Umat Islam Terus Terpuruk Bila Takut Berijtihad

Ade Armando (27 Mei 2012)

 

Perlukah umat Islam mengkaji ulang hukum Islam yang selama ini sudah diyakini mayoritas masyarakat?

Pertanyaan ini mengemuka kembali setelah kedatangan Irshad Manji yang kontroversial pada awal Mei lalu. Seperti diketahui, Irshad ditolak bicara di dua kota: Jakarta dan Jogyakarta. Di kedua kota itu, acara diskusi bersama Irshad bahkan batal gara-gara kedatangan massa yang memaksa agar Irshad tidak dibiarkan menyebarkan ajaran yang – menurut para pemrotes — menyimpang dari hukum Islam. Di Jogyakarta, ironisnya, perintah penolakan Irshad datang dari rektor Universitas Gajah Mada.

Saya sendiri jadi terlibat dalam keriuhan ini akibat saya membela Irshad dan mengecam para pemrotes baik melalui tulisan saya di blog, di milis ataupun di layar televisi.

Saya merasa saya harus membela Irshad karena sejumlah hal. Pertama, apa yang disuarakan Irshad justru adalah hal yang perlu didengar oleh umat islam di seluruh dunia. Dari apa yang saya baca, Irshad terutama mengajak umat Islam untuk mencintai Tuhan dengan mengembalikan tradisi ijtihad tanpa rasa takut terhadap mereka yang dipercaya memiliki otoritas dalam menafsirkan islam.

Irshad percaya bahwa dengan kecintaan kita kepada Tuhan, kita justru harus berusaha sungguh-sungguh membuka pikiran memahami ayat-ayat Tuhan dengan cara yang membawa kedamaian di muka bumi.  Hanya dengan membebaskan diri dari keterbelakangan berpikir yang diakibatkan oleh ketakutan kita pada mereka yang mengklaim diri sebagai pemegang otoritas keagamaan, kita akan menemukan kebenaran yang dibawa oleh ayat-ayat Tuhan.

Kedua, penolakan terhadap Irshad tidak hanya datang karena ajakannya untuk membuka pikiran tapi karena ia memang dengan terbuka menyatakan dirinya sebagai lesbian. Saya pribadi menganggap bahwa homoseksualitas bukanlah  hal terlarang. Tapi kalaupun ada banyak orang yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah hal yang haram dalam agama, itu tetap tak boleh dijadikan alasan untuk melarang orang bicara. Orientasi seksual adalah hak asasi manusia yang dilindungi oleh hukum di Indonesia. Karena itu, menurut saya, pelarangan bicara Irshad adalah kejahatan pelanggaran hak asasi manusia.

Karena pernyataan-pernyataan pembelaan terhadap Irshad itu tanpa terelakkan saya terlibat dalam diskusi berkepanjangan di berbagai forum. Saya merasa jawaban-jawaban saya di berbagai diskusi tersebut cenderung terpecah-pecah dan parsial. Karena itu kali ini saya ingin lebih menyajikan pandangan saya secara lebih utuh.

Saya tak ingin bicara soal homoseksualitas. Yang ingin saya sampaikan adalah pandangan saya mengenai mengapa ijtihad itu penting.

Ijtihad pada dasarnya berarti mengerahkan segala kemampuan dan mengunakan pikiran secara sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran.  Dalam hal tradisi hukum islam, ijtihad merupakan konsep kunci.  Pada awalnya, ijtihad ini ditempatkan sebagai opsi ketiga setelah Al Quran dan sunah Nabi Muhammad.  Jadi kalau sesuatu itu tak diatur secara khusus di Al Quran dan Sunah Nabi, maka seorang muslim dapat menemukan jawaban dengan berpikir secara sungguh-sungguh.

Dengan kata lain, dalam tradisi ilmu pengetahuan dunia Islam, ada prinsip keutamaan berpikir.  Bahkan dalam perkembangannya, ijtihad itu tak hanya diperuntukkan untuk hal-hal yang tidak ada dalam Al Quran dan Sunah Nabi, melainkan juga untuk  memahami apa yang  tertera dalam Al Quran dan Sunah itu sendiri. Masalahnya, teks Al Quran dan sunah Nabi itu perlu ditafsirkan kembali. Ketika Nabi masih hidup dia bisa bisa dikonsultasikan langsung. Tapi setelah berpuluh atau beratus tahun kemudian, teks itu perlu dikaji agar substansi ajaran yang termuat di dalamnya bisa dipahami.

Keutamaan ijtihad itulah yang sekarang berusaha dikembalikan oleh banyak kalangan pembaharu Islam, termasuk Irshad Manji.

Hanya saja tak semua orang suka dengan ajakan itu. Banyak pihak dengan sempit berargumen bahwa ijtihad sebenarnya tak banyak lagi diperlukan karena para ulama dari generasi ke generasi sudah mewariskan  hukum Islam yang mendasarkan diri pada Al Quran, Sunah dan ijtihad para ulama terdahulu. Dengan kata lain, umat islam di abad 21 ini tinggal melanjutkan saja apa yang sudah disepakati di masa lalu itu.

Kalangan ini juga menganggap bahwa kalaupun ada yang berusaha berijtihad, maka itu hanya bisa dilakukan secara tak bertentangan apa yang disebut sebagai hukum Islam sebagaimana disepakati para ulama terdahulu. Karena itu mereka yang berhak berijtihad hanyalah mereka yang mengakui kebenaran pandangan para ulama terdahulu.  Yang berhak berijtihad hanyalah mereka yang memiliki syarat-syarat tertentu: bisa berbahasa Arab, sudah mempelajari secara mendalam Al Quran, Sunah Nabi, serta pandangan para ulama terdahulu dari lembaga-lembaga yang memang memang memiliki otoritas untuk mengajarkan pandangan para ulama tersebut.

Dalam pandangan mereka, tidak semua orang bisa berijithad. Yang boleh berijtihad hanyalah  kalangan eksklusif yang memang mengakui kebenaran warisan hukum islam terdahulu.

Cara pandang semacam itu terlihat sangat nyata dalam diskusi-diskusi yang menghujat pandangan Irshad dan dukungan saya terhadap Irshad. Dari diskusi-diskusi itu, saya kembali diingatkan tentang betapa benarnya mereka yang menyatakan bahwa yang dibutuhkan di dunia saat ini adalah ijtihad.  Dan dari diskusi-diskusi itu pula kini saya diingatkan bahwa salah satu sumber utama keterbelakangan  umat Islam adalah kesalahan cara berpikir sebagian umat  tentang arti penting Ijtihad.

Kelompok-kelompok muslim anti-pembaharuan ini memiliki kesalahan berpikir yang mendasar. Mereka menyangka bahwa di dunia ini sudah tersedia hukum Islam yang (hampir) sempurna , yakni paket lengkap tentang bagaimana menata kehidupan masyarakat yang diwarisi oleh para ulama Islam terdahulu.

Cara berpikir ini menyebabkan umat Islam gagal memberikan jawaban yang responsif terhadap tantangan masa ini. Bahkan bukan saja gagal merespons, umat islam hanya akan berputar-putar dalam keterbelakangan tanpa memiliki cukup modal untuk melangkah ke depan.

Para ulama seperti Al-Ghazali, Ibn Tayimiah, Ibnu Katsir, Imam Syafii dsb  tentu saja adalah orang-orang besar. Tapi mereka hanyalah manusia biasa yang pintar. Segenap buah pikirannya adalah anak kandung ruang dan waktu di mana ia berada ..

Orang seperti Al Ghazali di zaman ini adalah semacam Fazlur Rahman, Yusuf Qardhawi, Karen Armstrong atau Nurcholish Madjid. Karena itu pandangan Al Ghazali bisa saja kita percaya tapi bisa juga tidak kita benarkan karena ada pandangan lain yang nampak lebih baik atau relevan untuk diterapkan saat ini.

Pemikiran para ulama terdahulu adalah penting untuk dipelajari, tapi bukan sebagai kebenaran yang tak dapat dipersoalkan atau dibantah sama sekali. Kalau kita membaca Fiqih empat/lima Mazhab saja, kita menemukan betapa banyaknya perbedaan pendapat antara mazhab. Itu menunjukkan bahwa memang tak ada kesepakatan sebagaimana yang didengungkan.

Kalau ada orang yang mengatakan adanya kesepakatan ulama masa lalu, kita harus bertanya: kesepakatan yang mana? Di abad ke 7? Abad ke 8? Abad ke 9? Abda ke 15? Abad ke 16? Di Baghdad? Di Istambul? Jadi kesepakatan yang mana? Jangan salah, sejarah islam juga diwarnai banyak sekali konflik internal. Implikasinya, banyak buah pikiran ulama dihilangkan dari sejarah. Yang dipertahankan hanya yang mengikuti tradisi berpikir tertentu saja.

Ijtihad menjadi sangat penting karena Al  Quran sendiri tidak dibuat sebagai kitab hukum formal. Yang termuat dalam Al Quran adalah panduan filsafat, panduan moral, panduan norma tentang bagaimana kita seharusnya menata   kehidupan. Teks-teks dalam Al Quran multi interpretatif. Karena itu teks Al Quran seharusnya terus menerus ditafsirkan kembali .

Saya percaya Tuhanlah yang menurunkan Al Quran. Saya percaya bahwa teks dalam Al Quran adalah kalimat-kalimatNya. Tapi saya juga percaya bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan Al Quran sebagai sebuah naskah hukum yang harus dibaca secara sama di sepanjang masa.

Al Quran diturunkan di komunitas Arab yang prnduduknya hanya beberapa ribu orang, yang barbarik, yang tidak memiliki tradisi ilmu pengetahuan maju. Sebagian besar masyarakat Arab ketika itu buta huruf. Mereka senang berperang. Mereka tidak menghargai perempuan.

Kalau ada teks yang menyatakan bahwa bagian warisan anak pria adalah dua kali lipat anak perempuan, itu tentu saja tak perlu ditafsirkan secara literal.  Begitu juga soal hukum potong tangan bagi pencuri. Begitu juga gambaran soal surga dengan segenap bidadarinya. Begitu juga soal memerangi orang kafir.

Kalau Al Quran saja memerlukan tafsiran berkelanjutan, apalagi as-Sunah, apalagi fiqih yang diformulasi para ulama.

Inti pendapat saya adalah: untuk abad 21 ini – sebagaimana di abad-abad lain —  umat Islam berkewajiban menafsirkan ulang semua ajaran Islam tanpa rasa takut.

Ini bukan soal meninggalkan ajaran Islam. Ini soal mempelajari lagi ayat-ayat Tuhan dengan cara bertanggungjawab.

Termasuk dalam soal ini adalah isu homoseksualitas. Isu sistem politik. Isu kesetaraan gender. Isu sistem ekonomi.  Apapun. Sebagai contoh saya rasa kita harus mengkaji ulang apakah kewajiban berhaji itu masih harus dilakukan umat Islam di Indonesia, atau uang yang kita gunakan untuk berhaji sebaiknya kita gunakan saja untuk membangun ekonomi rakyat?

Apa yang disebut sebagai tafsir, pendapat, dan hukum yang pernah dibuat para ulama di masa lalu tentu dapat dijadikan sebagai rujukan, namun sekadar rujukan  yang tidak steril dari kritik dan perubahan.

Upaya menafsirkan ulang ini harus melibatkan mereka yang belajar agama dan mereka yang belajar ilmu-ilmu non-agama. Sebagai contoh, untuk memahami sistem politik yang lebih ideal, diperlukan kombinasi mereka yang bisa mempelajari warisan pikiran-pikiran politik dalam peradaban Islam dengan mereka yang melakukan studi tentang politik kontemporer.  Dengan kata lain, ulama yang dimaksud bukanlah cuma mereka yang berpengetahuan tentang ilmu-ilmu agama tapi juga para ahli ilmu politik.

Dalam upaya kolektif ini, pada dasarnya tidak ada yang namanya Kebenaran Mutlak yang ditentukan oleh para pemiik otoritas. Kebenaran Mutlak itu hanya dimiliki Tuhan. Bahkan Nabi Muhammad pun bisa salah. Atau setidaknya ketika Nabi Muhammad bicara, tentu dia dipengaruhi oleh konteks ruang dan waktunya.

Gagasan, doktrin, hukum apapun bisa dipertanyakan dan digugat. Termasuk soal-soal yang dianggap sudah tertulis secara jelas dalam Al Quran dan selama ini dianggap ditafsirkan dengan cara seragam oleh ulama. Langkah ini bukan sesuatu yang terlalu baru tentunya. Sebagai contoh soal kesetaraan gender. Hukum yang mengatakan hak warisan pria adalah dua kali lipat sudah lazim dipersoalkan dan ditafsirkan kembali. Begitu juga soal perbudakan. Walaupun Al Quran tidak pernah mengatakan bahwa perbudakan itu haram, umat Islam di dunia saat ini umumnya menolak lembaga yang dianggap tidak berperikemanusiaan ini.

Kalau soal warisan bisa dipersoalkan kembali, kalau soal perbudakan bisa dipersoalkan kembali, kenapa tidak membicarakan kembali homoseksualitas, soal haji, soal pemimpin perempuan, soal apapun?

Tentu saja ada mereka yang menganggap langkah semacam ini akan memporakporandakan Islam. Akan menimbulkan anarki. Kekacauan. Ketiadaan panduan yang jelas.

Dalam pandangan saya, kekuatiran itu sama sekali salah, karena sejumlah hal.

Menurut saya, kalau kita percaya Tuhan memberikan akal pada kita, maka kita harus percaya bahwa dengan akal yang kita gunakan, kita akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam sebuah perdebatan terbuka yang memberi peluang bagi siapapun bicara, pada akhirnya kita akan menemukan argument mana yang lebih masuk di akal daripada yang lain. Sebagai contoh, biarkan saja orang menganggap bahwa sebenarnya sholat itu tidak wajib. Tapi orang yang menyatakan sholat itu tidak wajib harus menyajikan argument dan data untuk mendukung pikirannya itu. Saya percaya kalau sebenarnya  Tuhan mewajibkan sholat maka di akhir perdebatan orang akan melihat bahwa argument yang akan lebih masuk akal adalah kewajiban sholat.

Kita harus percaya bahwa semua umat manusia dapat dipercaya untuk mengambil pilihan-pilihan tersebut. Mereka yang tidak berpendidikan pun akan bisa memahami mana pilihan yang lebih tepat.  Saya rasa tidak kebetulan bahwa Nabi Muhammad adalah anggota komunitas Arab yang tidak berpendidikan.  Dia bukan seorang jenius. Dia orang biasa. Dan jangan lupa, kalangan yang paling awal menerima ajaran Isam adalah kalangan tidak berpendidikan.

Pada akhirnya kita harus percaya bahwa dalam proses ijtihad berjamaah ini selalu ada peran Tuhan yang akan member hidayah bagi mereka yang mau berpikir. Jadi kenapa harus takut untuk berijtihad? Saya yakin, dengan adanya Tuhan yang terus menjaga, kebebasan berpikir itu akan membawa kita semua pada pengetahuan yang lebih baik.

Saya percaya  bahwa hanya dengan mengembalikan ijtihad pada umat Islam, apa yang disebut sebagai ‘rahmat Islam’ akan berlaku di dunia.

Kalau tidak, ya kita akan terus mengulang kesalahan yang menyebabkan Islam selama beberapa ABAD (bukan tahun, bukan puluhan tahun, tapi ratusan tahun) tertinggal, terbelakang.

Yang sekarang dibanggakan umat Islam hanyalah jumlah penganut yang banyak. Tapi secara politik, secara ekonomi, secara kebudayaan, secara peradaban, Islam terpuruk. Lebih buruk lagi, umat Islam bukan hanya terpuruk tapi juga  menjadi sumber masalah di banyak tempat. Di mana ada umat Islam dalam jumlah besar, di sana ada keterbelakangan, kemarahan, kerusuhan, penindasan.

Karena itu saya percaya bahwa ajakan untuk mengembalikan ijtihad adalah jawaban paling tepat untuk Islam yang teropuruk saat ini. Barat sudah mengajarkan dunia bahwa ketika mereka meninggalkan Abad Kegelapan dan masuk ke abad Pencerahan yang mempercayai kebebasan berpikir, Barat bangkit dari keterbelakangan.

Umat Islam tak perlu mereplikasi pencerahan Eropa. Namun, sungguh nyata, umat Islam perlu mengembalikan kembali kebebasan berpikir dan kebebasan mengemukakan pandangan yang dulu pernah  menjadikan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam.

17 Tanggapan to “Umat Islam Terus Terpuruk Bila Takut Berijtihad”

  1. Jossep Esc (@Jossep_Esc) Says:

    audzubillah minassyaithon liberal

  2. sidya Says:

    Emang kamu siapa, Ade Armando? Ulama apa? Kamu itu sejenis dg Irsyad itu sendiri, jd pantaslah bela sesama. Gimana kalo anak2 kamu kelak memilih hidup mjd lesbi dan homo?

  3. Fauzan Al-Rasyid Says:

    Bang Ade, saya juga menulis soal Irshad Manji ini: (http://fauzanalrasyid.blogspot.com/2012/05/ulasan-buku-kontroversial-irshad-manji.html) dan coba buka yang ini juga ya Bang: (http://fauzanalrasyid.tumblr.com/post/23711419980/mengapa-sembarang-menilai). Saya bukan yang pro dia, tapi saya bukan yang sangat kontra. Ada beberapa penjelasan dia yang menurut saya berpikir: “Iya juga sih”, sayangnya, tanggapan orang (kebanyakan) seperti yang di Tumblr saya itu Bang, bahkan orang-orang (Muslim) banyak yang sudah men-judge bahkan membaca saja belum. Membaca ngga “haram” kan Bang? Justru yang “haram” itu kalau menilai hanya “ikut-ikutan”, hehehe.

  4. rahmat Says:

    Saudara Ade Yth,
    Sebagai saudara saya ingin mengingatkan cara berpikir anda menyimpang dari jalur agama. Saya tidak tahu latar belakang anda, tapi saya sarankan agar anda mempelajari Islam dengan baik kepada ustadz atau ulama. Jangan hanya berdasar buku yang anda baca sendiri atau dari orang-orang yang tidak paham akan agama.
    Masih ada kesempatan waktu untuk memperbaiki diri dan cara berpikir anda, karena saya percaya anda mempunyai latar belakang pendidikan umum yg baik dan jika anda mempelajari agama dengan baik Allah Ta’ala akan memberikan jalanNya . salam

  5. Omar Salim Says:

    Bismillah..
    Betapa banyak orang yang mendewakan akal. Setiap perkara selalu dia timbang-timbang dengan akal atau logikanya terlebih dahulu. Walaupun sudah ada nash Al Qur’an atau Hadits, namun jika bertentangan dengan logikanya, maka logika lebih dia dahulukan daripada dalil syar’i. Inilah yang biasa terjadi pada ahli kalam.

    Setiap insan beriman hendaklah bersikap patuh dan tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Setiap wahyu yaitu Al Qur’an dan Hadits itu berasal dari-Nya. Rasul memiliki kewajiban untuk menyampaikan wahyu tersebut. Sedangkan kita memiliki kewajiban untuk menerima wahyu tadi secara lahir dan batin.
    Allah Ta’ala berfirman,
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
    “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. At Taghabun: 12)
    Az Zuhri –rahimahullah- mengatakan,
    مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ ، وَعَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْبَلاَغُ ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
    “Wahyu berasal dari Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan kepada kita. Sedangkan kita diharuskan untuk pasrah (menerima).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabut Tauhid secara mu’allaq yakni tanpa sanad)
    Oleh karena itu, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, maka tidak ada pilihan bagi seorang muslim untuk berpaling kepada selainnya, kepada perkataan ulama A, kyai B, ustadz C atau pun logikanya sendiri, padahal pendapat mereka telah nyata menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)
    Ibnul Qayyim –rahimahullah- mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa jika telah ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya dalam setiap masalah baik dalam permasalahan hukum atau pun berita (seperti permasalahan aqidah), maka seseorang tidak boleh memberikan pilihan selain pada ketetapan Allah dan Rasul-Nya tadi lalu dia berpendapat dengannya. Sikap berpaling kepada ketetapan selain Allah dan Rasul-Nya sama sekali bukanlah sikap seorang mukmin. Dari sini menunjukkan bahwa sikap semacam ini termasuk menafikan (meniadakan) keimanan.a ” (Zadul Muhajir-Ar Risalah At Tabukiyah, hal. 25)

    Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Walaupun akal bisa digunakan untuk merenungi dan memahami Al Qur’an, akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Bahkan akal sangat membutuhkan dalil syar’i (Al Qur’an dan Hadits) sebagai penerang jalan. Akal itu ibarat mata. Mata memang memiliki potensi untuk melihat suatu benda. Namun tanpa adanya cahaya, mata tidak dapat melihat apa-apa. Apabila ada cahaya, barulah mata bisa melihat benda dengan jelas.
    Jadi itulah akal. Akal barulah bisa berfungsi jika ada cahaya Al Qur’an dan As Sunnah atau dalil syar’i. Jika tidak ada cahaya wahyu, akal sangatlah mustahil melihat dan mengetahui sesuatu.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
    “Bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Akal bisa berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapati cahaya iman dan Al Qur’an barulah akal akan seperti mata yang mendapatkan cahaya mentari. Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” (Majmu’ Al Fatawa, 3/338-339)
    Intinya, akal bisa berjalan dan berfungsi jika ditunjuki oleh dalil syar’i yaitu dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya.

  6. MR Intifadha Says:

    apa salahnya dengan paham liberal? liberal yang mana dulu? sama seperti saya menanyakan ke teman saya, islam yg kaffah tuh yg seperti apa? yg bagaimana?

  7. ria Says:

    Sy pkir org ini cerdas…. hmmmm…. ternyata pikiran sy keliru……:(

  8. M. Ikhsan Fadhil Says:

    Dari tulisan Ade Armando ini, satu saja yang tidak saya setujui yaitu pernyataannya yang menganggap homoseksualitas bukan hal terlarang. Astagfirullah wa lil mukminina wal mukminat.

  9. omong doang Says:

    udah deh ga usah ngomongin kesetaraan dan keadilan gender tapi poligami. yg ada cuma kemunafikan. ga usah ngomongin islam tapi ga pake rujukan alqur’an. contoh rujukan alquran kaya gini: “sekarang rasakanlah azab neraka ini, yang dahulu kamu dustakan” (QS assajadah:32). apa masih mau menafsirkan sebagai metafora doang?. ijtihad itu tidak pernah putus asal perspektif dan metode nya itu yang bener. semoga Allah menunjukkan kita apa yang benar itu benar, dan yang batil itu batil.

  10. awalsavetheday Says:

    In 2007 Rosenwald provided $10,000 in seed money for Manji’s new nonprofit, Project Ijtihad, which she founded to “help build the world’s most inclusive network of reform-minded Muslims and non-Muslim allies.”( http://www.thenation.com/article/168374/sugar-mama-anti-muslim-hate )

    FYI, sekedar memperkaya informasi, terkait opini … terserah dari pribadi masing2x, diakhir nanti semua akan terbukti dan setiap diri akan menuai hasil dari amal perbuatan di dunia yang fana ini …
    saudaraku …. berhati2x lebih baik mengingat siksa kubur benar terjadi pada saat diri menanti kiamat nanti yang entah esok, 100 tahun lagi, 1000 tahun lagi … tiada yang mengerti…

  11. mauk Says:

    Ya Allah, berilah dia sedikit saja akal sehat.

  12. abdul herlambang Says:

    Ibarat kita ingin membuat resep adonan masakan dengan rasa manis,seluruh bumbu apapun tentu boleh dimasukan kedalamnya,dan cara mengolahnyapun tentu bebas sesuai keahlian,tapi ingat : rasa manis itu tidak boleh hilang.
    Begitu pula semua ke riuh an perihal : ijtihad-rekonstruksi dlsb. tentu semua itu boleh dilakukan asal tujuan utamanya bersifat essensial : menegakkan kebenaran Ilahi,bila tujuan utamanya : menegakkan ‘kebenaran’ versi sang pemikir itu sudah keluar dari essensi.
    Debat-ijtihad seputar ‘pakaian islami’ tentu boleh bila tujuan akhirnya adalah untuk menguatkan perintah agama agar wanita berkerudung,tapi bila ijtihad mati matian dengan mengerahkan seluruh argumentasi adalah agar kewajiban berkerudung menjadi tidak wajib itu sudah keluar dari essensi.
    Ijtihad seputar apapun yang ada dalam agama tentu suatu keharusan bila tujuannya : untuk menguatkan konsep kebenaran Ilahi,untuk menguatkan perintah Ilahi kalau untuk membuat ragu kepada konsep Ilahi atau untuk melemahkan semangat untuk melaksanakan perintah Ilahi apakah itu ‘ijtihad’ atau argument untuk (maaf) ‘kufur’ (?)

  13. abdul herlambang Says:

    Diakhir zaman akan terjadi pertarungan dahsyat antara orang yang ingin memurnikan agamanya,orang yang ingin berpegang teguh pada konsep kebenaran Ilahi yang baku-hakiki versus orang yang ingin mengkonsep agama mengikuti jalan pemikirannya sendiri, orang yang ingin agama diubah mengikuti sudut pandang manusia.mereka mencoba ‘mengawinkan’ agama dengan berbagai bentuk isme (kacamata sudut pandang manusia) seperti : liberalisme,humanisme,feminisme,sekularisme,dlsb. padahal itu seperti upaya menyatukan air dengan minyak.dalam kacamata agama itu adalah upaya mencampurkan antara yang hak dengan yang batil.
    Tetapi itulah salah satu ciri akhir zaman menjelang kehancuran alam semesta.saat ini kita harus menjernihkan hati dan fikiran,banyak mohon petunjuk pada Tuhan sebab pemikiran bebas-negatif kian merajalela bahkan yang menggunakan topeng agama dimana agama diperalat untuk mengekpresikan nafsu pemikiran bebas.

    Ibarat kita ingin membuat resep adonan masakan dengan rasa manis,seluruh bumbu apapun tentu boleh dimasukan kedalamnya,dan cara mengolahnyapun tentu bebas sesuai keahlian,tapi ingat : rasa manis itu tidak boleh hilang.
    Begitu pula semua ke riuh an perihal : ijtihad-rekonstruksi dlsb. tentu semua itu boleh dilakukan asal tujuan utamanya bersifat essensial : menegakkan kebenaran Ilahi,bila tujuan utamanya : menegakkan ‘kebenaran’ versi sang pemikir itu sudah keluar dari essensi.
    Debat-ijtihad seputar ‘pakaian islami’ tentu boleh bila tujuan akhirnya adalah untuk menguatkan perintah agama agar wanita berkerudung,tapi bila ijtihad mati matian dengan mengerahkan seluruh argumentasi adalah agar kewajiban berkerudung menjadi tidak wajib itu sudah keluar dari essensi.
    Ijtihad seputar apapun yang ada dalam agama tentu suatu keharusan bila tujuannya : untuk menguatkan konsep kebenaran Ilahi,untuk menguatkan perintah Ilahi kalau untuk membuat ragu kepada konsep Ilahi atau untuk melemahkan semangat untuk melaksanakan perintah Ilahi apakah itu ‘ijtihad’ atau argument untuk (maaf) ‘kufur’ (?)

    Ingat agama memiliki essensi yang mana essensi itu bisa ‘dilihat dan dibaca’ oleh orang yang peka ruhani (hati nuraninya) dan kuat logika akalnya,essensi itu menjalani ujian dari zaman ke zaman serta dihadapkan kepada ribuan prolematika yang beragam dan berbeda beda termasuk ujian berat ketika dihadapkan kepada berbagai bentuk pemikiran bebas manusia atau ‘isme’ atau ‘kebenaran’ versi sudut pandang manusia’,siapa yang keluar dari berbagai ujian itu dengan tetap membawa essensi agama ia lulus ujian tapi siapa yang kehilangan essensi agamanya akibat tergerus oleh arus pemikiran bebas manusia ia gagal !

  14. Heroe Says:

    ijtihad bukan indikasi keterpurukan umat, yang membuat terpuruk adalah kita mayoritas umat islam terlalu jauh jaraknya dengan islam itu sendiri. Antara ajaran dan kehidupan seperti barat dan timur.

  15. ali Says:

    Dan syaitan pun tersenyum karena filtrasi dia untuk menyesatkan manusia lewat kesombongan akal telah berhasil membuat manusia mengingkari Allah SWT, dengan hanya berlandaskan pada akalnya yang lemah…..sehingga manusia ingkar pada ajaran Allah.. yang dibawa oleh rasulnya bukankah homoseksual itu dilarang sejak jaman nabi Luth As.. hingga Allah murka menghancurkan negeri Sodom dan Gomoro….

  16. kaarsekar Says:

    ah coba dia datengnya ke semarang…

  17. ali Says:

    orang yahudi ini penulis!!! golongan ahli kitab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: