Ketika TV One dan ANTV ‘Melenyapkan’ Gita Wirjawan dari Kesuksesan Bulutangkis Indonesia

(Dimuat di Kompasiana, 21 Agustus 2013)

Beginilah kalau politik mengintervensi media massa dan bulutangkis.

Saya baru saja mendapat kabar menggelikan soal TV One dan ANTV. Beberapa hari setelah tim bulutangkis Indonesia merebut dua medali emas dalam kejuaraan dunia di Cina, produser program berita yang mewakili dua stasiun televisi bersaudara itu menghubungi humas PBSI untuk mewawancarai para jagoan Indonesia.

Tapi, dan ini yang penting, mereka meminta agar yang diwawancarai hanyalah para atlet, tanpa mengikutsertakan Ketua umum PBSI.

Permintaan wawancara tentu saja hal yang biasa-biasa saja. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa harus ada klausul “tanpa Ketua umum PBSI”?

Untuk menjaga agar jangan sampai ada yang bingung, saya tambahkan dua catatan penting. Pertama, Ketua umum PBSI adalah Gita Wirjawan,  Menteri Perdagangan yang hampir pasti menjadi calon Presiden yang akan ikut dalam Konvensi Partai Demokrat. Kedua, TV One dan ANTV dimiliki Abu Rizal Bakrie yang adalah  Ketua Umum Golkar sekaligus calon Presiden 2014.

Jadi, layak diduga, ini adalah persoalan politik.

Sekembalinya mereka dari Cina, tim Indonesia kebanjiran permintaan wawancara televisi dan media lainnya. Mereka muncul – setidaknya yang saya lihat – di Net TV, Metro, SCTV dan RCTI. Dan hampir selalu memang dalam wawancara itu hadir Gita.

Kemenangan itu bisa dibilang membanggakan publik Indonesia. Setelah sekian tahun terpuruk, bulutangkis Indonesia seperti kembali menunjukkan kejayaannya. Apalagi kemenangan itu diraih di kandang Cina, di hadapan ribuan penonton Cina fanatik, sementara Indonesia hanya didukung oleh sekitar 35 penonton. Bahwa tak ada satupun stasiun televisi nasional menyiarkan siaran langsung pertandingan final itu rasanya menunjukkan bahwa hanya sedikit orang meramalkan keberhasilan tim Indonesia.

Namun yang penting, kebangkitan itu ada kaitannya dengan pembenahan sistem yang dilakukan Gita sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum PBSI pada September 2012. Ketika ia naik, Indonesia baru saja terkena skandal memalukan di Olimpade London yang menyebabkan tim nasional didiskualifikasi karena ketahuan sengaja kalah untuk mencari lawan lebih mudah di babak berikutnya. Sejak 2007, Indonesia juga tak pernah menang di final kejuaraan dunia. Ketika Gita datang, tak ada kebanggaan dalam tim Indonesia.

Salah satu hal terpenting yang dilakukan Gita adalah menempatkan para pemain sebagai pusat perhatian. Dengan tangan dinginnya, ia berhasil menarik banyak sponsor dan sebagian besar uang yang masuk itu dialirkan untuk meningkatkan kesejahteraan para pemain. Sjeak awal 2013, 83 atlet di pelatnas mendapat individual sponsorship. Penghasilan pemain dan pelatih naik 50-100 persen.

Gita juga melibatkan para bintang bulutangkis senior untuk melatih para calon bintang muda ataupun terlibat dalam struktur kepengurusan PBSI. Dari Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata, Lius Pongoh, sampai Ricky Subagja serta Rexy dan Richard Mainaky kini terlibat dalam pembinaan pemain muda. Ivanna Lie bahkan berhasil diajak terlibat walau bintang legendaris itu pernah menyatakan tak akan mau membantu bulutangkis Indonesia, bertahun-tahun yang lalu.

 

 

Gita percaya pada pembinaan sejak kecil. Salah satu sponsor terbesar saat ini adalah perusahaan Coca Cola yang berkomitmen menyediakan jutaan rakat gratis bagi anak-anak Indonesia agar budaya bulutrangkis kembali tumbuh di masyarakat.

Di bawah Gita, PBSI saat ini membangun sekolah atlet di pusat pelatihan di Cipayung. Sekolah ini sengaja didirikan dengan tujuan menjaga agar pendidikan para atlet yang berada di kamp pelatihan tidak terabaikan. Gita tak ingin bahwa para atlet sampai kehilangan kesempatan memperoleh kualitas pendidikan terbaik hanya karena mereka mendedikasikan diri dalam dunia bulutangkis.

Apa yang ingin dikatakan melalui contoh panjang di atas adalah bahwa meningkatnya pencapaian para atlet bulutangkis Indonesia saat ini bisa diduga terkait dengan pembenahan sistem pembinaan di PBSI dan ini, tak bisa tidak, harus dikaitkan dengan peran Gita sebagai Ketua PBSI. Dengan konsisi semacam ini, ta berlebihan bila Gita sudah merancang bahwa dalam tiga tahun ke depan, Indonesia akan kembali menjadi raksasa di berbagai gelanggang internasional dan dunia: SEA Games, All England, Thomas/Uber Cup, Piala Sudirman dan Piala Dunia

Ini yang menyebabkan harian besar Kompas, misalnya, menyajikan wawancara khusus dengan Gita soal PBSI. Ini yang menjelaskan mengapa stasiun-stasiun televisi nasional melibatkan Gita dalam wawancara khusus mereka dengan para atlet bulutangkis. Dan ini pula yang menyebabkan baik Humas PBSI ataupun para atlet bulutangkis Indonesia heran mengapa TV One dan ANTV secara khusus meminta agar tak ada Gita.

Dari informasi yang saya dapat, Humas PBSI bahkan sampai meminta sang produser acara mempertimbangkan ulang persyaratan yang ia berikan. Namun, sang produser kemudian menyatakan bahwa keputusan untuk tidak mewawancarai Gita adalah keputusan rapat redaksi.

Tentu saja Anda tidak perlu menjadi jenius untuk memahami kebijakan redaksi TV One dan ANTV. Ini adalah soal politik. Entah siapa yang memerintahkan, redaksi memutuskan untuk tidak mengangkat keberhasilan tokoh yang mungkin akan menjadi pesaing pemilik media (ARB) dalam gelanggang pemilihan presiden 2014. Kalau saja Gita bukan calon presiden, ceritanya pasti lain.

Dilihat dari persepsktif jurnalistik, ini sangat memalukan dan memperihatinkan. Media massa adalah mata telinga masyarakat. Media massa diharapkan menjadi pihak yang secara netral, independen dan objektif menyediakan informasi tentang dunia kepada masyarakat. Menjadi jurnalis adalah pilhan profesi mulia karena di dalamnya ada kewajiban etik bahwa para pelakunya senantiasa menempatkan ‘kebenaran’ dan kewajiban melayani publik sebagai prioritas utama.

Kalau hanya karena kepentingan pemilik, media dengan sengaja menghambat informasi yang perlu diketahui masyarakat, media tersebut telah mengkhianati keberadaannya. Kesuksesan Gita memimpin PBSI adalah contoh yang penting untuk diketahui agar masyarakat bisa belajar tentang cara-cara yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Kalau hanya karena Gita adalah pesaing ARB, TV One dan ANTV memutuskan untuk melaporkan keberhasilan itu kepada public, itu memalukan.

Media massa adalah kekuatan penting dalam masyarakat. Namun media hanya akan membawa manfaat kalau media digerakkan oleh orang-orang yang berintegritas. TV One dan ANTV sayangnya, dalam kasus ini, mengambil pilihan yang tidak membanggakan.

Iklan

Satu Tanggapan to “Ketika TV One dan ANTV ‘Melenyapkan’ Gita Wirjawan dari Kesuksesan Bulutangkis Indonesia”

  1. dolgempo Says:

    kalau mau menyoal klausul “hanya atlet dan tidak perlu ada ketua PBSI”, sejatinya kita juga bisa menyoal kenapa harus ada klausul “wajib ada Pak Gita kalau mau wwcr atlet bulu tangkis”. perlu tidaknya pak Gita nongol di layar pasti sudah dihitung oleh media..barangkali bagi kompas, kerja Gita luar biasa jadi harus nongol. tapi bagi tvOne dan antv kerja Gita biasa2 aja dan dia hanya cari layar lewat momentum medali emas ini untuk mendongkrak popularitas dia di hadapan publik jelang pilpres. wallahu’alam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: