Lisman: Sebuah Contoh Khas Gaya Pendukung Rektor UI

Ade Armando (17 Januari 2012)

Di bawah ini adalah surat saya pada Lisman Manurung, seorang dosen di Departemen Ilmu Administrasi.

Bukan surat pribadi. Ini adalah surat yang saya kirim sebagai respons terhadap fitnah Lisman terhadap saya di milis Media Care. Menurut Lisman, saya menghabiskan uang ratusan juta rupiah. Memang dia menggunakan kata ‘kabar’ dan ‘konon’. Tapi bagi saya, ini perlu dibicarakan.

Saya rasa, ini perlu dibaca lebih banyak orang mengingat ini bukan saja terkait dengan nama baik saya, tapi juga dengan cara khas para pendukung Rektor Gumilar: memfitnah para penggugat Rektor.

Dulu, Lisman saya kenal sebagai dosen yang senang mengejek-ejek Gumilar. Tapi kini dia bergabung dengan gerombolan pembela Gumilar yang akan menghantami siapapun yang berani mengeritik sang rektor.

Alasannya? Saya tidak tahu persis. Tapi orang seperti Lisman memang bagian dari kaum yang diuntungkan oleh Gumilar. Lisman kini adalah dosen inti penelitian yang memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp 12-13 juta per bulan.

Buat saya, membela Gumilar adalah hak. Tapi bukankah daripada menyebarkan fitnah, akan lebih baik dan bermartabat bila para pendukung Gumilar ini maju secara secara terbuka menunjukkan kesalahan-kesalahan gugatan terhadap Gumilar?

Inilah surat saya diikuti dengan surat Lisman sebelumnya:

Lisman Manurung.

Cara Anda menjawab tulisan saya, sungguh mencerminkan perilaku Gumilarisme… Pengecut dan tukang fitnah.

Di awal tulisan Anda menyatakan bahwa saya ‘konon’ menghabiskan uang Departemen Komunikasi ketika saya menjadi ketua Departemen Komunikasi dulu. Dengan dramatisnya Anda menulis, bahwa ketua berikutnya (pengganti saya) hanya bisa mengelus dada karena uang di kas Departemen habis.

Lisman, data elementer anda saja sudah salah. Sejak kapan saya jadi Ketua Departemen Ilmu Komunikasi?

Kalau ngarang, ya jangan setolol itulah.

Saya ‘cuma’ jadi Ketua S-1 reguler Komunikasi, yang berada di bawah dan harus bertanggungjawab pada Ketua Departemen.
Dan dari mana pula Anda punya cerita bahwa saya menghabiskan uang Departemen?

Anda bicara soal Jurusan S1 Ilmu Komunikasi kan? Uang ratusan juta dari mana?

Bagaimana mungkin saya ‘menghabiskan’ uang yang peruntukannya sudah ditentukan oleh Departemen?

Anda pikir saya Gumilar yang bisa menentukan sendiri uang UI mau diapakan oleh dia tanpa trasparansi dan akuntabilitas?

Dan jangan membela diri dengan mengatakan ‘konon’ dan ‘kabarnya’….
Jangan bicara ‘konon’ dong. Coba sebut sumber data anda siapa.
Semua yang dituduhkan Save UI dan saya tulis secara terbuka ada datanya dan ada sumber informasi yang mau bicara kalau dikonfrontasi.

Kalau cuma ngomong konon, saya bisa banyak menggunakan cerita buruk mengenai Anda. Tapi tidak akan saya gunakan, karena semua berdasarkan ‘konon’!

Lebih baik begini deh, kita ketemu secara publik di UI ya?

Anda ini kan memang dikenal sebagai kacung Gumilar…

Anda boleh membawa semua data yang Anda punya untuk menuduh saya bahwa saya menghabiskan uang Departemen Ilmu Komunikasi.
Kalau Anda punya ‘whistle blower’ di Komunikasi UI, silakan bawa orangnya atau kalau dia takut, datanya.
Lagipula kalau dia memang takut, apa pula yang perlu ditakutkan?
Saya kan bukan Gumilar yang senang mengancam orang yang bertentangan dengan dia.

Jadi Anda itu, Lisman Manurung, sekadar memfitnah saya.
Dan kenapa Anda memaksa saya bungkam soal Gumilar?
Kenapa?
Saya rasa karena, Anda adalah penjilat Gumilar sejati.
Dan jelas bukan karena alasan kepercayaan Anda pada Gumilar.
Anda tentu ingat bahwa saya adalah saksi hidup bagaimana Anda suka mengejek Gumilar.
Ketika dulu saya belum menjadi pengeritik Gumilar, Anda kan senang menjadikan Gumilar bahan joke Anda.
Anda dulu dengan sangat sinis mengejek harapan Gumilar menjadi Menteri…
Dan sekarang Anda menjadi penjilat Gumilar.

Untuk apa, Lisman?
Supaya Gumilar tahu bahwa Anda adalah pembela dia?
Supaya Anda dipertahankan sebagai dosen inti penelitian?

Gumilar itu busuk, Lisman.
Tapi sama busuknya adalah orang yang bersedia memfitnah untuk membela kebusukan Gumilar.

Ade Armando

Isi surat Lisman Manurung di Media care:

Sebetulnya Bung Ade juga belum tentu sepenuhnya melakukan hal-hal yang membanggakan. Konon ketika dia usai menjadi ketua departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI , dia meninggalkan situasi ketidak-patuhan administrasi di dalam mengelola keuangan. Dana departemen Ilmu Komunikasi yang tadinya dia terima cukup banyak, eeh di akhir jabatan nyaris kosong melompong.

Ketua berikutnya kabarnya hanya bisa mengelus dada. Pasalnya? Tidak elok terlalu berisik mengenai hal-hal demikian itu, apalagi Bung Ade di mata sejumlah senior dinilai punya masa depan sebagai pengajar yang dinamis dan kritis.

Syukurlah saya tidak pernah mau melangkahi aturan keuangan di dalam mengelola keuangan. Saya pernah menjadi ketua ini dan ketua itu, tetapi selalu saja yang namanya otoritas keuangan tidak saya tangani sendirian. Saya belajar dan mengajar akuntabilitas publik, dan dalam teori akuntabilitas publik tak ada satu kata pujian bagi setiap pengelola keuangan: Selalu ada noda. Selalu tak ada gading yang tak retak. Sehingga pujian paling puncak dalam pengelolaan keuangan adalah ‘wajar tanpa syarat’. Tetapi jika kas yang tadinya berisi ratusan juta dan kemudian ditinggal kosong di akhir jabatan, entah itu semua uang diserahkan ke panti asuhan, kalau tidak sesuai norma, maka tetap saja nama dari tindakan ini sebagai pelanggaran norma administrasi keuangan.

Betul bahwa kini ICW memberikan perhatian serius ke semua dugaan penyimpangan atas uang negara. Kementerian-kementerian, Pemda-pemda, partai-partai, polisi, DPR dan lain-lain dituding sebagai lokasi tindak korupsi. Universitas-universitas negeritak satupun yang tidak dijamah oleh petugas-petugas KPK dan ICW dan entah apa lagi. Tidak sedikit pejabat universitas negeri tanpa gembar-gembor media sudah mendekam di bui.

Menurut hemat saya, demi UI, sebagai intelektual sejati, sebaiknya Bung Ade saatnya berdiam diri tatkala lembaga-lembaga resmi sudah melakukan kiprahnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sehubungan dengan masa depan UI, maka penyandang amanat rakyat yang presiden melalui menteri sudah melakukan tugasnya dengan membentuk tim khusus UI.
UI bukan milik sejumlah penanda-tangan ini dan itu, atau sejumlah orang yang membentuk paguyuban. Itu kan illegal. Dan juga jika Bung Ade terlalu vokal, maka di negeri ini selalu ada kecurigaan, dan kemudian ada pertanyaan siapakah orang kuat di belakang Bung Ade dan skenario apa yang tengah dibuat?

Kita ini kan intelektual, dan percaya bahwa ada proses penyidikan-penyidikan oleh lembaga-lembaga terkait. Biarlah hal itu berlangsung wajar dan non-emotiv. Ibarat ujian tesis, maka bagi siapa yang masuk ke sana kita harap lulus. Jika kemudian lulus kita beri tepuk tangan. Tetapi jika kemudian tak lulus, ia kita beri sapu tangan untuk menghapus air-mata. Jangan pula kita ikut terbahak-bahak dan bersyukur atas musibah itu. Itu namanya kita bukan kemalaikat-malaikatan, tetapi ‘kesetanan’.

Baiklah saya dan Bung Ade juga sadar, bahwa jika sekali waktu kita menjadi bos, maka amat lazim pekerjaan kita diamati oleh ICW, KPK, BPK, BPKP sebagaimana halnya saat ini dialami oleh Prof GRS. Oleh sebab itu baiklah kita sama-sama berdoa agar Prof GRS memang tidak terbukti melakukan tindak pidana, karena menyelewengkan uang negara berat hukumnya di hadapan Sang Pencipta.

Ditulis dalam UI. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Lisman: Sebuah Contoh Khas Gaya Pendukung Rektor UI”

  1. BD Says:

    baiknya kita duduk bareng, tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan, mari kelompok yang digugat dan yang menggugat dengan kepala dingin dan dengan hati yang bijak masalah intern kita selesaikan secara intern dulu jangan ngablak-ngablak begini. ibarat keluarga kita ini kan satu rumah, akhirnya dimana-mana orang bertanya ada apa di UI ? klo masalah kelurga bisa bisa diselesaikan didalam keluarga kan lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih santun, padahal yang bicara ini orang terpelajar semua kok begini yah kata-katanya

  2. dindanuurannisaayura Says:

    Saya baru tahu, bahwa membentuk paguyuban adalah ilegal, sementara hak berserikat dan berorganisasi dijamin oleh negara..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: