Dapatkah JK, Said Aqil, Bagir Manan, Endriartono, Anugrah Pekerti dan Alwi Shihab membersihkan UI?

Ade Armando (28 April 2012)

Dapatkah JK, Said Aqil, Bagir Manan, Endriartono, Anugrah Pekerti dan Alwi Shihab membersihkan UI?

Pertanyaan ini mengemuka mengingat saat ini proses pembersihan UI dari korupsi dan kekacauan pengelolaan mulai melibatkan enam tokoh Indonesia itu.

Sidang Paripurna Senat Akademik UI pada Kamis (26 April) memilih mereka sebagai anggota Majelis Wali Amanat UI: Jusuf Kalla (mantan Wapres), Said Aqil Siradj (Ketua PBNU), Bagir Manan (Mantan Ketua MA, sekarang Ketua Dewan Pers), Anugrah Pekerti (pakar manajemen pendidikan), Endriartono Sutarto (mantan Panglima TNI), dan Alwi Abdurrahman Shihab (mantan Menlu dan Menko Kesra). Baca entri selengkapnya »

Iklan
Ditulis dalam UI. 2 Comments »

Kekayaan Rektor UI dkk: Berapa dan Dari Mana?

Ade Armando (13/4/2012)

Berapa besarkah kekayaan Rektor UI, Prof. Dr. Gumilar Somantri?

Pertanyaan ini sekarang ramai dibincangkan di UI, setelah adanya laporan tabloid Prioritas pada 26 Maret 2012 lalu.

Dalam laporan itu, Prioritas berusaha menelusuri pernyataan Effendi Ghazali yang menyatakan bahwa ada penambahan kekayaan yang signifikan dalam kekayaan Gumilar setelah ia menjadi rektor. Salah satu kekayaan utama Gumilar adalah keluasan tanah yang dimilikinya di Bogor. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam UI. 2 Comments »

Sudah habiskan Rp 45 Milyar, Pembangunan Gedung Fasilkom UI Terbengkalai

Ade Armando (10 April 2012)

Tabloid Prioritas kembali menurunkan laporan tentang kekacauan tata kelola Universitas Indonesia.

Dalam edisi 9-15 April itu, Prioritas secara khusus meliput terbengkalainya pembangunan gedung Fakultas Ilmu Komputer UI.

Dikabarkan di sana (http://www.prioritasnews.com/2012/04/10/proyek-mangkrak-kampus-makara), projek yang sekarang sudah menghabiskan uang rakyat Rp 45 milyar itu kini terhenti tanpa jelas kelanjutannya.

Cerita bodoh semacam ini memang sekarang menjadi ciri khas pembangunan di UI. Sejak Gumilar naik menjadi Rektor, dia mengambil kebijakan pengelolaan keuangan yang tersentralisasi. Dan seperti dapat diduga, yang terjadi adalah kekacauan demi kekacauan. Baca entri selengkapnya »

Peristiwa Memalukan di UI: Salah Gaji Dosen Rame-rame

Ade Armando (9 April 2012)

Salah satu persoalan terbesar Universitas Indonesia saat ini adalah sangat buruknya pengelolaan keuangan dan SDM. Sejak naik ke tampuk pimpinan, Dr. Gumilar menerapkan sistem keuangan yang tersentralisasi. Selama empat tahun ini, terbukti bahwa sistem yang ia terapkan merugikan keseluruhan proses pendidikan di UI. Contoh terakhir dari keburukan ini adalah apa yang terjadi — mudah-mudahan hanya — di Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik.

Akhir Maret lalu seperti biasa para dosen FISIP menerima gaji dari UI yang langsung dikirim ke rekening masing-masing. Ternyata, ada banyak kejutan terjadi. Banyak dosen yang menerima uang dalam jumlah yang jauh melampaui haknya. Sebaliknya sebagian lain menerima jauh lebih rendah.

Harap dicatat, para dosen ini memang tak memperoleh gaji dalam jumlah sama setiap bulannya. Jumlah gaji yang diterima sangat bergantung pada jumlah jam mengajar mereka pada bulan tersebut. Jadi masing-masing dosen sebenarnya hanya bisa mengira-ngira berapa jumlah uang yang akan diterimanya.

Hanya saja di akhir Maret kemarin, perbedaannya terlalu mencolok. Baca entri selengkapnya »

Pantaskah Puluhan Milyar Uang Rakyat Digunakan untuk Membangun Faculty Club UI?

Ade Armando (3 April 2012)

Tidak ada Hati.

Istilah ini rasanya layak sekali digunakan untuk menggambarkan sikap para pimpinan Universitas Indonesia.

Sejak dibangunnya Perpustakaan Pusat UI yang super mewah tahun lalu – yang memakan biaya RP 127 MILYAR — publik sudah melihat bagaimana rektor Gumilar dan para punakawannya senang berboros-boros dengan uang rakyat yang setiap tahun mengucur ke UI.

Kini, kebebalan mereka kembali terangkat dengan hadirnya berita baru yang dilansir banyak media massa, yakni tentang sedang dibangunnya sebuah projek mewah dan boros lain, yaitu Integrated Faculty Club.

Ini semua bermula dari laporan di Kompas.com (19 Maret) yang mengabarkan bahwa secara diam-diam, beberapa bagian di areal hutan UI ternyata telah ditebang habis untuk pembangunan driving range atau area berlatih untuk pegolf amatir.

Salah satu yang ditekankan oleh Kompas adalah bahwa pembangunan projek itu dilakukan dengan diam-diam, tidak transparan. Tulis Kompas: “Pihak UI seperti ingin “kucing-kucingan”, tak mau pihak luar tahu.”

Tulisan ini dengan segera memicu perhatian. Berbagai media memburunya. Akibatnya terkuaklah kebebalan para pimpinan UI secara terbuka pada publik.

Kini, masyarakat tahu tahu bahwa sejak Agustus 2011 UI sudah membangun bukan saja driving range namun juga apa yang mereka sebut sebagai Integrated Faculty Club (IFC). Saat ini projek di lahan seluas 6600 meter ini sudah rampung sekitar 65 persen. Berdasarkan situs resmi PT Wijaya Karya yang menjadi kontraktor projek ini, dana yang dikeluarkan untuk projek ini mencapai hampir Rp 25 milyar.

Dari data yang diperoleh merdeka.com, Jumat (23/3), Integrated Faculty Club UI akan terdiri dari enam bagian, yaitu:
1. Faculty Meeting Room, terdiri dari: Faculty club, Faculty lounge & restoran, Etalase paten dan hasil-hasil penelitian UI (Gallery), Reading book room , café, Ruang multimedia (rapat, diskusi, seminar).

2. Quick faculty Health Services: Poliklinik Umum, Poliklinik Gigi, Fitness.

3. Sport Center: Golf driving range (30 slot), Golf club & shop, Kolam renang (Olympic Size), Lapangan futsal, Lapangan tenis, Flying Fox Sport.

4. Retail & Café: Toko buku, Toko souvenir, Minimart, Cafe (indoor & outdoor/terrace), Internet, Fastfood, Ruang Menyusui (Nursing Area), Ruang Merokok (Smoking Area)

5. Kantor: Pengelola, Bank, Koperasi, Musholla

6. Automotive Station & Services: Servis kendaraan (mobil dan motor), uji emisi, cuci, dan salon mobil serta parker dan faislitas pendukung lainnya

Untuk apakah segenap kemewahan ini dibangun? Jelas bukan untuk pendidikan. Jelas bukan untuk rakyat. Sebagai dosen, saya sendiri heran mengapa harus ada tempat berkumpul dosen, ada ruang baca, ruang diskusi di sana. Bukankah di masing-masing kampus sudah banyak tersedia ruang dosen? Bukankah di Perpustakaan Pusat yang raksasa itu sudah banyak tersedia ruang diskusi dan ruang multimedia. Dan kenapa pula seolah-olah IFC akan dijadikan tempat bertemunya seluruh dosen dari seluruh fakultas?

Buat siapa driving range golf atau Golf Club atau lapangan tenis atau flying fox disediakan? Buat para dosen yang bermain golf dan bermain tenis?

Pihak pimpinan UI sendiri nampak bingung harus menjawab pertanyaan wartawan.

Respons Wakil Rektor II UI Tafsir Nurchamid, misalnya, sungguh menarik. Ketika dihubungi wartawan Prioritas, Tafsir mengaku dirinya SAMA SEKALI TIDAK TAHU MENAHU MENGENAI PEMBANGUNAN PROYEK TERSEBUT. “Silahkan ditanyakan langsung ke humas, saya hanya mengurusi keuangan,” kata Tafsir (Prioritas edisi 13/tahun 1)

Jawaban Devie Rahmawati berbeda. Devie ini sendiri adalah tokoh menarik di UI. Dia diketahui sebagai sekretaris Rector UI, Gumilar. Tapi kekuasaannya nampaknya jauh melampaui seorang sekretaris. Dia kadang digambarkan sebagai juru bicara pimpinan UI, atau pernah menampilkan dirinya sebagai Chief of Staff. Di Kompas.com (19/3), dia dikutip sebagai Kepala Kantor Sekretariat Pimpinan UI.

Kepada Kompas. Devie menjelaskan bahwa pembangunan itu ditujukan “… untuk Faculty Club dan beberapa tempat untuk menjamu tamu internasional. Ini bertujuan sebagai persiapan UI menjadi tuan rumah olimpiade universitas di dunia pada Juli mendatang. UI akan jadi tuan rumah olimpiade universitas di tingkat Asia.”

Jawaban Devie jelas membingungkan. Apa hubungan antara driving range, ruang diskusi, automotive station dan flying fox dengan olimpiade? Dan mengapa pula kita menggunakan uang rakyat untuk kepentingan sesaat semacam itu?

Di pihak lain, Kepala Kantor Komunikasi UI Siane Indriani memberi jawaban yang sama sekali berbeda dengan Devie. Menurut Siane, pembangunan IFC ini memang bertujuan komersial untuk memperoleh uang masuk. Dengan kata lain, sebagaimana Perpustakaan Pusat, IFC akan disewa-sewakan kepada mereka yang tertarik menggunakannya.

Menurut Siane pula, projek IFC ini sudah direncanakan sejak 1997. Dengan kata lain, ia membantah bahwa UI berusaha membangun dengan sembunyi-sembunyi. Menurut Siane kepada Kompas, master plan pembangunan UI memang berulang kali berubah. Yang terbaru adalah master plan 2008 (setahun setelah Gumilar berkuasa), dan di dalam rencana induk 2008 itulah gagasan IFC termuat.

Sayangnya jawaban Siane ini bertentangan hasil penelusuran wartawan Kompas. Dalam pemberitaan 30 Maret, wartawan Kompas.com melaporkan bahwa menurut pengamatan seksama, rencana pembangunan IFC tersebut ternyata tidak ada sama sekali dalam Master Plan UI 2008. Nah!

Saya sudah bertanya pada Sekretaris Majelis Wali Amanat, Damona Poespawardaya, apakah rencana IFC sudah disampaikan kepada dan memperoleh persetjuan MWA? Jawabannya: tidak ada.

Saya juga bertanya pada Damona, apakah rencana pembangunan IFC ada dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan yang harus juga disetujui MWA? Jawabannya: tidak.

Jadi, bisa dibilang, para pimpinan UI kembali memperagakan betapa buruknya cara mereka mengelola UI.

Dalam pandangan saya, tak ada alasan masuk di akal yang dapat dilontarkan untuk membela pembangunan IFC. Tapi barangkali memang soal akal dan hati memang bukan hal yang layak dibicarakan dengan Gumilar dan para punakawannya, mengingat mereka mungkin tak punya keduanya.

Namun pertanyaannya, siapakah yang harus menanggung beban akibat langkah pimpinan UI ini? Tentu saja, rakyat. Siapa lagi?