Kacaunya Pengelolaan Uang di UI: Sekadar Tidak Cakap, Lamban atau Memang Korupsi?

6 Februari 2012

Apa ya kira-kira kata paling tepat untuk menggambarkan kepemimpinan UI saat ini?

Lamban, Tidak Pintar atau Korup?

Saya mau berbagi beberapa cerita.

Yang pertama saya peroleh dari media mahasiswa, Gerbatama, edisi Oktober 2011.

Di sana dilaporkan cerita tentang bagaimana beasiswa Bidik Missi Depdikbud tak dicairkan oleh pihak rektorat UI selama berbulan-bulan.

Beasiswa tentu saja dimaksudkan untuk membantu para mahasiswa berprestasi yang bermasalah secara ekonomi. Namun oleh pimpinan UI, uang itu ternyata diparkir selama berbulan-bulan sehingga para mahasiswa harus mencari uang untuk dapat membayar dulu biaya kuliahnya sebelum kemudian baru ditutupi oleh beasiswa tersebut.

Gerbatama mengabarkan bagaimana para mahasiswa angkatan 2010 pada bulan Oktober 2011 belum juga menerima beasiswa sebesar Rp 3,6 juta yang seharusnya sudah dikeluarkan pada Juni 2011.

Gerbatama juga berusaha mempelajari kenapa keterlambatan itu sampai terjadi. Untuk itu mereka mewawancarai Dikti. Ternyata menurut Kepala Seksi Pemberdayaan Kemahasiswaan Dirjen Dikti, uang bea siswa itu sudah dikirimkan dari Dikti ke UI ‘sejak lama’ (mungkin sekali sejak Juni). Nah!

Gerbatama kemudian mewawancarai narasumber UI. Ternyata jawaban yang diperoleh berbeda-beda. Narasumber pertama adalah Dr. Tafsir Nurchamid, Wakil Rektor Bidang SDM, Keuangan dan Administrasi Umum.

Tafsir member jawaban yang mencengangkan. Kata dia, berbeda dengan perguruan tinggi lain seperti IPB, UI tidak memiliki kewenangan mengeluarkan Surat Perintah Membayar (SPM) pada pemerintah. Menurut Tafsir ini mungkin terjadi karena UI itu dekat dengan pemerintah pusat dan masih berlokasi di daerah DKI tidak seperti IPB yang jauh dari Jakarta.

Masuk di akal? Saya rasa, tidak.

Wakil Kepala Seksi Subdit Kesejahteraan Mahasiswa UI memberikan jawaban lain pada Gerbatama. Menurutnya, birokrasi pencairan beasiswa di UI itu memang berbelit-belit karena beasiswa yang mengalir masuk UI jumlahnya banyak. Huh?

Data itu sekadar ilustrasi kecil. Gerbatama tidak mewawancari penerima bea siswa angkatan lain atau yang menerima beasiswa dari sumber lain. Tapi cerita semacam ini memang tidak asing di telinga mahasiswa UI. Salah seorang mahasiswa saya — penerima beasiswa — bercerita bahwa dibandingkan PTN-PTN lain, beasiswa dari Dikti yang diperoleh mahasiswa UI selalu terlambat beberapa bulan.

Apa penjelasannya?

Bisa jadi karena manajemen UI buruk, para stafnya pemalas, lamban atau … karena kelambanan ini membawa keuntungan.

Cerita semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Di era Ore Baru dulu, beasiswa memang lazim terlambat berbulan-bulan di kasir pemerintah. Sekarang, kasirnya berpindah. Pemerintahnya sudah tidak berani main-main. Jadi, mungkin sekali sekarang yang menggerogoti hak mahasiswa itu adalah kasir Universitas Indonesia.

Dan ini bukan angka recehan. Sebagai contoh ada 500 mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi dari angkatan 2010. Setiap mahasiswa berhak memperoleh beasiswa Rp. 3,6 juta. Jadi uang yang diperoleh UI adalah sekitar Rp. 3,6 juta X 500 = Rp. 1,8 miliar

Bila uang itu didepositokan dengan rate normal (sekitar 6%/tahun), maka akan ada bunga sebesar Rp. 9 juta per bulan di bank. Bila uang itu tertahan selama 4 bulan, akan ada uang mengalir Rp. 36 juta ke UI. Itu baru dari satu angkatan dan dari satu jenis beasiswa.

Padahal seperti dikatakan, jumlah beasiswa yang masuk UI sangat banyak. Data menunjukkan bahwa pemasukan beasiswa ke UI dari BUMN dan pemerintah mencapai Rp 21,3 miliar (2009) dan Rp 22,3 miliar (2010).

Bila uang beasiswa itu diparkir selama berbulan-bulan, ada ratusan juta rupiah mengalir ke kasir UI setiap bulan.

Sebagian orang mungkin akan menyatakan bahwa kalaupun itu mendekam di rekening UI, bukankah semua tercatat secara resmi. Dengan kata lain, uang itu akan mengalir ke UI, tapi tidak bisa digunakan untuk memperkaya diri.

Dalam hal ini, kita memang harus memahami bahwa korupsi berlangsung di negara ini bisa berlangsung dengan beragam cara.

Yang harus diperhatikan adalah berapa bunga bank yang disepakati. Angka 6% per tahun itu adalah angka normal. Bila Anda adalah nasabah kecil yang menyimpan uang Rp 100 juta di bank, ya depositonya setingkat itu. Tapi kalau Anda adalah nasabah kakap, dengan uang yang hendak disimpan mencapai miliaran rupiah, bank-bank akan berusaha mendekati Anda dengan berbagai tawaran menggiurkan. Salah satunya adalah menaikkan tingkat bunga deposito yang ditawarkan dari 6% per tahun menjadi 7-8%.

Hanya saja yang kerap tidak diketahui adalah apakah selisih tersebut dinyatakan secara resmi atau tidak. Artinya bisa saja, kesepakatan resminya tetap berbunyi bahwa bunga depositonya adalah 6% tapi sebenarnya yang diberikan bank lebih dari itu. Tentu saja selisihnya itu akan mengalir ke kantong-kantong tidak resmi. Semacam hadiah. Tapi itu memang tidak dinyatakan secara terbuka.

Yang jelas, kalau ada nasabah yang bersedia menyimpan uang puluhan miliar di sebuah bank dengan bunga deposito hanya 5-6%, kita perlu bercuriga bahwa ada sesuatu di belakang layar terjadi. Logikanya begini: kalau Anda bisa menemukan bank yang mau membayar bunga deposito sampai 7%, mengapa Anda memilih bank yang menawarkan bunga hanya 6%?

Laporan keuangan UI sendiri menunjukkan bhwa kita patut bercuriga. Pada laporan keuangan 2009, dilaporkan bahwa kisaran bunga deposito bagi uang UI yang disimpan di sekitar 14 bank adalah 5.75% – 6%. Pada 2010, memang dilaporkan bahwa kisaran bunga depositonya adalah 5,25% – 15%. Hanya saja mengingat jumlah pemasukan dari bunga deposito yang dilaporkan tak banyak berbeda antara 2009-2010 (bahkan pada 2010 jumlahnya menurun), bisa diduga bahwa kisaran tingkat bunga depositonya tak banyak berbeda.

Singkat kata, kelambanan pencairan dana tersebut sangat mungkin terjadi agar ada penumpukan uang dalam skala raksasa di bank yang, pada gilirannya, akan dimanfaatkan untuk memperkaya orang-orang di sekitar Gumilar. Jadi bukan karena lamban atau bodoh, tapi justru karena pintar – pintar memperkaya diri.

Bagi sebagian orang, ‘analisis’ semacam ini bisa saja dianggap didasarkan pada prasangka buruk.

Tapi, bagaimana mungkin kita tak berprasangka buruk bila soal pemarkiran dana ini berlangsung dalam skala besar dan berlangsung sudah bertahun-tahun?

Saya yakin ilustrasi-ilustrasi berikut juga sudah tidak aneh di mata mahasiswa UI.

Salah seorang panitia kegiatan kemahasiswaan di UI bercerita bahwa rektorat UI menahan sumbangan sebesar Rp 7 juta rupiah dari sebuah perusahaan untuk kegiatan tersebut. Uang itu sudah tertahan selama hampir satu tahun!
Kegiatan tersebut tahun lalu berlangsung dengan didanai sejumlah perusahaan. Tapi perusahaan-perusahaan lain memang mengirimkan langsung sumbangan mereka (puluhan juta rupiah) kepada panitia karena mendengar bahwa birokrasi keuangan UI tak bisa dipercaya.

Hanya saja ada satu perusahaan yang berkeras hanya bersedia membantu bila dananya disalurkan melalui pintu resmi UI. Permintaan itu disetujui. Uang itu sudah dikirim setahun yang lalu. Namun sampai saat ini, mahasiswa tetap tak bisa mencairkan uang tersebut karena pihak rekrorat UI mewajibkan mereka memenuhi berbagai persyaratan adminstratif yang mengada-ada.

Ini menggelikan mengingat pihak pemberi sumbangan sendiri tak mempersoalkan apa-apa. Bagi mereka, bantuan dana tersebut tentu adalah bagian dari kegiatan kehumasan mereka. Bagi mereka yang penting, nama perusahaan tercantum di acara. Celakanya, orang-orang Rektor dengan sengaja menghambat dana tersebut.Tanya, kenapa?

Para mahasiswa sendiri kini sudah merasa pasrah dan hendak mengikhlaskan saja uang itu untuk Rektor. Menurut mereka, cerita birokrasi UI semacam ini sudah terkenal di seluruh UI. “Bukan kami saja kok yang diperlakukan begini,” kata salah seorang dari mereka.

Seorang mahasiswa lain bercerita bahwa ketika beberapa waktu yang lalu dia mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan mahasiswa di luar negeri dia mengalami kesialan serupa. Pihak pengundang tidak menyediakan dana pesawat dan akomodasi,sehingga dia harus mencari dana itu sendiri. Dia beruntung memperoleh dana dari sebuah BUMN. Jumlahnya sekitar Rp 15 juta. Hanya saja dana itu baru dikirim ke UI menjelang dia berangkat. Karena sudah terdesak waktu akhirnya si mahasiswa ini membiayai perjalanan dan akomodasinya dengan meminjam uang ke banyak pihak.

Ketika dia kembali dia tentu saja ingin memperoleh dana yang sudah dikirim BUMN tersebut. Nyatanya yang dihadapinya adalah birokrasi UI yang terkesan dengan sengaja mempersulit. Sebagai contoh, dia harus bisa memberikan ke UI semua bukti pengeluarannya di negara tersebut dari soal tiket pesawat dan boarding pass sampai bukti pembayaran hotal, makan dan seterusnya. Untuk itu, ia harus mengumpulkan satu demi satu bukti pengeluarannya, termasuk menghubungi kembali hotel yang ia tempati. Akhirnya dia baru memperoleh haknya setelah proses yang memakan waktu sekitar 3 bulan! Itupun dengan potongan Rp 150 ribu.

Si mahasiswa ini juga dengan pasrah menyatakan, “Di UI itu biasa.”

Tapi bukan cuma mahasiswa saja yang dieksploitasi. Para peneliti dan dosen pun begitu. Ada banyak kasus di mana uang yang diberikan berbagai lembaga penyandang dana tidak mengalir ke peneliti.

Salah satu ilustrasinya adalah kasus dosen berinisial HD yang mendapatkan hibah dari International Organization of Migration (IOM) sebesar kurang lebih 300 juta rupiah yang langsung dikirim ke rekening UI. Dana itu mulai dikirim IOM pada awal 2010.

Pada periode pertama pencairan dana (April 2010), dana dapat dengan mudah dicairkan, yaitu sebesar empat puluh juta rupiah. Penelitian dimulai dengan menggunakan dana tersebut. Untuk memulai tahap dua, peneliti membuat laporan untuk IOM dan laporan tersebut diterima sehingga IOM mentransfer dana tahap dua ke rekening UI. Namun pada tahap ini, masalah mulai muncul. Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang diajukan peneliti berulangkali dikembalikan UI dengan berbagai koreksi. Akhirnya dana penelitian terpaksa dirogoh dari kocek peneliti sendiri.

Pada saat cerita ini disampaikan pada Oktober 2011, riset sudah sepenuhnya selesai, dan laporan untuk IOM juga sudah dibuat dan diterima. Namun, UI tidak kunjung mencairkan dana, sebesar kurang lebih 260 juta rupiah. Keadaan menajdi semakin buruk karena Universitas Padjajaran yang ikut berkolaborasi dalam riset juga ikut terkena akibatnya.
Tidak jelas apakah sekarang akhirnya UI sudah melunasi sisa uang penelitian Rp 260 juta itu. Namun, yang pasti, selama lebih dari satu tahun uang itu mendekam di kas UI. Tanya, kenapa?

Kasus-kasus di atas hanyalah contoh dari banyak kasus lainnya. Yang jelas langkah Gumilar untuk menetapkan kebijakan pemasukan satu pintu telah memakan banyak korban, baik di kalangan mahasiswa, dosen, serta peneliti. Uang masuk ke UI dan diparkir oleh orang-orang keuangan untuk waktu yang lama.

Sulit bagi saya untuk tidak bercuriga.

Sulit bagi saya untuk menyimpulkan, segala macam persoalan terhambatnya uang di UI ini diakibatkan karena orang-orang di sekitar Gumilar pemalas, tak mampu dan lamban.

Tapi pilihan berikutnya justru lebih buruk.

Kemungkinan terburuknya adalah puluhan miliar itu sengaja diparkir dengan bunga deposito rendah untuk satu tujuan busuk: memperkaya diri sendiri atau korupsi!

Mudah-mudahan dugaan saya salah.

Ditulis dalam UI. 8 Comments »

8 Tanggapan to “Kacaunya Pengelolaan Uang di UI: Sekadar Tidak Cakap, Lamban atau Memang Korupsi?”

  1. asalngomong Says:

    tulisan anda bagus, cuma endingnya masih ragu, harusnya cek and recek, apakah ini gejala kejiwaan akibat tambah usia, coba sekali kali periksa ke psikiatri, dan kalau anda Dosen berstatus pns masih layaklah dengan tulisan tulisan itu, Ada pp lho tentang disiplin pns

  2. iwan Says:

    hehe karyawannya pemalas, betul..betul, kantin prima selalu penuh sebelum jam 12, penuh dengan pegawai rektorat. Lamban, dll… itu sudah pasti, sayangnya kok jarang ada yang protes lewat media seperti ini. Takut kali ya…

    Ironisnya, disaat UI menghabiskan uang bermilyar2 untuk membangun gedung-gedung mewah, UI TIDAK PERNAH memberikan bantuan uang untuk renovasi tempat wudhu masjid yang dananya hanya puluhan juta. Proposal dananya selalu mental/ditolak. Akhirnya pengurus berinisiatif mencari dana sendiri lewat kotak amal masjid atau donatur.

    Selamat berjuang terus Pak Ade untuk UI yang lebih baik!

    • adearmando Says:

      Iwan, sialnya lagi ada bangunan-bangunan yang terbengkalai setengah jalan walau sudah menghabiskan milyaran rupiah karena perenanaan anggaran yang buruk. Contoh terbaiknya Art and Cultural Center… Soal tempat wudlu, ironis sekali ya?

  3. pegawaiuibiasa Says:

    Pak Ade, jangan hanya menulis berdasarkan dugaan, tetapi harus disertai fakta atau bukti. Karena sebagai dosen tentu anda tau bahwa sebuah tulisan yang baik harus disertai sumber referensi, bukan hanya katanya siapa, menurut siapa. Jangan sampai nantinya hanya menjadi sebuah fitnah belaka.

    • adearmando Says:

      Lho yang Anda ragukan data yang mana? Dalam tulisan ilmiah pun, ucapan orang bisa digunakan sebagai narasumber. Kalau saya tidak menulis nama-nama itu secara jelas karena saya kuatir mereka akan dizalimi Gumilar. Tapi kalau Rektor mau menjawab ini secara publik, saya akan minta mereka yang selama ini dirugikan untuk maju ke muka. Oh iya, saran saya Anda tanyalah juga kepada para mahasiswa di Suara Mahasiswa….

  4. wahyu cahyono Says:

    Menarik sekali, membaca dan membandingkan komentar antara orang yang (mungkin) menggunakan nama asli dan (jelas-jelas) memakai nama samaran. Ironis sekali melihat mereka yang memakai nama samaran untuk berkomentar. Komentar saya ttg mereka: mereka pemantau setia blog ini, kemungkinan kuat warga UI, dan setidaknya merasa nyaman dengan kondisi UI yang sekarang.

    Wah…sebagai orang yang masih di UI dan belum merasa nyaman dg UI skrng…kondisi yang ditulis bang Ade betul. Saya menyepakatinya!

    Terus suarakan dan teruskan fakta-fakta UI yang tidak semulus yang dicitrakan di luar.

    Salam,

    Wahyu

  5. kiki Says:

    saya mahasiswa ui juga dan saya berpikiran sama dengan anda soal pencairan dana yang diundur demi mencari keuntungan lewat bunga karena proses pencairan dana beasiswa yg saya terima selalu terlambat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: