Tidak Ada Fatwa MUI yang Melarang Selamat Natal

20 Desember 2013

(http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/20/tidak-ada-fatwa-mui-yang-melarang-selamat-natal-618112.html)

Hanya dalam beberapa hari lagi, umat Kristen di seluruh dunia akan merayakan Natal.

Ini mungkin saat yang tepat untuk mengingatkan kembali umat Islam di Indonesia bahwa ada satu pandangan yang salah tentang  Natal. Banyak umat Islam mengira bahwa Majelis Ulama Indonesia pernah mengeluarkan fakta bahwa haram hukumnya bagi umat Islam mengucapkan selamat Natal pada umat Kristen.

Pandangan itu keliru seratus persen.

Faktanya adalah MUI tidak pernah sekalipun mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat Natal.  Mereka yang berkeras bahwa MUI pernah mengharamkan ucapan selamat Natal, silakan mencari sendiri ke sumber manapun dan mereka akan menemukan fakta yang saya sampaikan.

Satu-satunya fatwa MUI terkait Natal adalah yang pernah dikeluarkan  pada 7 Maret tahun 1981. Namun fatwa MUI yang ditandatangani ulama besar Indonesia Buya Hamka itu tidaklah melarang pengucapan selamat Natal. Yang dinyatakan terlarang adalah ‘mengikuti upacara Natal’.

Bahkan supaya lebih jelas,  pada 30 April 1981, MUI kembali mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa : “… pada dasarnya menghadiri perayaan antar agama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan antara lain: Misa, Kebaktian dan sejenisnya. Bagi seorang Islam tidak ada halangan untuk semata-mata hadir dalam rangka menghormati undangan pemeluk agama lain dalam upacara yang bersifat seremonial, bukan ritual.”

Jadi, sangat jelas bahwa MUI tidak pernah mengharamkan pengucapan selamat Natal. Tak ada tafsiran lain yang bisa dikenakan pada Fatwa MUI itu.

Bahwa sekarang ada pandangan keliru mengenai fatwa tersebut, ini bisa terjadi karena sejumlah hal. Pertama, yang menyebarkan pandangan keliru itu tidak hati-hati membaca fatwa MUI. Kedua, yang menyebarkan pandangan keliru itu sekedar meneruskan pandangan keliru dari orang lain tanpa memeriksa kebenarannya. Ketiga, memang ada kesengajaan untuk menyebarkan kekeliruan itu karena tidak menyukai hubungan harmonis antara umat Islam dan umat Kristen di Indonesia.

Karena itu, saya rasa wajib bagi kita semua untuk mengoreksi kesalahan ini. Umat islam perlu menyadari ini dalam rangka membangun hubungan harmonis dengan saudara-saudara sebangsa yang beragama Kristen.

Sebagian orang mungkin memandang ini soal sepele. Menurut saya, yang kebetulan mempelajari ilmu komunikasi, ini sama sekali tak sederhana. Keharmonisan hubungan antara kelompok dalam masyarakat hanya bisa dibangun seandainya ada kesediaan untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling berbahagia ketika saudaranya berbahagia dan turut bersedih ketika kelompok lain mengalami musibah.

Bila umat Islam tidak bersedia sekadar memberi ucapan selamat kepada umat Kristen yang sedang merayakan hari suci mereka, itu adalah sebuah cermin dari ketiadaan rasa persaudaraan. Kalau Anda berulangtahun atau merayakan hari pernikahan dan Anda tahu bahwa ada teman Anda yang dengan sengaja tidak mau memberi selamat, wajar bila Anda menganggap teman Anda tidak menyukai Anda. Begitu juga dengan pengucapan selamat Natal.

Kalau saja memang ada ajaran Islam yang mengharamkan umatnya untuk mengucapkan selamat Natal, tentu persoalannya berbeda.

Tapi dalam kasus ini, pelarangan itu tidak pernah ada.

Tidak ada satupun ayat Al Quran yang mengharamkannya.

Tidak ada satupun pernyataan Nabi Muhammad yang  mengharamkannya.

Tidak ada satupun fatwa MUI yang mengharamkannya.

Tentu saja ada sejumlah ulama di dunia yang mengharamkannya.  Ini misalnya terdengar dari ulama di Arab Saudi.

Badan Dakwah Alharamain, misalnya, menyampaikan secara terbuka pengharaman tersebut. Argumen utama mereka adalah karena pengucapan selamat Natal adalah bentuk persetujuan dan penerimaan terhadap kepercayaan yang salah.

Namun itu hanya sebagian ulama di dunia.  Apalagi, kita tentu tahu betapa konservatifnya ulama Saudi.

Di sisi lain banyak sekali ulama dunia yang membolehkan bahkan menganjurkan peberian selamat Natal. Sebagai contoh adalah Dr. Yusuf Al-Qaradawi, ulama terkemuka asal Mesir yang sangat sering dijadikan rujukan umat Islam di Indonesia.

Yusuf Al-Qaradawi bukan saja menyatakan bahwa mengucapkan selamat Natal itu sama sekali tidak dilarang, namun juga menyatakan tindakan memberi selamat Natal itu itu adalah perbuatan baik

Lebih jauh lagi, Dr. Abdussattar Fathullah Said, seorang profesor bidang tafsir dan ulumul quran di Universitas Al-Azhar Mesir, menyatakan bahwa  mengucapkan selamat Natal bukan saja tidak diharamkan, tapi justru diperintahkan bagi umat Islam.

Di Indonesia, apalagi. Tak kurang dari Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara eksplisit menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal. Yang diharamkan, katanya, adalah mengikuti kegiatan ritualnya. Sikap serupa dianut banyak pimpinan Nahdlatul Ulama, atau ilmuwan besar seperti Prof. Quraish Shihab.

Tentu saja bila ada orang Islam yang tak mau mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen, itu adalah hak dia. Tapi yang jelas itu bukan merujuk pada Al Quran, tidak merujuk pada Hadits, tidak merujuk pada kesepakatan ulama dunia dan tidak merujuk pada fatwa MUI.

Lebih dari itu, kalau saya boleh berpendapat, pengharaman pengucapan selamat Natal itu merujuk pada logika yang salah.

Argumen yang paling sering dikeluarkan adalah bahwa bila umat Islam mengucapkan selamat Natal, itu berarti umat Islam mengakui ketuhanan Yesus.  Argumen semacam ini rasanya sulit diterima oleh akal sehat.

Kepercayaan umat Kristen tentu berbeda dengan keyakinan umat Islam. Namun masing-masing umat beragama tentu tidak perlu menjadikan perbedaan itu sebagai sumber perpecahan. Kalau seorang bos perusahaan yang beragama Kristen menyediakan tempat sholat bagi para karyawannya, itu tidak berarti dia menganggap sholat adalah kewajiban yang benar.  Kalau di Indonesia, hari raya Waisak  menjadi hari libur nasional, itu bukan berarti kita meyakini ajaran Budha.

Ini adalah soal persaudaraan antara umat beragama.

Jadi, saudara-saudaraku umat Islam, janganlah ragu mengucapkan selamat Natal.  Ini tidak dilarang dan justru membawa kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: