Bungkamnya BEM-BEM UI: Tak Peduli, Pengecut atau Dikadali?

Ade Armando (29 januari 2012)

Salah satu hal yang nampak nyata dalam kisruh UI yang berlangsung saat ini adalah bungkamnya sebagian besar Badan Eksekutif Mahasiswa UI.

Memang masih ada setidaknya tiga BEM yang secara konsisten menggugat korupsi dan kebobrokan Ui di bawah Rektor Gumilar Somantri: BEM Fakultas Ilmu Komputer, BEM Fakultas Ekonomi dan BEM Fakultas Kedokteran. Namun yang lainnya, bungkam seribu bahasa. Di kampus UI Salemba setidaknya sampai kemarin (28 Januari 2012) terpampang spanduk dan poster dari tiga BEM itu yang berisikan tuntutan agar ada pengusutan tuntas atas korupsi di UI.

Tapi hanya itu. Hanya 3 BEM.

Ini menyedihkan karena kebusukan Rektor UI sebenarnya terpampang jelas. BPK sudah menyatakan gara-gara kelakuan Rektor yang semena-mena dalam hal pembangunan Rumah Sakit dan melego asrama mahasiswa Pegangsaan Timur, negara dirugikan Rp 45 miliar. KPK sudah melakukan penyidikan atas dugaan korupsi. Indonesian Corruption Watch sudah melapor ke Komisi Informasi Publik tentang ketertutupan Rektor untuk mengungkapkan informasi public mengenai pengelolaan keuangan UI.

Kelakuan buruk Rektor dan razim yang dipimpinnya bukan cuma itu. Dari soal bagaimana mereka menyunat dan membungakan miliaran rupiah uang penelitian, beasiswa, sponsor kegiatan untuk keperluan yang tak dipertanggungjawabkan; pembangunan perpustakaan Rp 120 miliar yang sekarang saja sudah bocor, rompal-rompal dan banyak sarana di dalamnya rusak; pembiayaan makanan anjing dan pembiayaan perkawinan adik Gumilar yang turut ditanggung UI dan rekanan UI; upah pekerja kebersihan yang cuma Rp 500 ribu per bulan; penyuapan media; sampai terbengkalainya pembangunan gedung Art and Cultural Center — adalah rangkaian bukti keburukan kepemimpinan sang Rektor yang jelas-jelas merugikan negara dan rakyat indoensia.

Tapi kenapa para mahasiswa diam? Sebagian aktivis BEM menyatakan mereka tak mau gegabah terlibat dalam apa yang mereka gambarkan sebagai ‘konflik elit’. Tapi, setelah itu mereka pun cuma diam. Maksud saya, kalau mereka tak mau begitu saja percaya dengan informasi-informasi yang mungkin berseliweran, ya lakukanlah investigasi. Datanya tersedia banyak. Tapi saya rasa pernyataan itu sebenarnya sekadar alasan yang dicari-cari agar mereka tetap nampak bertanggungjawab. Mereka diam karena mereka memang tak ingin menegakkan kebenaran.

Saya rasa ada setidaknya tiga penjelasan terhadap kebungkaman BEM ini. Pertama, soal ketiadaan integritas dan komitmen pada kebenaran. Kedua, pengecut. Ketiga, manipulasi agama.

Yang pertama terjadi karena memang di kalangan pimpinan BEM sudah tidak laku pandangan bahwa sebagai warga UI mereka seharusnya menempatkan kepentingan public di atas segalanya. Para aktivis BEM sekarang mungkin memandang BEM tak lebih daripada sekadar OSIS. Mereka memandang BEM sebagai wadah mencari popularitas dan karena itu berorientasi pada kegiatan hura-hura. Mereka sama sekali tak peduli bahwa di lingkungan mereka, mereka setiap hari bertemu dengan para pekerja kebersihan yang digaji Rp 500 ribu per bulan. Mereka sama sekali tak peduli dengan isu korupsi dan keadilan social karena memang tidak peduli saja.

Tambahan lagi, Gumilar memang pintar menyenangkan hati para borjuis muda ini. Gumilar menyediakan segala fasilitas mewah dan nyaman yang memanjakan: dari Starbucks, 100 buah Mac, Gold Gym, danau indah, klub olahraga berkuda, klub Cricket, atau fasilitas Cinema (belum jadi sih, tapi sudah ada lokasinya). Bahkan Gumilar dengan murah hati menawarkan bea siswa ke Jepang untuk para ketua BEM. Jadi, buat para Ketua OSIS ini memang apa gunanya juga bersikap kritis?

Kedua, pengecut. Jangan bayangkan pimpinan BEM sekarang adalah tipe-tipe orang-orang pemberani untuk menegakkan kebenaran. Ketika gerakan Save UI dimulai pada September 2011, seorang Ketua BEM menghampiri saya untuk meminta bantaun agar kami di save UI dapat melindungi dia saat berhadapan dengan Dekannya. Kami tentu saja dengan senang hati akan membantu dia kalau dia mengalami masalah dengan Dekannya akibat keterlibatan dia dalam gerakan menggugat rektor. Tapi fakta bahwa dia harus memohon bantuan semacam itu nampaknya mencerminkan berapa kecil nyali dia. Sebagai catatan, belakangan sang Ketua BEM ini jadinya memang tak lagi terlibat dalam gerakan menggugat korupsi di UI. Dari tampangnya, sejak awal saya tahu dia memang penakut.

Ketiga, dan ini yang paling serius, adanya manipulasi agama oleh kubu rektor.

Untuk itu,saya perlu menjelaskan sedikit tentang konstalasi politik mahasiswa UI, setidaknya dari apa yang saya pelajari dari sejumlah mahasiswa yang terlibat dalam gerakan kemahasiswaan.

Sejak bangkitnya Islam politik di Indonesia pada 1990an – dengan ICMI, Habibie dan sebagainya – di kampus juga terjadi konsolidasi komunitas-komunitas mahasiswa muslim. Orientasi utama mereka bukanlah politik.
Mereka lebih memandang diri sebagai gerakan dakwah yang berusaha mewujudkan kehidupan kampus yang Islami. Tapi mereka sadar bahwa untuk mencapai tujuan itu, mereka harus menguasai lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada. Dengan kata lain, untuk berdakwah mereka berpolitik.

Komunitas-komunitas muslim ini terus merapatkan diri sehingga sekarang pada dasarnya BEM-BEM di UI dikuasai kelompok-kelompok muslim yang kerap dipanggil dengan sebutan kaum ‘’tarbiyah’. Disebut begitu, karena ‘tarbiyah’ pada dasarnya berarti proses pembimbingan dan pengembangan.
Jadi, gerakan besar Islam ini pada dasarnya berintikan pengajian-pengajian di tingkat musholla-musholla kampus. Dalam kelompok-kelompok pengajian itu berlangsung pembinaan dan bimbingan yang dilakukan para senior kepada para yuniornya.

Kemenangan demi kemenangan di berbagai BEM bisa dicapai antara lain karena kekompakan komunitas-komunitas tarbiyah tersebut. Mereka memiliki kesadaran politik tinggi yang antara lain ditandai dengan tingginya tingkat partisipasi mereka dalam pemilihan-pemilihan BEM. Jadi, sementara kubu lain harus banting-tulang mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi, kaum Tarbiyah dengan jaringan sosialnya yang solid dengan mudah memobilisasi pemilih.

Kelompok-kelompok ini aktif merekrut jemaah sejak tahun pertama para mahasiswa baru masuk ke UI. Perekrutan biasanya berlangsung melalui sel-sel di pusat kegiatan keislaman, seperti musholla. Setiap sel yang terdiri dari sejumlah mahasiswa dipimpin mentor. Tentu saja yang dibina bukan cuma soal ibadah-ibadah ritual, melainkan juga keimanan, ketaqwaan dan komitmen ideologis mereka. Bahkan perjodohan pun berlangsung dalam komunitas-komunitas tersebut.

Komunitas-komunitas di berbagai fakultas ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Mereka memiliki kesadaran kolektif sebagai kesatuan. Pada dasarnya ada struktur hierarkis di mana jemaah mengikuti tuntunan dan perintah imam. Sehingga dapat dikatakan sebenarnya saat ini ada semacam pemerintah bayangan di UI, di luar struktur resmi organisasi-organisasi kemahasiswaan. Jadi, di puncak ada yang seorang imam beserta semacam Majelis Syuro yang membicarakan masalah-masalah UI atau membuat grand strategy untuk menguasai UI.

Keputusan untuk mengajukan nama sebagai kandidat BEM pun ditentukan oleh Majelis dan Imam ini. Jadi tidak boleh ada nama kandidat dari kelompok Islam yang tidak direstui. Kalau tidak direstui artinya akan menghadapi tantangan bahwa mereka tidak akan didukung oleh suara besar.

Harap dicatat, komunitas besar ini tidak dicirikan dengan keinginan mendirikan Negara Islam, seperti Hizbut Tahrir atau NII. Mereka tidak radikal. Mereka pada dasarnya gerakan damai yang berobsesi mempersatukan para pemuda-pemuda muslim terbaik untuk membangun sebuah negara yang lebih Islami. Ciri-ciri aktivis tarbiyah ini adalah tidak merokok, tidak berpacaran, berjilbab (yang perempuan), rajin sholat, mengaji, music yang digemarinya nasyid, puritan. Mereka tidak memusuhi non-muslim. Mereka tidak eksklusif. Mereka cukup terbuka.

Dan jaringan inilah yang dimanfaatkan Gumilar dan kawan-kawan.

Kata dimanfaatkan adalah kata yang rasanya tepat karena Gumilar pada dasarnya, saya percaya, tak pernah memiliki karakter khas seorang aktivis muslim. Bahkan dapat dikatakan karakter Gumilar adalah bertolakbelakang dengan karakter kaum tarbiyah. Sejak mahasiswa Gumilar tak pernah dikenal sebagai aktivis yang memperjuangkan (nilai-nilai) Islam. Ia menanjak kariernya berkat kedekatan dengan Dr. Manasse Malo, mantan Dekan FISIP yang memiliki agenda Kristen sangat kental. Kemudian ia dekat dengan — dan bahkan disebut menghamba pada — Mochtar Riyadi, pengusaha terkenal yang juga sangat kental agenda Kristennya.

Di luar itu, Gumilar memilihara sembilan anjing. Kecenderungan klenik dan mistis Gumilar semakin memperkuat gambaran dia sebagai ‘nggak Tarbiyah banget’.

Namun Gumilar adalah politisi lihai. Ia menghimpun dan didukung orang-orang yang membawa agenda Islam politik. Sentimen keislaman sudah dibangun Gumilar sejak menjadi Dekan. Dalam kampanye Dekan, Gumilar sudah menggunakan isu agama, antara lain dengan menyatakan bahwa FISIP ada di bawah ancaman Kristen. Saya mengalami langsung didekati para pendukungnya yang meniupkan isu bahaya Kristen dalam rangka membujuk saya untuk mendukung Gumilar.

Di Fakultas itu pun, Gumilar sudah mengajak Kamarudin (sekarang Dr. Kamarudin), lulusan Departemen Ilmu Politik untuk menjadi Manager Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni FISIP UI (2002-2007). Ketika menjadi Rektor, Gumilar menempatkan Kamarudin sebagai Direktur Kemahasiswaan UI.

Dalam kaitan dengan gerakan tarbiyah, Kamarudin menempati peran penting. Ia adalah mantan Ketua Senat FISIP sekitar tahun 1995. Satu fakta penting adalah bahwa dia datang dari satu generasi bersama-sama Fahri Hamzah, anggota DPR dari PKS yang dulu merupakan Ketua Forum Studi Islam FE. Mereka saling mendukung. Selain itu ada pula aktivis-aktivis kampus yang sekarang menjadi anggota PKS: Rama Pratama, Dzulkiflimansyah, dan Slamet Nurdin. Di antara mereka berlima, hanya Kamarudin yang menetap di kampus.

Namun justru karena bertahan di kampus itulah, Kamarudin menempati posisi penting. Dalam lingkungan Tarbiyah, Kamarudin berstatus ‘Aktivis Dakwah Kampus Permanen’ (ADKP) – jadi semacam tokoh politik yang karena posisinya dalam lembaga structural tingka tertinggi akan mampu mengarahkan agar UI menjadi kampus Islami.

Di bawah Gumilar, Kamarudin selalu diserahkan tugas pada pos kemahasiswaan untuk mengendalikan mahasiswa. Di fakultas-fakultas yang dipimpin para Dekan pro-Gumilar, sang Rektor juga biasa menempatkan aktivis dakwah sebagai Ketua Mahalum (Mahasiswa dan Alumni).

Menurut sumber, kekuatan Tarbiyah UI paling kuat di Fakultas MIPA. Kantin di FMIPA dinamakan DALLAS yang secara seloroh dibilang merupakan kependekan dari ‘Di bawah lindungan Allah SWT’.

Hubungan Gumilar-Kamarudin dan BEM-BEM Tarbiyah ini sebenarnya sempat memburuk pada sekitar 2008 ketika BEM-BEM diserahkan kepercayaan untuk membuat skema Biaya Opersional Pendidikan Berkeadilan, yang dimaksudkan sebagai skema untuk meringankan SPP mahasiswa. BEM-BEM ini sudah dengan sangat baik membuat skema BOPB yang memang berpihak pada rakyat. Nyatanya skema/matriks itu diubah-ubah oleh rektorat, sehingga tujuan awalnya tidak tercapai. Gara-gara manipulasi BOPB ini sempat tumbuh gerakan mengecam Gumilar pada 2009, yang sempat memunculkan rencana pembekuan BEM oleh Rektor. Tapi saat itu, ketegangan diselesaikan dengan cara Gumilar membatalkan rencana itu seraya menyalahkan Kamarudin.

Toh, ketegangan tidak berlangsung lama. Gumilar kemudian melakukan langkah-langkah yang menyenangkan hati kaum tarbiyah dengan berbagai cara. Misalnya saja dengan mendirikan masjid megah dengan dana Saudi di Salemba. Keputusan memberikan gelar Honoris causa kepada sang Raja Saudi, antara lain dengan alasan peran sang Raja dalam membelaPalestina, juga sejalan dengan itu.

Atau dengan memberikan kemudahan-kemudahan bagi aktivitas keislaman. Misalnya saat ada larangan bagi organisasi-organiasi intra universitas dan fakultas untuk membuat acara di luar kampus, seperti malam pelantikan mahasiswa baru di luar kota, Kamarudin ternyata mengizinkan organisasi Islam untuk menyelenggarakan acara di luar kota.

Di masa penerimaan Mahasiswa Baru, Rektorat juga sudah dua tahun menyelenggarakan semacam kegiatan membangkitkan motivasi secara spiritual (SQ) oleh motivator sekaligus pendakwah.

Kerana manipulasi citra inilah, Rektor kemudian dapat menjinakkan BEM-BEM d luar BEM Fasilkom, BEM FE dan BEM FK. Para punakawan Gumilar dengan licik membangun kesan bahwa serangan terhadap Gumilar adalah persekongkolan jahat antara kaum liberal-sekuler dan Kristen. Kebetulan memang yang menjadi ikon saat Save UI dan Pelita UI mulai menggugat Gumilar adalah Emil Salim yang digambarkan sebagai bagian dari ‘mafia Berkeley’. Dengan demikian, mereka membangun kesan bahwa Gumilar sebenarnya hanya menjadi korban fitnah kalangan yang anti-Islam.

Sejauh ini manuver Gumilar dalam memberangus mahasiswa nampaknya sangat berhasil. Sejumlah aktivis mengakui bahwa saat ini ada instruksi dari Imam (entah siapa) dan Majelis Syuro’ bahwa BEM-BEM jangan bergerak — Mendukung Save UI tidak, Mendukung Rektor tidak perlu. Mungkin mereka juga tidak sepenuhnya percaya bahwa Gumilar bersih. Tapi mereka juga tidak ingin rezim yang menguntungkan mereka sampai goyah.

Buat saya, ini menyedihkan. Kalau BEM-BEM itu memang percaya bahwa mereka seharusnya menjalankan ajaran Islam, bukankah menjadi kewajiban mereka untuk menegakkan kebenaran? Menjadi muslim yang baik, bukanlah sekadar menjalankan sholat 5 waktu, berpuasa Senin-Kamis, mengaji dan menutup aurat. Menjadi muslim adalah juga bertindak saat di hadapan kita berlangsung kezaliman.

Kalau memang tak mau begitu saja percaya dengan tuduhan teradap rektor, kewajiban mereka adalah mencari tahu kebenaran. Karena bila karena diamnya mereka kezaliman berjalan terus, mereka tentu turut bertanggungjawab.

Namun argument ini memang hanya relevan kalau orang bersedia bersikap netral. Yang nampaknya terjadi, para pimpinan BEM-BEM itu sudah percaya bahwa mereka seharusnya tidak terlibat dalam upaya menggerus Rektor. Karena alasan agama, mereka percaya bahwa sikap yang benar adalah diam, bungkam.

Tentu saja adalah setiap orang untuk menentukan langkah politiknya, Namun bila kebungkaman mereka yang diberi amanah memimpin mahasiswa adalah karena mereka percaya itu adalah tindakan yang Islami, itu tentu luar biasa menyedihkan.

Ditulis dalam UI. 121 Comments »

121 Tanggapan to “Bungkamnya BEM-BEM UI: Tak Peduli, Pengecut atau Dikadali?”

  1. 777strings Says:

    sebagai orang awam saya telah mengamati perkembangan aktivis dakwah kampus selama kurang lebih 2 tahun. menarik sekali melihat analisa dari bapak Ade Armando mengenai korelasi antara gerakan tarbiyah dengan “melempemnya” perlawanan terhadap rektorat. memang saya sempat mendengar beberapa selentingan mengenai hal-hal yang dipaparkan melalui tulisan ini sebelumnya. namun tidak banyak orang yang mengangkat permasalahan ini ke permukaan. saya bukan orang yang anti dengan gerakan tarbiyah, namun saya banyak mendengar selentingan-selentingan mengenai berbagai “permainan” yang dilakukan oleh gerakan ini dalam politik kampus belakangan ini. memang sangat disayangkan apabila adanya hierarki seperti dewan syuro justru malah membuat aktivis-aktivis tarbiyah menjadi tidak kritis. berkaitan dengan BEM sendiri, ada kecenderungan bahwa BEM adalah organisasi “eksklusif” yang asik sendiri dengan kegiatannya tanpa merangkul elemen mahasiswa. hal tersebut dapat dilihat dari partisipasi pemilih dalam Pemilihan Raya yang terbilang sedikit dan kurangnya atensi mahasiswa terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan BEM. jika di kalangan mahasiswa saja BEM tidak dianggap, maka apa artinya keberadaan sebuah BEM? saya rasa keberadaan BEM hanyalah sebuah formalitas belaka. entah sampai kapan

  2. Tigor Mulia Dalimunthe Says:

    BEM-BEM (diluar 3 fakultas tadi) gimana nih? Buruan kasih klarifikasi dan gerak cepat dong. Makin lama tarbiyah, harusnya makin peka sama lingkungan.

    Minimal, kalau Ketua BEM-nya emang bisa disetir, mahasiswa yang lain (termasuk staf-staf di BEM) yang tidak punya keuntungan secara politis, tidak ada keterikatan ideologis dan struktural, ya jangan mau di-setir lah.

    Kalau (misalnya) tulisan Bung Ade Armando benar, BEM sungguh TER-LA-LU….

    *)
    PERTAMAX diamankan!

  3. friska Says:

    Senang sekali membaca tulisan-tulisan Pak Armando yang sangat prihatin akan UI dan betapa bobroknya manajemen UI selama ini. Sebagai satu orang mantan anggota BEM UI, sepanjang yang saya ketahui, bahwa keputusan pengurus BEM UI untuk fokus pada suatu isu kemudian berdemonstrasi mengemukakan pendapatnya, butuh waktu panjang. Betul, mereka tidak ingin gegabah dan demonstrasi adalah langkah terakhir. Apakah BEM di UI sekarang pengecut? Itu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab karena saya tidak berada dalam organisasi itu. Tapi saya sepakat dengan Pak Armando bahwa manajemen UI sudah bobrok dan butuh langkah cepat untuk menyelesaikan berbagai masalah ini. Jangan sampai citra UI terus memburuk. Image UI sebagai kampus mahal sudah cukup menyakiti hati rakyat, tidak perlu lagi ditambah image baru, rektor koruptor dsb. Ditunggu juga tanggapan para ketua BEM di UI.

  4. Alfan Says:

    BEM FE saat ini juga dijabat orang tarbiyah, tapi kenapa sikapnya beda ya?

    • adearmando Says:

      Sikap Dekan pasti berpengaruh.
      Tapi saya lihat sendiri bagaimana Ketua BEM FE yang baru saja turun, Ijul, dengan sangat lugas berkomentar pada Rektor dan konco-konconya (ada WaRek, Dekan Psikologi dan beberapa lainnya) dalam pertemuan di BPK, bahwa apa yang dia saksikan seolah-olah adalah sekadar ‘dagelan yang tak ada artinya’.
      Bagaimanapun, setiap manusia adalah independen.
      Bila Ketua BEM FE berbeda dari teman2nya mungkin sekali ada faktor perbedaan integritas, di luar soal peluang yang diberikan lingkungan.

      • M. Ryan F. Says:

        “Sikap Dekan pasti berpengaruh.” –> sikap dekan mana yang bapak maksud? Apakah sikap beliau yang membolehkan mahasiswa mogok kuliah tanpa memberikan statement resmi?

      • adearmando Says:

        Ryan.
        Saya tidak tahu apa yang terjadi di kampus Anda.
        Tapi, terus terang, kalau Anda mahasiswa FE, Anda pantas bangga dengan Dekan Anda yang memiliki integritas yang antara lain ia tunjukkan dengan sikapnya yang kritis terhadap langkah-langah Gumilar.
        Dekan-dekan di fakultas2 lain (selain FK dan Fasilkom) tidak berani lho.
        Kalau ngobrol secara tertutup, sebagian mereka juga mengeritik Gumilar. Dengan pedas, malah.
        Tapi secara publik, tak berani menyatakan sikap.
        Kenapa? Saya rasa karena selama di bawah Gumilar, hidup mereka sejahtera. Dan mereka tahu bahwa mereka menjadi Dekan karena jasa Gumilar.
        Dekan FE tidak begitu.
        Gumilar bahkan mencapnya sebagai ‘pengkhianat’, karena merasa dulu Dekan FE dipilih olehnya.

        Kalau soal statement soal mogok, dalam pandangan saya, teknis saja.
        Tidak ada yang substansial dengan itu.
        Terimakasih buat komentarnya…

      • Alfan Says:

        Saya perjelas komentar saya sebelumnya ,

        Untuk BEM 2011, ketua BEM FE dan Fasilkom BUKAN berlatar belakang dari kalangan tarbiyah.

        Untuk tahun ini 2012, Ketua BEM FE dan Fasilkom berhasil direbut oleh kalangan Tabiyah.

        Tahun 2012 ini tarbiyah hampir mendekati strike menang di semua lini berbagai fakultas dan tingkat universitas.

        Diluar tendensi keberpihakan.

        Saya rasa pengungkapan fakta semacam ini perlu dilakukan. Sudah saatnya apa yang salah tidak dikatakan sebagai sesuatu yang “amniyah”.

    • mahasiswaAA Says:

      wah iya dong, BEM FE kan objektif. Yang salah ya katakan SALAH. yang benar ya katakan BENAR. salut buat FE.

  5. CucuPertama Says:

    mngkin isu ini mulai padam akibat suasana prpolitikan kampus pula yg mulai meregenerasi (masa pemira)

    slama sy ikut d bem slh stu fakultas slain tiga fakultas yg disbutkan di atas, saat itu sy mmang mrasa dmotor, trasa bnyk kpentingan d sana, dan bnyk prspektif yg brbeda2 antara aktor2 yg trlibat d dlm ny (dosen, guru bsar, mahasiswa)

    sy pikir mngkin ada benerny ktika ada insur agama yg ada dlm isu save ui yg kmudian dikatakan brkembang mnjadi gie (gumilar is enough) sbab d dlm bem itu sndiri kaderny sudah bnyk dan untuk pmira pun mgang suara yg cukup pnting (liat hsl pmira kmrn, mwa um yg trpilih dsb)

    d

  6. sholikhudin17M Says:

    Salam…
    Saya rasa pelabelan gerakan “tarbiyah” ini perlu pengkajian mendalam, jangan sampai gerakan mahasiswa yang notabene beasaskan Islam digeneralisir dengan gerakan “tarbiyah”.

    menurut pengamatan saya, yang masih sebagai mahasiswa di Universitas terkemuka di Jatim, ternyata tak jauh beda kondisi UI dengan Universitas saya, gerakan yang bapak sebut gerakan “tarbiyah” ini memang sudah memasuki sistim di universitas2 besar, seperti yang bapak katakan”Kelompok-kelompok ini aktif merekrut jemaah sejak tahun pertama para mahasiswa baru masuk ke UI. Perekrutan biasanya berlangsung melalui sel-sel di pusat kegiatan keislaman, seperti musholla. Setiap sel yang terdiri dari sejumlah mahasiswa dipimpin mentor. Tentu saja yang dibina bukan cuma soal ibadah-ibadah ritual, melainkan juga keimanan, ketaqwaan dan komitmen ideologis mereka. Bahkan perjodohan pun berlangsung dalam komunitas-komunitas tersebut.”
    perlu digaris bawahi, siapa orang2 yang bermain dibalik gerakan ini, pastinya ini dinaungi Organisasi mahasiswa, dan tentunya Organisasi ini adalah Underbow nya salah satu Partai Politik dinegeri ini,
    kesimpulannya, jika Mereka berhasil dibungkam oleh pak gumilar, saya yakin ada Kompromi antara Bem Bem di UI dengan pihak Birokrasi UI, mungkin saja selama kepentingan Bem2 tersebut masih terfasilitasi mereka akan Diam,

    dan tentunya kondisi Bem disana, ya kondisinya sama dengan BEM2 yang dikuasai gerakan yang bapak namakan gerakan “tarbiyah” tersebut, diseluruh Universitas di Indonesia,
    terlepas dari itu penyikapan saya terhadap apa yang terjadi di UI, saya turut prihatin, dimana Universitas yang menyandang nama negeri ini, terjadi kebobrokan didalamnya, dan celakanya disana terdapat Kalangan Intelektual2 muda, dan parahnya para aktifis Bem2 itu becirikhas “tarbiyah”, Ayo mahasiswa yang masih punya Hati Nurani mana suaranya?mana yang katanya bahasa tanpa kebohongan?semoga kalian bangkit dari tidur kalian,…
    masih teringat ketika Pak rektor UI memberi gelar Honoris Causa pada raja arab, disisi lain TKW kita baru saja di Pancung disana, dan berapa ratus TKW kita yang menunggu pancung disana,
    terlepas dari semua itu UI mestinya sadar diri, mereka menamakan kampus mereka UNIVERSITAS INDONESIA, mestinya mereka menunjukkan kebesaran nama INDONESIA, jangan lukai hati negeri ini, rakyat kecil tak akan tau kondisimu saat ini yang sedang bobrok, bahkan mimpi jika bisa menyekolahkan anak mereka sampai di UI,
    Semoga cepat terbangun Wahai kaum muda Intelektual di Seberang sana……

    • adearmando Says:

      Bung Sholikhudn.
      Saya memang tak mau menggeneralisasi.
      Saya bahkan menganggap BEM-BEM Tarbiyah itu bisa saja baik.
      Buktinya ketika mereka menyusun BOPB, bagus kok.
      Tapi mereka naif dan sempit perspektif politiknya. Mereka dengan gampang dikadali, karena mudah sekali percaya pada teori-teori konspirasi yang disebarkan para petinggi UI yang berpura-pura Islam itu.
      Akibatnya, hasilnya memang memalukan.
      Saya minta maaf pada anda, pada rakyat Indonesia, karena kami sebagai dosen gagal menyebarkan nilai-nilai kebenaran pada mahasiswa kami.

      • ma knyus Says:

        tapi sejak jaman gerakan 98 emang bgitu sih…
        kami,
        yg mnya 2 kan?
        ups…..!!

      • extraordinary Says:

        Maaf pak, maksud baik penulis untuk memotivasi BEM agar “bersuara” rasanya tidak perlu disangkut pautkan dengan sering dimenangkannya BEM oleh tarbiyah atau apapun sebutannya.

        Berikan kami (mahasiswa) fakta, diskusi intensif, motivasi positif,,
        bukan kumpulan subjektivitas dan penarikan kesimpulan yang (disadari atau tidak) menimbulkan citra negatif pada tarbiyah maupun BEM yang bapak sendiri bilang orang2nya baik… 🙂 terimakasih

      • sholikhudin17s Says:

        Iya Pak Armando,teruslah berjuang Pak,atas nama Independensi mahasiswa,demi kemajuan Indonesia,
        saya juga punya dosen yang seperti bapak, dan sering diskusi tentang kebangsaan dan kemasyarakatan,
        tapi sayang tidak sedetail seperti tulisan bapak,
        jika bapak berkenan bisakah kita berdiskusi walaupun hanya online,

      • sholikhudin17s Says:

        Lihatlah Pak,mereka dengan bangganya menyebutkan almamater mereka “kami” yang meyatukan katanya,hems sebegitu dominasikah mereka di UI, sampai pak armando turun seperti ini,
        saya MAHASISWA ITS tak akan diam dengan pergerakan kalian,
        saya pastikan saya tau siapa yang bertindak dibalik BEM UI dan kroni2nya,,,Diatas langit,masih ada langit lagi, jangan sombong kalian.
        trimakasih

    • azkiya2008 Says:

      jelas sekali bahwa anda anti dengan gerakan “tarbiyah”. saingan, mungkin?

  7. mahasiswaUI Says:

    Bagus tulisannya Pak, sebagai salah satu mahasiswa UI saya juga merasa prihatin begitu tahu bahwa Rektor UI melakukan korupsi. mungkin saya akan jujur bahwa saya termasuk yang apatis terhadap persoalan ini, banyak faktor mungkin pak yang menyebabkan teman-teman mahasiswa menjadi terkesan “adem ayem” terhadap isu ini,salah satunya mungkin biaya kuliah yang mahal, sebagai contoh teman saya berkata “Kuliah sekarang sudah mahal, yang penting lulus cepat dan tidak menjadi beban bagi orang tua” kalau sudah berkata begitu bagaimana lagi Pak. Mudah-mudahan Tuhan berbaik hati meniupkan suaraNya ke hati Pak Rektor agar dengan lapang mengakui bahwa DIA KORUPSI.

    • adearmando Says:

      Terharusaya baca ketulusan Anda.
      Saya sih termasuk yang skeptis dengan BEM-BEM itu.
      Tapi saya kan wajib mengingatkan kita semua bahwa semua wajib memperbaiki keadaan..
      Apalagi BEM yang memang diberi amanat.

      Saya turut mengaminkan doa Anda..
      Belajar yang baik ya. Dan jangan pernah lupaka rakyat…

  8. reno Says:

    Rasanya perlu juga kita mendapatkan gambaran sebenarnya berapa porsentase ketua BEM fakultas yang “dipegang” oleh anak2 tarbiyah sehingga mas ade bisa dengan begitu gamblang bahwa seakan2 mereka diam krn ada instruksi “struktur” tarbiyah..

    saya kok punya keyakinan ya klo mereka2 yang ada di BEM memiliki intelektualitas yang cukup, artinya ketika terjadi “konflik” seperti saat ini mungkin saja BEM mengambil sikap “wait & see” justru agar mereka tidak dijadikan alat oleh salah satu pihak untuk kepentingannya masing2.

    • CucuPertama Says:

      klo dbilang prsentase sih blm ada data pastiny, tapi dr pngamatan sy golongan tsb mmang org2 yg btkualitas, scr anggota mmang bnyk untuk mmgang suara onying sat pemira.

      scr kualitas, dpt dpastikan stiap fakultas mmpunyai kader tatbiyah yg kmudian disiapkan mmgang jabatan pnting d organisasi (ktua atau wakil ktua bem)

    • CucuPertama Says:

      oh ya slain itu ben bem saat itu sikapny sangat susah untuk sgera brtindak, mngapa? krn isu ini sngt brkrmbang cpat

    • adearmando Says:

      Reno, salah sekali kalau mahasiswa bersikap ‘wait and see’… Kata ‘wait’ itu berarti pasif.. Jangan tunggu disuapi orang dong. Cari sendiri datanya. Data tersedia berlimpah kok.

      • reno Says:

        mas ade, jgnlah terlalu berprasangka dengan BEM..bisa jadi mereka aktif mengumpulkan data2 termasuk history ‘pertikaian” yang terjadi saat ini sehingga mereka mengambil sikap seperti saat ini…

        jangan lupa sepanjang sejarah pergerakan mahasiswa dari masa ke masa..mahasiswa selalu menjadi alat bagi banyak kepentingan..karena mahasiswa muda..bersemangat..bergairah..dan emosional..

        memiliki sikap bukan berarti harus memihak salah satu pihak..

  9. bendahara2 Says:

    Gara2 biaya kuliah yang mahal, mahasiswa jadi harus lolos BOPBnya, karena BOPB sangat ketat, harus melakukan manipulasi sana-sini..

    • CucuPertama Says:

      sudah, sstem yg scr filosofi bagus ini sgt parah dlm implementasiny, ibarat ktupat mhsiswa ui tuh yg kaya bgt sdikit yg miskin bgt juga apalagi…. yg brada d tngah2 inilah yg bnyk dibilang miskin bukan kaya bukan

      bopb saya tdak turun padahal.katany brkeadilan, blm lagi sstem transfaransi yg g jlas, sosialisasi yg tak kalah g jlas shingga srolah olah ui itu mahal bg siswa2 sma, padahal bopb bsa ditekan hingga angka 100 ribu

  10. ibnumarogi Says:

    Yang pertama terjadi karena memang di kalangan pimpinan BEM sudah tidak laku pandangan bahwa sebagai warga UI mereka seharusnya menempatkan kepentingan public di atas segalanya.

    Sebagai salah satu mahasiswa di UI, sepertinya saya mengakui kebenaran kutipan di atas. Kepentingan publik sudah jauh dari fokus BEM yang sekarang. Dan memang, BEM sudah bermakna “eksklusif” dui kalangan anggotanya.

    -RIP rasa kritis mahasiswa-

    • CucuPertama Says:

      maaf, klau mmang BEM seperti itu, sbagai mantan anggota BEM, saya pun merasa bersalah kurang membumikan isu ini ke masyarakat kampus

      BEM sndiri memilki dilema karena bagi saya musuh bersama mahasiswa sekarang menjadi bias, masing2 golongan punya kepentingan masing2, masing2 dept dlm BEM punya acara masing masing

      kebanyakan sih berpikir yang penting acara atau proker gw selese, skali lagi sbagai mantan anggota bem saya minta maaf

    • Alfan Says:

      Saya rasa bukan secara lembaga yang salah, namun secara oknum. Tak dapat dipungkiri memang golongan tertentu telah dapat menginfiltrasikan kader-kadernya kedalam posisi strategis lembaga kemahasiswaan.

  11. nakki Says:

    sebentar lagi saatnya pemilihan rektor baru bukan? jika sudah cukup menyakitkan seperti ini tidak perlu pilih rektor yang sama lagi, dan serahkan ia ke meja hijau. ui mmg harus dirombak, sama saja seperti pemerintahan kita ya.

  12. aconk x christie Says:

    lieurrrrr. kwokwowkokwo

  13. Fahmi Says:

    Saya rakyat jelata yang sedikit tahu pembicaraan-pembicaraan di Chief Executive Meeting (CEM, pertemuan para ketua BEM se-UI) dari teman saya yang orang BEM. Asal tahu saja, sikap yang dikemukakan Ketua BEM FK, FE, maupun Fasilkom sama dengan pembahasan di CEM. Problemnya, awalnya para Ketua BEM ini memang tidak mengagendakan agar sikap mereka dipublish ke publik secara reaktif pasca-pemberitaan dugaan bahwa Rektor korupsi. Namun ketiga ketua BEM tadi “tak diduga” mendapat panggung dan harus menyampaikan sikap mereka, yang sebenarnya juga sikap bersama para ketua BEM di CEM.

    Mengenai para ketua BEM yang mudah disetir. Hati-hati para pembaca sekalian, di sini kita tidak sekedar bicara yang benar melawan yang salah. Ini politik. Yang mencitrakan diri si Benar bisa saja punya agenda politik sendiri, lalu ingin mengendarai mahasiswa agar agenda politiknya tercapai. Lalu ketika sekarang para mahasiswa ini mengambil jarak dengan semua pihak -agar tak kembali ditumpangi seperti #saveUI 2011, yang mencitrakan diri si Benar ini merasa perlu memanaskan kembali jiwa-jiwa muda yang mudah membara agar kembali mendukung agenda-agenda mereka. Lihat saja, kata-kata seperti “tak peduli”, “pengecut”, atau “disetir” adalah beberapa kata yang paling ampuh memicu emosi anak muda.

    Mari kita lihat, bagaimana para Ketua BEM baru ini bereaksi?
    Yang pasti para pembaca sekalian, sekali lagi, tolong jangan lihat permasalahan #saveUI semata-mata pertarungan yang benar melawan yang salah. Ada banyak pihak dengan kepentingan masing-masing disana. Hati-hati, jangan pakai emosi. Apa yang terjadi sebenarnya tidak sesimpel apa yang Anda lihat.

    • adearmando Says:

      Fahmi.
      Anda boleh saja menuduh Save UI itu ditunggangi atau apapun.
      Itu tidak penting.
      Karena yang terpenting adalah ada penyalahgunaan kekuasaan, pemborosan, korupsi yang dilakukan rektor UI.
      Kalau para BEM di luar 3 BEM menganggap tuduhan itu salah, ya tunjukkanlah kesalahan data itu.
      Kalau ragu-ragu, cari tahu.
      Kalau punya bukti yang membantah tuduhan itu, ungkapkan.
      Tapi JANGANLAH DIAM SAJA.
      Kebungkaman itulah yang saya sebut tidak peduli, pengecut atau dikadali oleh pimpinan UI.

    • Hafizh Says:

      setuju sekali bung fahmi. secara pribadi saya setuju kalau di UI terdapat bnyak kebobrokan seperti yg dituliskan pak ade armando, namun soal sikap BEM-BEM yg disebutkan (mngkin) tidak benar. kita tdk bisa men-judge bgtu saja tnpa ada fakta yg real. dan setau saya saat ini BEM-BEM tersebut sedang fokus untuk proses rekrutmen untuk mngisi kepengurusan BEM-BEM itu, mungkin mereka ingin fokus dulu dgn satu perkerjaan agar tuntas.

      yang saya sesalkan knp pak ade mngkaitkan dgn kaum “tarbiyah”? ini buat saya prihatin, seorang pak ade -yg setau saya- seorang dosen menghembuskan isu ini, mnurut saya ini bisa saja mmbuat org2 diluar kaum yg disebutkan “tarbiyah” itu memiliki pndangan negatif dan bisa memicu perpecahan sndiri dikalangan mahasiswa. saya sndiri bercita-cita ingin menyatukan kembali mahasiswa UI yg -setau- saya terpecah krna isu golongan2 itu, agar kehidupan kampus ini harmonis. do’akan saja. sbgai catatan saya bukan dari golongan yg bapak sebut “tarbiyah” itu.

      do’a saya agar masalah ini cepat selesai sesuai fakta yang ada, tindak yg salah jika dia benar2 salah, jgn membawa golongan krna itu gak penting dan cuma jdi provokator saja.
      Salam.

      • mahasiswaAA Says:

        “kita tdk bisa men-judge bgtu saja tnpa ada fakta yg real. dan setau saya saat ini BEM-BEM tersebut sedang fokus untuk proses rekrutmen untuk mngisi kepengurusan BEM-BEM itu, mungkin mereka ingin fokus dulu dgn satu perkerjaan agar tuntas” kutipan dr comment bung Hafiz

        hemm apakah sdr hafiz tahu isu save ui sudah sejak kapan diperjuangkan? sudah lama kan yaa bahkan dari tahun lalu. dan apakah anda tahu jadwal proses recruitment BEM sejak kapan ? di awal tahun kan yaaa. dan mana yaa jadwal yang beririsan ga ada kan yaa. jadi ga ada alasan untuk bem2 diluar 3 bem yang aktif untuk silence, wait, and see sajaa.

        saya cukup objektif menyikapi tulisan pak ade ini, saya setuju dengan apa yang ditulis beliau sesuai dengan perspektif saya sebagai mahasiswa UI sendiri. nah okee sekarang kita ambil solusinya, jika kaum tarbiyah tidak ingin di judge seca sepihak seperti apa yang dituliskan pak ade, maka ayoo kepada temen2 kaum tarbiyah yang memegang posisi dan peran penting di bem2 fakultas menunjukkan action yang real terkait isu save UI. Ini bukan waktunya menganalisa lagi, menunggu dan tidak militan, mari kita bantu 3 BEM yang saat ini sedang berjuang secara keras.
        bukan maksud saya terlalu memuji pergerakan yang dilakukan oleh teman2 BEM FE FASILKOM dan FK, namun bagi saya apa yang telah mereka lakukan sangatlah luar biasa, dan terpenting saat ini ayooo kita semua secara bersama2 dengan mereka membantu save UI ini.

      • Hafizh Says:

        ya memang tahun lalu, tp BEM baru brubah kepengurusan. dan mngkin mereka sedng menyiapkan “sesuatu” krn sat ini pun baru msh ada bbrp yg sedang mlaksanakan muker.

  14. Mahasiswa Says:

    Menurut saya ini seperti yang sudah Bapak bilang di komentar: sikap dekan yang mempengaruhi pergerakan BEM fakultas ini. Terbukti, dekan yang mendukung adalah dekan Fasilkom, FE, dan FK. Karena itu BEM di fakultas tersebut bisa leluasa aktif di gerakan #saveUI. Karena itu, saya pribadi mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan tarbiyah dan lobi-lobi Gumilar terhadap tarbiyah.

  15. sayeda Says:

    wakakakak,,,,,Korupsi bukan hanya disebabkan oleh cacat mental pejabat, tapi oleh sistem kapitalisme yang memang mambawa cacat bawaan (Stiglith)

  16. anakrohis Says:

    Mari menjadi bagian dari solusi…
    Mari sama2 mengawal pemerintahan yang adil, bersih, dan amanah…

    Mari sama2 tingkatkan kompetensi, dilandasi imtak, agar bangsa jadi jauh lebih baik di masa depan

  17. fullbringmipa Says:

    seolah2 anda mangkambinghitamkan tarbiyah atas degradasi kepedulian yang menjangkit mahasiswa UI…..

    • CucuPertama Says:

      seolah olah anda blang mas ade ini ngomong jelek soal tarbiyah… bukanny dia ngomong yg baikny juga…. hany saja dpertanyakan sikapny

      kli soal kpedulian bagi saya, mhsiswa mngalami dilematis, bnykny tuntutan sprti ip/ipk, tugas kuliah, kerja, acara2 yg ia pgang mngkin bbrp hal yg akhirny mngurangi tingkat kpedulian walaupun msh ada

    • Alfan Says:

      Saya rasa yang disampaikan cukup berimbang dan tidak medeskreditkan tarbiyah. Afwan buat rekan-rekan tarbiyah yang kurang berkenan.

  18. ekstiga Says:

    Sebagian besar BEM di UI pada Mandul!

  19. Rachman Gifar Says:

    Terkait 3 penjelasan kebungkaman BEM, untuk poin Pertama, soal ketiadaan integritas dan komitmen pada kebenaran dan Kedua, pengecut. Saya sepakat 1758%!
    Yang Pak AdeArmando paparkan sudah sangat merefleksikan kondisi yang terjadi pada organisasi2 kemahasiswaan. Dan sebagai orang awam pun saya sudah bisa berhipotesis terkait 2 hal tersebut.

    Pada tahun 2009, saya cukup mengamati proses BOPB yang dilaksanakan di UI. Saya mendengar langsung dari beberapa Ketua BEM fakultas terkait matriks yang diubah pihak rektorat; adkesma yang tidak dilibatkan aktif (hanya sebagai admin utk input data); INTIMIDASI hingga ancaman drop out yang didapatkan oleh pihak adkesma hingga ketua2 BEM saat itu. Kesimpulan saya pada tahun 2009 lalu adalah,
    1. Rektor dan antek-nya adalah penipu (mungkin perlu saya ingatkan terkait pemaparan Muhammad Kholid IE FEUI 2006, dengan surat terbukanya. http://www.anakui.com/2010/05/29/surat-terbuka-untuk-rektor-ui-prof-gumilar-rusliwa-soemantri/ dan saya berani menjamin yang ditulis Kholid adalah fakta!)
    2. Mayoritas Ketua BEM fakultas saat itu minim integritas
    3. Mayoritas Ketua BEM fakultas saat itu berperlaku layaknya pengecut dan munafik (munafik karena saat pertemuan antar ketua lembaga bilangnya A, saat rapat besar di rektorat ngakunya B)

    Dan saya turut berduka jika ternyata hingga saat ini 2012, keadaan tidak berubah, dan tidak lebih baik.

    Tapi untuk poin ketiga, manipulasi agama, sejujurnya saya baru dengar, dan menarik melihat penejelasan/teori/hipotesis (atau mungkinmalah fakta) yang digambarkan oleh Pak AdeArmando mengenai keterkaitan-keterkaitan fakta yang ada sehubungan dengan tarbiyah dan Gumilar. Terlepas dari benar atau tidak nya poin ketiga, saya pribadi sungguh yakin teramat yakin bahwa poin pertama dan kedua adalah benar adanya.

    Hingga akhirnya, penjelasan saya terkait kondisi di tahun 2009 harusnya bermuara kepada pertanyaan :

    “kok Bapak berkumis itu masih menjabat??apakah mungkin menunggu Foke turun dulu??padahal sinetron Cintra Fitri saja sudah tamat…dan Nurin Halid sudah mundur!”

    Saya percaya bahwa UI adalah miniatur keadaan bangsa kita..
    Saat kondisi didalam UI tidak bisa memberikan optimisme, sungguh sulit untuk berharap banyak pada negara ini..

    Kasus di Indonesia ga pernah tuntas, Edi tansil, BLBI, Munir, HAM, Suharto, Century, Antasari Azhar, Anggodo, Rekening Gendut, Gayus, bos nya gayus, Wisma atlet, nazar, cek pelawat, mafia anggaran, gedung dpr, toilet, pewangi ruangan, kalender, korupsi korupla korupsol korupfa korupmi korupre korupdo…do re mi fa sol la si dooooo…

    Nah, mudah2an…publik UI (kita semua dan saya khususnya) bisa membuktikan bahwa mereka bukan penerus orang-orang kacrut yang ga bisa nanganin masalah2 yang ada..

    Forza Internazionale!!!!!

  20. frenky sasmito Suarto Says:

    Waw,,,,kaget saia,, tp saia ingin menyampaikan apa yg pak Prof.Yusril tulis di FBnya,berdasarkan pernyataan pak JK, pak JK menyebutkan bahwa pak Yusril ini orang yg berani dan berilmu….

    Kemudian pak Yusril memberikan pernyataan bahwa : Orang yg berilmu tanpa berani itu adalah akademisi saja,dikampus tempatnya,tp orang berani tanpa berilmu itulah preman,,kalau memang banyak dekan dan beberapa dosen tidak berani wajar saja pak,kan akademisi,kalau merujuk ke pernyataan Prof.Yusril,,heheehehehe 🙂 sukses terus untuk kita semua,Allah maha pemberi petunjuk…

  21. anakUIygdistarbucksperpusUI Says:

    pekik UI aja dah !! kemana perginya buku, pesta dan cinta

  22. ilham fatkhulhimam Says:

    waduh.. mipa dibawa2 nih.. saya mahasiswa mipa pak. tp saya melihat dikampus saya seperti sengaja diam pak. saya pun agak bingung mipa mau bersikap apa setelah ditinggal faldo.

  23. cyb3rmoslem Says:

    Satu pertanyaan…

    Sudahkah Kita Tarbiyah???

  24. Askar Juara (@AskarJuara) Says:

    tulisan anda bagus, sayang sekali ada salah satu yang perlu garis bawahi. klub berkuda UI sama sekali tidak terikat dengan bapak Gumilar. saya sendiri sebagai salah satu dari pengurus klub berkuda ingin mengklarifikasi hal tersebut. kami berdiri sendiri, mandiri, tanpa ada bantuan bapak Gumilar. saat ini pun untuk pembuatan stable dan pengadaan kudanya, kami mencari dana sendiri. untuk itu perlu diklarifikasi hal tersebut. terima kasih.

  25. mahasiswauijuga Says:

    jujur sempat mendengar isu tarbiyah ini jauh sebelum mahasiswa. memang terasa sekali pada saat pemilihan ketua bem bagaimana orang-orang yang aktif dalam organisasi islam mensosialisasikan calon bem yang mereka usung. tapi untuk keterkaitan pemilihan calon ketua bem yang diusung kelompok tarbiyah secara struktural ini, tentu bapak harus bisa memberikan buktinya. juga para ketua bem tersebut harus berani mengklarifikasi hal ini.

    terlepas dari hal tarbiyah, saya sendiri selama berkuliah di ui merasakan sendiri, banyak tipe mahasiswa di ui ini pak. ada yang memang fokus untuk belajar karena ingin cepat lulus, ada yang sibuk mncari uang tambahan,ada juga mahasiswa yang borjuis, pun yang aktif di organisasi belum tentu ikut memikirkan hal-hal seperti ini kadang hanya fokus pada program kerja organisasi mereka. tapi yang memang terasa sekali adalah kurangnya kesadaran mereka untuk menjadi kritis pada birokrasi dan perlunya tranparansi, akibatnya mereka yang awalnya ikut gerakan save ui, tapi karena disambut dengan tugas yang banyak dan/atau perwira atau program kerja organisasi masing-masing, atau pemikiran mereka bias hanya karena mendengar “pencerdasan” dari dosen yang secara halus disisipi saat perkuliahan. mereka lantas melupakan atau terkesan tak acuh pada masalah yang ada. sehingga cukup dirasakan tanpa adanya kesadaran yang tinggi dari diri sendiri gerakan mahasiswa tidak akan fokus. memang banyak juga mahasiswa yang fokus pada masalah ini, sehingga tidak peduli dengan gerakan ketua bem mereka yang terkesan adem ayem, mereka tetap berjuang untuk masalah ini.

    mahasiswa memang banyak yang terlena akibat pembangunan ui dan fasilitas yang bisa dibilang membanggakan. terlebih menurut pengakuan seorang dosen pembangunan fasilitas mahasiswa dahulunya tidak merata. hanya berpusat pada beberapa fakultas saja. mungkin ini yang juga ikut melenakan beberapa golongan civitas ui. tapi menurut saya tidak peduli sekarang pembangunan menjadi merata atau tidak. kita harus tetap memperjuangkan kebenaran.

  26. Radar Says:

    Saya kebetulan sbg ortu dua orang mahasiswa UI yang kebetulan fakultasnya dua2 nya disebut bem nya kritis ( FE n FASILKOM).Rasanya bangga ke 2 nya bisa sekolah disana menginggat kami dari keluarga biasa(menengah bawah, cenderung kebawah). Diterima dari jalur PPKB n undangan. Alkamdulillah ke 2 nya memdapat keringanan biaya program BOP Berkeadilan, seandainya tidak mustahil anak2 bisa sekolah di UI.

    Kami tinggal di daerah 20 jam perjalanan darat ( ka n bus) dari depok,dan memdapat berita heboh UI hanya dari koran n tv. Ketika minta komfirmasi ke anak2 mengenai hal itu seolah2 mereka tidak tahu. Mungkinkah mereka hanya menjaga perasaan ortu agar tidak kawatir atau merasa itu hanya urusan para elit UI aja ( pak Armando n Efendi Gozali dkk vs rektorat), entahlah.

    Sbg ortu mahasiswa kami ikut prihatin dengan adanya berita2 yang tidak baik terjadi di kampus UI dan selalu bertanya2 dalam hati apa yang sebenarnya terjadi di kampus ini. Tidak bisakah para cerdik cendekia, para gurubesar2, para guru calon pemimpim bangsa ini duduk semeja menyelesaikan masalah yang absurb itu. Alangkah naifnya kalau orang2 sekaliber itu berembuk n menyelesaikan masalah bersama.

    Semoga cepat selesai. Wassallam.

    • Hamdani Says:

      Bapak Radar: “Alhamdulilah Pak, UI memang Kampus Pro Rakyat. Sehingga, masyarakat yang kemampuan finansialnya menegah ke bawah pun tetap dapat menyekolahkan putra=putrinya di UI apabila lulus tes masuk UI.

  27. Radar Says:

    Koreksi kalimat terakhir.
    Alangkah naifnya kalau orang2 sekaliber itu tidak bisa berembuk n menyelesaikan masalah bersama.

  28. anonymus Says:

    BEM UI 2012, “tarbiyah”.
    Perwakilan mahasiswa untuk tim transisi, “tarbiyah”, dipilih oleh FORMA yang ketuanya? “tarbiyah”.
    MWA UI unsur mahasiswa? “tarbiyah”. Dipilih melalui fit and proper test yang oleh DPM yang ternyata “tarbiyah”.

    • Alfan Says:

      Semua lini pemimpin mahasiswa di kampus hampir tak lepas dari Tarbiyah.

    • azkiya2008 Says:

      nah, kalo gitu mana yang non-“tarbiyah”? berani maju tidak? lebih berkualitas tidak? yang di sini jangan cuma berkoar-koar. kalau memang bertekad merubah, ya majulah!

      • Hafizh Says:

        yap betul,,jgn cuma berkomentar krn komentar itu mudah kok. saya sndiri bukan dri golongan “tarbiyah” tp saya tdk berkomentar yg hnya bsa menuding, krn saya sndri blm berkontribusi apa2(read:sadar diri)

  29. Hendrawan's Online Courses Says:

    wah..wah… semua BEM UI perlu baca ni, guys… kirim tulisan ini ke http://www.studentmagz.com aja, biar yang baca tambah rame…

  30. Aa Hidayat Says:

    Sebagai institusi edukasi terkemuka di Indonesia, seharusnya bergam persoalan di UI bisa diselesaikan secara “cantik”.

    Kunjungi :

    http://www.pantonanews.com/beranda

  31. pembelajarsejati Says:

    sepertinya anda salah persepsi bung… 🙂 semoga ada yang lebih punya kapasitas untuk meluruskan opini anda agar jangan terjadi kesalapahaman dalam menilai sesuatu…

  32. Rizky Syaiful Says:

    Saya kebetulan pernah melihat pak Ade Armando menyempatkan shalat Ashar di stasiun Sudirman. Saat itu beliau sedang sendirian di perjalanan.

    Sedikit pengakuan kecil, terserah diintrepetasikan apa.

  33. shuyuie Says:

    Setelah membaca tulisan ini, saya berasa ada di zaman Gie hidup.

  34. 281 Says:

    Menarik, seolah olah saya bisa melihat akan seperti apa Negeri ini berberapa tahun ke depan. Universitas merupakan lahan bagi intelektual muda mengasah kemampuan dan pengalaman untuk mengarungi kehidupan yang akan datang, apalagi UI yang notabene-nya merupakan Universitas kebanggaan Indonesia.

    Menurut saya, mendingan kumpulin orang yang paham dengan politik kotor di UI, cari data dan fakta, agar bisa membuka mata para petinggi BEM. Walaupun ada kemungkinan diperlukan backup yang cukup kuat dan bersih untuk melawan ‘intimidasi’ dari rezim gumilar karena resiko selalu ada dalam setiap langkah dan tak ada salahnya mengambil resiko jika untuk kebenaran, toh akan ada balasannya walaupun tidak langsung.

    Diperlukan kehati-hatian ekstra dan kemampuan analisis yang memumpini agar tidak ditunggangi oleh pihak lain yang mungkin bisa jadi lebih buruk nantinya..

    sekian dari saya orang awam dan bukan mahasiswa UI tapi saya prihatin dan berusaha peduli, semoga cepat teratasi

  35. Adhe Nuansa Wibisono Says:

    “Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih”. Jika benar sikap aktivis BEM UI demikian, maka ini adalah sinyal awal matinya daya kritik mahasiswa dibawah kendali kepentingan elit. ironis.

  36. Dwiki Drajat Gumilar Says:

    Saya sedikit banyak merasa apa yang Mas Ade tuangkan dalam tulisan ini menggambarkan keadaan lembaga kemahasiswaan di UI sekarang-sekarang ini. Tarbiyah sekarang memang salah satu kekuatan politik paling dominan di UI selain HMI, PMII, GMNI dan lain lain. Maka tidak heran jika BEM nya Melempem,Tarbiyah kena sorotan. Semoga ini bisa jadi masukan buat temen-temen Tarbiyah.

    Terkait isu #saveUI saya memandang memang banyak pihak yang menunggangi. Dan banyak mahasiswa yang peduli (yang mana ini sejumlah kecil dari mahasiswa UI) bertanya-tanya, jika memang ketidakberesan Pak Gumilar ini telah berjalan lama, lalu mengapa baru sekarang hal-hal itu diungkap ke publik? kemana semua suara-suara ini saat dulu di jaman Tiko-Nanda BEM UI sempat dibekukan gara-gara salah satu aktivisnya memampang keburukan tata kelola UI di depan stasiun UI? Dimana saat itu Pak Gumilar dengan lihai meredam isu. Apakah ada keterkaitan dengan pemilihan Rektor yang sebentar lagi akan terjadi di UI? Saya tidak tahu.

    Terkait dengan peranan mahasiswa saya sepakat dengan mas Ade memang BEM dari 3 fakultas tersebut yang kemarin aktif bersuara disaat yang lain diam. Dan saya mengapresiasi tindakan beberapa aktivis yang membawa permasalahan ini ke ranah hukum dengan pelaporan ke KPK dan lain lain.

    Harapan saya agar permasalahan #saveUI ini diselesaikan secara hukum dan menyeluruh. Apabila ada kesalahan dalam tata kelola UI, harap hal ini diproses secara hukum sampai ke akar-akarnya bukan hanya sebatas pada pucuk pimpinannya, sebab fakta bahwa kesalahan tata kelola ini bertahan selama bertahun tahun maka akan memunculkan kesan bahwa ini bukan kesalahan yang dilakukan seorang diri, melainkan ada kesan pembiaran di sini dan setahu saya membiarkan kejahatan atau kesalahan terjadi itu juga termasuk dalam perbuatan kejahatan maka telusuri sampai tuntas dan selesaikan dengan seadil-adilnya. Bukan selesai hanya pada pucuk pimpinan saja namun bisa membuahkan perbaikan total bagi tata kelola UI.

  37. arian Says:

    Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

    “Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para shahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).

    Singkatnya, kalau Rektor Gumilar bisa berlaku lebih halus dan santun dalam melancarkan agendanya, kenapa kita, yang katanya mengaku lebih benar, tidak bisa?

  38. iskandariyah Says:

    Aslm,, kalau yang ditulis ini benar,, its really quite something..

    tapi mau tanya, kan “Menurut sumber, kekuatan Tarbiyah UI paling kuat di Fakultas MIPA”

    SUmbernya itu siapa ya pak??

  39. Sulistiadi Dono Iskandar Says:

    Aslm,, kalau yang ditulis ini benar,, its really quite something..
    tapi mau tanya, kan “Menurut sumber, kekuatan Tarbiyah UI paling kuat di Fakultas MIPA”
    yg dimaksud “Sumber” itu siapa ya pak?? dan apa dia juga satu2nya sumber dalam berbagai pernyataan di tulisan ini??

  40. Syaiful Iman Says:

    pendapat teman saya begini bang ade, mhn tanggapan karena saya juga butuh pencerahan:
    ”bem melempem karena lagi masa transisi.. ini malah disangkut pautkan sama tarbiyah.. padahal aksi terbesar #GIE (Gumilar Is Enough) saat di Salemba itu yg bikin BEM UI, dan aksi tebar pin terbanyak #saveUI dipopulerkan oleh MWA UI.. dan mereka merupakan org2 tarbiyah.. jd naif sekali jika memandang hny fe, fasilkom,dan fk yg paling semangat hny karena (dulu) yg megang bembukan tarbiyah”

    • Luthfie Says:

      Nah, ini saya sepakat. Orang-orang pada mikir macem-macem, kalau saya sih ngeliat ya ini cuma karena lagi masa transisi. Semua BEM lagi keluarin energi besar untuk membangun BEMnya. Ga usah kait2kan sama Tarbiyah lah, karena dibalik keramaian #saveUI yang kemarin banyak orang Tarbiyah di dalamnya. Ga nyambung jreng!

  41. Rangga Says:

    Ah Bang Ade terlalu serius, bang 🙂

    Kalau tidak salah kan ketua-ketua BEM baru diganti, tentu butuh waktu untuk rekrutmen, persiapan raker, dan terutama persiapan platform gerakan. dsb. Kalau gerakan agak menurun di awal tahun itu masih terbilang normal sebenarnya, sepengalaman saya memang itu masa-masa sibuk untuk hal-hal yang tersebut di atas.

    Tapi untuk teman-teman ketua BEM, mungkin memang perlu dipercepat nih persiapannya. Harus dimanfaatkan momen-nya ketika dosen-dosen sangat gigih melawan rektor. Jarang-jarang dosen begitu gigihnya sampai tahap mengorganisasi diri dengan rapi. Dulu waktu 2008-2009 ramai kasus BOPB saja dosen nggak tertalu terdengar bersuara. Padahal kebijakan itu secara tidak langsung menaikkan BOPB hingga 5x lipat. Angka yang fantastis dan seharusnya menggugah para dosen saat itu. Kalau pakai istilah Bang Ade, entah saat itu tak peduli, pengecut, atau dikadali…

    • iskandar Says:

      Setuju bagaimana komentar bang ade nih ?????

      • adearmando Says:

        Iskandar .. Para dosen itu kombinasi dari orang-orang yang tidak peduli, pengecut dan dikadali.
        Setelah saya mengakui itu, apa pandangan Anda tentang bungkamnya BEM di delapan fakultas di luar FK, Fasilkom dan FE? SAMPAI SEKARANG!!!! PENGECUT KAH? TOLOL KAH? TIDAK PUNYA HATI KAH?
        Masih muda kok pengecut dan tidak punya hati!
        Apa gunanya rakyat mensubsidi para mahasiswa yang cuma memikirkan diri sendiri????
        Suruh mereka kembali menjadi pengurus Osis, atau mengurus pengajian….

  42. prasusetya Says:

    Guyon: Barangkali, Pak Ade, makanan mahasiswa jaman sekarang sudah beda dengan makanan zaman ‘pergerakan yg asli’ (although untraceable, mana sbnrnya zaman itu, pokoknya dulu lah). UI kan sekarang lebih hardly affordable ya pak.

  43. j.rustita Says:

    Setuju banget Bang Ade aas tulisannys , apa yang Bang Ade gbarkan betul banget mengenai konstelasi politik mahasiswa UI , karena itu sudah terjadi ketika saya masuk UI di tahun 1990.
    Sebagai Alumni UI (FHUI&FPsiUI) saya merasa sedih melihat konflik yang terjadi di UI, saya mendukung gerakan SAVE UI dan mengharap konflik di UI segera selesai dan pengelolaan UI yang koruptif segera berakhir, sebagai Alumni UI saya dukung gerakan Bang Ade untuk UI yang lebih baik.Wassalam
    J.Rustita
    twitter:@izzul2108
    fb:Julkifli Izzul Rustita

  44. zN Says:

    dosen dan guru besar teriak gerakan #save UI tapi kenapa gk teriak BOPB?

  45. nia Says:

    UI cermin keadaan bangsa Indonesia sekarang!!! koruptor dan manipulasi berkembang pesat dan anehnya dilindungi.

  46. Vivos D Ramadhan Says:

    isunya malah berbelok pada “salah tarbiyah yang menjadikan BEM mandul”
    mohon diperhatikan masalah utama dari yang anda angkat. dan trik jurnalistik yang anda gunakan..
    meskipun saya bukan mahasiswa UI.. saya cukup terganggu dengan bahasa-bahasa stigmatisasi yang anda gunakan.. tarbiyah itu puritan, tertutup dan ekslusif..
    sepengetahuan saya BEM hanya berfungsi sebagai wakil dari mahasiswa.. nah dari sana akar permasalahan muncul.. benarkah mahasiswa yang diwakili BEM sendiri mendesak dan mendorong BEM untuk selalu aktif menyelesaikan permasalahn.. jadi masalah belum tentu hanya berasal dari BEM namun juga bisa jadi tindakan mahasiswa yang apatis..
    Latar belakang pimpinan bem tidak banyak berperan dalan kekritisan institusi meskipun keputusan keputusan bem merupakan pemicu untuk langkah yang lebih besar..
    singkatnya BEM itu sedikit banyak mencerminkan tingkat kekritisan dari mahasiswanya.. dalam hal ini mahasiswa pada setiap lingkungan fakultasnya..

  47. mahasiswa universitas indonesia Says:

    anda dosen kan??????
    tulisan anda bagus.
    hidup dosen

  48. asep Says:

    mungkin. hal ini tidak hanya menyangkut benar dan salah. saat ini sudah masuk dalam ranah politik. ketika kebenaran yang kita sampaikan sedikit saja terdapat celah, maka semua kebenaran yang kita sampaikan itu dapat menjadi sebuah kata-kata belaka. terimakasih atas opininya. boleh saya minta sumber data dari opini yang bapak sampaikan?

  49. Endah Pramesti Siregar Says:

    hanya waktu yang bisa menjawab permasalahan ini

  50. restoeboemi Says:

    insight yang bagus dari Bang Ade..

    buat temen2 yang agak kebakaran jenggot, mohon dipahami esensi dari tulisan ini yaitu “katakan hal yang salah itu salah, TANPA harus menjadi tidak independen”.

    jadi janganlah organisasi2 intrauniversitas seperti BEM terlalu takut dianggap memihak golongan satu untuk menjatuhkan yang lain dengan segala teori konspirasi yang meliputinya.. toh kalian hanya memihak kepada kebenaran.. so, suarakanlah..

    gunakan media-media yang kalian punya untuk bersuara.. jangan gamang.. ingat, BEM itu adalah badan eksekutif, bukan kelompok studi atau kajian yang hanya melakukan pendekatan2 teoritis untuk melahirkan rekomendasi2.. kalian adalah pemimpin segala organisasi di kampus, yang berada di garis depan, bergerak!

  51. linadjawa Says:

    saya mahasiswa UNDIP dan saya sangat-sangat terkesan, sangaaaaaaaaaattt terkesan dengan penjabaran bapak, karena sejujurnya saya adalah salah satu ‘korban’ tarbiyah di UNDIP…
    Semua yg bapak jabarkan disini berkaitan dengan tarbiyah adalah benar,bukan hanya dari sudut pandang bapak saja, karena saya memegang bukti-buktinya.

  52. normanic Says:

    semangat buat saudara-saudara di UI sana,dosen yg kritis dan mahasiswa yg kritis…semoga anda bisa mewarnai permasalahan saveUI dari hati kebenaran. Untuk golongan yang merasa terpojokkan dengan diskusi di atas mohon dibuktikan kebenaran melalui implementasi yg nyata dalam memberi solusi. Hidup penuh kritik itu biasa.
    terima kasih

  53. Ali Label Says:

    Mendapat sebuah kesimpulan baru… Jika kaum tarbiyah (baca : para ahli agama dan ahli ibadah) terkena penyakit takut miskin… maka jangan heran jika banyak fenomena para koruptor yang rajin membangun dan sholat bahkan memberikan ceramah di mesjid-mesjid.

    xixixixi…

  54. isep Says:

    fokus ke permasalahan kawan..
    koripsi kampus ui..
    tong dikaitkeun sareng ‘tarbiyah’…

  55. cricketui Says:

    ada yang salah dengan CRICKET bung?

    • adearmando Says:

      Masak Crikcket salah? Yng salah itu Gumilar dan cecunguk2nya, dan mereka yang diam saja dengan kebusukan ini hanya karena dapat fasilitas macam-macam…

  56. CiCha Says:

    Assalamu’alaikum,

    Buat teman2 semua, tolong dicerna lagi, bang ade tidak menyudutkan atau menjelekkan Tarbiyah atau bahkan menuduh mereka sebagai satu-satunya penyebab melempemnya gerakan BEM terhadap isu pak gumilar ini. Bang Ade juga menunjukkan segi2 positif yang sudah dijalankan oleh tarbiyah, dan, dengan memaparkan bahwa cita-cita mendasar tarbiyah adalah sesuatu yang “mulia”, mewujudkan kehidupan kampus yang Islami, dsb..

    Bang Ade cuma ingin memaparkan kebisuan BEM yang mayoritas dipegang oleh tarbiyah ini sebenarnya adalah karena taktik dan muslihat gumilar sendiri. Artinya, mahasiswa yang duduk di BEM saat ini bisa dikatakan sebagai korban tipu daya itu! Mungkin mereka tidak sadar, karena dalam berpolitik yang ‘kafaah’ secara islami, tarbiyah memegang prinsip “satu komando, satu perjuangan” yang tidak lain mengikut pada prinsip agama; untuk mengikut pada arahan Imam/pemimpin. Jika karena prinsip itulah akhirnya para pejuang BEM ini terjegal kekritisannya, maka tulisan ini ingin mengingatkan kembali:

    “Bahwa Kalian adalah PEJUANG, dan pemimpin utama kalian juga manusia, yang tidak lah mungkin bersih dari kesalahan! Seperti kalian selalu menggaungkan pentingnya tidak TAQLID BUTA (mengikut saja tanpa bersikap kritis) dalam mempelajari Ilmu Agama dan menjalankan ibadah, maka terapkanlah prinsip tersebut dalam kehidupan politik kampus yang sedang kalian jalani! Mungkin benar, pemimpin/majlis syuro yang kalian hormati memiliki keunggulan ilmu (agama maupun umum) di atas kalian. Tapi, seperti juga kalian meminta Umat Muslim untuk tetap mencari kebenaran dan ilmu agama tidak dengan begitu saja taqlid (mengikut) kepada Ulama terkemuka (meski ulama tersebut sudah masyhur dan lama belajar ilmu agama), maka terapkanlah prinsip itu kepada pimpinan majlis syuro yang kalian hormati! Terlebih untuk kasus yang sifatnya terang benderang (buktinya) seperti ini. Jika menurut apa yang kalian pelajari ada yang salah, maka katakan bahwa itu salah. Jika kalian tidak yakin dengan apa yang terjadi, berikan pernyataan bahwa kalian sedang mempelajari apa yang sedang terjadi. Jangan Hanya DIAM”

    Semoga tulisan Bang Ade menjadi koreksi bagi kita semua untuk menjunjung kebenaran tanpa memberikan atribut atau embel-embel kepada siapa pun yang menyampaikannya.Seperti prinsip yang juga kita pegang “Dengarkan apa yang disampaikan, bukan semena-mena menutup telinga karena melihat siapa yang menyampaikan”

    Wassalamu’alaikum

    Mantan Anggota BEM UI dan Mantan Anggota Forum Studi Islam FISIP UI

  57. ersavita Says:

    SAYA CUKUP TERKESAN DENGAN TULISAN PAK ADE ARMANDO DAN RIUHNYA KOMENTAR DARI BERBAGAI GOLONGAN..

    SEMOGA ORANG2 YANG BERKOMENTAR DI SINI TAK HANYA SEKADAR BERKOMENTAR SAJA.. AYO BUKTIKAN KALIAN PEDULI DENGAN KONTRIBUSI NYATA.. JANGAN HANYA BERMAIN DENGAN RETORIKA..

    PAK ADE, SEMOGA ANDA JUGA BISA MENGAJAK TEMAN2 DOSEN ANDA JIKA ANDA MENILAI MASIH BANYAK DARI MEREKA YANG MELEMPEM UNTUK JUGA BERPARTISIPASI AKTIF.. ZAMAN SEKARANG, MAHASISWA ITU CUMA PEDULI SAMA APA KATA DOSEN.. KARENA NILAI ADALAH SEGALANYA. MUNGKIN DOSEN-DOSEN DI LUAR FAKULTAS YANG MEMANG BERSENTUHAN DENGAN POLITIK SEPERTI FISIP JARANG YANG MENEKANKAN KEPEDULIAN TERHADAP POLITIK KAMPUS KEPADA MAHASISWA..

    JUJUR, SANGAT BANYAK MAHASISWA YANG APATIS..
    MALAH SAYA SALUT DENGAN YANG BERGABUNG DENGAN KOMUNITAS-KOMUNITAS SEPERTI YANG ANDA SEBUTKAN. MEREKA BERSEDIA MELUANGKAN BANYAK WAKTU UNTUK TURUT MEMIKIRKAN UI.. SETIDAKNYA MEMIKIRKAN.. KETIMBANG TEMAN2 YANG APATIS..

    SAYA JUGA AGAK MENYAYANGKAN SIKAP MAHASISWA YANG HANYA “IKUT-IKUTAN” KOMENTAR DI TULISAN SEPERTI YANG ANDA BUAT INI, YANG MENURUT SAYA CUKUP MEMPROVOKASI..
    KEMANA MEREKA SELAMA INI, KENAPA HANYA BERKOMENTAR SAJA..

    INTINYA: AKSI NYATA, KRITIS BUKAN BERARTI REAKTIF. SEBAGAI SEORANG INTELEKTUAL, MEMANG HARUS BERSIKAP INTELEK.. TIDAK IKUT-IKUTAN, TIDAK PULA HANYA MEMBEO TANPA MENGETAHUI DAN MENCARI TAHU YANG SEBENARNYA.. TIDAK PULA SENTIMEN TERHADAP SALAH SATU KELOMPOK KARENA KEPENTINGAN PRIBADI YANG SUBJEKTIF..

    maju terus intelektual muda.. “talk less, do more”

    • sholikhudin17s Says:

      intelektual mana yang sampean sebutkan?
      intelektual dimana hanya mementingkan kepentingan golongan anda?
      saya rasa yang membuat apatis seperti yang anda tuliskan adlah karena golongan kalian sendiri,trimakasih

  58. oen Says:

    tulisan yang menarik walaupun saya bukan dari kampus UI tapi saya bisa sedikit merasakan apa yang mendasari Pak Ade menulis kekritisannya ini. Dan saya terkesan bahwa apa yang Pak Ade tuliskan mendapat banyak tanggapan, entah itu yang pro maupun yang kontra. Saya pikir itu hal yang biasa, seperti kehidupan juga pasti banyak yang pro dan kontra.

    Semua punya sikap dan semua pasti punya kepentingan. Tidak ada orang yang tak punya kepentingan. Orang yang mengaku tak punya kepentinganpun pasti dibaliknya dia juga punya kepentingan sendiri. *nah muter kan kata-katanya 🙂

    Versi orang per orang pasti berbeda dalam menanggapi sebuah masalah. Kampus memang miniatur sebuah negara. Klo kampusnya sepi dan tidak ada intrik di dalamnya mana mungkin itu terjadi. Karena sebagian besar orang besar dan pimpinan negara pasti punya background kampus. Dia dibesarkan di kampus. Dia belajar di kampus. Dia bermanuver di kampus. Dia belajar politik, ekonomi, sosial juga di kampus. Menapaki jenjang organisasi juga di kampus. Bisa jadi maju ke pimpinan negara juga atas dukungan masyarakat kampus.

    Saya tak menanggapi masalah korupsi rektor UI bapak Gumilar, kemudian tentang aktivis tarbiyah yang mendominasi di kampus UI dan memplemnya kawan2 BEM versi Pak ade. Karena saya merasa juga Pak Ade dan teman2 pasti butuh orang yang menyuarakan hal sama seperti yang diinginkan Pak Ade dkk, dan itu tak didapat banyak dari kawan2 BEM 🙂

    Yang jelas tulisan Pak Ade ini sebagai media pembelajaran bagi kita semua. Entah yang pro maupun yang kontra itu terserah masing-masing pribadi. Bagi yang kontra silahkan di counter juga dengan bahasanya. Blog memang digunakan untuk menyuarakan aspirasi kita khan, so tak ada yang salah dengan tulisannya Pak Ade Armando ini.

    Thanx Pak Ade
    SaJeTe

  59. sholikhudin17s Says:

    maju terus Pak ADE,mahasiswa seluruh Indonesia yang menginginkan perbaikan mendukung Pak Ade, Liatlah Pak,kebanyakan mereka tidak mau di disalahka, Para Pendukung Bem UI dan kroni2nya, saya yakin mereka itu satu ideologi,dimana mereka hanya mementingkan kelompoknya sendiri,tanpa memperhatikan amanah mereka sebagai Eksekutif Mahasiswa Seluruh UI,
    Tenang Pak, saya dikampus saya juga berjuang melawan dominasi temen2 Tarbiyah,yang searah sesuai dengan bapak ceritakan,
    karena mahasiswa sudah dilibatkan dalam ranah politik praktis salah satu partai politik.
    Hidup Mahasiswa

  60. azkiya2008 Says:

    Reblogged this on Live In Peace and commented:
    analisa yang menarik, dengan bukti-bukti yang menguatkan.

  61. azkiya2008 Says:

    cuma mau koreksi satu hal.
    kenapa komen-komen malah jadi mengkambing hitamkan “tarbiyah”? kalau memang merasa tidak seharusnya mereka di sana, ya kalo waktunya mengajukan diri ya maju. buktikan bahwa kualitas anda lebih baik dibanding tarbiyah. orang yang akan menilai benar tidaknya.
    jangan rame di belakang seperti ini. sama pengecutnya.

  62. pandu Says:

    tulisannya bagus.tp cenderung akan disalahartikan oleh pembaca.sy pastikan simpulan akhir yg dpt diambil pembaca dr tulisan bapak bukanlah semangat untuk segera bertindak menindak pak gumelar tp beralih menjadi penyudutan tarbiyah.
    salah satu buktinya adalah saat ini tulisan bapak dijadikan senjata oleh tmn saya yg g suka tarbiyah untuk mendeskreditkan tarbiyah.
    y memang itulah konsekuensinya terjun k panggung politik
    teringat kata gie :politik itu kotor

    • Rizky Syaiful (Fasilkom 2008) Says:

      Setuju bagian konsekuensi menggelar panggung politik formal di kampus.

      Saya kira ini bukan masalah ‘tarbiyah’-nya, tapi ‘politik’-nya.

      Kalau yang ‘megang’ organisasi kampus adalah kelompok-di-bawah-partai lain (tau kan klo partai2 lain juga punya cabang di UI? Tidak terkenal aja), setimen publik umum juga akan cenderung antipati seperti ini.

      Kecuali partai tersebut memang dicintai seluruh rakyat Indonesia, tidak bisa diterima partai tersebut masuk kampus.

    • allam Says:

      saya setuju. Bang Ade, tulisan ini telah beralih fungsi menjadi tulisan yang memojokkan tarbiyah. Namun dari kuantitas yang ditulis Bang Ade, lebih dari 3/4 nya memang memojokkan tarbiyah sih. Bukannya tidak suka sih Pak, tapi apa boleh buat memang haha.

  63. tiger Says:

    singkat saja pak, apa yang bisa kami, mahasiswa baru 2011 lakukan, untuk memperbaiki masalah UI ini? 🙂
    menurut saya di forum ini terlalu banyak membicarakan akar permasalahan, dan akar terdalamnya tentu ada sangat banyak, mengingat akar utamanya berbeda2, dan masih bias di mana akar yang sesungguhnya berada..
    tapi, saya ingin tahu penyelesaian bagaimana yang dapat ditempuh sekarang juga?

    • adearmando Says:

      Saya rasa, para mahasiswa dari segala angkatan perlu menyuarakan secara terbuka apa yang dipandang sebagai mismanajemen dan korupsi UI. Bisa dengan menulis di blog, bikin diskusi, bikin milis, FB, twitter, atau nulis di media atau kalau perlu unjuk rasa.
      Desak BEM untuk melakukan sesuatu.
      Desak para pimpinan UI untuk berbenah.
      Yang penting, jangan diam.

  64. Razi Says:

    Menurut saya artikel ini bukan terfokus terhadap sikap BEM tetapi artikel ini terfokus pada penyalahan gerakan tarbiyah terhadap keadaan sekarang.

    Saya memang kurang suka dengan gerakan tarbiyah sekarang yang telah dicampuri banyak kepentingan politik.

    Tapi apakah bapak termasuk golongan tarbiyah tersebut? Kalau iya berarti argumen dan pernyataan bapak tentang gerakan ini valid menurut saya. Kalau bapak bukan termasuk golongan tarbiyah ini berarti bapak sok tahu.
    Karena begitu saya baca artikel ini argumentasi bapak berdasarkan pemikiran yang kira-kira. Karena saya gak suka seseorang melakukan penyalahan tanpa alasan FAKTA yang kuat.

  65. andi Says:

    Sepakat politik itu kotor,…keintelektualitasan seseorang bisa dilihat dengan gaya bahasanya, apalagi pakar komunikasi…., ada yang salah dengan tarbiyah?…kok pak ade benci sekali dengan tarbiyah?…Kita ikut sistem sajalah mana yang akan benar akhirnya dan berikan waktu untuk tim transisi bekerja…

    http://wanita-wanita-muslimah.blogspot.com/2012/01/re-wanita-muslimah-diskusi-menarik_4159.html

    “////Saya dan Ade sudah kenal sejak mid-80’an sejak di FISIP UI, saya yuniornya. Saya tahu sejarah awal renggangnya Ade dg Gumilar (yg mungkin tak diketahui mahasiswa skrg spt Ari). Mereka dulu berdua rukun (saksinya Teguh Satyawan Usis, adik Arya Gunawan. Teguh-Ade-Gumilar pernah makan siang bareng di Balsem UI, 2001, casual style. Ketawa-ketiwi). Setahun kemudian, 2002, terjadi pemilihan Dekan FISIP. Gumilar jadi kandidat (dari 3 orang), Ade jadi campaign manager kandidat lain (Prof. Paulus Wirutomo, sosiolog senior Gumilar dan saya). Gumilar menang, Prof. Paulus bisa terima. Legowo. Ade tidak. Sejak itu hubungan keduanya spt langit-bumi.

    Ringkasnya, terlalu sederhana menyimpulkan saya pendukung Rektor, dan Ade, sebagai jubir Save UI, kritis pada rektor.////”

    Salam,

    Akmal Nasery Basral

    • adearmando Says:

      Andi, anda itu ngutip Akmal kan?

      Orang itu memang pelacur intelektual tulen.
      Dia ngarang tentang cerita mengapa saya marah pada Gumilar.
      Dia akan ngomong apapun tentang orang yang bayar dia dan dia dukung.

      Oh iya.
      Saya tidak pernah membeci tarbiyah.
      Tapi saya marah dengan kelompok rektor yang menipud an memanipulasi kelompok-kelompok Tarbiyah itu.
      Saya adalah orang yang turut pertama kali membidani lahirnya Forum Studi Islam di UI. Anda tahu FSI kan?
      Saksi hidupnya adalah Al Muzammil, tokoh PKS yang sekarang menjadi anggota DPR.
      Saya sengaja mengutip sejarah itu, untuk memperjelas posisi saya dalam konstalasi politik kampus.

      • Hafizh Says:

        heeem…anda dosen kan?

        untung saya bukan mahasiswa anda,,klo saya mahasiswa anda entah apa yg saya rasakan,bisa malu,kesel,atau apapun itu dengan komentar2 anda yg bbrpa bhsanya bukan bhsa yg santun.

  66. nieeee Says:

    KATAKAN BENAR JIKA ITU BENAR DAN KATAKAN SALAH JIKA ITU SALAH.

    wlpun sya bukan mhs UI tapi saya cukup tau n mengerti karna sya pernah menjadi anggota BEM Fakultas… menurut sya yg aktif bukan hanya BEM sja tapi semua mhs UI..bersama2 menegakkan kebenaran…. BEM a/ suatu wadah tempat menyalurkan dan memperjuangkan asprsi mahasiswa,, jd tanpa mhs, BEM pun tak bs berbuat apa2… sya hya menyarankan sebaiknya mahasiswa lebih peka n sensitif dengn isu2 seperti itu bukan hanya sekedar ckup tau sajah,, kalo memang benar terbukti bersalah,, HARUSnya yg merasa dirinya sebagai MAHASISWA jika masih punya hati nurani,, tunjukkan lah kalau memang anda pantas menyandang gelar MAHASISWA…

    dibutuhkan persatuan untuk menegakkan kebenaran n keadailan..
    jadi kta2 GOTONG ROYONG n pepatah “kita itu harus seprti SAPU LIDI,,baru bisa dipakai membersihkan lantai yg kotor dgn KUMPULAN lidi bukan satu batang lidi sajah”

    Hidup Mahasiswa!!!!!!!!!!

  67. Ramaon Says:

    Bung Ade Armando,
    Tulisan anda sangat menarik. Kenapa saya katakan menarik ? Di dalamnya anda mengkombinasikan semua unsur gaya bahasa.
    Di sisi lain, tulisan anda ini juga dapat dikatakan menggambarkan mayoritas kondisi kampus selain UI itu sendiri terutama PTN.
    Saya sendiri dulu aktif di Senat Mahasiswa dan UKM para era 95-98 di sebuah PTN Jawa dan sering melanglang buana ke hampir 30 Universitas di Negeri tercinta ini, sehingga dapat melihat gambaran umum kondisi gerakan kemahasiswaan terutama di internal (dulu SMF, SMU, BPM,HMJ, UKM) . Saya sendiri memiliki adik yang baru saja lulus dari UI namun yang bersangkutan memang tidak begitu tertarik dengan kegiatan organisasi dalam dan luar kampus.
    Ketika masalah ini mencuat di media, maka tidak sedikit orang yang membacanya dalam versi media. Baru saat ini saya bisa membaca secara lebih detail dalam versi anda.
    Pergeseran dominasi di organisasi kemahasiswaan seperti yang anda jabarkan rasanya berkembang pesat pasca reformasi tahun 98 an.
    Dan bla dan bla dan bla, akhirnya ide mendapatkan batas nya, kreatifitas mendapatkan pagarnya, dan mimpi mendapatkan paginya.
    Terima kasih atas tulisannya Bung Ade, setidak-tidaknya beberapa bait tulisan anda menggambarkan bahwa saya tidak sendirian dalam menyimpulkan “kondisi kekinian” gerakan mahasiswa internal kampus.
    Semoga tulisan anda bermanfaat untuk yang mampir.

    Non nobis solum nati sumus,

  68. jatikusuma Says:

    Fenomena kayak gini cuma ada di UI atau sudah mewabah ke universitas-universitas lain?

  69. priyo Says:

    indikasi ketiga mirip dengan yang terjadi di kampus saya dan secara nasional saya melihat ada indikasi yang sama, mirip, atau ekstrim.

    diantara ketiga alasan diatas buat saya paling meresahkan yang ketiga. meski saya bukan muslim, tetapi saya tetap tak setuju kalau agama dimanipulasi untuk berpolitik. well, it is just not fair. baik itu agama apapun.

  70. reretewe Says:

    terbukti kelompok2 yang berafiliasi dengan partai manapun pasti tujuan utamanya adalah Kekuasaan. Balutan yang manis berkedok kebangkitan islam ketika merekrut para pemuda yang masih mencari jatidiri di negeri yang mayoritas muslim ini tentu cara yang paling efektif dan itu terbukti. mungkin kurangnya informasi yang para pemuda inilah yang jadi kelemahan mereka, yaitu mengenai latar belakang gerakan tersebut, dari mana asalnya, riwayat dinegeri asalnya, tujuan sebenarnya apa yang selama ini mereka hanya dapatkan dari mentor2 mereka tanpa mengambil second opinion dari pihak lain. hal tersebut ditunjang dengan semangat para pemuda terutama yang tak terarah (akibat kurangnya informasi) ditambah dengan ilmu agama yang masih seadanya (seperti saya juga hehe) sehingga mereka dapat dengan mudah diarahkan (karena mereka yakin yang mereka bawa adalah kebenaran dalam beragama di dalam masyarakat) menjadikan fenomena kelompok tarbiyah ini menjamur dikalangan kampus dimanapun. Padahal pada intinya mereka diarahkan untuk kepentingan organisasi atau kelompok bukan untuk kepentingan agama dan keyakinan yang selama ini diajarkan dalam kelompok tersebut. Hal tersebut terbukti sperti pada kasus di UI ini, seperti yang disampaikan saudara adearmando jika benar mereka berdiri di atas kebenaran agama yang telah diajarkan tapi kenapa ketika dihadapkan dengan kepentingan kelompok mereka sepertinya malah “menghalalkan yang Haram”. terlihat sangat kontras disini, dan ini sangat disayangkan. Demi sebuah kepentingan kekuasaan para elit semangat dan kebenaran justru dijadikan alat. harapan negeri ini bisa lebih baik yang terletak pada pundak2 para pemuda yang semangat dan cerdas telah ternoda. namun tetap kita harus optimis negeri ini bisa jauh lebih baik nantinya. makna “jauh lebih baik” bukan ditujukan pada segelintir pemegang elit kekuasaan namun seluruh rakyat seluruh bangsa di negara ini bahkan sampai generasi yang akan datang. amin…

  71. Indra Says:

    penghinaan orang lain jauh lebih kecil dibandingkan kehinan kita ^^

  72. eicyy Says:

    Sy baru saja lulus dari fhui, btw salut utk pak ade dgn tulisannya yg sangat berkesan dan menyentil. Di fh sendiri kaum tarbiyah sangatlah minoritas, malah terkesan dikucilkan, difakultas kami mhsswa cenderung apatis, justru yg rajin bersuara ya golongan tarbiyah itu, tp sy juga heran kok tumben disaat konflik gumilar mereka malah melempem. Tp sy salut dgn kaum tarbiyah selalu berani tampil dalam setiap organisasi, jd yaa ga bisa disalahkan jg kalau mereka yg menang dan mendominasi krn kaum yg lain memang sangat apatis. Cm sangat disayngkan kalau dakwah harus dicampur dgn politik. (Pendapat dari golongan mhshsswa apatis fhui yg jg katanya dan memang faktanya fakultas paling apatis, hehe tp whateverlah yg penting happy). Maju terus perjuangannya jgn terganggu dgn mahasiswa seperti saya, krn pd dasarnya mhsswa seperti saya selalu mendukung kebenaran (‾⌣‾)♉

  73. eicyy Says:

    oiya just info kalau tdk salah ketua bem fh pun dari kalangan non muslim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: