Kalau Ada Ulama Mengoleksi Mobil Mewah, Itu Karena Ulama Manusia Biasa

(Dimuat di Kompasiana, 15 Agustus 2013)

Di sebuah acara halal bihalal, saya mendengar obrolan sejumlah kerabat soal gaya hidup dan perilaku para ulama maupun politis yang membawa bendera Islam.  Masing-masing orang memberi contoh-contoh menarik tentang apa yang disebut sebagai betapa tidak ‘Islaminya’ perilaku sebagian ulama dan politisi Islam sekarang ini.

Dari soal seorang ustad terkenal yang memiliki koleksi  mobil mewah, soal PKS yang dilanda kasus korupsi, soal Yusuf Mansyur yang menggerakkan bisnis investasi yang bermasalah, sampai FPI yang jadi ‘musuh bersama’ di mana-mana.

Pada dasarnya orang prihatin. Tapi bagi saya, rangkaian kasus itu justru penting untuk satu hal: agar masyarakat sadar bahwa ada perbedaan serius antara agama dan simbol agama, dan bahwa orang yang membawa simbol agama adalah manusia biasa.

Masalahnya, dalam pandangan saya, masyarakat sering keliru menyangka bahwa segala hal yang melekat dengan agama pastilah baik. Padahal sejarah sudah membuktikan berulangkali bahwa cara pandang itu salah.

Kita sering terlalu gegabah menganggap bahwa ulama itu pasti benar dan baik. Padahal ulama adalah manusia biasa. Mereka dianggap sebagai ulama karena mereka belajar lebih banyak soal agama. Tapi apakah itu berarti mereka dengan sendirinya benar? Sama sekali tidak. Ini sama saja dengan bertanya apakah seorang doktor komunikasi (seperti saya) adalah orang yang paling tahu mengenai cara berkomunikasi yang baik dan benar? Tentu saja tidak.

Kualitas seorang ahli akan bergantung pada banyak hal. Misalnya saja, lembaga pendidikan di mana ia belajar, buku-buku yang ia baca, rekan diskusinya, penelitian yang pernah ia lakukan dan banyak hal lainnya. Saya mungkin saja ahli komunikasi tapi saya bisa saja berbeda pendapat dengan ahli komunikasi yang lain. Lebih jauh lagi, saya mungkin sekali kalah pintar dengan orang lain yang tidak menjalani pendidikan komunikasi formal tetapi banyak baca buku atau bekerja di bidang komunikasi dalam waktu cukup lama. Lebih jauh lagi, dalam dunia komunikasi, sebuah teori yang semula diyakini masyarakat akademik ternyata bisa saja belakangan dianggap tidak lagi sahih karena ada kelompok ilmuwan lain yang melahirkan teori lebih baru yang dianggap lebih baik menjelaskan fenomena komunikasi tersebut.

Begitu juga dengan ahli agama. Seorang ahli agama bisa saja berbeda pandang dengan ahli agama lainnya. Seorang ahli agama bisa saja salah menafsirkan fenomena agama. Atau bisa saja ia sebenarnya tidak terlalu pandai tapi dianggap sebagai ahli karena kondisi-kondisi tertentu (misalnya dia adalah anak kyai besar yangdiwarisi pesantren terkenal yang didirikan ayahnya).

Ulama adalah manusia biasa yang tidak perlu diperlakukan sebagai nabi. Karena itu, perbedaan pendapat antara ulama adalah hal yang biasa-biasa saja; pendapat ulama tak perlu dianggap sebagai kebenaran mutlak atau kebenaran tunggal. Pendapat ulama itu bisa dibantah kalau kita memiliki referensi lain atau kita menganggapnya sebagai tak masuk di akal .   Ini tak berarti masyarakat tak perlu menghargai  pendapat ulama. Pendapat ulama perlu dihargai, tapi itu bukan kebenaran tunggal.

Karena ulama itu pada dasarnya manusia biasa, mereka juga memiliki kecenderungan sama dengan manusia biasa.     Mereka bisa baik tapi bisa juga jahat. Mereka bisa jujur tapi bisa juga licik. Mereka bisa menahan nafsu tapi juga bisa serakah. Mereka bisa berorientasi spiritual tapi juga bisa menomorsatukan materi. Mereka bisa idealis tapi juga bisa oportunis.

Sejarah umat manusia banyak diisi dengan kelakuan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai pemuka agama tapi berperilaku jahat. Eropa misalnya pernah memiliki masa ‘Abad Kegelapan’ ketika para pendeta di masanya berkolusi dengan penguasa politik untuk mengeksploitasi rakyat. Para pendeta itu bisa berlaku sewenang-wenang karena masyarakat dibodohi dengan keyakinan bahwa para pemuka agama itu tak mungkin melakukan tindakan yang bertentangan dengan perintah Tuhan. Baru setelah masyarakat Eropa menjadi pintar akibat kebudayaan membaca, terjadi pemberontakan yang melahirkan Reformasi yang kini buahnya dinikmati oleh masyarakat dunia.

Catatan sejarah itu harus selalu ada dalam rekaman ingatan dan kesadaran kita bersama. Salah satu pelajaran pentingnya adalah: kita tak boleh memperlakukan para pemuka agama sebagai orang-orang suci yang paling benar.   Mereka bisa benar, tapi bisa juga salah. Mereka bisa baik, tapi bisa juga jahat.

Agama adalah kumpulan gagasan. Yang mempelajari dan menguasainya belum tentu mempraktekkannya.  Tak ada hubungan antara predikat ulama, atau predikat haji, atau habib, atau lulusan sekolah Islam, atau apalagi kefasihan  menghapal dan membaca Al Quran, mengenakan jilbab, atau bernama Muhammad Ibrahim Yusuf, atau aktivis organisas Islam dengan kualitas dan integritas orang yang melekat dengannya.

Bila kita bisa menurunkan derajat harapan kita terhadap ulama, kita akan lebih rileks menghadapi kenyataan bahwa ada banyak ulama, pemuka agama atau aktivis Islam yang perilakunya nampak tak beradab. Kalau ada ulama yang mengkoleksi mobil mewah di tengah kemiskinan rakyat, kalau ada politisi islam yang ternyata melakukan tindak korupsi, kalau Kementerian Agama disebut sebagai kementerian paling korup di Indonesia, kalau ada organisasi berlabel Islam senang menyerang secara brutal mereka yang berbeda pandangan dengan mereka, itu adalah fenomena biasa saja.

Dan dengan sikap rileks semacam ini pula, saya percaya, kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih baik. Masyarakat Indonesia perlu belajar menghargai perbedaan pendapat dan itu hanya akan bisa dicapai kalau kita menerima keyakinan bahwa sebenarnya tak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Bahkan bila lembaga seperti MUI mengeluarkan fatwa, itu hanya merupakan pandangan sejumlah pemuka agama yang bisa saja benar tapi bisa juga salah.

Dengan argumen ini, tentu saya tidak bermaksud mengajak orang tidak mempercayai ulama. Tentu saja Indonesia membutuhkan pemuka agama, sebagaimana kita membutuhkan ilmuwan-ilmuwan di berbagai disiplin ilmu lainnya. Indonesia sudah banyak melahirkan ulama yang jelas berpengaruh positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi, pada saat yang sama, kita juga harus ingat bahwa para ulama adalah manusia yang tidak suci dan tidak pernah boleh dianggap mewakili Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: