Bagaimana Koruptor di UI Menyebarkan Fitnah dan Memanfaatkan Media

Para koruptor di  UI akan melakukan tindak apapun untuk menghantam mereka yang berusaha mengusik kebusukannya.

Termasuk di dalamnya: menggunakan media massa untuk menyebarkan kebohongan dan fitnah.

Pelajaran ini saya peroleh dari kasus penipuan terhadap dua media online yang memfitnah gerakan UI Bersih.

Akhir April lalu, Rakyat Merdeka online dan  teraspolitik.com, tertipu oleh ‘seseorang’ dari Universitas Indonesia yang menyebarkan kabar bohong tentang Gerakan UI Bersih. Karena si penelpon dianggap orang penting yang tak mungkin berbohong, kedua media tersebut  begitu saja menyiarkan berita negatif tentang Gerakan UI Bersih itu. Nyatanya, narasumber rahasia tersebut menipu mereka.

Kasus ini sudah diadukan oleh UI Bersih ke Dewan Pers. Dalam dua keputusan terpisah (24 Mei dan 6 Juni 2012), Dewan Pers (DP) sudah menyatakan Rakyat Merdeka Online dan teraspolitik.com bersalah. Menurut DP, kedua media  telah melakukan pelanggaran kode etik jurnalistik dalam hal pemberitaan yang menggambarkan UI Bersih menolak masuknya Jusuf Kalla, Said Aqil Siradj, Bagir Manan dan Endriartono Sutarto sebagai anggota Majelis Wali Amanat UI (MWA-UI).

Menurut Dewan Pers yang diketuai Prof. Dr.Bagir Manan  kedua media online tersebut menyajikan berita tidak akurat dan bersifat menghakimi .

Karena itu, Dewan Pers memerintahkan kedua media tersebut untuk mengajukan permintaan maaf kepada UI Bersih dan memuat hak jawab dari UI Bersih.

Tentu saja keputusan DP itu penting. Namun yang lebih yang penting ini merupakan bukti bagaimana busuknya para koruptor di UI memanipulasi fakta untuk melindungi diri mereka.  UI Bersih  menganggap masalah ini tak perlu diperpanjang dengan mengadukan media sampai ke ranah pengadilan mengingat kedua media itu hanyalah korban dari propaganda busuk yang dilakukan kelompok-kelompok yang membenci upaya yang dilakukan UI Bersih untuk melawan korupsi massif di UI.

Agar lebih jelas,  pemberitaan yang dipersoalkan adalah yang terkait dengan peristiwa Walk Out (WO)  sejumlah anggota UI Bersih dari Rapat Paripurna Senat Akademik Universitas  UI pada hari Kamis , 26 April 2012, yang mengagendakan pemilihan anggota  MWA  unsur masyarakat.

Aksi WO itu dilakukan sebelum pemilihan dilakukan. Para anggota UI Bersih melakukan WO sebagai bentuk protes atas sikap Ketua Sidang dan sebagian anggota SAU yang mengabaikan musyawarah dan diskusi dalam proses pemilihan  anggota MWA.  Karena  Ketua Sidang secara jelas berkeras agar pemilihan langsung dilakukan melalui voting tanpa memusyawarahkan pilihan, belasan anggota SAU menyatakan  protes dan keluar dari ruang rapat sebelum pemilihan dilakukan.

Di antara mereka yang melakukan WO, antara lain adalah Prof. Chan Basaruddin (Dekan Fakultas Ilmu Komputer), Dr. Ratna Sitompul (Dekan Fakultas Kedokteran), Dr. Riga Adiwoso (Guru Besar FE), Dr. Ade Armando (FISIP), Prof. Ferdinand Saragih  (Guru Besar FISIP), dll.

Nyatanya, kedua media yang dipersoalkan menyajikan berita yang sama sekali tak berdasar fakta. Mengenai aksi WO tersebut, rakyatmerdeka online memuat berita berjudul  ‘JK Cs Sempat ‘Ditolak’ Masuk UI’  ( 26 April 2012); sementara teraspolitik.com memuat tulisan berjudul: . ’15 Akademisi UI Tolak Jusuf Kalla dan Tokoh Lainnya Masuk Majelis Wali Amanat’, (Teras Politik,  Jumat 27 April 2012.

Dalam kedua berita yang redaksi penulisannya hampir sama itu, para aktivis UI Bersih digambarkan sebagai dengan sengaja WO karena menolak kehadiran Jusuf Kalla dan kawan-kawan – termasuk Bagir Manan, tentunya –  dalam Majelis Wali Amanat UI.

Di luar itu ada tiga media online lain yang menyajikan berita yang jauh lebih kasar. Tiga media online tersebut adalah:

–          Berita Indonesia yang memuat berita berjudul ‘Chan Basaruddin Kecewa Bagir Manan Terpilih sebagai MWA UI’, (Senin 30 April 2012)

–          Beber.in dengan berita berjudul:  ‘Ade Armando WO, Tolak JK dan Bagir Manan sebagai MWA UI’ (26 April 2012).

 

–          Kabar Asia dengan berita berjudul ‘Dr. Ratna Sitompul Tolak Panglima TNI Endriartono Sutarto’ (Kamis, 26 April 2012)

 

Ketiga media online tersebut tidak masuk dalam keputusan DP, karena DP mengaku kesulitan melacak keberadaan kantor mereka. Di blog media tersebut, tak ada data yang akurat mengenai redaksi. Ketika nomor telepon yang tertera dihubungi, ternyata nama media tersebut tak dikenal. Karena itu, ketiga media tersebut dianggap bukan sebagai pers sesungguhnya dan diduga lebih sebagai media yang memang sengaja dibuat untuk keperluan penyebaran berita-berita bohong.

 

Terlepas dari ketidakjelasan status sebagian media online tersebut, sebagaimana isi pengaduan yang diajukan UI Bersih ke DP, kelima media tersebut secara jelas menyebarkan kabar bohong.  Faktanya  tidak pernah ada penolakan UI Bersih terhadap keenam nama tokoh yang terpilih sebagai anggota MWA.  Dekan Fasilkom Chan Basaruddin tidak pernah menyatakan kecewa dengan terpilihnya Prof. Bagir sebagai MWA UI.  Ade Armando tidak pernah menyatakan menolak JK dan Prof. Bagir.  Dr. Ratna Sitompul tidak pernah menolak Endriartono.

 

Tujuannya tentu saja adalah mengadu domba Jusuf Kalla, Endiratono Sutarto, Bagir Manan dan Said Aqil Siradj denga UI Bersih. Keempat tokoh masyarakat itu adalah anggota baru MWA, sebuah lembaga yang berwenang mengontrol Rektor UI dan bahkan memilih Rektor UI baru pada Agustus 2012 ini. Bisa dibayangkan keempat tokoh tersebut akan memiliki peran penting dalam sepak terjang MWA. Di sisi lain, UI Bersih adalah gerakan para pengajar dan mahasiwa yang memperjuangkan  UI  bebas dari korupsi dan mismanajemen yang selama beberapa tahun terakhir ini dipercaya dipraktekkan oleh Rektor yang berkuasa.  Konflik antara MWA dengan UI bersih tentu adalah tujuan penyebaran kebohongan ini.

Karena itu, pertanyaan pentingnya adalah: siapakah sumber berita bohong tersebut?

Seorang narasumber yang dikutip oleh media tentang rapat SAU tersebut adalah Ketua SAU, Prof. Sudijanto Kamso. Namun penyebutan dirinya tidaklah terkait dengan peristiwa WO.  Ironisnya, dalam hal inipun, Sudijanto pun membantah bahwa ia pernah bertemu dengan wartawan sesudah rapat SAU. Bantahan ini ia lontarkan dalam rapat resmi SAU segera sesudah berita ini dipublikasikan.

Jadi, siapakah sumber kabar bohong itu?

Dalam rapat dengan Dewan Pers yang saya hadiri, jurnalis dari Rakyat Merdeka Online, Zulhidayat Siregar, tidak mau menjawab langsung pertanyaan tersebut.

Zul – begitu dia sering dipanggil – nampaknya adalah orang pertama yang menulis berita soal WO ini. Berita Zul inilah yang kemudian ditulis ulang oleh Teras Politik.

Zul hanya bercerita bahwa  ia ditelepon oleh seseorang di UI yang bercerita tentang aksi WO UI bersih untuk menentang   Jusuf Kalla dkk.  Zul mengaku salah karena ia tidak mengkonfirmasi berita ini pada anggota UI Bersih. Tapi masalahnya mengingat posisi orang itu, ia percaya begitu saja.

Ketika didesak di rapat untuk menyebutkan nama itu, Zul menolak. Ia memang tidak bisa didesak lebih jauh karena dalam UU Pers, seorang wartawan memang memiliki hak tolak untuk membeberkan identitas narasumber yang dirahasiakan. Walau saya menyatakan bahwa hak tolak itu seharusnya digunakan hanya untuk melindungi narasumber yang jujur, Zul tetap berkukuh untuk merahasiakannya. Saya harus menghormati pilihan itu, karena memang hanya hakim di pengadilan yang bisa memaksa.

Singkat kata, DP akhirnya memutuskan bahwa Rakyat Merdeka Online dan Teras Politik memang telah melanggar etika jurnalistik seperti yang diungkapkan di awal tulisan ini. Menurut DP, tentang ketiga media lain, UI bersih dipersilakan memperkarakannya secara hukum mengingat mereka tidak terdaftar sebagai bagian dari masyarakat pers yang menjadi wilayah kewenangan DP.

Buat saya dan kawan-kawan UI Bersih, perkara dengan kedua resmi ini bisa dianggap sudah selesai. UI Bersih memang masih diberi kesempatan untuk membuat hak jawab di kedua media yang tentu akan kami manfaatkan.  Namun yang lebih penting ini adalah pelajaran tentang betapa busuknya kelakuan para koruptor di UI. Mereka memanfaatkan kebebasan pers untuk menyebarkan kebohongan.  Mereka pintar, tamak dan jahat.

Namun sebagai penutup tulisan, saya akan ceritakan pada Anda hasil pembicaraan saya dengan Zul di luar ruang rapat Dewan Pers. Karena kami sebenarnya sudah saling mengenal lama, saya tanya kembali pertanyaan yang mengusik saya: “Zul, siapa sebenarnya yang menelepon Anda dan menceritakan kebohongan tentang kami itu?”

Zul meminta saya tidak mendesaknya. “Abang sudah tahulah…,” katanya dengan tersenyum.

“Apakah yang menelepon itu adalah Devie?” tanya saya. Nama yang saya sebut adalah Devie Rahmawati yang adalah sekretaris Rektor Ui Gumilar Somantri yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan Gumilar  dan adalah pimpinan humas sesungguhnya di UI.

“Bukan, demi Allah  bukan…”   jawab Zul.

“Apakah Siane?” tanya saya lagi. Siane adalah nama pimpinan humas UI yang resmi.

“Bukan….” Jawab Zul sambil tertawa.

Ketika itulah, saya tanya kemungkinan pamungkas: “Jadi, apakah Gumilar sendiri yang menelpon Anda…?”

Ditanya begitu, Zul tidak menjawab dan dengan sopan meninggalkan saya. “Sudahlah, Abang sudah tahu…,” katanya masih dengan senyumnya yang khas.

Para koruptor di UI memang akan melakukan apa saja. Apa saja.

 

 

2 Tanggapan to “Bagaimana Koruptor di UI Menyebarkan Fitnah dan Memanfaatkan Media”

  1. joyo Says:

    kagak ade suaranye lagi bang??
    dah KO ya?
    dah di skak mat sama bung gumilar?

    hahaha

  2. Jeck Says:

    Kebenaran mesti tetap disuarakan Bang! Jalan terus mesti kerikil degil menggeliat mengintervensi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: