan BNI. Akibatnya jumlah penerima bea siswa bisa bertambah: dari 5 menjadi 10 (sepuluh) jurnalis. Jumlah itulah yang ditetapkan sebagai yang berhak menerima beasiswa dari 42 peserta ujian

Kesepuluh jurnalis itu akan menerima beasiswa untuk Biaya Uang pangkal dan Biaya Kuliah tiap semester selama maksimal 4 semester (2 tahun). Nilai nominalnya beragam mengingat biaya kuliah setiap program berbeda-beda. Sebagai contoh uang pangkal di Magister Perencanaan Publik adalah sekitar Rp 7 juta dan SPPnya Rp 12 juta. Dengan kata lain, seorang jurnalis yang berkuliah di sana, menerima sekitar Rp. 55 juta. Namun di program lain, jumlahnya bisa lebih besar atau lebih kecil. Tapi kisarannya adalah Rp 50 juta.

Tentu saja pemberian bea siswa ini tak dengan sendirinya harus diartikan sebagai upaya UI membeli media. Walaupun Gumilar memang terkenal mampu mengucurkan uang rakyat untuk keperluan mempertahankan kekuasaannya, pemberian bea siswa ini bisa saja tidak dilakukan untuk mencegah media menjalankan fungsi kritik terhadap Gumilar. Apalagi media yang terpilih adalah media yang selama ini dikenal memiliki integritas tinggi. Media seperti Tempo, The Jakarta Post, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Viva news dan Sharing tentu tidak akan pernah mau melacurkan diri dengan hanya menyiarkan kabar baik tentang UI dan, terutama, Gumilar setelah wartawannya mempeoleh bea siswa.

Namun di sisi lain, pemberian bea siswa ini memang menyisakan sejumlah pertanyaan:

a. Mengapa pemberian bea siswa dilakukan secara sangat mendadak? Mengapa pengumumannya dilakukan pada saat gelombang gugatan pada Gumilar menguat? Kebetulan atau kesengajaan?.

b. Mengapa beberapa pengelola program pasca sarjana menyatakan keputusan pemberian bea siswa itu tidak melibatkan mereka? Mengapa begitu rahasia?

c. Mengapa proses pemilihan calon penerima bea siswa dilakukan pada bulan November – Januari? Bukankah proses penseleksian mahasiswa baru Pasca Sarjana UI baru akan berlangsung pada Februari-Maret nanti? BUkankah tahun ajaran baru akan dimulai Aguatus nanti? Mengapa ada proses khusus penseleksian jurnalis saat ini?

Rangkaian pertanyaan semacam itu memang mungkin akan mengganggu kenyamanan para jurnalis yang memperoleh bea siswa. Namun kecurigaa yang ada tentu akan bisa dibantah seandainya pemberitaan yang mereka buat mengenai UI nanti tetap kritis.

Apapun tujuan sang rektor, masuknya para jurnalis media terkemuka ke UI itu patut disyukuri. Tentu saja harapanya adalah dengan pendidikan yang meninggi, para jurnalis akan dapat melakukan fungsi kontrol sosialnya dengan lebih mendalam. Mudah-mudahan, masyarakat jualah yang akan memetik manfaatnya.

Ditulis dalam UI. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “UI Berikan Bea Siswa Rp 50 juta pada 10 Wartawan — Tanya Kenapa?”

  1. mayang Says:

    Sungguh memalukan dan sangat menistakan. Ulahnya, kita semua yang menangguh getahnya. Orang seperti ini wajib untuk diperangi. Save UI.

    Izin berbagi, ya Bang. Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: