Soal Menghamburkan Uang Rakyat, Pimpinan UI Jagonya!

Soal Menghamburkan Uang Rakyat, Pimpinan UI Jagonya!

Rektor UI saat peresmian Starbucks (sumber: vibizportal.com)

Mereka yang menghujat DPR karena begitu boros merenovasi berbagai ruang dan WC dengan dana miliaran rupiah, mungkin perlu juga melihat kelakuan pimpinan Universitas Indonesia.

Untuk soal buang-buang duit rakyat, pimpinan UI lebih buruk.

Saat ini di kampus UI Depok ada berbagai projek pembangunan yang terkesan hebat dan mengagumkan. Padahal, banyak di antara projek-projek mahal ini tak bermanfaat dan dikelola dengan cara yang membuat kita pantas percaya bahwa itu ada untuk memperkaya kaum perampok uang rakyat saja.

Monumen paling kasat mata dari kemewahan dan keborosan yang menyakiti hati rakyat itu adalah Perpustakaan Pusat delapan lantai, yang mulai beroperasi September 2011. Biayanya di atas Rp 120 miliar. Tanya, apa gunanya? Jawabnya sederhana: pasti bukan untuk kepentingan pendidikan.

Rektor UI, Prof. Dr. Gumilar Somantri, berulang-ulang menyatakan bahwa Perpustakaan itu adalah perpustakaan universitas termegah di Asia. Omong kosong! Bila anda datang ke Perpustakaan Pusat PP sekarang, Anda akan segera tahu bahwa, dilihat dari perspektif pendidikan, yang ada hanyalah kesia-siaan.

Sejak awal, PP ini bermasalah karena menabrak Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang semula sudah disetujui Majelis Wali Amanat. Dalam RKAT, yang ditetapkan adalah renovasi dan perluasan perpustakaan pusat yang sudah ada. Namun kemudian Rektor dengan seenaknya mengubahnya. Ia memutuskan membangun sebuah perpustakaan baru dengan biaya fantastis.

Saya rasa karena hubungan baiknya dengan orang-orang DPR, Gumilar berhasil mempengaruhi DPR untuk mengucurkan uang rakyat itu untuk sebuah projek yang sama sekali tak ada nilai pentingnya. UI sudah memiliki Perpustakaan Pusat (lama) yang selama ini sudah berfungsi dengan baik. Yang diperlukan sekadar renovasi. Di masing-masing fakultas pun sudah ada perpustakaan yang berfungsi baik dan lebih mudah diakses oleh mahasiswa di fakultas mereka.

Kini kesia-siaan PP itu terungkap jelas. Sudah banyak bagian yang bocor. Sejumlah komputer yang tersedia untuk mencari judul buku sudah tidak berfungsi. Bahkan peralatan canggih yang semula diadakan untuk memungkinkan pengunjung meminjam dan mengembalikan buku secara otomatis tidak pernah bekerja. Sebuah sarana audio yang semula secara rutin memperdengarkan lagu-lagu dan karya seni Indonesia klasik lainnya sekarang membisu. Rumput di dinding bangunan PP tumbuh tak beraturan.

Banyak mahasiswa datang ke PP bukan untuk mencari dan meminjam buku. Sebagian besar datang dengan membawa buku sendiri atau laptop ke PP dan kemudian memanfaatkan meja-maja baca di sana. Mahasiswa mengaku bahwa dengan sarana e-book (buku elektronik) yang bisa diakses melalui internet saat ini, mereka tak merasa perlu meminjam di PP yang koleksi bukunya hanyalah merupakan kumpulan dari buku-buku lama yang sebenarnya diboyong dari perpustakaan-perpustakaan fakultas.

Penataan buku-buku yang diboyong dari fakultas-fakultas itu pun berantakan. Sampai saat ini – hampir 4 bulan setelah PP mulai dioperasikan — masih banyak buku yang belum dapat dipinjam karena belum tercatat dalam sistem data PP. Ada tumpukan-tumpukan buku yang tergeletak begitu saja tanpa ada yang merapihkan dan menatanya, mungkin karena keterbatasan tenaga yang bekerja. Dan karena keterbatasan tenaga ini, kita bisa melihat antrian panjang mahasiswa yang hendak meminjam buku di meja-meja peminjaman. Bukan karena peminat bukunya banyak tapi karena petugasnya sedikit.

Suasana perpustakaan yang serba hening tak akan ditemukan. Di banyak bagian, kelompok-kelompok mahasiswa bergerombol untuk melakukan banyak hal, termasuk berdiskusi dan menyelesaikan tugas kampus. Mereka memang datang ke sana bukan untuk meminjam buku dan membaca. Mereka memang mencari tempat yang lebih lapang, nyaman dan dingin (AC PP berfungsi sempurna) untuk bekerja atau sekadar mengobrol.

Banyak mahasiswa mengeluh karena mengalami kesulitan mencari buku, skripsi, thesis, serta laporan penelitian yang semula dapat mereka peroleh dengan mudah di perpustakaan fakultas masing-masing. Situasinya memang menjengkelkan. Bahan-bahan kepustakaan yang mereka butuhkan sudah dipindahkan dari fakultas mereka, tapi sekarang setelah mereka bersusahpayah datang ke PP, ternyata bahan-bahan itu tak ada atau belum terdata secara baik.

Tapi kondisi ini memang tak mengherankan terjadi karena PP mungkin tak pernah diniatkan sungguh-sungguh sebagai perpustakaan yang bermanfaat bagi pendidikan. Gumilar memang tak peduli dengan kepentingan pendidikan, karena memang bukan itu tujuan utama pembangunan PP.

PP ini memang gedung berlantai delapan, tapi yang digunakan untuk perpustakaan hanyalah tiga lantai. Sisanya diperuntukkan bagi fasilitas-fasilitas lain seperti ruang diskusi, pertemuan, ruang ngobrol, bahkan tempat minum mahal, ruang kebugaran, toko buku, pegadaian, teater film, dan studio musik.

Celakanya lagi, semua ruang lain itu sebenarnya dikomersialkan. Ada ruang-ruang-ruang diskusi dan seminar, dari yang berbentuk ruang kelas sampai auditorium – bahkan yang terapung. Tapi penggunaaannya tidak murah. Kisaran sewanya, dari Rp. 1 juta rupiah sampai Rp 4 juta rupiah per hari! Menurut orang dalam PP, pengunaaan ruang itu bisa gratis, kalau ada surat sakti dari Gumilar.

Maka tidaklah mengherankan bahwa ruang-ruang dari lantai lima sampai delapan itu lebih sering kosong. Maklumlah, mengapa pula orang-orang kampus merasa harus menyewa dengan harga itu, kalau di fakultasnya masing-masing, sudah ada ruang-ruang yang bisa digunakan secara gratis?

Di lantai satu, ada tempat makan sampai tempat kebugaran tubuh. Tapi tolong catat nama-nama perusahaan yang menyewanya: Starbucks, Restoran Korea, Gold Gym dan Times Book Store. Di luar itu, tentu ada penyewa-penyewa lain. Namun dari empat nama itu, jelas terlihat betapa komersialnya penggunaan ruang-ruang PP itu. Sekadar contoh lain: BNI yang menempati tiga ruang harus membayar Rp 50 milar kepada UI, dengan masa kontrak sekitar 25 tahun.

Segenap fasilitas di dalamnya juga nampak sangat mewah, yang tentu kontradiktif dengan sarana pendidikan masyarakat luas di luar UI. Data menunjukkan bahwa untuk membeli berbagai lukisan dan patung yang menghiasi perpustakaan, UI mengeluarkan dana ratusan juta rupah. Begitu juga ada sebuah ruang komputer yang diisi oleh 100 komputer Mac terbaru, yang spesifikasinya jauh di atas sebuah komputer untuk membrowse internet atau mengerjakan tugas-tugas makalah kampus.

Perpustakaan baru ini bahkan mematikan perpustakaan-perpustakaan lama yang sudah ada di fakultas-fakultas. Karena buku-bukunya diboyong, perpustakaan-perpustakaan di berbagai fakultas dan pepustakaan pusat lama menjadi kehilangan fungsi aslinya. Gedung-gedung perpustakaan lama tersebut kini nampak sebagai wilayah tak bertuan, yang diisi para mahasiswa untuk sekadar bercengkerama. Bahkan para pengelola perpustakaannya pun bingung dengan rencana pemanfaatan gedung-gedung itu.

Penggambaran aga terperinci di atas sengaja saya paparkan untuk menunjukkan betapa mubazirnya PP bernilai di atas Rp 120 miliar itu.

Pertanyaannya: lalu kenapa didirikan?

Jawabannya, saya rasa sederhana: karena ada pihak-pihak tertentu yang akan memperoleh keuntungan dari setiap projek yang diadakan. Logikanya sama persis dengan kemewahan DPR. Mengapa harus ada renovasi ruang banggar senilai Rp 20 miliar? Jawabannya pasti bukan karena mendesak, tapi karena uang yang dikucurkan.

Pendirian Perpustakaan Pusat melibatkan banyak projek: dari pembangunan gedung, interior, mebel, hiasan, sistem informasi, rak buku, lukisan, komputer Mac, taman, dan sebagainya. Dengan memperhatikan gaya UI mengelola keuangan, dapat dibayangkan untuk setiap projek itu, ada dana yang mengucur bukan hanya kepada kontraktor tapi juga pejabat-pejabat UI.

Apakah saya sekadar berburuk sangka?

Saya rasa tidak. Sebagaimana adalah pantas berburuk sangka pada DPR, adalah layak juga berburuk sangka pada Rektor dan kawan-kawannya. Lebih dari itu ada banyak contoh yang bisa menunjukkan bahwa pimpinan UI tidak mengelola keuangan UI dengan hati bersih.

Salah satu contoh sederhana saja adalah pembangunan jalur sepeda di UI. Tahun lalu dilakukan penambahan jalur sepeda sepanjang 1,3 kilometer. Yang menarik pembangunannya terpecah menjadi 13 segmen. Pertanyaannya mengapa harus dipecah menjadi 13 projek berbeda? Ternyata jawabannya tidak rumit. Untuk pembangunan 100 meter, dana yang harus dikeluarkan hanyalah Rp. 40-50 juta. Menurut peraturan-perundangan yang berlaku, untuk projek senilai di bawah Rp 50 juta, tidak diharuskan ada pemilihan kontraktor dengan cara tender. Bisa dilakukan dengan cara penunjukan! Dengan kata lain, pimpinan UI bisa menunjuk dengan mudah rekanannya yang akan mengerjakan projek-projek itu. Beberapa perusahaan yang terlibat antara lain adalah: Dwi Bangun Pratama dan Satu Atap Construction.

Otak dagang para pimpinan UI ini tercium di mana-mana. Saat ini saja, bila ada promosi Guru Besar, yang menangani adalah pihak Rektorat UI. Seorang Guru Besar bercerita bahwa, UI mengharuskan jumlah undangan yang dicetak melalui rekanan UI berjumlah 1.000 buah, padahal yang ingin diundang oleh sang Guru Besar hanyalah 200 orang. Seluruh keperluan Alat Tulis Kantor yang diperlukan seluruh Fakultas UI ditangani oleh rekanan yang ditentukan pimpinan UI.

Bahkan untuk sebuah konferensi pers saja, UI merasa perlu membayar perusahaan humas. UI sebenarnya memiliki seorang praktisi humas, Devi Rachmawati. Orang dekat Gumilar ini bukan saja pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi UI, namun juga penulis buku tentang humas dan memiliki hubungan baik dengan banyak wartawan. Tapi toh dua konferensi pers beberapa waktu lalu, UI membayar sebuah perusahaan humas swasta dengan biaya Rp 30 juta dan Rp. 60 juta. Tanya, kenapa?

Seorang sumber (yang harus saya rahasiakan namanya, kecuali ini menjadi perkara hukum) dengan sinis menyatakan, di UI ini semua pembiayaan di mark-up, kecuali urusan bayar air, listrik, telepon dan ’pengurusan jenazah’.

Dengan demikian, bisa dibayangkan bahwa ada begitu banyak rekanan UI yang diuntungkan oleh projek-projek tersebut. Rekanan yang mengerjakan projek-projek itu pun sebenarnya jumlahnya terbatas. Sebagaimana praktek yang dilakukan Nazaruddin yang legendaris itu, banyak perusahaan rekanan UI yang diduga sebenarnya dimiliki orang yang sama.

Dan para rekanan ini tentu saja bukan golongan orang-orang yang tak tahu membalas budi. Karena itulah, sebagaimana diceritakan salah seorang anggota MWA, ketika adik Gumilar (dan ternyata bukan adik ipar, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya) menikah, salah satu pihak yang banyak memberi bantuan pembiayaan adalah rekanan-rekanan UI yang selama ini sudah dilibatkan dalam banyak projek pembangunan di UI.

Jadi segenap cerita tentang kemewahan, keborosan dan kesia-siaan pengunaan dana rakyat yang lazim dilekatkan kepada pemerintah dan DPR serta lembaga-lembaga negara lainnya, sebenarnya dengan sangat terang benderang dilakukan Gumilar Somantri dan kawan-kawannya.

Tapi tentu saja mereka tak peduli, sebagaimana mereka tak peduli dengan upah pekerja kebersihan UI yang cuma Rp 500 ribu per bulan, Hidup kaum elit UI itu kini sangat sejahtera kok. Bayangkan, seorang pimpinan UI kini kendaraan pribadinya adalah Jaguar!

(sumber foto: Vibizportal.com)

Ditulis dalam UI. 7 Comments »

7 Tanggapan to “Soal Menghamburkan Uang Rakyat, Pimpinan UI Jagonya!”

  1. nurul intan hanifah Says:

    sedih bacanya….
    cm bs doa yg salah dpt hukuman yg setimpal…amin…

  2. Rumus Matematika Says:

    subhanallah, ini tulisan provokatif sekali…

    semoga semuanya bisa segera ditangani oleh KPK, bukan sekedar wacana di blog ini saja

  3. Tommy Sp Hutomo Says:

    Dalam kasus PP UI ini, Gumilar memang luar biasa borosnya…..

  4. Tang Says:

    Btw, mengenai peminjaman ruang rapat yg sulit seperti yg disebutkan di atas tidak sepenuhnya benar jg, krn saya sbg mahasiswa pernah melakukan peminjaman hny dengan ijin ke kepala ruang di perpustakaan..

    Sebenarnya apabila pembangunan PP ini dilakukan dgn baik, dalam arti segala sistemnya tertata baik, buku2 jg rapi dan mudah diakses, dll, pembangunan ini tidak begitu terasa sbg pemborosan. Sebab hal yg kita permasalahkan sbnarnya dari anggota dpr itu adalah kinerja mereka yg buruk tapi mau pembangunan yg wah untuk ruang kerjanya. Jika kinerjanya baik, rakyat makmur, mngkn dibangun fasilitas yang mahal juga rakyat tidak begitu protes. Sama jg dengan pembangunan PP ini, yg disayangkan, masih banyak hal2 yg terbengkalai.

    Semoga tulisan ini bisa membuka pikiran pimpinan UI ya, untuk setidaknya melakukan pembangunan yg bertanggung jawab, tidak skedar terkesan wah, keren, megah, dll secara fisik saja, tp juga bs benar2 mengoptimalkan fungsi dan tujuan pembangunan itu dr awalnya..

  5. r Says:

    Isi blog ini terlalu provokatif, tanpa sedikit pun memberikan sudut pandang yg lebih optimis. bayangkan jika semua anak UI berpikiran seperti ini, tidak akan ada pembangunan di UI. PP UI, adalah salah satu simbol UI sekarang, jika melihat perpus UI yg besar, maka terlihat jelas determinasi rektor untuk membuat banyak pembangunan yg berbasis jangka panjang. Contoh saja perpus FT, sekarang digunakan menjadi kelas-kelas dikarenakan bertambahnya jumlah mahasiswa yg masuk. Dengan adanya perpus pusat, buku akan lebih mudah diakses, misalnya, jika jurusan arsitektur membutuhkan buku tentang sosiologi, dapat dengan mudah mengakses tanpa harus datang ke fak bersangkutan. Perpus ini pun atas sayembara terbuka yg ditujukan kpd konsultan-konsultan lulusan UI, yg telah melakukan research sehingga ruang-ruang dan areal terbuka mempunyai alasan tertentu dan dibutuhkan oleh mahasiswa/i UI. Bahkan penjurian bangunan ini dipilih oleh Guru Besar Arsitektur yg tadinya mendesain kampus UI yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang.

    Saya setuju penghamburan uang terjadi pada imac2 yg sebenarnya terlalu sophisticated, namun jika digunakan dengan maksimal komputer itu juga dapat membantu proses perkuliahan dengan sangat baik.

    Coba untuk bangga dan dukung, boleh kritis namun harus dilihat dari banyak sisi. 🙂

  6. tiffanymireu Says:

    Yep, setuju dengan komentar diatas saya. Tulisan blog ini sangat provokatif. Ada beberapa hal yang saya ingin anda konfirmasikan disini.

    1. Mengenai utilitas fasilitas perpustakaan kampus.

    Anda menyatakan bahwa “ada” inefisiensi dan inefektifitas dalam pengelolaan perpustakaan ini. Semua yang anda tulis disini adalah perspektif andaa, opini anda, pandangan anda. Anda “berpendapat” bahwa fungsional perpustakaan UI tidak maksimal, dan kelihatan sangat boros. Berpendapat tentu boleh. Tapi, pendapat itu berbeda dengan fakta bukan?? Pendeknya, saya menginginkan data. Kalau memang penyediaan Perpustakaan UI tidak relevan, boros, dan tidak terlalu berguna, alangkah bagusnya kalau anda sediakan hal tersebut dengan data. Mungkin dengan mengumpulkan kuisoner mengenai pendapat para pengguna perpustakaan UI, salah satu caranya.

    Saya sendiri tidak sepakat dengan anda. Saya adalah mahasiswa tingkat akhir dan sangat terbantu dengan fasilitas perpustakaan UI, diantaranya dengan penyediaan ruang diskusi, akses internet, peminjaman buku teks, dan peminjaman skripsi. Bagaimanapun bagusnya sebuah ebook, hardbook tetap mempunyai manfaat yang tidak bisa diakses melalui ebook. Mungkin mahasiswa memang bisa memfotokopi atau membeli satu buku untuk satu mata kuliah, namun sangat jarang yang membeli lebih darii satu per mata kuliah, karena harga textbook adalah tidak murah. Berpatokan hanya pada satu pegangan buku tidak efektif dan tidak efisien, karena kadang2 kita membutuhkan supporting book dalam belajar, baik dalam berupa buku yang lebih simpel yang bahasanya lebih mudah dipahami, maupun buku yang pembahasannya lebih detail. Dengan terintegrasinya perpustakaan fakultas pada perpustakaan UI, saya mengalami kemudahan dalam mencari buku yang saya perlukan, saya bisa membandingkan satu buku dengan buku lainnya dan memperkaya pengetahuan saya tentang subjek yang saya pelajari, dipandang dari berbagai macam perspektif.

    Gedung dibuat sangat besar, megah, dan luas, karena memang diperuntukkan untuk kebutuhan civitas akademik UI yang jumlahnya ribuan, bahkan puluh ribuan. Interior yang nyaman, dan fasilitas yang terbaik (iMac) diberikan, karena perpustakaan ini didesain untuk dipergunakan dalam waktu yang lama, kalau bisa berpuluh2 tahun, karena itu, diberikan fasilitas dengan kualitas terbagus sekalian biar nggak mudah rusak. Interior yang anda katakan mewah, itu untuk kenyamanan. Aktivitas belajar akan kondusif apabila pembelajar berada dalam situasi yang mendukung. Selain itu, desain dan arsitektur pepustakaan UI yang elegan, itu merupakan simbol ilmu peengetahuan. Salahkah apabila rektorat menunjukkan cintanya kepada ilmu pengetahuan dengan menyediakan perpustakaan yang megah??
    Salah satu tujuan UI adalah untuk menjadi Universitas riset kelas dunia, pembangunan perpustakaan ini adalah satu tindakan kongkrit UI untuk mewujudkan cita2 itu. Para civitas akademika tentu akan sangat bersemagat melakukan riset dan penelitian apabila fasilitas yang tersedia ada dan lengkap.

    Mengenai chaos dalam operasional, hal itu dapat dipahami. Bagaikan anak yang baru lahir didunia, bagaikan anak burung baru lahir yang sedang belajar terbang, semuanya butuh proses. Sangat wajar, bagi perspektif saya, kalau pemanfaatan fasilitas ini masih belum maksimal. Dengan gedung seluas itu, mahasiswa yang akan dilayani sebanyak itu, dan dengan buku2 dan jenis layanan yang sebanyak itu, tentu anda sepakat kalau ini bukan pekerjaan mudah, bukan?? Dan, pelayanan perpustakaan terus mengalami improvement, jangan khawatir. Petugas di bagian peminjaman buku di lantai dua sudah diperbanyak untuk mengurangi line antrian, buku-buku juga sudah tersusun agak rapi, tidak se-chaos dulu. Jadi, saya yakin pelayanan di perpustakaan UI akan jauh lebih baik lagi.

    Mengenai masalah sewa ruangan, anda tadi sudah menyatakan, bukan, kalau pembangunan Perpustakaan UI memerlukan biaya yang sangat besar. Dari apa yang bisa saya simpulkan, tidak semua dana pembangunan berasal dari pemerintah, atau uang rakyat. Ruangan seminar, diskusi, Perpustakaan UI lantai 1-4, kita dapat meminjam dengan gratis, karena itu masih dibawah wewenang UI, sementara lantai 5-8, memang membayar, karena itu wewenang pengelola gedung.

    Saran saya, dalam mengkritisi hal apapun, sangat lebih baik kalau kita sebagai mahasiswa bisa melihat dari berbagai macam sudut pandang dan perspektif.

    Saya sangat menghargai upaya UI dalam berinvestasi terhadap dunia pendidikan. Semoga segenap civitas akademika UI dapat memanfaatkan fasilitas mewah ini dengan maksimal, membuat dan menghasilkan riset bermutu yang dikemudian hari bisa mengangkat derajat bangsa Indonesia, menuju negara maju.

    Hidup pendidikan Indonesia!!!!

  7. gita Says:

    saya mahasiswa ui. dan saya bangga dengan perpustakaan pusat sekarang. fasilitasnya mumpuni. dan sangat berguna bagi seluruh mahasiswa dan sivitas.bisa digunakam untuk kegiatan kuliah dan membuat tugas itu kan salah satilu dari fungsi perpustakaan.permasalahn adanya waralaba yg muncul itu hny sebagian kecil kekurangan dari berbagai kelebihan. tidak semua seburuk seperti yang anda fikirkan dan seperti yang ada tuangkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: