Kekayaan Rektor UI dkk: Berapa dan Dari Mana?

Ade Armando (13/4/2012)

Berapa besarkah kekayaan Rektor UI, Prof. Dr. Gumilar Somantri?

Pertanyaan ini sekarang ramai dibincangkan di UI, setelah adanya laporan tabloid Prioritas pada 26 Maret 2012 lalu.

Dalam laporan itu, Prioritas berusaha menelusuri pernyataan Effendi Ghazali yang menyatakan bahwa ada penambahan kekayaan yang signifikan dalam kekayaan Gumilar setelah ia menjadi rektor. Salah satu kekayaan utama Gumilar adalah keluasan tanah yang dimilikinya di Bogor.

Tak begitu saja percaya dengan informasi itu, wartawan Prioritas berusaha menelusuri daerah yang disebut-sebut sebagai lokasi tanah Gumilar. Nyatanya, Prioritas menemukan bahwa Gumilar memang memiliki tanah seluas lima hektar di Desa Sukakarya, Kecamatan Mendung, Bogor.

Prioritas juga mengutip seorang tetangga Gumilar yang menyatakan bahwa awalnya tanah Gumilar cuma sepetak, tapi sejak menjadi Rektor, daerah kekuasaannya itu meluas menjadi lima hektar. Prioritas pun menyaksikan bagaimana di tanah itu dibangun sebuah villa asri yang di sekelilingnya banyak terdapat hewan piaraan unik, seperti burung kasuari, luwak, ayam hias hingga domba.

Pertanyaannya kemudian: berapakah sebenarnya nilai ekonomi dari kekayaan Gumilar tersebut? Benarkah ia memperolehnya sejak ia menjadi rektor? Dan kalau memang benar, kira-kira bagaimana ia mampu membeli itu semua?

Untuk itu, saya beruntung memperoleh data mengenai laporan harta kekayaan Gumilar ketika baru satu tahun menjabat menjadi Rektor, yakni pada September 2008.

Dari laporan itu ada beberapa catatan penting bisa diperoleh.

Kenaikan harta Gumilar sebenarnya telah meningkat sejak dia menjadi dekan di FISIP pada 2002, namun kemudian mengalami percepatan luar biasa sejak menjadi Rektor UI pada 2007.

Data itu menunjukkan Gumilar memang senang membeli tanah. Dia panaslah disebut ‘tuan tanah’. Sebelum dia menjadi Dekan, dia sudah memiliki tanah di wilayah Bogor, seluas 3300 meter. Pada 2002-2003, Gumilar memperluas kerajaanya itu dengan membeli tanah sekitar 5400 meter di Bogor. Jadi sebelum dia menjadi rektor, tanah yang dikuasainya sudah mencapai hampir 1 hektar.

Tapi begitu menjadi Rektor,ia langsung tancap gas. Hanya dalam sekitar 1-2 tahun ( 2007-2008), Gumilar membeli lagi sekitar 15 ribu meter tanah di daerah yang sama.

Di luar itu, pada 2007 juga, Gumilar membeli tanah seluas 9000 meter di Tasikmalaya.

Jadi ketika Gumilar melaporkan kekayaan pada September 2008, setahun lebih setelah menjadi rektor UI, penguasaan tanahnya sudah meningkat 150 persen sehingga mencapai hampir 25 ribu meter (2.5 hektar) di Bogor dan 9000 meter di Tasikmalaya.

Bila antara 2008-2012, tanah di Bogor itu meluas menajdi 50.000 meter tentu bukan sesuatu yang tak masuk di akal.

Gumilar juga tentu memiliki harta lain. Ketika menjadi dekan, dia juga membeli rumah di kawasan Elit Pesona Khayangan seluas 500 meter2. Kekayaan totalnya pada 2008 itu mencapai Rp 3,3 milyar.

Jadi berapakah peningkatan kekayaan Gumilar? Kalau sekarang dia memiliki tanah 5 hektar sementara sebelum menjadi rektor dia ‘hanya’ memiliki tanah 1 hektar di Bogor, maka kenaikan kekayaanya selama 2007-20012 adalah minimal 4 hektar tanah di Mega Mendung Bogor.
Kalau harga tanah di sana, dengan perhitungan moderat, adalah Rp. 300 ribu per meter, maka Gumilar mengeluarkan uang sekitar Rp 12 milyar untuk membeli tanah itu!

Tentu saja itu cuma urusan tanah. Tak tahu dengan yang lain.

Dan ini mejadi mencurigakan karena pertanyaannya adalah: dari mana Gumilar memliki uang sebesar itu?

Yang kita tahu Gumilar memang memperoleh gaji besar sebagai Rektor. Menurut sumber Majelis Wali Amanat, gaji rektor UI ditetapkan Rp 45 juta per bulan. Sejumlah sumber lain menyatakan bahwa penghasilan Gumi dari UI jauh lebih besar, sekitar Rp. 65 juta per bulan. Tapi kalaulah itu benar, tetap saja ada pertanyaan dari mana dia punya uang Rp 12 milyar untuk hanya beli tanah?

Dalam hal ini harus diakui bahwa yang kerap dipersoalkan bukanlah hanya sang Rektor. Saya lazim mendengar cerita tentang orang-orang di sekitar rektor yang juga kaya raya selama masa kepemimpinan Gumilar.
Salah satu yang paling sering disebut adalah Direktur Umum dan Fasilitas UI Donanta Dhaneswara yang kabarnya memiliki koleksi mobil mewah, seperti Range Rover dan Jaguar. Saat ini terdapat kepercayaan bahwa menjadi orangnya Gumilar memang sebuah berkah luar biasa.

Karena kejanggalan-kajangalan semacam itulah, mungkin tidak berlebihan bila saya dan sejumlah orang menduga bahwa penumpukan kekayaan para pimpinan UI itu bisa terjadi karena kebijakan sentralisasi keuangan yang dilakukan Gumilar beserta Wakil Rektor II Tafsir Nurchamid sebagai operator utamanya.

Dengan sentralisasi keuangan yang tidak transparan dan akuntabel , Rektor dan Tafsir menjadi pihak penentu dalam alokasi uang sekitar Rp 1,5 triliun yang masuk ke kas UI setiap tahunnya. Merekalah yang menentukan berapa uang yang dikeluarkan, untuk apa dan bagaimana penjadwalannya. Bahkan uang-uang penelitian atau beasiswa pun harus melalui rekening UI Pusat. Dan selama ini sudah diketahui bersama bahwa begitu uang masuk ke rekening UI, keluarnya akan sangat lambat dan bahkan terpotong.

Sebagaimana lazim dikenal dalam praktek-praktek korupsi, Gumilar dan Tafsir sangat mungkin dengan sengaja menghambat aliran uang ke bawah agar uang itu bisa didepositokan di bank-bank dengan sebagian pemasukan yang datang dari bunga bank mengalir ke kantong-kantor rahasia.

Sebagai pihak yang paling menentukan dalam projek-projek pembangunan raksasa di UI, Gumilar-tafsir-Donanta juga memiliki posisi menentukan dalam aliran uang projek yang melibatkan para rekanan. Sebagaimana dengan kasus-kasus korupsi di Indonesia lainnya, sangat mungkin Gumilar-Tafsir-Donanta memperoleh keuntungan dari projek-projek itu.

Sekadar informasi ringan, seorang anggota MWA pernah becerita bagaimana dalam pernikahan adik atau keluarga Gumilar, para rekanan UI turut mendanai acara pernikahan tersebut. Tapi itu cuma contoh kecil. Yang lebih harus dikuatirkan adalah bahwa sangat mungkin bahwa dalam setiap keputusan projek yang melibatkan rekanan, ada pihak-pihak di kalangan ring-1 pimpinan UI memperoleh hadiah.

Tentu saja, semua ini bukan kesimpulan defintif.

Tapi buat saya, peningkatan siginifikan kekayaan Gumilar dan para punakawannya di satu sisi, beserta sentralisasi keuangan dan amburadulnya manajamen keuangan dan pembangunan UI, layak untuk membawa kesimpulan bahwa ada hubungan antara keduanya.

Mudah-mudahan saya salah. Mudah-mudahan saya hanya terlalu kuatir. Tapi kalau dugaan saya benar, celakalah memang kita semua.

Ditulis dalam UI. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Kekayaan Rektor UI dkk: Berapa dan Dari Mana?”

  1. Hotel Padang Says:

    Nagh ini nih yang musti di cross check abis sama KPK, karena ini kan termasuk uang negara juga,,,

  2. gue aja Says:

    “Tapi buat saya, peningkatan siginifikan kekayaan Gumilar dan para punakawannya di satu sisi, beserta sentralisasi keuangan dan amburadulnya manajamen keuangan dan pembangunan UI, layak untuk membawa kesimpulan bahwa ada hubungan antara keduanya.”

    Hubungan yang diada-adakan saja menurut penulis

    Kakanda, mengapa tidak di audit saja?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: