Lady Gaga dan UU Pornografi

Ade Armando (18 Mei 2012)

Ribut-ribut soal kedatangan Lady Gaga sebenarnya bisa diarahkan menjadi pembicaraan yang sehat kalau saja bangsa ini mau membaca.

Bacalah UU Pornografi (2008) , dan sebenarnya di sana sudah ada ketentuan-ketentuan yang mengatur soal pertunjukan yang di dalamnya mengandung eksploitasi seks.

Pasal pertama yang harus dibaca adalah pasal 10 yang berbunyi: “Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya.”

Sebagai catatan, yang dimaksud dengan “pornografi lainnya” (sesuai penjelasan UU) antara lain adalah:  kekerasan seksual, masturbasi, atau onani.

Pasal 11 boleh juga disebut.

Dalam pasal itu dikatakan bahwa setiap orang dilarang melibatkan anak (di bawah 17 tahun) dalam kegiatan dan/atau sebagai objek dalam pertunjukan yang diatur pasal 10 itu.

Jadi, kesimpulannya sederhana. Pertunjukan Lady Gaga tentu bisa berlangsung, selama dalam pertunjukan itu tak ada ‘eksploitasi seks’, apalagi ‘ketelanjangan’ dan ‘persenggamaan’.

Bila ternyata dalam pertunujukan, sang artis melakukan hal-hal terlarang itu, maka akan ada banyak pihak yang terancam pidana: baik pihak promotor,  maupun sang Lady Gaga dengan para pengiring dan penari latarnya.

Ancaman pidananya tidak main-main. Dalam pasal 36 UU itu dikatakan bahwa ancaman pidana terhadap pertunjukan yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau muatan pornografi lainnya  adalah maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp. 5 miliar rupiah.

Kalau melibatkan anak, mereka yang bertanggungjawab atas pelibatan anak itu bahkan terancam lebih berat lagi, yakni ditambah 1/3 (sepertiga) dari maksimum ancaman pidananya

Jadi kenapa pula harus repot? Biarkan hukum ditegakkan..

Pihak promotor tinggal diberi tahu bahwa pertunjukan Lady Gaga dapat berlangsung selama dalam pertunjukan itu tidak ada  eksploitasi seks, ketelanjangan, senggama, kekerasan seks, masturbasi dan onani.

Pihak penyelenggara juga harus diberi tahu bahwa dalam pertunjukan itu tidak boleh ada anak di bawah 17 tahun, baik sebagai artis maupun sebagai penonton.

Si Lady Gaga dan  rombongannya juga harus diberitahu anacaman itu. Sial benar kan dia kalau gara-gara dia melakukan pertunjukan yang mengandung eksploitasi seks, dia terpaksa mendekam penjara di Indonesia.

Akan halnya FPI, sudahlah. Bukan begitu cara memprotes. Tidak dengan mengancam-ancam akan mengerahkan massa untuk membubarkan pertunjukan. Gaya-gaya preman semacam itu hanya akan menghancurkan Indonesia.

Dalam UU itu juga dinyatakan bahwa (dalam pasal 20)  masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap penyebarluasan pornografi, tapi peran serta itu terbatas pada  melaporkan pelanggaran Undang-Undang ini dan kalau perlu melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan. UU juga secara tegas menyatakan bahwa masyarakat tidak boleh melakukan tindakan main hakim sendiri, tindakan kekerasan, razia (sweeping), atau tindakan melawan hukum lainnya.

Kalau si Lady Gaga menolak, tinggal dikatakan padanya: maaf, tapi kalau Anda di Indonesia, Anda harus hormati hukum Indonesia.

“Kalau Anda memaksakan gaya Anda yang berisiko, siap-siap saja membayar akibatnya.”  Bukan FPI tapi UU Pornografi.

foto: galatema.com

2 Tanggapan to “Lady Gaga dan UU Pornografi”

  1. Epoxy Says:

    Tetapi UU pornografi itu tampaknya tidak berlaku buat konser dangdut kopo yang jauh lebih “seru” dan banyak ditonton oleh anak-anak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: