Nafsiah Mboi Jadi Korban Buruk Sangka Berjamaah

Dalam agama sebenarnya ada ajaran agar manusia tidak berburuk sangka pada orang lain. Karena itu, diajarkan bahwa kalau seseorang mendengar kabar negatif tentang orang lain, jangan buru-buru percaya. Cek dulu. Verifikasi dulu. Kalau bukti sudah cukup, barulah kita bersuara.
293172_475372252490818_1991739948_nSaya langsung teringat dengan ajaran ini saat menyaksikan bagaimana Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi sejak awal Desember dijadikan bulan-bulanan, objek cercaan berbagai kelompok dan tokoh masyarakat. Cercaan ini terutama datang dari tokoh atau kelompok yang mengusung bendera Islam, walau tak semua juga begitu.
Masalahnya, Nafsiah dimaki-maki karena sesuatu yang tidak dilakukannya. Dia dihujat karena dianggap berinisiatif dan mengeluarkan program Pekan Kondom Nasional 1-7 Desember 2013, yang di dalamnya ada kegiatan pembagian kondom gratis kepada masyarakat awam, pelajar dan mahasiswa. Lebih seru lagi, penyebaran itu dikatakan dilakukan melalui bus-bus antara lain ke kampus-kampus, dengan disertai penyebaran leaflet berisi anjuran agar menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seks dengan pasangan. Duta kondomnya? Tak lain dan tak bukan adalah si seksi Julia Peres!
Ini namanya imajinasi tingkat tinggi! Pekan Kondom Nasional itu bukan kebijakan Menteri Kesehatan, melainkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Dan dalam program KPA itu pun tak ada bagi-bagi kondom kepada masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa.
KPA adalah sebuah Komisi yang dibentuk atas dasar Peraturan Presiden pada 2006 dan tidak memiliki kaitan dengan Kementerian Kesehatan. Pekan Kondom Nasional ini sudah berlangsung sejak 2007. Menteri Kesehatan tentu mendukung kegiata KPA, tapi tidak dalam hal menyebarkan kondom pada masyarakat umum. Nafsiah selalu menyatakan bahwa penyebaran kondom harus dikonsentrasikan kepada mereka yang berisiko tinggi, misalnya kaum pria yang berpotensi menjadi pelanggan Pekerja Seks Komersial.
Tahun ini PKN ini dilakukan dengan bekerjasama dengan perusahaan kondom DKT. Karena DKT tentu memiliki tujuan untuk memasarkan produk mereka, bisa dimengerti bila gaya promosinya lebih agresif. Ada serangkaian program yang mereka lakukan, seperti: lomba tulis jurnalistik, lomba foto media sosial, pemasangan billboard, penyebaran leaflet di 12 kota,serta konser musik Goyang Sutra di Jakarta Timur.
Pembagian kondom memang juga dilakukan tapi ‘hanya’ untuk kaum pria berisiko tinggi, seperti di pelabuhan, terminal dan lokalisasi. Dan memang ada bus Pekan Kondom Nasional yang menggunakan gambar Julia Peres. Tapi hanya satu buah dan tidak datang kampus-kampus. Di dalamnya pun tidak ada persediaan kondom untuk dibagikan. Hanya leaflet.
Tentu saja banyak pihak bisa terganggu dengan gaya kampanye DKT ini. Namun yang jelas ini bukanlah program dan kebijakan Menteri Kesehatan..
Celakanya, entah bagaimana, sejak Pekan Kondom ini mulai dilangsungkan, pada 1 Desember, caci maki dilontarkan kepada Nafsiah Mboi. Entah siapa yang mulai menyebarkan berita bohong, dengan segera orang percaya bahwa ini adalah kebijakan Nafsiah. Para tokoh bicara. Demonstrasi berlangsung di banyak tempat. DPR diminta untuk memanggil sang Menteri.
Wasekjen Majelis Ulama Indonesia, Tengku Zulkarnaen menyatakan kebijakan Menkes menyakiti hati umat Islam (Republika.co.id, 2/12). Menurut Tengku, pembagian kondom adalah upaya terselubung untuk mendorong kaum muda Indonesia berzinah. Ia juga meminta DPR dan Presiden memanggil Nafsiah.

Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq (dikutip oleh http://www.suaraislam.com, 3/12) menyatakan bahwa Menteri Kesehatan harus ditangkap karena program Kondom melanggar Undang-undang. Menurutnya, program bagi-bagi kondom kepada pemuda yang belum menikah adalah pembangkangan terhadap undang-undang. “Ia injak-injak aturan negeri ini,” kata Rizieq soal Nafsiah.

Ulama terkenal Ustadz Yusuf Mansyur melalui twitternya mempertanyakan naluri keibuan Nafsiah karena menjalankan program PKN. Anggota Komisi IX dari Fraksi Golkar, Poempida Hidayatullah, menilai bahwa diadakannya Pekan Kondom Nasional menunjukkan Kemenkes tak memiliki senstitivitas dan gagal memahami budaya Indonesia dengan baik.
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid meminta Komisi IX DPR segera memanggil Nafsiah terkait gerakan Pekan Kondom Nasional 2013. Menurut Hidayat, pendanaan gerakan itu bersumber dari APBN sehingga DPR wajib menanyakan efektivitas program tersebut. Menurutnya, sebagaimana dikutip situs kompas.com, kebijakan Kemenkes itu salah kaprah.
Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Okky Asokawati dari PPP (3 Desember) juga mengeluarkan pernyataan tertulis bahwa Kementerian Kesehatan tak memiliki pemahaman cukup dalam penanggulangan penyebaran virus HIV/AIDS.“Membagi kondom secara serampangan justru menunjukkan rendahnya kontrol dan pemahaman para pemegang otoritas terhadap etika moral dan cara yang tepat untuk menanggulangi masalah ini,” kata Okky dalam pernyataan tertulis yang diterimaKompas.com, Selasa (3/12/2013).
Berbagai unjuk rasa pun dilakukan. Sampai tanggal 6 Desember saja masih berlangsung unjuk rasa penolakan Pekan Kondom Nasional. Misalnya di Samarinda, sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam Lingkar Studi Mahasiswa meminta Dinas Kesehatan Kaltim menyampaikan tuntutan mereka pada Menteri Kesehatan berisikan penolakan atas Pekan Kondom Nasional.
Pihak Kementerian Kesehatan sebenarnya sudah menjelaskan bahwa PKN bukan kebijakan mereka. Namun ini tak menyurutkan protes. Bahkan ketika akhirnya Kementerian Kesehatan meminta PKN dihentikan, yang muncul di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa ‘akhirnya Menkes terpaksa mengalah dan menghentikan kebijakan yang sudah dimulainya’.
Dalam pandangan saya, Nafsiah sudah menjadi korban dari kecerobohan banyak pihak yang tidak terbiasa untuk melakukan verifikasi informasi. Sangat disayangkan bahwa yang terjebak dalam kesalahan itu adalah mereka yang terpandang yang seharusnya menjadi panutan masyarakat. Dalam hal ini, mungkin tidak berlebihan untuk berharap bahwa mereka yang sudah menyudutkan Menkes meminta maaf.
Tapi bisa jadi serangan terhadap Nafsiah ini adalah bagian dari propaganda hitam untuk menjatuhkan sang Menteri.
Dari yang saya pelajari, ada tiga alasan yang mungkin sekali membuat sebagian pihak ingin menjatuhkannya.
Pertama, alasan agama. Nafsiah adalah seorang eks-muslim yang pindah agama. Bagi sebagian pihak, ini adalah kesalahan yang pantas membuatnya dibenci seumur hidup.
Kedua, alasan integritas. Nafsiah memang dikenal sebagai Menteri yang tidak mentoleransi korupsi dan penyalahgunaan jabatan di Kementeriannya. Dengan sikap semacam ini, wajar bila Nafsiah dibenci banyak pihak.
Ketiga, Nafsiah memang dikenal gigih mendorong Indonesia untuk meratifikasi konvensi mengenai tembakau yang akan melarang setiap bentuk iklan rokok di Indonesia. Posisi ini pun menjadikannya harus berhadapan dengan berbagai pihak yang akan dirugikan bila Indonesia meratifikasi kesepakatan internasional itu.
Tentu saja, kita tak bisa buru-buru menyimpulkan. Yang jelas, Nafsiah sudah menjadi korban kesalahpahaman. Saya hanya berharap masyarakat Indonesia di masa depan bisa lebih berhati-hati mengambil sikap berdasarkan informasi yang menyebar.
Agama sudah mengajarkan agar kita tak berburuk sangka. Jadi mereka yang percaya pada agama, dengarkanlah ajaran itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: