Mahasiswa Pemohon Keringanan SPP di UI Harus Siap Dihina

Mahasiswa Pemohon Keringanan SPP di UI Harus Siap Dihina

Ade Armando (8 Feb 2012)

Di bawah ini adalah tulisan dari situs http://www.anakui.com tentang kebengisan para pengelola UI dalam menghadapi mahasiswa yang tidak mampu membayar SPP UI yang mahal.

Sekadar informasi BOPB adalah singkatan Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan. Rektor selama ini selalu menyatakan, UI akan menjamin hak orang miskin untuk kuliah di UI. Dia juga bilang, tak ada mahasiswa yang dikeluarkan UI karena kesulitan membayar kuliah.

Melalui BOPB, orang kaya akan bayar mahal, yang miskin bayar murah. Jadi standard SPP Rp 5 juta (ilmu social) dan Rp 7,5 juta (ilmu pasti alam) per semester itu hanya akan dikenakan pada orang kaya. Mereka yang tak mampu bisa meminta keringanan. Dalam skema BOPB, SPP terendah adalah Rp. 100.00 per semester.

Pimpinan UI menyatakan mereka akan menata pemasukan dari SPP ini sesuai dengan kebutuhan pendidikan di UI. Jadi, menurut pimpinan UI, mereka memiliki angka total kebutuhan biaya pendidikan mahasiswa di setiap fakultas dan angka SPP akan dihitung berdasarkan total biaya yang diperlukan itu. Namanya student unit cost.

Kembali ke BOPB, untuk meminta keringanan, mahasiswa harus memenuhi banyak syarat yang harus dilengkapi dalam 10 hari:

o Surat keterangan dari RT/RW diketahui oleh Lurah setempat mengenai gaji orangtua;
o fotocopi rekening listrik, telepon, PAM (pertanyaan kalau autodebet bagaimana)
o foto rumah
o kartu pembayaran SPP kelas 3 SMA

Ini semua harus dilengkapi dalam 10 hari, tak boleh lebih. Dan untuk mengetahui waktu dimulainya masa permohonan keringanan ini, mahasiswa harus mengupdate informasi secara online.

Keputusan pemberian keringanan berlngsung secara tidak transparan di fakultas. Berikut ini adalah cerita mahasiswa tentang apa yang terjadi dalam tahap wawancara pada mahasiswa pemohon keringanan. Yang diceritakan memang kasus FMIPA, namn dari apa yang saya dengar, praktek serupa juga berlangsung di banyak tempat, meski tidak sebengis di FMIPA ini.

Silakan baca dan bersedih:

BOPB: Waktu, Nurani dan Transparansi

http://www.anakui.com/2011/12/27/update-bopb-waktu-nurani-dan-transparansi/

27 December 2011 at 20:21

Waktu :

Jumat, 23 Desember 2011, adalah hari terakhir wawancara untuk update BOPB bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi khususnya untuk departemen Matematika, departemen Kimia dan departemen Farmasi (6 bulan lagi berubah menjadi Fakultas Farmasi).

Pemberitahuan cukup mendadak, entah pihak dekanat yang lambat, atau pihak mahasiswa yang kelupaan. Jam 10 pagi berkumpulah mahasiswa yang ingin update BOPB di depan ruang sidan B gd. Dekanat FMIPA. Cukup banyak, sekitar 20 orang. Setelah menunggu sekitar 35 menit, akhirnya 3 pewawancara datang dan memasuki ruangan, seperti biasa para birokrat memang sering telat.

Beberapa nama dipanggil dan ternyata menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk mewawancara 1 orang, sehingga akhirnya wawancara terpotong waktu istirahat. Jam setengah 2 wawancara dimulai kembali. Kali ini telat sekitar 10 menit, itupun baru 1 pewawancara, 2 lainnya telat sekitar 30 menit.

Dengan waktu wawancara yang cukup lama, wawancara diperkirakan akan berlanjut hingga sore hari, dan banyak mahasiswa yang telah mengorbankan waktu kuliahnya hanya untuk menunggu giliran wawancara yang tidak jelas dan kena imbas ketidaktepatan waktu pihak dekanat.
. . .
Nurani :

Hal terburuk yang mungkin terjadi dalam hidup manusia adalah hilangnya hati nurani. Pada dasarnya hati nurani dimiliki oleh semua orang, dan tidak dapat dipungkiri dalam setiap hal yang kita lakukan, hati nurani pasti mengambil andil. Sayangnya hal buruk ini terjadi di sebuah fakultas di Universitas Indonesia, dimana hati nurani dikekang oleh uang.

Tiga pewawancara, sebut saja Mr. ERA, Mr. Md, dan Mr. Sr, pasti punya hati nurani. Tapi beberapa mahasiswa keluar dari ruangan dengan air mata, kenapa? Berikut kutipan percakapan di dalam ruang sidang (berdasarkan pernyataan mahasiswa yang diwawancara)

Mahasiswi Y yang akan diwawancara masuk
Mr. ERA : Coba liat handphone kamu
Mahasiswi Y : Ini pak (sambil menyodorkan handphone)
Mr. ERA : Wah bagus kok, Blackberry, kamu kaya dong berarti
Mahasiswi Y : Bapak juga Blackberry
Mr. ERA : Lho, saya udah kerja 30 tahun, dan BB ini juga dikasih kok
Mahasiswi Y : Saya juga dikasih pak
Mr. ERA : Ooo gitu?

. . .
Mahasiswi F yang akan diwawancara masuk
Mr. ERA : Coba liat handphone kamu
Mahasiswi F : Ini pak (sambil menyodorkan handphone Nokia QWERTY)
Mr. ERA : Wah bagus kok, ini kayaknya nggak murah

Keuangan dinilai dari handphone, apakah valid? Tentu tidak, banyak mahasiswa rela menabung untuk membeli handphone yang cukup mahal karena menginginkan fitur yang lengkap yang memungkinkan kita terus update dan tidak ketinggalan informasi. Entah menabung dari hasil kerja sambilan, ngajar, atau mungkin uang bulanan dari orang tua. MENABUNG, bukan uang yang datang begitu saja dari orang tua.

Setelah handphone, ada percakapan yang lebih sadis lagi

Mahasiswi A yang menjelaskan alasan kenapa dia meminta BOP-nya turun

Mahasiswi A : Saya benar-benar tidak sanggup pak, rumah saya sekarang disita karena hutang, dan saya tidak akan mengajukan BOP kalau saya sanggup
Mr. ERA : Lho? Itu salah orang tua kamu dong, siapa suruh ngutang

Mahasiswi C yang menjelaskan alasan kenapa dia meminta BOP-nya turun
Mahasiswi C : Bapak saya di PHK pak, dan sekarang sakit, saya mohon pak, tolong saya
Mr. ERA : Ya udah, suruh aja bapak kamu kerja lagi
Mahasiswi C : Kalau kumat gimana pak? Bapak saya lagi sakit
Mr. ERA : Pokoknya kerja aja lagi

. . .
Mahasiswa D sedang diwawancara
Mahasiswa D : Pak, apa gunanya dong BOPB kalo uang yang kita bayar ditentukan oleh fakultas, bukan oleh kemampuan ekonomi kita sendiri?
Mr. ERA : Sekarang Fakultas lagi kekurangan uang, fasilitas sedang dibangun dan ternyata uang tidak mencukupi, lalu kamu masih mau meminta keringanan uang? Berarti uang kita makin berkurang dong..
Mahasiswa D : hanya terdiam

Seorang mahasiswi tidak terima dengan alasan tersebut dan mengeluarkan sebuah pernyataan
Mahasiswi E : Pak, saya bersedia bayar 5 juta asalkan fasilitas di departemen matematika diperbaiki
Mr. ERA : Lho, tidak bisa begitu, uangnya harus disalurkan ke dana praktikum dulu dong, kita mambutuhkan banyak dana untuk mendanai praktikum
Mahasiswi E : Lho? Matematika nggak butuh dana buat praktikum pak (di matematika praktikum hanya membutuhkan komputer dan tidak perlu biaya yang besar, semester lalu sekitar 50an komputer baru dipasang dan itupun sumbangan alumni, bukan dari fakultas)
Mr. ERA : Ya sudah kalo gitu, kalo kalian merasa mampu dan mau jalan sendiri, buka aja nanti fakultas baru, Fakultas Matematika, kayak Farmasi sekarang

Mr. Md, Mr.Sr juga sama keras dan sama kejamnya dalam mewawancara, seolah-olah mahasiswa harus tunduk pada kebijakan fakultas dan tidak bisa berbuat apa-apa meski sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Saya yakin Mr. ERA, Mr. Md dan Mr. Sr dilahirkan dengan nurani di hatinya, tapi kemana nurani tersebut? Semua mahasiswi yang diwawancarai Mr. ERA keluar dengan air mata, ada yang bilang Mr. ERA tidak punya perasaan, tidak peduli kondisi ekonomi orang lain, ada juga yang bilang mulutnya lincah berkelit. Apakah mungkin nuraninya dibeli oleh uang senilai 5 juta?

Banyak mahasiswa yang merasa diperlakukan tidak adil. Memang benar, mahasiswa yang telah mengajukan BOPB sebelumnya tidak diwawancara lagi, bahkan 6 mahasiswa Geografi yang mengajukan update BOPB langsung ditolak dengan alasan telah mengajukan BOPB sebelumnya.

Kesulitan ekonomi orang berbeda-beda, dan mahasiswa yang mengajukan update BOPB pastilah punya alasan yang kuat mengenai kondisi ekonominya, lalu kenapa pewawancara yang menentukan besaran yang harus dibayar? Ada mahasiswa yang benar-benar tidak sanggup membayar meski telah mendapat keringanan dari semester pertama ,namun haknya untuk update BOPB telah dihilangkan oleh pihak fakultas. Apakah itu etis? Tentu TIDAK.

Transparansi :

Alasan yang aneh : Fakultas kekurangan duit, memangnya alasan ini logis? Kenapa kekurangan dana fakultas harus ditanggung mahasiswa.
Mahasiswa yang mengajukan update BOPB telah menyertakan bukti bahwa mereka benar-benar tidak sanggup membayar dan butuh keringanan, lalu bagaimana dengan fakultas? Mana bukti kalau kalian kekurangan dana?

Selama ini banyak yang telah membayar full dan fasilitas tetap diam di tempat. Yang makin bagus tidak ada, yang makin jelek banyak. Memang ada pembaharuan, tapi yang baru hanya selasar gedung B dan selasar depan Aula BSM, apakah biaya pembuatannya mencapai puluhan juta? Rasanya tidak mungkin.

Krisis transparansi terjadi, begitu juga dengan krisis kepercayaan. Selama ini informasi yang diberikan tidak jelas kebenarannya, mahasiswa tidak percaya birokrat, birokrat tidak percaya mahasiswa, secara kultural itulah yang terjadi. Kenapa? Tidak ada transparansi!

Mahasiswa tidak dilibatkan dalam proses ini. Kedepannya renstra yang telah disusun kesma harus berjalan, bahwa mahasiswa akan (harus) dilibatkan dalam proses pengajuan BOPB dan update BOPB. Pengawalan harus benar dan tegas, namun sesuai fakta, transparansi dan dengan HATI NURANI.

Ditulis dalam UI. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: