BPK dan Gumilar yang Sewenang-wenang

BPK dan Gumilar yang Sewenang-wenang

Ade Armando (20 Januari 2012)

Satu per satu kebobrokan kepemimpinan Rektor UI Prof. Dr. Gumilar Somantri terbongkar secara resmi.

Kamis (19 Januari 2012), anggota BPK, Rizal Djalil mengungkapkan kepada publik bahwa akibat kesalahan Gumilar, negara setidaknya dirugikan Rp 45 miliar.

Dua kasus disebut secara khusus oleh BPK: kasus pengalihan aset negara kepada swasta yakni lahan seluas 2,4 hektar di lokasi bekas asrama Pegangsaan Timur (PGT) di Cikini, Jakarta serta kasus keterlambatan pembangunan Rumah Sakit di Depok.

Harap dicatat, kasus-kasus ini ‘hanyalah; dua di antara banyak temuan audit BPK mengenai pengelolaan uang negara oleh UI di bawah kepemimpinan Gumilar. Audit khusus BPK tersebut dilakukan mengingat kuatnya tuduhan mismanajemen UI yang disuarakan banyak pihak beberapa bulan terakhir.

Hanya saja, dua kasus ini dengan sengaja diangkat karena peran Gumilar dalam tindak yang merugikan negara puluhan miliar tersebut sangat nyata. Untuk membuktikan mismanajemen di kasus-kasus lain – termasuk Perpustakaan Pusat atau pembangunan Art and Cultural Center dan berbagai lab yang juga kontroversial – memerlukan audit lebih dalam, meski aroma korupsinya kuat. Halnya di dua kasus yang diangkat ini, kesalahan Gumilar prakis tak dapat dibantah.

Dalam kasus pertama, Gumilar dengan semena-mena memutuskan untuk menyerahkan penglolaan asset negara berupa 2,4 hektar tanah di Pegangsaan Timur kepada sebuah perushaan bernama Nurtirta Nusa Lestari (NLL). Pemilik perusahaan ini adalah pengusaha Kentjana Wijaya.

Sebagaimana terbaca dalam Laporan Tahunan Eksekutif UI, NLL dipersilakan membangun hotel dan apartemen di tanah seluas 2 hektar itu dengan pola Bangun Guna Serah (BGS). NLL menginvestasikan dana Rp 260 miliar dan berhak memanfaatkan lahan itu selama 27 tahun. NLL sudah membayar kepada UI Rp. 15 miliar sebagai pembayaran pertama dan akan mencicil sekitar Rp 600 juta per tahun untuk 20 tahun kedepan.

Pemancangan tiang pertama kompleks perhotelan, apartemen dan tempat belanja itu sudah dilakukan pada 19 Agustus 2009. Hanya saja, nampaknya agar tidak dituduh macam-macam, UI membangun imej bahwa yang dibangun bukanlah kompleks komersial, melainkan sebuah gedung pusat kegiatan ilmiah.

Karena itu nama yang digunakan untuk kompleks tersebut adalah Convention Center for Academic Activities (CCAC).
Publikasi resmi UI, UI Update (Agustus-September 2009) , menggambarkan CCAC sebagai bagian dari grand design pengembangan model pendidikan Smart Education for Smart Society.

Pusat kegiatan akademik apa yang sebenarnya hendak dibangun? Untuk menjawabnya, UI Update menulis (saya kutip lengkap di sini):

“ UI menyadari bahwa sejak lama aktifitas-aktifitas akademik seperti diskusi, seminar, publikasi buku-penelitian dan sebagainya, telah menarik perhatian publik (baik dalam maupun luar negeri). Namun, sayangnya, masyarakat sering kali kesulitan mengakses lokasi pelaksanaan berbagai kegiatan akademik tersebut. Demi memberikan keleluasaan bagi masyarakat mengkonsumsi pengetahuan yang telah diproduksi oleh para ilmuwan-ilmuwan terbaik bangsa, dibangunlah pusat convention yang bersifat comprehensive yang terdiri atas dua tower (10 lantai), dengan fasilitas seperti ballroom, meeting-rooms, teleconference room, toko buku.”

Penjelasan itu tentu membingungkan. Namun tentu saja itu membingungkan, karena apa yang dikemukakan UI UpDate adalah sekadar upaya mengada-ada untuk menjustifikasi pembangunan di sana. Tujuan sesungguhnya baru bisa dibaca di alinea berikut tulisan di UI Update itu. Saya kutipkan lagi secara lengkap:

“Tidak hanya itu, CACC ini nantinya akan didukung dengan pembangunan fasilitas penunjang seperti penginapan, rumah makan dan kafe. Kesemuanya dimaksudkan untuk terus memicu semangat melakukan aktifitas akademik seperti penelitian dan pengajaran. Ini sejalan dengan upaya UI untuk menjadikan universitas sebagai basis knowledge creation bukan hanya sekedar knowledge distribution. Oleh karenanya UI haruslah terus mengupayakan membangun suasana akademik yang kondusif melalui tersedianya berbagai fasilitas terbaik bagi para ilmuwan.”

Siapapun yang membaca penjelasan itu akan mengerti betapa menjijikkannya cara kehumasan UI. Bayangkan, di laporan eksekutif UI, jelas-jelas tertulis bahwa yang dibangun adalah hotel dan apartemen. Namun di publikasi humas UI, dikatakan bahwa yang dibangun adalah ‘penginapan’ dan ‘rumah makan’. Lebih busuk lagi, UI berusaha menggambarkan bahwa segenap fasilitas penginapan itu didirikan untuk memberi suasana akademik yang kondusif agar universitas dapat dijadikan sebagai basis knowledge creation.

Kini, Gumilar ketemu batunya. Upaya akal-akalan dia ternyata tetap dinyatakan salah. Dan Gumilar harus bertanggungjawab karena memang dialah yang mengambil keputusan tersebut.

Ide untuk mengkomersialkan tanah PGT itu memang sudah lama terpikir. Dua rektor sebelum Gumilar memang sudah mempelajari kemungkinan untuk memanfaatkan lahan yang semula digunakan sebagai asrama mahasiswa itu untuk keperluan yang lebih produktif secara ekonomis. Namun niat itu kemudian diurungkan mengingat peraturan perundangan yang berlaku menyatakan bahwa tanah yang merupakan asset negara tidak dapat digunakan untuk kepentingan komersial. Peraturan bersama 3 Menteri tahun 1974 menyatakan itu.

Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2008 tentang aset negara sebenarnya memberi peluang baru. Tapi keputusannya tidak dapat diambil sembarangan dan harus mempertimbangkan kepentingan public. Salah satu syarat yang ditetapan adalah bahwa tindakan pengalihan asset nagara itu harus dengan persetujuan Menteri Keuangan.

Prosedur inilah yang dilanggar begitu saja oleh Gumilar. Dengan seenaknya sang rektor merasa bisa melego apapun yang berada di di wilayah UI. Nilai ‘sewa’nya pun relatif rendah, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan ia juga memperoleh keuntungan dari kerjasama itu dengan Nurtirta Nusa Lestari.

Seperti dikatakan Rizal Jalil, tindakan Gumilar dilakukan tanpa persetujuan Menteri Keuangan dan tarif yang dikenakan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah. Dengan kata lain, pembangunan yang sudah dilakukan selama dua tahun itu sebenarnya melanggar hukum dan, lebih dari itu, merugikan negara.

Akibat kecerobohan inilah, BPK menyimpulkan bahwa negara dirugikan Rp 41 miliar.

Dalam kasus kedua, peran kebodohan Gumilar juga menonjol. Ini menyangkut keterlambatan pembangunan Rumah Sakit di Depok, yang mengakibatkan UI harus membayar denda Rp 3,8 miliar kepada pihak peminjam dana.

Masalahnya ini bukan sekadar soal keterlambatan akibat kesalahan teknis. Keterlambatan ini berlangsung akibat kengototan Gumilar membangun sebuah boulevard yang tak ada gunanya.

Pembangunan Rumah Sakit dan sejumlah fakultas dalam rumpun ilmu kesehatan – FK, FKF, FKM, FIK—sebenarnya dputuskan di era Rektor Usman Chatib Warsa (2002-2007). Dana pembangunnya diperoleh melalui pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar US$120 juta.

Namun rencana pembangunan itu terpaksa berhenti ketika Rektor Gumilar naik ke tampuk kekuasaan pada 2007. Persoalan timbul karena Gumilar tiba-tiba saja memutuskan bahwa UI harus membangun boulevard di depan gedung rektorat UI. Keputusan ini sebenarnya tidak ada dalam Rencana kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang disetujui MWA, namun Gumilar berkeras untuk mendirikannya.

Pembangunan boulevard ini menimbulkan masalah besar karena hal tersebut merusak master plan rencana pembangunan RS dan fakultas-fakultas yang semula sudah ditetapkan. Gumilar berkeras bahwa pembangunan boulevard tersebut harus mengambil jalur yang menyita sebagian wilayah yang semula sudah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan RS. Dengan kata lain, akibat boulevard, rencana pembangunan RS harus dirombak besar-besaran. Akibat penundaan-penundaan yang terjadi Indonesia pun harus membayar denda (commitment charge) 38,5 juta Yen, atau setara dengan sekitar Rp. 3,8 miliar kepada JBIC.

Keputusan Gumilar membangun boulevard itu memang mengandung banyak misteri yang tidak terpecahkan. Kantor Akuntan Publik Kanaka yang sempat melakukan audit terhadap laporan keuangan UI tahun 2009-2010 menyatakan mereka tidak dapat menemukan catatan mengenai pembangunan boulevard tersebut di Laporan Keuangan UI tahun 2009 dan 2010. Masih menurut Kanaka, dari wawancara dengan pihak manejemen UI, mereka tidak dapat mendapatkan data-data mengenai status dan nilai pembangunan boulevard.
Rektor sendiri menyatakan dalam sebuah acara resmi bahwa dana pembangunan boulevard tersebut datang dari pengusaha Mochtar Riyadi. Pertanyaannya, berapa dana yang sebenarnya diturunkan dan mengapa itu tidak dilaporkan?

Sampai sekarang boulevard itu tergeletak tak berguna. Di ujung boulevard terbentang tanah kosong yang kabarnya akan dijadikan Gerbang UI, tapi itu pun hanya rencana mengawang. Mengapa jalur yang harus dilalui adalah lokasi RS tak ada jawabannya sampai sekarang.
Karena itulah, Gumilar jelas harus bertanggungjawab atas kengototannya itu.

Rizal Jalil sendiri menyatakan : “”Kita harapkan penegak hukum segera usut ini. Kita tidak bisa membiarkan universitas sebagai simbol moral, simbol intelektual, melakukan kecerobohan.”

Apa yang dilakukan Gumilar memang memalukan dan memualkan. Dan kebusukan UI tak hanya berhenti di sini. Soal PGT dan RS hanyalah dua kasus dari gunung es persoalan yang jauh lebih besar.

Mudah-mudahan Tuhan masih mau membukakan jalan segenap kebusukan ini bisa terhenti.

Ditulis dalam UI. 11 Comments »

11 Tanggapan to “BPK dan Gumilar yang Sewenang-wenang”

  1. Mayang Sari Says:

    Sungguh sangat memalukan. Semoga kebohongan dan kebusukan segera terbongkar.

  2. Coky Says:

    Kalau soal boulevard, saya jadi ingat candaannya Iwan (PUSKA). Dia bilang kalau itu merupakan landasan pacu untuk pesawat terbangnya Rektor. Dia bilang ini dengan mimik begitu serius ke Tukang Ojek UI hihihihi…

  3. moh andi ka Says:

    wah, saya jadi ikut bingung nih. setahu saya kedua orang tokoh yang berseteru : gumilar rusliwa dan ade armando, adalah orang-orang yang layak dipercaya. keduanya punya komitmen akademis.

    kalau gumilar senang bisnis, saya kira itu wajar.
    ( bukan berarti saya pernah kebagian amplop lho., hampir 20 thn saya gk ketemu mr gu-gum. atau mr ad armando.
    .

    • adearmando Says:

      Andi, masak Anda menganggap ini perseteruan Gumilar dan Ade Armando?
      Ini peroslan seorang pejabat yang berkhianat atas amanat untuk menggunakan uang rakyat untuk kepentingan masyarakat luas

  4. Harison Says:

    Waduh judulnya kurang pas, Bos. Mestinya bisa begini: “BPK dan Kesewenang-wenangan Gumilar”. Kalo judulnya ‘BPK dan Gumilar yang Sewenang-wenang” artinya Gumilar dan BPK sama-sama sewenang-wenang. Tapi substansi artikel sih oke….keep fighting!

  5. dalijo Says:

    Bung Ade, kalau tidak salah pada tgl 15 Desember 2011 Rektor UI mengirim surat No. 960A/H2.R/PPM.01.04/2011 kepada Menteri Keuangan tentang Laporan Pemanfaatan Aset UI, yg berisi laporan tentang kegiatan kerja sama pemanfaatan aset UI di Pegangsaan Timur.
    Kira-kira surat itu maksudnya apa ya bung? Coba Anda selidiki.

  6. krisna Says:

    sharing aja yaa, perkiraan saya .. Untuk proyek rumah sakit, kemungkinan si pengucur dana nggak mau pake pimpro atw tenaga proyek pilihan dari UI.. entah kenapa, mereka (investor jepang) sudah percaya sm kondite dan hasil pengalaman kerja orang2 proyek dari institusi pendidikan negeri lain…. Mereka mau mengucurkan dana asalkan yang “bergerak” bukan orang2 dari UI tapi tim2 proyek dari institusi pendidikan negeri lain itu… dan hal tsb membuat “gerah” punggawa2 proyek di UI… apa benar begitu..??

  7. sinta Says:

    tolong jelaskan kata2 ini: Nilai ‘sewa’nya pun relatif rendah. apakah benar kerjasama UI dan NNL itu berdasarkan perjanjian sewa menyewa? setau saya itu bukan perjanjian sewa menyewa tapi perjanjian bangun guna serah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: