Senat Akademik Universitas UI: Harapan dan kekecewaan

Ade Armando (27/02/2012)

Di Universitas Indonesia, niat baik saja memang jauh dari cukup.

Saya ingin berbagi pengalaman soal ini.

Awal Februari lalu saya terpilih sebagai wakil Senat Akademik Universitas dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Bila merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 152/2000 tentang Anggaran Rumah Tangga UI. SAU adalah ‘badan normatif tertinggi’ dalam bidang akademik di UI.

SAU memiliki banyak tugas penting, antara lain:
– Menyusun kebijakan akademik universitas
– Menyusun kebijakan pengembangan universitas
– Melaksanakan pengawasan mutu akademik dalam penyelenggaraan universitas
– Memberikan masukan, nasihat dan teguran kepada pimpinan universitas dalam pengelolaan universitas dalam bidang akademik
– Dsb.

Selain itu, SAU bertugas mengajukan nama calon rektor kepada Majelis Wali Amanat melalui proses pemilihan; serta juga
SAU juga mengusulkan nama-nama anggota Majelis Wali Amanat kepada Menteri.

Keseluruhan anggota SAU adalah 66 orang. Di dalamnya ada pimpinan Universitas, para Dekan setiap fakultas (12 fakultas) , Ketua Perpustakaan, serta 4 wakil fakultas dari setiap fakultas.

Amanat dari teman-teman di FISIP ini tentu harus saya jalankan sebaik-baiknya. Buat saya, pertanggungajawaban saya pertama-tama tentu adalah pada Allah. Saya percaya, siapapun yang dipercaya menempati posisi public, dia harus bertanggungjawab menjalan kewajiban sebaik-baiknya sesuai amanat yang diberikan.

Terkait dengan konflik dalam UI, saya merasa ini adalah sebuah posisi strategis untuk turut memperbaiki UI dari dalam. Selama ini, saya dan kawan-kawan Save UI bersuara dengan keras melalui ruang public, karena memang tak ada ruang komunikasi di dalam. Orang banyak mengeritik kami karena membawa ‘aib’ UI ke luar. Saya dan kawan-kawan menjawab, kami berbicara keluar karena Rektor sendiri dan orang-orangnya tak mau berdiskusi di dalam.

Karena itu, setelah saya terpilih menjadi anggota SAU, saya memilih untuk tidak lagi bicara soal kisruh UI melalui ruang public. Saya percaya bahwa melalui SAU, saya bisa bicara dengan kaum pendidik yang ada di berbagai fakultas untuk bersama-sama memperbaiki UI. Dengan optimistis saya mulai terlibat dalam SAU. Apalagi di awal masa kerja SAU, di milis beredar doa-doa dari para anggota SAU yang menunjukkan komitmen SAU untuk membangun UI yang lebih baik.

Sejumlah teman dengan sinis mentertawakan optimisme saya. Menurut mereka, ada sejumlah fakta yang membuat tak boleh ada orang yang optimistis dengan SAU:

Manurut mereka, Rektor dan kawan-kawan akan melakukan segala daya upaya untuk menjadikan SAU sebagai lembaga ‘pura-pura’ yang tak akan menyentuh persoalan-persoalan mendasar dalam mengatasi korupsi dan kehancuran manajemen UI saat ini. Dengan kata lain, SAU hanya akan menjadi kuda tunggangan Rektor untuk mencegah pembongkaran lebih jauh korupsi dan mismanejemen UI di bahwa Gumilar. Dan Gumilar akan dapat melakukannya dengan berbagai cara:

1. Gumilar dan tiga asistennya (WaRek) sendiri adalah bagian dari SAU.
2. Di dalam SAU sendiri ada banyak Dekan yang selama ini berutangbudi pada Gumilar. Banyak dari mereka yang percaya bahwa mereka menjadi Dekan sehingga mendapat gaji besar (Rp 25 juta/bulan, di luar plus plusnya) karena pilihan Gumilar. Banyak dari mereka yang juga sudah dilayani oleh kubu Gumilar, misalnya ikut dalam rombongan perjalanan ke luar negeri atau bahkan ikut rombongan umroh.
3. Terakhir, di SAU sendiri ada lebih dari 20 wakil fakultas yang semula bergabung dalam Senat Universitas (SU) dan sebagian sudah menjelma menjadi loyalis Gumilar. Sebagai catatan, SU adalah lembaga bentukan Gumilar pertengahan tahun lalu tatkala ia membubarkan Majelis Wali Amanat, SAU dan Dewan Guru Besar.
Sebenarnya mereka semula dipilih oleh fakultas masing-masing dan tak dengan sendirinya adalah pendukung Gumilar. Namun akibat konflik berkepanjangan tentang legalitas SU, nampaknya banyak dari mereka akhirnya mendukung Gumilar yang memang membangun kesan sebagai pihak yang dizalimi dan membela SU.

Terhadap kesinisan semacam itu, saya menjawab bahwa sebagai manusia beriman, tak layak kita berprasangka buruk. Saya sendiri sudah medengar ada banyak Dekan yang sebenarnya juga sudah tak tahan dengan kelakuan Gumilar-Tafsir-Donanta dkk. Mereka sendiri sudah muak dengan kebusukan yang ada. Saya juga tak percaya bahwa para dosen senior yang terpilih masuk SU (dan kemudian masuk SAU) tak memiliki mata, dan tak memiliki hati. Mereka pasti tahulah dengan korupsi, kekacauan menejemen serta eksploitasi yang terjadi. Mereka juga pasti malu dicatat sejarah sebagai bagian dari aliansi pendukung kezaliman, kebocoran dan kekorupan.

Semula saya berusaha optimistis.

Tapi kini, lebih dari dua pekan setelah saya menjadi anggota SAU, kepercayaan saya memudar.

Ada sejumlah kejadian yang membuat saya mungkin harus meninjau ulang kepercayaan tentang hai nurani para pendidik di UI.

Kejadian pertama adalah pemilihan Ketua SAU dan Sekretaris SAU, 3 hari setelah pengukuhan SAU. Ternyata mesin-mesin politik Rektor segera bekerja, Di kalangan anggota SAU yang berasal dari SU, pada malam sebelum pemilihan, beredar SMS dari kubu Rektor:

“Bapak/Ibu sekalian, mengingatkan jangan lupa besok Kamis pagi hadir rapat SAU diupayakan full team (bila berhalangan hadir sedapat mungkin mengirim surat kuasa). Untuk Ketua Senat: Prof. Sudijanto Kamso (FKM), bila gagal maka cadangannya Prof. Achir Yani (FIK). Untuk Sekretaris SAU: Prof. Yulianto (FT) bila gagal cadangannya: Dr. Yeni Rustina (FIK). Mohon info ini dishare ke anggota SAU sahabat di Fak masing2. Tks.”

Ternyata memang yang menang dalam pemilihan suara keesokan harinya adalah Prof. Kamso dan Prof. Yulianto!

Prof. Kamso saya kenal sebagai orang dekat Rektor. Beberapa bulan lalu, ketika Rektor diundang BPK untuk hadir dalam pertemuan dengan Save UI, Prof. Kamso hadir mendampingi Rektor.

Prof, Kamso menang dengan 38 lawan 27. Kalau dihitung-hitung, angka 38 itu memang jumlah para mantan anggota SU plus Dekan loyalis Gumilar plus para pimpinan Universitas.

Satu catatan lain, Prof. Kamso adalah seorang guru besar senior yang dalam dua bulan ke depan sudah memasuki masa pensiun. Fakta itu pun diangkat dalam proses pemilihan. Nyatanya, dia tetap dipilih, sehingga sangat mungkin di dua bulan mendatang akan ada pemilihan Ketua SAU baru.

Tapi sampai tahap itupun saya masih merasa perlu optimistis. Menurut saya, saat itu, Ketua dan Sekretaris dan para anggota SAU lainnya akan masih punya hati untuk memperbaiki UI. Misalnya saja saya rasa Prof. Kamso menjelang masa pensiunnya tentu ingin dikenang sebagai orang baik yang akan menyelamatkan UI. Sekretaris SAU, Prof. Yulianto juga saya harapkan adalah orang beriman yang akan menegakkan kebenaran karena dalam salah satu suratnya di milis, ia bercerita bahwa ia harus Sholat Subuh (atau Tahajjud).

Seorang anggota SAU lain (asal SU) menyampaikan doa di milis yang meminta Tuhan menunjukkan seluruh anggota SAU untuk bisa membedakan jalan yang benar dan jalan yang salah. Seorang anggota SAU (asal SU) yang lain mengingatkan bahwa semua anggota SAU harus bertanggungjawab pada Tuhan.

Tapi nyatanya, lagi-lagi saya harus kecewa.

Tak lama setelah SAU dilantik, beredar surat yang ditandatangani Ketua Harian SU, Rudolf Matindas. Surat itu menggugat keabsahan SAU. Matindas sendiri memang adalah orang SU yang tidak masuk ke SAU. Tapi yang penting, surat itu berisikan kesepakatan para anggota SU.

Pada saat itulah yang saya memperolah informasi bahwa SU itu belum bubar. SU masih melakukan pertemuan-pertemuan terutama untuk menyelamatkan Gumilar dan kawan-kawannya. Jadi sangat mungkin, di dalam SAU sendiri ada orang-orang yang sebenarnya tak percaya pada keabsahan SAU.

Saya mengangkat pertanyaan ini di milis. Nyatanya sampai hari ini tak satupun jawaban datang dari Ketua dan Sekretaris SAU serta para mantan anggota SU.

Di dalam SAU, saya juga berusaha mengajak para anggota SAU lain untuk bersama-sama membangun UI dengan cara memperbaiki berbagai kekacauan yang ada. Menurut saya, forum SAU adalah forum yang tepat karena dalam forum itu ada Gumilar dan para wakilnya. Di dalam SAU juga ada para Dekan. Jadi saya rasa, dalam forum-forum terbatas itu bisa dibicarakan berbagai hal, dari sentralisasi keuangan yang sudah menimbulkan banyak sekali masalah, proses penerimaan mahasiswa baru yang tidak transparan dan tidak akuntabel, penghambatan penciran dana beasiswa, pemarkiran dana penelitian, kekacauan dana projek kerjasama, berbagai pembangunan fisik yang boros dan tidak terencana, terbengkalainya perpustakaan, dan sebagainya..

Nyatanya, ajakan itu hanya disambut mereka yang selama ini memang sudah menggugat kepemimpinan UI. Para dekan dan para mantan anggota SU? Bungkam. Apalagi Gumilar dan kawan-kawan.

Jadi, mungkin saya harus akui bahwa mereka yang pesimistis itu benar.

Saya tak boleh terlalu percaya dengan niat baik.
Jadi saya terpaksa memutuskan untuk kembali membawa persoalan UI, termasuk soal SAU, ke ruang publik. Karena pada akhirnya kami bertanggungjawab pada masyarakat luas.

Bila proses memperbaiki dari dalam, bisa dijalankan, itu tentu pilihan terbaik. Tapi kalau tidak, saya harus realistis dan kembali ke jalan yang benar.

Ditulis dalam UI. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: