Akmal Nasery Basral — Kisah Sedih Pembela Gumilar

12 Februari 2012

Salah satu hal yang menyebabkan seorang pemimpin buruk dan jahat seperti Rektor UI Prof. Dr. Gumilar Somantri bisa bertahan antara lain adalah karena adanya pembelaan bersemangat para pendukungnya.

Sedemikian bersemangatnya, mereka bahkan bersedia memfitnah atau memelintir fakta.

Salah satu contohnya adalah Akmal Nasery Basral.

Sebagian dari pembaca mungkin kenal nama Akmal.

Dia adalah seorang penulis yang melahirkan karya-karya yang menarik perhatian. Dia tahun lalu menulis buku tentang Sjafroedin Prawiranegara, yang mungkin sekali menjadikan tokoh politik itu akhirnya diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Dia pernah menulis novel adaptasi dari skenario film, ‘Naga Bonar Jadi 2’. Dia juga menulis buku berdasarkan skenario film, Sang Pencerah. Menurut Akmal, Hanung Bramantyo (sutradara Sang pencerah) sedemikian kagumnya pada buku Akmal, sampai-sampai berkomentar bahwa kalau dia boleh menggarap ulang filmnya, ia akan menggunakan buku Akmal sebagai rujukan.

Nama Akmal kembali mencuat setelah bukunya yang terbaru diluncurkan secara besar-besaran: Anak Sejuta Bintang. Buku ini ramai dibicarakan karena novel Akmal ini sebenarnya bercerita tentang kisah Abu Rizal Bakrie di masa kecil. Banyak orang melihat ini adalah buku pesanan dalam rangka menyongsong majunya Abu Rizal ke kursi kepresidenan pada Pemilu 2014.

Saya sendiri tidak terlalu mengenal Akmal. Saya tahu dia yunior saya ketika kuliah di FISIP. Dia di Sosiologi, saya di Komunikasi. Lantas setelah lulus dia sempat masuk majalah Tempo. Belakangan saya tahu dia banyak menulis buku. Saya tidak suka dengan tulisannya. Tapi ini cuma soal selera. Di sisi lain, saya menghargai dia sebagai penulis yang serius. Buku tentang Sjafroedin tentu penting.

Karena itu, saya tidak mengerti sekarang mengapa dia rajin sekali menjelek-jelekkan saya, bahkan sampai tahap memfitnah dan berbohong.

Ini terutama terjadi setelah saya dan sejumlah teman yang tergabung dalam gerakan Save UI menggugat Rektor UI Prof Dr. Gumilar Somantri karena mismanajemen dan korupsi yang ia lakukan di UI, sejak September 2011 lalu.

Akmal tiba-tiba saja muncul di salah satu milis para wartawan menyerang Save UI dan saya. Serangannya bukan saja serampangan, tapi juga bodoh dan mengandung banyak kebohongan. Pada dasarnya dia berusaha menunjukkan bahwa gugatan Save UI terhadap Gumilar sebenarnya dilatarbelakangi keinginan mengganti Gumilar dengan orang yang didukung Save UI. Akmal dengan bersemangat menuduh gugatan Save UI itu mengada-ada.

Dia misalnya dengan seenaknya bilang, berdasarkan nara sumbernya, bahwa tidak benar keputusan Gumilar membangun boulevard menjadikan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan di Depok tertunda sehingga negara harus membayar denda milyaran rupiah.

Dia bilang, tidak benar gara-gara pembangunan boulevard, Balai Sidang di Depok UI terpaksa harus dirobohkan. Yang benar, katanya, Balai Sidang hendak dirobohkan untuk diganti dengan museum.

Ada banyak hal lain yang ia bicarakan. Tapi dua hal di atas adalah contoh nyata betapa serampangannya Akmal. Soal ketololan Gumilar membangun boulevard yang tak jelas gunanya itu sebenarnya sulit dibantah. Data mengenai kewajiban negara membayar denda itu pun ada. Rencana perobohan Balai Sidang itu pun diketahui banyak orang dan tertunda semata-mata karena perobohan itu harus memperoleh izin dari Departemen Keuangan. Soal pembangunan museum adalah lelucon besar.

Akmal ketika itu dengan sangat bersemangat mati-matian membela Gumilar. Saya sendiri heran dari mana ia mendapakan data-data bohong itu. Saya sampai sempat bertanya, apakah dia memang dbayar Gumilar untuk melakukan pembelaan itu. Sekarang saya merasa bahwa pertanyaan itu wajar karena Akmal ternyata memang penulis yang bersedia menulis berdasarkan pesanan.

Sampai kemudian ia menyatakan dia tak ingin berdebat lagi. Ketika itu, saya menghargai permintaan Akmal. Lagipula, peserta milis pasti juga sudah semakin terganggu dengan perdebatan antara dua orang UI, walau kadang dengan banyak komentator pihak-pihak lain. Jadi, saya pikir cerita soal Akmal dan UI sudah berakhir.

Dugaan saya salah. Di blog saya, seorang komentator baru saja mengirimkan tulisan Akmal di milis wanita-muslimah, 7 januari 2012.
Akmal menulis begini:

“Saya dan Ade sudah kenal sejak mid-80’an sejak di FISIP UI, saya yuniornya. Saya tahu sejarah awal renggangnya Ade dg Gumilar (yg mungkin tak diketahui mahasiswa skrg spt Ari). Mereka dulu berdua rukun (saksinya Teguh Satyawan Usis, adik Arya Gunawan. Teguh-Ade-Gumilar pernah makan siang bareng di Balsem UI, 2001, casual style. Ketawa-ketiwi). Setahun kemudian, 2002, terjadi pemilihan Dekan FISIP. Gumilar jadi kandidat (dari 3 orang), Ade jadi campaign manager kandidat lain (Prof. Paulus Wirutomo, sosiolog senior Gumilar dan saya). Gumilar menang, Prof. Paulus bisa terima. Legowo. Ade tidak. Sejak itu hubungan keduanya spt langit-bumi. “

Untung komentator di blog saya mengirimkan tulisan ini. Kalau tidak, tentu saya tidak tahu betapa orang seperti Akmal menyebarkan fitnah soal saya di komunitas-komunitas lain.

Akmal menyatakan bahwa ia tahu sejarah awal renggangnya saya dengan Gumilar. Tapi setelah baca tulisan itu, saya tahu persis Akmal itu asal bicara atau mungkin sengaja berbohong

Akmal mula-mula menggambarkan bahwa sebelum pemilihan Dekan, saya dan Gumilar ‘rukun’. Setelah pemilihan Dekan yang dimenangkan Gumilar, saya memusuhi Gumilar karena tidak terima dengan kemenangannya karena saya adalah Campaign Manajer kandidat yang dikalahkan Gumilar.

Bagi saya, itu cerita dungu. Tapi saya rasa Akmal merasa perlu berargumen seperti itu dalam rangka membangun kesan bahwa serangan saya terhadap Gumilar terutama didasarkan kebencian saya secara personal karena dulu pernah berada di kubu yang kalah. Jadi, serangan saya tidak didasarkan pada fakta objektif.

Dalam bercerita itu, Akmal dengan sengaja menghilangkan sejumlah fakta penting.

Pertama, sejak sebelum pemilihan dekan saya tak pernah dekat dengan Gumilar. Saya mendengar cerita negative terlalu banyak mengenai Gumilar. Karena itu pula saya memilih mendukung Paulus Wirutomo. Betapa bodohnya Akmal menganggap bahwa saya an Gumilar rukun karena kami pernah makan siang bersama.

Kedua, Gumilar menang dalam pemilihan dekan dengan cara licik. Saat pemilihan, Ketua Panitia Pemilihan – yang adalah orang Gumilar — dengan sengaja membiarkan sejumlah orang yang seharusnya tak berhak memilih memasukkan suara ke kotak suara. Praktek itu baru dihentikan setelah kami dari kubu Paulus protes. Kesalahan kami adalah tidak meminta pemilihan diulang.

Ketiga, Gumilar menang dalam pemilihan Dekan dengan menghembuskan kebencian pada umat Kristen. Kubunya menyebarkan semangat ‘ancaman Kristen’ untuk menjatuhkan Paulus.

Setelah melakukan segala daya upaya itu, Gumilar menang dengan angka tipis. Paulus bilang, ya sudah dterima saja hasilnya. Sebagai Campaign Manager saya patuh. Jadi saya memang membenci Gumilar tapi bukan karena kalah, melainkan karena saya tahu persis betapa jahatnya dia.

Akmal juga melupakan bahwa setelah kekalahan Paulus, saya juga tak pernah bikin masalah dengan Gumilar. Hidup berjalan biasa-biasa saja. Hanya saja saya memang rajin mengeritik berbagai kebijakan Rektor yang saya anggap merugikan rakyat, dari soal ancaman pembekuan BEM, soal SPP, pembangunan perpustakaan yang mubazir sampai soal upah pekerja kebersihan yang cuma Rp 500 ribu per bulan.

Dengan kata lain, gugatan saya pada Gumilar tak pernah bersifat pribadi. Cara Akmal memelintir fakta itu jahat.

Saya sebenarnya prihatin dengan Akmal. Saya sampai sekarang tak tahu apa yang menjadi tujuan Akmal membela mati-matian Gumilar. Saya ingin percaya bahwa dia tulus. Tapi kalau dia tulus, kenapa harus berbohong, memfitnah, memelintir fakta?

Akmal adalah penulis baik. Pasti pintar. Tapi pintar tentu juga tak selalu berhubungan dengan integritas.

Ditulis dalam UI. 12 Comments »

12 Tanggapan to “Akmal Nasery Basral — Kisah Sedih Pembela Gumilar”

  1. Orang Pinggiran Says:

    Udah..udah,,, sekarang udah dikasih jabatan kan?? ( seharusnya malu mau menerima jabatan itu ) ketahuan banget bahwa anda cuma ingin jabatan,. Anda sebagai anggota SAU yang baru dilantik hari Senin…. Tunjukin kinerja secara nyata,. bukan cuma berkoar koar lagi,.. Orang UI ga bodoh ko, jadi tau mana orang baik dan mana orang buruk.. Kami tunggu Bang hasil kinerja anda 1 tahun ke depan seperti apa…

    • adearmando Says:

      Hahahahahaha…. eris_susan, Anda ini luar biasa tolol… Memang ada apa dengan jabatan di SAU? Harap diketahui, menjadi anggota SAU itu tidak dibayar ya!.. Tapi jelas, posisi itu akan saya gunakan untuk menjadi tempat pijakan mengeritik Rektor dari lebih dekat. Rektor kan anggota SAU juga….

  2. abu daffa Says:

    Saya heran bang, kenapa sich anda yang katanya ilmuwan terlalu banyak mengumbar kata2 TOLOL. Apakah begini caranya para intelektual di UI dalam berdiskusi???….Semakin banyak orang berkata2 maka tanpa disadarinya akan terlihat kebodohannya sendiri. Anda tidak suka diserang tapi tanpa disadari anda sendiri juga menyerang orang, anda tidak suka difitnah tapi anda juga seperti memfitnah orang, apakah ini yang dinamakan kecerdasan seorang intelektual?? tidak masuk akal…..capek deeech…..

    Berdiskusilah yang cerdas, berdebatlah yang cerdas tanpa meninggalkan ke-kritisan seorang intelektual, maaf bang ade, saya orang luar UI dan tinggal jauh dari Indonesia tercinta, tapi saya sedih sekali dengan hal ini. Walaupun terlihat samar2 tapi saya masih bisa melihat kenapa Indonesia jauh tertinggal, ternyata para intelektualnya kehilangan kecerdasannya dalam berdiskusi. Sayang…sayang sekali….

    • adearmando Says:

      Bung Abu Daffa.
      Kalau anda difitnah, apa yang harus Anda lakukan?
      Menyebut pemfitnah saya dengan sebutan ‘tolol’ adalah biasa-biasa saja.
      Al Quran sendiri lazim menggunakan kata-kata buruk untuk menggambarkan orang-orang yang buruk.
      Dalam masyarakat demokratis maju, lazim saja kita saling mengeritik orang dengan cara keras.
      Apalagi di lingkungan masyarakat akademis.
      Anda tinggal di mana ya?
      Indonesia justru terbelakang karena, antara lain, tidak terbiasa bicara terbuka dan jujur.
      Indonesia terbelakang karena pejabatnya korup. Bukan karena cara berkomunikasi.
      Yang saya lakukan adalah berusaha membongkar korupsi di kalangan petinggi UI.
      mereka yang membela korupsi petinggi UI dan memfitnah saya akan saya sebut dengan kata-kata kasar.

      • abu daffa Says:

        Bang Ade, kita harus berhati-hati terhadap perkataan yang buruk dan tidak baik terhadap orang lain, jangan sampai kita dicap sama buruknya dengan orang yang kita kata-katai. Karena bagaimanapun juga tidak sama antara kebaikan dengan kejahatan.

        Jika ada orang yang memfitnah kita maka balaslah dengan cara yang baik dan mulia, karena itu akan membuat kita menjadi lebih mulia dan terhormat. Bang Ade yang baik, Al Quran dalam surat Fushshilat ayat 34 mengingatkan kita untuk bertindak hati-hati sehingga kita menjadi orang yang terhormat lagi mulia. Apakah rasulullah mengajarkan kita untuk berkata-kata kasar?…saya kira tidak….

        Demokrasi, kerterbukaan dan kekritisan seseorang tidak serta merta menjadikan seseorang bebas dalam melakukan segala sesuatu tanpa kendali, keras tidak berarti kasar, tegas juga tidak berarti menyakitkan. Justru disitulah letaknya kecerdasan dalam berdebat dan berdiskusi, EQ lebih utama daripada IQ. Kecerdasan seorang ilmuwan dibentuk salah satunya dengan berdebat dan berdiskusi dalam forum apapun, cerdas dalam berkata-kata, cerdas dalam berargumentasi dan cerdas dalam membangun opini.

        Saya hidup di dalam lingkungan akademis seperti anda, di negara paling demokratis di kolong langit, “katanya”.??…:)…..kekritisan ilmuwan disini melibihi ilmuwan Indonesia, dalam berdiskusi mereka keras dan sangat vokal tapi tetap dengan kata-kata yang baik, walaupun kata-katanya bisa membuat muka orang berubah mirip udang rebus….

        Bang Ade, yang korupsi itu sekarang bukan lagi hanya pejabatnya saja, bahkan tukang parkir pun sudah korupsi, jadi ibaratnya, korupsi sudah ada dimana-mana, dari atas sampai bawah. So, kalo anda punya bukti yang kuat dan saya yakin anda punya itu, maka sampaikan saja itu semua ke KPK.

        Orang Indonesia adalah orang yang cerdas, santun dan ramah, maka saya bangga menjadi orang Indonesia. Dan masih banyak orang jujur di Indonesia. Amin.

      • adearmando Says:

        Bung Abu.
        Anda harus bedakan, apa topik yang sedang dibicarakan.
        saya juga sekolah di Amerika. Dan dalam diskusi-diskusi yang memperdebatkan beragam subjek, kesantunan harus tetap dijaga.
        Tapi kalau dalam soal korupsi, mengapa pula kita harus menggunakan bahasa santun.
        Apalagi dalam soal fitnah memfitnah.
        Di Indonesia ini, korupsi merajalela, karena kita terlalu santun menyikapinya.
        Dan korupsi tukang parkir tentu berbeda dengan korupsi rektor. Anda kok mensejajarkannya sih?

        Jadi kalau Anda memang mau menegakkan kebenaran, mendingan jangan dukung mereka yang terlibat dalam korupsi.
        Yang harus kita gugat adalah korupsi.
        Soal cara berkomunikasi memang kita bisa beda pendapat, mengingat bidang ilmu saya memang ilmu komunikasi.

      • abu daffa Says:

        Bang Ade, menurut saya, apapun topiknya, perdebatan tetap harus menggunakan kata-kata yang baik, tapi saya menyadari karakter manusia itu berbeda-beda.

        Mengenai korupsi, kalau kita bicara substansi maka korupsi ya tetap korupsi, tidak ada bedanya korupsi pejabat dengan korupsi tukang becak sekalipun, sama-sama korupsi, sama-sama merugikan. Malah kalau kita bisa lebih cerdas dan jeli dalam melihat, maka jika korupsi sudah menyentuh level terendah dari strata sosial masyarakat maka itu artinya korupsi itu sudah menjadi sebuah budaya di dalam masyarakat. Dan kalau itu benar-benar terjadi maka kita tinggal menunggu saja keruntuhan negara kita.

        Btw, terima kasih bang Ade atas kesediannya berbincang-bincang dengan saya, pendapat bang Ade saya kritisi justru karena saya tahu bahwa anda adalah ahli komunikasi seperti rekan anda bang Effendy Ghazali.

        Akhir kata, semoga anda sukses selalu.

  3. Riri Says:

    Iya, Ade ini mengkritik orang bukan main, kalau dikritik tidak terima. Kalau lagi dikritik, keluar tuh dalil Al-Qur’an yang cocok dengan posisinya saat dikritik. Tapi ketika disodorin konsep Al-Qur’an secara menyeluruh , eh…malah dicari-cari kelemahannya yang tidak sesuai dengan zaman kini (kata si Ade yang sok pintar ini lho…).

  4. Dede Arman Says:

    kisah sedih? di mana kisah sedihnya, de? kok gue kaga baca di tulisan elu? belajar lagi gih nulis plus cari judul yang tepat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: