Film Cinta Tapi Beda dianggap Menghina Minangkabau? Di Mana Logika?

 

CTBProtes dan gugatan hukum terhadap film Cinta tapi Beda adalah persoalan serius. Sebagai seorang beretnik Minang, saya memandang apa yang dilakukan penggugat – Komunitas Minang seJabodetabek – menodai keharuman nama Minangkabau.

Seperti ramai diberitakan, film Cinta Tapi Beda (CTB) dituduh ‘menanamkan rasa kebencian dan penghinaan di muka umum terhadap etnis suku Minang.’

Dengan dasar tuduhan itu, perwakilan berbagai Organisasi suku Minang seperti Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM), Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) dan Ikatan Pemuda Pemudi Minangkabau Indonesia (IPPMI) melaporkan Hanung Bramantyo (sutradara) dan Raam Punjabi (produser MUltivision Plus) ke Polda Metro Jaya.

Film garapan Hanung itu dianggap telah melanggar ketentuan dalam pasal 156 KUHP, yang bunyinya : “barangsiapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun …”

Apa kesalahan Hanung?

Kuasa hukum aliansi Komunitas Minang seJabodetabek , Zulhendri Hasan, menggugat Hanung dan Raam karena dalam film itu ada sosok figur beretnik Minang (diperankan Agni Pratistha) yang beragama Katolik dan memakan babi.

Menurut Zulhendri penggambaran sosok semacam itu adalah penghinaan terhadap etnik Minang karena “suku Minang identik dengan Islam.”

“Kalau ingin menampilkan non-muslim, ya cari dong tempat sosial-kultur yang lain, jangan di Padang,” ujar Zulhendri okezone, 7 Januari 2013)

Zulhendri juga menghimbau agar Hanung segera meminta maaf kepada seluruh warga Minang di Tanah Air karena apa yang dibuat Hanung, dianggap telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

“Kami juga minta agar Hanung minta maaf pada seluruh masyarakat, terlebih pada warga Minang. Apa yang dilakukannya, membuat kami tidak nyaman. Dan, dia melanggar HAM,” ungkapnya.

Multivision Plus sendiri sampai saat ini tak bersedia menarik film itu dari peredaran. Tampaknya mereka siap untuk berhadapan dengan para penggugat di pengadilan.

Bagi saya ini persoalan serius karena gugatan itu menunjukkan betapa ada jurang sangat jauh antara kecerdasan para tokoh Minang di masa lalu dengan para penggugat itu sekarang.

Masyarakat Minang pernah melahirkan putra-putra terbaik mereka di masa lalu: dari Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Buya Hamka, Usmar Ismail, Asrul Sani, dan sebagainya. Sebagai orang MInang saya selalu bangga bahwa saya datang dari sebuah masyarakat yang sangat menghargai intelektualitas seperti itu.

Yang kini kita lihat bersama adalah pelecehan intelektualitas.

Bagaimana mungkin bahwa menggambarkan ada orang Minang beragama Katolik adalah penghinaan terhadap Minang? Bagaimana mungkin menggambarkan ada orang Minang beragama Katolik adalah pelanggaran HAM?

Apakah beragama Katolik adalah sesuatu yang hina? Apakah memakan babi adalah sesuatu yang hina?

Jadi ada sebuah persoalan kekacauan logika yang mendasar di sini.

Harap dicatat, orang Minang di film itu tidak digambarkan sebagai sosok buruk dan busuk.

Bahwa jarang sekali ada orang Minang beragama Katolik, tentu benar adanya. Tapi siapa pula yang membuat peraturan bahwa orang Minang itu identik dengan Islam?

Para penggugat bahkan bukan keberatan karena orang Minang di situ digambarkan sebagai pelaku kejahatan.  Sosok Minang di situ digambarkan sebagai beragama Katolik, bukan sebagai penzinah, pembunuh, koruptor, atau politisi hitam. Lalu di mana masalahnya?

Sebagai orang Minang, saya keberatan karena apa yang dilakukan Komunitas Minang seJabodatebek itu seolah-olah menggambarkan bahwa orang Minang sedangkal itu cara berpikirnya.

Karena itu, saya berharap Multivision tidak perlu menarik film itu dari peredaran. Hanung tidak perlu minta maaf karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan.

Dan sebagai seorang Minang yang bangga dengan keMinangan saya, yang senang bersantap di rumah makan Padang, yang sholat lima waktu, saya minta maaf atas kelancangan saudara-saudara saya yang mengajukan gugatan.

390 Tanggapan to “Film Cinta Tapi Beda dianggap Menghina Minangkabau? Di Mana Logika?”

  1. Nana Says:

    Apakah beragama Katolik adalah sesuatu yang hina?

    Jwb: Beragama katolik adalah identik dengan kekafiran. Allah Ta’ala sendiri yg menghinakan orang kafir :
    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa`: 150-151)

    Penjelasan Mufradat Ayat
    يَكْفُرُونَ =“Yang kafir.” Yang dimaksud orang-orang kafir di sini adalah Yahudi dan Nashara sebagaimana yang disebutkan oleh Qatadah, As-Suddi, dan yang lainnya.

    Apakah memakan babi adalah sesuatu yang hina?

    Jwb: Jelas hina, karena termasuk melakukan sesuatu yg jelas-jelas sudah ada larangannya dalam Al-Quran (lihat S. Albaqarah 173)

    Bahwa jarang sekali ada orang Minang beragama Katolik, tentu benar adanya.
    Tapi siapa pula yang membuat peraturan bahwa orang Minang itu identik dengan Islam?

    Jwb: Ada peraturan yg tidak tertulis, adat bersandi syara’ (hukum), syara’ bersandi pada Kitabullah (Al-Qur’an)

    Sosok Minang di situ digambarkan sebagai beragama Katolik, bukan sebagai penzinah, pembunuh, koruptor, atau politisi hitam. Lalu di mana masalahnya?

    Jwb: Masalahnya katolik jelas kafir dan musyrik, menganggap Allah punyak anak. Sementara penzinah, koruptor atau politisi hitam asalkan tidak musyrik sampai akhir hayatnya masih ada harapan dapat ampunan dari Allah Ta’ala.
    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An Nisaa : 48]

    Dan sebagai seorang Minang yang bangga dengan keMinangan saya, yang senang bersantap di rumah makan Padang, yang sholat lima waktu, saya minta maaf atas kelancangan saudara-saudara saya yang mengajukan gugatan.

    Jwb: tidak perlu minta maaf, anda sedang tidak mewakili orang minang. Dan orang minangpun tidak rela anda wakili.

    • adearmando Says:

      Wah, Nana, sikap semacam Anda itu yang menjadikan agama sebagai pembawa malapetaka di dunia.
      Kalau Anda nyaman menyebut agama Katolik sebagai ‘hina’, maka siap-siap saja mendengar Islam disebut sebagai ‘hina’, ‘agama teroris’, dst…

      • oceania Says:

        Saya setuju dgn anda, Indonesia didirikan bkn hanya dgn agama islam, masih ada agama lainnya🙂

        Dan setiap suku yg mayoritas islam, belum tentu semuanya islam, pasti ada agama lainnya🙂

      • dodski Says:

        selamat datang di kepicikan berpikir bangsa kita yang tidak bisa menghargai perbedaan. dan mungkin para cendekiawan minang pun akan meratapi rekan-rekan yang saling menghancurkan satu sama lain dengan pikiran piciknya

      • cyrususnika1 Says:

        Saya setuju. tidak ada yang hina, yang salah, yang keliru dalam memeluk kepercayaan dan agama manapun. Dan, ras, suku serta agama adalah berbeda. Tidak berarti Batak Karo semuanya Kristen. Tidak semua Mandailing beragama Islam. Suku tidak ada sangkut pautnya dengan agama yang dipeluk. Hati-hati dalam mengaitkan segala sesuatu.🙂

      • meinnameistmusik Says:

        Saya bisa mengerti perasaan Mba Nana, apakah tepat menghina agama dan apa yang dipercayai orang lain di NKRI ini? Sejak zaman nenek moyang kita, keberagaman dan toleransi yang membesarkan tanah air ini, mengapa sekarang kita harus menghakimi agama lain, seolah-olah agama kita yang paling benar? Kalau Katolik itu musyrik, apakah Anda merasa paling suci dan tidak mau berteman dengan para musyrik ini? Daripada menganggap diri paling benar dengan memakai tameng ayat-ayat, lebih baik kita intrsopeksi diri masing-masing sebelum bicara. Oh ya, jangan lupa pakai akal sehat ya Mba…

      • u2 Says:

        hidupnya jangan di Indonesia dong, cari negaa yang hanya mengakui islam satu-satu nya agama yang diakui.

      • mariodevan Says:

        nana hidup di hutan saja ya, bersosialisasi sama batu…

      • Rifnal Arifin Says:

        Swear saya sering sepaham dengan ulasan anda di media, tapi untuk hal ini sangat diluar ekspektasi saya. karena argumen yang sdr. Nana sampaikan berdasarkan landasan yang sama dengan yang anda Imani yaitu Alquran. Menurut saya Sdr. Nana sama sekali tidak menggunakan agama untuk membawa dunia menjadi malapetaka. Justru dia ingin melindungi haknya sebagai masyarakat minang yg sudah punya kesepakatan …. seperti salah satu komentar di rubrik kompasiana “apakah orang hindu akan suka bila dicekoki kemulutnya daging sapi….. “

      • ekorgasm Says:

        @ adearmando… gak usah ditanggapi mas, orang2 yg menghina/mendiskreditkan agama lain biasanya udah dijamin masuk surga sama Allah, jadi percuma diajak toleran….

      • Rahayu Says:

        anda salah, saya fikir anda orang pintar tadinya berani menulis artikel ini disini tapi ternyata tidak juga ya? harus anda lihat kapasitas dia (Nana) sebagai peng – komen… dia disini memberi komen dengan apa yang ada didalam keyakinannya (itu kapasitas dia disini) untuk menjawab apa yang anda pertanyakan, bukan membahas agama lain atau menghina agama lain (jangan2 anda ini bukan orang minang dan bukan mulim lagi? jangan2 anda memang sengaja menghinakan kami sebagai orang MINANG? anda sekarang yang harus berhati-hati karena anda sudah terlalu jauh mengartikan apa yang di-komen oleh Nana sehingga menyebut “AGAMA TERORIS” segala) anyway, itu sangat benar (NANA) karena anda sepertinya bukan orang minang yang makan ajaran, bagaimana anda bisa mengatakan bahwa: Tapi siapa pula yang membuat peraturan bahwa orang Minang itu identik dengan Islam? anda tahu atau tidak bahwa orang minang itu mempunyai ajaran/semboyan/pepatah-petitih/etika/tata krama/kebiasaan/atau apalah namanya yang sudah diajarkan turun temurun dan yang diyakini serta dituruti dan diagungkan oleh orang minang? yaitu: ADAT BERSANDI SYARA’ dan SYARA’ BERSANDI KITABULLAH!!! anda mengerti tidak artinya? perlu dipertanyakan sepertinya ke “MINANG”an anda….?????????????

      • Rahayu Says:

        anyway, itu sangat benar (NANA) saya maksud disini anda sangat benar, dan kata selanjutnya seperti dibawah adalah untuk adearmando… (sampe belibet gw nulisnye saking emosinye… sorry Nana…:)🙂🙂

      • dellchan Says:

        ini tentang film. dunia penuh kreatifitas. kreatifitas yang seharusnya memberi pengaruh positif. yuk kita bahas kreatifitasnya. menurut anda film ini dibuat pake riset ga?

      • emil Says:

        Saya bangga beragama katolik yang selalu berlandaskan cinta kasih tnpa pernah membedakan berdasarkan apapun. Bahkan kasihilah musuhmu.. Sebarkan cinta kasih kpd semua org karena semua manusia sama di mata Tuhan..

      • putra jordas Says:

        yang berpikir dangkal itu orang yang menggugat atau kamu gays, perbaharuilah cara berpikirmu itu ya, jangan sok jadi pahlawan kesiangan, bagaimana kita adu nalar ja…..

      • putra jordas Says:

        hmm katanya kamu orang minang, ternyata baru kali ini sya menemukan orang yang paling bodoh diantara orang yang paling bodah diminang diminang ini, ditambah lagi kamu menanyakan logika orang, kamu tahu nggak sih, tentang pepatah petitih, tau jangan2 kamu bukan orang minang lagi, yang perlu ditanyakan lagi logikanya, bukan orang lain tapi kamu sendiri, harap dgali lagi pengetahuan tentang minangnya ya gays…..

      • Daniel Says:

        kok islam dibilang agama teroris sih?? itu kan islam yg sesatnya namanya islam khawarij. islam yg sesungguhnya itu yg diajarkan oleh nabi muhammad saw. tdk mengajarkan terorisme

    • Anita Zhang Says:

      Saya kira anda terlalu berlebihan menanggapi blogpost ini. Blogpost ini mustinya membahas Hanung dan film barunya, bukan membanding-bandingkan agama A dan B. Ada hal-hal yang lebih baik disimpan tanpa perlu dipublikasikan apalagi di tempat umum yang bisa dibaca semua orang. Tuhan saya tidak pernah mengajarkan untuk menghina agama lain, dan saya yakin Allah anda juga tidak pernah. Tidak ada agama yang hina, yang hina justru orang-orang yang mengaku beragama dan taat ke agamanya tapi justru menghina agama lain. Tiap agama mungkin memberi ajaran yang berbeda-beda, namun TIDAK ADA agama yang mengajarkan untuk menghina agama lain (kecuali ajaran-ajaran sesat pastinya). Tuhan, Allah, Kristus, Buddha–siapapun sebutannya–mengajarkan kasih, mengasihi diri sendiri dan sesama, tanpa melihat suku, agama, dan ras. Dan satu hal yang saya yakin, God is too great to be troubled by the insults of fools.

    • arniarnie Says:

      Anda ternyata tidak tahu banyak soal Katolik, jadi hati-hati ya bila beri komentar🙂

      Saya senang hidup di Indonesia karena keanekaragaman suku dan agama membuat saya belajar menghargai.

      • aldy sugara Says:

        Saya setuju dengan Nana, karena kita disini berbicara soal Minangkabau, bukan yang lainnya di wailayah indonesia, tolong di pahamin itu Hanya biacara minanga Bahwa:
        di Minang itu adat bersandikan Syarak, Syarak bersandikan Kitabullah, artinya
        Adat itu bersandikan agama (dalam hal ini isalam, dan syarak bersandikan Kitabullah, dalam hal ini Alqur’an), jadi jelas adat dalam minangkabau berpanutan dengan agama islam, kalau kalau ada yang membawa2 kebiasaan minangkabau diluar agama islam itu dah jela2 pelecehan terhadap adat yang sudah dibuat oleh leluhur kita terdahulu,
        jadi siapapaun yang setuju dengan mengacak2 adat kebiasaan di alam minangkabau, sebaiknya anda belajar memahamin apa yang ada di minangkabau,
        saya tidak menampik adanya agama lain, tapi itu bukan putra daerah, yang notabene 100% beragama Islam, walaupun ada putra daerah yang beragama selain islam itu dah jelas seorang yang Murtado,
        jadi saya mendukung, lanujutkan tuntutan itu tunjukkan kalau di minangkabau itu tidak bisa disamakan dengan wilayah lain, yang menyamakan semua agama,

    • urang awak Says:

      🙂 ulangi …
      tidak perlu minta maaf, anda sedang tidak mewakili orang minang. Dan orang minangpun tidak rela anda wakili.

    • Logikanya_mana? Says:

      Memang nana sudah menonton filmnya ya?
      Kalo sudah menonton pasti tdk akan berkomen seperti itu🙂

      • efri Says:

        adat basandi syara” syara” basandi kitabullah, 100 persen minang islam..kalo ada di luar sana orang yg mengaku minang tapi non muslim dianggap murtad dan keluar dri minang itu sendiri minang identik dengan islam

    • ahmed Says:

      Dan komentar Nana ini baru saja menjustifikasi HALALnya korupsi dan kejahatan lain di Indonesia.

      Bodoh sekali

      Saya berdoa semoga generasi penerus bangsa tidak sepicik dan sesempit anda, dan mudah2an pula, negara dimana anak2 saya hidup kelak tidak dipimpin oleh seorang Nana.

      Sebagai seorang muslim, saya malu bahwa ada muslim lain seperti anda berani berpendapat demikian.
      Pantas saja, negeri ini tidak ada habisnya dr ladang korupsi, krn org2 seperti Anda ini masih hidup dan bernafas.

      • adang Says:

        Kalau tidak mengerti adat istiadat Minangkabau jangan berkomentar.. saya yakin anda bukan orang minang.. saya setuju dengan Nana..

      • minang Says:

        dan saya juga tahu si ahmed ni juga bukan muslim😀..paling juga antek2 jil yang mengaku muslim atauun cuma islam kejawen ..komentarnya sangat tippikal sekali😀..dan saya sangat tahu orang minang tu karakternya bagaimana dalam beargemen tentang islam dan komentarnya tidak seperti anda…justru anda2 lah yang berfikiran ppicik dan sempit tentang org minang, yang ingin merusak adat istiadat org minang..jauh sebelum indonesia merdeka, jauh sebelum anda lahir, dan jauh sebelum pluralisme didengung2kan minang sudah jaya, kuat, aman dan tentram, dan satu lagi asal anda tahu, minang adalah founding fathernya indonesia🙂

      • muhammad fauzan (@UcanMuhammad) Says:

        saya sebagai orang minang kabau yang lahir dan besar di minang dan dididik oleh budaya minang merasa film ini menghina kaum minang, tidak ada satupun orang minang yang beragama selain islam camkan itu. karena itu sudah ada dalam peraturan tidak tertulis yang berbunyi ; adat basandi syarak syak basandi kitabullah. jadi bagi anda yang bukan dari suku minang tidak usah menambah rumit nya masalah ini.

    • raining sun Says:

      dude, you’re drunk.

    • Abduh Says:

      Aneh, kalau anda termasuk golongan yang mengutuk orang-orang yang menghina Islam sebagai kaum tidak berakal, kenapa lantas melakukan hal serupa terhadap agama lain?

      Pendapat anda berpotensi menyulut konflik dan mencederai kemanusiaan. Ironi bukan? Terutama buat pemeluk sebuah agama yang mengklaim sebagai berkah bagi alam semesta…

    • pluralis Says:

      wah jelas sekali penjelasanya saya yakin anda sangat taat dan begitu memegang teguh agama anda sehingga anda buta bahwa dengan sikap seperti itu hanya mencerminkan bahwa agama anda sangat tidak menjunjung tinggi kedamaian, bahwa agama anda tidak menghormati agama” besar yang menjadi inspirasi lahirnya agama anda, bahwa jika tidak ada yahudi atau nasrani islam tidak bakalan ada. indonesia plural dan beragam Tuhan juga menciptakan keberagaman dan perbedaan sebagai kekayaan, jadi kalau mau berpicik”an dan berfanatik”an bawa saja ke arab sana! jgn di indonesia!

    • Menulis Tips Says:

      wah menyedihkan sekali kalo begitu

    • fatah Says:

      Makan babi kok dibilang hina,
      Mungkin haram bagi umat Islam, tapi jangan mengharamkan jika umat lain yang memakannya,
      Dalil-dalil tersebut kan dalilnya umat Islam, jadi sangat tidak relevan jika dipaksakan untuk diterapkan pada umat lain (bukan Islam),

      Orang kafir kan tidak harus dimusuhi,
      Malah ada yang wajib dilindungi,…

    • dragon (@gold_dragon_7) Says:

      saya selalu prihatin dgn org2 yg menganggap agamanya sendiri yg paling top, entah apapun itu agamanya … labelnya boleh agama, tp kl intinya menyebarkan kebencian, bagi saya pribadi itu bukanlah agama

    • nianichi Says:

      Ada quote menarik pada tulisan bang Ade, “Bagi saya ini persoalan serius karena gugatan itu menunjukkan betapa ada jurang sangat jauh antara kecerdasan para tokoh Minang di masa lalu dengan para penggugat itu sekarang”

      Mungkin nana adalah bukti nyata orang Minang jaman sekarang. Sangat di sayangkan jika orang minang sekarang bermental seperti ini, bisa-bisa jadi sumber pertikaian

    • edwin Says:

      Saya juga Minang dan saya rela diwakili adearmando karena saya yakin Allah milik seluruh agama.

      • putra jordas Says:

        klo sdr edwin orang minang apa alasan sdr mengtkan bhwa allah itu milik semua agama, klo bicara tolng pnya alasn ya jngn asal bcara ja maaf sbkmnya ya edwin sya sudh bosan mendengar orang bicara asal-asalan ja

      • Ilham Says:

        Anda salah..atas dasar apa semua agama milik allah…klw memang anda orang minang pasti sering dengar tu ayat ”innaddina’indallahil islam” yg artinya Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah agama islam”….
        yang kayak gini nih bikin sesat…ngomong gak ada dasar cuman kayak baling2 di atas bukit..masalah agama itu harga mati pak..jadi kalau gak tau nyimak aja…dari pada bikin sesat..

    • Anthony Bachtiar Says:

      Karena saya bukan ahli agama yang identik dengan pakar bidang dogmatik melainkan saya hanya umat biasa, kadang saya menalari sesuatu memakai logika.
      Agama Katholik atau Kristen ada karena meneruskan ajaran nabi Isa, secara logika berarti bahwa Nabi Isa membawa ajaran Kekafiran ke dunia. Untuk meniadakan kekafiran artinya kita juga harus meniadakan kehadiran Nabi Isa dari daftar Nabi dan dari sejarah. Setujukah kita dengan logika tersebut?

      Bahwa segala sesuatu di dunia ini ada dan hadir adalah hanya karena izin Nya Allah semata, secara logika kita patut mempertanyakan kepada Allah mengapa membiarkan ada kekafiran di dunia ini?
      Mengapa bangsa Indonesia dibiarkan terdapat perbedaan agama pada suatu wilayah, suatu suku, suatu keluarga. Secara logika Allah membiarkan suatu bangsa dan negara terpecah belah.

      Kalau diteruskan akan banyak pertanyaan pertanyaan bersifat logika kepada Allah.

    • Jannisha Says:

      Orang yang menghina agama orang lain lah yg justru imannya dipertanyakan, bukankah di surat Al-Kafirun ayat 6 sudah jelas? Jangan mempermalukan islam sbg agama yg mementingkan kedamaian.

      • Buxan Habib Rizieq Says:

        Nana Says:
        Januari 8, 2013 pada 2:34 am
        Apakah beragama Katolik adalah sesuatu yang hina?

        Jwb: Beragama katolik adalah identik dengan kekafiran. Allah Ta’ala sendiri yg MENGHINAKAN orang kafir :
        “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa`: 150-151)

    • emil Says:

      Saya bangga beragama katolik yang selalu berandaskan cinta kasih tanpa pernah membedakan berdasarkan apapun. Bahkan kasihilah musuhmu..Sebarkan cinta kasih kpd semua org karena semua manusia sama di mata Tuhan..

    • gary Says:

      Wah Nana, kelihatan sekali anda asal berbicara tentang ajaran Katolik. Anda katakan dengan beraninya dan sok tahu bahwa di Katolik diajarkan Allah memiliki seorang anak. Saya katakan anda salah besar. Jangan asal bicara, kalo anda sendiri tidak mengerti apa yang anda bicarakan.

    • WINDY Says:

      Ass..saya sangat bersyukur kepada ALLAH karna atas kehendaknya yg telah mempertemukan saya dgn KI MANDALA dan atas bantuan AKI yg melalui jalan togel ini saya sekarang bisa sukses dan sudah mempunyai usaha sendiri,nomor ritual KI MANDALA memang selalu tepat dan terbukti dan bagi anda yg ingin sukses seperti saya silahkan hubungi Beliau di 082-348-985-714 saya sih dulunya tidak percaya tp klau dipikir2 tidak ada salahnya juga saya coba mengikuti prediksi KI MANDALA dan ternyata ALHAMDULILLAH berhasil,,!

    • ario Says:

      “Masalahnya katolik jelas kafir dan musyrik, menganggap Allah punyak anak. Sementara penzinah, koruptor atau politisi hitam asalkan tidak musyrik sampai akhir hayatnya masih ada harapan dapat ampunan dari Allah Ta’ala.”

      Entah harus sedih atau tertawa baca komen2 macam begini. Membayangkan menurut agama mbak Nana ini, Mother Theresa sdh pasti skrg sdg terbakar di neraka, sedangkan Osama bin Laden dan Noordin M Top lg ngantri masuk surga atau bahkan sdh di surga? I rather skip such a cruel God.
      Apa2an sih ini?
      Baguslah punya kebanggaan beragama dan kesukuan, tp jgn smp men”tuhan”kan agama dan suku. Merasa terhina tp sebaliknya tanpa ragu2 menghina saudara2nya sesama manusia.
      Saya tdk mendukung film ini, belum nonton, minat akan nonton pun tidak. Hanya gatel saja baca komen2 norak dr bigot macam Nana ini.

    • ari Says:

      jgn terlalu pendek dalam memahami ilmu agama.
      islam itu indah. jd jgn mencap bahwasanya agama lain itu hina. silahkan di tafsir lebih dalam di dalam al qur’an.
      lagian indonesia jg didirikan atas berbagai perbedaan dan telah disatukan dalam pancasila. jd jgn terlalu pendek dalam berfikir.

      • putra jordas Says:

        buat ari sejauh mana pengetahuan agama anda, hingg kmu beraninya mengtakan jgn terlalu pendek dalam memahami ilmu agama.

    • joe nasroen Says:

      Nana, coba sedikit relax dalam menanggapi sesuatu yang kita anggap masalah kita berada dalam suatu ruangan yang dimiliki banyak orang , semua punya hak hak yang sama dan punya persepsi yang berbeda-beda. Jangan mendorong timbulnya suatu masalah baru dalam menyelesaikan masalah.

    • Ds Dhani Says:

      Banyak orang Minang yang merantau ke pulau-pulau lain dan berkeluarga di sana, Salah satunya ke Flores Barat. Di sana perkembangan kebudayaannya mengalami perubahan, tidak lagi matriakhat, tapi patriakhat. Tapi ini tidak berarti unsur-unsur Minangnya dilupakan. Ketika Belanda datang, datang pula misionaris Katolik. Sekarang terkenal di sana orang beragama Katolik. Seluruhnya? Tidak. Tetap ada anggota famili yang tetap beragama Islam. Dan di antara mereka tidak terjadi keributan beragama.
      Perjalanan hidup seorang manusia atau suku atau bangsa akan mengalami perubahan bila menghadapi satu persimpangan, karena naluri utama manusia adalah berusaha bertahan hidup. Dan ini bisa berarti merubah seluruh hidupnya total. Kalau tidak bisa tenggelam, bahkan musnah. Sejarah manusia selalu menunjukkan hal ini.
      Satu hal yang pasti harus selalu diingat adalah, hanya Tuhan yang menentukan apakah kita masuk surga atau tidak, apakah agama kita salah atau tidak. Kita hanya bisa hidup dengan berusaha sebaik-baiknya hidup seperti yang Tuhan inginkan melalui pelbagai cara yang Dia berikan dan yang kita anggap cocok dengan kita.

    • Julianni Says:

      Sy katolik tapi sy selalu terbuka buat ajaran2 agama lain yg baik, sebagai contoh ajaran agama Budha spt di bawah ini.

      Semoga Nana belajar tidak menjelek2an agama lain spy tidak merugikan agama sendiri. Sy percaya banyak org beragma islam tidak spt anda.

      Kutipan ajaran Budha yg saya baca :

      Sebagai Manusia yang beragama janganlah terjebak dalam perbandingan yang menjelek-jelekan .

      Mohon sebagai Buddhis tidak menjelek-jelekan agama lain. Ingat maklumat Raja Asoka, yang dikenal sebagai Raja Buddhis yang berubah dari kejam menjadi penuh dengan cinta universal.

      Asoka mengatakan:
      “Janganlah kita hanya menghormati agama sendiri dan mencela agama orang lain tanpa suatu dasar yang kuat. Sebaliknya agama orang lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu.
      Dengan berbuat demikian kita telah membantu agama kita sendiri, untuk berkembang di samping menguntungkan pula agama orang lain. Dengan berbuat sebaliknya kita telah merugikan agama kita sendiri, di samping merugikan agama orang lain.
      Oleh karena itu, barang siapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama orang lain, semata-mata karena didorong oleh rasa bakti pada agamanya sendiri dengan berpikir; bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri. Dengan berbuat demikian ia malah amat merugikan agamanya sendiri. Oleh karena itu, kerukunanlah yang dianjurkan dengan pengertian bahwa semua orang hendaknya mendengarkan dan bersedia mendengar ajaran orang lain.”

      • muhammad fauzan (@UcanMuhammad) Says:

        maaf sebelumnya julianni
        yang kami permasahlakan disini bukan agama khtolik nya, kenapa HB tidak menbuat orang beragama khatolik itu didaerah selain daerah minang, di daerah batak dibuat kan film gak akan menuai kontroversi.
        mendengar film ini saja kami sebagi orang minang sangat risih, jadi kita befikir positif saja kenapa orang minang menpermasalahkan film ini

    • donny nazir Says:

      Dari jawaban diatas jelas sekali jawaban yg dirancang dan ditampilkan sedemikian. Akhirnya menggiring para pembaca mempercayai terjadinya kesalahan fatal bagi penggugatmelayangkan gugatan. Kalau menurut sy skenario yg ditampilkan terlalu kasar gampang sekali arah dan tujuannya u/ memaksakan kebenaran dan malah menimbulkan rasa sara dan kebencian terhadap Islam. Yg pasti yg membuat jawaban bukan seorang muslim kelihatan dr tutur kata dan kalimat yg disampaikan. Tujuannya semata2 mendiskreditkan Islam

      • saladin Says:

        Grand design Ilmu Komunikasi….Jangan mengeksploitasi opini publik…. cerita lama , versi baru…..opini yang paling atas dan komentar yang pertama….lagee… “alun takilek lah takalam” “takilek ikan diayia, lah tau jantan batinonyo” ………kan baitu lalunyo Pak Adearmando?…hehe

    • jual beli sepatu futsal Says:

      Orang minang memang tidak terlibat dengan politisi karena saya pernah berteman dengan orangnya dan pernah ke Padang selama 3bulan.

    • putra jordas Says:

      saya sngt setuju pndpt sdri yg dilontrkn ke sdr adearmando kita yg terhrmt dunia dan akhrat, ya moga2 htinya d bukakan oleh sang khalik, o ya na klo menghujat tu jangan memperluas area pembhsn ya na, kta fks ja pad pmbhsn intinya jangan d pojokin agama atau ras lain. thank’s

    • rizal Says:

      minang identik dengan islam, tp bukan berarti orang minang tdk ad yg tdak islam.
      memaksakan hukum Islam ke ajaran agama lain itulah yg sebetulnya pelanggaran HAM
      nabi Muhamad tak ad memakai cara paksa untuk menerapkan hukum islam.

      Apakah memakan babi adalah sesuatu yang hina?
      Jwb: Jelas hina, karena termasuk melakukan sesuatu yg jelas-jelas sudah ada larangannya dalam Al-Quran (lihat S. Albaqarah 173)
      >> untuk islam itu jelas larangan. tp untuk agama lain blum lah tentu. bagaimana kita seorang islam jika dituntut untuk mengikuti isi Alkitab?? pstilah menolak. bgitu pun mereka.
      di alam demokrasi marilah membuka sedikit rasa toleransi. bukan mengiyakan ajaran mereka tp kita pilih lah jalan2 damai, jalanyang menjauhkan kita dari mudarat bersama.

  2. a! Says:

    menyedihkan ya, mas. makin banyak orang yg begitu fanatik dg identitasnya, entah suku ataupun agama, dan menganggap mereka adalah pemilik tunggal identitas tersebut. akibatnya, ketika ada yg membawa identitas tsb dg citra berbeda kemudian dianggap salah.

    ketika dunia kian terbuka, kenapa justru masih ada yg berpikiran sempit spt para penggugat ini.

    maju terus, mas hanung. kami mendukung anda..

    • 499brother Says:

      Kita tidak perlu dukung mendukung dalam kontek siapa yang salah atau siapa yang berpikir sempit. Yang jelas coba diamati kira2 motif Mas anung utk. menampilkan figur org. minang pemeluk agama khatolik dlm Film itu. apa tujuannya ? saya setuju tidak ada bahasa hina untuk agama khatolik dalam kontek ini. akan tetapi perlu diketahui bhw. Orang Minang memang tidak tidak sama dengan Orang Padang. Para pembaca harus belajar juga ttg. Culture Minang. Bicara Orang Padang termasuk orang/masyarakat yang berdomisili di Padang ( Suku Mentawai, Nias, Batak, Jawa, dan suku minang termasuk bagian dari kumunitas masyarakat Padang.dan lain2. Nah Orang Minang itu Otomatis Orang Padang,…sebaliknya Orang Padang bukan Otomatis orang Minang.Contohnya Orang mentawai tidak disebut suku Minang walaupun mereka sudah ada sejak /sebelum Padang ada di Bumi Sumatera Barat.Jadi orang minang …Identik dengan Islam dapat diterima.100 % walaupun mereka belum mengamalkan Islam secara sempurna. karna klo ada orang Minang yang pindah agama/menganut agama selain Islam, otomatis status minangnya Gugur,dibuang secara adat ( makanya ada istilah ” Adat bersandi syarak, syarak bersandi Kitabullah”. Nah kembali kepada persoalan diatas cobalah diminta clarifikasi dari Mas Anung apa yang melatarbelakangi adanya figur orang minang beragama khatolik. Apa mungkin Mas Anung perlu belajar banyak dengan Etnis/ Budaya kekayaan Indonesia. Silakan berkarya, tapi jangan se- enak.E dewe…begitu..bro….bukan soal dukung mendukung..klo belum paham dengan persoalannya( ttg. Minang) ..janganlah Ikut-ikutan mengomentari…

    • dellchan Says:

      kalau saya sedih, filmnya ga pake riset. Sayang banget, padahal bisa jadi film keren kayak arisan.

  3. mami Says:

    terlepas dari tiu semua, sbg penikmat film, saya rasa hanung tdk pernah membuat film yang benar2 berkualitas seperti garin nugroho, nia dinata, riri riza, dkk. film hanung sering kali berkutat soal kontroversi. sekali-kali buatlah film yg berkualitas, bukan hanya film yg kontroversi untuk menaikkan pamor.

    • farensyah Says:

      Maaf, saya mengkritik pernyataan ini. Menurut saya, tidak ada hubungannya antara kontroversi dengan film yang berkualitas.

    • dellchan Says:

      Setuju. Saya belum nonton CTB tapi ga tertarik dengan sinopsisnya yang dangkal. beda dengan 5 cm, waktu baca sinopsisnya, saya langsung nyari trailernya di youtube. liat trailernya, saya senyum-senyum sendiri. filmnya dekat sekali dengan saya waktu kuliah. langsung kangen naek gunung bareng temen2 kuliah dulu. dan begitu rilis, langsung saya nonton. ternyata orang seperti saya yang merasa punya kedekatan dengan film ini banyak. ga heran, 1 minggu langsung meraup 1,2 juta penonton. salut

  4. Nihon-jin Says:

    yang melanggar HAM siapa sih? emangnya orang minang ga boleh agamanya selain islam?

    • dwi sri yanti (@dwiyantie) Says:

      Beda konteks antara orang MINANG, dan Orang SUMBAR.
      Liat sejarah orang Minang, dia dari jaman nenek moyang (asal muasal orang Minang) sampe sekarang selalu berpegangan pada fisalfat budaya minang itu sendiri “ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”.
      So… jangan ngaku MINANG kalo bukan Muslim. Karena tidak berarti orang di SUMBAR itu 100% Muslim. Tetapi dia tidak bisa disebut orang Minang karena Tiang Utama Orang Minang dadalah “ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”.
      Jadi harap perlu diketahui MINANG = MUSLIM. . ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN). baca sejarah yang bener ya

    • dellchan Says:

      ayo ayo jangan lupakan si pembuat film yang bikin film ga pake riset. yuk jangan mau diadu domba soal etnis dan agama. pembuat film itu orientasinya keuntungan loh. kita nilai mereka dari segi kreatifitas yuk.

      • Udin Says:

        Sedikit meluruskan pandangan bahwa ABS-SBK adalah pondasi yang ada sejak nenek moyang orang minang adalah SALAH. ABS-SBK sendiri merupakan bentuk dari kesepakatan Marapalam Agreement atau Perjanjian Bukik Marapalam. Berbagai versi mengenai asal perjanjian ini, namun saya mengutip dari perkataan Sutan Mahmud, seorang ahli sejarah Minangkabau bahwa akibat pertikaian Kaum Fiqih dan Kaum Sufi yang membawa kepada perjanjian yang lahir sekitar tahun 1640 dan dikokohkan kembali hingga pada tahun 1820-an.

  5. sigota Says:

    Hehe.. Dari awal tau film ini mau dirilis, saya udah tebak ini pasti akan menuai protes. Saya setuju dengan tulisan ini. Tapi bagi saya, penokohan “orang minang beragama katolik” itu -somehow- terdengar provokatif, mengundang kelompok tertentu utk protes (bukan berarti saya setuju dg pendapat mereka ya ;p hehe..) Kalo saya sih ngeliatnya agak lebay dan mengada2 ala sinetron. Berapa banyak sih orang minang yang katolik? Kenapa nggak mengangkat suku yang jelas2 mayoritas non muslim aja? Batak misalnya? Memang banyak problema percintaan beda agama di kehidupan nyata dan mungkin bagus utk dijadikan film sebagai pembelajaran sekaligus hiburan. Tapi ga perlu dibikin sesuatu yang bakal jadi kontroversi kan? Atau jangan2 sengaja nih? ;p

    • nikenara Says:

      setuju sama semua statement kamu🙂

    • reza105 Says:

      Saya sependapat sekali dengan pendapat mas diatas, bukan masalah soal tuntutan, karena toh tuntutan dari masyarakat yang mengatasnamakan minang juga akhirnya bersumber dari kontroversi dari film ini. Sejak saya baca review/sinopsis film ini sudah jelas2 mengundang tanda tanya bahkan akan menjadi persoalan, karena disini di Indonesia dengan kemajemukan suku dan adat pastinya mereka yang membuat film harus bisa memahami dasar-dasar dari yang diyakini adat/suku masing-masing. Kalimat pemeran diana yang tertulis adalah orang minang (bukan orang padang) dan beragama katolik jelas akan menyinggung mayoritas disana, karena kita sudah tahu bahkan mungkin dari jaman sebelum merdeka pun, orang minang lebih dominan adalah muslim. Jika memang ingin mengangkat kisah percintaan beda agama, ada baiknya tidak dibumbui dengan kontroversi yang dengan entengnya sang sutradara “HB” menganggap itu adalah sebuah “prestasi’..

      Sebuah karya seni termasuk film, adalah media yang sangat cepat memberikan pengaruh kepada orang yang menikmatinya, dengan film itu pula akan terlahir pendapat dan bahkan pedoman bagi mereka yang meyakininya karena akan mengganggap bahwa film merupakan cermin dari kenyataan yang mungkin sudah dianggap lumrah. Sejak film “ayat-ayat cinta” saya sudah melihat karakter dari film besutan sutradara “HB” memang akan selalu menciptakan kegelisahan bagi yang menolaknya karena beliau sangat senang mengangkat ide dan mungkin realita yang jarang diangkat ke film, tapi sayangnya memaksakan cerita tersebut dengan adegan-adegan yang seakan-akan mengeneralisasikan bahwa itu sering terjadi di kehidupan nyata. Buktinya adalah di film “?” (tanda tanya. red), film itu salah satunya mengangkat mengenai ormas islam garis keras, dan digambarkan bahwa islam secara tidak langsung adalah agama yang intoleran.. memang benar kita melihat di berita ada demikian begitu, namun apakah itu pertanda bahwa mayoritas telah berbuat tidak adil kepada minoritas?? Dan jika mengganggap demikian, mungkin bisa kita lihat bagaimana daerah lain (tidak perlu disebutkan) membatasi ruang gerak ibadah muslim oleh mayoritas non muslim.

      Film dan apapun itu karya yang dibuat, akan menghasilkan pandangan positif dan negatif. Tinggal bagaimana sang sutradara dan produser apakah ingin mendapatkan lebih banyak pandangan negatif agar bisa sekaligus mendapatkan dukungan positif dari yang menyukai, terlebih dari film ini telah berhasil menghasilkan 2 kubu, yaitu kubu yang pro dan kontra. Dan semoga film berikutnya bisa menyatukan 2 kubu.

      Terima kasih.

    • Rahayu Says:

      Hi Sigota, saya suka sekali komen anda, komen singkat tapi sanagt cerdas, terima tidak terima memang yang namanya manusia mudah sekali tersulut, entah itu dari kalangan intelektual maupun yang tidak, segala seuatu yang berhubungan dengan sukuisme/ras/keyakinan atau apalah dengan apa semua yang sudah mereka miliki mendarah daging…. sudah pasti jiwa heroic yang berbicara disaat mereka merasa disinggung, itu harusnya sudah terfikirkan dari awal pembuatan oleh mas Hanungnya, sangat benar yang anda bilang: kenapa tidak dibuat CINTA TAPI BEDA itu cerita yang datang dari suku lain yang mayoritas non muslim saja? gunanya ya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti sekarang ini, pasti tidak akan ribut kan? katanya bangsa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi rasa tepa selira dan moralitas? sekarang dimana letaknya moralitas tersebut kalau semua orang bisa berbuat sesukanya tanpa berfikir ada orang/kelompok lain yang tersinggung akan perbuatan kita dan kalau di komplain lantas dengan mudahnya kita berdalih: aaah norak amat sih dijaman modern spt skrg ini masih saja berfikir sperti itu? atau bilang: tidak menghargai perbedaan sama sekali, itu salah besar… dimana orang digelitik disana mereka akan menggeliat…:) andai semua orang Indonesia berfikir sama seperti anda SIGOTA… :*

    • dellchan Says:

      pembuat filmnya males riset mas. tipikal film maker yang mau gampang laku filmnya. kasian penikmat film Indonesia.

    • Buxan Habib Rizieq Says:

      boleh gak kalau kita bikin film dimana orang bali beragama islam dan poligami ???

    • Bunga minang Says:

      Setuju gan. Kayaknya ada maksud di balik film. Yang perlu di sidang itu ya yang buat filmnya, bukan yang komennya.
      Sama seperti orang Hindu dibilang makan sapi, mereka juga pasti marah.

  6. pecikopat Says:

    ya, saya sedih juga bang. Saya pikir ini masalah sensitive, jadi saya gak berani ngomong macam2.
    by de wey.. salam kenal🙂

    • adearmando Says:

      Salam kenal juga… Tidak sensitif kok. Buktinya, kita bisa diskusikan dengan terbuka di sini…

      • dellchan Says:

        diskusiin dari sisi apa bang? kalo dari etnis apalagi agama jadi berkepanjangan. cape. gimana kalo dari sisi si pembuat film yang males riset?

  7. omdermanus Says:

    aneeeehhh knpa argumen anda seperti ini, sy mungkin tidak lebih pintar dari anda yg sering nongol di TV, saya malu anda yang orang minang malah berfikiran sperti ini…islam kan identitas minang, kita semua orang minang tahu ABS SBK, apa anda mau nafikan itu???seluruhhhhh prosesi adat kita kental islam-nya, bahkan dari saya lahir tidak pernah sy dengan ada orang minang beragama non-islam….saya pribadi merasa suku saya dihinakan oleh film ini, dan film ini sangat murahan,mengeksploitasi hal-hal adat istiadat yg sudah berlaku di suatu suku, pasti tidak ada studi dlu sebelumnya…..dan malah anda mendukung lagi…malu saya malu..
    Dan kepada seluruh rakyat indonesia, sy sebagai seorang Minang yang bangga dengan keMinangan saya, yang senang bersantap di rumah makan Padang, yang sholat lima waktu, saya minta maaf atas kelancangan saudara saya ini, karena telah mengeluarkan opini yg salah…

    • Rinaldi Says:

      Omdermanus,

      Sebenernya ya, di jaman modern agak lucu kalau bawa-bawa kebanggaan primordial. Oke, anda orang Minang. Tapi dalam pergaulan publik, anda tidak akan dilihat sebagai “orang minang”, melainkan sebagai individu.

      Anda, Omdermanus, mengaku sebagai orang Minang. Demikian pula Ade Armando. Anda merasa suku anda terhinakan oleh film ini, tapi Bung Ade tidak. Lantas, siapa yang sebenarnya mewakili orang Minang di sini? Sulit kan. Itu karena dalam hal “isi kepala”, anda berdua adalah individu, bukan “orang Minang”.

      Buat saya, primordialisme itu out of date. Sudah tidak lucu. Buat saya, mengagungkan adat itu sudah bukan zamannya. Saya tidak bangga dengan suku saya, tidak juga benci. Kenapa? Untuk apa membanggakan sesuatu yang saya peroleh sejak lahir? “Bangga” itu terhadap sesuatu yang kita peroleh dengan usaha. Bahwa saya “suku tertentu”, itu sekedar fakta genetik. Secara kultur, saya merasa warga dunia. Saya tidak menganut tata nilai yang primordialistik.

      Jika anda Muslim, itu karena anda adalah individu yang merdeka, yang memilih Islam sebagai agama, dengan sejumlah alasan. Bukan karena anda orang Minang. Dangkal sekali pikiran anda, kalau anda berislam hanya karena anda kebetulan orang Minang yang “identik dengan Islam”.

      • wulan Says:

        Nah ini baru pernyataan yang tepat dan ilmiah… Good

      • Rahayu Says:

        mas Rinaldi yang pintaaaar… kebanggaan sesorang akan apa yang dia punya tidak boleh anda pecundangi, spt yg anda bilang bahwa dia adalah org yg merdeka jd dia berhak bangga akan apa yang dia punya dan yang dia yakini, yang penting dia tidak menyinggung atau “MENCOLEK’ anda secara pribadai atau orang non MINANG secara keseluruhan, tidak ada salahnya kan walaupun dunia ini sudah sangat canggih atau super modern spt yang anda katakan, kalau toh pun anda tidak bangga dengan kesukuan anda itu urusan anda, tidak ada hubungannya dengan uda Ondermanus diatas ataupun dengan orang MINANG lainnya, dia atau kami tidak akan komplain atau marah kepada anda karena ketidak-banggaan anda terhadap kesukuan anda, itu 100 & 10% HAK anda, yang jadi permasalahan disini adalah: adakah anda semua yang ‘tidak menerima dengan bijak” akan komplain/keberatan kami sebagai orang MINANG dengan isi/alur cerita atau apalah yang ditayangkan film CTB tersebut ‘MENGHARGAI’ ketetapan/keberatan kami sebagai suku MINANG? adakah keberatan kami tu merugikan atau membuat anda merasa terganggu? tidak kan? kami boleh dong menyatakan keberatan akan apa yang tidak sesuai dengan apa yang kami yakini dan kami pegang selama ini, kami tidak menzalimi keyakinan anda sebagai non MINANG dalam keberatan kami, kami hanya ingin “KALAU” ada yang ingin membuat suatu kreasitifitas atau apa saja spt film CTB ini dengan latar belakang kesukuan kami (MINANG) buatlah dengan cerita yang sesuai dengan apa yang sudah ada karena sebagai suku kami sudah punya tata adat istiadat, kebiasaan dan keyakinan jangan mencoba untuk merubah sesuatu yang sangat sensitif tersebut walaupun dengan niat yang sangat baik untuk dijadikan sebagai contoh/pelajaran (dalam hal ini yaitu rasa saling menghargai dalam perbedaan).
        Berkreatif itu sangat diharuskan mas Rinaldi yang pintaaaar tapi apa artinya orang pintar kalau tidak punya rasa tepa selira tenggang rasa? apa artinya pintar dan penuh kreatifitas kalau kita tidak punya budi pekerti? apa artinya modernisasi kalau kita tidak punya hati? dan apa artinya PANCA SILA kalau modernisasi akhirnya menggilasnya hanya dikarenakan/berlandaskan dan selalu mengutamakan alasan “KREATIFITAS???” apa tidak ada cara lain untuk bisa berkreasi? kenapa harus selalu menyinggung yang mana akhirnya nanti akan menciptakan ketidak nyamanan spt skrg? fikirkanlah segala sesuatu itu matang2 dampak2 yang akan terjadi dan yang akan kita timbulkan sebelum kita melakukan sesuatu, katanya kita adalah orang-orang yang modern dan pintar tapi kok tidak sampai pemikirannya kesana? think twice even more before you do something… peace from me, one of urang-Miang…🙂

      • Rinaldi Says:

        To: Rahayu,

        yang jadi permasalahan disini adalah: adakah anda semua yang ‘tidak menerima dengan bijak” akan komplain/keberatan kami sebagai orang MINANG dengan isi/alur cerita atau apalah yang ditayangkan film CTB tersebut ‘MENGHARGAI’ ketetapan/keberatan kami sebagai suku MINANG?

        Permasalahan sesungguhnya adalah: Apakah anda dan mereka yang memprotes, MEWAKILI ORANG MINANG? Atau hanya ketersinggungan pribadi, terus mengatasnamakan seluruh anggota etnik?

        Bung Ade Armando juga orang Minang, tapi dia tidak tersinggung. Saya yakin banyak juga orang Minang seperti Bung Ade ini. Beberapa teman kerja saya orang Minang. Kebanyakan cuek-cuek saja. Yang kontra ada, tapi kontra sekedarnya. Mengkritik secara acuh tak acuh.

        Sejujurnya, teman sekolah saya dulu orang Minang. Bahkan sembahyang saja jarang. Tapi itu individu. Dia tidak mewakili etnik Minang. Begitupun orang Minang yang rajin sembahyang, dia tidak mewakili etnik Minang. Tidak ada dan tidak boleh ada entity yang merasa mewakili suku tertentu. Buat saya, itu namanya memonopoli kebudayaan.

        Nah, mana yang benar-benar merepresentasikan orang Minang? Anda atau Ade Armando? Anda tidak bisa memonopoli atau membajak identitas keminangan. Ketersinggungan pribadi, tapi mengatasnamakan etnik. Seolah-olah suara anda adalah suara seluruh orang Minang. Tidak bisa begitu.

        Ini sama saja seperti FPI. Segelintir orang, tapi mengatasnamakan “umat Islam”. Padahal tidak semua umat Islam sehaluan dengan FPI. Islam telah dibajak oleh FPI.

        kami boleh dong menyatakan keberatan akan apa yang tidak sesuai dengan apa yang kami yakini dan kami pegang selama ini,

        Mengajukan keberatan boleh. Tapi ajukan keberatan itu dalam bentuk kritik/artikel terhadap film tersebut yang dimuat di media massa. Itu hak dan kebebasan berpendapat. Itu baru adu intelektual. Tapi jika ajuan keberatan itu dilakukan dengan cara melarang film tersebut dan mengkriminalkan kreatornya, maka anda sudah menghalangi hak orang untuk berkreasi.

        kami hanya ingin “KALAU” ada yang ingin membuat suatu kreasitifitas atau apa saja spt film CTB ini dengan latar belakang kesukuan kami (MINANG) buatlah dengan cerita yang sesuai dengan apa yang sudah ada karena sebagai suku kami sudah punya tata adat istiadat, kebiasaan dan keyakinan

        Sejauh genre filmnya bukan film dokumenter, sah sah saja menceritakan sesuatu yang “tidak sesuai aslinya”, asal ada alur cerita yang jelas.

        Dalam cerita, ada gadis Minang beragama Katolik. Dalam kehidupan nyata, dari sekian puluh juta orang Minang yang hidup, belum termasuk yang sudah meninggal, boleh jadi ada saja orang keturunan Minang yang bukan Islam. Agama itu pilihan pribadi, bukan bawaan etnik.

        Pernah nonton “Inglorious Bastard?” Hitler diceritakan mati di gedung bioskop, bersama para petinggi Nazi. Gedung bioskop dibakar oleh seorang Yahudi yang dendam terhadap Nazi. Apakah itu fakta? Sama sekali bukan! Inglorius Bastard jauh lebih melencengkan fakta ketimbang film CTB. Apakah ada ahli sejarah yang lebay terus mengkritik film tersebut? Sejauh ini TIDAK ADA. Karena sejak awal, genrenya fiksi, bukan dokumenter. Itu namanya kreatifitas.

        kebiasaan dan keyakinan jangan mencoba untuk merubah sesuatu yang sangat sensitif tersebut walaupun dengan niat yang sangat baik untuk dijadikan sebagai contoh/pelajaran (dalam hal ini yaitu rasa saling menghargai dalam perbedaan).

        Siapa yang mencoba merubah sesuatu yang sensitif? Tidak ada. Apakah Hanung blusukan ke pelosok Sumatera Barat terus mengkatolikkan orang-orang di sana? Tidak! Dia cuma berkreasi dengan cerita, yang tentu saja fiktif.

        Tonton dan ikuti saja ceritanya. Tidak suka? Kritik! Tapi jangan melarang orang untuk berkreasi. Ingat, sejauh statusnya fiksi, maka tidak ada keharusan “sesuai fakta”.

        apa artinya pintar dan penuh kreatifitas kalau kita tidak punya budi pekerti?

        Apakah menggambarkan orang Minang beragama Katolik, tidak punya budi pekerti? Wah wah wah… sulit ya dialog sama orang berpemikiran sempit, primordialistik dan egoistis.

        Katolik itu agama yang legal di Indonesia, juga dunia. Menjadi Katolik bukanlah sesuatu yang “bejat”.

        kenapa harus selalu menyinggung yang mana akhirnya nanti akan menciptakan ketidak nyamanan spt skrg?

        Hanya orang berpemikiran kerdil dan primordialistik yang tersinggung dengan tema-tema film Hanung.

    • ekorgasm Says:

      Sebelum Islam masuk Sumatra, orang minang agamanya apa ya??? bukannya adat istiadat itu turun temurun dari nenek moyang, kalo agama kan produk import… atau jangan2 nenek moyang-nya penyembah berhala sehingga untuk menutupi aib adat mereka, mereka mengakui adat bangsa lain….

      • ari Says:

        ekorgasm

        nah, itu yg perlu dipertanyakan bang ekorgasm

      • kukuh satria Says:

        Sebelum datangnya islam di kawasan pesisir barat sumatera (sekarang Sumbar) orang minang awalnya adalah beragama Hindu di bawah kekuasaan majapahit tetapi karena sebuah perkembangan para pedagang arab datang ke kawasan pesisir barat sumatera langsung diterima oleh masyarakat karena ke arifannya. kalau mau tahu silahkan kamu search ke Google atau datang ke museum adityawarman.

  8. Ayu Says:

    Benarkah anda ORANG MINANG?!

    • adearmando Says:

      Benar…

      • Dwi Sri Yanti Says:

        FISALAFAT MINANG dari jaman nenek Moyang dulu ” ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”
        Orang ini bukan orang minang cuma orang yang lahir di Sumatra Barat, dan keturunan Sumatra BARAT.
        Kalo Anda punya Logika, dari fislafat tersebut anda pasti paham, Semua hukum minang ujung pangkalnya adalah AL QURAN, dan Al Quran itu sendiri kitab suci umat muslim bung.
        Jadi jangan pernah ngaku MINANG, kalo bukan seorang Muslim.
        Diluar konteks dia adalah orang SUMBAR, Karena tidak 100% orang dari SUMBAR adalah Muslim. Yang bisa disebut seorang MINANG adalah MUSLIM.
        Mohon ya saudara adearmando, belajar budaya Minang dulu… walaupun saudara keturunan orang SUMBAR, kalo bukan Muslim tidak pantas saudara disebut MINANG.
        Mesti bisa membedakan ya antara Minang dan Orang SUMBAR.
        Baca sejarah dulu ooom, and pahami fisalfat budayamu sendiri. “ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”, perlu saya tambahin lagi ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN) = MINANG

      • dellchan Says:

        setujukah anda film yang berorientasi pada keuntungan ini dibuat tanpa riset?

      • ari Says:

        silahkan pelajari kitabullah lebih dalam. bukankah sdh jelas dikatakan, islam adalah agama penyempurna dari agama lain. jd, apakah agama lain tidak diperbolehkan? coba baca surah2 pertama dalam alquran, dstu jelas terpampang adalah orang2 yg beriman. selanjutnya, pertanyaannya adalah, apakah agama selain islam itu menyalahi iman?. saran sy, jgn menyimpulkan suatu hal sebelum mempelajarinya secara langsung. jgn hanya mendengar dari ocehan2 yg tidak berlogika.

      • adearmando Says:

        Saya nggak mengerti pendapat Anda. Saya rasa ajaran islam sangat jelas ya dalam hal menghargai hak setiap orang untuk memeluk agama apapun…

      • ari Says:

        adearmando.
        betul sekali bang. islam itu indah.
        sangat tdk sepakat dengan orang2 yg berpikiran dangkal dalam memahami agama. jd, buat kawand2 yg berkomentar, jgn melecehkan agama/keyakinan orang lain. hargai keyakinan mereka.

  9. Kiagus Abdul Karim Kishmada Says:

    BIla dilihat dengan kacamata ‘pluralist’ tak ada yang salah, semua bisa dibenarkan. Tapi bila dilihat dari kacamata agama (Islam) dan adat Minangkabau (adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah) Sosok seorang Minang yang digambarkan sebagai ‘Non Muslim” adalah tidak patut. Seorang Minang identik dengan Muslim/Muslimah. .

    • adearmando Says:

      Ya boleh sajalah. Tan Malaka itu tokoh komunis. Dikagumi banyak orang. Orang Minang yang tidak sholat, tidak puasa, banyak kok. Yang korupsi juga ada. Minang itu beragam.

      • Rahayu Says:

        ini bukan bicara personal maaassssssss ini bicara globalnyaaaa, minang sudah pasti identik dengan muslim kalau mengenai agaman, sudah pasti pasti identik dengan matrilineal kalau garis keturunan, sudah pasti identik dengan rendang kalau masalah kuliner, sudah pasti identik dengan bundo kanduang kalau masalah monarki, dst dst dst…. itu yang anda harus ketahui, berbicara orang minang berarti bicara globalnya, cetek amat sih pemikiran lo???

      • adearmando Says:

        Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

      • dellchan Says:

        sorry saya belokin lagi. film maker yang bikin film males riset di Indonesia itu beda tipis sama koruptor

  10. hutriest Says:

    saya juga orang minang, dan saya tidak sependapat dengan anda. ketika kita ngomong minang, kita ngomong ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ .. begitulah adat, itulah minang yang tidak bisa dipisahkan dengan islam.. ketika seorang minang melepaskan syarak nya, saat itulah dia telah melepas ke minang nya..
    ketika film tersebut membawa ke etnis-an saat itulah dia harus mengerti dasar2 etnis yang dia usung, dan disana kekhilafan Hanung, menurut saya Hanung pengen mengambil satu kultur yang menghargai keberagaman, dan pemilihan akan minang adalah pilihan yang tepat dan suatu penghargaan, tapi sayang Hanung mengambil terlalu luas dan kurang memahami dasar adat minang diatas.

    jadi tidak ada yang dangkal dalam gugatan tersebut, dan saya yakin keberagaman yang di anut pendahulu minang tidak pernah mencampur dengan keminangannya, karena adat sendiri menghargai keberagaman.. cukup permintaan maaf dan menarik film nya, sangat bagus untuk pembelajaran bagi instan perfilm-an kita. imho

    • cashto Says:

      Terus waktu jaman dulu sebelum agama “asing” spt Islam masuk ke daerah Minang, suku Minang ada dmn ya?

      apakah berarti Minang ada sesudah Islam masuk ke Indonesia ?

      lalu pada jaman dahulu nama suku atau adat Minang sblm Islam masuk ke Indonesia namanya apa ya?

    • Rinaldi Says:

      Jadi, kesimpulannya, orang Minang tidak boleh beragama Katolik, gitu?

      Kalau film yang fiksi saja sudah dilarang, bagaimana kalau di dunia nyata ada orang Minang yang beragama Katolik? Anda akan bunuh dia?

      Bung, FYI yah, agama itu individual. Kepenganutan terhadap agama adalah hak azasi yang wajib dihargai. Orang dari suku manapun, berhak menganut agama apapun.

      • xaverie Says:

        saya setuju dengan Rinaldi. Pemikiran Rahayu sempit sekali.. Bagaimana Indonesia bs maju jika semua org berpikiran sesempit anda ya? Sama saja anda tidak menjiwai dasar negara Pancasila

  11. Milliyya Says:

    Keren. Semoga si penggugat itu membaca tulisan ini ;))

  12. diyantouchable Says:

    izin di share ya bang…🙂

  13. Sama tapi beda | sicindai Says:

    […] kali ini hanya berisi kutipan comment di blog sebelah yang menyatakan tidak sependapat dengan gugatan komunitas minang akan film Hanung Bramantyo yang […]

  14. hakim Says:

    Ade Armando mengklaim sebagai ketutunan Minang, Minang dari Hongkong ya?

    • adearmando Says:

      Bukan dari Hongkpng. Saya lahir di jakarta. Ada masalah apa? Pak Hakim dari Mana? dari Kramat Tunggak?

      • dwi sri yanti (@dwiyantie) Says:

        Pantesan anda saja lahir dijakarta, dan anda tidak mengerti budaya Minang. Nih saya kutip kembali, saya ajarkan anda kembali mengenai fisalfat dan Tiang Utama Orang MINANG “ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”.

  15. emen Says:

    “Darimana pula ada aturan orang minang identik dengan islam?”
    mungkin uda lupa kalau landasan minangkabau adalah “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”.
    dalam hukum adat minangkabau jika seseorang keluar dari agama islam, maka ia akan “dibuang sepanjang adat”.

    pengertian: Orang Minang, Orang Padang, Orang Sumatera Barat.
    Orang sumatera barat adalah orang yg tinggal di sumatera barat. orang Padang adalah orang yg tinggal di Padang. sedangkan Orang Minangkabau mmpunyai 3 ciri: Pertama Islam (karena Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi kitabullah), kedua pandai berbahasa minang ( bahasa adalah identitas suatu bangsa atau kaum). ketiga tahu dan mengerti dengan adat istiadat minangkabau (bagaimana kita menyatakan bagian dari suatu kaum kalau kita tidak mengerti tata cara atau hukum kaum tsb).

    sekian terima kasih, mohon maaf jika saya menggurui🙂

    • adearmando Says:

      Ya boleh-boleh sajalah adat di masa lalu itu pernah ada.
      Tapi Minang itu adalah bagian dari Indonesia. Di Indonesia, siapapun berhak untuk menganut agama apapun yang ia percaya.
      Kalau sekarang orang Minang bikin aturan sendiri, sebaiknya keluar dari Indonesia.
      Sekarang saya tanya, apakah seorang bertnik Minang yang ketahuan korupsi harus keluar dari Minang. Ini saya tanyakan mengingat korupsi itu jelas-jelas bertentangan dengan Al Quran, bukan? Bagaimana dengan orang Minang yang tidak sholat? Bagaimana dengan orang Minang yang menghardik anak yatim?
      Jadi sudahlah, adat itu kita hormati saja. Tapi janganlah bikin aturan-aturan sendiri yang bertentangan dengan konstitusi lebih tinggi.

      • Dwi Sri Yanti Says:

        Itu udah diluar Konteks bung….
        Masalah dia Minang dengan kelakuan seperti yang saudara maksud tersebut, itu adalah urusan dia dengan Yang Maha Kuasa. Sebagai Manusia kita cuma bisa mengingatkan.
        Yang perlu anda pahami adalah konteks dari Adat Istidat yang terkandung dalam budaya Minang itu sendiri. Karena Fisalfat orang Minang adalah ” ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN) “. Masalah kelakuan dia bertentangan dengan al quran, itu sih urusan dia dengan yang diatas Bung.
        Saya mau menjelaskan dari fisalfat tersebut Orang Minang adalah MUSLIM. Karena fisalfat atau peraturan Adat tadi.
        Agama manapun tidak pernah mengajarkan berbuat anarakis, korupsi, zhina atapun kelakuan yang bertentangan dalam konteks negatif. Tidak cuma Islam bung.
        Anda juga harus paham, tidak semua orang yang tinggal di SUMATRA BARAT 100% orang Muslim. Tetapi jika dia ngaku MINANG dia pasti TAU FISALFAT serta ADAT ISTIADAT BUDAYA MINANG.
        “ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”.
        Jadi jangan Ngaku Orang MINANG KALO BUKAN MUSLIM (ISALAM). walaupun ISLAM KTP (Karena yang menilai kadar IMAN hanya ALLAH SWT.

      • BS Says:

        Maaf, Minang itu bukan hanya bagian dari Indonesia, tapi bagian dari dunia. Minang tidak hanya milik Indonesia, tapi juga milik Malaysia, Singapura, Brunei dan segenap penjuru jazirah melayu. Saya bukan termasuk pendukung Ormas-ormas yang menuntut Hanung, tapi saya sangat-sangat menyayangkan kedanagkalan Hanung dalam mengapresiasi ketoleranan orang Minang. Minang itu bukan hanya diturunkan berdasarkan hereditas, tapi suatu sistem budaya yang ada bila diamalkan dilaksanakan. Dan harus dipahamkan juga bahwa adat dan budaya lokal itu memiliki wilayah absolutnya sendiri. Ketika seorang yang terlahir Minang kemudian pindah agama, itu haknya dia, tidak ada satupun yang akan mengganggu gugat, tapi ada hak kolektif juga dari masyarakat penganut budaya itu untuk mengeluarkan dia dari sistem yang ada. Dalam ketentuan adat Minang jelas-jelas disebutkan bahwa apabila seorang Minang keluar dari Islam, maka gugur dari padanya segala ketentuan, kewajiban dan juga hak didalam adat Minang, dalam istilah Minang disebut; Dibuang sepanjang adat. Apakah adat salah? Tidak, adat dan budaya adalah sistem yang dianut secara sukarela, anda tak suka, anda boleh tinggalkan.
        Sebagai orang yang lahir di Sumbar, dan mengenyam pendidikan di Jawa, yang saya sesalkan adalah kesemena-menaan seniman jakarta/pusat mengapresiasi budaya daerah. Seolah-olah semua tempat di Indonesia harus seperti Jakarta. Seolah-olah jakarta adalah standar modernisasi dan peradaban tertinggi di nusantara ini. Ini yang juga dilakukan timnya Hanung. Yang saya sesalkan lagi kenapa Hanung berhasil menggambarkan suasana Jogja yang Islami, sedangkan penggambaran di Minang (dalam hal ini BUkittinggi) sama sekali gersang akanb nilai Islami. Andaikan Hanung memperlihatkan nuansa Islam yang kental di Sumbar, dilingkungan keluarga diana, dan diana hidup ditengah2 masyarkaat tersebut dengan damai,. tentu akan lain ceritanya. (apabila menurut kilah Hanung, Diana bukan bersuku Minang, tapi hanya lahir besar di Padang). Dan ini adalah kejadian nyata keseharian di beberapa kota besar di Ranah Minang. Toleransi itu sudah sesuatu yang mendarah daging bagi orang Minang.
        Namun begitu, saya juga tidak sependapat dengan aksi “Lebay” beberapa ormas yang mengatasnamakan Minang. Pintu-pintu dialketika banyak dibuka, sebagai seorang Minang yang dibesarkan dalam tradisi dialektika yang kuat, harusnya bisa menyikapi dengan lebih bijak. Seperti yang dilakukan Buya Hamka ketika muncul gugatan atas Kepahlawanan Tuanku Imam Bonjolm, maka beliau menulis bukan yang mengupas dan membantah argumen di buku tersebut, Buku balas dengan Buku, Tulisan balas dengan Tulisan, Film pun harusnya dibalas dengan Film…

        salam
        BS

      • Haniang Says:

        Ade,
        kaya’nya kamu memang nggak paham apa yg sedang kamu bicarakan. Mungkin kamu nggak pernah belajar BAM disekolah , dan jawaban kamu selalu keluar dari topik dan kosong.

        Kalau sekarang orang Minang bikin aturan sendiri, sebaiknya keluar dari Indonesia.>>
        eh njuik, tanpa ada Minangkabau, Indonesia tuh nggak akan pernah ada. 7 dari 10 orang Minang yang menjadi pelopor kemerdekaan RI.

        Sekarang saya tanya, apakah seorang bertnik Minang yang ketahuan korupsi harus keluar dari Minang.>>
        Dan apa hubungannya, Minang identik dengan islam bukan berarti mereka suci dan taat, banyak orang monang yang nggak taat dan islam KTP, tapi filsafah minang ABS SBK nggak akan pernah dilenyapkan

        Jadi sudahlah, adat itu kita hormati saja. Tapi janganlah bikin aturan-aturan sendiri yang bertentangan dengan konstitusi lebih tinggi.>>
        Adat kita hormati?? Are you NOT????
        Yang diprotes itu bukan pluralisme atau kawin beda agama, njuik. Tapi penokohan yang tidak sesuai FAKTA. Kalau Hanung mau bikin film tentang kisah cinta beda agama, kenapa yg gadis minangnya harus Katolik. INI GAK SESUAI FAKTA. Malu sama Malaysia yang lebih paham minangkabau dibanding kamu hanya Kabaunya aja yg tinggal.

      • Haniang Says:

        Ade,
        kaya’nya kamu memang nggak paham apa yg sedang kamu bicarakan. Mungkin kamu nggak pernah belajar BAM disekolah , dan jawaban kamu selalu keluar dari topik dan kosong.

        Kalau sekarang orang Minang bikin aturan sendiri, sebaiknya keluar dari Indonesia.>>
        eh njuik, tanpa ada Minangkabau, Indonesia tuh nggak akan pernah ada. 7 dari 10 orang Minang yang menjadi pelopor kemerdekaan RI.

        Sekarang saya tanya, apakah seorang bertnik Minang yang ketahuan korupsi harus keluar dari Minang.>>
        Dan apa hubungannya, Minang identik dengan islam bukan berarti mereka suci dan taat, banyak orang minang yang nggak taat dan islam KTP, tapi filsafah minang ABS SBK nggak akan pernah dilenyapkan

        Jadi sudahlah, adat itu kita hormati saja. Tapi janganlah bikin aturan-aturan sendiri yang bertentangan dengan konstitusi lebih tinggi.>>
        Adat kita hormati?? Are you NUT????
        Yang diprotes itu bukan pluralisme atau kawin beda agama, njuik. Tapi penokohan yang tidak sesuai FAKTA. Kalau Hanung mau bikin film tentang kisah cinta beda agama, kenapa yg gadis minangnya harus Katolik. INI GAK SESUAI FAKTA. Malu sama Malaysia yang lebih paham minangkabau dibanding kamu hanya Kabaunya aja yg tinggal.

      • adearmando Says:

        Tuntutannya adalah: “menghina Minang”, bukan penokohan tidak sesuai fakta.

      • Anwar Says:

        klo ada tawaran keluar dari negara NKRI, sepertinya akan banyak daerah yang menyambutnya pak Ade, hehe.

      • emen Says:

        Adat dan budaya suatu kaum adalah budaya lokal, memang sudah sepatutnya dihormati. Adat Minang bukan adat yang ada di masa lalu. Adat minang itu ada dan hidup dalam hati masyarakat minang. Di Indonesia siapapun memang berhak menganut agama apapun. Di Minangpun tidak ada larangan menganut agama lain. Tapi ya itu, tanggung resikonya, harus dihapus dari ranji dan dibuang sepanjang adat.

        Aturan Minang itu aturan Adat Uda, bukan aturan Negara. Berlakunya ya hanya untuk orang minang, kalau tidak mau jadi orang minang ya silahkan tidak apa-apa.

        Tidak ada hubungan antara adat minang dan konstitusi negara. Adat ya Adat, Konstitusi ya konstitusi.

      • emen Says:

        satu lagi, Uda jangan ngomong dikit” “keluar saja dari Indonesia”, justru itulah pemikiran yang dangkal. Kalau Uda, bilang seperti itu ya tidak ada lagi penduduk bangsa ini.

      • ie ie Says:

        di Indonesia memang berhak memeluk agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing2. tapi suku?? Anda terlahir dengan nya.. menurut garis keturunan yang tidak akan pernah berubah. Menurut Tambo Asat Minangkabau, saat leluhur kami orang Minang merumuskan falsafah ini di Medan nan Bapaneh, Sudah jelas terpatri di darah kami orang Minang “ADAT BASANDI SYARA, SYARA BASANDI KITABULLAH”, tidak ada toleransi. dan tidak ada hubungan nya dengan NKRI. jangan berpikiran dangkal lah, dan bukan berarti kita memandang hina agama lain. yang kami perdebatkan adalah aturan suku kami sudah begitu. jangan main campur aduk kan saja.

      • dellchan Says:

        kritik film makernya dong. enak banget dia, bikin film ga pake riset terus dapat pembelaan atas nama pluralisme dan promosi gratis. ga sesuai sama hasil kerjanya. sedih sebagai penikmat film Indonesia

      • dellchan Says:

        hak penikmat film Indonesia juga dihormati ya bang. jangan disuguhi film yang tanpa riset. biat film Indonesia ga cuma tambah banyak tapi juga berkualitas

      • ryan Says:

        ”Tapi Minang itu adalah bagian dari Indonesia. Di Indonesia, siapapun berhak untuk menganut agama apapun yang ia percaya.
        Kalau sekarang orang Minang bikin aturan sendiri, sebaiknya keluar dari Indonesia.

        saya pikir karena link tulisan ini ada di twitt zaskia mecca saya tertarik baca.. setelah baca komen kamu diatas, ternyata kamu hanya seorang idiot yg coba coba cari sensasi…

      • adearmando Says:

        Ryan, saya mungkin idiot.
        Tapi Anda menghina Al Quran dengan menganggap bahwa semua orang di dunia ini harus memeluk Islam

    • ekorgasm Says:

      Ibu saya Minang, dan beragama Katolik, meskipun dibuang dalam darahnya tetap orang Minang… Alloh menciptakan Bumi ini untuk bermacam-macam agama, kalo “Alloh” seperti anda, manusia yg gak beragama Islam pasti sudah dibuang ke planet Mars… Lagipula, sebelum Islam masuk Sumatra, orang minang agamanya apa ya??? bukannya adat istiadat itu turun temurun dari nenek moyang, kalo agama kan produk import… atau jangan2 nenek moyang-nya penyembah berhala sehingga untuk menutupi aib adat mereka, mereka mengakui adat bangsa lain….

      • ie ie Says:

        begini mas eko, hak untuk memeluk agama merupakan hak asasi semua manusia, karena agama merupakan “buatan” Tuhan (maaf kalo penggunaan kata tidak tepat). mau manusia itu pindah2 agama, atau tidak beragama sekalipun itu urusan dia dengan Tuhan, hukum/dosa nya Tuhan yang mengatur. sedangkan SUKU adalah kesepakatan leluhur, ada aturan juga disini, kalau melanggar, ya ada hukum adat yang mengatur… ini kan bukan berarti menghina kan agama lain, tidak seperti itu. yang kami sesalkan disini karena tidak ada sejarahnya suku Minang itu non muslim. kalau dia memeluk agama lain, ya terserah, konsekuensi nya dia tidak lagi berhak menyandang SUKU MINANG. ya hak dia mau tinggal dimana saja di Indonesia. mengenai aturan “di usir dari kampuang”, semakin kesini masyarakat MINANG sudah makin toleran, ya masalah dikucilkan merupakan masalah sosial. tapi untuk HAK MENYANDANG SUKU MINANG adalah MUTLAK. tidak bisa diganggu gugat atas nama TOLERANSI. tolong dimengerti, bukan bermaksud memandang hina suku/agama/etnis lain.

      • adearmando Says:

        Suku itu adalah kategori demografis…
        Kalau Anda mau ikut adat Minang, semua anak Minang yang ibunya bukan Minang seharusnya dinyatakan keluar dari Minang..

      • ii.rahmayanti@gmail.com Says:

        Lah memang, bagi yang ibu nya bukan Minang, dia gak ada “hak” menyandang SUKU minang. Karna suku diwarisi dari pihak IBU…
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

  16. kp Says:

    Kata kuncinya menurutku pada ‘Penghinaan’. Parameter2 apa yang digunakan untuk menentukan apakah suatu pernyataan bisa disebut sebagai ‘Penghinaan’ ?

    Niatan si pembuat pernyataan kah? Atau isi dari pernyataan itu kah? Atau mungkin kah malah dari perasaan orang yang (secara langsung ataupun tidak) menerima pernyataan itu?

    Misalkan seorang yang bertubuh gemuk. Ketika seorang kawan dekat memanggilnya “Tambun” mungkin ia akan menganggapnya panggilan sayang, tapi ketika orang yang tak ia kenal (atau tak begitu ia sukai) memanggilnya “Gendut”, ia mungkin akan marah besar karena menganggapnya sebagai “PENGHINAAN”. Padahal pernyataan itu “Benar” adanya.

    Sebelum ada definisi yang jelas, jangan ketika seseorang merasa terhina, lantas ia dianggap ‘berpikiran sempit’, lantas ketika giliran kita (saya sengaja menggunakan ‘kita’ dan bukannya ‘anda’) merasa ‘terhina’, maka si penghina kita hujat dengan semena-mena.

    Seorang Negro pernah berkata kurang lebih seperti ini: “Saya tak tahu mengapa kawan-kawan yang lain merasa tersinggung ketika dipanggil ‘Kulit Hitam’ atau ‘Negro’… Saya bangga menjadi seorang Negro.”

    • adearmando Says:

      Kasusnya sangat sederhana.
      Hanung dianggap menghina karena menurut para penggugatnya tidak boleh menampilkan karakter seorang Minang beragama Islam.
      Di mana penghinaannya?
      Simple logic….

      • dwi sri yanti (@dwiyantie) Says:

        Baca sejarah lagi Bung Fisalafat MINANG adalah ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN), and anda tahu Al Quran itu adalah kitab suci orang muslim.

      • dellchan Says:

        kasusnya sangat sederhana buat saya, film maker buat film tentang beda agama yang merupakan isu seksi di Indonesia dan makanan empuk kelompok2 yang bertanggung jawab. film yang harusnya bagus dibuat tanpa riset jadi menuai kontroversi. film ini jadi pembicaraan bukan karena kualitasnya. harusnya anda sebagai pengamat media kritisi juga dong film maker yang males riset. kesampingkan dulu soal tuntutan2. kita bahas dari sisi kreatif aja deh

    • Rinaldi Says:

      Bagi saya ya, dalam kasus ini kata kuncinya bukan “penghinaan”, tapi “primordialisme”.

      Kalimat-kalimat para komentator di sini banyak yang kental aroma primordialisme, misalnya mempertanyakan apakah penulis orang minang atau bukan. Seolah-olah, minang atau tidaknya penulis mempengaruhi kualitas tulisan.

      Masyarakat modern itu sudah tidak primordialistik. Masyarakat modern itu basisnya adalah individu, bukan kelompok primordial. Dalam masyarakat modern, etnisitas itu cuma fakta genetik saja. Adat istiadat itu cuma “heritage”, yang boleh saja dilestarikan tapi tidak perlu dipandang secara fanatik.

      Selagi primordialisme masih nempel, maka sejauh itu pula kasus-kasus seperti ini akan terus ada.

  17. nn Says:

    anda lahir dijakarta? bisa bahasa minang? pernah belajar Budaya Alam Minangkabau di masa sekolah? tau prinsip dasar Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah? saran saya jangan asal ngomong. Aturan Minang bukan aturan sendiri yang baru dibikin kemaren sore, sudah ada sejak dulu sebelum Indonesia dibentuk, Minang ga akan keluar dari Indonesia hanya karena keteguhan aturannya, ini malah bentuk kekayaan intangible Indonesia.

    • adearmando Says:

      Saran saya Anda gunakan logika memadai. Kalau Anda mengatakan bahwa adat ada di atas UUD 1945, ya sebaiknya Anda memang keluar dari Indonesia… Saya rasa cara berpikir semacam Anda inilah yang menjadikan orang-orang Minang sekarang tertinggal… Tidak ada lagi kebanggan menjadi Minang…

      • Dwi Sri Yanti Says:

        Gak usah dilandenin nn, dia bukan orang minang, cuma orang yang lahir di SUMATRA BARAT.

      • nn Says:

        saya gak mengatakan adat diatas UUD 1945, saya berpegang teguh dengan agama, dan adat saya berpondasikan agama. Ketuhanan yang maha Esa, esa berarti satu, orang2 yang berkepercayaan kalau tuhan itu tidak satu haruskah keluar dari Indonesia? Siapa yang tertinggal? Dimana posisi anda yang menyuruh orang keluar dari Indonesia? dari dulu Minang berpondasikan agama Islam, itu gak pernah berubah, dari dulu UUD gak pernah mempermasalahkan adat istiadat kami, itu gak pernah berubah. Siapa yang gak sejalan dengan UUD1945? Bung Hatta adalah salah satu orang di masa itu yang hidup di masa pembentukan UUD, beliau MInang, beliau teguh dengan pendirian, kalau adat kami dan UUD gak sejalan, dari dulu beliau gabakal berjalan dikedua sisinya. imho.

      • adearmando Says:

        NN, Anda kok nggak ngerti dengan logika sederhana ya?
        Baik Al Quran dan UUD 1945 tidak pernah menyatakan bahwa semua orang itu harus beragama islam.
        Jadi kalau Minang itu berlandaskan Al quran, ya seharusnya mengakui kebaragaman agama.
        Simple kan?

      • Fais al-Fatih (@al_fais) Says:

        jwb saja pertanyaannya tuh.. bener org minang ga nich..? bisa bahasa minang? pernah belajar Budaya Alam Minangkabau di masa sekolah? tau prinsip dasar Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah?

      • oceania Says:

        @nn

        Hehe, anda lucu, jadi anda berfikir Tuhan ada banyak?

        Logika anda menyesatkan🙂

      • deri Says:

        Utk anda adearmando..
        Jk ingin tau bagaimana orang minang silakan byk2lah belajar ke niniak mamak urang sumando, saya maklum pemikiran anda krn anda bukan putra minang yg lahir dn dibesarkan oleh adat istiadat minang..
        Cukupkan segra komentar anda menghina orang minangkabau smpe disini,belajarlah dulu..jgn debat kusir lg..trima kasih

      • nn Says:

        bro, sekedar tambahan, karena sepertinya anda sama sekali tidak tau apa itu Minang, tolong baca di wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minang , disitu lumayan jelas kok, semua orang yang lahir dari bumi minang dan mengenyam pendidikkan tambahan budaya alam minangkabau, tak akan seenaknya mengatakan membuat pernyataan
        “Bahwa jarang sekali ada orang Minang beragama Katolik, tentu benar adanya. Tapi siapa pula yang membuat peraturan bahwa orang Minang itu identik dengan Islam?”
        Saya mohon jangan menyesatkan opini orang awam akan adat kami. Terima kasih.

      • reza105 Says:

        to adearmando : bolehlah anda membawa UUD 1945 disini, tapi ada perlunya anda juga membaca seluruh pasal-pasal dan ayat2 didalamnya.. Anda tahu Indonesia sangat majemuk, banyak suku dan adat. Bukan berarti dengan adanya adat istiadat masing-masing suku lantas dianggap tidak sesuai dengan UUD 1945, toh juga sebelum Indonesia merdeka dan belum ada UUD 1945, suku minang sudah ada kan?? janganlah mempermasalahkan hukum negara kalau anda sendiri tidak mengerti bagaimana cara menghormati dan menghargai adat istiadat masing-masing suku. Lantas apa harus di UUD ditambahkan pasal-pasal semua aturan suku se-Indonesia biar nanti tidak dianggap melanggar??

        Jika ingin memberikan statement, hendaknya hati-hati apalagi mengatasnamakan UUD 1945, toh anda sendiri tidak mengamalkannya dengan baik. Dan soal orang minang ada yang tidak solat, korupsi, dan melakukan perbuatan tercela lainnya apakah anda tahu siapa saja mereka? dan apakah itu menjadi suatu bukti bahwa anda bisa bebas melecehkan adat minang itu sendiri.. MAAF sebelumnya, suku Minang dan orang-orangnya adalah 2 hal yang berbeda, sama halnya dengan anda dan agama yang anda anut atau suku anda berasal. Jika anda telah melakukan kesalahan maka bukanlah suku atau agama anda lah yang dipersalahkan, tapi anda sendiri karena itu dilakukan juga bukan berdasarkan dari agama atau suku anda. Demikian jika anda masih belum mengerti, saya maklum. Karena memang ilmu itu perlu digali sampai dalam, barulah akan tahu seperti apa isi sebenarnya.

        Terima kasih.

      • dellchan Says:

        hehehe … hanung, hestu dan mutivision makin seneng deh filmnya yang dibuat tanpa riset jadi pembicaraan. sayangnya bukan karena film ini layak dipuji karena kedalaman dan kedekatannya tapi karena kontroversi. kasian penikmat film Indonesia

      • gadis.minang Says:

        pak, by the way di besarkan di daerah mana pak?

      • Hendra Says:

        Sy hanya melihat akhir2 ini apalagi menjelang 2014, ada gejala gejala provokatif dari pihak2 tertentu mengenai isu sentimen ke agama an. Ini persoalan hanya orang beragama katolik yg memerankan suku minang, lah gimana dgn mesjid istiqlal yang dirancang arsitek Nababan yg notabene katolik?

    • cashto Says:

      Saya emang ga tahu kapan “prinsip dasar” ABS BSK itu kebentuk.. tapi saya yakin pasti ada lagi yg paling dasar dr itu.. krn saya yakin sebelum agama “asing” kaya Islam masuk ke daerah Minang. pasti mereka sudah memiliki prinsip dasar.terus anda bilang di komen yg bawah.. kalo adat Minang dari dulu berpondasikan Islam dan ga akan pernah berubah.. nah sebelum Islam masuk ke Minang, pasti juga punya pondasi untuk adat Minang kan? nah itu aja uda berubah..

    • Keren Says:

      mohon maaf sebelumnya,sy bukan orang minang namun banyak berkawan dan bergaul dengan urang awak,jikalau ada orang atau suku lain berpandangan beda dengan adat istiadat urang minang.itu sebenarnya bukan kesalahan dari orang yang memandang namun dizaman akhir2 ini banyak orang2 minang yang melanggar aturan adat itu sendiri.contoh didalam agama islam haram hukumnya memakan daging babi kenyataanya ada orang minang memakannya.jadi kesimpulannya apa yang hanung buat itu memang ada.jadi jangan tersinggung karena itu adalah kenyataan.jadikanlah sebagai alat intropeksi diri dan tanamkanlah adat bersendikan sara’ dan syara’ bersendikan kitabullah kepada masyarakat minang khususnya yang akan pergi merantau keluar dari ranah minang.karena sebenarnya tidak ada yang menghina dan terhina kecuali dirinya sendiri yang menghinakanya

  18. Dwi Sri Yanti Says:

    GAK USAH DIDENGERIN LAGIKA DIA, ORANG ini CUMA KETURUANAN MANUSIA YANG LAHIR DISUMATRA BARAT.
    Tidak PANTAS disebut ORANG MINANG, Karena dia tidak mengerti ADAT ISTIADAT dan FISALFAT ORANG MINANG.
    ADAT BERSANDIKAN SYARA, SYARA BERSANDIKAN KITABBULAH (AL QURAN).

    • anwaruddin Says:

      Amien, Semoga minang tetap jaya dan selalu melahirkan generasi pejuang muslim yang tangguh, seperti H.Agussalim, Buya HAMKA, Moh.Natsir dan sebagainya.

  19. Jeffry Says:

    Saya setuju dengan anda. Sebagai mahasiswa hukum saya sendiri tahu bahwa UUD 1945 menjamin rakyatnya untuk memeluk agama apapun selama itu diakui oleh negara. Orang dari suku apapun bebas memilih agama yang ia rasa benar. Saya punya teman yang etnik-nya Aceh (yang identik dengan Islam) dan dia beragama Protestan. Saya pun juga punya teman yang beretnik Papua (identik dengan Kristen) tapi sejak lahir sudah Islam. Jadi berasal dari suku apapun kita, adalah hak kita meilih agama apa yang kita yakini benar

    • ie ie Says:

      mas, dalam undang2 hanya diatur “bebas memilih agama dan kepercayaan” masing.. tapi anda tidak bisa MEMILIH SUKU. anda terlahir bersama nya, anda bisa saja kehilangan suku karena HUKUM ADAT tertentu.

      • adearmando Says:

        Ya terserah…
        Tapi pertanyaan saya adalah: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

      • ii.rahmayanti@gmail.com Says:

        Esensi Minang nya gak tepat, karena orang Minang gak ada yg non muslim. Kalo dia minang pasti muslim. Lain halnya dia gak bawa embel2 suku minang. Cukup dijelaskan bahwa tokoh diana ini adalah PENDATANG dan hanya domisili saja di PADANG. Jangan bawa2 adat kalo gitu. Beres kan?
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

  20. jojon Says:

    film gak bermutu, cuma bikin orang ribut aja, provokator enaknya dibakar rame2 dasar gilo!!

  21. yupy Says:

    hukum di indonesia ada dua hukum tertulis dan hukum adat…. !

  22. dwi sri yanti (@dwiyantie) Says:

    MINANG = MUSLIM, Kalo Ngaku MINANG tapi bukan MUSLIM, maaf saja mungkin hanya keturunan orang SUMATRA BARAT.
    JASMERA, jangan lupakan sejarah. Dari jaman NENEK MONYANG MINANG selalu memegang fisalfat ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN). Tau gak hanya orang Muslim yang punya kitab suci Al Quran.
    Diluar konteks kelakuan Manusia itu sendiri, ini bukan masalah Agama, tapi Adat Istiadat dan Budaya yang sudah ada dan selalu melekat pada Orang Minang, yang memang Notaben merupak asal usul orang-orang di Sumtra BARAT. Perlu saya ulangi lagi FISALFAT MINANG ” ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”. Masih gak ngerti juga ” ADAT BERSANDIKAN SYARA (Hukum), dan SYARA BERSANDIKAN KITABULLAH (AL QURAN)”
    Anda cuma orang keturunan Sumatra Barat, Karena anda bukan Orang Minang (Muslim), mana ada orang muslim bilang menghalalkan babi.

  23. sunan Says:

    ga mungkin nih ade armando orang minang, ga pernah belajar marapalam charter ya? kalau ilmu msh cetek, jangan ngomong bro. setiap nagari diminang kabau punya aturan, punya kesepakatan yang berbeda, agama dan ajaran islam adalah yg paling prinsip diatas adat. yang menjadikan setiap nagari itu satu. ada kearifan lokal yang akan menghukum setiap murtad (minang yg bukan muslim, pasti murtad/,urtadah, krn setiap mianag dilahirkan dlm keluarga muslim) salah satunya dicabut hak-hak nya sebagai mamak/kemenakan dalam garis keturanan secara adat, batal hak-hak pusaka dan waris, serta dibuang dari suku atau nagarinya.
    saya aja orang jawa tau…
    ini masalah subjektif bro, persoalan menghinan itu adalah subjektif, peraturan objektif. setiap yang merasa dihina, berhak menuntut. dan ini jelas penghinaan. setiap individu minang itu pasti dilahirkan dlm kluarga islam, dan mati dalam islam, kalau ditengah jalan mereka murtad, maka batal lah keminangkabauan mereka. jd tidak ada hak sama sekali bg murtad itu mengaku sebagai minang. dan aturan adat merupakan hukum yang sah dan dilindungi oleh undang-undang. ketika adat mengatakan non muslim bkn minang, mereka berhak menuntut hak mereka ketika ada non muslim yang mengklaim. meski ada darah mina

    bro, pernyataan anda ini Kalau “sekarang orang Minang bikin aturan sendiri, sebaiknya keluar dari Indonesia”. ini jelas salah bro, hukum indonesia, mengakui adanya hukum adat, yang tentu dibuat oleh masing-masing kearifan lokal yang ada di Indonesia. bahkan aceh sudah boleh menggunakan syariat islam. mgkn ada perilaku orang minang yg tidak sesuai dgn adat dan agama mereka, tp itu bkn menjadi justifikasi lalu dibuat seolah-olah mewakili. sebagian besar orang minang mgkn ga sempat belajr tentang budaya mereka sendiri, apalagi yang bkn orang minang, dan ini yg akan menjadi masalah ketika sebagian penonton yg bukan minang menganggap bahwa babi dan agama non islam itu adalah minangkabau.

    ini sebuah kesalahan, orang-orang minang hanya menuntut hak identitas mereka, kenapa pula anda hrs bersikeras menjilat didepan mas hanung ini? siapa saja boleh berkarya, dan siapa saja juga boleh merasa dihina.

    saran bwt elu mas; gw aja yg orang jawa banyak baca buku kearifan lokal, termasuk minangkabau, masak lu ga belajar budaya lu sendiri, jgn-jgn agama lu jg ga lu pejari. lu cari marapalam charter ya, bwt baca baca. trus kalau bs tanya-tanya sm bokap atau nyokap. baca sejarah, kalau bahan udah banyak, baru ngomong disini. belajar diskusi cerdas, jgn asal nyerocos dan yg penting menang. apalagi cm sok sok bela hanung. hadeeeeeeh

  24. ichanx Says:

    Gw gak mau ngebahas filmnya.

    Gw ingin komentar krn gw gak setuju dengan tulisan lo masalah minangnya,

    Situ ngaku orang minang, tapi gak ngerti adat sama sekali. Tulisan lo ngelantur. Tanya bokap-nyokap-gaek-mamak dst keatas di kampung lo. Ngerti gak sih ama yg namanya adat istiadat minang? Orang minang pindah agama, ya sah-sah aja secara pribadi. hak asasi kok. tapi secara otomatis dia dihapus dari suku minang. kalo udah bukan islam, ya hilang hak-hak dia sebagai anggota keluarga besar suku minang.

    Orang minang ada yg penjahat, koruptor, rampok, dll? ya itu salah, kriminal. tapi gak ngehapus kesukuannya.

    Siapa yang membuat peraturan Minang identik dengan Islam? Omigosh. Ngaku minang tapi hal yang paling dasar tentang suku lo sendiri aja gak tau. Belajar adat nenek moyang lo dooooong. Cari tau gimana mulai dari Pagaruyung dulu, ada Syekh Burhanudin Ulakan, ada Perang Padri, perjanjian Bukit marapalam, dsb. Jangan asal ngemeng.

    Gw sih masih bisa senyum2 kalo yang nulis ini bukan orang Minang. Tapi elu? ckckck

  25. apn Says:

    🙂 begini aja diributin? dikelahiin? ditentang sana sini…
    Indonesia itu SATU dan BERSAMA.. agama kok main disalahin, suku kok main disalahin..adat istiadat..
    saya bukan minang dan ga tau apa apa tentang minang atau agamanya apa disana..
    hanya saja saya merasa ini semua terpapar dalam konteks “PENDAPAT dan MENURUT SAYA”
    semua orang pasti bersikukuh dan bersikeras bahwa “saya benar dg ini”

    santai ajalah..
    ini dan itu urusan mereka..
    hhe

    salam damai Indonesia :DD
    dari Sabang-Merauke

  26. dwi sri yanti (@dwiyantie) Says:

    Ingat Ya Konteks antara orang Keturunan Sumbar dan Orang Keturunan MINANG.
    Orang SUMBAR belum tentu semuanya adalah islam, Tapi Orang MINANG so pasti Adalah Islam (Muslim)….
    Lihat Adat Istiadat dan Budaya orang terlebih dahulu, Karena fisalafat Minang yang melekat dari dulu ampe sekarang adalah “ADAT BERSANDIKAN SYARA, SYARA BERSANDIKAN KITABBULLAH (Al Quran). So Otomatis Minang = Muslim.
    Jadi jangan lah Kau Mengaku Orang Minang kalau bukan Seorang Muslim.
    “SYARAK MANDAKI, ADAT MANURUN, SYARAK MANGATO, ADAT MAMAKAI…”
    “Alam Takambang jadi Guru ”
    cek in http://anakdilam.mywapblog.com/filosofi-hidup-masyarakat-minang-adat-ba.xhtml

  27. dwi sri yanti (@dwiyantie) Says:

    filosofi hidup masyarakat minang(adat basandi sarak,sarak basandi kitabullah)

    Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” merupakan landasan dari sistem nilai yang menjadikan Islam sebagai sumber utama dalam tata dan pola perilaku serta melembaga dalam masyarakat Minangkabau.

    Artinya, Adat Bersendi Syarak,Syarak Bersendi Kitabullah adalah kerangka filosofis orang Minangkabau dalam memahami dan memaknai eksistensnya sebagai mahluk Allah.
    Sesungguhnyalah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah yang kini menjadi indentitas kultural orang Minangkabau lahir dari kesadaran sejarah masyarakatnya melalui proses dan pergulatan yang panjang.

    Semenjak masuknya Islam ke dalam kehidupan masyarakat Minangkabau,terjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sebuah sistem nilai dan norma dalam kebudayaan Minangkabau yang melahirkan kesepakatan Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.
    Undang- undang alam yang dijadikan oleh Tuhan atau yang disebut sunatullah atau hukum Allah.
    Dalam ajaran Islam, alam yang luas ini dengan segala isinya adalah ciptaan Allah swt dan menjadi ayat-ayat Allah (ayat kauniyah) sebagai tanda- tanda kebesaran-Nya.
    Bahwa sesungguhnya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan proses pergulatan antara Adat,Islam dan Ilmu Pengetahuan adalah kerangka filosofis dalam memaknai ekstensi manusia sebagai Khalifatullah di dunia.
    Adat disebut juga ‘uruf, berarti sesuatu yang dikenal, diketahui dan diulang-ulangi serta menjadi kebiasaan dalam masyarakat.

    Adat itu sudah tua usianya, dipakai turun temurun sampai saat ini, yang menjadi jati diri (identitas) dan dianggap bernilai tinggi oleh masyarakat adat itu sendiri.
    ‘Uruf bagi orang Islam, ada yang baik dan ada yang buruk.Pengukuhan adat yang baik dan penghapusan adat yang buruk, menjadi tugas dan tujuan kedatangan agama dan syariat Islam.

    Dalil yang menjadi dasar untuk menganggap adat sebagai sumber hukum ialah ayat al Qur an, Surat al A’raf ayat 199 dan hadits Ibnu Abbas yang artinya “apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka pada sisi Allah juga baik di kalangan ahli fikih (hukum) Islam berlaku kaidah,adat itu adalah hukum.
    Proses dialektika, pertentangan dan perimbangan oleh orang Minang tidak hanya sebatas pergulatan,tapi proses ini telah membentuk insan Minangkabau sebagai individu yang memiliki karakter, watak dan sikap yang jelas dalam menjalani siklus kehidupan.

    Di antara karakter itu adalah;
    Pertama,orang Minangkabau selalu menekankan nilai-nilai keadaban,di mana individu dituntut untuk mendasarkan kekuatan budi dalam menjalankan kehidupan.
    Kedua,etos kerja.
    Didorong oleh kekuatan budi,maka setiap individu dituntut untuk selalu melakukan sesuatu yang berarti bagi diri dan komunitasnya.Dan melalui semangat inilah kemudian mereka memiliki etos kerja yang tinggi.
    Ketiga, kemandirian.
    Semangat kerja atau etos kerja dalam rangka melaksanakan amanah sebagai khalifah menjadi kekuatan bagi orang Minangkabau untuk selalu hidup mandiri,tanpa harus bergantung pada orang lain. “Baa di urang,baitu di awak” dan“malawan dunia urang” adalah sebuah filosofi agar individu dituntut untuk mandiri dalam memperjuangkan kehidupan yang layak.
    Keempat,serasa,tenggang menenggang dan toleran.
    Walaupun kompetisi sesuatu yang sah dan dibenarkan untuk mempertinggi harkat dan martabat,namun ada kekuatan rasa yang mengalir dari lubuk budi.
    Karena invdidu hidup bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pribadi,melainkan juga berjuang dan memelihara komunitasnya,maka kekuatan rasa menjadi hal yang sangat penting artinya.
    Hidup dalam pergaulan sosial mesti didasarkan pada kekuatan rasa. Rasa akan melahirkan sikap tenggang menenggang dan toleran terhadap orang lain dengan segala perbedaan yang ada. Bila etos kerja dan semangat kemandirian muncul dari lubuk “pareso”,maka sikap tenggang menenggang dan toleran muncul dari kekuatan “raso”.
    Kelima,kebersamaan.
    Penempatan insan dalam posisi personal/ individu dan komunal memberi ruang kepada orang untuk menjalin hidup secara bersama untuk kebersamaan.
    Selain penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat,kekuatan rasa, tenggang rasa dan toleran memperkuat munculnya kebersamaan dalam masyarakat Minangkabau. Kebersamaan itu sesungguhnya lahir dari pola penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat.
    Meskipun sebagai individu diberi ruang gerak untuk dirinya sendiri,namun ia harus bersikap toleran, saling tenggang menenggang dan menghargai setiap perbedaan yang ada.
    Keenam, visioner.
    Dari kekuatan budi,etos kerja yang tinggi,watak kemandirian,nilai saraso, tenggang menenggang,dan kebersamaan,orang Minang selalu dituntut untuk bergerak maju, dinamis, dan melihat ke depan.
    Semangat inilah yang kemudian membuat orang Minang memiliki visi yang jelas dalam menjalani kehidupannya.
    Akidah tauhid sebagai ajaran Islam dipupuk melalui basobasi atau budi dalam tata pergaulan di rumah tangga dan di tengah masyarakat.

    Demikianlah masyarakat Minangkabau menyikapi cara mereka melihat sistem nilai etika, norma,hukum dan sumber harapan sosial yang mempengaruhi perilaku ideal dari individu dan masyarakat serta melihat alam perubahan yang lahir dari lubuk yang berbeda, antara adat dan Islam.
    Kemampuan dan kearifan orang Minangkabau dalam membaca dan memaknai setiap gerak perubahan, antara adat dan Islam, dua hal yang berbeda, akhirnya dapat menyatu dan saling topang menopang membentuk sebuah bangunan kebudayaan Minangkabau melaluiAdat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.

    Ajaran adat Minangkabau berlandaskan asas filosofi Alam Takambang Jadi Guru, suatu konsep alam semesta, merupakan sumber “kebenaran” dan kearifan orang Minangkabau.Alam semesta dipahami orang Minangkabau dari segi fisik dan sebagai sebuah tatanan kosmologis.
    Dalam ayat-ayat kauniyah,ALLAH Tuhan Yang Mahakuasa,mengungkapkan beberapa rahasia-Nya melalui alam semesta.

    Inilah yang kemudian menjadi titik temu perpaduan antara sistem nilai Adat dengan Islam.
    Oleh karena itu, tepat kiranya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah,dikatakan sebagai sebuah kerangka berpikir (paradigma) filosofis budaya Minangkabau yang terpola dalam struktur pengetahuan, sikap dan perilaku sosial masyarakat Minangkabau.
    dikutip from ; http://anakdilam.mywapblog.com/filosofi-hidup-masyarakat-minang-adat-ba.xhtml

  28. Haddad Sammir Says:

    Menurut saya adat Minang adalah “mufakat”, adat adalah kesepakatan yang bersendikan kepada “alua dan patuik”. Sedangkan adagium ABS/SBK sejauh yang saya pelajari boleh jadi hanyalah hegemoni kaum paderi yang bukan produk adat.

    Mungkin tidak banyak yang tahu kalau ada adagium lain: “Adat basandi ka alua jo patuik, syara basandi kitabullah. Adat jo syara sanda-basanda, bukan sandi-basandi”.

    Bagi saya pribadi silahkan saja kalau ada Minang yang islam, kristen, hindu, buddha atau atheis.😉

  29. leoleo Says:

    Bangsaku.. Hayooo.. Majulah..
    Ini film.. Film adalah karya seni..
    Bijak lah.. Kapan bisa maju..
    masa terhina karena film begini..
    Gak pernah terhina ya dgn org2 korupsi dr sukumu??? Haaah..
    Ato terhina hanya alasan.. ?
    Ato artinya terhina udh ganti ya..

  30. myosph Says:

    Menurut gw gugatan ini gak valid, soalnya di film itu cuma disebut kalo Diana orang Padang, bukan orang Minang.
    Dia disebut ‘Gadis Minang’ sama mamanya Cahyo yang BERASUMSI kalo dia orang Minang karena Cahyo bilang dia dari Padang.
    Sementara dari pihak Diana (dan keluarganya) sendiri gak pernah bilang apa-apa soal Minang. Mereka pake kata ‘Padang’ terus kok.

    Kalo misalnya semua orang Minang itu (ngakunya) Muslim, ya oke aja. Tapi gak semua orang Padang itu orang Minang kan? Jadi gak semua orang Padang itu Muslim.

    NB: Makanya tonton dulu film-nya sampe abis, jangan cuma baca sinopsis/review atau nonton trailer…

  31. subur Says:

    sebagai orang minang yang lahir di kampuang tapi besar dirantau, pengen ikut nimbrung beri tanggapan terhadap gugatan “urang awak” terhadap Hanung dan Raam soal Film CTB.
    Saya sendiri menganggap bukan sebuah penghinaan terhadap orang minang jika digambarkan ada orang minang beragama katolik tapi bukan pula sesuatu yang patut. Kami orang minang begitu bangga dengan keislamannya sehingga sngat jarang orang minang menjadi murtad dengan alasan apapun. Orang minang merantau keberbagai tempat dan bergaul dengan berbagai macam kelompok masyarakat dengan agama berbeda tapi kami orang minang sangat jarang mengganti identitas keagamaannya denga dalih apapun. Artinya kami orang minang adalah maysrakat yang teguh pendirian keislamannya. Kalau kemudian digambarkan ada orang minang beragama katolik itu sama saja mengatakan bahwa orang minang itu “tidak teguh pendirian”.
    Kalaupun ada orang minang beragama katolik misalnya atau agama lainnya selain Islalm, berapa sih jumlahnya. Masih terlalu kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan masyarakat minang secara keseluruhan. Fakta ini yang menjadikan orang minang merasa tersinggung jika dalam film CTB digambarkan orang beragama Katolik.
    Sebaiknya Hanung dan Raam dimasa datang lebih berhati-hati dalam menggarap karyanya agar tidak menyinggung perasaan pihak lain.
    Secara umum saya dari dulu tidak menyukai karya-karya film maupun sinetron hasil garapan perusahaan Multivision, sebab lebih kental unsur hiburannya. Mungkin mereka berprinsip Seni untuk Seni semata, jadi tidak begitu peka dengan rasa dan perasaan.

  32. cashto Says:

    untuk yang merasa keberatan dan bilang Minang identik dengan Islam.. Terus waktu jaman dulu sblm Islam masuk ke Minang..

    berarti Minang itu blm ada dong?

    berarti Minang muncul setelah agama Islam masuk ke Indonesia?

    terus kalo orang Batak identik dengan Kristen, berarti sblm agama Kristen masuk ke daerah Batak sana.. belum ada yang namanya suku Batak gitu?

  33. SS Says:

    Ade, Dept. Komunikasi FISIP-UI bangga punya alumnus seperti kamu. Saya pun bangga punya teman seperti kamu. Ingat dulu waktu kita berlelah-lelah mengerjakan “Warta UI” dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan kritis yang sekarang banyak orang bahkan tidak berani mengangkatnya.

  34. R.G.T Says:

    Yang menyatakan orang minang identik dengan Islam adalah keliru! Lah sebelum Islam masuk, emang orang di sano beragama apa? ah, jangan-jangan, generasi sekarang saja yang agak LEBAY, kemudian mengklaim bahwa bangsa Minang itu identik dengan ISLAM. Padahal, bahwa orang Minang umumnya hari ini beragama Islam adalah hanya salah satu bagian dari perjalanan sejarah, yang (siapa akan tau) mungkin saja di waktu-waktu mendatang bisa berubah: yang mayoritas Hindu, Budha, atau beragama mayoritas di luar Islam. Itu mungkin saja!

    Jadi, bagi kawan-kawan yang “kebakaran jenggot” akibat filem ini, ya, bersikap dewasalah!
    Perubahan adalah keniscayaan, bro!

    • putra jordas Says:

      buat R.G.T katanya orang minang identik dengan Islam adalah keliru..
      pertanyaannya bagaimana dengan pepatah petitih sob, kamu ngrti dengan hal yang demikian itu, kalu ngomong jangan asl ngomong ya sob, kamu gali lagi ilmunya, baru berargumen, sangat mengharukan sekali pengetahuannya…….

  35. ie ie Says:

    saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga minang, dari kecil sampai sekarang sangat kental dengan yang nama nya tambo adat minangkabau. Bukan bermaksud menghina salah satu agama, tapi saya cuma ingin meluruskan. Minang ya ISLAM. flasafah hidup suku minang ya ” Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah”. boleh saja setting film ini di kota Padang atau kota mana pun di Sumatra Barat. tapi sangat ditegaskan bahawa tokoh katolik BUKAN SUKU MINANG. masyarakat padang kan bukan berarti MINANG. banyak etnis tiong hoa disana.. bukan menjadikan mereka bersuku MINANG. hukum adat di MINANGKABAU jika ia tidak lagi menjalankan kehidupan adat basandi syara, syara basandi kitabullah…ya otomatis akan dicoret dari SUKU MINANG.

  36. bobby Says:

    Maaf Bang Ade..
    Dari lubuk hati saya yang terdalam, saya mengucap duka sebesar-besarnya atas petaka kebudayaan yang tengah menimpa Keranahan Minang.
    Saya asal Sulawesi Selatan, pengagum budaya dan intelektualitas Minang di masa lalu. Saya tidak sadar sejak kapan Minag jadi tertutup semacam ini. Ruh “rantau”nya sudah hilang rupanya…

    Tabik…

  37. Kang Fuad Says:

    Ada beberapa hal yang kurang saya mengerti di sini. Oke, saya bukan orang Minang, tapi saya warga Indonesia dan muslim. Namun, saya kurang mengerti bahwa Minang itu identik dengan Islam, yang saya tahu itu Aceh. Iya, tapi mohon maaf, mungkin memang saya kurang wawasan. Iya, sudahlah.
    Kemudian, mungkin Alquran menyebutkan hal semacam “hina” tadi, tapi itu saya baca yang hina itu siksaannya, bukan orang yang disiksanya. ex.”siksaan yang menghinakan”.
    Menurut saya, menghargai adalah dakwah yang bagus. Akhlak yang bagus, itu yang diajarkan Nabi SAW. Nabi yang sudah diludahi di muka, dicaci maki, ditumpahi kotoran, dlsb., ternyata masih saja mau menjenguk orang yang sudah melakukan hal yang menghinakan itu, dan justru dengan itu, orang yang bersangkutan menjadi masuk Islam. Mungkin, karena citra Islam yang dibangun Nabi begitu bagus dan indah. Menggugat dengan mengatasnamakan Islam dan citra daerah, apakah justru tidak membuat citra yang buruk terhadap Islam dan daerah yang terkait itu sendiri??? Apakah sikap ini yang diajarkan Nabi?

  38. oceania Says:

    INGAT saudara-saudara ku..!!!!

    Pertama INDONESIA Negara yang berpedoman kepada Pancasila dan UUD 45

    Seluruh rakyat INDONESIA tidak berpedoman kepada 1 agama

    INDONESIA beragam, di papua kami berkumpul bersama, makan bersama, menari bersama, walau kami berbeda.. (INDAHNYA KEBERSAMAAN)

    Kalo INDONESIA isi nya manusia super fanatik, seharusnya anda tidak cocok berada di INDONESIA

  39. nni Says:

    Saya sependapat dengan ade armando. Hanung tidak perlu meminta maaf, karena tidak ada yang perlu di maafi. Apa salahnya orang Minang seorang yang katolik? Apa salahnya jika seorang yang katolik memakan babi? Kecuali di dalam film itu menunjukkan orang minang nya muslim dan memakan babi. Tapi kan orang minangnya katolik. Logika saja dong.
    Jika orang minang memang berpondasi Islam lantas apakah tidak boleh orang minang beragama katolik?? Bolehkan. Indonesia bebeas beragama.

    Filmnya juga bagus, seperti bhineka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.

    • myunspokenmind Says:

      Pertama-tama, saya miris dengan saudara sebangsa dari luar Minang yang nggak tau Identitas Minangkabau itu seperti apa, sedangkan orang luar tau Minangkabau itu luar dalam. bahkan menggunakan buku-buku sastra anak Minang di sekolah-sekolahnya.

      dan sekali lagi, menyuruh orang Minang keluar dari Indonesia adalah kalimat yang menggelikan yang pernah saya dengar. Apa kamu tidak sadar, siapa-siapa saja pendiri negara ini, orang Minang yang paling banyak berkontribusi dalam kemerdekaan negara ini,- selain keturunan China, orang Minang yang membantu perekonomian negara ini. karena, orang Minang dan China punya banyak kemiripan, mereka nggak suka digaji, tapi lebih suka menggaji.

      Misalnya gini, saya tuturkan pengalaman saya;

      Saya lagi naik taksi di Singapore bareng kolega saya yg orang SIngapore, lalu sisupir taksi yang china melayu nanya saya dari mana. Saya bilang saya dari Indonesia, tepatnya ‘west sumatra’.
      Lalu dia yang langsung ngomong;
      ohhh orang Minang, kenapa kamu nggak kaya’ orang Minang….. Dia ngomong gitu karna saya pakai rok selutut. Lalu dia bilang, saya tau Minangkabau, islamnya kental dibanding Jawa. Banyak orang Minang sukses di Malaysia, jadi saya tau. Dan dikampung kamu, cewek pakai rok selutut pasti nggak banyak.. karena orang Minang, keliatan betis aja udah dianggap terlalu ‘modern’

      Saya hanya terpana dengan statement2 si supir taksi, … saya kagum dengan pengetahuannya yang luas akan socio-culture etnis di Indonesia, padahal dia hanya supir taksi. Bukan sutradara atau produser film.

      Dari contoh diatas, orang luar pun tau, minang identik dengan Islam, dan film Hanung tidak berdasarkan fakta, kalau ada orang Minang yang non Islam itu mungkin alasan pribadi, (dan nggak banyak) .. tapi minang identik dengan islam seperti melayu asli (bukan mixed, karena banyak juga melayu menikah dengan china dan agamanya jadi beda2) identik dengan Islam.

      Kerugian dari film Hanung ini untuk orang Minangkabau,- ,…… Turis Malaysia termasuk turis yg cukup banyak berkunjung ke Sumatra Barat. Dan orang melayu Malaysia itu banyak kemiripan dengan orang Minang yang sangat strict dengan makanan halal, beda dengan teman2 saya yang dari Jawa, yang agak fleksibel dengan kehalalan makanan.

      Kalau mereka nonton film ini, Diana gadis minang penggemar babi rica-rica, mereka akan bilang, film ini such a bullshit. Mereka percaya ke Ranah Minang karena kita punya banyak kesamaan dan aman bagi mereka mengonsumsi kehalalan makanan di ranah minang, jelaskan ……… ini hanya sebagian kecil kerugian dari film Hanung untuk orang Minang
      wah panjang lebar deh

  40. ampachan Says:

    Hei bung, sebaiknya anda baca n pahami ini sebelum mengaku dari suku minang,
    Minangkabau adalah tanah Islam, tempat lahirnya pejuang Islam semacam Imam Bonjol, Haji Rasul, Syeikh Burhanudin. Ada pula Buya Hamka, M. Natsir, Agus Salim, dll.
    Orang Minang yang murtad bukan lagi orang Minang, dia sudah dibuang
    dari adat.
    Orang Islam itu belum tentu Minang tapi orang Minang itu sudah pasti Islam!
    Itulah kearifan tetua kami dulu. Ini dicetuskan setelah
    Perang Paderi, di Marapalam, Bukittingi (1850).
    Konsesus Marapalam, Bukitnggi tahun 1850 menyatakan bahwa Murtad = Terlepas dari Adat
    *Cinta Tapi Beda adalah film laknat terbaru dari Hanung Bramantyo
    yang berisi kesesatan tanpa fakta ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan

  41. Raka Aditya Sevenfoldism Says:

    adearmanado itu seorang LIBERALIS, so, hati2 ya saudara seMINANGku

    (kalo gak percaya liat aja semua anggapan da tulisannya)

  42. Raka Aditya Sevenfoldism Says:

    eh maaf salah tulis🙂

    maksud saya Adearmando ..

    jangan trsinggung ya da, saya hanya menyimpulkan apa yg saya baca dr tulisan dan pndapat uda,
    🙂 salam perdamaian ^_-V

  43. uda Says:

    lo (adearmanto) tu yg dangkal bgtt pemikiran lo, dan sok2 ngerti akan adat Minangkabau. udahlah, mending lo gak usah posting dan ngaku2 jd org minang.. ini mah cm posting sampah, yg gak berlandaskan intelektual… dan org seperti anda tak pantas mnjadi bagian dr Minangkabau…

  44. idris Says:

    woww rame jg seru ne,,
    komen dkit ya min,,

    lakukn apa yg ingin u p’buat, katakn apa yg mau u ucapkn tp jgn sampai ada hati yg m’rasa t’usik apalagi t’sakiti krnanya, ingt HIDUP ADA YG NGATUR JG ADA ATURANNYA

    khilaf ke Tuhan kita hanya perlu mohon ampunannya, repotnya khilaf ke manusia harus minta maaf dulu ke manusianya (minta maaf jauh lebih mudah dr m’maafkn) baru di ampuni Tuhan tentunya jg stelah minta ampun,, jd b’hati2lh dlm b’sikap

  45. wijanarko adi Says:

    Bang Ade yth,

    Seru juga ya baca diskusinya.. Saya bukan mau komen apa2 disini, krn sadar dangkalnya pengetahuan saya ttg masalah ini. Saya cuma sekedar lewat n “silaturahmi digital”, salam kangen, sebagai eks anak didik Bang Ade di Broadcast UI taun 97. Semoga Bang Ade dan keluarga sehat terus, sukses terus, n terus mencerahkan dgn pemikiran2 intelek nya.

    Sampai jumpa kapan2 ya bang..

  46. yuta Says:

    sudahlah… kita hidup dibawah HAM kok..
    saya beragama islam… tapi saya juga menghargai agama orang lain….
    kita hidup ya saling toleran lah…. wong mereka (non) juga sama” manusia kok.

  47. anak rantau Says:

    Salam, boleh Coba tanya orang tua anda, ajak orang tua anda, saudara2 anda yg pure minang, menonton film ini. Boleh di share setelah itu apa tanggapan mereka sebagai orang minang? Membuat suatu karya, apalagi disitu berdasarkan true story dan dibuat utk khalayak ramai, apakah hanung dan produser film sudah menggali betul ttg ceritanya, berdialog dgn tokoh2 adat? Apakah anda tau?

  48. hateadearmando Says:

    Waah komen dari “nn” kok ngak dibales lagi mas? Udaah kehabisan kata2 yaa?… Moga segera terbuka ppemikirannya..

    Yg saya heran, knp hanung bikin film yg pasti mengundang kontroversi.. Kan dia bisa saja menggunakan suku/adat laen sebagai latar belakang.. Dari pemilihannya, terlihat hanung bukan sutradara cerdas, tp hanya mencari popularitas..

  49. ethan Says:

    idiot
    kafir memang parah tapi jangan samaratakan semua non muslim sebagai kafir bung
    penzina koruptor bsa dapat ampunan , ya tapi sama juga dengan kafir emangnya kalo orang tobat dri kafir k muslim dia ga di ampuni allah
    ente biang rusuh ni calon provokator mcm rizik dkk

  50. ricco Says:

    Marah karna film cinta tapi beda diceritakan ada orang minang beragama katolik, tpi adem ayem aja pas ada orang minang terlibat korupsi….

    • putra jordas Says:

      buat sob yang bertentangan dengan minang bagaimana dengan saya saja kamu berdiskusi……sambil mengasah otak saya yang katanya sedikit tertinggal
      saya tunggu ya sob

  51. arman Says:

    Wah, sesama org minang berdebat nih.. Sy bukan org minang, tp mempertanyakan apakah benar ade ini org minang? Kok sepertinya tak ada sedikitpun keliatan keminangannyaa.. Kayaknya JIL-nya lbh kental dari keminangannya heheeh

  52. Beriman Says:

    Saudara2 saya bersuku minang sangat banyak di daerah saya, di tengah mayoritas Katolik. Tapi saudara2 saya yg katolik tdk pernah menyebut mereka kafir. Hiduplah dengan aman. Apa yg anda cari di dunia ini? Kehebatan sebagai mayoritas lantas mencap org lain kafir? Lantas kalau ternyata orang2 kafir yg ber-Tuhan dan masuk surga, apa kata anda? Apakah anda akan mempersalahkan Tuhan. Hidup beriman jangan dibuat ribet…..syukur kalau Tuhan ada.

  53. sebel sama nn Says:

    ih lebih setuju sama adearmando daripada sama nn, yang nn komentarnya gak logis, dasar otak dangkal

  54. Arief Adityawan S (@adit1965) Says:

    Salam kenal, walau saya bukan orang Minang, namun ijinkan saya ikut urun pendapat. Sesudah baca seluruh uraian2 di atas dan menonton film CTB, nampaknya diskusi di atas, sebenarnya sudah jauh mendalam ke masalah kebudayaan, bukan pd filmnya sendiri. Tampakya ada detail film yg terlewat. Selain karena saya tak paham akan kebudayaan Minangkabau, saya pikir akan lebih tepat bila saya coba kembalikan pada detail film CTB tersebut.

    Menurut PERSEPSI saya saat nonton film, dan bbrp komentar Hanung, ada beberapa detail penting yang perlu diungkapkan:
    1) Tokoh utamanya yang dalam cerita, beragama Nasrani (Agni Pratistha sebagai “Diana” dan Jajang C. Noer sbg Ibu dari Diana) adalah BUKAN orang Minangkabau. Mereka adalah Orang Sulawesi Utara (Manado?). Diana pergi kuliah ke Jakarta dan tinggal bersama Oom dan Tante-nya, sedangkan ibunya tetap tinggal di Sumatera Barat (Padang?).
    2) Mungkin ada yg bertanya mengapa Jajang C. Noer sebagai ibunya Diana berlogat dan berbahasa MInang kental sekali? PERSEPSI saya: mungkin Jajang sbg warga pendatang – yg orang Manado – sudah lama tinggal di Sumatera Barat dan beradaptasi dg baik – sehingga bahasanya sudah spt orang Minang. Hal itu juga diperkuat dengan pamannya Diana yg bersaudara dg Jajang C. Noer, berbahasa Manado, dan suka masakan rica-rica Babi.
    3) Kalaupun ada satu ‘keseleo’ adalah saat Nungky Kusumastuti (berperan sbg guru tari – yang suku Jawa), sempat berucap di telpon bhw si-gadis (Diana) adalah orang Minang (tolong di cek-ulang bila saya salah ingat). Namun kalau boleh “dimaklumi” ucapan Nungky itu begini ‘pembenarannya’: seringkali orang2 yg bukan suku Minang, spt saya pun, kadang bingung dan menyamaratakan “orang Minang” sebagai “orang Padang”, padahal mungkin dia orang yg tinggal di daerah “Bukit Tinggi”, “Pariaman” dsb (contoh sebutan2 ini pun saya tak yakin).

    Bila “PERSEPSI” saya di atas benar, maka seharusnya film ini tidak perlu dianggap menyakiti hati saudara2 saya suku Minang. Semoga pendapat saya di atas bisa menjernihkan, semoga!

    Catatan:
    Memang betul spt salah-satu komentar di atas: bhw secara strategis, kalau saja Tim Pembuat film mau lbh efektif komunikasinya (dengan inti pesan tentang Kebhinnekaan dan toleransi antar-agama), akan lebih bijak bila Film CTB ini fokus pada masalah percintaan beda-agama, yang terhalang oleh peraturan negara – tanpa membebani dg masalah kultural, yang dengan mudah bisa ‘disalahtafsirkan’.

    Wassalam
    Arief Adityawan S.

  55. awsky Says:

    Cuma baca sepintas, intinya :
    1. Orang Minang harus beragama Islam ( begini kan ya ? )
    2. Kalo udah bukan Islam atau yg melanggar syariat Islam dll, berarti org Minang tsb sudah terlepas dari adat Minang dan otomatis bukan kaum Minang lg ( maksud adat Minangnya begini kan ya ? )

    jadi di dalam film ini ada seorang Minang yg beragama Katholik dan melanggar ajaran ya ?
    Kesimpulan saya berati dia bukan seorang Minang lg ya. Tp di film tetep kaum Minang ? nah gmn tuh logika nya ?

    • ie ie Says:

      berarti film nya salah, ini lah yang ditakutkan kami masyarakat Minang yang mengerti adat. persepsi Film yg salah bisa menimbulkan salah paham di dalam masyaakat yang tidak/kurang/belum tau.

      • awsky Says:

        iya saya setuju, memang intinya ini salah informasi, dan mau tidak mau memang Hanung yang bertanggung jawab. Tetapi masalah penghinaan saya tidak berani buka suara, karena definisi kata hina jaman skrg agak sulit

      • ayyazanydahlan@yahoo.com Says:

        Sbenernya sih kalau mau bersifat toleransi,perlu nonton 2 kali,jelasko disana gk ada yg menjelekan padang atau minang,ini juga kisah hidup seseorang dari blog.saya tau betul kisah ini dan saya alami sendiri.gk ada yg salah sm hati manusia,disini cuma mengangkat cerita bahwa knp cinta begitu sulit ketika adanya perbedaan,agama itu keturunan,bukan kepercayaan,ketika kita dilahirkan dgan agama A atau B tp kita meyakini yang C ketidaktegaan akan muncul sm orang tua yg telah melahirkan kita,maka kita bertahan.sbenernya yg membedakan itu bukan agama,tp manusia itu sendiri,kan di film di jelaskan. Toleransi.knp jd pd repot mencekal film ini:) ini karyako.dan ada org yg mencari rezeki disini.barang siapa yg menutup pintu rezeki org,maka allah akan menutupnya jugakan
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

  56. Rovam Says:

    Ternyata memang agama yang jadi batas pembeda suku dan kelahiran. “Kebanggaan” lahir dari suatu suku tertentu dengan agama tertentu dengan moda; “kebetulan lahir di sana” sehingga kalau keluar dianggap bukan orang suku sana dan dibuang. Memang itu sudut pandang yang sempit sekali kok, berkat “agama”. Sempit sekali. Ngga ada yang patut dibanggakan dari kesukuan seperti itu.

    Ya sudahlah, selamat tinggal “Persatuan Indonesia”, agama yang membuat Indonesia pecah seperti ini. Pancasila macam apa ini, hanya karena agama. HANYA KARENA AGAMA.

  57. nsp Says:

    artikel gak penting, hoax, diminang itu “adat basandi sarak, sarak basandi kitabulloh” jika adat dan agama dilanngar maka seketika sesorang bukan lagi orang minang, ente gk usah ngaku minang kalo tidak lagi menjunjung tinggi palsafah diminang.

  58. Wigati Says:

    Indonesia is so full of controversy. But, hey … It’s a free country. People have all the right to express what’s inside their minds.

    Despites all the comments, yang saya tahu, si tokoh yang beragama katolik ini digambarkan sebagai orang (kota) padang. Yang dalam asumsi saya tidak kalah multi kultural dan multi religi nya dg org2 di daerah lain. Tidak ada keterangan bhw si tokoh bersuku minang. Menurut salah satu blog (lupa baca di mana?), bahwa ada beberapa media yg menuliskan si tokoh adl gadis Minang. Nah mulei deh kontroversinya ke mana2. Padang sama Minang beda ‘kan? Correct me if I’m wrong in this case. Org padang bisa dari etnis atau beragama apa aja, while Minang adalah harus Muslim to? Well noted.

    Yang ke dua, banyak sekali komen2 dengan berbagai nada dari yang sensible dengan argumen2 yang jelas sampe yang very very emotional. Semua sah-sah saja. Again, it’s a free country after all. Cuman saya wondering aja … Pada saat berkomentar atau bahkan saat melayangkan tuntutan, sudahkah pada nonton filmnya sehingga memiliki ‘ground’ yang totally jelas saat melakukan comment2 tau tuntutan tersebut? Atau sekedar comment membabibuta based on apa yang sedang ‘naik’ di trending topics? Kalau udah beneran nonton, ya Alhamdulillah, bahwa bangsa kita beneran sudah kritis sehingga bisa merespon hal2 yang dirasa kurang sesuai melalui media2 yang ada. Akan tetapi kalau belum nonton dan comment nya very judgemental … Okay … Can’t really say much about that. The comment is based on what ground?

    Semoga semua pengguna sosial media menjadi lebih bijak dalam berekspresi bukan hanya mengikuti what’s trend, most commented topics ataupun hanya pengen nampak vokal.

    Maaf kok jadi panjang.

  59. saveeq Says:

    Siipp… Bang Ade… Jika Hanung dianggap melanggar Adat istiadat ya dia hanya bisa digugat dg hukum adat minang. Yg jd msalah, para penggugat mmerkarakan dia dg KUH Pidana. Kedua, melihat comment di atas, tampaknya org Minang sgt antipluralitas agama dlm internal mereka. Benarkah?

    • khemkorner Says:

      Minangkabau kalau menurut saya sudah sangat pluralis. Pernah ngga dengar kerusuhan sara di minang? Pernah ngga dengar orang berbeda keyakinan di ganggu ibadahnya??? Pernah ngga etnis tionghoa atau etnis lain di ganggu???

      FYI : 1. yg namanya kampung cina ada di hampir semua kota di minangkabau. Tdk ada pertentangan tentang hal itu.
      2. Tarekat naksabandyah bisa menjalankan ibadahnya dengan lancar, meski ada perbedaan dgn islam yg dianut di minangkabau.
      3. Sekolah sekolah berbau katolik / bukan muslim seperti Don bosco, xaverius, fransiscus dan lain2 tetap bisa menjalankan aktivitasnya dari dulu sampai sekarang.
      4. Setiap gereja yg sudah ada di daerah minangkabau tidak pernah mendapatkan gangguan dari siapapun dlm melaksanakan aktifitasnya

      Jadi kalau menurut saya salah jika mengatakan minangkabau itu tidak pluralis. Atau mungkin anda ( ade armando ) yg terlalu sempit melihat pluralitas itu. Sehingga menurut anda pluralitas itu boleh melakukan apa saja meskipun akan membuat sakit hati kelompok masyarakat ( minangkabau ).
      Pluralitas itu sendiri saya rasa juga harus menganut azas2 toleransi dan menghormati kebudayaan lokal yg sudah turun temurun menjadi identitas kedaerahan. Dlm hal ini islam dan adat budaya minangkabau itu sendiri sudah menjadi satu kesatuan. Pada saat anda berbicara minangkabau pasti org akan langsung melihat identitas keislaman yg kental dlm dalam adat istiadat masyarakat minangkabau.

      Sedangkan protes yang dilakukan masyarakat minangkabau itu sendiri dilakukan karena mereka merasa ada nilai2 dalam film CTB yg anda gadang gadang sebagai film yg penuh unsur toleransi, mengusik identitas kedaerahan dan tidak sesuai adat istiadat dan kebiasaan minangkabau.

      ” Coba anda bayangkan kalau ada sebuah film yang menggambar kan seorang dosen FISIP UI yang melakukan tindakan Asusila / menjadi germo thd mahasiswi / menjadi pengedar narkoba kepada mahasiswanya, saya yakin semua civitas akademika UI akan meradang dan juga akan menuntut film tersebut untuk segera di tarik…!!!! Krn apa?? Krn UI identik dengan pendidikan, moralitas dan nilai nilai luhur lainnya. ”

      Hal inilah yg dirasakan kelompok minangkabau sehingga mereka melakukan protes bahkan tuntutan pidana.

      Saya berharap ade armando selaku orang berpendidikan tinggi dan akademisi handal tidak melihat ini dalam kacamata pluralitas sempit, lihatlah ini sebagai sebuah dinamika. Jangan sampai sebuah film sebagai sebuah mahakarya seni menjadi penyulut kebencian, karena film dengan latar kedaeraahan dan keyakinan agama akan sarat dengan simbol simbol kedaerahan dan agama itu sendiri. Dan itu tidak bisa berlaku sama dengan daerah dan keyakinan lainnya.

      Saya tidak berusaha menjejali anda dengan ” adat bersandikan syariat dan syariat bersandikan kitabullah ” karena pasti anda sudah capek. Dan mungkin anda sendiri belum paham / tidak tahu dengan esensi dari itu semua…

      Kalau memang ingin berkarya masih banyak tema tema lain yg menarik dan mungkin tidak akan menyulut kontroversi serta menebar kebencian dlm masyarakat kita yang majemuk ini.
      Atau mungkin kontroversi itu yg dicari sebagai ajang promosi untuk meningkatkan popularitas..?

    • ie ie Says:

      secara adat istiadat kami menghormati perbedaan, bukan berarti kami ikut/mengijinkan salah satu dari kami untuk ikut dalam perbedaan itu. TEGAS dan JELAS.

  60. moko.darto Says:

    Bro Adearmando :

    Saya melihat minimal ada 3 persoalan yang membuat Hanung dan Multivisuion perlu terus melanjutkan film ini :
    1. Lihatlah ini adalah film edukasi dengan keBhinnekaan di Indonesia. Sudah dari semula manusia diciptakan beragam. Yg bisa adapptasi maka akan survive. Suku, Agama, Keyakinan, Budaya bersifat beragam juga. Film ini menentang arus krn skrg saatnya penyeragaman Aceh dg Hukum Islam, Jogja dg Kost islam dan non islam, praktek pelarangan ibadah di madura, sbg contoh inginnya keseragaman, dan fim ini bersifat kebhinnekaan. Maka silahkan dilanjut.
    2. Sebagian Masyarakat skrg ini menggunakan kekuatan massa yg bersifat emosional dg dalih hukum positif unt menekan masyarakat yg lain. Ada yg berujung kpd keinginan finansial namun ada pula yg merasa superior dibanding masy lain. Film ini silahkan dilanjut krn film ini sudah beredar -tentunya sudah disensor oleh lembaga tertentu yg berhak atasnya-. Pihak Multivision maju terus aja, jk penuntut ingin uang atau merasa superior atas org lain mk hal ini sdh sama sama kita tebak bukan ?
    3. Kreativitas dan Mimpi Hanung dan Multivision jangan sampai mati hanya krn soal soal spt ini. Soal ini bisa menjadi traumatik jk mental yg dituntut lemah bahkan kemudian mengakibatkan pendangkalan kreativitas. Maju terus Hanung dan Multivision.

    Salah satu ungkapan mengatakan “The stupid man says what he knows, the wise man knows what he says”

    Bagaimana dg si penuntut dan hanung/multivision terkait ungkapan diatas ?

  61. nita Says:

    Wah gila lo semua. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Inget ya, saya sebenernya ga mau bawa bawa agama sendiri ke diskusi ini tapi ALLAH PUN BILANG DI AL QUR’AN SEGALA SESUATU YANG BERLEBIHAN ITU TIDAK BAIK.
    Dan kalian itu fanatik dan lebay.
    Woy. Indonesia itu negara plural.
    Bukan negara Islam.
    Kalo sampe sekarang aja masih ribuuuuuut aja ngurusin agama mulu, kapan mau maju?
    Aceh ngurusin sharia ngangkang.
    Komunitas padang ngurusin identitas dan merasa terhina.
    Buka mata lo semua, ini cuma film.
    Ngerasa banget di hina?
    Siapa juga yang bakal nganggep lo orang yang hina ?
    WOY, SEKALI LAGI GUA BILANG INDONESIA ITU NEGARA PLURAL.
    Hormati satu sama lain, dan jadi Islam ga usah fanatik2 amat lah!
    Taatin apa kata Allah sama solat 5 waktu yang bener aja sana!
    Gausah protes sana sini!

    • saladin Says:

      Ente dulu-nya ngak menyimak mata pelajaran disekolah yeee, masuk asal nyerocos aje, nih gw kasi catatan lain kali jangan malu2-in dosen lu diatas….

      NEGARA INDONESIA
      Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda Tapi Satu) sendiri secara prinsip berbeda dengan prinsip pluralisme. Dalam Bhineka Tunggal Ika, yang dimaksud dengan tunggal bukanlah berarti melebur. Tidak demikian. Akan tetapi lebih kepada arti “kesatuan/bersatu”. Karena tidak mungkin sesuatu yang berbeda itu dapat dilebur menjadi satu. Akan tetapi semangat kesatuan-lah yang menjadi pondasi dari slogan Bhineka Tunggal Ika.

      Contoh gampang dari Bhineka Tunggal Ika adalah pernikahan. Apakah setelah menikah, dua orang manusia berubah menjadi satu? Tentu tidak. Manusia tetap dua. Tapi “semangat kesatuan” membentuk SATU keluarga-lah yang sesungguhnya merupakan esensi dari semangat Bhineka Tunggal Ika.

      Jadi jelas sudah, bahwa prinsip Pluralisme bertentangan dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Pluralisme bukan nilai-nilai luhur bangsa indonesia yang majemuk dan beraneka ragam ini.

      HUKUM

      Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa, hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana berbasis pada hukum Eropa, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum agama karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau syariat Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan, dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat yang diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah nusantara.

  62. anak Bukittinggi Says:

    saya orang bukittinggi,saya lahir di bukittinggi dan tinggal di bukittinggi,anak kelahiran jakarta yang mangaku minang,lebih baik anda diam,karena anda tinggal didaerah yg tidak begitu kenal dengan minang kabau,Film hanung merupakan sebuah penghinaan,kami tidak pernah makan babi disini ,mana ada orang minang non muslim,berarti itu sudah keluar dari adat,tidak perlu berargumen INDONESIA. Mengeluarkan UUD 45 dan sebagainya,kalau ingin mengangkat cerita tentang minang pahami dulu adat minang,apalagi yg mengangkat dan menulis orang JAWA,orang yg tak tau adat minang,sekian dan terima kasih

  63. patriz sanene (@patriz_sanene) Says:

    Ini hanya pola pikir yang fanatik saja..marilah hidup dalam keberagaman..

  64. Rahmat Ali Says:

    Rada berdebar membaca paragraf demi paragraf postingan ini. Dan, pada akhirnya, firasat saya terhadap film CTB itu adalah hampir sama dengan yang Bung Ade Armando tulis.

    Saya mendukung Hanung atas karya-karyanya yang bagus.

    Tulisan Bung Ade semakin membangun cakrawala berpikir saya-yang-lemah ini.

    Terima kasih banyak.

  65. Jihan Meyda Says:

    Tulisan yang sangat bagus bg, mari belajar adat budaya Minangkabau bareng yuk, sudah lama tampaknya abang di JKT🙂

  66. Andreas Says:

    Belajar Bijak ala Dalai Lama
    Seorang ahli dari kelompok “The Theology Of Freedom” dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya pada Dalai Lama pemimpin umat Buddha dari Tibet,
    “Yang Mulia, apakah agama terbaik?”
    Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab,
    “Agama Buddha dari Tibet ato agama Oriental yg lebih tua dari agama Kristen.”
    Ternyata sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab,
    “Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkan anda pada TUHAN,
    yaitu agama yg membuat anda menjadi orang yang lebih baik.”
    Sambil menutupi rasa malu karna punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lama,
    Leonardo Boff bertanya lagi,
    “Apakah tanda agama yg membuat kita mjd lbh baik?”
    Jawaban Dalai Lama,
    “Agama apapun yg bisa membuat anda
    Lebih welas asih,
    Lebih berpikiran sehat,
    Lebih objektif adil,
    Lebih menyayangi,
    Lebih manusiawi,
    Lebih punya rasa tanggung jawab,
    Lebih ber-etika.
    Agama yg punya kualitas seperti di atas adalah agama terbaik.”
    Leonardo Boff terdiam sejenak ter-kagum² atas jawaban Dalai Lama yang bijaksana tidak dapat di bantah.
    Selanjutnya, Dalai Lama berkata,
    “Tidak penting bagiku kawan,
    Apa agamamu,
    Tidak peduli anda beragama ato tidak.
    Yang betul² penting bagi saya adalah perilaku anda di depan kawan² anda, di depan keluarga, lingkungan kerja dunia.”
    Akhirnya, Dalai Lama berkata,
    “Jagalah pikiranmu,
    Karena akan menjadi perkataanmu.
    Jagalah perkataanmu,
    Karena akan menjadi perbuatanmu.
    Jagalah perbuatanmu,
    Karena akan menjadi kebiasaanmu.
    Jagalah kebiasaanmu,
    Karena akan membentuk karaktermu.
    Jagalah karaktermu,
    Karna akan membentuk nasibmu,
    Dan nasibmu…. Jadi nasib mu berawal dari pikiran mu…

  67. bangmirza Says:

    Saya juga orang Minang dan Islam. memang banyak adat dan budaya di Indonesia ini mengindentikan dirinya dengan agama, dalam hal ini adat Minang dan Islam. Tapi saya kira cara pikir ini membuat orang Minang hanya berpaku pada dogma adat dan lupa sejarah bagaimana adat Minangkabau itu muncul. karena saya kira, adat dan budaya Minangkabau sudah ada sebelum Islam masuk ke ranah Minang. Jikalah begitu, sebelum Islam muncul, agama apa yang dipakai?

    memang ada istilah “adat bersendi sara’, sara’ bersendi kitabullah” (adat berdasar syariat, syariat berdasar kitab suci) tapi jujur saja, apakah benar seluruh adat Minang bersendi syariat? dan tidak ada peninggalan sebelum Islam masuk? semua pasti tau kalo orang Minang menggunakan garis keturunan perempuan (matrilinial), berbeda dengan syariat Islam yang menggunakan garis keturunan pria (partilinial), dan masih banyak hal turunan dari adat ini yang berbeda dengan syariat Islam. Jadi saya kira tidak elok jika ada sodara saya orang Minangkabau yang karena ada yg menggambarkan orang Minang beragama Katolik lalu diprotes dan dianggap menghina.

    Menurut saya adat Istiadat itu seharusnya terbuka, karena jika tertutup, maka hilanglah dia. Bolehlah siapapun menganggap dirinya sebagai bagian dari suku Minang, entah itu cina, india, barat, karena boleh jadi mereka yang meneruskan keberadaan adat ini, disaat orang minang lain dan keturunanya mulai meninggalkannya karena berbaur dengan globalisasi.

  68. kawanlama95 Says:

    Yang buat film tentunya punya target yang ingin di capai tentu saja yang membuat film tersebut punya tehniknya agar film tersebut mecapai target. Apa sebenarnya target dari fim ini? Apakah akan bermanfaat untuk orang banyak ataukah hanya sekedar untuk melampiaskan pemikiran yang ada di otak sang pembuat film.Atau ada target tertentu …. saya tidak tertarik dengan film ini karena hanya film saja.

  69. seblat Says:

    dicoba aja deh, bung armando bikin film ttg bali yg indentik hindu, tau2 muncul tokoh asli bali dgn segala tradisinya menjadi seorang muslim taat, jatuhcinta dengan orang NTT yg mendadak jadi konghucu.. pasti rancu dan gak lucu..😀 . memahami minang identik muslim, spt memahami Bali indentik hindu. atau NTT identik kristiani. soal ginian ga usah diutik2 dulu, bnyk hal lain yg lebih urgen..(IMHO)

  70. Sandhi Bilal Says:

    Saya muslim dan setuju soal makan babi adalah hina jika dilakukan oleh seorang muslim, kecuali dlm keadaan darurat. Smntara klo org non Muslim memakan babi, bukan urusan kita dan kita samasekali tidak berhak utk menilainya krn Allah lah yang Maha Tepat Perhitungannya.. So pls dont playing God. Wallahualam bissawab.

  71. PujaKesuma Says:

    Uda, pulang kampuang sakali-sakali da. Duduak batamu jo masyarakaik.

  72. Klarifikasi Says:

    Uda, karena ada menyebut soal Tan Malaka, di tulisan uda dan di balasan uda terhadap komentar pembaca lain, bijak kiranya uda dalami dulu sosok Tan Malaka ketika menyebut “Tan Malaka itu komunis”. Ya, benar, Tan Malaka menganut komunisme. Tapi komunisme disini adalah ideologi politik atau ideologi pergerakan, BUKAN ideologi kepercayaan. Komunisme TIDAK PERNAH mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, uda. Tan Malaka sendiri seorang muslim yang taat sejak kecil. Mungkin uda salah kaprah dengan mengasosiasikan komunisme itu sama dengan atheisme? Komunisme itu ideologi politik, kalau atheisme itu baru ideologi kepercayaan (yaitu tidak mengakui adanya Tuhan). Demikian sedikit mengklarifikasi…

    Bisa Uda baca tulisan lain disini yang kurang lebih isinya sama:
    http://politik.kompasiana.com/2012/06/15/komunisme-indonesia-dan-anti-tuhan-470034.html

    Terima kasih.

    Perkara film ini…
    Sudahlah, yang diuntungkan dari kontroversi semacam ini adalah pembuat filmnya. Itu saja.
    Sy tidak mendukung atau menentang salah satu pihak.

  73. Maryono Says:

    saya menggaris bawahi paragrap “Sebagai orang Minang, saya keberatan karena apa yang dilakukan Komunitas Minang seJabodatebek itu seolah-olah menggambarkan bahwa orang Minang sedangkal itu cara berpikirnya.

  74. Aslim Nurhasan ST SATI Says:

    Uda Ade Armando Yth;
    mdh2an secuil kutipan di bawah ini bisa menjadi referensi:
    “Reformasi budaya di Minangkabau terjadi setelah Perang Padri yang berakhir pada tahun 1837. Hal ini ditandai dengan adanya perjanjian (SUMPAH SATI) di Bukit Marapalam antara alim ulama, tokoh adat, dancadiak pandai (cerdik pandai). Mereka bersepakat untuk mendasarkan adat budaya Minangkabau pada syariat Islam.”

    Aslim Nurhasan ST SATI
    +62811918886 | BB 22BC124D | aslim@haragreen.com

  75. Triawal Rahtantio Says:

    Masa kecil saya banyak bergaul dengan teman2 minang karena sebgaian besar tetangga saya “urang awak” dan dalam buku agenda perjalanan hidup saya kemudian tercatat sahabat saya banyak juga yang berasal dari minang. Sepengalaman saya ABS SBK nempel pada emosi bawah sadar mereka, dan ini yang luput dalam “riset”nya Hanung. Angan-angannya Hanung kepanjangan mirip sinetron, logika yang dipaksakan kalau boleh saya berujar. Kenapa kita harus berfikir sesuatu yang probabilitasnya sangat kecil terjadi, toh kalau terjadi dan orang minang dengan akalnya yang Anda bilang “dangkal” akan mengambil sikap seperti saat ini, emosional ABS SBK belaka, akankah melahirkan bibit bibit ketidak harmonisan?. TOH MEREKA ASYIK ASYIK SAJA BERGAUL HARMONIS DENGAN SELURUH ETNIS, AGAMA. Munculnya film CTB inilah yang menjadi pencetus ketidak harmonisan itu. Kalau Hanung nggak usil dengan “angan-angan yang berkepanjangan” saya rasa keharmonisan tidak akan terganggu. Kenapa tidak ambil lokasi lain, kenapa tidak ambil adat istiadat lain. Riset awal Hanung yang amburadul, film dengan pemikiran dangkal.

  76. nova Says:

    Ade armando, mengaku minang tapi tidak memahami makna ABS BSK, dan sebagai banga indonesia dia tidak memahami isi dari UUD 1945 dan asal muasal UUD 1945. Jadi hal yang wajar dia bicara asal bicara.

    Islam mengajarkan : jangan bicara kalau tidak tau ilmunya, hanya akan terlihat bodoh .

    Biarkan aja ade armando melakukan pembenaran akan ketidakpahamannya, dan sy sebagai asli minang yg dibesarkan diminang tidak perlu melakukan pembenaran pada orang yang ngk paham seperti ade armando krn sejatinya kebenaran itu suaranya lebih keras.

    Sekian

  77. Nich Says:

    Terima kasih buat nn yang sudah membagikan link di atas. Informatif sekali.

    Sekedar menambahkan statistik aja;
    Bibi saya orang Padang (eh, gak tahu tepatnya, apa kampungnya di Padang atau dimana – hanya kebiasaan saja menyebutkan orang kelahiran Sumbar dengan sebutan ‘orang Padang’), beliau juga bisa berbahasa Minang (atau bahasa Padang tuh ya, sama kah?) dan saat ini memeluk agama Kristen.

  78. Yunaldi Yahya Says:

    Nagari di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas., Basasok bajarami, Bapandam bapakuburan, Balabuah batapian, Barumah batanggo, Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai bamusajik

  79. anwar Says:

    Tulisan yang amat baik. Adat dan agama, beserta pendukung2nya, yg tdk sesuai lg dgn perkembangan rasionalitas dan spiritualitas yg benar akan hilang jg akhirnya, apakah secara baik2 maupun lewat benturan keras. Kata kunci dr permasalahannya adalah dogma, suatu ancaman dan bahaya terhadap kemanusiaan yg melebihi bahaya2 lain sekarang.

  80. nugrohosuksmanto Says:

    Larangan memakan babi dipersepsikan begitu mencekam, sehingga dosa memakan babi dibayangkan jauh lebih besar dari pada dosa melakukan korupsi? Dalam Alquran juga diperingatkan kepada umat agar tidak berlebih-lebihan. Menempatkan larangan memakan babi secara tidak proporsional, adalah juga termaksud taklid, sebuah dosa besar.
    Kalau kita baca dalam pelarangan memakan babi, ayat itu tidak berdiri sendiri, tetapi termasuk dalam ayat itu larangan memakan darah (cairan) dan bangkai serta memakan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Dan alasannya, dinyatakan dalam surat Al An’am ; karena itu kotor !
    Pendekatan konseptual menafsirkan larangan tersebut adalah: Islam sebuah agama yang menghendaki kebersihan dalam santapan jasmani dan ruhaninya. Pemahaman seperti ini mempertanyakan. Mengapa kita tidak memakan babi, sementara kita memakan trasi ?. Trasi adalah barang kotor yang merupakan bangkai-bangkai ikan yang dibusukkan. Mestinya dosanya sama. Beginilah bila agama dijalani menggunakan self assessment (penilaian pribadi); cari pengertian harfiah yang sederhana untuk membenarkan dan menyamankan tindakannya. Yang membahayakan, pendekatan ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan yang menyeramkan untuk menakuti-nakuti. Menggunakan kekafiran sebagai alasan untuk menghakimi, tanpa menyadari bahwa sebenarnya sikap dan tindakannya adalah tindakan kekafiran yang paling tinggi, yang paling dimurkai Tuhan, yaitu kekafiran hakikat (kufr-i-haqiqah), yaitu mempertuhankan dirinya, dengan selalu menganggap atau mengklaim bahwa dirinya adalah yang paling benar, hingga sulit menelan atau mendengar pendapat orang lain, kemudian sewenang-wenang melakukan pemaksaan. Yang lebih membahayakan lagi, menggunakan satu atau sepenggal ayat seperti ayat pengkafiran seseorang (An-Nisa`: 150-151), yang berpotensi melahirkan permusuhan, tanpa melihat ayat-ayat lain seperti ayat yang memandang orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai Ahlul Kitab yang diperintahkan dengan mereka untuk bersahabat, jika mereka tidak memusuhi.
    Melihat jawaban-jawaban yang diberikan, saya prihatin. Mudah-mudahan masyarakat Minang tidak tersinggung diwakili oleh seseorang dengan pandangan sempit yang tersurat dan tersirat dari jawaban-jawabab yang diberikan.

  81. halu Says:

    Apakah tidak bisa dipisahkan, berbicara sebuah karya, dengan identitas? film adalah karya, meski ditulis dari kisah nyata, tapi ia tetap fiktif. Adat atau budaya, berlaku sehari-hari, dan ia nyata. Yang perlu diingat, semua karya (meski fiktif) selalu berasal dari realitas sosial. Dari pandangan karya, saya setuju uda Ade, pasti ada orang Minang yang beragama di luar Islam. Kasus Wawah dan Zalmon pernah mengguncangkan Minang.

    Namun, dari segi karya, film ini sedang tak membahas apakah Minang wajib Islam atau tidak. Sama sekali tak menyinggung itu. Saya setuju orang Minang marah karena agama Islam sangat dijunjung tinggi, tapi juga tidak setuju sebuah karya dicaci maki (kecuali dicaci maki dengan membuat karya tandingan). Posisi saya, mari kita hargai sebuah karya. Karena ia cermin dari realitas sosial!!! (cat: di dalam film, yang disebut orang Padang, bukan orang Minang).

  82. Rahmadianvira Says:

    sebenarnya pertanyaannya hanya 1, apa yang melandasi mas hanung dan lainnnya memilih padang yang mayoritas penduduknya Islam, yang mempunyai pernyataan adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah????

  83. noer rohman Says:

    kita menjadi bangsa karna diikat oleh bin ika tunggal ika,,, kta memang beda dan itu sebuah realitas yang harus kita terima dan tentunya sama2 kita junjung tinggi agar kita mampu menghargai pebedaan, namun jangan memaksakan perbedaan untuk dipersamakan,, apalagi bicara tentang ras,suku, etnis dan agama,, semua memiliki nilai kearifan dan nilai2 yang di junjung tinggi di dalamnya komunitasnya. saya bukan orang minang namun setau saya minang sangat identik dengan islam,, jika dalam film CTB ada diana gadis minang yang beragama katolik itu sah sah saja,, namun sepertinya kurang tepat karena kultur dan latar belakang orang minang pd umumnya tidk demikian, jdi wajar saja kl orang minang tersinggung.mengapa diana tidak berasal dari ambon,maluku, jogja, solo atau kota lain. kenapa tidak cahyo yang dari minang..?? mkin hal ini akan sedikit mengurangi poemik,.
    mkin kita lupa dalam kebebasan kita ada kebebasan orang lain,, semuanya relatif.,. benar menurut kita belum tentu benar untuk yang lain sah menurut kita belum tentu sah untuk yang lain,. mari kita hargai sesama, manusiakan lah manusia,, agamakanlah sebuah agama, dan budayakanlah sebuah budaya,, sebagai insan pembuat filem mungkin harus bisa lebih arif dan bijak dalam mengambarkan sebuah kultur masyarakat atau lainya, jangan menggugat tanah tepat pohon itu tumbuh dan berbuah,,.

  84. dellchan Says:

    Bang Ade, saya juga orang Minang. Awal saya membaca kontroversi CTB reaksi saya hanya mengeryitkan dahi. Kok gini sih ceritanya. Kenapa ga dibalik cowoknya yang padang dan Islam, pasti lebih menarik, lebih dalam. di padang sangat matriahat. dari situ aja potensi drama yang bisa digali udah banyak. belum lagi kalo ternyata ceweknya beda agama, wah lebih seru lagi tuh. banyak pelajaran yg bisa kita dapat sebagai penonton. tapi sayang banget ide ceritanya yang harusnya bisa diperkaya cenderung gak dimaksimalkan. jadinya kesan yg saya ambil, ini film sengaja dibuat supaya mengundang kontroversi biar cepet laku, males riset. berharap kontroversi jadi marketing yg ampuh. waduh tipikal film maker murahan indonesia. Dengan membawa pesan pluralisme, mereka cuek aja bikin film dengan ide cetek. film gagalpun mereka udah berhasil jadi “pahlawan pluralis” . Begitu gampangnya jadi pahlawan atas nama perbedaan, pluralisme, etnis, agama di Indonesia. ini yang menyedihkan. Enak banget orang2 kayak di multivision, sutradara CTB mereka mendapat simpati atas nama pluralisme, bhinneka tunggal ika dengan membuat film yg cetek. Atas nama kejayaan film indonesia mereka seolah dapat free tiket untuk bikin film yg tidak hanya biasa saja. just film yang hanya menampilkan percintaaan yang dilarang tanpa penonton diberi alasan yang masuk akal, yang lebih dekat dengan mayoritas sehari-hari. Selama ini yang disalahkan cuma masyarakat Indonesia yang konservatif, karena susah menerima perbedaan. Udah tau begitu harusnya ini menjadi tantangan pembuat film untuk lebih kreatif, bagaimana membuat perbedaan menjadi manis dilihat bukannya malah dimanfaatin terus buat bikin filmnya laku krn kontroversinya. Rindu film Indonesia yang dibuat jujur, tulus dan aware sama kebaikan pemirsanya.

    • wijanarko adi Says:

      Nah, ini.. Baru rada bermutu komennya. Saya ga bisa bilang setuju atau nggak, krn ga tertarik nonton filmnya, tapi tetep.. Jempol buat komen yg bermutu ini!

    • adearmando Says:

      Pelajari filmografinya Hanung.
      Dia adalah salah satu sutradara yang banyak melahirkan karya dengan pesan serius

      • dellchan Says:

        Terdengar seperti komen berbayar dari seorang pengamat media yg mengakui tidak concern dengan kualitas film (ini saya kutip dari omongan anda semfiri loh) sepandai2 tupai melompat pasti jatuh juga. Saya akui hanung sutradara bagus, saya suka bbrp film dia tapi bukan berarti kita kasih free tiket utk bikin film tanpa riset. Kasian hanung nanti jadi lupa diri.

      • ie ie Says:

        saya akan objektif. untuk film Hanung yang lain, saya akui kehebatan nya. misalnya film “AYAT AYAT CINTA” atau “KETIKA CINTA BERTASBIH” yg sangat saya suka… tapi untuk “CINTA TAPI BEDA” tidak sama sekali!!!!!

  85. kkkk Says:

    pengetahuan anda sangat Dangkal tentang Minangkabau, Nasionalisme, dan Ke Islaman,,
    berikut kesalahan Pengetahuan anda
    Minang = 100% Muslim,, entah Solat atau Tidaknya dia Tetap Muslim karena dia tetap Memiliki keyakinan Islam,. neraka isinya bukan Non Muslim saja Bung.
    Tan Malaka = Sosialis Sejati, tapi dia bukan Komunis,, Bisa googlinglah kalau tidak percaya Perlawanan dia melawan Komunis
    Babi jelaslah Hina dan Katolik Jelaslah Murtad&Musyrik.. jangan jangan anda orang atheis yg tak mengakui kebaradaan Tuhan dengan menulis seperti ini,,

    Sekian.

    • LoveOneAnother Says:

      Bagaimana Indonesia bisa maju kalau isinya orang2 fanatik seperti kamu ini dan juga nn?? Otak kalian sangat dangkal dan punya pemikiran picik. Kalo saya beragama Islam…saya akan merasa sangat malu dengan komentar2 anda di atas. Ngaku2 beragama koq hatinya penuh benci dan bisa2nya ngata2in agama lain murtad. Coba bawa komentar dari Andreas di atas dan cobalah berpikir jernih. Saya masih lebih menghargai orang yg tidak beragama namun mempraktekan cinta kasih dalam kehidupan mereka dibandingkan dengan orang2 beragama yg bersikap penuh benci dan kecurigaan terhadap agama lain. Semoga bermanfaat untuk anda.

  86. AI Says:

    kalau menurut pandangan saya, bro adearmando ini hanya punya darah keturunan Minang tapi tidak memiliki pengetahuan tentang adat Minangkabau itu sendiri. salah satu faktornya mungkin karena bro adearmando ini lahir dan besar di luar Minangkabau, jadi tidak pernah mencicipi kehidupan (pelajaran hidup) di Minangkabau. saya yang lahir dan besar di Minangkabau, diwajibkan mempelajari mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau selama 7 tahun di tingkat sekolah dasar (SD & SMP), dan saya kira pelajaran selama 7 tahun tsb masih kurang bagi saya untuk mengerti secara lebih dalam mengenai Minangkabau itu sendiri. untuk menambah wawasan tentang adat Minangkabau ini, maka dari itu diperlukan penceritaan secara turun-temurun mengenai adat itu sendiri dari generasi-generasi terdahulu, sesuai dengan petatah Minang, “dari Niniak turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan”. saran saya, jika bro adearmando ingin berpendapat mengenai Adat Minangkabau, sedangkan anda sendiri masih cukup awam, atau boleh dibilang masih memiliki pemahaman yg dangkal thd Adat Minangkabau, lebih baik anda pelajari dulu Adat Minangkabau yg sangat anda banggakan itu sebelum anda beropini bahwa tingkat intelektualitas orang Minang sudah jauh berkurang. ndak mungkin urang awak mamprotes film CTB karya HB tu jikok ndak ado dasarnyo. “Dan sebagai seorang Minang yang bangga dengan keMinangan saya, yang senang bersantap di rumah makan Padang, yang sholat lima waktu, saya minta maaf atas kelancangan saudara-saudara saya yang mengajukan gugatan.” yang bukan orang Minangkabau juga banyak kali bro yg senang bersantap di rumah makan Padang, sholat lima waktu, dll yang mana hal itu bukanlah takaran untuk mengukur kadar keMinangan orang tersebut. terimakasih

    • adearmando Says:

      Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

      • Rahayu Says:

        penghinaan dalam konteks besar dan menyeluruh sebagai orang Indonesia tentu tidak karena negara kita meyakini dan menghargai ada 4 agama lain lagi selain islam tapi penghinaan atau lebih tepatnya ketidak-benaran dalam menyatakan ada orang MINANG beragama non islam tentu IYA karena kan sudah dikatakan oleh komen2 diatas bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan ABS – SBK keluar dari keberadaannya sebagai orang MINANG dan itu sudah ada dari dulu dan itu diterima-terima saja tuh oleh ex orang MINANG yang murtad atau yang melanggar adat, mereka tahu konsekwensinya kalau tidak sesuai dengan ABS-SBK secara otomatis hilang hak kesukuannya sebagai orang MINANG walaupun itu tidak diatur oleh UUD tapi itu sudah tersirat dan tersurat dalam adat kita urang MINANG, sudah pasti label non islam sangat menggangu pemikiran urang MINANG kalau-kalau ada urang MINANG yang mengaku beragama non islam, pada konteks garis keturunan baik itu nenek-kakek, ayah-bundo, uda-uni, adiak2 serta ninik mamaknya dan keluarga besar mereka semua (dalam satu garis keturunan ataupun suku) itu adalah hal yang sangat hina atau menghinakan, gimana sih anda berfikirnya?

  87. Unggeh tabang Says:

    Tan Malaka tokoh komunis. Komunis bukan agama. Itu sebuah paham. Coba baca lagi deh biografi Tan Malaka.
    Urang bakada memang banyak, tapi kalau kada di cukia urang, nio ndak?
    Kalo ente minang, pasti tau apa yg saya maksud.

  88. Cintya Says:

    Anda pasti bukan prang minangkabau asli atau setidaknya Anda hanyalah anak dari orang keturunan minang yang tinggal dirantau. Semua orang minang pasti tahu pepatah, “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang artinya orang minangkabau itu landasannya adalah Al-quran. Kesimpulannya, semua orang minang adalah islam. Memang tidak semua orang Padang islam dan mereka bukan minang melainkan cina atau batak. Jadi jangan sok tau deh. Pasti gak pernah belajar BAM? Gak tau ya? Pantes sok tahu. Orang minang yang dibesarkan didaerah lain emang gak tahu…

  89. farel-koto Says:

    maaf ya uda yang punya ni opini…..saya jadi malu klo anda sebut anda orang minang yanglahir dijakarta tapi bisa ngomong g2…saya juga lahir di jakarta tapi saya mau belajar dan cukup paham sama komentar uda-uda dan uni-uni, klo emang anda orang minang aturan tu mau belajar dunk sama budaya sendiri, klo anda hanya bicara masalah per individu yang melakukan hal-hal yang kluar dari syara…ya buat apa ada adat…adat itu adalah aturan yg berlaku untuk keseluruhan…klo per individu mah ya itu urusan sama ya di atas…klo anda masih ngotot dan bawa-bawa orang per individu sampai kapan pun dan dimana pun dan dinegara manapun ngga akan ada orang yg mau punya adat…dari jaman rasulullah pun peraturan udah ada…dan tujuannya adalah untuk mengatur semua hal yg berurusan dengan yang terkait sama aturan tersebut…tapi klo udah ada yang melanggar dari individu…itu udah urusan allah….
    tugas kita bagi yg mengerti akan adat ya harus dipertahankan lah…klo ada yg menyimpang ya kita luruskan…bukan berarti malah sebut-sebut kesalahan orang-orang per individu…lain hal nya urusan individu dan urusan adat…

    • adearmando Says:

      Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

  90. Muhammad Ali Amiruddin Says:

    Makan babinya memang identik dengan penghinaan sebagaimana hukum haram peredaran babi di pasaran dan dikeluarkannya fatwa haram makan babi. Kalau memang makan babi dianggap sah2 saja sepertinya tidak perlu ada pelarangan iklan babi, berdagang babi atau produk dari babi dan memakai pakaian seronok karena agama lain boleh bertelanjang di muka umum (itu sangat logis bung!)

  91. Muhammad Ali Amiruddin Says:

    Pesan saya buatlah film yg bijak dan jangan memprovokasi dgn tayangan gak bermutu dr pada filmya dirazia dan di black list sama penggemarnya….

  92. wee chin Says:

    Agama itu menciptakan kedamaian…. kl hanya gara agama bs menciptakan kebencian terhadap suku dan etnis…. Mungkin perlu ada UUD ATHEIS

  93. dwibudih Says:

    Hanya mengajukan pertanyaan, “Tenggelamnya kapal van der wijk” itu karya siapa ya? Kenapa tidak ada yang protes dengan isi ceritanya?

  94. komisi 8 Says:

    Gugatan teman2 minang ini sy pribadi lihat kurang pas.tapi saya bisa mafhum dengan kegundahan mereka. Tapi setelah saya nonton film nya, saya menangkap ada pesan laten yang berbahaya, yaitu: sudah labrak saja aturan TUHAN dan kearifan dari budaya kita demi reaksi hormonal cinta! Ngerii…..

    Belum lg banyak cacat logika di beberapa scene film ini.terlalu bernafsu membangun kontroversi pluralisme….hehe. rugi banget deh nontonnya😦

    Btw bang ade dah nonton?

  95. queeny Says:

    Duhhh jd gatel pgn ikutan komen ih…

    Saya muslim tp saya bukan org minang..komen sy ini aslik cm berdasar logika sy..jd maaf jika tdk berkenan..

    Mnrt pikiran sy (yg dangkal bgt ini) memeluk adat istiadat dan menganut agama itu kan hak asasi manusia yaaa? *pelajaran ppkn*
    Nah…kl ada org yg asli beradat minang tp menganut agama katolik,lha brarti hak asasi dia jg toh???

    Minang kan ada di indonesia dan indonesia adalah negara yg memberi kebebasan beragama bagi rakyatnya..orang minang=rakyat indonesia=bebas menganut agama apapun gt nggak siy???

    Dan sy rasa mengkerucutkan etnis ttt dgn agama ttt itu kok rasanya cetek banget ya…etnis cina g bole memeluk islam?suku dayak g bole beragama hindu?etnis madura g bole beragama budha?

    Dlm islam jg menyebut “lakum dinukum waliyaddin” untukmu agamamu,untukku agamamu…

    Itu aja si pendapat dr logika sy yg dangkal sambil inget2 pelajaran ppkn…mhn maaf jika kurang berkenan..

    • Andreas Says:

      Seandainya banyak orang2 seperti kamu yg bisa berpikir logis…pasti akan cepat terwujud damai. Kamu harus bangga sebagai muslim yg bisa berpikiran luas. Salam dari New Zealand

  96. kin Says:

    Untuk saudara ade….

    Maaf sebelumnya, kalau pendapat saya udah di tulisi juga oleh saudara2 yg lain…
    Pertama:
    Tolong bedakan konotasai antara orang padang dan orang minangkabau, orang padang adalah orang yg tinggal di kota padang dan bebas beragama apa saja sedangkan orang minang adalah orang bersuku minangkabau yg berprinsip adat basandi syara'(hukum islam CMIIW)… syara’ basandi kitabullah(Al-Qur’an)… jd bisa dipastikan orang minang adalah islam…dan kalau orang minang itu keluar dr islam atau murtad dipastikan juga dia akan diusir dari adat

    Kedua:
    Saudara hanung sang sutradara tidak melakukan penelitian cukup dalam mengenai hal di atas…walau pun ia beristrikan orang berdarah minang… bagi orang minang itu biasa disebutkan ‘urang sumando kacang miang’

    Ketiga:
    Menurut yg sudah nonton (saya ga nonton, krn dr iklannya saya sudah ga suka)… si cewek yg diperankan agni diceritakan adalah seorang gadis minang bukan ‘gadis padang’…jd hal itu sudah jelas menistakan adat minang

    Keempat:
    Orang minangkabau punya semboyan ‘tali tigo sapilin…tungku tigo sajarangan’…yg maksudnya di minang ada 3 unsur masyarakat yaitu niniak mamak sebagai pemimpin adat, cadiak pandai adalah orang yg berilmu, dan alim ulama sebagai pemimpin umat islam…jd kembali dijelaskan bahwa orang minangkabau beragama islam, tidak yg lain….

    Kelima:
    Saya tidak setuju dengan pernyataan saudara yg mengatakan Tan Malaka adalah komunis, yg mana dalam hal ini berkonotasi negatif…kalau saya lebih berpendapat dia adalah seorang sosialis, karena pada dasarnya orang minang adalah sosialis…ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua…duduak samo randah, tagak samo tinggi…
    Apakah saudara punya bukti kalau tan malaka adalah seorang komunis yg anti Tuhan dalam artian murtad? Maaf…secara kasar saya sebutkan…cara kerja boleh komunis, yang haram adalah murtad CMIIW

    • adearmando Says:

      Umumnya kepustakaan menyatakan Tan Malaka Komunis
      Komunis itu bukan anti Tuhan.
      Mereka memang cenderung menolak agama terorganisir, tapi tidak harus anti Tuhan

  97. Naga Says:

    Saya orang Bali (asli banget, dan berkasta tertinggi). Saya tidak menganggap Orang Bali semua Beragama Hindu. Dan kami tetap bisa menerima dengan baik, bila warga kami yang beragama Hindu berubah menjadi agama lain (termasuk menjadi Agama Islam). Walaupun Bali sangat identik dengan Agama Hindu, tapi tidak semua warganya beragama Hindu.

  98. Rahayu Says:

    saya buakn orang MINANG yang dibesarkan di “RANAH MINANG TERCINTA” kami sekeluarga adalah orang MINANG yang tinggal jauh dirantau tapi Alhamdulillah saya dibesarkan dengan pepatah-petith MINANG yang sangat indah dan mulia oleh ibu saya, “ambiak yang baik jadi posako, sado nan buruk kito paelok” hendaknya ini bisa diartikan secara luas.
    Kami orang MINANG tidak membenci perbedaan, tidak merendahkan dan menghinakan orang-orang yang berbeda dengan kami, kita orang MINANG ini sangat menjunjung tali persaudaraan, makanya ada pepatah MINANG mengatakan: “DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG” kita orang MINANG sangat menjaga kedamaian dan tidak suka mengusik atau memancing keadaan yang akan berakhir dengan ketidak nyamanan, tapiiiiiiiiiii juga jangan lupa bahwa kita orang MINANG pun diajarkan: “MUSUH PANTANG DICARI, KETEMU PUN PANTANG KAMI MENGELAK” naaaah klo ente orang MINANG ane rasa ente ud mengerti arah pembicaraannya, jangan mengusik HARIMAU tidur.
    Sekarang dimana letaknya ketidak “INTELEK” kan orang MINANG dimata anda? sekarang dimana keterbelakangannya orang MINANG dimata anda sehingga anda bisa mengatakan: KALAU BEGINI TERUS ORANG MINANG AKAN TERUS TERTINGGAL.
    Saya rasa anda bukan orang MINANG sehingga anda tidak mengerti RASO JO PARESO sebagai orang MINANG…

  99. anthomm Says:

    Saya suka dengan logika lurus, jernih, dan sederhana yang ditulis oleh saudara Nana, emen, dan nn. Salam kenal.

    Seorang Muslim adalah orang yang belajar agama isecara kaffah. Belajar al-Quran dengan maknanya. Belajar sirah Nabi dengan hakekat pengamalannya selama kenabian beliau yang 22 tahun 2 bulan 22 hari.

  100. dellchan Says:

    Komentar saya kok belum diupload ya, takutnya ga nyampe jadi saya kirim lagi. Buat bang Ade saya juga orang Minang. Saya senang dengan film CTB, idenya berani tapi sayangnya si pembuat terkesan ga pake riset. Saya ga mau bahas film ini dari etnis atau agama karena pasti jadi perdebatan yang ga abis-abisnya dan hanya dimanfaatkan oleh mereka yang katanya pembela pluralisme di Indonesia. Saya melihatnya sebagai penikmat film yang kebetulan orang padang. Walau belum nonton filmnya, saya langsung mengernyitkan dahi setelah baca sinopsisnya. Tanggapan saya, kenapa ga cowoknya aja yang asalnya dari Padang. Dari situ bisa lebih banyak drama yang bisa dimainkan dan lebih menarik. Karena di Padang garis keturunan itu dari ibu, biasanya orang tua berharap anak laki-laki mereka akan menikah dengan orang padang lagi (ini pengetahuan buat masyarakat luas), kedua setelah tau calon istri anaknya orang luar padang dan non muslim, hal ini jadi tambah menarik. Ada “real” pertentangan di sini. buat penonton juga ada informasi yang bisa dishare karena di padang, orang yang pindah agama berarti keluar dari keluarga (masalah ini menurut saya tidak tabu untuk ditampilkan di tv, kalo filmmakernya pinter bisa jadi film yang mengaduk2 emosi pentonton selain memberi pemahaman baru tentang salah satu adat di Indonesia) Setelah saya baca sinopsisnya, saya urung nonton karena pasti gambaran yang barusan saya terangkan ga akan saya dapatkan di film ini. Beberapa hari kemudian, film ini jadi pembicaraan. Kelompok2 yang katanya pembela pluralisme seperti biasa berkomentar lantang soal tuntutan agar film ini ditarik. Sukses lah si pembuat film ini dapat promosi gratis. Yang saya sedihkan sebagai pecinta film Indonesia, para kritikus yang katanya pembela pluralisme ini selalu memanfaatkan kegalauan satu etnis untuk again katanya memperjuangkan bhinneka tunggal ika. Iya setuju, BTI itu mutlak di Indonesia, tapi masukan buat Anda sebagai pengamat media, tolong dong kritik juga si pembuat film yang bikin film ga pake riset. Enak banget ya jadi pembuat film di Indonesia, atas nama kreatifitas, dan demi kejayaan film Indonesia mereka bikin film cuek banget. Harusnya Anda bisa kasih masukan, udah tau masyarakat Indonesia itu beragam, buatlah film yang juga beragam tapi lebih detil, lebih dekat, gunakan itu untuk meraih hati orang Indonesia. Mereka punya keistimewaan dibanding 200 juta orang Indonesia lain untuk membawa pengaruh positif lewat film yang dibuat dengan jujur dan punya misi positif. Pasti laku deh filmnya. Waktu film 5 cm akan dirilis, saya liat trailernya di youtube dan bertekad saya harus nonton karena film ini sangat dekat dengan saya yang suka kemping waktu kuliah bareng temen2 yang sama. sinopsisnya pun sangat sederhana dan masuk akal. Ternyata dalam satu minggu pertama, saya termasuk 1 dari 1,2 juta penonton yang rela membayar uang demi nonton film yang dekat dan masuk akal ini. Setelah nonton saya jadi tambah bangga sama negara ini dan kangen naik gunung lagi. sebagai penikmat film, saya berharap semua film Indonesia yang saya tonton meninggalkan kesan positif seperti itu. Oleh karena itu buat Bang Ade, saya mohon kritik juga si pembuat film itu, jangan melulu masuk dari tuntutan etnis tertentu. itu mudah sekali buat orang-orang seperti abang. tapi kritik film maker cetek itu. sentil karya-karya mereka yang tidak dilengkapi riset mendalam. sebagai pengamat media, suara abang didengar, gunakan untuk kebaikan film indonesia bang. thx

    • Rahayu Says:

      Bravo sdr/sdri Dellchan…. I love your suggestions, so educated… empat jempol for you, itu yang benar tapi itu yang tidak difikirkan oleh sipembuat film dari awal sehingga kesan yang terlihat adalah ini film sepertinya benar2 melecehkan dan memancing kemarahan orang Minang, wajar dong orang Minang jadi bereaksi, makanya dari awal difikirkan jauh kedepan: apa yang akan terjadi ya kalau gue bikin film seperti ini? kayaknya ga nyampe apa disengaja????? nah pikirannya jorok/negativ lagi kan jadinya…🙂
      Berkreasilah dan tunjukan bahwa kita adalah bangsa yang pintar tapi bijaklah dan tunjukan bahwa kita bukan hanya pintar tapi juga berbudi dan berhati/berpendidikan/bertata krama/berbudaya/bertoleransi tapi bukan yang kebablasan, yang seolah2 ingin memperlihatkan bahwa kita sekarang sudah berfikiran maju dengan toleransi yang tinggi tapi dengan sangat kita sadari kita menyinggung perasaan yang paling sentisitv dari saudara2 kita sendiri, toleransi yang seperti apa yang kita jalani dan kedepankan sekarang ini? toleransi yang bisa saling menyakiti dengan alasan kreasi? yaaaaaah… semoga saudara2 kita diluar sana bisa lebih mengerti arti toleransi dinegara kita yang majemuk ini ya Dellchan…🙂 I wish and I hope sooooooooooooooooo much, cross my finger…:)

    • adearmando Says:

      Kebetulan saya tidak concern dengan kualitas filmnya.
      Saya senang bahwa saat ini sineas Indoensia kembali bangkit dan bikin film-film lumayan bagus, dari Habibi-Ainun, 5Cm, Perahu Kertas, dst.
      Tuntutan riset jelas penting, tapi untuk masa ini sebuah film dengan pesan substantif sudah cukup.
      Kembali ke CTB, saya memang tak terlalu antusias dengan soal kualitas filmnya.\
      Yang menakutkan saya adalah pandangan bahwa Katolik itu aib sehingga kelompok2 Minang itu marah.
      That is really scary

      • dellchan Says:

        @adearmando Thx buat kejujurannya🙂 anda tidak concern dgn kualitasnya. Hehehe … kalo saya sangat concern kualitas film indonesia. Makanya saya bilang film ctb bisa jadi lebih keren dan fenomenal seperti arisan. Mengangkat sesuatu yg tabu di Indonesia jadi menarik dan membuat masyarakat lebih bisa menerima yg tabu.

        Film2 seperti 5cm, habibie dan ainun layak didukung karna selain berkualitas juga memberi pengaruh positif buat penontonnya. Anda bilang utk masa ini sebuah film dgn pesan substantif sudah cukup. Hehehe makin kebaca deh anda emang sukanya asal pertumbuhan film indonesia angkanya naik terus. Waduh bang, kalo gini mah anda kasih privilege buat filmmaker males riset. Mereka pekerja kreatif yg orientasinya profit loh, ini film komersil. Kalo anda yg katanya pengamat media memberi kemudahan seperti ini, artinya anda ga punya tanggung jawab sbg orang yg suaranya didengar orang banyak karna kepakaran anda.

        Senang dengan kebangkitan film Indonesia diikuti juga dong dengan demand kualitas supaya film Indonesia naik kelas terus. Jangan gampang puas. Entar kayak pemerintah Indonesia loh yg liat data pertumbuhan ekonomi naik udah puas, padahal masih banyak yg ga bisa makan. Akhirnya tidak sensitif dgn nasib bangsa Indonesia.

        Sama aja kayak film maker males riset. Mereka pasti saat ini seneng banget dan ga kapok bikin film tanpa riset krn riset yg bener itu mahal. Mereka maunya mudah aja dan laku. Angkat tema kontroversi tanpa riset detil pasti sukses minimal dari segi pembicaraan. Nanti juga didukung sama orang2 kayak anda. Kasian bang film maker kayak gini dikatrol namanya dengan promosi murahan seperti ini.

        Kondisi negara saat ini lagi kacau. Pejabat korup melenggang bebas, pendidikan rakyat belum merata, masih banyak yg ga bisa makan hari ini apalagi besok, penduduknya beragam etnis dan agama. Masak mau ditambah dengan memberi peluang pada film maker yg males riset. Buat saya film maker seperti ini beda tipis sama pengacara yg bela koruptor tapi juga bela kasus orang kecil. They can be angel and demon at the same time.

        Negeri ini indah dengan keragamannya tapi yg saya takutkan keragaman itu dilihat sebagai potensi untuk menciptakan kontroversi. Kontroversi yg diangkat atas nama pluralisme padahal orientasinya jelas, uang. Dan itu didukung oleh pengamat media, kaum intelek seperti anda yg dengan alasan sederhana, senang dengan pertumbuhan film Indonesia tapi tidak concern dengan kualitasnya.

        Anda memang tidak ikut produksi film ini tapi anda telah brrperan besar menciptakan kebencian di negeri ini menjadi lebih besar in this beatiful country. thx to your article.

        Sayang banget anda menyia-yiakan peluang untuk meredam kebencian padahal suara anda didengar. Sama saja dengan para pembuat film males riset itu. Mereka punya peluang untuk menciptakan negeri ini semakin indah dengan keragamannya tapi justru memanfaatkannya utk menciptakan kontroversi. Ga mau riset, ga peduli dengan dampaknya. Toh nanti pasti didukung dan mendapat simpati sebagai kelompok pendukung pluralis di Indonesia. Mendapat simpati dan keuntungan materi karena males riset. Enaknya mereka

      • dellchan Says:

        … and you are more scarry

  101. unknown slaves Says:

    tentu ceritanya akan lain jika tokoh sentralnya orang papua yg beragama islam dan membenci makan babi, lalu komunitas papua protes…pastilah cendikiawan seperti bung ADE ARMANDO & AKTIVIS YG LAIN MENDUKUNG PROTES TSB ATAS NAMA HAM DAN DEMOKRASI !!!!

  102. yogie Says:

    orang minang itu kebanggaan dan minang itu islam. minang hidup dengan adat istiadat yg ada sejak lampau. tapi gw juga heran disini pelmnya cuma horor n cinta doang. kaga ada visual effect kaya pelm holywood. dah 2013 nih.

  103. MAdMaT Says:

    mungkin si pembuat pilem lagi gambling klu ga laku pilemnya paling ga masih sempet dibicarakan dengan pro kontra…………….menurut saya digugat bole2 saja asal semoga saja bukan isu saranya yg malah berkembang………………..

  104. nisa Says:

    Coba sebelum ngaku jd org minang, anda belajar dulu adat istiadat minang. Biar ga salah ngomong. Biar ga asbun. Sekarang jd nya kan keliatan deh mempermalukan diri sendirinya. Jangan2 jg baru denger ya istilah “Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah”
    Hihihihi.. Lucu deh kamuuu.. Daftar stand up comedy aja gih.. Kayanya cocok deh😉

    • adearmando Says:

      Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

      • ii.rahmayanti@gmail.com Says:

        Jangan bawa2 Minang kalau gitu, cukup padang saja.. Aturan sudah jelas, orang Minang itu muslim.
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

  105. Natalia Says:

    Saya kira perdebatan akan sesuatu yang dogmatif tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada manfaatnya. Bapak/Ibu sekalian akan menjadi orang yang kurang baik karena berusaha menjatuhkan satu sama lain. Lebih baik energi untuk diskusi dan perdebatan ini diarahkan ke isu-isu utama seperti kejahatan pada anak2 (kasus RI), penjualan bayi lewat internet. Sya kira itu masalah kita semua. Saya Katolik dan lebih suka pecel dan ikan asin daripada babi atau daging merah. Makanan sya kira itu lebih pada selera, bukan stereotipe.
    Wake up, grow up!!

  106. Th. Haryono Says:

    Saya sangat prihatin dengan perkembangan pembinaan mental spirituil Bangsa yang tercinta Indonesia ku ini.
    Agama yang tumbuh dan berkembang di Negara kita ini telah diajdikan landasan dasar pemersatu Bangsa, yang di tetapkan dalam Pancasila. Kalau masih ada yang menyebutkan diri bahwa salah satu suku bangsa Indonesia adalah identik dengan salah satu agama ini kan bertentangan dengan Pancasila sebagai warisan luhur Bangsa Indonesia. Dan pandangan yang demikian akan membuat Bangsa Indonesia terpecah belah .Marilah kita kembali ke falsafah dasar Pancasla agar Bangsa Indonesia tidak terpecah belah dengan membeda-bedakan diri oleh pandangan yang tidak mempersatu Bangsa.
    Dan janganlah berdiskusi tentang agama yang dianut orang lain kalau kita bukan yang punya kompentensi, karena manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bukan untuk mengabdi yang lain dan tidak untuk menyalurkan kebencian kepada siapapun orangnya.Adanya hanya cinta kasih kepada sesama manusia.

  107. chrrisjohan Says:

    cobalah kita semuanya memikirkan hal hal yg lebih baik/positp drpada adu argumen masing 2-yg pada akhirnya bisa
    bisa jadi perseteruan ,kalau sy setuju dgn pendapat sdr .
    adearmando…….berpikir progresif bahwa etnik/suku jgn disamakan dgn agama..

  108. Ahmad Fauzan S Says:

    kalau saya baca tulisannya uda armando untuk kasus film ATK ini, kayaknya jauh dari citra uda selama ini yang omongannya berkualitas dan intelek… analisanya dangkal dan kurang memahami psikologis orang minang baik di perantauan maupun yang di kampung halaman,hal ini mungkin dimaklumi karena uda nggk dilahirkan dan dididik di alam minang kabau..kalau uda arif menanggapi hal ini, jangan gegabah menilai bahwa komunitas minang yg berada d jabodetabek yg mensomasi film ini sebagai bentuk kebodohan dan kemunduran orang minang… maksud saya, kalau uda nggk paham dengan budaya dan sosiologis masyarakat minang, sebaiknya uda diam saja atau berkomerntarnya jangan membawa bawa identitas keturunan minang.. karena kalau otrng non minang berkomentar seperti di atas dapat kita maklumi, tapai kalau orang yg minang coret (orang minang yg nggak di didik budaya minang/ orang minang biologis saja) yang berkomentar kayaknya menyakitkan deh..

    • Rahayu Says:

      hahahahahaaaa…. benar sekali itu uda Ahmad Fauzan, emang ga makan didikan minang kayaknye, gue jg ga dibesarin di kampung secara bokap ABRI, anak2nye lahir diberbagai daerah di Indonesia dimana beliau bertugas sebelumnya tapi tetep aj gue dididik ama nyokap dengan dididkan MINANG, paling ga gue denger setiap hari pepatah-petith MINANG dari mulut nyokap gue, org MINANG tuh begini, begono, begitu, org MINANG tuh HARUS begini, begono, begitu and org MINANG tuh ga boleh begini, begono, begitu even gue baru thn 2011 kmrn plg liat kampung dan cukup surprise banget ternyata org MINANG yang notabene muslim hidup rukun dan akur banget ama tetangganye yang BATAK dan beragama protestan sptnya mereka tidak berbeda, tolernasinya sangat tinggi and itu really makes me so proud…. skrg terbukti pepatah MINANG yang sering diucapin nyokap gue nih da Ahmad: MUSUH PANTANG DICARI PABILA BERTEMU PUN KAMI PANTANG MENGELAK, hahahaa… jangan bangunin macan klo lagi tidur, salah2 kena terkam habis riwayat lo pade…🙂 belum pernah nyubit kulitnye sendiri kali ye da ye? jadi ga tahu rasanya dicubit kayaknye tuh org (sutradara-red) I mean…🙂

    • adearmando Says:

      Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

      • Ahmad Fauzan S Says:

        da ade,untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya menjadi orang minang yang sebenar-benar minimal sehari, pahami budaya minang dan jangan ngaku orang minang kalau uda belum mempelajari budaya alam minangkabau..banyak anak2 muda atau tokoh2 minang di perantauan yang p[emikirannya agak menjurus ke sekuler atau liberal..tapi kenapa untuk kasus ini mereka nggk komentar kayak uda,,, karena mereka paham dengan psikologis dan budaya minang,, karena mereka di didik dengan budaya minang..mereka lebih tahu diri dibandingkan dengan uda,padahal mereka lebih berhak mengaku orang/tokoh minang dan membela HB…kepada dunsanak2 kasadonyo, mari kita maafkan da ade armando iko,, sebab dia berkomentar karena ketidaktahuannya dengan budaya minang.. dunsanak kasadonyo harus maklum pulo kalau da ade ko gadang dirantau dan ndak didik jo caro2 minang jadi maklum da ade ndak ngarati jo nan ampek,,,,,

  109. Henggar HS Says:

    Saya orang asli Jawa, dan ketika saya melihat film itu saya tidak lantas berpikiran bahwa orang2 Minang seperti apa yg digambarkan pada film itu. Yg saya pikirkan stlh menonton adalah ternyata di Indonesia memang fenomena cinta beda agama ada di sekitar kita. Sekarang ada banyak film/ftv yg menceritakan orang dari jawa. Dan orang jawa dlm film/ftv itu ditampilkan dalam bentuk yg udik, bodoh, lemah dan sangat ‘ndeso’ cara berbicaranya dan berperilaku. Apa itu tidak sebuah pencemaran juga ? Kalau menurut kita penggambaran itu tidak 100% benar , seharusnya tidak perlu terlalu emosi untuk menanggapinya.. Orang Indonesia tidak sebodoh yg kita kira kok,tidak semuanya gampang dihasut toh ini hanya film lantas mengapa kita permasalahkan sampai serumit ini ? Itukan hanya film, jika takut pencitraan suku kita tercemar himbaulah dengan kata2 yg sopan dan pantas jadilah contoh bahwa kita bisa melindungi suku kita dengan sopan buka membuat boomerang buat suku kita sendiri. Sayangi dan lindungi suku kita dengan cara yg benar dan bijak. Belajarlah menyikapi perbedaan yg sangat nyata di sekitar kita.

    Thanks.

    • Mye Says:

      Permasalahannya gak rumit kok, simple, bahwa menurut orang minang, penggambaran itu tidak tepat, kurang studi, kurang akurat dan menyinggung perasaan kultural orang. Gak usah bahas HAM, kebebasan beragama, pluralisme, dll, hanya menyampaikan ketidaksetujuan kita berdasarkan adat. Fenomena cinta beda agama memang ada, tapi kenapa harus memilih minang dan shooting di minang (apalagi yang bikin juga orang sumando atau menantu urang minang, bukan orang yang sama sekali dari luar minang), kenapa gak shooting di Jakarta saja, atau digambarkan sebagai orang Indonesia yang beragam, dari suku mana lah yang lebih representatif…
      Tentu ada orang minang yang pindah agama, tapi saya rasa tidak tinggal di luar ranah minang dan most probably gak akan ngaku minang. Hmm, jadi pengen tahu, bisa nggak ya si Hanung nyari bukti nyata orang minang asli, bukan muslim, tinggal di ranah minang, dan apa dia masih berani bilang dia orang Minang? Kita tidak mau dihasut kok, cuma mau mendudukkan masalahnya apa dan keberatan kita apa.
      Kenapa menjadi banyak yang protes, salah satunya karena Bang Ade nanya aturannya apa dan pake bawa-bawa mewakili orang Minang untuk minta maaf pada saat dia tidak memahami adat dan budaya alam minang kabau.
      Tapi ada bagusnya juga sih film ini, menyentak kesadaran para niniak mamak alim ulama cadiak pandai bundo kandung kalau this is happening dan kita mesti melakukan sesuatu.

  110. elvri Says:

    kasian kita itu korban orang yang memang sengaja meraup keuntungan dari kontroversi antar etnis dan agama.. hahahaha

  111. Raka Aditya Sevenfoldism Says:

    bener tuh, dasar LIBERALIS SESAT ..

    anda tak patut utk bernapas didunia ini !!

  112. datuak marajo Says:

    seorang intelektual kyak anda seharusnya berfikir secara mendalam…jangan asal ngomong,anda ja orang sana mana tahu tentang kami dari minang…..
    sekeras apapun anda ingin mengetahui bagaimna minang g akan ada yang ngasih tahu intisari adat minang….
    klo g ada suatu argumen yang mendasar jangan mengeluarkan kata – kata..

    saya orang minang dan silahkan saja anda mengadu ke NKRI keluar kami dari indonesia.
    klo masih g bisa berarti jangan asal ngomong, tong kosong nyaring bunyinya sebagai orang pendidikan anda pasti tw itu

    terima kasih

    • adearmando Says:

      Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.

      • Ahmad Fauzan S Says:

        da ade,untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya menjadi orang minang yang sebenar-benar minimal sehari, pahami budaya minang dan jangan ngaku orang minang kalau uda belum mempelajari budaya alam minangkabau..banyak anak2 muda atau tokoh2 minang di perantauan yang p[emikirannya agak menjurus ke sekuler atau liberal..tapi kenapa untuk kasus ini mereka nggk komentar kayak uda,,, karena mereka paham dengan psikologis dan budaya minang,, karena mereka di didik dengan budaya minang..mereka lebih tahu diri dibandingkan dengan uda,padahal mereka lebih berhak mengaku orang/tokoh minang dan membela HB…kepada dunsanak2 kasadonyo, mari kita maafkan da ade armando iko,, sebab dia berkomentar karena ketidaktahuannya dengan budaya minang.. dunsanak kasadonyo harus maklum pulo kalau da ade ko gadang dirantau dan ndak didik jo caro2 minang jadi maklum da ade ndak ngarati jo nan ampek,,,,,

      • putra jordas Says:

        saudara adearmando bagaimana kamu saya ajak untk berdiskusi lewat fb saya, klo kamu berani ni fb saya putra jordas

  113. lesmana Says:

    bagaimana anda bisa mengaku sebagai orang minang??
    agama anda apa??
    tidak sadarkah anda film ini juga menghina islam??
    disini dgambarkan sosok cahyo yang sebagai orang islam yang mudah saja ditekan oleh diana??
    difilm ini digambarkan lemahnya iman seorang muslim sampai2 mengaku khatolik hanya karna cinta. apakah anda menangkap kesan yang demikian??
    anda bertanya apakah makan babi itu hina??
    mungkin bagi khatolik memang tidak, tapi apakah anda tidak merasa terhina apabila anda sebagai muslim disuguhi babi ketika anda berkunjung kerumah rekan anda yang non-muslim sedangkan dia tau anda muslim??
    dan bagi orang minang, berapa kali anda berkunjung ke MINANG?? apa yang anda tahu tentang MINANG??
    mungkin sudah berulang kali disebutkan di atas bahwasanya minang itu menganut “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adat bersandi hukum, hukum bersandi kitab Allah)
    dipepatah tersebut ditegaskan bahwa hukum tertinggi MINANG itu adalah Al-qur’an, jadi benar saja minang itu identik dengan islam, dan menjadikan karakter khatolik yang berlatar belakang kafir dan arogan tentu saja merupakan bentuk penghinaan.
    seharusnya Hanung terlebih dahulu mempelajari etnik minang sebelum membuat karakter ini. dan yang sangat disayangkan anda yang sudah S3 bergama islam sama sekali tidak mengerti dan terlihat seperti seorang idiot dengan membuat pernyataan seolah2 anda mengetahui semuanya.
    maaf sebelumnya jika saya menanyakan hal ini..jika seseorang membuat film yang bertentangan dengan peraturan anda katakanlah misalnya berjudi, dan memilih lokasi dirumah anda sebagai latar, bukankah anda marah?? bukankah anda protes??
    begitu juga orang minang, kami hanya gak mau minang dijadikan sebagai latar dari bentuk kakafiran! minang rumah kami! dan hanung hanya tamu dirumah kami!
    dan saya juga ingin menekankan muslim bukan kaum lemah yang bisa ditekan atas dasar cinta seperti yang diceritakan hanung! TERIMAKASIH

    • adearmando Says:

      Saya melandaskan diri pada Kitabullah yang bernama Al Quran karya Allah.
      Dan bukankah Allah bilang TAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA
      Apakah Anda sengaja mengingkari sabda Allah?

      • putra jordas Says:

        sdr adearmando yg terhrmt mangnya sdrtau apa mkna ayt trsbt, klo nggak tau jangan d paksain dong, klo di paksain dah psti pemhamn nya klru, trnyta bgini pmkrn jil ya, ya saya berharap mdh2 kmu orang yang pertama dan trkhr dri org minang msk jil, sngt menghrkan pmkrn sdr

      • putra jordas Says:

        sdr adearmando bagaiman klo pd saya kmu berdebat, sya pengen sekali berdebat dengan org jil nih, apalagi lgi kmu orang ui, sya bkn org intelek loh, apalagi ahli agama, intinya saya hanya orang bodoh yang mau melwan orang -orang intelek jdi kmu gampang kok mengalahkan sya dalam berdebat, saya tggu ya gays

  114. surya Says:

    tan malaka itu komunis, agnostik, anda berani g bilang dia menghina minang?….bagaimn mungkin orang bs memaksakan peraturan yg tidak tertulis. klo mau mnsterilisasi minang dr non muslim, uda surh bikin konstitusi sndiri aj, negera sndiri aj,…

    • ichanx Says:

      apakah tan malaka pernah secara terbuka menyatakan murtad dari islam? komunis dan agnostik (2 hal yg sebenernya beda, tapi terserah mas surya deh), bahkan kriminal sekalipun, kalo dia belum menyatakan murtad, pada dasarnya dia masih beragama islam. Secara otomatis belum dibuang secara aturan adat minang.

      Mengenai amal ibadah, itu urusan pribadi dia dgn Allah. Dan mengenai kriminalnya seorang muslim, ya itu urusan pribadi dia juga dengan Allah dan hukum negara.

      Adat ya adat, negara ya negara. aturan adat (yg kalo minang kebetulan sangat islam-centris) beda dgn aturan negara. Orang minang yang keluar dari Islam, secara negara ya itu sangat boleh dan tidak bisa dilarang. Hak pribadi paling mendasar. Tapi adat pun punya hak untuk mencoret dia dari kesukuan minang.

      • adearmando Says:

        Maaf Ichank, para tokoh Minang di masa lahirnya Indonesia bersepakat untuk menulis UUD 1945. Dalam struktut hukum, ya UUD 1945 yang paling tinggi dong, jangan buat aturan sendiri ah….

      • ichanx Says:

        loh, emangnya bila suatu adat istiadat mencoret seseorang dari kesukuannya, itu melanggar UUD 45? mana pasal yang dilanggar? mencoret dari suku, sama sekali tidak melanggar hak-hak yang bersangkutan sebagai warga negara. dia tetap jadi warga indonesia. dia tetap berhak menganut agama yang dipilihnya diluar islam. bila akibat perpindahan agamanya itu yang bersangkutan mengalami kekerasan fisik misalnya, itu baru sebuah pelanggaran terhadap UUD 45. Aturan minang yang mencoret dia dari sukunya, ini adalah adat, norma, etika budaya minang, bukan serta merta melanggar hak-hak asasi dia sebagai warganegara… Astaghfirullah, sampeyan ini dosen, wahai Ade Armando? Logika situ cetek banget sih!!!

  115. Ummu Syahid Says:

    Subhanalloh….cerdas sekali jawaban mbak Nana ini…..dan hanya org2 yg cerdas yg bisa memahaminya…..salut Mba !!!

  116. Bayu Says:

    rekans saya ingin tanya kepada yg mengerti disini. Jika minang berdasar adat dan adat berdasar kitabullah, lalu mengapa saya menemukan adat berikut dalam budaya minang:
    – Matrilineal (wanita sbg kepala keluarga)
    – Tanah adat diwariskan kepada penerus wanita.

    Bukankah islam mengajarkan tidak demikian?
    Bahkan Islam sangat jelas mengatur hukum waris bahwa 2/3 diwariskan untuk anak laki2..

    Mohon pencerahannya

    • ichanx Says:

      @bayu
      – matrilineal di minang itu kurang tepat kalo disebut sebagai wanita sebagai kepala keluarga. Matrilineal di minang lebih ke fungsi melanjutkan keberadaan suku, dimana suku (bukan suku minangkabaunya, tapi suku lebih kecil *mungkin mirip marga di batak*, misalnya piliang, chaniago, jambak, koto, dll) diturunkan melalui garis ibu. Islam mengajarkan nasab dari jalur ayah. Memang, ada perdebatan disini. Tapi Islam tidak mengajarkan/melarang mengenai kesukuan yang oleh orang minang dipilih untuk diturunkan lewat garis keturunan ibu.

      – warisan yang hanya diberikan kepada keturunan wanita, bukanlah warisan hasil usaha/pekerjaan orang tua. tapi warisan berupa tanah ulayat/adat. Warisan ini pada hakekatnya tidak sepenuhnya dimiliki oleh si pewaris, karena tidak boleh dijual. Warisan ini lebih ke fungsi hak pakai (bertani, kebun, dsb), bukan fungsi kepemilikan sepenuhnya, karena kepemilikannya pun bersifat komunal (bukan pribadi, tapi seluruh wanita dari satu suku/keturunan). Sedangkan mengenai harta hasil usaha orang tua, semua minang yang mengerti falsafah ABS SBK pasti akan menerapkan ajaran Islam (anak laki:perempuan 2:1).

      Kalo ADE ARMANDO ini ya entah, dia sih punya suku sendiri kali. agamanyapun entah apa. punya aturan sendiri kayaknya

    • AI Says:

      sedikit pencerahan buat saudara bayu, matrilineal di sini bukan berarti wanita sbg kepala keluarga. kepala keluarga tetap seorang laki-laki. matrilineal di sini maksudnya garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu. misalnya, seorang anak lahir dari ayah bersuku chaniago dan ibu bersuku piliang. nah si anak tsb akan bersuku piliang. kalo patrilineal ya kebalikannya seperti halnya di luar minangkabau.

      untuk yg kedua, kalo dari sudut pandang saya sendiri hal ini mungkin ditujukan untuk penghargaan berupa perlindungan kepada pihak wanita apabila pada suatu saat ditinggal pergi oleh suami yg menafkahinya. pada jaman dahulu bukankah laki-laki yg bertanggungjawab dalam mencari nafkah. hal ini mungkin juga berhubungan dengan islam yg juga mewajibkan untuk memuliakan seorang ibu 3x lebih tinggi dibanding seorang bapak.

      sekian dari saya, CMIIW😀

    • adearmando Says:

      Bayu, memang demikianlah adanya.
      Bahkan dalam adat asli Minang, kalau seorang pria Minang menikah dengan non-Minang, anaknya tidak lagi menjadi Minang.
      Untunglah, dalam masyarakat Minan sekarang, ada banyak adat masa lalu ditinggalkan.

  117. yanti Says:

    adearmando…. dikit2 ngomong “keluar saja dari Indonesia” kaya’ Indonesia pnya nenek moyang anda saja..!
    sangat setuju dg komentar uda kiagus abdul karim..BIla dilihat dengan kacamata ‘pluralist’ tak ada yang salah, semua bisa dibenarkan. Tapi bila dilihat dari kacamata agama (Islam) dan adat Minangkabau (adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah) Sosok seorang Minang yang digambarkan sebagai ‘Non Muslim” adalah tidak patut.

  118. greentouch710 Says:

    Pda intinya semua agama sama,tgl kita aj gmn liatnya,yg muslim srg nyindir yg nasrani yg nasrani srg nyindir islam n jg agama2 lain,jd knp hrs d ributkan, tiap agama punya aturan n kewajiban n hak msg2,simple aja si, ambil positif nya aja, kok malah yg d ributkan ttg haram n halal,klo bgi non muslin babi g haram y wajar klo bgi muslim emg d haramkan to,maaf sblmny klo salah berpendapat sy bkn org pintar n pandai🙂 intinya slg menghormati aja ,g ush slg melecehkan agama tertentu, kel sya berketurunan agama budha n islam malah,tp nenek sy mengajarkan n membebaskan anak2ny memeluk agama sesuai keinginan msg2 n ibu sy memilih muslim sbg agamany,toh sm2 tgl di tanah yg samapun tanah indonesia🙂

    • abduh Says:

      Ass Wr Wb.
      ada pepatah minang, ” bodoh indak amuah balaja , alah bodoh indak taraja “. inilah pepatah yg cocok buat sanak kita ini (kalau benar rang minang). alah jaleh ” adat basandi sara’,sara’ basandi kitabullah”, artinya orang minang itu identik dan harus beragama Islam,kalau orang minang beralih keyakinan keluar dari Islam artinya secara dejure dan defacto orang itu telah keluar dari suku dan telah terbuang dari adat,dan dia tidak berhak lagi untuk menyatakan dirinya orang minang,karena dia bukan lagi beragama Islam, kalaupun dia ngotot mengatakan dirinya orang minang, maka orang minang akan menertawakannya dan akan mengatakan “pandir”.
      berkaitan dengan film ini, cobalah masukkan film tersebut kedalam freme diatas, apakah masih pantas disebut orang minang ? kalau indak faham, diam. kalau belum faham belajar. jangan jadi bodoh indak taraja. salam.

      • adearmando Says:

        Bahkan Al Quran itu mengatakan: TAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA”
        Jadi kalau Anda merasa orang Minang ANDA HARUS MENGHORMATI HAK ORANG MINANG UNTUK BERAGAMA APAPUN.

      • ii.rahmayanti@gmail.com Says:

        Memang tidak ada paksaan memeluk agama apapun, tapi hidup di dunia ini ada aturan kan? Ada yg nama nya norma sosial… Apakah wajar misalnya ada orang berpakaian terbuka di tempat suci seperti masjid misalnya? Menurut hak asasi ya tentu boleh boleh saja.. Tapi bagi ahli masjid, itu sama saja tidak menghormati masjid… Kalo mau berpakaian terbuka ya silahkan, tapi jangan di masjid.. Itu salah satu contoh saja
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

      • adearmando Says:

        Di mana sih logika Anda?
        Saya bilang, AL Quran itu tidak memaksa orang beragama Islam.
        Jadi kalau Minang memang berlandaskan Al Quran ya seharusnya meghormati hak orang beragama lain

      • ie ie Says:

        kita mau main logika bung armando?? baiklah..
        Di dalam Al-Quran memang tidak ada paksaan untuk memeluk Agama Islam, namun INGAT, jika manusia sudah tidak memilIh ISLAM sebagai AGAMA nya, maka dia tidak berhak disebut MUSLIMIN yang berkitab sucikan iAL QURAN, istilahnya, ya sudah, jika anda tidak Islam, silahkan cari agama lain yang sesuai kepercayaan anda, dan kitab suci yang sesuai dengan agama tersebut….
        analogi yang sama dengan MINANG, ya sudah, jika anda tidak ISLAM, silahkan cari SUKU lain (itupun kalau bisa) untuk bisa anda jadikan SUKU.
        logika mana lagi yang tidak anda pahami????

    • Andreas Says:

      Another great comment from a great person. Dari seluruh komentar cuma segelintir saja yg menawarkan perdamaian dan cinta kasih. Terlihat jelas mengapa Indonesia begitu mudah untuk dipecah belah dari dulu hingga sekarang.

      • Dwirara_ Says:

        adat tetaplah adat, mereka tak butuh pembenaran dari orang di luar mereka. dan tak perlu juga kita repot-repot menyalahkan mereka. hargai saja… adat itu kan aturan yang sudah disepakati para pelakunya. hasil dari kebudayaan. jika memang tak setuju, ya tinggalkan, tak usah diperdebatkan.
        kemudian bicara tentang film, sungguh luar biasa ketika sekarang muncul film yang mengangkat tentang budaya, tentang adat istiadat setelah beberapa waktu lalu muncul film2 horor dibumbui sex murahan yang sangat tidak mendidik. tapi perlu diperhatikan, ini yang diangkat itu tentang budaya lho, tentang adat istiadat, tentang cara hidup seseorang di luar kita… tidak bisa seenaknya saja. harus punyai pengetahuan yang mendalam tentang budaya yang akan diangkat difilm itu. baik sutradara, aktor, penata artistik, penata make-up, penata kostum dan yang lainnya harus punya pemahaman yang cukup tentang apa yang akan mereka buat untuk disampaikan ke halayak umum. hal ini agar unsur pendukung ceritanya lebih terasa, yang akan membuat film itu semakin kuat..

        Selamt Berkarya!

  119. Tuh kan Jadi Pada Ribut -_-” « undefined Says:

    […] depan? Sekarang ribut2nya bukan yang beda agama aja, tapi yang satu suku pun juga jadi pada ribut. Sebagian orang Minang protes karena merasa terhina, sebagian lagi nggak merasa terhina tapi justru m…. Waduh, kok malah jadi “perang saudara” sih? -_-” Jadi inget waktu film […]

    • Ahmad Fauzan S Says:

      sebagian mana orang minang yang nggk merasa terhina??? cuma da ade armando aja yg nggk merasa terhina.. kalau lebih jeli lagi walaupun da ade mengaku berdarah minag tapi mentalnya bukan orang minang ,, dia nggk kenal dengan budaya minang…banyak tokoh2 dan anak2 muda minang yg diidentikkan dengan pemikiran liberal, tapi knp mereka nggk berkomentar seperti da ade ini??? karena mereka dididk dengan budaya minang tapi mereka paham dengan psikologis orang minag,, mereka tahu kalau masalah agama bagi orang minang adalah sensitif…

  120. Dwirara_ Says:

    adat tetaplah adat, mereka tak butuh pembenaran dari orang di luar mereka. dan tak perlu juga kita repot-repot menyalahkan mereka. hargai saja… adat itu kan aturan yang sudah disepakati para pelakunya. hasil dari kebudayaan. jika memang tak setuju, ya tinggalkan, tak usah diperdebatkan.
    kemudian bicara tentang film, sungguh luar biasa ketika sekarang muncul film yang mengangkat tentang budaya, tentang adat istiadat setelah beberapa waktu lalu muncul film2 horor dibumbui sex murahan yang sangat tidak mendidik. tapi perlu diperhatikan, ini yang diangkat itu tentang budaya lho, tentang adat istiadat, tentang cara hidup seseorang di luar kita… tidak bisa seenaknya saja. harus punyai pengetahuan yang mendalam tentang budaya yang akan diangkat difilm itu. baik sutradara, aktor, penata artistik, penata make-up, penata kostum dan yang lainnya harus punya pemahaman yang cukup tentang apa yang akan mereka buat untuk disampaikan ke halayak umum. hal ini agar unsur pendukung ceritanya lebih terasa, yang akan membuat film itu semakin kuat..

    Selamt Berkarya!

  121. Mye Says:

    Menarik sekali diskusi disini ternyata…. Dalam hal ini, nggak usah deh Bang Ade mengatasnamakan orang Minang untuk minta maaf karena kami- terutama yang dididik dalam adat Minang memang tidak bisa menerima ini. Apalagi mengatakan bahwa sebaiknya keluar dari NKRI, Bang Ade bukan ownernya NKRI, gak usah menyarankan hal-hal yang absurb yang akan membuat perpecahan. Saran saja, sekali-sekali Bang Ade pulang kampung lah agar tahu tentang minang. Dimana logika??? Bang Ade mengajarkan mata kuliah logika, bang Ade tahu cara penarikan kesimpulan dan untuk menarik kesimpulan dibutuhkan dasar ilmu, maka tolong pelajari dulu ilmu dan situasinya, jangan asal komentar! Dimana etika?? Bang Ade juga pernah mengajarkan mata kuliah etika komunikasi dan etika mengajarkan bahwa kebebasan berpendapat boleh tetapi tidak menyinggung norma-norma orang lain. Katanya filmnya dari kisah nyata (dan saya tidak akan menonton film itu, gak guna dan bikin sakit hati aja- cukup lihat di youtube), itu kasus pencilan, gak usah dibesar-besarkan, kecuali emang si Hanung ada misi untuk merusak tatanan yang ada. Most probably casenya tidak di ranah minang, kenapa mesti shooting di ranah minang (yang di Sumbar juga, apa nggak cek dulu jalan cerita, main kasih izin dipake shooting…. ) Benar-benar tidak culture sensitive, tidak menghargai nilai-nilai orang lain. Semoga tuh film gak laku dan yang bikin rugi!

    • adearmando Says:

      Yang asal komentar siapa, Rahmi?
      Pertanyaan saya cuma satu: apakah menggambarkan ada seorang Minang beragama Katolik adalah ‘penghinaan terhadap masyarakat Minang’.
      Cukup itu saja untuk mencek logika kamu.

  122. unknown slaves Says:

    selama cendikiawan seperti bung armando menggunakan kaca mata standar ganda TENTANG HAM & TOLERANSI, maka hanya akan memunculkan oportunis2 sejati. Oh ya koreksi kalo saya salah bukankah anda salah satu komisioner KPI?

  123. alhamidz Says:

    hehehehe
    alangkah lucu negri ini

  124. Anonim Says:

    Blom nonton filmnya, ga minat juga. Kmrn film Ayat2 Cinta yg jelas2 kalo dlm pemikiran sempit (tp kyknya org2 nasrani di Indonesia pikirannya ga sempit deh) ga ada yg protes, coba kalo ceritanya diputar, yg muslim pindah agama pasti heboh deh, ahahahaha. Ya gitulah, Indonesia gitu lho :p sdh pasti kalo sesuatu yg “ga biasanya” pasti jadi bulan2an meski itu memang terjadi, mgkn krn takut kalo terpublikasi (apalagi di media) akan jd hal yg lumrah, gue sih bisa maklum. Tapi kadang kita harus bisa menerina realita kalo kita mau dewasa. Salah satu realita yg msh undercover, bnyk org minang dan salah satunya teman gue ini, asli Bukittinggi lagi, dia ternyata gay tulen, jujur gue awalnya kaget, krn gimana mgkn lah, kan org minang agamanya kuat, tetapi itu realita, gue malah tertarik utk menggali lebih dalam, dan, kaget, banyakkkkkkkkkk ternyata, dan suatu waktu nanti realita ini diangkat jd cerita, gue yakin pasti lebih heboh lagi ahahahahaha. Tp tetap, meski pahit, itu realita, like it or not, jd kalo suatu realita diangkat ke publik dianggap suatu penghinaan artinya kita ga mau mengakui adanya realita itu, artinya munafik dong, trus kalo jd org munafik pantaskah kita mengagungkan diri kita sebagai org beragama?

  125. endra Says:

    Asslmkm wr wb. Wahai saudara-saudaraku seaqidah, sebangsa dan setanah air, kalo memang itu film gak baik buat kita,buat keluarga kita dan buat saudara-saudara kita or temen-temen kita yaa kita ajak JANGAN DI TONTON FILM TERSEBUT. Gak usah debat sana debat sini, pelihara saja diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka…!!!!!!!!!!!!!

  126. Bahreisy Says:

    Tulisan Anda menunjukkan siapa anda. Tadinya saya kagum; tetapi belakangan menjadi jelas kalau anda bagian dari pendukung islam liberal. Berkali-kali hanung membuat film yg “menyudutkan” syariat islam atas nama kebebasan. Skg ia membuat film yg seakan menyesali aturan yg melarang nikah beda agama. Di mana iman anda? Atau seni atas nama nafsu sdh membutakan mata dan hati?

  127. dani Says:

    Minang adalah Islam.
    Karena pertanyaan apakah dasar Minang sebelum agama Islam masuk ga digubris, mungkin ganti pertanyaan akan lebih ideal, agama Islam (masuk ke Indonesia) dengan suku minang itu lebih tua mana?

  128. Buxan Habib Rizieq Says:

    Nana Says:
    Januari 8, 2013 pada 2:34 am
    Apakah beragama Katolik adalah sesuatu yang hina?

    Jwb: Beragama katolik adalah identik dengan kekafiran. Allah Ta’ala sendiri yg menghinakan orang kafir :
    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa`: 150-151)
    >>>
    Apakah nana salah ??? menurut saya… nana tidak salah sama sekali karena beliau sekedar COPAS apa yg tertulis dalam alquran.

    nah… kalau nana tidak salah…. lalu siapa yang salah ??? ya jelas buku manual yang nana gunakan bukan ???!!!🙂

  129. ayyazanydahlan Says:

    Protes terhadap film ini gk masuk akal.di kelapa gading ada gereja khusus orang minang,dan menurut saya apa salahnya.toh dia gk mencontohakn sosok pejabat,petinggi,ulama,atau siapapun di cerita itu,itukan cuma mengenai kehidupan yg kebetulan seperti itu,klo mau menuntut dan protes! Pikir panjang! Baca dulu blognya.

  130. Yadi Rakhmadi (@dryadirakhmadi) Says:

    semua sdh tau siapa Hanung. Semua filmnya selalu memprovokasi umat Islam. Silahkan baca twit yang disampaikan Fahira Idris dari akun twitternya:
    #ctb 1. Tadinya saya kira Film CTB hanya menghina #Minangkabau tapi ternyata lebih dari itu..
    #ctb 2. Film ini adlh Film Percintaan, salah satu message nya adlh : Menuhankan Cinta, tapi tidak Mencintai Tuhan…
    #ctb 3. Banyak sekali Logika2 Dasar yg ditabrak.. Dan sy yakin bukan krn tidak disengaja.. Tapi krn DISENGAJA.. Pesanan !
    #ctb 4. Bukan hanya #Minangkabau yg dihina di film ini, tapi juga etnis #Jawa – dan yg paling saya benci adlh Menghina #Islam
    #ctb 5. Tidak ada urgensinya memakai #Minangkabau sbg latar belakang cerita yg sudah jelas2 ingin mengusung Pluralisme Yg Kebablasan!!
    #ctb 6. Sy tau persis anda bukan orang bodoh! Film ini sangat menghina #Minangkabau dan #Islam !! Porsi hina etnis #Jawa hanya sedikit
    #ctb 7. Sy bukan orang yg menolak pluralisme.. Sahabat sy banyak yg non muslim, tapi kami saling menghormati dan menghagai.. Saling SOPAN !
    #ctb 8. Setiap hari kita sll mendengar keluhan ibu yg kerepotan menjaga anak2nya agar bisa tumbuh baik, beragama & juga mampu bertoleransi
    #ctb 9. Tapi kalau kita semua lengah, anak2 kita bs di doktrin ke ajaran2 yg menyesatkan agama, dijejalkan dg Toleransi2 Pesanan!
    #ctb 10. Dg Segala Hormat saya mau minta tolong sahabatku, Uda @iwanpiliang u/ membongkar, siapa yg mendanai film ini.
    #ctb 11. Yg tinggal di Padang mmg bukan hanya yg beragama Islam saja, semua agama sampai yg atheis pun ada disana..
    #ctb 12. Ngajarin orang/ anak2 bangsa u/ toleran boleh2 saja.. saya pun sll mengajarkan anak saya u/ toleransi.. Toleransi YANG BAIK & BENAR
    #ctb 13. Diana Gadis Katolik Padang ini berpacaran dg Cahyo Muslim Jawa..
    #ctb 14. Kalau Toleransi yg BAIK dan BENAR, ya harusnya benar2 dicontohkan yg baik dong.. Film ini ngajarin Toleransi yg memaksakan..
    #ctb 15. Sangat jomplang perimbangan Toleransi di Film ini.. #Islam banyak di hina.. #Islam dipaksa hrs mengalah.. Diana Katolik yg dominan
    #ctb 16. Kalau Diana mmg Gadis Katolik yg Toleran, dia tidak akan menyuruh Cayho memasakkan Babi Rica Rica, masakan keluarga mereka
    #ctb 17. Kalau Diana Toleran, pd saat mengundang Cahyo secara Resmi ke rumah, kenapa harus dihidang kan 2 Masakan Babi.. ?????????????????
    #ctb 18. Kalau saja saya Katolik, dan saya mau mengundang pacar saya ke rumah secara resmi, saya akan masakkan khusus makanan HALAL !!
    #ctb 19. Walaupun tante nya masak juga yg non BABI, dg bilang bhw dimasak secara terpisah, tapi gambaran masak terpisahnya GAK ADA !!
    #ctb 20. Pada saat Cahyo mengajak Diana ke Jogja u/ diperkenakan ke Ortu Cahyo, tadinya Diana sdh mau menanggalkan kalung salib nya, tetapi
    #ctb 21. Tetapi Cahyo bilang : Gak usah dilepas Kalung Salib nya.. Islam itu Toleran kok.. <<=== Kalau Toleran, Copot dong SALIB nya!!
    #ctb 22. Nabi #MuhammadSAW sll mengajarkan umatnya agar hormat kepada Orang Tua, terlebih lagi terhadap Ibu..
    #ctb 23. Tapi di Film ini Cahyo seorang anak yg baik tetapi sangat berani terhadap Ibu dan Bapak nya.. Bentak, Marah.. Semua di balik2..
    #ctb 24. Jadi mrk mau bilang bhw, kalau kamu punya kemauan, Maki tuh Ibu kamu.. Maki bapak kamu.. gak papa kok.. Islam boleh.. BEGITU ????
    #ctb 25. Sorry to say.. tapi Film ini benar2 asli dibuat u/ Merusak Moral Anak Bangsa.. & Merendahkan #Islam !! Film ini sangat BURUK !!
    #ctb 26. Saya bukan pmerhati film, bukan pbenci agama lain, tapi saya gak suka bila ada fihak yg lengah meloloskan pembenaran2 yg GAK BENAR
    #ctb 27. Saya bukan pembenci pernikahan beda agama.. Bukan Urusan saya, & bukan area pembahasan saya sehari hari pula..
    #ctb 28. Semua Agama setau saya melarang pernikahan agama, semua orang tua pasti akan berusaha mencoba u/ meminimalisir terjadinya hal tsb
    #ctb 29. Tapi di flim ini message nya jelas, & msupport anak2 bangsa bahwa, sudahlah dobrak saja larangan agamamu. kamu pasti bisa.. GILA
    #ctb 30. Tante Diana adlh Muslim menikah dg Om yg Katolik. Om blg : Semoga mereka mau mencontoh kita (nikah beda agama) <– APEUUU..??
    #ctb 31. Cukup lah saya ceritakan film ini, bagi yg lain gak perlu lah nonton film ini di bioskop.. Menonton = Menguntungkan Mereka
    #ctb 32. Cahyo membentak bapaknya, yg dia nilai menyindir Diana.. Cahyo blg ke Ibu, Harusnya Bapak bisa jadi contoh Toleransi bg kelg..
    #ctb 33. Dlm film ini Diana sll mengajak makan Cahyo di rest non muslim, tidak pernah ada gambar Diana makan di rest yg biasa..
    #ctb 34. Yg parahnya, pd saat Cahyo menolak makan di rest itu, Diana marah & bentak2, memaksa Cahyo u/ makan menu lain yg non Babi..
    #ctb 35. Toleransi seperti itu kah yg kalian maksud?? Tolernsi macam apa itu??
    #ctb 36. Pd saat petugas KUA menolak mengawinkan mereka krn beda agama, Diana memaksa Cahyo mengaku beragama Katolik.. Ampun deh..
    #ctb 37. Ibu Cahyo nasehatin Bapak Cahyo yg agak keras menolak, bahasa nya sih halus, tapi kalimat nya baru pernah saya dengar.. yaitu :
    #ctb 38. RESTU adlh hak nya ANAK.. Orang Tua WAJIB untuk memberikan nya.. <<=== ASLI BARU DENGER MALAM INI.. Ajaran Sesat !!
    #ctb 39. Pd saat ada pasangan beda agama mau menikah, petugas KUA menolak, kalau mau kamu nikah ke GEREJA aja.. knp gak ke MESJID opsi nya?
    #ctb 40. Kesimpulan nya adlh, film ini sangat2 tidak bagus, mengajarkan Toleransi yg Kebablasan.. Semoga semua pd sadar dan TOBAT.
    satu lagi jangan tuduh kami intoleransi atw hidup di jaman batu.

  131. ryan Says:

    hahaha.. lucu lucu komen dari Dosen UI satu ini… mudah mudahan ini cuman satu satunya dosen UI yg cara berpikirnya sedangkal ini… saya sudah screen shoot thread dan komen komen ade aramando disini.. kalau di masa depan sempat jadi tokoh atau mencalonkan diri jadi sesuatu.. bisa jadi bahan bully yg empuk… hahaha

  132. agoeshamidi Says:

    ya…nonton film kartun aja deh… aktor/aktrisnya para binatang-binatang… gak ribet… kagak ada gugatan…

  133. putri faizal Says:

    Saya seorang gadis minang yang sekarang sedang belajar agama katolik…. apakah berarti saya lebih jahat dari kalian yang mengaku lebih mengenal ALLAH?

  134. Malkias Says:

    kenapa persoalan agama seakan menjadi jurang pemisah di indonesia? saya pernah di jakarta, suatu sore saya dan teman lagi jalan ke puncak, kebetulan di dalam mobil terggantung salib, tdk lama mobil didorong-dorong dan dipukuli hanya krn salib tersebut. bagi saya, tidak ada satu pun agama di dunia ini menanamkan kebencian dan permusuhan dengan agama lain. islam tdk pernah mengajar umatnya utk memusuhi agama lain. di negara saya, baru 12 tahun merdeka, yang mayoritasnya (89 %) pemeluk agama katolik, dan masjid yang dibangun di jaman nenek moyang kami itu justru uskup dan umat katolik yang menyumbang untuk mendirikan masjid yang diberi nama annur itu. Perdana Menteri pertama periode 2002-2007 adalah muslim namanya Marie Bin Amude Alkatiri. bagi kami, adalah bukan sebagai jurang pemisah tapi agama adalah pemersatu antar umat di Timor Leste. Kabinete pemerintahan sekarang para menterinya berasal dari, Katolik, Hindu, Buddha, Protestan dan muslim. mudah-mudahakan kawan-kawan bisa belajar dari sini…

  135. 1155 Says:

    Cara yang buruk untuk mendongkrak rating film..
    busuk banget nih hanung…
    memang tidak ada penghinaan dll..
    tetapi “itu” tidak mewakili masyarakat minang yang nota bene mayoritas muslim. kalau memang mau membawa nama “minang” di film nya..
    ada baiknya melakukan survey lokasi dan keadaan sebenarnya..
    tidak membuat seakaan minang mayoritas katolik..

    jangan mau tertipu oleh sutradara busuk yang menuai keuntungan dari sebuah kontroversi.. busuk!!!!

  136. yolaa Says:

    ahahaha..bahasannya malah kemana2 bawa2 nama UI jg..bahkan mengarah perpecahan umat beragama..bukannya sudah jelas dalam Al-Qur’an di surat Al Kafirun “لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ” Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.

  137. gadis.minang Says:

    saya ga berkomentar banyak, apalagi intelek,,, krn yg d atas udh (merasa) intelek semua.
    klo menurut saya gini aja.
    untuk penggugat (para komentator)dan yg d gugat (uda adearmando) yg mengaku org minang dlm artikel ini :

    1. anda2 semua adalah korban dari dunai perfilm-an yg selalu provokativ, dan hanya bertujuan satu diatas tujuan lainnya, yaitu PROFIT yg sebesar2nya, mereka ga peduli film mereka mo di perdebatkan ato ga, yg penting dapat uang banyak,,,

    2. dengan mereka setting film yg provokativ, akan banyak yg penasaran dg film nya, otomatis pd pgn nonton,,, ujung2nya dapet duit lagi sodara2 kuuu.. duit duittt.

    3. kesimpulannya,,,, mereka akhirnya makin kaya deh krn dapet DUIT….. !

    disamping Hanung itu sutradara yg bagus, maka dr itu dia tau gimana cara bikin “sesuatu” yg bisa meledak dan menghasilkan UANG…. mo meledak positif kek, negatif kek, ga ngaruh buat dia… yg pntg itu td dapet DUIT…DUIT.. hehhe…

    percuma di indonesia gugat sana sini mah ga ngaruh sm hukum di indonesia ,, siapa yg byk duit, menang deh,, kita capek2 carut marut sana sini ga d dgr krn kalah DUIT.. hehehe

    so,,, baik bagi uda ade armando yg punya posisi di UI ne cerita nya ^__^ mmh…… gimana ya da,, klo di lihat dr posisinya sih sptnya orang pinter yg di perhitungkan d universitas,, cuma akan lebih terlihat PINTER lagi jika bapak ade yth diem sambil mengamati malapetaka yg terjadi trus ngebimbing anak dan ponakan sesama minang,, karena itu lah tugas ninik mamak sbg org minang,,, dr pd bikin artikel gini jd mancing2 pertikaian lagi.

    maaf klo bapak /uda ade ga berkenan… just say hi ^____^

    • fabio Says:

      Sy bukan org Minang, tp sy dr salah satu suku di bagian timur indonesia, tepatnya BUGIS. Mgk bahasa sy kurang bagus krn masih kelas 2 SMU (17 tahun). Sy sgt terharu dengan koment2 sahabat MINANG ku yg sgt gigih memberikan pengertian dan penjelasan ttg adat istiadat suku minang (meskipun banyak bgt yg GAGAL FAHAM) dan ironisnya yg getol utk menangkalnya mengaku org minang sendiri (Ade armando). Sy jd bertanya2 ada apa dgn pemikiran bang ade? Yg secara terang2an “membela” katolik? Pdhal harusnya gak perlu dibenturkan, krn teman2 minang hanya menggunakan haknya utk menyamaikan “protes” terhadap film CTB. Bukannya itu dijamain UU? Beginilah bang ade yg otaknya sdh disesaki pemikiran JIL. Jadi kepada sahabat2 MINANG ku, tetaplah berjuang dan bersikap berani utk bersikap tegas terhadap sesuatu yg salah. Dan semoga org yg mendzalimi kalian (meski mengaku org minang juga) dibukakakn pintu hatinya. Dan kepada cineas2 indonesia, semoga tdk mengulangi lg kesalahan kesalahan serupa dgn membuat film yg menghina suku/adat manapun.. Tetap semangat sobat2 MINANG… Sy bangga dgn kalian …!!!

      • ariel mokodompit Says:

        aneh jg ya liat ulah dan tingkah ade armando ini, kalo misalnya suku papua atau bali yg dilecehkan pasti dia akan bela mati2an, tp kok suku nya sendiri (kalo benar dia minang) diserang habis2an. untung org2 minag (asli) yg disini pd cerdas2 dan ngerti adat istiadatnya ya… jd dia keliatan bgt bodohnya hahaha. jgn mempermalukan UI dong, barangkali kamu hanya dosen tamu. setau sy kamu kan dosen paramadina yg terkenal sbg bebek2 dan antek2 JIL. kalo ini mah aku gak heran… Keliatan bgt yg sependapat dgn ade kalo bukan non islam pastilah bebek2 JIL. Org minang pasti akan sgt malu klo ade armando ini ngaku2 org minang hahah. peace !!!

    • rohana Says:

      liat track record hanung. filmmnurut bajingan ini merupakan propanda bukan seni. Tiap tahun SCTV memutar PBS seperti orba memutar G30S PKI.

  138. raka aditya (@rakaSiganteeng) Says:

    yang jelas, orang minang dah pasti padang, tapi orang padang belum tentu minang

    gampang kan ??

  139. saladin Says:

    PENGABURAN DAN PEMUTAR BALIKAN FAKTA

    (1.)
    pernyataan HB ini termuat secara PUBLIK dalam PRESS CONFRENCE fil CTB…termuat di Wartakota
    “Yang menarik dari film ini adalah bukan tentang agama, tetapi tentang profesi chef dan penari, yang satu Jawa dan yang satu Padang, yang satu patrilineal dan satu lagi matrilineal. Beda dalam arti yang luas bukan hanya tentang agama.” tukas Hanung.

    http://m.wartakotalive.com/detil/berita/106767/hanung-perkenalkan-cinta-tapi-beda

    “Ini memang bukanlah film pertama yang menceritakan tentang beda agama dan Cinta Tapi Beda juga bukan mengenai kisah itu saja. Tolong jangan bawa film ini ke isu agama karena perbedaan yang dimaksud lebih beragam, bisa dari profesi dan sukunya,” ucap Hanung saat Press Junket film Cinta Tapi Beda di Bellys Clan, Graha Intiland, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (12/11) sore.

    http://www.21cineplex.com/slowmotion/hanung-bramantyo-angkat-kisah-dari-blogger-ke-layar-lebar,3368.htm

    TANDA TANYA? 12 November 2012
    Apakah ada Gadis Padang yang beragama Katholik yang menganut MATRILINEAL????
    Apakah ada Gadis Padang yang beragama Katholik , masih memiliki suku-nya?
    jelas yang dimaksud Mas HB sebagai “Gadis Padang” itu adalah GADIS MINANG
    Sebab, selain MINANG, mana ada suku di Indonesia yang menganut MATRILINEAL !!!

    Atau tujuan yg sebenarnya membiaskan fakta dan tujuannya bahwa Diana adalah seorang Gadis Minang yang murtad pindah ke Agama Katholik

    (2. )Lokasi Syuting di Kota Bukittinggi dengan latar belakang Masjid Nurul Haq , Bangunan Bergonjong, Jannjang Ampek Puluah dan Jam Gadang

    (3) KENAPA PERNYATAAN SEMULA PENGAMBILAN GAMBAR YANG BERLOKASI DI JAKARTA, JOGJA DAN PADANG. TAPI DALAM KENYATAANNYA DI KOTA BUKITTINGGI. ? 26 Desember 2012
    Melalui kata-kata, mereka mencoba menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi tentang hubungan yang berbeda dalam hal keyakinan. Melalui pengambilan gambar yang berlokasi di Jakarta, Jogja dan Padang, mereka memperlihatkan secara pas ciri-ciri setiap kota masing-masing secara detail dan juga tradisi yang dijalani. Sehingga menambah warna tersendiri.

    http://www.kapanlagi.com/film/indonesia/review-cinta-tapi-beda-kisah-cinta-beda-keyakinan-c0c057.html

    Syuting Film Cinta Tapi Beda Di Sumbar, Tanpa Seizin Dinas Pariwisata Setempat
    http://www.classyfm.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1008:syuting-film-cinta-tapi-beda-di-sumbar-tanpa-seizin-dinas-pariwisata-setempat&catid=1:classy-news&Itemid=5

    JURUS PLINTIR HESTU SAPUTRA ASST. HANUNG 8 January 2012

    “Padahal di cerita itu kita tidak menyebutkan Minangkabau. Kalau ditelisik dari awal adiknya ibu Diana itu orang manado jadi ada asumsi dia orang Manado. Ibu Diana memang hanya tinggal di Padang. Rumahnya pun rumah modern, tak ada unsur rumah Minang,” ujar Hestu saat ditemui di Jakarta, Selasa (08/01).
    Hestu mengaku pihaknya melakukan riset dan memberikan beberapa petunjuk di film yang menujukkan bahwa Diana (Agni Pratista) bukanlah suku Minangkabau. “Diana ini orang Manado yang besar di Padang. Ada clue-cluenya juga. Adik Ibu Diana juga orang Manado. Dan makanannya juga, rica-rica yang merupakan khas Manado. Kalau dipanggil Uni itu sama saja dipanggil Mbak kalau di Jawa,” paparnya.

    http://id.omg.yahoo.com/news/hestu-saputra-film-cinta-tapi-beda-tak-tampilkan-125736658.html

    TANDA TANYA??

    (4) Orang asal Menado mengacu pada garis keturunan Ibu /Mantrilineal dan bersuku? sebagaimana yang disampaikan Hanung sebelumnya.??

  140. saladin Says:

    Kesimpulan
    Dari semua scenario yang kita baca diatas sudah menyinggung banyak masalah seperti masalah kepercayaan, agama, tatanan adat dan , hubungan anak dengan orang tua , pada kultur setempat yang tidak mendidik untuk generasi muda yang dijalankan di daerah tsb.
    Apakah Hanung sebagai Sutradara CTB sudah mendalami dan memahami kode etik dan fungsi karya seni Film yang dibuatnya dalam menyampaikan pesan pada masyarakat sebagai hasil seni dan budaya, yang mempunyai fungsi dan manfaat yang luas dan besar baik dibidang sosial,ekonomi,maupun budaya dalam rangka menjaga dan mempertahankan keanekaragaman nilai-nilai dalam penyelanggaraan berbangsa dan bernegara..
    Apakah Hanung sebagai Sutradara CTB sudah mendalami dan memahami kode etik dan fungsi karya seni Film yang dibuatnya dalam menyampaikan pesan pada masyarakat sebagai hasil seni Film yang merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat dimana film itu sendiri ditayangkan. ……..
    Mereka harus sadar, Sutradara dan Aktor adalah anggota masyarakat jangan pula memberikan sesuatu yang menyinggung dan melukai hati masyarakat setempat,
    dengan karya seni-nya yang melukai hati orang banyak….

  141. ajo piaman Says:

    ade armando batua sanak! samo jo kabau….

  142. Truly indonesia Says:

    Heyy…., kok pd minta ditoleransiii sih,, mbok ya tengok sana sini, yg tidk toleran itu malah non muslim, jilbab dilarang di beberapa perusahaan non muslim ato etnis trtentu, bahkan jilbab hrs dilepas klo sampe kantor,, gitu minta toleransi…..

  143. yunus Says:

    wahai saudara-saudara ku orang minang, kita harus berhati-hati dalam memberikan komentar karena salah ucap akan menjadi bumerang, sekarang banyak trik-trik untuk menghancurkan minang, salah satunya juga ada injil yang berbahasa minang, sebenarnya meraka sudah tahu bahwa orang minang pasti muslim, kalau dia non muslim atau pindah keyakinan dia harus menanggalkan embel-embel minang yang melekat padanya, dibuang sepanjang adat. memang di sumtera barat terdiri dari beberapa etnis, dan agama, ada cina, batak dll mereka juga mempunyai keyakinan nasrani dan ada yang budha, di sumatera barat kita hidup rukun dan damai dengan orang-orang yang berbeda keyakinan, janganlah kita terpancing dengan propokator dan memberikan komentar terlalu jauh. disadari atau tidak indonesia adalah negara yang mempunyai penduduk mayoritas islam, sumatera barat adalah daerah yang berpenduduk mayoritas muslim, dasar hukum orang minang beragama islam adalah perjanjian puncak marapalam saat perdamaian antara kaum padri dengan kaum adat, disana dicetus kesepakatan adat bersandi sayark syarak bersandi kita bullah (al quran) ini sudah ketentuan baku bahwa orang minang harus muslim. tidak ada yang harus dikomentari lagi. kalau mengomentari masalah film hanung memang itu hak dia untuk berkreatifitas tapi jangan menyinggung perasaan orang minang. tidak ubahnya kita membunyikan radio atu tape recorder yang suaranya memekakkan telinga tetangga.

  144. saladin Says:

    lamo bana moderasi koreksinyo sanak?….banyak salahnyo?

  145. sigota Says:

    setuju sama gadis minang *hi juga* ^_^
    well, ini cuma opini saya aja –> http://sigota.wordpress.com/2013/01/11/tuh-kan-jadi-pada-ribut/
    sebenernya udah ditulis seminggu yg lalu (tgl 11). sori kalo rada basi, tapi semoga bisa buat jadi bahan renungan utk ke depan2nya kalo ada kasus yg serupa, kita bisa menyikapinya dg lebih bijak lagi😉

  146. buyuang Says:

    Minangkabau itu===> Adat bersendikan sarak (Islam), sarak bersendikan Kitabulah (Al-Qur’an)
    Jadi ==> orang minang itu adalah orang islam, kalau bukan islam dia bukan orang minang….

    itu menurut ku…

  147. Irfan Says:

    Hai buyuang jadi kalau ada orang minang masuk kristen, apakah dia tidak orang minang lagi, apa jadi orang jawa, orang batak atau orang hutan, koq picik sekali cara berpikir orang minang, lalu katanya islam tidak memaksakan agama kepada umatnya, jadi kalau ada umat islam yang ingin murtad, tetapi diintimidasi bahkan ada yang mau dibunuh, itukan sama saja tidak konsisten dan konsekwen, diarab saja banyak orang arab yang beragama kristen, bagaiamana pula itu

  148. saladin Says:

    Pengakuan Ass. Sutradara Film CTB,Hestu Saputra, Ia menyatakan sudah melakukan riset langsung ke Padang, bahkan hingga ke gereja ngobrol dengan pastur yang ada di sana. terbantahkan bahwa produksi Film CTB tanpa membuat film itu riset dulu, minmal diskusi dgn budaywan atau ahli sejarah minang, setelah itu di croscek lagi oleh bupati atau walikota atau petinggi adat setmpat stelah diberitahu seluk beluktentang adat istiadat minang , baru ditulis di scenario, disesuaikan dgn gagasan awal cerita tp tdk boleh sara, setelah scenario selesai di tulis… kemudian di baca oleh budayawan setempat atau kepala suku adat setempat lagi ,utk di chek ulang, sekiranya melenceng dari budaya minang , saat itu jg hrs direvisi, setelah di revisi dan di ACC budayawan/sejarawan setempat, baru persiapan shoting….

    Untuk membuat film itu, diceritakan bahwa pihak Multivision (Hestu Saputra) hanya menemui seorang Pastur di sebuah Katedral di Pondok, Kota Padang. “Selebihnya ternyata hanya ketemu orang-orang yang tidak kompeten.

    • Mye Says:

      ternyata masih hot juga diskusi ini. Katanya film ini berdasarkan kisah nyata dari blog dwitasari. Setelah saya baca, saya tulis deh disini: “wajahnya bagaikan pahatan sempurna jemari Tuhan, percampuran darah Jawa dan padang. Zodiaknya Leo, saya percaya dia wanita yang tangguh. Boleh dibilang selain tangguh dia juga nekad, begitu saja meninggalkan kota Padang demi mengejar cita-citanya untuk menjadi penari….”
      …”sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang pria……” …”saat berusaha memendam rasa demam panggung sebelum menari”.

      So kesimpulan, bisa jadi dia bukan keturunan Minang-kalau definisi disebutkan seperti diatas. Dia sudah kabur dari Padang sebelum mewujudkan cita-cita menjadi penari, tapi berarti dia pernah tinggal di padang.
      Namun, sangat-sangat diragukan mereka pacarannya di kota padang, jadi shooting di Sumbar, menurut saya kurang pantas.

      well, kalau di tempat lain.. gak usah tutup mata, ada kok anak kemenakan urang minang yang tidak muslim:-) tapi kalau tinggal di Padang, ini agak amazing.. jarang-saya belum pernah dengar orang minang non muslim tinggal di kota padang, kecuali (maaf SARA) dia dianggap atau mengganggap dirinya keluarga jawa. Kalau pun ada, saya salut.

      ini blognya: http://dwitasarii.blogspot.com/search/label/%23CintaTapiBeda

      • saladin Says:

        Sudah ada pernyataan diatas oleh Hanung sendiri sebagai Sutradara CTB, kalau Diana, menganut garis keturunan Ibu / Materilineal, jadi dia mau mengelak kemana lagi??

        PENGABURAN DAN PEMUTAR BALIKAN FAKTA

        (1.)
        pernyataan HB ini termuat secara PUBLIK dalam PRESS CONFRENCE fil CTB…termuat di Wartakota
        “Yang menarik dari film ini adalah bukan tentang agama, tetapi tentang profesi chef dan penari, yang satu Jawa dan yang satu Padang, yang satu patrilineal dan satu lagi matrilineal. Beda dalam arti yang luas bukan hanya tentang agama.” tukas Hanung.

        http://m.wartakotalive.com/detil/berita/106767/hanung-perkenalkan-cinta-tapi-beda

        “Ini memang bukanlah film pertama yang menceritakan tentang beda agama dan Cinta Tapi Beda juga bukan mengenai kisah itu saja. Tolong jangan bawa film ini ke isu agama karena perbedaan yang dimaksud lebih beragam, bisa dari profesi dan sukunya,” ucap Hanung saat Press Junket film Cinta Tapi Beda di Bellys Clan, Graha Intiland, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (12/11) sore.

        http://www.21cineplex.com/slowmotion/hanung-bramantyo-angkat-kisah-dari-blogger-ke-layar-lebar,3368.htm

        TANDA TANYA? 12 November 2012
        Apakah ada Gadis Padang yang beragama Katholik yang menganut MATRILINEAL????
        Apakah ada Gadis Padang yang beragama Katholik , masih memiliki suku-nya?
        jelas yang dimaksud Mas HB sebagai “Gadis Padang” itu adalah GADIS MINANG
        Sebab, selain MINANG, mana ada suku di Indonesia yang menganut MATRILINEAL !!!

  149. saladin Says:

    Kalau memang bung Ade Armando, bangga dengan keminangan-nya,, memahami yang dipermasalahkan oleh orang Minang dan juga katanya mewakili orang Minang, saya ingin anda memberikan pencerahan dalam bahasa daerah Minangkabau dari ulasan2 saya diatas,….simple kan..logika saya?.

  150. saladin Says:

    Kalau bung Ade Armando kesulitan berbahasa daerah, pulang kerumah, minta diterjemahkan, sama nyokap dan bokap pituah pusako ini:

    Kalau dek pandang sapinteh lalu
    Banyak pahamnyo taguliciak
    Pandai tak rago baguru
    Salam tak sampai kakasiak

    Sadangkan baguru kapalang aja
    Lai bak bungo kambang tak jadi
    Kok kunun dapek dek mandanga
    Tidak didalam dihalusi

    Karuak kok tak sahabih gauang
    Mahawai tak sahabih raso
    Banyak pahamnyo nan tak langsuang
    Batuka dari mukasuiknyo

  151. saladin Says:

    NEGARA INDONESIA BUKAN NEGARA PLURALISME!

    Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda Tapi Satu) sendiri secara prinsip berbeda dengan prinsip pluralisme. Dalam Bhineka Tunggal Ika, yang dimaksud dengan tunggal bukanlah berarti melebur. Tidak demikian. Akan tetapi lebih kepada arti “kesatuan/bersatu”. Karena tidak mungkin sesuatu yang berbeda itu dapat dilebur menjadi satu. Akan tetapi semangat kesatuan-lah yang menjadi pondasi dari slogan Bhineka Tunggal Ika.
    Contoh gampang dari Bhineka Tunggal Ika adalah pernikahan. Apakah setelah menikah, dua orang manusia berubah menjadi satu? Tentu tidak. Manusia tetap dua. Tapi “semangat kesatuan” membentuk SATU keluarga-lah yang sesungguhnya merupakan esensi dari semangat Bhineka Tunggal Ika.
    Jadi jelas sudah, bahwa prinsip Pluralisme bertentangan dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Pluralisme bukan nilai-nilai luhur bangsa indonesia yang majemuk dan beraneka ragam ini.

    HUKUM
    Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa, hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana berbasis pada hukum Eropa, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum agama karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau syariat Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan, dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat yang diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah nusantara.

    Kesimpulan

    Pluralisme agama mengajarkan bahwa semua agama sama. Sama-sama memuja tuhan, sama-sama mengajarkan kebaikan, sama-sama menentang keburukan. Sehingga paham pluralisme agama akan beranggapan bahwa tidak ada bedanya menganut agama yang satu ataupun yang lainnya. Akibatnya muncul-lah aliran ajaran agama yang mengajarkan ritual-ritual keagamaan secara bersamaan (berbarengan). Alasan dilakukannya ritual yang dilakukan bersamaan ini berdasarkan dalih toleransi karena kesamaan tujuan kepada sang pencipta.
    Prinsip-prinsip ini tentunya bertentangan dengan ajaran agama yang ada. Tiap-tiap agama memiliki ritual-ritual yang berbeda. Adalah bentuk penistaan ketika ritual keagamaan yang suci digabungkan dengan ritual agama lain, meskipun sama-sama di klaim suci.

    Jadi jelas sudah, bahwa prinsip Pluralisme bertentangan dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Pluralisme bukan nilai-nilai luhur bangsa indonesia yang majemuk dan beraneka ragam ini.

  152. myunspokenminds Says:

    Saya hanya bisa ketawa geli seorang dosen UI dengan kalimatnya; ‘kalau suku Minang nggak bisa begini sesuai UUD, yah keluar saja dari Indonesia.’

    Pernahkan anda mendengar kaum Amish di Amerika Serikat. Kalau belum, nggak heran kalimat anda seperti ini.

    Coba cari di youtube, seperti apa kaum Amish di Amerika Serikat, dan bagaimana negara besar Amerika bisa menerima mereka yang sangat traditional bahkan tidak ikut dalam pemilihan presiden karena dilarang dalam agamanya.

    Amerika layak menjadi truly melting pot country, unlike Indonesia,… penuh dengan para cendekia sotoy yang sebenarnya pengetahuannya cetek.

    By the way, kalau banyak orang seperti kamu yang nggak bisa menghargai Bhineka Tunggal Ika,- tunggu saja NKRI ini collapse beberapa tahun kedepan.

  153. Ibnu Ranu Al Minangkabauwy Says:

    dari pemahaman saya, terlepas anda seorang minang atau tidak saya ngak peduli. tapi tulisan anda saya dapat gambaran bahwa anda tidak memahami sebenarnya adat dan budaya orang minang, mungkin sedikit penjelasan untuk anda bahwa adat dan budaya minangkabau itu disusun berdasar syari’at sedangkan syari’at yang kami anut adalah kitabullah (Al quran). jadi minangkabau dan islam itu sesuatu yang sudah tunggal dan tak mungkin untuk dipisahkan.
    harapan saya kedepan, sebelum anda membuat tulisan anda berfikir dan mempunyai referensi terlebih dahulu. ngak usah asal tulis karena akan menyebabkan orang tak nyaman dan terluka.
    sekian, thank.

  154. Tinggam Says:

    Yang bikin tulisan dan yang punya blog bukan org minang apa lagi islam…

  155. guru Says:

    jeles2 dan terang2 filem ini menghina org minang dan islam.minang itu adalah islam ,syarak bersandi kitabullah ,kitabullah bersandi al-quran udah jelas2 itu org minang islam.autometis ilang gelaran minang jika murtad..llain kali kalau mau buat film selidik dong jgn maen bikin tanpa ada ilmu itu ..namanya..sombong

  156. jual beli sepatu futsal Says:

    Hanung Bramanto kenapa kau selalu membuat masalah sih,Menghina agama bahkan Suku etnis pun kamu Hina.Penduduk Minang itu baik-baik kamu jadikan film itu kalau penduduk minang jahat.Padahal di Minang itu banyak tokoh-tokoh pahlawan.Dan disana tidak ada kasus kejahatan karena saya pernah kesana.Orang minang biasanya tidak terkait dengan kasus Politisi seperti halnya Koruptor.Hanung saya rasa kamu harus belajar soal tata cara adat dan sifat suku maupun agama.

  157. putra jordas Says:

    saudara adearmando klo ngomong jangaan asal ngomong ya, setelah sya lihat diskusi sdr ternyta sdr nggak tahu sama sekali tentang minang tolong digali lagi ilmu nya baru berargumen, pa lagi tentang tan malaka, sangat mengharukan sekali pengetahuan saudara…….
    katanya kamu anak UI,uihhhhhh, anak UI tentunya hebat dong, mudah mengalahkan orang dalam berdiskusi bagaimana dengan saya kamu berdiskusi, so dijamin deh kamu nggak bakalan repot-repot mengalahkan saya dalam berdiskusi, saya tunggu ya..

  158. putra jordas Says:

    buat saudar-suadara penggugat adearmando jangan didengarin deh argumennya, dia tu nggak tahu sama sekali tentang minang, bisa sudar lihat dlam diskusinya orang nanyain tu pi dia mengalihkan pertanyaan ke yang lain, ibarat kate ni ye tong kosong nyaring bunyinya, maaf ye bung adearmando pi mau diapain lagi mang tu kenyateennye, sbnrnye aye nggak mau ngash gelar kamu kyk gitu, pi kmu orang nya sok tahu tentang budaya seseorang terpakse deh aye kasih kmu gelar kayak gtu, o ya sdr adearmando ngomong2 orang ui yang kyk kmu ni bnyk ye???, ya saya doa in pada sang khalik mudah2 n orang kyk kmu di ui cuman ada satu, ya klo bnyk2 orang kayak kamu ni buat malu2 in UI aja, sarannye baiknya kamu keluar dari ui deh karena ui itu tempat berkumpulnya orang-orang hebat dan nggak sok tahu tentang budaye orang, ya klo tetap di UI baiknya kamu banyak-banyak lagi gali ilmunya ye
    tentunya kamu mengaku anak UI tahu dong dengan perkataan albert einstein
    ilmu tanpa agama akan pincang
    agama tanpa ilmu akan lumpuh
    ngerti kan pa mksdnye

  159. putra jordas Says:

    buat sdr adearmando ni fb saya putra jordas di add ya

  160. putra jordas Says:

    ayo buat para penggugat baik itu katolik, islam nasrani tau apa ja lah yang penting jangan mau terpancing dengan argumen adearmando, kita fokus ja pada pmbhsan intinya jangan saling memojokin agama yang satu dengan agama yang lain

  161. Algusing Brainwasher Says:

    Penulis yg sekaligus pemilik blog ini jelas sekali merupakan orang asal Minangkabau yang sudah kehilangan jati dirinya sebagai orang Minang. Ini jelas terlihat dari pernyataannya;

    “Yang kini kita lihat bersama adalah pelecehan intelektualitas.
    Bagaimana mungkin bahwa menggambarkan ada orang Minang beragama Katolik adalah penghinaan terhadap Minang? Bagaimana mungkin menggambarkan ada orang Minang beragama Katolik adalah pelanggaran HAM?
    Apakah beragama Katolik adalah sesuatu yang hina? Apakah memakan babi adalah sesuatu yang hina?”

    Andaikan Armando seorang Minang asli yang memang mengerti/paham tentang adat dan budaya Miang, tentulah dia tidak akan sembarangan ngomong.. Bagaimana mungkin seseorang akanmengaku sebagai orang Minang jika dia sudah berani mengatakan; “Bagaimana mungkin menggambarkan ada orang Minang beragama Katolik adalah pelanggaran HAM?”. Padahal ini adalah masalah identitas. Bukan soal HAM. Orang Minang itu adalah orang yang mengakui dan menerima “Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah”. Otomatis jika seseorang itu beragama non Islam, pastilah dia bukan orang Minang, meskipun secara garis keturunan orangtuanya berasal dari suku Minang. Dengan demikian, jelaslah bahwa intelektualitas dan misi Armando menulis ini dipertanyakan..

  162. minang Says:

    haalah jangan percaya kalau si edao armando ini orang minang, ppaling juga antek2 JIL yang berpura2 jadi org minang puyang ingin menipu kita.lihat saja cara dia berargumen miri sekali dengan antek2 jil yang sering sy argumeni..hei edo buktikan klo dirimu benar2 org minang, alamat mu di mana??? orang minang tidak shaalah jangan percaya kalau si edao armando ini orang minang, ppaling juga antek2 JIL yang berpura2 jadi org minang puyang ingin menipu kita.lihat saja cara dia berargumen miri sekali dengan antek2 jil yang sering sy argumeni..hei edo buktikan klo dirimu benar2 org minang, alamat mu di mana???

    • minang Says:

      saya ingin menantang ade ermando berbahasa minang, klo kamu benar2 org minang tentu kamu bisa berbahasa minang, klo tidak berrarti klo km cuma minang abal2😀

  163. minang Says:

    i LOVE ISLAM AND I’M pROUD OF BEING A MUSLIM AND MINANG🙂
    ANTEK2 JIL , DENGAR YA HANYA SATU ARTIKEL YANG SAYA BACA DARI KAMU SUDAH MEYAKINKAN SAYA SIAppA pEMILIK ARTIKEL INI SESUNGGUHNYA..

  164. puisianaksd Says:

    Mohon jgn diperpanjang masalah film ini krna ini sudah keluar dari jalur tujuan pembuatan blog untuk kebaikan dan yang untung pasti org yg tak beragama krna mereka suka agama musnah dari bumi tp tlng hormati pernyataan org minang bahwa memang babi itu dilarang dijual belikan secara terang2an tp kalau dijual pada penggemarnya ya monggo saja seperti film ini kan gak smua org islam menyukai film apalagi yg ada babinya ya mending gak usah ditonton apalagi dibuat perpecahan….gak pentng banget😦

  165. alfian Says:

    maaf klu saya beri masukan mnkn berguna untuk d pertimbang kan ,sebensrny yg salah bukan agama n makan babi tapi anda tau tidak prilaku orang minang itu ber dasarkan islam kmn pun anda bertanya orang minang haram makan babi,mungkin ada etnis lain tinngal d minang n menetap udah lama n dia meng klaim bahwa dia adalah orang minang apakah anda pernah menelusuri orang yg makan babi itu adalh keturunan dari suku minang ,jadi menurut saya sutradara skrg tidak memikirkan n menelusuri apa yg dia buat , yg dia tau d mana film nya laku tapi tak peduli dgn yg dirasa merugikan kelompok atau suku lain,ini tercer min dgn bangsa ini skrg bahwa rasa bersalah n malu itu sudah tidak ada

  166. admin anjiang Says:

    Waang ngecek indak pakai utak, aden yakin waang urang minang yang murtad dan ndk patuah jo adat.
    Kalau ndk tau waang jo adat minang ndk usah ang sok tau anjiang. Alah kaji manurun kami diminang ndk buliah baganti agamo dan siapo baganti agamo kami usia dari kampuang. Atau jangan2 waang anjiang gadang yang batuka agamo cuma gara2 padusi. Pantek amak ang anjiang.

    • adearmando Says:

      Buat teman2 yang tidak mengerti bahasa Minang, kalimat2 yang datang dari andikawandi@gmail ini penuh caci maki yang sekedar mencerminkan keterbelakangan kualitas intelektual penulisnya. Mudah2an orang seperti dia bukan wakli representatif masyarakat Minang.

      • karyasastra Says:

        Bodat, Asu, Pantek, Anjiang.
        Jgn kalian dngar kan ade armando yg ingin mengadu domba kalian. Dia antek2x israel/AS yg ingin meruntuhkan persatuan kalian. Ade armando nie bkan spnuhx org minang,tapi hanya masyarakat buangan yg sok tau, sbtulx dia sprti org2 yg diusir dr kmpung hlmanx lalu dtang ke minang. Mgkin ja krn dia tdk pnya tanah b’pijak jd kasihan org minang dgn air mata setanya itu, dia sjenis iblis nyata yg lagi hobi lihat org semacam kalian perang saudara.

    • filar abdullah Says:

      comen dunsanak emosi bana mah!! indak elok baitu bana

  167. Mario Agusta Says:

    wah nampakx loe hrus bc tambo lg deh, kuliah adat lgsn 1000 sks

    • Mario Agusta Says:

      adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah

      adat itu adat orang minang
      syarak itu ajaran islam
      kitabullah itu al qur’an

      jd klo nyimpang, mk bkan org minang

      itu final, pokok, n harga mati

  168. murtadianto Says:

    Memang orang kalau sudah beragama Islam pasti kehilangan logika dan nalar, makanya muslim di mana-mana selalu terbelakang.

  169. filar abdullah Says:

    ini namanya debat kusir ( ota dipalanta lapau ) berdebat lah secara ilmiah dan dewasa!
    dimulai jangan menyembunyikan jati diri
    dan bertanggung jawab
    semoga kalian semua tercerahkan dan menumpuh jalan yang lurus

  170. kukuh satria Says:

    maaf nieh yeah, yang pernah saya baca pada suatu artikel menyatakan bahwa jika ada seorang yang sukunya minang tapi murtad dari agama islam maka yang bersangkutan akan dianggap bukan lagi bagian dari suku minang tersebut, tapi aku tidak tahu itu benar atau tidak karena aku juga mempunyai darah minang, bukan suku yah karena suku ayah saya adalah jawa dan ibu saya sunda-minang.

  171. Syahrul Says:

    UNTUK ORANG2 MINANG, PERHATIKAN INI BAIK2.
    katanya kalian pintar, tp buktinya pemikiran kalian amat bodoh sekali. tuntutan yg dilakukan oleh org2 minang itu jelas salah dan tanpa bepikir sebelum bertindak. alasannya bukan seperti yg dipaparkan oleh ade armando. tapi coba tonton filmnya. dlm film cinta tapi beda, tokoh wanita yg beragama khatolik dia emang diceritakan sbg org padang tp kan bukan org minang. dan hanung mengerti soal itu bahwa yg dimaksud org padang oleh hanung dlm filmnya itu cuma berasal dr daerah padang aja, bukan bersuku minang. jd jelas tidak ada pelecehan di dlmnya. karna org yg berasal dr padang juga ada yg tidak bersuku minang dan tidak beragama islam contohny orang nias, org cina yg tinggal di daerah pondok cina d padang.
    lagipula siapa bilang minang identik dgn islam?? adat minang itu jelas bertentangan dgn ajaran islam. banyak juga org minang yg tidak setuju dgn adat minang itu. soal adat basandi syara’ syara’ basandi kitabullah itu cuma utk kepentingan politik aja, biar org minang tak ada yg bisa murtad sehingga kalau murtad, dia bukan org minang lagi. inilah ancamannya. walaupun abs bsk, tapi tetap saja dipakai aturan2 adat yg entah dr mana dan mungkin dr ajaran buddha. inilah kelicikan org minang. tp mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka sehingga Allah menurunkan bencana brupa gempa2 disusul gempa besar pd tgl 30 sept.

    • joko Says:

      sepertinya anda yang bodoh om.
      Ia tau padang tapi syutingnyo kok di bukittinggi?
      Itu jaraknya lebih 100km dari padang.
      Jadi jelas ini pelecehan kalau sutingnya di kota padang tidak akan menjadi masalah.
      lihat saja filmnya yang seolah orng yang beradat minang itu beragama kristen.
      Ini akan membuat pradigma jika org minang itu kristen.
      Ini kan buruk jadinya bagi kami.
      mungkin tidak merugikan anda ya kelas anda akan santai saja.
      karna anda tidak mengerti apa itu minang.
      Jadi diam saja jika tidak mengerti.

  172. Syahrul Says:

    addition. saya tau hanung. dia sutradara yg cerdas beda dgn sutradara indonesia lainnya yg cuma mengejar untung tanpa memperhatikan kualitas dan kelogisan film. hanung paham soal hal2 dlm film itu. makanya pihak filmnya tidak mau menarik film itu dari peredaran.

  173. burung kacer Says:

    sebetulnya yg mereka permasalhakan adalah orang minang jangan katolik!. Ini sangat menggelikan, orang minang memandang agama lebih benar dari perbuatan, misal: tukang perkosa beragama islam lebih berharga ketimbang orang baik beragama katolik. Ini semua sudah tidak memakai otak lagi berpikirnya, sangat membuta dan bodoh.

  174. bumbungan Says:

    anda memang tidak memiliki rasa malu. Apa anda tau syariat islam? Memakan babi itu haram. Goblok ente. Di tanah minang ini gereja di bawa dan didirikan oleh pendatang. Jangan bicara sholat anak 5 tahun juga bisa melakukannya. Tp kenali hal yg membatalkan solat itu. Jangan bicara intelektualitas. Jika negara ini dipimpin org minang. Tak akan pernah terjadi pembodohan seperti papua. Yg hasil alamnya dikeruk asing. Jangankan memakan babi memeliharanya saja sudah dilarang agama. Jangan mengaku minang kalau ente cuma numpang tinggal d tanah minang ini. Cukup yg bodoh anda saja. Jangan atas namakan minang kabau. Jika ada orang minang memeluk nasrani. Dia dibuang dr adat. Bukan berarti menistakan dan merendahkan agama itu. Tp kekeliruan dicampur dan di tolerir maka akan merusl kepada yg bnyak. Emang ente mau minum air campur oli. Walaw olinya setetes. Dungu ente.

  175. irwan Says:

    Pantasan negara indonesia banyak penjajahnya, mulai dari spanyol sampai jepang…karena masyarakat dan anak cucunya sampai sekarang gampang diprofokasi dan diadu domba. satu suku dengan suku yang lain, 1 agama dengan agama yang lain. Gara2 film bisa berantam dan saling hina..

    • popi Says:

      menurut saya gak ada hubungannya sama penjajah, mereka menjajah kita karena ada kepentingan negaranya disini, karena tanah air kita kaya,.. dan seharusnya kita bisa saling menghargai apa yang dipercaya oleh orang lain (suku dalam hal ini)… karena sejujurnya agama bagi orang minang adalah islam, dan jika bukan islam maka bukan orang minang,..

  176. Ilham Says:

    Anda salah..atas dasar apa semua agama milik allah…klw memang anda orang minang pasti sering dengar tu ayat ”innaddina’indallahil islam” yg artinya Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah agama islam”….
    yang kayak gini nih bikin sesat…ngomong gak ada dasar cuman kayak baling2 di atas bukit..masalah agama itu harga mati pak..jadi kalau gak tau nyimak aja…dari pada bikin sesat..

  177. popi Says:

    mungkin kita harus tau sedikit tentang adat minang, di minang sendiri ada 4 jenis adat, yang pertama itu adat yang sebenar adat, adat istiadat, adat nan teradat dan adat nan diadatkan. bagi orang minang adat yang sebenar adat adalah wajib hukum nya, contohnya dari penerapannya adalah bahwa orang minag wajib beragama islam dan kalau bukan islam maka dia akan keluar dari minang, jadi sangat salah sekali jika mas hanung menggambarkan orang minang dengan yang berbeda agama, ini adalah salah satu ciri khas dari minang, jadi hargailah, dan bagi mas hanung jika mau membuat film dengan tema seperti ini harus mengerti dengan jelas bagaimana budaya dan falsafah yang dianut masyarakat…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: