BEM-BEM di UI SEGERA BERTINDAK; REKTOR DAN PARA KACUNGNYA GAGAL!

Ade Armando (5 Maret 2012)

Rektor UI Prof. Dr. Gumilar Somantri dan para kacungnya harus panas dingin hari-hari ini.

Gumilar dan para kacung itu selama ini percaya bahwa mereka sudah berhasil mengendalikan para mahasiswa. Dengan menggunakan teknik-teknik manipulasi politik yang dijalankan Direktur Kemahasiswaannya, Kamaruddin, Rektor selama ini merasa yakin bahwa para mahasiswa sudah berhasil dijinakkan.

Mereka juga merasa sudah bisa sukses menggunakan para kacungnya yang berpura-pura menjadi bagian dari para serikat pekerja untuk mencuciotak para mahasiswa bahwa yang terjadi saat ini adalah sekadar konflik elit.

Namun pertemuan para mahasiswa yang diwakili mayoritas Badan Eksekutif Mahasiswa UI, 2 Maret kemarin membuktikan lain.

Hampir semua Ketua BEM, plus beberapa organisasi mahasiswa lain, hadir. Tak semua sempat bicara. Namun pesan mereka jelas: “Kami percaya rektor UI Korup!”.

Pertemuan itu sendiri merupakan ajang diskusi antar kelompok UI Bersih dan BEM-BEM UI guna menyamakan persepsi tentang Gumilar.

UI Bersih adalah sebuah koalisi baru yang merupakan gabungan antara gerakan-gerakan anti kroupsi seperti SAVE UI dan PELITA UI (Perempuan Lintas Fakultas UI) dan kelompok-kelompok lainnya, yang akan secara resmi dinyatakan pembentukannya pada 5 Maret 2012.

Pertemuan secara khusus diadakan untuk memahami cara pandang BEM-BEM UI tentang gerakan anti korupsi di UI. Ada kekuatiran bahwa BEM-BEM di UI sebenarnya tidak kompak dalam menghadapi kebusukan manajemen UI di bawah Gumilar. Masalahnya, selain 3 BEM dari 3 Fakultas (FE, FK dan Fasilkom), ada kesan bahwa BEM-BEM lain tidak mau terlibat dalam gerakan melawan korupsi di UI .

Sebagaimana termuat dalam tulisan saya di blog tentang “Bungkamnya BEM-BEM UI…”, saya curuga bahwa ada tiga alasan yang menyebabkan BEM-BEM ini berdiam diri: takut karena diancam oleh pimpinan universitas dan fakultas, tidak peduli, atau karena mereka telah dimanfaatkan secara licik oleh pimpinan UI yang mencitrakan bahwa serangan terhadap korupsi di UI adalah serangan terhadap Islam.

Dalam pertemuan 2 Maret ini, mereka membantah semua analisis itu.

Mereka menyatakan mereka percaya bahwa Rektor UI Korup.

Mereka menyatakan mereka membenci korupsi, dan karena itu mereka membenci korupsi yang dilakukan rektor.

Mereka menyatakan mereka percaya bahwa yang terjadi bukan hanya korupsi tapi juga mismanajemen serius dalam pengelolaan UI.

Mereka menyatakan bahwa kalau mereka selama ini tidak terdengar suaranya itu hanyalah karena terputusnya komunikasi antar mereka dengan kelompok-kelompok yang selama ini aktif melawan korupsi di UI, seperti Save UI dan Pelita UI.

Mereka meminta agar semua pihak mau memahami bahwa dalam beberapa bulan terakhir, mereka memang disibukkan dengan pergantian dan pemilihan kepengurusan BEM baru. Organisasi mereka baru terbentuk dan mereka baru saja selesai tahap konsolidasi.

Mereka menyatakan bahwa mereka akan mengawal pembersihan korupsi di UI

Mereka menyatakan bahwa mereka selama ini telah bergerak untuk melawan korupsi di UI; hanya saja mungkin gerakan itu tidak cukup diketahui publik.

Di sisi lain, mereka juga menegaskan bahwa mereka tidak ditunggangi oleh partai politik manapun. (Walau tidak secara tegas, tapi hampir pasti yang mereka sebut sebagai ‘partai politik’ itu adalah Partai Keadilan Sejahtera). Salah seorang Ketua BEM bilang: “Kalau ada partai politik yang akan mempengaruhi kami, kami tolak!”

Mereka juga menyatakan bahwa mereka tersinggung dengan tulisan saya yang menuduh mereka selama ini bungkam. Mereka menuntut saya untuk minta maaf.

Berkaitan dengan permintaan terakhir, saya tentu saja bersedia minta maaf kalau saya memang salah. Dalam tulisan ini, saya menyatakan MAAF SEBESAR-BESARNYA PADA BEM-BEM DI UI BILA TERNYATA SAYA SALAH MENGANGGAP BAHWA BEM-BEM DI UI TIDAK TERLIBAT AKTIF DALAM MEMERANGI KORUPSI DAN MISMANAJEMEN UI DI BAWAH REKTOR PROF. DR. GUMILAR SOMANTRI.

Bila pernyataan BEM-BEM dalam pertemuan itu bisa dijadikan pegangan, saya MINTA MAAF SEBESAR-BESARNYA.

Saya harus minta maaf, karena ternyata menurut BEM-BEM itu, mereka percaya bahwa GUMILAR MEMANG KORUP dan MEREKA SUDAH DAN AKAN TERUS MELAKUKAN LANGKAH-LANGKAH UNTUK MELAWAN KORUPSI DAN MISMANAJEMEN GUMILAR.

Saya harus percaya karena mereka dengan sengat jelas menyatakan: “Kami percaya bahwa Rektor korup!”

Seorang Ketua BEM menyatakan, “Saya benci Rektor!”

Karena itulah, menurut saya, yang sekarang harus panas dingin adalah Gumilar dan orang semacam Kamaruddin.

Gumilar dan para kacungnya selama ini secara busuk berusaha membangun kesan bahwa rezim mereka adalah rezim Islam yang pro pada kelompok-kelompok Islam. Mereka menyebarkan kebohongan bahwa mereka dizalimi karena mereka muslim. Tololnya ada banyak pihak yang percaya bahwa karena Gumilar dan kacungnya adalah para pembela Islam, mereka layak dibela.
\
Para kacungnya juga berusaha mempengaruhi para mahasiswa bahwa dengan tuduhan bahwa gerakan yang menggugat Gumilar adalah bagian dari kaum neo-lib yang berusaha melakukan komersialisasi kampus. Tololnya juga ada banyak pihak yang memakan mentah-mentah segenap penyesatan semacam ini.

Pertemuan dengan BEM pada 2 Maret ini menunjukkan bahwa segenap akrobat politik Gumilar tak mencapai sasaran.
Kalau pernyataan mereka di forum bisa dipercaya, BEM-BEM di UI ini tidaklah sedemikian tolol sehingga bisa diperalat Gumilar.

Tapi tentu saja segenap pernyataan itu perlu diikuti dengan tindakan nyata.

BEM-BEM itu sudah menyatakan sikap bahwa mereka akan memerangi korupsi di UI.

BEM-BEM itu sudah menyatakan bahwa Gumilar memang korup, dan mereka akan memerangi setiap pemimpin yang zalim..

Karena itu, masyarakat sedang menunggu apa yang mereka akan lakukan.

Bila BEM-BEM itu dengan sungguh-sungguh mewujudkan janjinya, mereka sesungguhnya adalah penyelamat UI dan penyelamat bangsa yang kepada mereka harus kita berikan ucapan terimakasih dan segenap doa terbaik yang bisa kita berikan.

Tapi bagaimana bila BEM-BEM itu hanya bicara manis untuk membangun citra positif tentang diri mereka?

Saya percaya bahwa mereka tulus. Tapi, kalau mereka bohong, tentu tak ada yang bisa dilakukan.

Mereka tentu tahu, bila mereka bohong, mereka layak disebut sebagai KAUM PENGECUT MUNAFIK YANG BUSUK dan layak disamakan dengan SAMPAH.

Jadi, kepada rekan-rekan BEM yang jujur: “Welcome to the Club!”

Dan buat Gumilar dan para kacungnya: ‘JUST GO TO HELL!!!!”.

Iklan
Ditulis dalam UI. 20 Comments »

20 Tanggapan to “BEM-BEM di UI SEGERA BERTINDAK; REKTOR DAN PARA KACUNGNYA GAGAL!”

  1. patria Says:

    Pak, kita sama-sama seorang dosen UI, tapi beda fakultas, menurut saya tulisan bapak diatas tidak mencerminkan seorang dosen, bukan masalah isinya saja tapi juga pilihan kata dan tata bahasa yang digunakan sangat jauh dari orang yang berpendidikan.

    • adearmando Says:

      Patria.
      Pertanyaan saya cuma satu: apa sikap Anda terhadap korupsi dan mismanajemen UI yang merugikan rakyat puluhan milyar rupiah?
      Kalau Anda diam saja, saya akan sebut Anda sebagai pengecut.
      kalau Anda bilang bahwa saya jauh dari orang yang berpendidikan, maka saya akan jawab: “Betapa busuknya orang berpendidikan seperti Anda yang diam ketika kezaliman terjadi di depan Anda.”

      • patria Says:

        Pak Ade,
        silakan bapak katakan saya pengecut, atau busuk, setiap orang mempunyai cara yang lebih elegan dan bermartabat dalam memperbaiki korupsi/kezaliman yg terjadi disekitarnya. Anda seorang ahli komunikasi tingkat nasional, mungkin cara ini …(menulis diblog dgn kata-kata kasar) menurut anda yg pakar itu paling tepat (mungkin perlu ada referensinya kali pak …)
        Bapak sekarang (katanya) anggota SAU, coba silakan bapak manfaatkan dengan benar posisi terhormat tersebut, kami tunggu kiprahnya….. apa bisa membersihkan korupsi di UI … jangan hanya tujuannya menumbangkan gumilar saja …terus menaikkan kelompok elit anda yang didukung oleh MWA (lama) dan tim transisinya…
        selamat bekerja pak ……

  2. Paguyuban Pekerja UI Says:

    Kutipan dari tulisan anda:

    ” para kacungnya (rektor) yang berpura-pura menjadi bagian dari para serikat pekerja untuk mencuciotak para mahasiswa bahwa yang terjadi saat ini adalah sekadar konflik elit.”

    Beranikah anda bertanggungjawab menyatakan dengan jelas siapa yang anda maksud dengan kutipan pernyataan anda di atas?

    Buktikan siapa dari serikat pekerja adalah kacung rektor? Kami ingatkan bahwa satu2nya serikat pekerja di UI adalah Paguyuban Pekerja UI, dan kami TIDAK PERNAH menjadi kacung rektor ataupun MWA ataupun elit2 lain di UI yg semuanya penuh omong kosong tapi minim keberpihakan pada rakyat yg lemah di kampus.
    Tunjukkan satu bukti, kami adalah kacung rektor. Bukti yg empirik bukan cuma fitnah!
    Buktikan juga bahwa kami mencuci otak mahasiswa, bukankah justru anda dan kawan2 yg rajin menemui pimpinan2 BEM?
    Bahkan hanya kami yang konsisten mengecam dan menyatakan sikap protes terhadap kebijakan2 rektor yg merugikan kepentingan pekerja dan publik untuk mendapatkan hak dalam pendidikan tinggi yang adil dan demokratis.

    Kalau tersinggung dengan pernyataan sikap kami bahwa konflik di UI adalah konflik elit, itu adalah bukti bahwa anda dan elit2 UI lainnya tidak bisa membantah bahwa yg asyik berkonflik memang cuma elit. Tunjukkan keterlibatan warga UI secara luas dalam konflik dan penyelesaiannya sejauh ini. Nihil, kecuali mobilisasi2 tanpa pernah jelas hasilnya. Periksa lah dengan ilmiah, apakah mahasiswa mengerti arah dan perkembangan konflik di UI. Lakukan lah jejak pendapat, kalau memang berani ilmiah. Kami punya hipotesa mayoritas warga UI gak paham dan gak merasa terlibat dengan konflik sekarang di UI.

    Kami yang justru mengusulkan musyawarah raya agar seluruh unsur warga UI terlibat dan mencari pemecahan bersama atas kesalahan2 yg sudah mengakar di UI hingga saat ini. Apakah itu dilakukan oleh elit2 UI termasuk rektor? Tidak! Lalu dimana bukti per-kacung-an kami?

    Lihat lah yang dilakukan unsur2 SAVEUI dalam penyelesaian konflik ini, justru membuat mekanisme elitis bernama tim transisi yg secara terbuka menolak melaksanakan PP 66/2010 sbg landasan hukum yg sah atas tata kelola UI. Itukah solusi tata kelola yang baik? Melecehkan hukum demi kepentingan elitis?
    Padahal jelas Transisi hanya bisa berarti dari PP 152 ke PP 66. Pernahkah warga UI secara luas ditanya pilihan sikapnya antara PP 152 dan PP 66? Yang kami dengar cuma ribut2 antar elit, tapi tak pernah melibatkan partisipasi demokratis kami. Semua hanya untuk berebut posisi dan jabatan saja. Termasuk anda yang sekarang punya posisi di SAU, lembaga yang bertujuan melaksanakan PP 152 agar UI tetap jadi lembaga privat dan tidak beralih kembali menjadi Perguruan Tinggi Publik.

    Bukan kah itu bukti bahwa elit berkepentingan hanya buat dirinya saja bukan untuk tata kelola yang benar2 demokratis? Wajar kalau anda dan para elit tersinggung, karena kalian kesal dengan kesadaran kritis kami sebagai publik yang memperjuangkan hak2 kami: sebagai pekerja, sebagai warga negara yg menolak pendidikan di-privatisasi. Privatisasi adalah ciri kebijakan Neolib, dan kalian memperjuangkan itu, jadi dimana fitnahnya?

    Kami selalu mendukung pembersihan atas korupsi di UI. Buat kami bahaya korupsi terbesar adalah korupsi atas hak2 pekerja dan hak2 publik untuk mendapatkan pendidikan murah, adil, dan demokratis. Karena arti fundamental dari korupsi adalah penyelewengan/penyalahgunaan kekuasaan atas kepentingan dan hak2 publik.
    Siapa pun yang memang terbukti korupsi harus dihukum tegas. Maka kini saatnya pembuktian dilakukan. Kami menunggu, bosan hanya menonton tuduhan2 tanpa penindakan hukum.
    Sebelum kemaluan semakin dipertontonkan dengan memalukan. Umumkan lah pada dunia tentang sejarah kalian para elit yg saling bercakar? Bukan kah dalam sejarahnya kalian lah para pendukung Gumilar? Bukan kah kalian yang dulu membantu Gumilar mencapai jabatan2nya hingga menjadi rektor. Umumkan dengan jujur kemesraan kalian dengan Gumilar dahulu. Bahkan kalian juga yg sepakat dengan fasilitasi Mendiknas untuk bersatu lagi dengan Gumilar dalam kemesraan tim transisi dan skema penyelesaian konflik di UI.

    Lalu apa bukti dan sejarah kami yang membuat kalian merasa pantas menuduh kami adalah Kacung rektor?
    Tapi kami paham kalian elit2 UI yg sibuk berkonflik memang tidak punya malu, yang kalian punya cuma nafsu berkuasa dan menjarah demi privatisasi UI.

    • adearmando Says:

      Memang jelas sekali yang saya maksud adalah Paguyuban Pekerja.
      Mungkin tidak semua anggota PP layak disebut kacung Gumilar, karena saya mengenal sejumlah karyawan UI yang benar2 sedang memperjuangkan nasib mereka melalui PP.
      Tapi para pimpinan PP, jelas-jelas (menurut saya) hanyalah kelompok yang mengukuhkan rezim korup Gumilar.
      Saya heran anda menyebut diri Anda Paguyuban pekerja, sementara nasib pekerja kebersihan yang hanya memperoleh upah Rp 500 ribu per bulan TIDAK SEKALIPUN ANDA SEBUT DALAM ‘PERJUANGAN’ ANDA.
      Kami mempersoalkan korupsi dan mismanajemen UI yang merugikan negara puluhan milyar rupiah, dan Anda menyebut gerakan kami sebagai ‘gerakan elit’.
      Bagi saya, kata-kata semacam itu keluar dari Anda karena Anda adalah kacung Gumilar.
      As simple as that!

      • Dika Says:

        Bapak Ade Armando, isu yang diperjuangkan biasanya selalu membumi, demi rakyat, demi publik, demi masyarakat, demi negara. Sudah sangat biasa, tidak aneh, bahkan oknum DPR yang juga sering dikecam bilangnya memperjuangkan itu semua. Hanya proses dan cara perjuangan isu itu yang bisa membuktikan perjuangan anda dan kawan2 adalah perjuangan elit atau bukan. Jika benar yang dikatakan paguyuban pekerja UI, bapak dkk tidak melibatkan seluruh unsur secara terbuka, yah berarti memang benar perjuangan bapak dkk hanya gerakan elit semata. as simple as that!

      • pradabasu Says:

        ngawur aja anda ini armandooo….ngomong pake fakta yg valid dong jangan pake dengkul…. lagi bangun opini ya…

  3. alumni UI Says:

    Terlepas dari issue korupsi rector yg harusnya kalau memang ada dugaan dapat diproses secara hukum, tulisan Bang Ade di atas sangat buruk. Sangat tidak ilmiah. Bahkan juga sangat tidak menarik jika ditujukan untuk provokasi. Sarat kedengkian dan haus kekuasaan. Membuat track record penulis sangat buruk jika kelak ia ingin mewujudkan cita2nya jadi pejabat. Hmmm ngga malu sama mahasiswa, Bang?

  4. hamdan Says:

    ade armando raja bacot!

  5. Paguyuban Pekerja UI Says:

    Tampaknya yang bisa anda ajukan pada kami cuma tuduhan dan fitnah2x saja. Belum selesai tuduhan itu yang kami minta anda jelaskan, sekarang mengajukan tuduhan baru. Sekali lagi minim verifikasi dan tidak ilmiah.
    Anda tuduh kami tidak memperjuangkan pekerja kebersihan? Anda rupanya elit yang tak peduli dengan fakta, karena malas mencarinya. Kami telah berkali2x menyatakan dalam pernyataan sikap kami, juga dalam media2x kami bahwa perjuangan Paguyuban Pekerja adalah untuk seluruh pekerja termasuk para pekerja kontrak dan outsourcing — termasuk para pekerja kebersihan. Kami sudah pernah nyatakan dan suarakan dalam AKSI MENOLAK PEMBERIAN DOKTOR HONORIS CAUSA terhadap Raja Arab Saudi (September 2011).
    Kami tegaskan lagi dalam Kongres Paguyuban Pekerja UI (Oktober 2011) yang mengesahkan dalam AD/ART bahwa yang dapat menjadi anggota dan mendapat pembelaan dari Paguyuban Pekerja UI adalah seluruh pekerja termasuk para pekerja outsourcing (bukan cuma pekerja kebersihan, para penjaga gedung, dll)

    Jadi jelas kami memperjuangkan para pekerja kebersihan, karena mereka adalah anggota kami.
    Anda tidak tahu, lalu dengan mudah menuduh, kami bisa memakluminya karena anda tidak peduli dengan hak2x pekerja.
    Bila anda lebih berpihak pada PP 152 seharusnya anda tahu bahwa di situ diatur hingga batas waktu paling lambat Desember 2010 seharusnya seluruh pekerja berstatus pekerja tetap (BHMN)
    Para pekerja PNS harusnya telah mengalihkan statusnya sesuai tata kelola BHMN. Tapi lihat lah status anda sendiri. Apakah anda senang mempertahankan status anda dengan mengabaikan ketidakjelasan status mayoritas pekerja lain di UI. Jadi anda bicara seolah peduli dengan nasib pekerja kebersihan tapi tidak mau mengakui akar masalah mereka adalah tidak dijalankannya tata kelola dan hukum perburuhan di UI sejak masa BHMN.

    Saat ini pun kami sedang mengadvokasi anggota2x dan simpatisan yang masih berstatus outsourcing seperti pekerja kebersihan. Karena sesuai putusan Majelis Konstitusi 17 Januari 2012, aturan UUK tentang outsourcing bertentangan dengan konstitusi. Maka sejak sekarang Outsourcing hanya boleh diterapkan bila tidak berbeda hak dengan pekerja tetap. Kami jelas sedang memperjuangkan pekerja kebersihan yang anda sebutkan itu. UI harus menghapuskan Outsourcing dan Kerja Kontrak yang mendiskriminasi pekerja.

    Anda menjawab seolah bukti kami kacung “as simple as that’ tapi jelas dan terang benderang tidak mampu menjelaskan dengan logis dan bukti empiris terkait tuduhan pertama soal “kacung rektor”. Tidak ada bukti apapun tentang tindakan apapun dari kami yang dapat membenarkan anda menuduh “kacung rektor” Jadi sangat terang benderang anda bukan orang yang beritikad baik pada Paguyuban Pekerja UI dan perjuangannya. Anda mau membangun gerakan bersih di UI tapi dengan cara memfitnah dan memusuhi gerakan pekerja yang jelas dan terang benderang melawan Mismanajemen UI sejak penerapan tata kelola BHMN. Tidak kah anda lihat dengan jelas bahwa kami memprotes dan menolak keras manajemen yang keliru dari para pimpinan UI termasuk Rektor. Mismanajemen terbukti dari merajalelanya ketidakjelasan status pekerja dan minimnya penegakan hak-hak normatif pekerja di UI. Sepuluh tahun lebih mismanajemen UI berlangsung di bawah kekuasaan rektor dan dengan pembiaran oleh MWA.

    Sekarang gerakan anda memunculkan kritik soal dugaan korupsi oleh rektor, buat kami tentu itu bukan hal yang aneh karena manajemen UI selama ini berjalan dengan pengawasan dan kontrol yang sangat minim dari unsur warga UI yang mayoritas: Pekerja dan Mahasiswa. Jelas saja akibat dari tata kelola yang hanya digerakkan oleh para elit akan menghasilkan manajemen yang korup, karena nyaris tidak ada kontrol yang siginifikan. Jadi buat kami dugaan korupsi di UI dan fakta ketidakjelasan status ketenagakerjaan kami berasal dari akar masalah yang sama: Tidak Adanya Tata Kelola (Manajemen) Demokratis di UI. Tidak akan demokratis selama bentuknya BHMN yang meniru operasi badan privat seperti korporasi yang mayoritas tidak melibatkan pekerjanya dalam menjaga akuntabilitas manajemennya. Pekerja buat badan privat dianggap hanya KACUNG dan itu sudah kita warisi sejak masa penjajahan Belanda. Pekerja tidak ditegakkan hak dan statusnya, diintimidasi dan difitnah bila memperjuangkan haknya. Tuduhan Komunis, Pengacau, hingga Kacung biasa dialamatkan pada serikat pekerja seperti kami: PPUI. Semuanya dilontarkan dan distigmakan pada kami tanpa pernah ada bukti logis dan empiris secuil pun.

    Tunjukkan dimana kerugian yang ditimbulkan dari kritik kami nengenai “Konflik Elit” yang kami utarakan secara terbuka dalam pernyataan sikap — bukan dengan intrik. Apa keuntungan atau bantuan yang didapatkan Rektor sehingga kami dianggap kacungnya? Secara jelas dan terbuka selalu kami nyatakan baik rektor dan mwa adalah para elit yang telah gagal menjankan tata kelola yang adil dan demokratis selama ini dan berdampak buruknya nasib dan status kami sebagai pekerja.
    Apakah semua pihak yang berani jujur mengkritik bahwa konflik yang berlangsung selama ini adalah “Kacung Rektor?” Bila begitu artinya maka gerakan bersih UI yang anda giatkan hanya mau UI bersih dari suara-suara kritis terhadap bobroknya manajemen UI. Yang anda minta adalah paduan suara mendukung anda, dan bila tidak berpihak antara Rektor dan elit2x lain maka anda tuduh Kacung Rektor.
    Bukan itu visi kami tentang UI yang bersih, yang bertata kelola yang baik. Buat kami masalahnya adalah sistem yang korup, bukan cuma orang yang korup. Solusinya sistem yang baik, gak bisa dipisahkan dari penghukuman pada orang2x yang terbukti korup.
    Mana mungkin ada sistem yang baik bila langkah awalnya yang menjadi teladan adalah mengingkari hukum yang harus diterapkan. Tidak segera melaksanakan PP 66/2010, mempertahankan ketidakjelasan status para pekerja, lalu mengharapkan kami bungkam. Ketika kami protes anda tuduh kami KACUNG rektor?

    Kami dukung penegak hukum untuk segera menjalankan tugas mereka. Segera lah memberikan kejelasan buat publik soal berbagai dugaan korupsi. Bongkar sampai ke akar2xnya, karena tidak mungkin korupsi berjalan tanpa jaringan yang mendukungnya. Jangan sampai semua kehebohan tentang korupsi ini cuma kegaduhan tanpa penyelesaian yang substansial.

    Kami tidak ingin UI menuju tata kelola yang semakin picik dan anti kritik, karena selalu hanya akan munafik sebagaimana semua konflik2 elit.

  6. Ridho, Anggota PPUI Says:

    ada dua kegagalan logika dari argumentasi ini, pertama: gagal untuk menjawab pertanyaan dari PPUI mengenai pentingnya pembuktian empirik dari pernyataan “pimpinan PPUI sebagai kacung rektorat” karena jika tidak, maka pernyataan yang ada lebih mirip gosip, bahkan fitnah, yang biasanya hanya muncul dari kalangan yang awam terhadap metode berpikir ketat serta ilmiah yang mensyaratkan adanya verifikasi empirik ketika menyatakan suatu pernyataan. Lalu yang kedua, dan lebih parah lagi muncul dari seorang yang mengaku intelektual dengan berbagai gelar yang menterengnya adalah oversimplifikasi dalam melihat situasi. logika bahwa hanya karena anda seorang ade armando cs melawan gumilar secara frontal karena dia korup, dan mereka yang yang tidak “melawan frontal” dianggap sebagai bagian dari “kacung2 gumilar” adalah logika yang sangat buruk seburuk logika war on terror Bush yakni “with us or against us”. hanya karena PPUI tidak secara frontal (dalam kategori subjektif seorang ade armando tentunya) melawan gumilar maka dengan sendirinya PPUI adalah bagian dari gumilar. kenaifan berpikir yang membuat saya harus bertanya2 mengenai status keilmuan Indonesia sekarang, apakah benar-benar serendah ini?

    jika logika ini adalah langgam yang anda pilih untuk adanya perdebatan yang beradab, maka saya akan sangat pesimistis bahwa perdebatan yang ada akan menjadi pembelajaran bagi kita semua. perdebatan yang kemudian muncul hanya akan semakin banyak menampilkan rupa bopeng sekaligus picik posisi anda yang implikasinya hanya akan membuat pertanyaan besar bagi status keintelektualan anda. jadi, demi integritas anda sendiri, saya hanya dapat menyarankan, berpikirlah dahulu sebelum anda menyatakan suatu hal sebelum hal tersebut menyerang balik ke anda…

    • adearmando Says:

      Ayolah, PPUI bukan hanya tidak menyerang korupsi Gumilar, tapi menyebut serangan kami terhadap Gumilar sebagai konflik elit merebut kekuasaan. Dengan kata lain, PPUI dengan sengaja menyesatkan opini publik tentang serangan terhadap korupsi Gumilar. kalau Anda tidak dapat menangkap logika sederhana ini, saya justru kuatir dengan kesehatan berpikir Anda…

      • Utomo Says:

        Kalau ini bukan konflik elit, bapak sdh pernah k fakultas2 blm mengajak mahasiswa/ dosen / karyawan untuk lebih peduli, dan melakukan pencerdasan? Jujur, saya sebagai orang awam memang ngeliat ini konflik elit antara gumilar fans club vs UI Bersih, kenapa? Karena itu informasi yg sampai kepada kami, dari dulu belum ada tuh pihak UI Bersih yg datang ke fakultas kami untuk bikin diskusi, apa harus kami yg mendatangi orang2 UI bersih? Lalu sebenarnya siapa yg peduli dengan isu ini? Apakah itu tanggung jawah BEM Fakultas? Lalu untuk apa manfaat gerakan UI Bersih?

  7. kholilurrahman Says:

    Reblogged this on Gembala Impian.

  8. pradabasu Says:

    ayo armando.. mana argumenmu… ?? atau udah ga bisa berkata-kata lagi… as simple as that!!

  9. Nosa Says:

    Bang ade lagi PMS kali, atau jangan2 blognya dihack orang. omong2an kayak gini ini yang membuat gue mikir kayaknya jalan keluar dari masalah UI ini bukan di UI, tapi emang mesti dari negara ngaco ini.

    mana kawan mana lawan udah nggak ketauan, konflik kepentingannya kebanyakan diumbar. jadi basi kan? kalo gini mah, sellow aje deh, nunggu presidennya ganti. Moga2 setelah pak Beye bisa lebih sadar. Kalo lebih keblinger, yah nunggu revolusi G 30 S/FPI aje. :p

  10. sujono Says:

    Keahlian Ade Armando ada 2: menggoda wanita (tp poligaminya gagal tuh cuy..), menghina org dgn ilmu yg dimilikinya (semoga tuhan mengampuninya)…dunia butuh manusia hina seperti Ade Armando agar org lain di sekelilingnya menjadi lebih mulia…trims bung.

  11. Indonesian lecturer declared suspect over blog posts /  BudiPutra.com ~ Notes from Asia Says:

    […] The Faculty of Politics and Social Sciences lecturer –and activist of the ‘Clean UI’ movement– said he was charged for insulting Kamaruddin in a series of blog posts published on his personal blog.  The articles posted on January 29 and March 4, 2012. […]

  12. Utomo Says:

    Ya semoga saja tulisan & komentar bapak ade di sini adalah tulisan matang dan hasil pengamatan yg mendalam, bukan cm opini, kabar burung, atau pengamatan sekilas saja, semoga di lain waktu tidak ada tulisan
    PPUI SEGERA BERTINDAK; REKTOR DAN PARA KACUNGNYA GAGAL!
    atau sejenisnya, karena tulisan seseorang jg menjadi cermin tingkat intelektualitasnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: